Previous Next
  • Perang Teluk

    Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki. Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990...

  • 5 Negara yang Terpecah Akibat Perang Dunia II

    Negara yang terpecah adalah sebagai akibat Perang Dunia II yang lalu di mana suatu negara diduduki oleh negara-negara besar yang menang perang. Perang Dingin sebagai akibat pertentangan ideologi dan politik antara politik barat dan timur telah meyebabkan negara yang diduduki pecah menjadi dua yang mempunyai ideologi dan sistem pemerintahan yang saling berbeda dan yang menjurus pada sikap saling curiga-mencurigai dan bermusuhan. Setelah perang dunia kedua, terdapat empat negara yang terpecah-pecah, antara lain:

  • Serangan Sultan Agung 1628 - 1629

    Silsilah Keluarga Nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Dilahirkan tahun 1593, merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Ayahnya adalah raja kedua Mataram, sedangkan ibunya adalah putri Pangeran Benawa raja Pajang. Versi lain mengatakan, Sultan Agung adalah putra Pangeran Purbaya (kakak Prabu Hanyokrowati). Konon waktu itu, Pangeran Purbaya menukar bayi yang dilahirkan istrinya dengan bayi yang dilahirkan Dyah Banowati. Versi ini adalah pendapat minoritas sebagian masyarakat Jawa yang kebenarannya perlu untuk dibuktikan. Sebagaimana umumnya raja-raja Mataram, Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri. Yang menjadi Ratu Kulon adalah putri sultan Cirebon, melahirkan Raden Mas Syahwawrat. Yang menjadi Ratu Wetan adalah putri dari Batang keturunan Ki Juru Martani, melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi Amangkurat I)...

  • Perang Dingin

    Perang Dingin adalah sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947—1991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang: koalisi militer; ideologi, psikologi, dan tilik sandi; militer, industri, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir dan persenjataan; dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini akan berakhir dengan perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi. Istilah "Perang Dingin" sendiri diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut...

  • Perang Kamboja-Vietnam

    Pada tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan saigon tahun 1975, negara-negara anggota ASEAN mencemaskan kemungkinan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari Asia Tenggara. Ketegangan terus memuncak mengingat ASEAN adalah negara-negara Non-Komunis sedangkan negara-negara Indochina adalah negara komunis. Kemenangan Vietnam pada Perang Vietnam sudah tentu mengkhawatirkan ASEAN ditengah rencana Amerika Serikat untuk mengurangi kehadiran pasukannya yang selama ini secara tak langsung melindungi ASEAN dari invasi komunis ke kawasan tersebut...

Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pada tanggal 24 Agustus 1572, mulai terjadi pembunuhan massal atas kaum Huguenot, yang adalah kaum Protestan Calvin di Prancis, oleh penganut Gereja Roma. Hal itu dimulai di Paris, dan tersebar ke seluruh Prancis selama 2 bulan sampai hampir 100 ribu orang Protestan dibunuh, dan kaum Huguenot hampir dipunahkan dari muka bumi. Semua itu dimulai dalam sebuah perayaan pernikahan. Charles IX, raja Prancis dari 1560-1574, merancang pernikahan antara saudara perempuannya yang berusia 19 tahun, Margaret of Valois, dan Raja Henry of Navarre yang juga berusia 19 tahun. Henry, yang pada 1580 akan menjadi Raja Henry IV di Prancis, dibesarkan oleh ayahnya yang adalah penganut Calvin, dan merupakan pemimpin kaum Huguenot. Charles berpikir bahwa melalui pernikahan ini ia bisa menyelesaikan pertikaian antara sebagian besar penganut Gereja Roma di Prancis dengan kaum Protestan, yang pasukannya di bawah kepemimpinan Laksamana Gaspard de Coligny beberapa kali telah mengalahkan tentara kerajaan Prancis dan memenangkan gencatan senjata yang pecah.

Gaspard de Coligny dilahirkan di Prancis pada 16 Februari 1519. Ia memiliki karier militer yang brilian. Saudaranya, Francis d'Andelot, adalah penganut Calvin, dan melalui pengaruhnya Coligny bertobat menjadi penganut Calvin setelah ia tertangkap dalam peperangan St. Quentin tahun 1557. Ketika Raja Henry II terbunuh tanpa sengaja dalam turnamen ksatria berkuda pada 1559, Coligny bergabung dengan Pangeran De Conde, Louis I, memimpin kaum Huguenot untuk menuntut toleransi agama dari raja Baru, Charles IX, yang adalah penganut gereja Roma. Meskipun Coligny berusaha mendapat solusi damai untuk masalah keagamaan, perang sipil tetap berkobar. Pada 1569, Louis I terbunuh dalam perang ketika tentara Duke of Anjou mengalahkan kaum Huguenot. Coligny menjadi pemimpin tentara Protestan.

Tidak lama, Coligny memimpin tentaranya melintas Prancis, dan mengalahkan kerajaan di Arnay le Duc pada juni 1570. Akibat kemenangan ini, ia berhasil melakukan gencatan senjata dengan raja. Ia menunggu lebih dari setahun sebelum menghadap ke istana raja. Setelah ia di sana, dengan cepat ia mendapat perkenan raja Charles yang berusia 21 tahun, dan sering menasihati Charles. Ketika persahabatan Charles dan Coligny tumbuh, Catherine de'Medici, ibu suri, melihatnya sebagai ancaman. Sejak kematian suaminya, ia berhasil memiliki kekuasaan besar atas Charles, dan ingin terus mempertahankannya. Namun, nasihat Coligny memperlemah kekuasaannya.

Pernikahan antara Margaret of Valois dan Raja Henry of Navarre dirayakan di Prancis pada 18 Agustus 1572, dipimpin oleh Kardinal Bourbon. Pesta itu dihadiri oleh setiap pejabat tinggi di Prancis, baik yang katolik maupun protestan. 4 hari kemudian, pada saat Coligny datang dari rapat di konsili prancis, ia terluka kedua tangannya, yang disebabkan pembunuh bayaran yang disewa catherine dan anggota keluarga guise. Sementara ia dirawat, ia berkata kepada menteri yang menyertainya, "aku sekarang tau bahwa aku sangat dikasihi oleh Allahku karena aku terluka demi kepentingan-Nya yang paling suci". Meskipun menteri menasihati untuk meninggalkan Paris segera, Coligny memilih untuk tinggal.

Pertama, Charles bersumpah untuk membalas usaha pembunuhan Coligny, dan segera memerintahkan penyelidikan. Oleh karena takut penyelidikan itu akan menyingkap kebenaran, Chaterine, dibantu teman-temannya, membujuk raja muda itu bahwa itu semua merupakan bagian dari rencana kaum protestan untuk memulai kerusuhan serta ia harus memerintahkan pembunuhan atas semua pemimpin Huguenot sebelum mereka bisa beraksi menentangnya. Karena takut atas keadaan dirinya, raja setuju dengan usulan mereka, termasuk pembunuhan Coligny. Catherine dan teman-temannya segera memerintahkan pembunuhan massal semua kaum Huguenot. Sebagian besar pemimpin Huguenot sudah ada di Paris untuk menghadiri pernikahan, dan tidak satupun dibiarkan lolos. Yang pertama dibunuh adalah Coligny. Henry, Duke of Guise ketiga, menyaksikan kematiannya.

Tengah malam 24 Agustus 1572, pada hari st Bartolomeus, tanda diberikan, dan pembunuhan atas kaum Huguenot dimulai. Coligny yang sudah terluka diserang dir rumahnya sendiri oleh sekelompok orang yang dipimpin Duke. Seorang Jerman bernama Besme menusukkan pedangnya ke dada Coligny, dan melemparkannya, yang masih hidup, keluar jendela ke jalan. Di sana pasukan Guise lainnya memenggal kepada Coligny ketika ia tergeletak di kaki Duke of Guise. Besme kemudian berkata bahwa ia tidak pernah melihat seorang yang mati lebih berani daripada Coligny.

Meskipun ia sudah mati, pengikut paus yang penuh kemarahan memotong-motong tangannya dan anggota tubuhnya yang lain, menyeret tubuhnya tanpa lengan ke jalan-jalan selama 3 hari kemudian menggantungnya dalam posisi terbalik di luar kota. Bersamaan dengan pembunuhannya, mereka membunuh setiap pemimpin protestan yang bisa mereka temukan, seperti menantu Coligny, Count de Teligny, Count de la Rochefoucalt, Antonius, Clarimontus, Marquis of Ravely, dan banyak orang lain. Namun, ini tidak memuaskan nafsu mereka untuk mencurahkan darah; hal itu hanya meningkatkan nafsu mereka yang bejat, dan mereka mulai membantai orang Protestan awam, dan memberu mereka seperti binatang siang dan malam. Dalam tiga hari pertama, hampir 10.000 mayat ditemukan di Paris saja.

Mereka melemparkan mayat itu ke Sungai Seine sampai airnya menjadi mereka seperti darah. Pembantaian tersebut terus berlanjut sehingga sepanjang selokan di jalan-jalan Paris darah mengalir seperti sungai setelah terjadi hujan badai. Kegusaran para pembunuh demikian bergelora sehingga mereka juga membunuh orang-orang gereja roma yang mereka percaya lemah dalam agama mereka dengan kejam. Pembantaian itu segera menyebar ke seluruh Prancis, dan berlanjur sampai Oktober, seolah-olah bencana yang najis telah mencengkeram pendukung paus sampai mereka bersikap lebih buruk daripada binatang dalam semangat mereka untuk membunuh setiap orang Protestan di Prancis. Tidak ada seorang pun yang berusaha menghentikan mereka dan tidak ada hukuman bagi mereka, tidak peduli berapa banyak pun orang yang mereka bunuh.

Di Orleans, yang jaraknya 112,5 km dari Paris di Sungai Loire, seribu laki-laki, perempuan, dan anak-anak dibantai. Di Lyon, sekitar 402,4 barat daya Paris di persimpangan Sungai Rhone dan Saone, 800 orang dibantai. Anak-anak dan orangtua yang saling berpelukan dengan penuh kasih dan ketakutan dibunuh tidak peduli apapun jenis kelamin atau berapapun usia mereka. Tiga ratus orang yang mengungsi di rumah Uskup dibunuh, dan rahib yang jahat itu tidak mengizinkan mayat mereka dikubur. Di Rouen, 112,5 km di barat laut sungai Seine, dan di Toulouse, dan di banyak kota lainnya di seluruh Prancis, ketika mendengar tentang pembantaian kaum Huguenot di Prancis, dan itu disetujui oleh raja, mereka menutup pintu gerbang kota atau menempatkan pengawal sehingga tidak ada kaum protestan yang bisa melarikan diri sementara mereka diburu, dipenjarakan kemudian dibunuh dengan kejam. Di Rouen sendiri, 6000 orang dibunuh.

Di provinsi Ajou, mereka membunuh seorang imam bernama Albiacus, dan memerkosa dan membunuh banyak perempuan. Di antara mereka terdapat 2 bersaudara yang mereka perkosa di depan ayah mereka setelah mereka mengikatnya di dinding sehingga ia dipaksa untuk menyaksikan itu. Setelah mereka selesai, mereka membunuh ketiga orang itu.

Di Bordeaux, meskipun itu merupakan ibukota provinsi Aquitaine yang dikuasai Inggris di pantai atlantik, rahib yang jahat, yang sering berkhotbah bahwa pendukung paus harus membunuh semua orang protestan, memprovokasi penganut gereja roma sehingga mereka membunuh 264 kaum protestan dengan kejam. Di Blois, Duke of Guise mengizinkan prajuritnya untuk membunuh semua orang protestan yang bisa mereka temukan dan merampas harta mereka. Tidak seorangpun dibiarkan lolos, dan setiap perempuan muda diperkosa oleh para prajurit sebelum dibunuh dan dilemparkan ke sungai Loire. Mereka melakukan hal yang sama di kota bernama Mere, tempat mereka juga menemukan seorang imam bernama Cassebonius dan melemparkannya ke sungai Loire sehingga tenggelam. Di setiap kota atau desa yang mereka datangi, entah besar atau kecil, dikenal atau tidak dikenal secara nyata, mereka bertindak dengan kekejaman yang luar biasa.

Di tempat yang bernama Turin (bukan Turin di Italia), walikota protestan memberi mereka banyak uang asal tidak dibunuh. Setelah menerima uang itu, mereka memukulinya dengan tongkat, menelanjanginya, dan menggantungnya dalam posisi terbalik, dan memasukkan kepala dan dadanya ke dalam sungai sehingga ia harus mengangkat dirinya sendiri keluar dari air supaya ia tidak terbenam. Ketika mereka sudah bosan dengan tontonan ini, mereka merobek perutnya, mengeluarkan ususnya, dan melemparkan ke dalam sungai. Kemudian mereka memotong jantungnya lalu membawanya berkeliling kota dengan tombak.

Di Penna, 300 orang dibantai setelah mereka dijanjikan keamanan. Di Albia pada hari Tuhan, 45 orang dibunuh. Di Nonne penduduknya melawan untuk beberapa saat sampai mereka dijamin tidak akan dilukai, hanya harta benda mereka yang dirampas. Namun, setelah pendukung paus masuk kota mereka membunuh setiap orang tidak peduli berapapun usianya dengan brutal dan membakar rumah mereka. Seorang perempuan dan suaminya diseret dari tempat persembunyian mereka dan ia diperkosa beberapa kali di depannya. Kemudian mereka meletakkan pedang ke dalam tangannya dan memegang tangannya di pangkal pedang sementara mereka mendorong pedang itu ke dalam perut suaminya. Setelah perbuatan kejam itu selesai, mereka juga membunuhnya.

Di desa barre, hamba iblis ini merobek perut beberapa anak kecil dan menarik keluar ususnya kemudian mereka mengunyahnya dalam kegusaran yang gila. Di Matiscon mereka memotong-motong tangan dan kaki banyak korban; kemudian beberapa orang mereka bunuh dan yang lain mereka biarkan mengeluarkan darah sampai mati. Demi tontonan yang kejam bagi diri mereka sendiri dan orang lain seperti mereka, mereka seringkali melemparkan kaum Huguenot, baik laki-laki maupun perempuan, dari jembatan yang tinggi ke Sungai Loire sambil berteriak "Pernahkah kamu melihat seorang melompat dengan begitu indah?"

Tidak mungkin menceritakan semua bentuk kekejaman yang dilakukan pada orang Protestan selama 2 bulan pembantaian yang mengerikan itu. Namun, satu contoh sudah cukup mewakili semuanya.

Istri Philip De Deux sedang hamil dan ditunggui bidan karena ia akan melahirkan. Pendukung paus menerobos masuk ke dalam rumah mereka dan membunuh Philip di tempat tidurnya kemudian tanpa mempedulikan permohonan bidan itu, mereka menusukkan belati ke perut si istri. Ia berjalan terhuyung-huyung keluar rumah menuju gudang dan naik ke atas loteng jagung, dan berharap untuk bersembunyi dari si penjagal itu, dan melahirkan bayinya sebelum ia meninggal. Namun, mereka segera menemukannya lalu menusuk perutnya sekali lagi, dan membelahnya. Kemudian mereka melemparkannya dari loteng jerami itu ke bawah. Ketika ia terjatuh ke tanah dengan bunyi yang keras pada punggungnya, bayinya keluar dari kandungannya. Segera para penjahat gereja roma itu menanggkapnya, menusuknya, dan melemparkannya ke sungai.

Sebagai saksi kedua kebenaran tentang pembantaian kaum huguenot ini, di bawah ini ada surat yang ditulis oleh seorang anggota gereja roma yang berpendidikan tinggi dan bijaksana:

Pernikahan raja muda Navarre dengan saudara perempuan raja Prancis dirayakan dengan kemegahan yang luar biasa. Semua perhatian, jaminan persahabatan, semua janji suci di antara manusia, diberikan dengan limpah oleh Catherine, ibu suri, dan raja. Selama perayaan, tamu-tamu pernikahan itu tidak memikirkan apapun kecuali menikmati perayaan, permainan, dan pesta topeng. Kemudian pada pukul 12 malam, pada permulaan hari St. Bartolomeus, tanda diberikan. Segera semua rumah kaum protestan dibuka paksa secara bersamaan. Laksanama Coligny karena menyadari kerusuhan itu, melompat dari tempat tidurnya tepat sebelum para pembunuh menerobos masuk ke tempat tidurnya. Pemimpin mereka adalah Besme, seorang pelayan di keluarga Guise. Orang yang kejam ini menusukkan pedangnya ke dada Laksamana serta wajahnya.

Henry, Duke of Guise yang masih muda, yang berdiri di pintu tempat tidur sampai pembantaian yang mengerikan itu dilaksanakan, berseru keras, "Besme! Apakah sudah terlaksana?". Segera setelah itu, para penjahat itu melemparkan Laksamana keluar jendela dan ia dibunuh di kaki Guise oleh penjahat lainnya yang memenggal kepalanya. Count de Teligny, yang menikah dengan anak perempuan Colignya sepuluh bulan sebelumnya, juga dibunuh. Ia seorang yang wajahnya menawan sehingga para penjahat yang pertama bergerak untuk membunuhnya merasa sayang, tetapi yang lain yang lebih kejam dari mereka menerobos melewati mereka dan membunuhnya. Sementara itu, semua teman Coligny dibunuh di seluruh Paris. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak dibunuh tanpa pandang bulu dan setiap jalan dipenuhi orang Protestan yang sekarat. Imam-imam berlari di jalan sambil memegang salib di tangan satunya dan pedang di tangan lainnya, dan memperingatkan pemimpin pembunuh itu untuk tidak membiarkan saudara atau teman-teman mereka lolos.

Tavannes, marsekal Prancis, seorang prajurit yang menyukai takhayul, dan bodoh, mengendarai kudanya melewati jalan-jalan Paris, dan berteriak kepada tentaranya, "Curahkan darah! Curahkan darah! Pencurahan darah pada bulan Agustus sama baiknya seperti pada bulan Mei". Dalam memoir tertulis anaknya tentangnya, kita diberi tahu bahwa ketika Tavannes hampir meninggal, dan membuat pengakuan terbuka kepada pastornya, imam itu berkata kepadanya dengan terkejut "Apa! Tidak menyebutkan pembantaian pada hari St. Bartolomeus?". Mendengar itu Tavannes menjawab, "Saya memandang itu sebagai tindakan yang layak mendapat pahala dan pujian yang akan menghapus semua dosa saya.". Hanya roh agamawi yang sesat yang bisa mengilhami perasaan yang sangat mengerikan itu.

Henry of Navarre dan istrinya yang baru saja menikah tidur di istana raja; semua pelayannya adalah penganut protestan. Banyak dari mereka yang dibunuh di tempat tidur; yang lain berlari menuju aula dan ruangan istana berusaha melepaskan diri; bahkan beberapa orang masuk ke dalam ruang utama raja. istri Hendry yang masih muda karena takut atas nasib suaminya dan dirinya sendiri, melompat dari tempat tidurnya dan berlari ke tempat tidur raja, dan menjatuhkan dirinya di kaki saudaranya dan mohon perlindungan. Namun, ketika ia membuka pintu kamar tidurnya, beberapa pelayannya yang Protestan menerobos masuk ke kamar itu untuk berlindung. Para prajurit masuk ke dalam kamar itu melewatinya dan membunuh seorang pelayan yang bersembunyi di bawah tempat tidur. Dua yang lain dilukai dengan tombak, dan jatuh di kakinya dan menumpahi kakinya dengan darah.

Count de la Rochefoucault, seorang bangsawan muda yang sangat disukai raja dan yang menunjukkan kebahagiaan dalam percakapannya, dan bisa berbicara penuh humor, telah menghabiskan malam yang menyenangkan bersama raja dan pejabat istananya, sampai pukul sebelas malam. Raja merasa menyesal terhadap Rochefoucault karena ia seorang Protestan, dan mendorongnya dua atau tiga kali untuk pulang ke rumah, tetapi menghabiskan malam itu di Louvre, dan saat itu ia tahu ia tidak akan ditemukan. Namun, bangsawan itu berkata ia harus pulang ke rumah menemui istrinya, jadi raja tidak mendesaknya lagi dan berkata secara pribadi kepada pegawainya, "Biarkan ia pergi. Saya melihat Allah telah memutuskan kematiannya". Dua jam kemudian bangsawan itu dan istrinya dibunuh.

Banyak korban yang malang melarikan diri ke tepi sungai reine untuk bersembunyi, dan beberapa orang berenang menyeberang sungai ke wilayah St. Germaine. Dari jendela kamar tidurnya di istana raja, raja bisa memandang ke sungai dan melihat orang-orang yang berenang untuk melepaskan diri. Satu di antara hambanya mempersiapkan senapan untuknya dan ia membunuh beberapa orang di sungai itu. Ibu suri tidak terganggu dengan semua pembantaian itu, dan sering melihat ke bawah dari balkonnya dan berteriak memberikan semangat kepada para pembunuh dan tertawa mendengar erangan kematian para korban.

Beberapa hari setelah peristiwa mengerikan di Paris itu, parlemen Prancis berusaha membuat pembantaian itu tidak begitu serius, dan membenarkan tindakan itu dengan melemparkan kesalahan pada Coligny dan menuduhnya melakukan kesepakatan untuk melawan raja, tetapi tak seorangpun mempercayainya. Mereka kemudian berusaha mencemarkan ingatan akan dirinya dengan menggantung mayatnya dengan rantai agar dilihat penduduk. Raja sendiri pergi melihat pemandangan yang mengguncangkan ini. Ketika satu di antara pegawainya menasihatinya untuk menjauh, sambil mengeluh atas bau busuk mayat itu, ia menjawab, "musuh yang mati mengeluarkan bau yang harum". Pembantaian pada hari St. Bartolomeus itu digambarkan di aula eksibisi istana Vatikan di Roma, dengan penjelasan: Pemimpin gereja roma menyetujui kematian Coligny.

Pembunuhan yang mengerikan ini tidak hanya terjadi di Paris. Perintah dikeluarkan dari istana raja kepada semua gubernur provinsi untuk membunuh semua kaum Huguenot di provinsi mereka. Akibatnya, sekitar 100 ribu orang protestan dibantai di seluruh prancis. Hanya sedikit gubernur yang menolak untuk menaati perintah itu. Montmorrin, gubernur Auvergne di Prancis tengah, menulis surat kepada Raja Charles dan berkata, "Tuan! Saya telah menerima perintah dengan meterai kerajaan untuk membunuh semua orang protestan di provinsi saya. Saya sangat menghargai keagunganmu sehingga tidak percaya jangan-jangan surat ini dipalsukan. Namun jika-Allah pasti melarang- perintah itu murni, saya sangat menghargai keagunganmu, serta akan menaati perintah itu".

Di Roma, sukacita atas pembantaian pada Hari Bartolomeus itu begitu besar sehingga mereka menyatakan hari itu sebagai hari pesta dan hari kebebasan. Orang-orang yang merayakan hari itu, dan mengungkapkan kegembiraan dengan segala cara yang bisa mereka pikirkan diberi banyak fasilitas. Orang yang pertama kali membawa kabar tentang pembantaian itu ke Roma diberi uang 1000 crown oleh Kardial lorraine atas beritanya yang tidak saleh itu. Di Paris raja juga memerintahkan agar hari itu dirayakan dengan setiap uangkapan sukacita sebab ia percaya bahwa seluruh ras Huguenot sudah dipunahkan, juga seluruh kaum Protestan di Prancis. Namun, Injil Kristus yang sejati tidak bisa dipadamkan di 1 negara-Hanya Allah yang bisa mencabutnya.

Lalu bagaimana nasib Raja Henry of Navarre yang masih muda, yang pernikahannya memberikan kesempatan bagi pembantaian itu dan yang nyawanya diselamatkan?

Ada orang yang mengatakan bahwa ia diselamatkan dari kematian oleh ibu suri karena ia ingin ia tetap hidup sebagai penjaga keamanan untuk dirinya sendiri dari kaum Huguenot yang berusaha membunuhnya serta ia berpikir juga bahwa mungkin ia bisa menggunakannya untuk meyakinkan kaum Huguenot yang lolos untuk menyerah. Orang lain mengatakan bahwa Henry terlepas dari pembantaian itu dengan membiarkan orang berpikir bahwa ia telah menyangkal iman protestannya. Dan ada orang yang berkata bahwa ia selamat, tetapi dipaksa untuk bertobat pada gereja roma; dan tiadk lama kemudian, ia menyangkal pertobatannya supaya ia bisa menjadi pemimpin untuk tentara Huguenot. Setelah pembantaian itu selesai, Raja Charles sangat terganggu, menjadi pemurung, dan tetap dalam keadaan seperti itu sampai ia mati dua tahun kemudian karena demam. Ia digantikan saudaranya, Henry III. Raja Prancis, Henry III segera membuat perjanjian damai dengan kaum Huguenot. Ini menyalakan kemarahan penganut gereja roma yang kemudian membentuk perserikatan umat gereja roma yang kuat, dipimpin keluarga Guise, untuk menentang raja.

Pada 1585 perserikatan itu memaksa Henry III untuk melarang paham protestan lagi, dan berusaha menyingkirkan Henry of Navarre dari pewarisan tahta Prancis. Oleh karena perserikatan ini masih tidak mempercayai raja, pada bulan Mei 1588 mereka menyebabkan kerusuhan yang mengusirnya dari Prancis. Perserikatan dan paus kemudian menyatakan bahwa Henry III dipecat dari jabatannya dan tidak lagi menjadi raja. Pada Desember 1588, Henry membalas dendam dengan membunuh Henri, duc de guise, dan saudaranya kardinal de guise. Ketika ia dinyatakan dipecat, Henry III membuat aliansi dengan Henry of Navarre, dan pada 1589 dibunuh oleh penganut gereja roma yang fanatik, jacques clement, di St. Cloud. Sebelum kematiannya, Raja Henry mengangkat Henry of Navarre sebagai penggantinya. Selain itu, Henry of Navarre mengklaim tahta itu sebagai hak warisnya dari Raja Louis IX melalui anak laki-laki Louis, Robert dari Clermont. Selain itu, istri Henry, margaret of Valois, adalah putri Henry II.

Perserikatan gereja roma yang kuat menolak mengakuinya dan didukung oleh raja Philip II dari Spanyol. Henry berusaha mengalahkan mereka dengan pasukan militer dan mendapatkan kembali tahtanya di Prancis, tetapi gagal dalam usahanya. Jadi pada 1593, ia bertobat pada paham gereja roma. Hal ini memberikan dukungan yang ia butuhkan untuk mendapatkan paris kembali pada tahun 1594. Dilaporkan bahwa ia membenarkan pertobatannya itu dengan berkata, "Paris layak untuk mendapatkan misa.". Pada 1598 Henry IV, gelar yang ia pakai saat itu, berkuasa sepenuhnya atas kekaisaran Prancis.

Segera setelah mendapatkan kekuasaan penuh atas Prancis, Henry IV mengeluarkan Edict of Nantes. Keputusan itu mengakhiri setengah abad perang dan memberikan hak politis yang sama kepada kaum Huguenot seperti penganut gereja roma; hak hidup dengan bebas di manapun di prancis; kebebasan beribadah pribadi di tempat-tempat tertentu, tetapi tidak di istana raja atau dalam jarak 24 km dari Paris. Keputusan itu juga memberikan beberapa tempat yang kuat sebagai "kota perlindungan" agar bisa melarikan diri dari penganiayaan dan aman, jika mereka bisa sampai di sana. Satu di antara tempat semacam itu adalah kotamadya La Rochelle di sebelah barat Prancis di Teluk Biscay. Edict of Nantes itu tetap berlaku sampai 1685 sampai undang-undang itu dicabut oleh Louis XIV.

Selama pemerintahannya sebagai raja prancis, Henry IV, yang sebelumnya adalah Henry of Navarre, mengabdikan dirinya untuk memperbaiki kondisi kehidupan penduduk prancis, terutama untuk melakukan eksplorasi dunia baru. Ia meninggal pada 14 Mei 1610, ketika ia dibunuh oleh penganut agama yang fanatik saat ia sedang melintas Paris dengan kuda.

Sumber: http://paulusteguh.blogspot.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Gessius Florus mencintai uang dan membenci orang-orang Yahudi. Sebagai wakil Roma, ia memerintah Yudea, dengan tidak memandang kepekaan mereka akan agama. Ketika pemasukan pajak menurun, ia pun mulai merampas benda-benda perak dari Bait Allah. Pada tahun 66, ketika kerusuhan menentang dia merebak, ia mengirim pasukan ke Yerusalem untuk menyalib dan membantai sejumlah orang Yahudi. Tindakan Florus ini memicu meledaknya pemberontakan yang selama ini merupakan api dalam sekam.

Monumen memperingati kemenangan Titus di Yerusalem.
Pada abad sebelumnya, Roma tidak pernah menangani orang-orang Yahudi dengan baik. Pertama, Roma telah mendukung Herodes Agung, perampas kekuasaan yang dibenci. Dengan semua bangunan unik yang indah, ia tidak dapat meraih hati rakyat. Arkhelaus, putra dan penerus Herodes, adalah pemimpin yang keji sehingga rakyat meminta pertolongan Roma untuk menggantinya. Roma pun menolong mereka dengan mengirimkan sejumlah Gubernur secara bergilir – Pontius Pilatus, Feliks, Festus dan Florus. Tugas mereka menjaga ketenteraman di daerah yang tidak stabil itu.

Ketegangan dalam diri masing-masing orang Yahudi tidak mereda. Mereka masih terbuai kenangan masa-masa Makabe, saat mereka terbebas dari penindasan orang-orang Siria. Sekarang, jumlah mereka yang kecil ditambah kebangkitan Roma membuat mereka kembali di bawah kekuasaan orang-orang asing.

Sejak pemerintahan Herodes, denyut jantung revolusi mereka senantiasa berdetak. Orang-orang Zelot dan Farisi, masing-masing dengan caranya sendiri, menantikan perubahan. Mereka menantikan dengan semangat datangnya seorang Mesias. Ketika Yesus memperingatkan bahwa orang-orang akan berkata, "Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana!" Ia tidak main-main. Sesungguhnya, seperti itulah semangat masa itu.

Di Masada (sebuah bukit karang yang menghadap Laut Mati, tempat Herodes membangun istananya dan orang-orang Romawi mendirikan benteng), bermulalah pemberontakan orang Yahudi yang berakhir dengan pahit.

Terinspirasi kekejaman-kekejaman Florus, beberapa orang Zelot memutuskan menyerang benteng itu. Yang mengherankan, mereka menang dan membantai tentara Romawi yang berkemah di sana.

Di Yerusalem, kepala Bait Allah menyatakan pemberontakan terbuka melawan Roma dengan menghentikan persembahan harian untuk Kaisar. Tidak lama kemudian seluruh Yerusalem menjadi rusuh; pasukan Romawi diusir dan dibunuh. Yudea memberontak, kemudian Galilea. Untuk sementara waktu tampaknya orang-orang Yahudi unggul.

Cestius Gallus, Gubernur Romawi untuk daerah itu berangkat dari Siria dengan 20.000 tentara. Ia menguasai Yerusalem selama enam bulan namun gagal dan kembali. Ia meninggalkan 6.000 tentara Romawi yang tewas dan sejumlah besar persenjataan yang dipungut dan dipakai orang-orang Yahudi.

Kaisar Nero mengirim Vespasianus, seorang jenderal yang dianugerahi banyak bintang jasa, untuk meredam pemberontakan. Vespasianus pun melumpuhkan kelompok pemberontak tersebut secara bergilir. Ia memulainya di Galilea, kemudian di Transyordania, dan berikutnya di Idumea. Setelah itu, dia mengepung Yerusalem.

Akan tetapi sebelum menjatuhkan Yerusalem, Vespasianus dipanggil pulang ke Roma. Nero wafat. Pergumulan untuk mencari pengganti Nero berakhir dengan keputusan Vespasianus sebagai Kaisar. Titah kekaisaran pertamanya ialah penunjukan anaknya, Titus, untuk memimpin Perang Yahudi.

Maka Yerusalem pun menjadi sasaran empuk setelah terpisah dari daerah-daerah lain. Beberapa faksi (kelompok) dalam kota itu sendiri berebut mengatur strategi pertahanan. Ketika pengepungan sedang berlangsung, penduduk kota pun satu demi satu mati karena kelaparan dan wabah penyakit. Istri imam kepala yang biasanya menikmati kemewahan, turun ke jalan untuk memungut sisa makanan.

Sementara itu, pasukan Romawi menggelar mesin-mesin perang baru, yaitu mesin pelontar batu untuk meruntuhkan tembok-tembok yang melindungi kota. Balok pendobrak pintu gerbang merobohkan benteng pertahanan. Orang-orang Yahudi berperang sepanjang hari, dan pada malam hari mereka berjuang untuk membangun kembali tembok-tembok yang runtuh.

Akhirnya, orang-orang Romawi merobohkan tembok lapisan luar, kemudian lapisan kedua dan akhirnya yang ketiga. Namun orang-orang Yahudi masih berperang sambil merangkak menuju Bait Allah sebagai garis pertahanan terakhir.

Itulah akhir bagi para pejuang Yahudi yang gagah berani dan Bait Allah mereka. Sejarawan Yahudi, Josephus menjelaskan bahwa Titus ingin melindungi Bait Allah tersebut, tetapi prajurit-prajuritnya begitu marah terhadap musuh mereka sehingga mendorong mereka membakar Bait Allah.

Jatuhnya Yerusalem mengakhiri pemberontakan. Orang-orang Yahudi dibantai atau ditangkap serta dijual sebagai budak. Gerombolan orang Zelot yang menduduki Masada bertahan di situ selama tiga tahun. Ketika orang-orang Romawi membangun lereng pengepungan dan menyerbu benteng pegunungannya, mereka menemukan orang-orang Zelot mati bunuh diri sebagai penolakan menjadi tawanan orang asing.

Pemberontakan orang-orang Yahudi ini menandai berakhirnya negara Yahudi sampai zaman modern.

Penghancuran Bait Allah (yang dipugar Herodes) mengubah tata cara peribadahan orang-orang Yahudi. Mereka tidak lagi mempersembahkan korban sembelihan, tetapi memilih dan mengutamakan sinagoge yang didirikan pendahulu mereka ketika Bait Allah (yang didirikan Salomo) dihancurkan orang-orang Babel pada tahun 586 sM.

Kemanakah perginya orang-orang Kristen ketika pemberontakan orang Yahudi itu berlangsung? Sesuai peringatan Kristus (Luk. 21:20-24), mereka lari ketika melihat Yerusalem dikepung pasukan Romawi. Mereka menolak mengangkat senjata dan melawan orang-orang Romawi. Mereka melarikan diri ke Pella di Transyordania.

Setelah bangsa Yahudi serta Bait Allah mereka hancur, orang-orang Kristen pun tidak dapat lagi bergantung pada perlindungan terhadap Yudaisme yang pernah diberikan kekaisaran. Karenanya, tidak ada tempat lagi bagi orang-orang Kristen untuk berlindung dari penyiksaan orang-orang Romawi.

Sumber: http://mathematics.dikti.net/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Serangan udara pasukan Gaddafi
Dewan Keamanan PBB akhirnya meresmikan Resolusi 1973 yang memberikan otorisasi bagi semua negara anggota untuk mengambil langkah yang dianggap perlu untuk melindungi warga sipil di Libya, termasuk larangan zona terbang.

Perkembangan di Libya dikomentari oleh harian Polandia Rzeczpospolita yang khawatir akan terjadi pertumpahan darah seperti di Rwanda :

"Besok atau seminggu lagi darah bisa mengalir di Benghazi. Dunia barat kemudian harus bertanya : Kenapa pengulangan peristiwa di Rwanda atau Bosnia tidak bisa dihindarkan? Para pejuang revolusi yang membebaskan seluruh wilayah timur dan banyak wilayah barat, kini kalah. Pasukan Gaddafi bisa muncul setiap saat di depan gerbang ibukota para pemberontak, yakni Benghazi. Bisa dengan mudah dibayangkan apa yang akan terjadi disana. Gaddafi tidak menerima partai, oposisi dan lawan. Ia membunuh mereka. Dunia telah lama dengan tenang memperdebatkan zona larangan terbang. Kemarin malam, PBB tiba-tiba mengambil keputusan."

Harian La Republicca yang terbit di Roma Italia juga menulis tentang keputusan PBB untuk memberlakukan zona larangan terbang di Libya :

"Setelah terlambat tiga minggu, PBB akhirnya menetapkan zona larangan terbang yang terikat ijin untuk melakukan semua hal yang dianggap perlu untuk mengusir Muammar al Gaddafi. Walaupun ini hanya bentuk klasik untuk memastikan secara sopan bahwa penggunaan senjata dibolehkan, keputusan ini terlambat dan kurang keras. Kini kitalah yang berhadapan langsung dengan Gaddafi. Dan kita lah yang beresiko untuk kehilangan muka - khususnya di depan lautan kaum muda Arab, yang percaya akan kata-kata kebebasan kami dan selama tiga minggu sia-sia menunggu bantuan kami."

Lambatnya sikap PBB terhadap kerusuhan di Libya juga dikomentari oleh harian Wina Kurier :

"Muammar Gaddafi menampilkan wajah yang yakin akan kemenangan kepada para pemberontak dan seluruh dunia. Ia bisa berterima kasih kepada Jepang. Tetapi tidak hanya Jepang, melainkan juga politisi dunia barat yang senang menegur para diktator, namun di waktu bersamaan juga senang akan kemampuan mereka menjaga stabilisasi di negara-negara yang kaya akan sumber daya alam. Banyak warga Libya yang akan membayar pemberontakan dengan nyawa atau penyiksaan jiwa yang rusak. Libya bisa menjadi percontohan bagi negara lain yang juga terancam kerusuhan yang sama. Mereka belajar, bahwa jangan mundur seperti Ben Ali atau Mubarak. Melainkan bertahan dan menembak. Bahrain sudah mempelajarinya."

Terakhir pendapat harian Perancis L'Est Republicain :

"Terlambat? Apakah ini terlambat untuk menahan Gaddafi yang hanya ingin membunuh? Sikap pasif Eropa dan organisasi internasional telah membolehkan pemimpin yang tidak waras itu untuk melakukan pertempuran berdarah terhadap para pemberontak, pahlawan Libya yang independen. Resolusi PBB mengijinkan 'aksi militer' untuk melindungi keluarga yang tidak bersalah. Ini hal yang sangat baik. Namun, mengapa dibutuhkan waktu yang lama hingga revolusi menjadi sebuah tragedi, dan situasi darurat kemanusiaan terjadi? Mengapa harus menunggu untuk menerapkan 'hak melindungi warga sipil' yang telah dikutip pernyataannya sejak berminggu-minggu?" 

Sumber: http://www.dw-world.de/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Rakyat Libya menyambut
Resolusi PBB 1973.
Menlu Libya Mussa Koussa mengumumkan gencatan senjata. Namun apakah gencatan senjata itu menyelamatkan kelompok perlawanan di Benghazi atau wilayah lainnya? Gaddafi terus bertekad membalas dendam.

Beberapa jam setelah Resolusi PBB 1973 mengenai kemungkinan aksi militer terhadap Libya diumumkan, pemerintah di Tripoli menyatakan menghentikan semua operasi militernya. Negara telah memutuskan untuk "memberlakukan segera gencatan senjata" demikian dikatakan Menteri Luar Negeri Mussa Kussa, Jumat (18/03) di ibukota Libya.

Lebih lanjut Kussa, "Berdasarkan pasal 25 Piagam PBB dan karena Libya adalah anggota PBB kami mematuhi Resolusi Dewan Keamanan. Untuk itu Libya memutuskan untuk memberlakukan segera gencatan senjata dan menghentikan semua operasi militer."

Gaddafi Terus Gempur Kelompok Perlawanan

Beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata, seorang jurubicara kelompok perlawanan Libya, Khaled al-Sayeh, di Benghazi melaporkan bahwa pasukan Gaddafi terus menggempur sejumlah kota. Menurut Al-Sayeh, kota Zintan, Ajdabiya, dan Misrata menjadi sasaran artileri militer Libya.

Dilaporkan, militer Libya menembaki perumahan, rumah sakit, dan mesjid di Misrata. Menurut laporan seorang dokter di Misrata, sejumlah rumah sakit hancur dan rumah sakit yang masih beroperasi kewalahan menerima korban cedera. Hingga berita ini diturunkan, sedikitnya enam orang tewas di Misrata. Sementara itu Ajdabiya dilaporkan dikepung pasukan Gaddafi.

Menurut laporan Badan PBB urusan Pengungsi (UNCHR) dan kelompok perlawanan, jumlah korban tewas sejak pertempuran sebulan terakhir ini berkisar seribu orang. Sementara itu Gaddafi mengklaim bahwa korban tewas hanya sekitar 150 orang.

Pemerintah Libya juga menyangkal pernyataan kelompok perlawanan. Seorang sumber militer Libya di Tripoli mengatakan bahwa militer menghormati gencatan senjata yang diumumkan dan komitmen melindungi warga sipil serta tidak melancarkan operasi militer.

Internasional Berencana Kerahkan Militer

Amerika Serikat mengatakan bahwa pengumuman gencatan senjata saja tidak cukup. Pemerintah di Washington menyerukan rezim Gaddafi untuk mundur dari wilayah timur Libya, yang sebelumnya dikuasai kelompok perlawanan.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, "Ini merupakan situasi dinamis dan cair. Kami tidak akan menanggapi atau terkesan dengan kata-kata saja. Kami harus melihat tindakan nyata di lapangan dan hal itu masih belum jelas. Kami akan melanjutkan tugas dengan mitra kami dalam masyarakat internasional menekan Gaddafi untuk mundur dan mendukung aspirasi sah rakyat Libya."

Pemerintah AS juga mengumumkan akan mengirimkan beberapa kapal amfibi tempur ke Laut Tengah pertengahan minggu depan. PM Inggris David Cameron menyatakan bahwa pemerintah di London akan mengirimkan pesawat tempur Tornado dan Typhoon, pesawat pengisi bahan bakar dan pengintai ke Libya.

Uni Eropa juga menyatakan bersiap memberikan bantuan kepada rakyat Libya, termasuk penugasan militer. Pejabat tinggi UE urusan luar negeri Catherine Ashton hari Sabtu (19/03), dijadwalkan bertemu Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan PM Inggris Cameron. Perwakilan Liga Arab dan Uni Afrika juga akan hadir dalam pertemuan itu.

NATO Masih Pertimbangkan Zona Larangan Terbang

Sementara itu Aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara NATO belum mengumumkan misi militer ke Libya. Melalui Sekjen Anders Fogh Rasmussen, NATO cenderung memikirkan upaya penerapan nyata Resolusi PBB 1973. Akhir pekan ini wakil 28 negara anggota NATO mengadakan pertemuan dan memutuskan apakah akan mendukung PBB atau tidak dalam menerapkan zona larangan terbang terhadap Libya.

Sumber: http://www.dw-world.de/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Tanpa kekaisaran Romawi, kekristenan mustahil berkembang dengan sukses. Kekaisaran itu dapat dikatakan sebagai bom waktu yang menanti pemicuan iman Kristen. Unsur-unsur pemersatu kekaisaran itu memhantu penyebaran berita Injil: jalan raya yang dibangun orang Romawi membuat perjalanan dari situ tempat ke tempat lain lebih mudah; di seluruh kekaisaran orang-orang dapat berkomunikasi dalam bahasa Yunani; dan pasukan Romawi yang tangguh itu menjaga kedamaian. Sebagai akibat mobilitas yang meningkat, kelompok-kelompok pengrajin pun bermigrasi mencari permukiman sementara di kota-kota besar — Roma, Korintus, Athena atau Alexandria -- kemudian berlanjut ke kota-kota lainnya.

Nero playing while Rome burns, lukisan dari seniman Giulio Romano (c.1499-1546), lukisan ini dibuat antara tahun 1536-1539.
Kekristenan memasuki iklim yang terbuka secara religius. Dalam gerakan "zaman baru" itu, banyak orang mulai menganut agama-agama Timur – seperti menyembah Isis (dewi alam), Dionisus (dewa anggur), Mithras (dewa cahaya), Kibele (dewi alam), dan sebagainya. Para pemuja mencari keyakinan baru, namun beberapa agama tersebut dilarang, karena dicurigai melakukan upacara-upacara penghinaan. Keyakinan lain secara resmi diakui, seperti Yudaisme, yang dilindungi sejak zaman Julius Caesar, meskipun monoteismenya dan penyataan alkitabiahnya telah memisahkannya dari Cara pemujaan lain.

Melihat kesempatan baik ini, para pekabar Injil mulai menelusuri seantero kekaisaran. Di sinagoge (rumah ibadah) orang Yahudi, di ternpat-tempat penampungan para pengrajin, di pondok-pondok kumuh, mereka menyebarkan berita Injil dan memenangkan jiwa-jiwa baru. Tidak lama kemudian berdirilah gereja di kotakota besar, termasuk ibu kota kekaisaran.

Kota Roma, pusat kekaisaran, menarik orang-orang seperti magnet. Paulus sendiri pernah menginginkan kunjungan ke kota tersebut (Rm. 1:10-12); dan pada akhir suratnya kepada jemaat di Roma, ia sudah mengenal banyak orang Kristen di sana (Rm. 16:13-15). Mungkin ia pernah bertemu mereka dalam perjalanannya.

Ketika Paulus tiba di Roma, ia dalam keadaan dirantai. Kisah Para Rasul pada bagian penutupannya menyatakan bahwa akhirnya Paulus mendapat kelonggaran untuk menjadi tahanan rumah di sebuah rumah sewaan. Di sana ia dapat menerima tamu dan mengajar mereka.

Menurut tradisi, Petrus pun pernah bergabung dengan Gereja Roma. Meskipun kita tidak mempunyai kurun waktu yang pasti, namun kita dapat menduga bahwa dengan pimpinan kedua tokoh ini, jemaat tersebut bertumbuh kuat, termasuk para bangsawan dan prajurit serta para pengrajin dan pelayan.

Selama tiga dekade, para pejabat Romawi beranggapan bahwa kekristenan adalah cabang agama Yahudi - agama yang sah - dan tidak bermaksud membuat "sekte" baru agama Yahudi. Namun banyak orang Yahudi yang tersinggung karena kepercayaan baru ini mulai menyerangnya. Ini juga merupakan ancaman bagi Roma. Kelalaian Roma atas keadaan tersebut ditunjukkan oleh laporan sejarawan Tacitus. Dari salah satu rumah petak di Roma, ia melaporkan adanya gangguan di kalangan orang-orang Yahudi karena "chrestus". Tacitus mungkin salah dengar; orang-orang mungkin memperdebatkan tentang Christos, yang adalah Kristus.

Menjelang tahun 64 Masehi, beberapa pejabat Romawi mulai sadar bahwa kekristenan sama sekali berbeda dengan Agama Yahudi. Orang-orang Yahudi menolak orang-orang Kristen dan lebih banyak melihat kekristenan sebagai agama yang tidak sah. Jauh sebelum kebakaran kota Roma, masyarakat telah mulai memusuhi keyakinan yang masih muda ini. Meskipun sifat orang Romawi ingin menerima dewa-dewa baru, namun kekristenan tidak mau mengakui kepercayaan-kepercayaan lain. Karena kekristenan menentang politeisme kekaisaran Romawi yang telah berakar, maka kekaisaran itu pun mulai membalas.

Pada tanggal 19 Juli, kebakaran berkobar di sebuah sektor kumuh di Roma. Selama tujuh hari api yang tak kunjung padam itu memusnahkan perumahan yang padat. Sepuluh dari empat belas blok perumahan musnah, dan banyak penduduk yang tewas.

Menurut legenda, Kaisar Nero sedang bermain biola ketika Roma terbakar. Banyak orang sezamannya menduga bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kebakaran tersebut. Ketika kota itu dibangun kembali dengan dana dari masyarakat, Nero mengambil sebidang tanah yang cukup luas untuk membangun Istana Emasnya. Kebakaran itu merupakan jalan pintas bagi pembaruan perkotaan.

Untuk mengelakkan tuduhan atas dirinya, Kaisar itu mengkambinghitamkan orang-orang Kristen. Ia menuduh bahwa merekalah yang memicu kebakaran tersebut. Akibatnya Nero bersumpah untuk memburu dan membunuh mereka.

Gelombang pertama penganiayaan orang Romawi terhadap orang Kristen dimulai tidak lama setelah kebakaran itu dan berakhir sampai tahun kematian Nero, tahun 68. Dengan haus darah dan biadab, orang-orang Kristen disalibkan dan dibakar. Jasad-jasad mereka berjejer di jalan-jalan Roma, disediakan bagi pencahayaan obor. Orang-orang Kristen lainnya dikenakan pakaian hewan dan dimasukkan ke dalam kandang untuk dicabik-cabik anjing-anjing. Menurut cerita, Petrus dan Paulus menjadi martir akibat penyiksaan Nero. Paulus dipenggal kepalanya sedangkan Petrus disalibkan terbalik.

Penganiayaan berlangsung secara sporadis, dan tetap terlokalisasi. Seorang kaisar mungkin telah memicunya dan berlanjut selama lebih kurang sepuluh tahun. Namun, masa damai akan menyusul sampai ada seorang gubernur yang memulai penganiayaan terhadap orang Kristen di wilayahnya — tentu dengan restu dari Roma. Hal semacam ini berlangsung dua setengah abad lamanya.

Tertullianus, seorang penulis Kristen abad kedua pernah berkata, "Darah para martir adalah benih Gereja." Anehnya, setiap kali penganiayaan merebak, orang Kristen yang menjadi korban makin bertambah. Dalam suratnya yang pertama Petrus menguatkan orang-orang Kristen untuk bertahan, percaya diri akan kemenangan dan kuasa Kristus yang akan diteguhkan (1 Ptr. 5:8-11). Kata-katanya ini telah terbukti dengan pertumbuhan Gereja di tengah-tengah penekanan.

Sumber: http://mathematics.dikti.net/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Jika bukan karena Charles Martel, kita semua mungkin, sekarang, berbicara dalam bahasa Arab dan berlutut menghadap Mekah lima kali sehari. Di Tours, Charles Martel dengan pasukan orang-orang Frank memukul balik pasukan-pasukan muslim yang ganas, yang telah menyapu Afrika Utara dan sedang menuju Eropa. Pertempuran di Tours itulah yang menyelamatkan peradaban Barat.

Perkembangan Islam yang pesat adalah gerakan luar biasa dalam sejarah. Pada tahun 622, para pengikut Muhammad hanyalah sekelompok visioner teraniaya yang berkumpul di Mekah. Seratus tahun kemudian mereka tidak hanya menguasai Arab, tetapi juga Afrika Utara, Palestina, Persia (Iran), Spanyol dan sebagian India. Mereka sedang mengancam Perancis dan Konstantinopel.

Charles Martel pada Pertempuran di Tour
Bagaimana mereka melakukan itu? Pertobatan, diplomasi dan pasukan-pasukan tempur yang berdedikasi. Juga boleh dikatakan bahwa kejatuhan Kekaisaran Romawi meninggalkan wilayah yang siap untuk penanaman agama baru ini.

Agama Muhammad berkembang di Mekah, salah satu dari dua kota besar di Arab. Agama ini bersifat monoteistis, legalistis dan agak sederhana. Muhammad menegaskan bahwa ia telah menerima sistem tersebut dari Allah, dan ia berkata bahwa ia adalah rasul yang ditunjuk Allah. Warga Mekah menolak ajaran-ajaran baru Muhammad dan mereka mempersulit kehidupan para pengikutnya. Maka pada tahun 622, rasul tersebut dengan rombongannya melarikan diri ke Madinah (kota terbesar lain di Arab). Pelarian ini (hijriah) mengawali kalender Muslim dan sekaligus merupakan awal ekspansi yang luar biasa.

Arab pada saat itu menjadi tempat berkumpulnya pengembara beraneka suku yang berperang satu sama lain. Islam membawa persatuan – bukan saja dalam agama, tetapi juga hukum, ekonomi dan politik. Ketika Muhammad wafat pada tahun 632, timbullah pertikaian di antara pengikutnya tentang siapa yang akan menjadi penerusnya. Namun agama tersehut tetap berkembang.

Menjelang tahun 636, orang-orang Muslim telah menguasai Suriah dan Palestina. Mereka menguasai Alexandria pada tahun 642 dan Mesopotamia pada tahun 646. Kartago jatuh pada tahun 697, ketika pasukan Muslim menyapu Afrika Utara, memenangkan daerah-daerah yang sampai hari ini masih berada di tangan Muslim. Pada tahun 711, mereka melintasi terusan Gibraltar dan masuk ke Spanyol. Mereka segera mengokohkan penguasaan atas Semenanjung Iberia dan akhirnya bergerak lebih jauh dari Pyrenees. Pada saat yang sama, orang-orang Muslim telah memasuki daerah Punjab di India dan hampir memasuki Konstantinopel.

Konstantinopel adalah ibu kota kekaisaran Byzantin, kehanggaan satu-satunya yang tertinggal dari Kekaisaran Romawi. Berabad-abad sebelumnya, Kekaisaran Romawi terbagi atas Timur dan Barat, dan kekaisaran Barat jatuh ke tangan suku-suku Jerman seperti Vandal, Ostrogoth dan Frank. Satu-satunya kuasa yang dipegang Roma adalah Gereja, tetapi kuasa ini masih sedang bertumbuh. Melalui para misionaris seperti Augustinus di Inggris dan Bonifatius di Jerman, Roma mendapat kesetiaan spiritual dari daerah-daerah pendudukannya dahulu.

Ancaman Islam ialah menggabungkan kekuatan agama dan politik. Namun agama Islam bukan saja menumbangkan kekuasaan politik, ia juga menobatkan warga jajahan dengan menawarkan (atau memaksakan) sistem agama baru.

Charles Martel adalah penguasa dari kalangan kaum Frank, salah satu suku Jerman yang menguasai kekaisaran Barat. Kaum Frank ini pernah menyerang Perancis pada tahun 355, dan secara resmi telah bertobat ke dalam kekristenan Roma di bawah pemerintahan Clovis I (481-511). Seperti para penguasa Frank sebelumnya, Charles pun menggunakan Gereja untuk kepentingannya sendiri. Ia merasa senang mendukung misionaris Roma di antara suku-suku Jerman lainnya – ini akan menambah kekuasaan kaum Frank di Jerman. Namun, ia segera menyelewengkan Gereja kaum Frank bagi keuntungan pribadinya. Meskipun ia menyelamatkan gereja Roma dari kehancuran di Tours, sebenarnya ia berperang untuk melindungi daerah Frank.

Jenderal pasukan Muslim Abd-er-Rahman yang memimpin pasukannya ke Utara, masuk tepat di daerah Frank. Charles Martel (Martel artinya "Palu") berhadapan dengannya di antara Tours dan Poitiers serta memukulnya mundur. Dalam suatu rangkaian pertempuran sengit, kaum Frank memukul mundur pasukan Muslim ke Spanyol, mengakhiri perkembangan Muslim di Eropa.

Tentunya, pertahanan di Konstantinopel pada tahun 718 juga sama pentingnya dalam memukul penaklukan kaum Muslim. Tetapi bagi mereka yang menelusuri warisan Eropa Barat, pertempuran Tours adalah yang menentukan. Seandainya Muslim yang menang, mereka mungkin mundur di kemudian hari; mungkin mereka menyebar dan menipis. Namun seperti pesatnya mereka berkembang, begitu juga mereka menduduki daerah-daerah yang telah dimenangkan dengan kokoh. Dua belas setengah abad kemudian mereka masih merupakan kekuatan yang disegani, dan daerah-daerah pendudukan mereka masih menolak kesaksian Kristen.

Sumber: http://mathematics.dikti.net/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

800: Karel Agung

Penguasa Kerajaan Franken dinobatkan sebagai Kaisar Romawi oleh Paus Leo III. Pada zaman modern, nenek-moyang wangsa Karolinger itu yang meninggal pada tahun 814 di Aachen, dinamakan ”Bapak Eropa“.

Kunjungan Karel Agung ke Paus

962: Otto I, yang Agung

Dengan penobatan Otto sebagai kaisar mulailah sejarah ”Kerajaan Romawi Suci“.

1024–1125/1138–1268: Salier dan Staufer

Wangsa Salier, pembangun katedral di Speyer, dan wangsa Staufer menentukan sejarah Eropa.

1179: Hildegard dari Bingen

Kepala biara dan ahli pengobatan, salah seorang perempuan terkemuka abad pertengahan di Jerman, meninggal dalam usia 81 tahun di Bingen pada Sungai Rhein.

1452–1454: Seni cetak buku

Penemu seni cetak buku dengan leter yang dapat digerakkan, Johannes Gutenberg (sekitar 1400-1468), untuk pertama kali mencetak Alkitab dengan tiras kira-kira 180 eksemplar di Mainz.

1493: Kenaikan wangsa Habsburg

Dengan masa pemerintahan Kaisar Maximilian I dimulai kenaikan dinasti Habsburg. Berabad-abad lamanya keluarga bangsawan itu tergolong wangsa terkemuka di Eropa Tengah. Jumlah terbesar di antara kaisar dan raja dalam Kerajaan Romawi Suci [1] Bernasion Jerman adalah anggota keluarga Habsburg, begitu juga raja Spanyol dalam kurun waktu 1504-1700.

1517: Perpisahan umat beriman

Zaman reformasi mulai di Wittenberg pada saat Martin Luther (1483- 1546) mengumumkan ke-95 tesisnya yang menentang praktik pengampunan denda dosa dalam Gereja Katolik.

1618–1648: Perang Tiga Puluh Tahun

Perang yang merupakan perselisihan antarumat beriman dan sekaligus konflik antarnegara itu berakhir dengan Perdamaian Westfalia. Umat beragama Kristen Katolik dan Kristen Protestan (Lutheran dan Reformasi) dinyatakan berhak sama.

1740–1786: Friedrich Agung

Selama masa pemerintahan Friedrich II, seorang pencinta seni dan panglima perang, Prusia maju menjadi negara adidaya di Eropa. Pemerintahan Friedrich dianggap sebagai contoh bagi era ”absolutisme yang telah mengalami pencerahan“.

1803: Sekularisasi

Pengambilalihan wilayah milik lembaga keagamaan dan peniadaan status Kota Bebas melalui keputusan Reichsdeputationshauptschluss mengawali akhir dari ”Kerajaan Romawi Suci Bernasion Jerman“.

1848/49: Revolusi Maret

”Revolusi Jerman“ berawal di kerajaan Baden di sebelah barat daya dan cepat menyebar ke negara-negara lain anggota Serikat Jerman [2]. Hasilnya ialah Majelis Nasional Jerman pertama yang bersidang di Paulskirche di Frankfurt am Main.

1871: Pendirian Reich

Pada tanggal 18 Januari, saat Perang Jerman-Perancis belum berakhir, Wilhelm I diproklamasikan di Versailles sebagai Kaisar Jerman. Reich Jerman (yang kedua) berupa monarki konstitusional. Tidak lama setelah pendirian kerajaan itu, perekonomian Jerman mengalami perkembangan cepat.

1914–1918: Perang Dunia I

Kebijakan luar Negeri Kaisar Wilhelm II membuat Jerman terisolasi dan mengantarnya ke dalam musibah Perang Dunia I yang mengakibatkan hampir 15 juta korban jiwa. Pada bulan Juni 1919 ditandatangani perjanjian perdamaian di Versailles.

1918/19: Republik Weimar

Pada tanggal 9 November tokoh sosialis-demokrat Philipp Scheidemann memproklamasikan republik; Kaisar Wilhelm II turun takhta. Pada tanggal 19 Januari 1919 diadakan pemilihan umum untuk majelis nasional.

1933: Nasionalsosialisme

Pada pemilihan Reichstag tahun 1932, NSDAP menjadi partai terkuat. Adolf Hitler menjadi Kanselir Reich pada tanggal 30 Januari 1933. Dengan ”UU Pemberian Kuasa“ mulailah diktatur Nazi.

1939: Awal Perang Dunia II

Dengan serangan mendadak ke Polandia pada tanggal 1 September 1939, Hitler mencetuskan Perang Dunia Kedua [3]. Perang itu menewaskan 60 juta jiwa dan menghancurkan kawasan-kawasan luas di Eropa dan di Asia Timur. Enam juta orang Yahudi menjadi korban politik pemusnahan Nazi.

1945: Akhir Perang Dunia II

Dengan kapitulasi angkatan bersenjata Jerman pada tanggal 7/9 Mei 1945, Perang Dunia Kedua [3] berakhir di Eropa. Negara-negara pemenang membagi Jerman menjadi empat zone pendudukan, dan Berlin menjadi empat sektor.

1948: Blockade Berlin

Diresmikannya pemakaian mata uang D-Mark di ketiga zone pendudukan Barat menjadi alasan bagi Uni Sovyet untuk menutup semua jalan akses ke Berlin Barat pada tanggal 24 Juni 1948. Negara-negara sekutu Barat menjawab dengan ”jembatan udara“ yang menjadi sarana untuk memasok kebutuhan hidup penduduk Berlin Barat sampai bulan September 1949.

1949: Pendirian Republik Federal Jerman

Undang-undang Dasar Republik Federal Jerman diumumkan di Bonn pada tanggal 23 Mei 1949. Pemilihan umum pertama untuk Bundestag diadakan pada tanggal 14 Agustus. Konrad Adenauer (CDU) dipilih menjadi Kanselir Federal. Perpisahan antara Timur dan Barat terjadi pada tanggal 7 Oktober 1949 dengan pemberlakuan Konstitusi RDJ [4].

1957: Perjanjian-Perjanjian Roma

Republik Federal Jerman termasuk di antara enam negara yang menandatangani perjanjian pendirian Masyarakat Ekonomi Eropa di Roma.

1961: Pembangunan Tembok Berlin

Pada tanggal 13 Agustus 1961, RDJ [4] menutup wilayahnya dengan membangun tembok di tengah kota Berlin dan dengan ”koridor maut“ sepanjang perbatasan antara kedua negara Jerman.

1963: Perjanjian Elysée

Perjanjian Persahabatan Jerman- Perancis di-tandatangani oleh Kanselir Federal Konrad Adenauer dan Presiden Perancis Charles de Gaulle.

1970: Berlutut di Warsawa

Isyarat Kanselir Federal Willy Brandt (SPD) pada monumen untuk para korban pemberontakan di kampung Yahudi di Warsawa menjadi simbol permintaan Jerman akan rekonsiliasi.

1989: Runtuhnya Tembok Berlin

Berkat revolusi secara damai di RDJ [4], malam hari pada tanggal 9 November Tembok Berlin runtuh. Dengan demikian perbatasan antara Jerman Timur dan Jerman Barat sudah tidak ada.

1990: Reunifikasi [5] Jerman

Pada tanggal 3 Oktober berakhirlah eksistensi RDJ [4]. Persatuan negara Jerman telah dipulihkan. Pada tanggal 2 Desember 1990 berlangsung pemilihan pertama untuk Bundestag yang diadakan di seluruh Jerman. Helmut Kohl (CDU) menjadi Kanselir Federal pertama dari Jerman Bersatu.

2004/2007: Perluasan Uni Eropa

Setelah Uni Sovyet bercerai-berai dan komunisme jatuh, delapan negara Eropa Tengah dan Eropa Timur serta Siprus dan Malta bergabung dengan UE. Bulgaria dan Rumania menyusul 2007.

Catatan:

[1]Penobatan Otto I sebagai kaisar pada tahun 962 merupakan titik awal berkembangnya negara Jerman dari Kerajaan Franken Timur. Nama negara yang sejak tahun 1512 resmi berbunyi ”Kerajaan Romawi Suci Bernasion Jerman“, di satu pihak mengungkapkan tuntutan kekuasaan sebagai pengganti ”Imperium Romanum“ pada zaman antik, di pihak lain menekankan peran sakral lembaga kekaisaran. Reich itu berdiri selama delapan abad lebih, sampai Franz II dari Habsburg meletakkan mahkota kekaisaran pada tahun 1806 atas tuntutan Napoleon. Tidak lama sebelumnya telah dibentuk Serikat Rhein.

[2]Himpunan longgar antara negaranegara berdaulat dan kota-kota bebas di Jerman ini dibentuk pada Kongres Wina tahun 1815. Mulamula serikat ini memiliki 41, akhirnya 33 anggota. Tujuan utama konfederasi ialah keamanan semua anggotanya, baik intern maupun ekstern. Satu-satunya organ serikat adalah Majelis Federal yang berkedudukan di Frankfurt am Main. Akibat perselisihan antara Austria dan Prusia yang semakin meruncing sejak pertengahan abad ke-19, akhirnya Serikat Jerman retak. Pembubarannya terjadi pada tahun 1866.

[3]Pada tanggal 1 September 1939 pukul 4.45, Hitler menyerang Polandia, negara tetangga Jerman, secara mendadak dan tanpa pernyataan perang. Inggris dan Perancis segera bereaksi dengan menyatakan perang terhadap Jerman. Telah dimulai Perang Dunia II yang akan mengakibatkan 60 juta korban jiwa. Jumlah korban terbesar terdapat di Uni Sovyet, yang kehilangan sekitar 25 juta jiwa. Kegagalan strategi Blitzkrieg di depan Moskwa dan masuknya Amerika Serikat dalam perang mengakhiri politik ekspansi Jerman dan sekutunya yang membabi-buta itu. Pada tanggal 7 Mei 1945, Karl Dönitz sebagai pengganti Hitler memberi kewenangan kepada kepala staf gabungan angkatan bersenjata Jerman, Jenderal Alfred Jodl, untuk menandatangani kapitulasi Jerman yang menyeluruh dan tak bersyarat di markas besar tentara sekutu di Reims (Perancis).

[4]Republik Demokrasi Jerman didirikan pada tahun 1949 di zone pendudukan Uni Sovyet di Jerman dan sektor timur kota Berlin. Eksistensinya berakhir pada tanggal 2 Oktober 1990. RDJ, atau Jerman Timur, termasuk Blok Timur yang berada di bawah hegemoni Uni Sovyet. Pada pemberontakan rakyat tahun 1953 terjadi demonstrasi di seluruh wilayah RDJ yang ditumpaskan dengan kekerasan oleh pasukan Uni Sovyet yang dibantu oleh kepolisian Jerman Timur.

[5]Dengan terjadinya penggulingan secara damai di Jerman Timur pada tahun 1989, penyatuan kembali kedua negara Jerman semakin mendekat. Sekitar pertengahan tahun 1990 dimulailah perundingan mengenai perjanjian penyatuan di Berlin. Pada tanggal 3 Oktober 1990, RDJ menyatakan dirinya bergabung dengan Republik Federal Jerman berdasarkan Pasal 23 Undang-Undang Dasar RFJ. Pada tanggal 2 Desember 1990 diselenggarakan pemilihan umum pertama yang menentukan anggota parlemen federal, Bundestag, untuk seluruh Jerman.

Sumber: http://www.tatsachen-ueber-deutschland.de/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

1989 - Unjuk Rasa Hari Senin

Tindakan reformasi Presiden Uni Sovyet Mikhail Gorbachov serta gerakan demokrasi di Hongaria dan Polandia telah menciptakan suasana yang menggerakkan pula banyak warga RDJ untuk menunjukkan secara terbuka ketidakpuasan mereka dengan keadaan negara. Pada bulan September 1989 dimulai “unjuk rasa hari Senin“ di Leipzig. Para warga RDJ terutama menuntut kebebasan lebih luas untuk bepergian, dan pembubaran kementerian urusan keamanan negara. Sejak waktu itu setiap pekan ada demonstrasi hari Senin.

1989 - Pengungsian dari RDJ

Pada bulan September banyak warga RDJ melarikan diri melalui perbatasan “hijau“ antara Hongaria dan Austria, arus pengungsian terbesar sejak pendirian Tembok Berlin. Kedutaan Besar RFJ di Praha dan di Warsawa harus ditutup karena tidak dapat menampung lagi massa warga RDJ yang ingin meninggalkan negaranya. Pada tanggal 30 September, Menteri Luar Negeri Federal Hans-Dietrich Genscher mengumumkan di Praha, bahwa semua pengungsi dari RDJ yang berada di kedutaan besar RFJ boleh pergi ke Jerman Barat.

1989 - Runtuhnya Tembok Berlin


Dengan adanya tekanan dari penduduk sendiri, malam hari pada tanggal 9 November pos penyeberangan perbatasan ke Berlin Barat dibuka oleh RDJ: Revolusi damai berhasil meruntuhkan Tembok Berlin dan dengan demikian menghapuskan batas antara Jerman Timur dan Jerman Barat.

1990 - Introduksi Deutsche Mark

Pada tanggal 1 Juli mulai berlaku uni moneter dengan diresmikannya pemakaian mata uang DM di RDJ.

1990 - Perjanjian Dua-plus-Empat

Berkat perjanjian yang diikat pada tanggal 12 September, Jerman Bersatu memperoleh kedaulatan penuh. Hak-hak kekuasaan dari keempat negara sekutu ditangguhkan per 3 Oktober 1990 sampai mulai berlakunya perjanjian pada tanggal 15 Maret 1991.

1990 - Reunifikasi

Perjanjian Mengenai Persatuan Jerman mulai berlaku pada tanggal 3 Oktober: Kelima negara bagian RDJ bergabung dengan wilayah berlakunya undang-undang dasar RFJ menurut Ayat 23.

1990 - Pemilihan umum pertama di seluruh Jerman

Pada tanggal 2 Desember 1990 diselenggarakan pemilihan umum untuk Bundestag yang pertama di seluruh Jerman.

1991 - Berlin menjadi tempat kedudukan pemerintah

Bundestag memutuskan perpindahan parlemen dan pemerintah dari Bonn ke ibu kota baru

1993 - Pakta Solidaritas I

Dengan “Pakta Solidaritas“ antara federasi dan negara bagian diletakkan dasar bagi pembangunan di Jerman bagian timur: Berkat kesepakatan itu, kelima negara bagian baru menerima bantuan total sebesar 94,5 miliar Ero sampai akhir tahun 2004. Pada tahun 2005 diikat Pakta Solidaritas II: Sampai tahun 2019 dialokasikan 156 miliar Ero lagi untuk negara bagian tersebut.

1994 - Penarikan tentara sekutu

Penarikan tentara Rusia dari Jerman Bersatu selesai dilakukan pada akhir bulan Agustus. Pada tanggal 8 September berakhir pula kehadiran militer dari AS, Inggris dan Perancis.

2004 - UE diperluas ke Eropa Timur

Di atas jembatan-jembatan yang menyeberangi Sungai Oder dan Neiße dirayakan penambahan anggota UE dengan sepuluh negara, terutama dari Eropa Tengah dan Eropa Timur.

2007 - Pertemuan G8 di Heiligendamm

Melalui konferensi puncak kedelapan negara industri besar, nama tempat tetirah di pantai Laut Baltik menjadi terkenal di dunia.

2009 - Peringatan 20 tahun runtuhnya Tembok Berlin

Di depan Gerbang Brandenburg, Jerman merayakan peristiwa runtuhnya Tembok Berlin 20 tahun lalu bersama tamu dari seluruh dunia.

Sumber: http://www.tatsachen-ueber-deutschland.de/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Beberapa hari setelah usulan Ahmadinejad disampaikan dalam sidang tahunan Persyarikatan Bangsa-Bangsa berlalu, elit politik Amerika yang dikuasai Zionis, mencoba untuk menutupi dan membalikkan layar opini dunia, dengan cara mengungkap perilaku elit politik Iran beberapa tahun yang lalu. Ada sekitar delapan pejabat Iran yang disikapi secara keras sepihak oleh kebijakan unilateral elit zionis Amerika, dengan dikeluarkannya keputusan ilegal pemerintah AS berupa penjatuhan sanksi terhadap delapan orang yang masuk dalam daftar hitam pemerintah AS diantaranya adalah pemimpin Garda Revolusi Iran, jaksa penuntut umum, para menteri Iran, pejabat intelijen dan pejabat kepolisian Iran.

11 Sept 2001, melibatkan “orang dalam”
Kebijakan lintas negara ini sudah memberi sinyal jelas dan seterang-terangnya, kemungkinan keterlibatan elit zionis Amerika dalam peristiwa 11 September 2001, yang tempo hari disampaikan usulan pembentukan Tim Pencairi Fakta PBB atas kejadian tersebut oleh Ahmadinejad. Keputusan sepihak pemerintah Amerika ini benar-benar menunjukkan sikap berlindung di balik pelanggaran beberapa pejabat Iran.

Siapapun, dengan sedikit teliti, pasti bisa menerka ke manakah arah kebijakan pemerintah zionis Amerika ini. Mereka terbukti ada kemungkinan hendak menghindari dari tanggungjawab baik hukum dan moral terhadap serangan 11 September 2001.

Dengan jawaban ini maka dunia seharusnya memahami posisi beberapa (tidak seluruhnya) elit zionis Amerika pada insiden memilukan ini.

Harapannya, dengan kondisi ini, dunia hendak dipertontonkan sebuah “pelanggaran HAM berat” juga yang dilakukan oleh beberapa pejabat Iran terhadap rakyatnya sendiri, dibentuk seolah-olah menyerupai kekejaman beberapa elit (zionis) Amerika terhadap rakyat Amerika dalam insiden 11/9. Jika Ahmadinejad dan beberapa negara (tercatat ada hampir 160 negara yang tidak beraksi walk out dalam sidang tahunan PBB tahun 2010 pada saat pidato Ahmadinejad) berupaya agar rezim zionis Amerika diusut atas kemungkinan besar keterlibatannya dalam insiden 11/9, maka Amerika memiliki cara lebih jitu untuk berupaya memecah belahy rakyat Iran dengan pejabat Iran, dengan mengadu-domba dan mengungkit sedikit “kebobrokan” pejabat Iran tersebut.

Beberapa hal yang memberi kekhawatiran bagi beberapa pejabat (zionis) Amerika adalah bahwa ternyata, dibandingkan dengan jumlah negara yang walk out dalam sidang tahunan bulan kemarin di New York, ternyata jauh lebih banyak negara yang dengan serius dan tenang menyimak pidaro Ahmadinejad tersebut. Ini tamparan bagi pemerintah Amerika, karena artinya bahwa masyarakat internasional mengamini dan membenarkan usulan Ahmadinejad tersebut.

Kondisi ini begitu serius dan benar-benar sebuah pertaruhan masa depan dan kredibilitas para elit (zionis) Amerika di mata rakyat Amerika sendiri. Jika sampai ada gerakan dari dalam negeri Amerika sendiri, apalagi gerakan ekstrim menuntut pengusutan lanjut dan serius melibatkan Tim Pencari Fakta bentukan PBB, maka ini akan menjadi boomerang dan benteng pertahanan terakhir kelanjutan kekuasaan tangan zionis di Amerika. Wacana pembentukan Tim Pencari Fakta PBB yang diusulkan Ahmadinejad harus dilawan dengan sikap “berperang” dan mematikan juga bagi beberapa pejabat Iran, yang memang ada yang bersikap keras untuk meredam beberapa kerusuhan di Iran.

Sikap frontal yang mengandung pamer kekuatan perang, harus ditunjukkan kepada masyarakat internasional yang sudah dengan setia mendengarkan pidato Ahmadinejad. Maka lahirlah “resolusi” baru yang menembak sasaran delapan pejabat Iran.

Zionis Amerika hendak membangun benteng perlindungan bagi beberapa elit politik yang ada kemungkinan besar terlibat dalam insiden 11/9, yang menewaskan sekitar 3000 orang..

Sumber:

http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=25799:as-bikin-ulah-baru-iran-panggil-dubes-swiss&catid=17:berita3&Itemid=18
http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=25809:mehmanparast-bukannya-menjawab-amerika-malah-menyita-aset-pejabat-iran&catid=17:berita3&Itemid=18
http://dunia.vivanews.com/news/read/180394-as-ganjar-sanksi-bagi-8-pejabat-iran
http://www.rri.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=11416:as-melakukan-tekanan-terhadap-pemerintah-iran&catid=14:internasional&Itemid=209
http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=146484:8-pejabat-iran-masuk-blacklist-as&catid=16:internasional&Itemid=29
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Sejak tanggal 3 Oktober 1990 Jerman bersatu kembali. Revolusi damai yang dilancarkan oleh penduduk RDJ telah meruntuhkan tembok yang membelah Jerman ke dalam bagian Timur dan Barat. Bagi proses reunifikasi tidak ada contoh dalam sejarah. Proses itu berupa upaya keras suatu bangsa yang tidak dapat dirampungkan dalam jangka waktu beberapa tahun. Dua dasawarsa setelah reunifikasi, pembaruan dasar perekonomian dan kemasyarakatan di negara bagian di timur cukup maju. Namun tetap ada tantangan besar yang perlu diatasi bersama oleh penduduk di seluruh Jerman.

Proses yang Tidak Ada Duanya dalam Sejarah

Oleh Herfried Münkler

Tanggal 9 November 1989, hari runtuhnya Tembok Berlin, menandai titik puncak dari perkembangan yang mirip revolusi. Peran utama dalam proses itu dipegang oleh para warga Jerman Timur: Ada sebagian yang berusaha keras untuk meninggalkan negara yang menolak memberikan kebebasan kepada mereka untuk bepergian, dan yang memasuki areal kedutaan besar RFJ di negara tetangga untuk memaksakan keberangkatan itu. Ada pula sebagian warga yang menyuarakan dengan keras keinginan untuk tetap tinggal di RDJ. Namun kelompok yang terakhir menuntut langkah reformasi mendasar yang tidak dapat diambil oleh rezim yang berkuasa tanpa mengawali kejatuhannya sendiri. Dalam jangka waktu beberapa bulan saja, desakan ganda itu membuat RDJ berantakan seperti rumah di atas pasir, biarpun tindakan pengamanannya sangat ketat. Berkat perombakan itu terbuka jalan untuk mengatasi pembelahan dan mencapai reunifikasi Jerman pada tanggal 3 Oktober 1990.

Pada awal tahun 1989 jarang ada orang di Jerman, baik di barat maupun di timur, yang memperkirakan kalau hari jadi ke-40 dari RDJ yang bakal diperingati pada musim gugur tahun itu akan menjadi hari jadi Jerman Timur yang terakhir, bahwa Tembok Berlin akan segera hilang, dan bahwa Jerman yang terbelah dalam dua negara akan menjadi satu kembali. Tak seorang pun menduga pada waktu itu, bahwa sebagai akibatnya konstelasi politik global yang sejak empat dasawarsa lebih menentukan kenyataan politik di Eropa di era pascaperang, akhirnya akan lebur. Akan tetapi tiba-tiba seluruh keadaan berubah. Roda sejarah yang selama puluhan tahun berputar dengan perlahan-lahan saja di Eropa, sekonyong-konyong mulai bergerak cepat, sampai akhirnya kecepatannya tak tertahankan lagi. Oleh perkembangan yang terjadi dengan begitu cepat para pengamat pun tertegun, biarpun mereka hanya mengamatinya tanpa turut campur sendiri. Pada tanggal 12 September 1990, hanya sepuluh bulan setelah runtuhnya Tembok Berlin, Perjanjian Dua-plus-Empat membuka jalan menuju reunifikasi Jerman.

Selama kurun waktu yang pendek, persatuan Jerman yang telah disahkan menurut hukum negara melalui penggabungan diri kelima negara bagian baru dengan "wilayah berlakunya Undang-Undang Dasar Republik Federal Jerman", menimbulkan suasana kegembiraan kolektif yang meluap-luap. Rakyat Jerman merasa yakin ketika itu, bahwa tantangan proses reunifikasi dapat dipikul. Baru kemudian muncullah "jerih payah di daratan" (Bertolt Brecht). Kesulitan dengan persatuan yang baru diraih kembali itu dirasakan oleh banyak warga Jerman. Hal yang turut menimbulkan perasaan itu ialah fakta bahwa persatuan Jerman tercapai pada waktu kebanyakan orang sudah tidak mengharapkannya, dan dengan kecepatan yang luar biasa.

“Pembangunan di Jerman Bagian Timur” Sebagai Tantangan

Kenyataan yang muncul setelah hancurnya RDJ, produktivitas rata-rata di negara itu mencapai sepertiga dari produktivitas Republik Federal Jerman. Maka badan fidusia yang ditugaskan melaksanakan penswastaan "badan usaha milik rakyat" (baca: milik negara) akhirnya membukukan defisit sebesar 230 miliar Deutsche Mark (DM), daripada laba sebesar 600 miliar DM (hampir 307 miliar Ero) yang diperkirakan. Harapan agar investasi yang diperlukan untuk membangun prasarana di kelima negara bagian baru dapat ditutup dengan penghasilan dari privatisasi dari apa yang disebut "milik rakyat", ternyata jauh meleset.

Biaya persatuan Jerman berkembang dengan jauh lebih dinamis daripada yang diduga oleh orang paling pesimis pun. Ongkos sosial dari persatuan harus ditanggung oleh penduduk di timur, sedangkan beban keuangan untuk sebagian besar dipikul oleh penduduk di barat. Tahun 1989/1990, "annus mirabilis" itu, disusul dengan proses konvergensi yang dilalui tanpa ilusi dan dengan perspektif jangka panjang. Dalam pada itu tidak selalu diperhatikan sukses dari "pembangunan di Jerman bagian timur" yang lambat laun terlihat dengan jelas.

Termasuk di antara hasil paling menonjol dari "pembangunan di bagian timur" ialah pemugaran daerah pemukiman di pusat kota-kota, di antaranya kota seperti Dresden, Leipzig, Chemnitz atau Halle yang pernah mengalami kemerosotan secara kontinu pada waktu RDJ. Contoh-contoh lain ialah sarana telekomunikasi di negara bagian baru yang tergolong di antara yang paling modern di Eropa, pengembangan universitas-universitas yang mampu bersaing, serta posisi terkemuka dari perusahaan di bidang teknik energi surya dan teknologi lingkungan yang dibangun di situ. Usaha keras dilakukan pula dengan hasil baik di bidang-bidang prasarana, pelestarian lingkungan dan cagar alam, pengembangan pariwisata dan pemeliharaan cagar budaya.

Sisi lain dari keberhasilan itu berupa gerak pindah dari timur ke barat, terutama oleh generasi muda – walaupun arus itu sudah berkurang dibandingkan dengan tahun-tahun pertama setelah reunifikasi. Namun tetap terasa kemerosotan jumlah penduduk dan tingginya usia rata-rata di negara bagian baru. Perpindahan penduduk dari bagian timur berkorelasi dengan transfer dana dari barat yang jumlah totalnya diperkirakan mencapai 1,6 ribu miliar Ero neto (dikurangi setoran dari Jerman bagian timur). Upaya yang dilakukan dalam rangka pembangunan di bagian timur merupakan contoh solidaritas nasional yang sesungguhnya tidak dapat diharapkan dalam suasana politik yang ditandai oleh perdebatan pascanasional. Meskipun sudah tercapai kemajuan, namun penyelarasan taraf hidup di timur dan di barat masih tetap akan menjadi pokok penting dalam rangka penyempurnaan persatuan di dalam. Pandangan menyeluruh mengenai perkembangan diberikan secara teratur dalam Laporan Tahunan Pemerintah Federal Mengenai Keadaan Persatuan Jerman.

Berlin Selaku Pusat Politik

Melalui Perjanjian Persatuan, Berlin telah ditetapkan sebagai ibu kota. Dalam pemungutan suara pada tanggal 20 Juni 1991, Bundestag Jerman memutuskan agar tempat kedudukan parlemen dan pemerintah pun dipindahkan dari Bonn – yaitu ibu kota Republik Federal Jerman sejak tahun 1949 – ke Berlin. Sejak perpindahan tahun 1999, Jerman kembali memiliki pusat politik yang sangat hidup dan yang dapat dibandingkan dengan kota-kota metropolitan di negara tetangga besar di Eropa. Lambangnya, di samping Gedung Reichstag yang arsitekturnya dipermodern, adalah Kantor Kanselir serta Gerbang Brandenburg yang terbuka kembali sebagai simbol teratasinya pembelahan Jerman. Ada kalanya orang mengutarakan kekhawatiran bahwa dunia luar akan menilai perpindahan pemerintah ke Berlin sebagai kecongkakan Jerman yang baru, sikap yang akan mengganggu ketenteraman di Eropa karena bobot Jerman di bidang ekonomi dan politik. Ternyata kekhawatiran seperti itu tidak beralasan. Sebaliknya persatuan Jerman menjadi pencetus proses yang berakhir dengan terhapusnya pembelahan Eropa dalam blok Barat dan Timur.

Dilihat dari sudut itu, Jerman memang menjadi pelopor bagi integrasi Eropa di bidang politik dan ekonomi. Demi integrasi itu, Jerman melepaskan sesuatu yang pernah menjadi alat dan simbol penting dalam proses persatuan, yaitu mata uang Deutsche Mark. Tujuannya menciptakan kawasan moneter Eropa, apa yang disebut zone Ero, yang tidak mungkin terbentuk tanpa keikutsertaan Jerman. Walaupun proses persatuan di dalam negeri sangat menyita tenaga dan pikiran, semua pemerintah federal yang bertugas sejak tahun 1999 selalu memberikan perhatian kepada integrasi Eropa dan aktif berusaha memajukannya, sampai akhirnya dapat dimulai proses Lisboa.

Selama dasawarsa 1990-an, peran Jerman dalam percaturan politik dunia pun berubah. Tanggung jawab lebih luas itu menjadi nyata dengan adanya tentara Jerman yang turut serta dalam misi perdamaian dan aksi stabilisasi internasional. Namun patut dicatat bahwa sebagian operasi di mancanegara tersebut menimbulkan diskusi kontroversial di dalam negeri. Negara-negara anggota NATO lain mengharapkan bahwa bagian dari kewajiban bersama yang ditanggung oleh Republik Federal Jerman sesuai dengan besar dan bobot politiknya. Kenyataan yang terungkap oleh sikap itu, pada masa keterbelahannya Jerman pernah memiliki status politik yang telah hilang dengan berakhirnya tata dunia bipolar. Sejak tidak adanya risiko konfrontasi antara pasukan Bundeswehr dan Nationale Volksarmee dari RDJ, dunia internasional semakin menuntut agar Jerman menanggung tanggung jawab yang sesuai dengan status barunya.

Pembahasan Masa Lalu

Termasuk di antara persoalan paling sulit sekitar persatuan Jerman ialah kebijakan politik perihal pembahasan kritis mengenai rezim komunis oleh partai SED di Jerman Timur dari tahun 1949 hingga 1989/1990. Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya mengenangkan dan pembahasan masa lalu secara kritis selalu diwarnai pula oleh pendirian orang perihal partai politik. Walau begitu tetap tampak adanya perbedaan antara penduduk di bagian barat dan di bagian timur. Peringatan terutama diperalat untuk melakukan perdebatan secara belakangan. Perdebatan itu telah terhenti sekitar pergantian tahun 1989/1990 dengan dibawanya RDJ yang sedang hancur itu secara cepat ke dalam proses reunifikasi. Biarpun banyak di antara warga eks Jerman Timur tidak menyadarinya: Melalui proses tersebut, golongan elite RDJ mendapatkan perlindungan oleh sistem hukum Republik Federal Jerman (dan pemeliharaan oleh negara sosial). Faktor itu memberi sumbangan berarti bagi jalannya perombakan yang mirip revolusi itu, tetapi yang berlangsung dengan damai.

Berbeda dengan negara tetangganya, Perancis, bangsa Jerman tadinya tidak dapat membanggakan perbuatan mengubah haluan sejarah dunia secara revolusioner. Dengan revolusi damai, yang merupakan bagian dari gerakan besar demi kebebasan dan hak warga di Eropa bagian tengah dan timur, bangsa Jerman pun mengisi satu halaman dalam buku sejarah revolusi di Eropa, tepat dua ratus tahun setelah Perancis. Boleh dikatakan bahwa hal itu merupakan langkah penting pada "jalan menuju Eropa" (Heinrich Winkler). Dengan langkah itu, Jerman yang telah bersatu kembali melepaskan juga tuntutannya akan jalan tersendiri.

Sumber: http://www.tatsachen-ueber-deutschland.de/
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments