Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:
Bayangan Mao: Seorang ibu dan anak berjalan
melalui pintu masuk Museum Militer dan disambut
oleh sebuah patung besar mantan diktator China
Mao Zedong. (Stephen Shaver/AFP/Getty Images)
Lebih dari satu dekade setelah runtuhnya kekuasaan rejim komunis di bekas Uni Soviet maupun negara-negara Eropa Timur, gerakan komunis internasional telah dicampakkan pula oleh masyarakat dunia. Jalan Partai Komunis China (PKC) menuju liang kubur pun hanya tinggal hitungan waktu saja.

Nasib sial bagi bangsa Tionghoa, karena sebelum menghadapi keambrukan total, PKC masih berupaya keras mengikatkan nasibnya pada rakyat negeri kuno yang telah mempunyai sejarah peradaban lebih dari 5.000 tahun ini. Kini masyarakat Tionghoa harus menghadapi beberapa masalah, yaitu bagaimana orang Tionghoa memandang Partai Komunis, bagaimana Tiongkok menempuh suatu kehidupan sosial tanpa PKC, dan bagaimana menjaga dan meneruskan nyala gemilang obor bangsa Tionghoa

Koran berbahasa Mandarin Dajiyuan menerbitkan rangkaian editorial khusus membahas "Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis". Sebelum peti mati PKC ditutup, kami ingin menyampaikan penilaian akhir tentang PKC dan gerakan komunis internasional, yang telah menjadi momok bagi umat manusia selama lebih dari satu abad.

Mengamati sejarah perjalanan PKC selama 80 tahun lebih, semua yang dilakukan PKC senantiasa diliputi dengan kebohongan, perang, kelaparan, kediktatoran dan ketakutan. PKC telah merusak secara brutal kepercayaan dan nilai-nilai tradisional. Mencerai beraikan konsep etika moral dan sistem sosial yang telah ada sebelumnya. Cinta kasih dan harmonisasi antar manusia diselewengkan menjadi pertarungan dan dendam kesumat. Rasa menghargai serta segan dan hormat pada alam jagat raya diubah menjadi "memerangi langit memusuhi bumi", membawa keambrukan total pada sistem moral masyarakat dan sistem ekologi, menyeret bangsa Tionghoa dan bahkan umat manusia kepada cengkeraman krisis hebat. Segala bencana ini terjadi di bawah perencanaan, organisasi dan kendali ketat dari PKC.

"Apa boleh buat, bunga-bunga telah berguguran", kata sebait sajak Tionghoa yang terkenal. Kekuasaan PKC yang sedang sekarat makin mendekati ajalnya, kehancuran mereka sudah di ambang pintu. Sebelum mereka terbasmi total, kita patut merenungkan dan harus menyingkap berbagai karya organisasi ajaran sesat terbesar yang terhimpun sejak jaman dulu maupun sekarang, di Tiongkok maupun diluar negeri. Dengan demikian orang-orang yang masih dibohongi oleh kekuasaan Partai Komunis bisa mengenal hakikat berbagai kejahatan besar yang dilakukannya. Membersihkan diri dari pengaruh racun Partai Komunis, membebaskan diri dari kendali psikologis roh jahat Partai Komunis, melompat keluar dari belenggu teror, melepaskan segala khayalan kosong terhadap Partai Komunis.

Kekuasaan Partai Komunis China adalah lembaran paling hitam dan paling gila dalam sejarah Tiongkok. Penindasan terhadap "Sejati-Baik-Sabar" yang dimotori oleh Jiang Zemin merupakan puncak keiblisannya. Gerakan ini merupakan tancapan paku terakhir pada peti mati PKC. Merenungkan kembali potongan sejarah ini, adalah penting agar drama tragis semacam ini tidak terjadi lagi. Bersamaan juga mari kita semua mawas diri dan menimbang hati nurani kita, apakah karena perasaan pengecut dan kompromi kita telah menyeret ke banyak tragedi yang mestinya bisa dihindari.

Penggunaan kekerasan mungkin tak dapat dihindarkan ketika mencoba untuk merebut kekuasaan politik, tetapi tidak pernah ada sebelumnya sebuah rejim yang begitu bernafsu melakukan pembunuhan dalam masa damai seperti Partai Komunis China.

Lebih dari lima ribu tahun, bangsa Tionghoa telah tumbuh berkembang diatas tanah subur yang dialiri Sungai Kuning dan Sungai Yangtze, melewati puluhan dinasti silih berganti dan menciptakan pasang surut kebudayaan Tionghoa yang cemerlang. Kisah-kisah yang mengagumkan telah memainkan peran hidup dipanggung sejarah Tiongkok.

Tahun 1840, sejarah mencatat sebagai awal era moderen Tiongkok, ditandai dengan dimulainya perjalanan dari abad tradisional menuju era moderen. Sejak saat itu, peradaban Tionghoa telah melalui lebih kurang empat episode tantangan dan tanggapan. Tiga episode pertama meliputi penyerbuan Beijing oleh aliansi tentara Inggris-Perancis pada awal 1860, perang Tiongkok-Jepang (disebut juga "Perang Jiawu") pada tahun 1894, dan perang Rusia-Jepang di Timur Laut Tiongkok pada tahun 1906. Terhadap tiga episode tantangan ini, tanggapan Tiongkok adalah memasukkan peralatan dan senjata moderen (yaitu pergerakan kebaratan), reformasi institusional melalui Gerakan Reformasi pada tahun 1898 dan usaha memberlakukan hukum konstitusional pada akhir Dinasti Qing, dan setelah itu, Revolusi Demokrasi pada tahun 1911.

Selesai perang dunia pertama, kepentingan Tiongkok sebagai salah satu negara pemenang sama sekali tidak diperhitungkan oleh negara-negara kuat, masyarakat Tiongkok saat itu menganggap bahwa tanggapan terhadap ketiga episode diatas telah mengalami kekalahan, oleh sebab itu muncullah "Gerakan 4 Mei", gerakan episode keempat yang merupakan sebuah tanggapan bidang terakhir, bidang lingkup kebudayaan yang secara menyeluruh berkiblat ke Barat, setelah itu dimulai revolusi ekstrim yang disebut sebagai pergerakan komunis.

Yang diurai dalam bab ini adalah dampak dari gerakan komunis dan Partai Komunis terhadap peradaban di Tiongkok. Menganalisa apa yang terjadi setelah Tiongkok melewati sejarah 160 tahun lebih, dengan korban meninggal secara tak wajar yang mendekati ratusan juta orang, serta hancurnya seluruh kebudayaan dan peradaban Tionghoa, apakah itu dipilih oleh Tiongkok ataupun dipaksa oleh unsur dari luar.

I. Mengandalkan Kekerasan dan Teror untuk Merebut dan Mempertahankan Kekuatan

"Komunis mengganggap tidak perlu menyembunyikan pandangan dan tujuan mereka. Mereka mendeklarasikan secara terbuka bahwa tujuan mereka hanya dapat dicapai dengan menggunakan kekerasan, menggulingkan seluruh sistem sosial yang ada", demikian kutipan dari "Manifesto Komunis"; dokumen prinsip-prinsip Partai Komunis. Kekerasan adalah satu-satunya alat dan cara utama Partai Komunis untuk memperoleh kekuasaan. Ciri karakter ini telah diputuskan menjadi gen turunan sejak kelahiran partai tersebut.

Sesungguhnya, Partai Komunis dunia yang pertama didirikan beberapa tahun setelah kematian Karl Max. Tahun kedua setelah Revolusi Oktober 1917, "Partai Komunis Rusia (Bolshevik)", yang nantinya dikenal sebagai "Partai Komunis Uni Soviet", didirikan secara resmi. Partai komunis ini tumbuh ketika menggunakan kekerasan melawan "musuh kelas" dan setelah itu mempertahankan eksistensinya dengan menerapkan kekerasan terhadap anggotanya sendiri maupun warga negara biasa yang dianggap pengkhianat. Tahun 1930 ketika Stalin melakukan pembersihan internal, Partai Komunis Soviet membunuh lebih dari 20 juta orang yang disebut sebagai mata-mata dan pengkhianat, serta mereka yang dianggap mempunyai pendapat yang berbeda.

Partai Komunis China (PKC) pertama kali didirikan sebagai cabang Komunisme Internasional Ketiga yang dikendalikan oleh Partai Komunis Soviet, maka dengan sendirinya telah mewarisi kekerasan seperti itu. Selama masa perang saudara pertama antara Komunis dan Kuomintang dari tahun 1927 hingga 1936, jumlah penduduk propinsi Jiangxi menurun dari 20 juta sampai 10 juta lebih. Kerusakan yang timbul akibat menggunakan kekerasan dapat dilihat dari besarnya korban itu sendiri.

Bila dikatakan bahwa penggunaan kekerasan tidak dapat dihindarkan ketika merebut kekuasaan politik, maka tidak pernah ada sebelumnya sebuah rejim yang begitu bernafsu melakukan pembunuhan dalam masa damai seperti Partai Komunis China. Sejak tahun 1949, angka kematian akibat pembunuhan secara kejam oleh PKC telah melebihi jumlah kematian selama masa perang 30 tahun sebelumnya.

Dalam hal ini, yang mencapai rekor adalah Khmer Merah Kamboja yang didukung sepenuhnya oleh PKC, setelah merebut kekuasaan lantas membunuh seperempat penduduk Kamboja, termasuk diantaranya mayoritas perantauan Tionghoa dan warga asing keturunan Tionghoa. Bahkan sampai kini Komunis Tiongkok masih menghalangi masyarakat internasional mengadili Khmer Merah secara terbuka, tujuannya adalah untuk menutupi peran mereka didalamnya serta peran kejahatan yang dimainkannya.

PKC mempunyai hubungan dekat dengan rejim-rejim tirani dan pasukan revolusioner bersenjata yang paling brutal di dunia. Selain Khmer Merah, juga Partai Komunis di Indonesia, Pilipina, Malaysia, Vietnam, Burma, Laos, dan Nepal - semua didirikan atas dukungan PKC. Banyak diantara pemimpin Partai Komunis ini adalah orang Tionghoa, sebagian dari mereka sampai hari ini masih bersembunyi di Tiongkok.

Partai komunis lain yang menganut ideologi Mao adalah Shining Path dari Afrika Selatan dan Tentara Merah Jepang yang terkenal dengan kekejamannya dan dikutuk oleh masyarakat dunia.

Salah satu sumber teori komunisme adalah teori evolusi. Partai Komunis menerapkan kompetisi species ke dalam pertarungan kelas evolusi sosial. Partai komunis menganggap perjuangan kelas adalah satu-satunya kekuatan penggerak dalam kemajuan perkembangan sosial, maka pertarungan menjadi "keyakinan" utama dalam memperoleh kekuasaan politik dan mempertahankan hidup. "800 juta orang, apakah dapat tidak bertarung?" Ini adalah kata-kata terkenal Mao yang merupakan pernyataan logika kehidupan seperti ini.

Pernyataan Mao lain yang sama-sama terkenal adalah, bahwa Revolusi Kebudayaan harus diadakan "setiap tujuh atau delapan tahun". Berulang-ulang menggunakan kekerasan adalah metode utama Partai Komunis dalam mempertahankan kekuasaan politik. Tujuan menggunakan kekerasan adalah menciptakan teror. Setiap gerakan pertarungan adalah untuk membuat ketakutan, agar rakyat gentar dan takluk hingga menjadi budak ketakutan di bawah kontrol PKC.

Saat ini, terorisme telah menjadi musuh utuma peradaban dan dunia bebas. Penggunaan teror kekerasan oleh PKC, dengan membonceng aparat negara, skalanya semakin besar dan waktunya semakin panjang, kadarnya pun semakin bengis. Dalam abad ke-21 ini, kita jangan lupa, karakter bawaan Partai Komunis ini pada saatnya akan membawa pengaruh yang pasti terhadap nasibnya dimasa depan.

II. Menggunakan Kebohongan untuk Membenarkan Kekerasan

Tingkat peradaban umat manusia dapat diukur dengan tingkat penggunaan sistim kekerasan. Menelusuri penggunaan kekerasan oleh rejim Komunis, secara jelas mewakili langkah mundur yang besar dalam peradaban manusia. Namun, sekali lagi komunis telah sukses membuat masyarakat dunia menganggap bahwa itu adalah suatu kemajuan. Orang-orang ini beranggapan, penggunaan kekerasan adalah proses yang mesti dan harus dilalui untuk mencapai kemajuan masyarakat.

Berbohong dan berdusta adalah karakter lain yang diwarisi partai komunis, penggunaan cara ini sudah mendatangkan hasil yang tiada tara.

"Sejak kecil kita sudah tahu bahwa Amerika adalah suatu negara yang disukai. Kita percaya bukan saja karena Amerika tidak menjajah Tiongkok, Amerika juga tidak pernah menggerakan peperangan menyerang Tiongkok; lebih mendasar lagi dapat dikatakan kesan baik orang Tionghoa terhadap orang Amerika adalah bersumber dari sikap demokratis serta keterbukaan yang dipancarkan oleh masyarakat Amerika".

Kutipan ini berasal dari tulisan editorial yang dipublikasikan oleh surat kabar resmi PKC, Harian Xinhua, 4 Juli 1947. Selang tiga tahun kemudian, PKC mengirim tentara berperang dengan pasukan Amerika di Korea Utara, dan juga menggambarkan orang Amerika sebagai imperialisme yang paling jahat di dunia. Setiap orang yang berasal dari daratan Tiongkok, akan sangat terkejut bila membaca editorial PKC yang ditulis lebih dari 50 tahun yang lalu. Hingga PKC harus memeriksa dan melarang buku-buku terbitan ulang yang berhubungan dengan artikel tersebut.

Sejak berkuasa, PKC selalu menggunakan cara yang sama untuk menghancurkan kontra revolusi, "kerja sama" antara perusahaan umum dan swasta, gerakan anti kanan, Revolusi Kebudayaan, peristiwa 4 Juni Tiananmen dan yang paling baru, penindasan terhadap Falun Gong. Diantaranya yang terkenal adalah penindasan terhadap para intelektual pada tahun 1957. PKC memanggil para intelektual agar mereka memberikan pendapatnya kepada PKC, namun setelah itu mereka ditindas sebagai "golongan kanan", pendapat mereka dijadikan sebagai bukti tindak kriminal. Ketika orang mengkritik penindasan tersebut sebagai konspirasi gelap, Mao memberikan pernyataan kepada publik secara terbuka : "Itu bukan konspirasi gelap, tetapi siasat dalam keterbukaan".

Penipuan dan kebohongan telah memainkan peran yang sangat penting bagi PKC dalam memperoleh dan mempertahankan kekuasaannya. Kaum intelektual Tiongkok sejak dahulu kala memiliki kesadaran sejarah yang dalam. Tiongkok adalah suatu negara yang mempunyai catatan sejarah paling panjang dan paling sempurna, karena orang Tionghoa mau menggunakan sejarah untuk menilai kenyataan, hingga mencapai peningkatan spiritual pribadi di dalamnya. Oleh sebab itu, menyembunyikan dan mengubah sejarah juga menjadi metode utama rejim PKC agar tetap berkuasa. Dalam propagandanya dan publikasinya, PKC telah menulis ulang sejarah, mulai dari awal masa negara-negara berperang Chunqiu (770 - 476 SM), hingga yang terakhir Revolusi Kebudayaan, semuanya diputar-balikkan dan diubah, terus menerus dilakukan selama lebih dari 50 tahun, segala upaya untuk meletakkan kembali wajah kebenaran sejarah telah dihalangi, dihancurkan dan dimatikan.

Ketika kekerasan saja tidak cukup sehingga perlu dimodifikasi, maka penipuan dan kebohongan lantas digunakan. Kebohongan adalah sisi lain dari kekerasan dan alat pembenaran kekerasan.

Kita harus mengakui, penipuan dan kebohongan bukan diciptakan oleh Partai Komunis China, itu hanya ketidak senonohan yang telah ada sejak dahulu dan digunakan oleh PKC tanpa malu. PKC berjanji akan memberikan tanah kepada petani, berjanji memberikan pabrik kepada pekerja, berjanji memberikan kebebasan dan demokrasi kepada kaum intelektual, berjanji memberikan kedamaian. Tak satupun dari janji-janji ini terlaksana. Satu generasi orang Tionghoa yang dibohongi telah mati dan satu generasi berikutnya terus dibohongi. Ini adalah kepedihan paling besar dari orang Tionghoa, juga adalah kemalangan besar dari bangsa Tionghoa.
Bersambung...
Sumber: http://erabaru.net/
Share to Lintas BeritaShare to infoGueKaskus

No Response to "Apa Itu Partai Komunis? (1)"

Poskan Komentar

  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments