Previous Next
  • Perang Teluk

    Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki. Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990...

  • 5 Negara yang Terpecah Akibat Perang Dunia II

    Negara yang terpecah adalah sebagai akibat Perang Dunia II yang lalu di mana suatu negara diduduki oleh negara-negara besar yang menang perang. Perang Dingin sebagai akibat pertentangan ideologi dan politik antara politik barat dan timur telah meyebabkan negara yang diduduki pecah menjadi dua yang mempunyai ideologi dan sistem pemerintahan yang saling berbeda dan yang menjurus pada sikap saling curiga-mencurigai dan bermusuhan. Setelah perang dunia kedua, terdapat empat negara yang terpecah-pecah, antara lain:

  • Serangan Sultan Agung 1628 - 1629

    Silsilah Keluarga Nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Dilahirkan tahun 1593, merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Ayahnya adalah raja kedua Mataram, sedangkan ibunya adalah putri Pangeran Benawa raja Pajang. Versi lain mengatakan, Sultan Agung adalah putra Pangeran Purbaya (kakak Prabu Hanyokrowati). Konon waktu itu, Pangeran Purbaya menukar bayi yang dilahirkan istrinya dengan bayi yang dilahirkan Dyah Banowati. Versi ini adalah pendapat minoritas sebagian masyarakat Jawa yang kebenarannya perlu untuk dibuktikan. Sebagaimana umumnya raja-raja Mataram, Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri. Yang menjadi Ratu Kulon adalah putri sultan Cirebon, melahirkan Raden Mas Syahwawrat. Yang menjadi Ratu Wetan adalah putri dari Batang keturunan Ki Juru Martani, melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi Amangkurat I)...

  • Perang Dingin

    Perang Dingin adalah sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947—1991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang: koalisi militer; ideologi, psikologi, dan tilik sandi; militer, industri, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir dan persenjataan; dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini akan berakhir dengan perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi. Istilah "Perang Dingin" sendiri diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut...

  • Perang Kamboja-Vietnam

    Pada tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan saigon tahun 1975, negara-negara anggota ASEAN mencemaskan kemungkinan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari Asia Tenggara. Ketegangan terus memuncak mengingat ASEAN adalah negara-negara Non-Komunis sedangkan negara-negara Indochina adalah negara komunis. Kemenangan Vietnam pada Perang Vietnam sudah tentu mengkhawatirkan ASEAN ditengah rencana Amerika Serikat untuk mengurangi kehadiran pasukannya yang selama ini secara tak langsung melindungi ASEAN dari invasi komunis ke kawasan tersebut...

Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Salah satu karakter blitzkrieg adalah penggunaan
kecepatan tinggi. Berkas:Penggunaan panser di sekitar
Sungai Terek, 1942.
Blitzkrieg merupakan strategi perang kilat ("perang cepat") yang dilakukan oleh Jerman saat Perang Dunia II. Saat itu Jerman dipimpin oleh Adolf Hitler bersamaan dengan Nazi berhasil menguasai sebagian wilayah Eropa dengan menggunakan strategi ini. Cara berperang ini terbukti efektif dengan berhasil dikuasainya Polandia dan Perancis oleh Jerman pada Perang Dunia II. Strategi ini amat kontras dengan strategi umum yang dilakukan dalam Perang Dunia I yang didominasi oleh perang parit.

Asal Mula

Kata blitzkrieg berasal dari dua kata Blitz yang berarti kilat, dan Krieg yang berarti perang. Kedua kata tersebut berasal dari bahasa Jerman. Konsep dari strategi blitzkrieg ini secara umum sampai dengan sekarang masih tetap diterapkan oleh dunia militer, misalnya dalam perang Afganistan (gerak cepat Taliban yang sangat mengagumkan dalam merebut hampir 80% wilayah Afghanistan dari pihak pemerintah tahun 1994-1996), perang teluk I (gerak cepat sekutu untuk membebaskan Kuwait, tahun 1991), operasi Enduring Freedom (Invasi Amerika ke Afghanistan, Oktober 2001), dan operasi Iraqi Freedom (gerak cepat sekutu dibawah pimpinan Amerika dalam menginvasi Irak, tahun 2003)

Konsep Blitzkrieg

Ada beberapa konsep di dalam strategi blitzkrieg atau perang kilat ini, yaitu:

1. Angkatan udara menyerang garis depan dan posisi samping musuh, jalan utama, bandar udara dan pusat komunikasi. Pada waktu yang bersamaan infantri menyerang seluruh garis pertahanan (atau setidaknya pada tempat-tempat penting) dan juga menyerang musuh. Cara ini akan mengendalikan musuh untuk mengetahui kekuatan utama yang akan menyerang mereka sehingga cara ini akan membuat pihak musuh kesulitan untuk membuat strategi pertahanan.
2. Memusatkan unit-unit tank untuk menghancurkan garis-garis pertahanan utama sekaligus menusuk masuk tank-tank jauh kedalam wilayah musuh, sementara unit yang sudah di mekanisasi melakukan pengejaran dan pertempuran dengan pihak musuh yang bertahan sebelum mereka sempat membuat posisi pertahanan. Infantri turut serta bertempur dengan musuh agar pihak musuh tertipu dan menjaga kekuatan musuh untuk tidak menarik diri dari pertempuran agar nantinya menghindari pihak musuh untuk membentuk pertahanan yang efektif.
3. Infantri dan unit pendukung lainnya menyerang sisi musuh (enemy flank) dalam rangka melengkapi hubungan dengan kelompok lainnya sekaligus mengepung musuh dan atau menguasai posisi strategis.
4. Kelompok yang sudah di mekanisasi (seperti tank) mempelopori masuk lebih dalam ke wilayah musuh untuk mengepung posisi musuh dan memparalelkan dengan sisi musuh untuk mencegah penarikan pasukan dan pihak bertahan musuh untuk mendirikan posisi bertahan yang efektif.
5. Pasukan utama bergabung dengan pasukan yang sudah mengepung posisi musuh untuk selanjutnya menghancurkan pertahanan musuh.

Sumber: http://id.wikipedia.org
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Operasi Barbarossa (Jerman: Unternehmen Barbarossa) adalah sebutan invasi tentara Nazi Jerman di Uni Soviet pada Perang Dunia II. Invasi ini dimulai pada tanggal 22 Juni 1941. Lebih dari 4,5 juta tentara dari kekuatan Axis Uni Soviet menyerbu sepanjang 2.900 km (1.800 mil). Perencanaan untuk Operasi Barbarossa dimulai pada tanggal 18 Desember 1940; rahasia persiapan dan operasi militer itu sendiri berlangsung hampir satu tahun, dari musim semi tahun 1940 sampai musim dingin 1941. Barbarossa adalah nama seorang Kaisar Jerman pada Abad Pertengahan.

Mula-mula pasukan Adolf Hitler menang dengan taktik Blitzkrieg nya, tetapi musim dingin tiba dan ini adalah sekutu terbaik Rusia. Pasukan Jerman mampu menghancurkan pasukan-pasukan Uni Soviet namun gagal memperhitungkan kemampuan Uni Soviet untuk secara terus-menerus memperbarui dan mempersenjatai pasaukan baru. Yakin bahwa Jepang tidak akan menyerang di Timur, Stalin juga menarik pasukan Uni Soviet dari Siberia untuk mempertahankan Moskwa dan melakukan serangan balik. Pasukan Jerman dapat menekan sampai beberapa kilometer dari Moskwa, namun serangan balik Uni Soviet di tengah musim dingin akhirnya berhasil mematahkan Operasi Barbarossa. Hitler mengharapkan pukulan cepat dan tidak mempersiapkan perang yang berkelanjutan di tengah musim dingin Rusia.

Tujuan

Tujuan operasional Barbarossa adalah penaklukan cepat Eropa bagian barat Uni Soviet dari jalur yang menghubungkan kota-kota Arkhangelsk dan Astrakhan, yang sering disebut jalur AA. Pada akhir bulan Januari 1942, Tentara Merah telah ditolak Wehrmacht , sebuah pukulan terkuat. Adolf Hitler tidak mencapai kemenangan yang diharapkan, tetapi situasi Uni Soviet tetap mengerikan. Taktis, Jerman telah memenangkan beberapa kemenangan gemilang dan menduduki beberapa wilayah ekonomi paling penting di negeri, terutama di Ukraina. Meskipun keberhasilan ini, Jerman didesak mundur dari Moskow dan tak pernah me-mount sebuah serangan secara simultan di sepanjang seluruh Soviet-Jerman strategis depan lagi.

Operasi Barbarossa merupakan kegagalan Hitler dan menyebabkan tuntutan untuk melakukan operasi lebih lanjut di Uni Soviet, yang semuanya pada akhirnya gagal, seperti melanjutkan Pengepungan Leningrad, Operasi Nordlicht, dan Pertempuran Stalingrad, pertempuran antara lain di wilayah yang diduduki Soviet. Operasi Barbarossa masih merupakan operasi militer terbesar, dalam hal kekuatan pasukan dan korban, dalam sejarah manusia. Kegagalan tersebut merupakan titik balik dalam keberuntungan Reich Ketiga. Paling penting, Operasi Barbarossa membuka Blok Timur, di mana pasukan lebih berkomitmen daripada di medan pertempuran dalam sejarah dunia. Operasi Barbarossa dan daerah-daerah yang jatuh di bawahnya menjadi tempat beberapa pertempuran terbesar, mematikan, kekejaman, korban tertinggi, dan kondisi yang paling mengerikan bagi Soviet dan Jerman - yang semuanya memengaruhi Perang Dunia II dan sejarah abad ke-20.

Jerman

Teori Nazi Tentang Uni Soviet
Pada awal 1925, Hitler membuat rencana akan menyerang Uni Soviet, dan menyatakan bahwa rakyat Jerman membutuhkan "ruang untuk hidup", yaitu sumber daya alam dan bahwa ini harus dicari di timur. Kebijakan rasial Nazi Jerman (ideologi Nazi) menyatakan bahwa Uni Soviet dihuni oleh etnis Slavia dan dikuasai oleh paham Yahudi Bolshevisme. Perjuanganku (catatan Hitler) menyatakan bahwa takdi Jerman adalah kembali ke "Timur" seperti pada "enam ratus tahun yang lalu " dan "akhir dominasi Yahudi di Rusia juga akan menjadi akhir bagi Rusia sebagai suatu negara. Setelah itu, Hitler berbicara tentang pertempuran yang tak terhindarkan melawan "cita-cita pan-Slav", dimana kemenangan akan membawa kepada " penguasaan dunia yang permanen ", walaupun ia mengatakan bahwa mereka akan "berjalan bersama Rusia, jika dapat membantu kami ". Dengan demikian, kebijakan Nazi adalah untuk membunuh, mendeportasi atau memperbudak Rusia dan populasi Slavia lainnya dan terisi kembali dengan bangsa Jermanik.

Soviet dan invasi Jerman, aneksasi, dan
lingkungan yang berpengaruh di Eropa
Tengah dan Timur 1939-1940.
Nazi-Soviet 1939-1940
Pakta Molotov-Ribbentrop telah ditandatangani lama sebelum Invasi Polandia Jerman dan Soviet pada tahun 1939. Sebuah pakta non-agresi tetapi protokol rahasia diuraikan bahwa kesepakatan antara Reich Ketiga dan Uni Soviet tentang pembagian perbatasan negara Pakta ini mengejutkan dunia karena pihak 'saling permusuhan dan menentang Ideologi mereka. Sebagai hasil dari perjanjian itu, Nazi Jerman dan Uni Soviet memiliki hubungan diplomatik cukup kuat dan hubungan ekonomi yang penting. Memasukkan negara-negara Jerman-Soviet dalam Perjanjian Komersial (1940) (pakta perdagangan tahun 1940)), di mana militer Jerman Soviet menerima dan peralatan industri sebagai ganti bahan baku, seperti minyak, untuk membantu Jerman menghindari blokade Inggris.

Tapi kedua belah pihak sangat curiga terhadap satu sama lain. Setelah Jerman memasuki Pakta Tripartit dengan Jepang dan Italia, mulai perundingan tentang potensi Soviet masuk ke dalam pakta. Setelah dua hari perundingan ,12-14 November, di Berlin, Jerman, diusulkan untuk Soviet masuk Axis. Uni Soviet menawarkan perjanjian tandingan pada tanggal 25 November 1940, dan Jerman tidak menjawabnya. Ketika kedua belah pihak mulai berbenturan di Eropa Timur, timbul konflik dalam membahas beberapa isu terbuka, Januari 1941, walaupun mereka menandatangani perjanjian perbatasan dan persetujuan komersial.

Rencana Invasi Jerman
Reputasi Stalin dalam kontribusi kepada Nazi tentang pembenaran serangan mereka dan pertempuran mereka sukses. Pada akhir 1930-an, Stalin telah membunuh atau memenjarakan jutaan warga selama Great Purge, termasuk perwira militer yang kompeten dan berpengalaman, meninggalkan Tentara Merah menjadi lemah dan kehilangan pemimpin. Nazi sering menekan Soviet secara brutal saat menargetkan propaganda terhadap Slavia. Propaganda Jerman mengklaim [Tentara Merah sedang bersiap-siap untuk menyerang mereka, dan invasi mereka sendiri sebagai pra-efek perang.

Di musim panas 1940, saat Jerman krisis bahan baku dan potensi benturan dengan Uni Soviet atas wilayah di Balkan muncul, invasi Uni Soviet tampak solusi satu-satunya. Meskipun tidak ada rencana lagi, pada bulan Juni, Hitler mengatakan kepada salah seorang jendral bahwa kemenangan di Eropa Barat "akhirnya membebaskan diri untuk mendapat tugas penting: melawan Bolshevisme", walaupun Hilter mengatakan bahwa pendudukan Rusia Barat akan menciptakan "lebih mengeluarkan daripada mendapat bantuan untuk situasi ekonomi Jerman." Hitler mengantisipasi manfaat tambahan:
  1. Ketika Uni Soviet dikalahkan, maka kekurangan buruh dalam industri Jerman bisa dibantu oleh demobilisasi tentara.
  2. Ukraina akan menjadi sumber pertanian.
  3. Setelah Uni Soviet sebagai sumber pekerja, dapat meningkatkan posisi geostrategis Jerman.
  4. Kekalahan dari Uni Soviet akan semakin mengisolasi Sekutu, terutama Inggris.
  5. Perekonomian Jerman membutuhkan lebih banyak minyak dan mengendalikan tambang minyak akan tercapai; seperti perkataan Albert Speer, Menteri Jerman Produksi Peralatan Perang dan Perang, dalam wawancara, "kebutuhan minyak jelas motif utama" dalam keputusan untuk menyerbu.
Weisung Nr. 21: Operasi Barbarossa
Pada tanggal 5 Desember, Hitler menerima rencana militer untuk invasi, dan disetujui, dengan mulai dijadwalkan pada Mei 1941. Pada tanggal 18 Desember 1940, Hitler menandatangani Directive Perang Nomor 21 kepada Komando Tinggi Jerman untuk operasi dengan nama sandi "Operasi Barbarossa" yang menyatakan : "Wehrmacht Jerman harus siap untuk menghancurkan Rusia dalam kampanye yang cepat." Operasi ini diberi nama Kaisar Frederick Barbarossa dari Kekaisaran Romawi Suci, seorang pemimpin dari Perang Salib Ketiga pada abad ke-12. Invasi ditetapkan mulai 15 Mei 1941. Pada bulan Desember, Stanlin mengingatkan para jenderal Uni Soviet tentang perhatian Hitler bahwa mereka harus selalu siap untuk menahan serangan Jerman, dan Hitler berpikir bahwa Tentara Merah akan memerlukan empat tahun untuk persiapan diri. Oleh karena itu, "kita harus siap lebih awal" dan "kami akan mencoba untuk menunda perang selama dua tahun lagi."

Pada musim gugur 1940, pejabat tinggi Jerman merancang sebuah memorandum mengenai bahaya invasi Soviet. Mereka mengatakan Ukraina, Belarussia dan Baltik Serikat akan berakhir sebagai beban ekonomi saja bagi Jerman. Pejabat Jerman lainnya berpendapat bahwa Soviet dalam bentuk birokrasi tidak berbahaya, pendudukan tidak akan menghasilkan keuntungan bagi Jerman.

Hitler mengabaikan penentang ekonomi Jerman, meskipun Jenderal Georg Thomas telah menyiapkan laporan konsekuensi negatif ekonomi dari invasi Soviet.

Di mulai pada bulan Maret 1941, Cetak biru Goering menyatakan usulan secara rinci tentang ekonomi Uni Soviet setelah invasi. Seluruh penduduk Kota dibuat kelaparan sampai mati, sehingga menciptakan sebuah surplus pertanian untuk memberi makan Jerman dan memungkinkan penggantian penduduk kota dengan orang kaya Jerman. Selama Percobaan Nuremberg pada tahun 1946, Sir Hartley Shawcross mengatakan bahwa pada Maret 1941 divisi administratif sebelumnya dibuat di Timur Rusia, telah direncanakan:
  1. Ural (Ural pusat dan selatan serta wilayah terdekat, direncanakan reorganisasi wilayah dari timur Eropa Rusia)
  2. Siberia Barat ( Siberia barat dan Novosibirsk)
  3. Nordland (daerah Soviet Arktik: Rusia pantai utara Eropa dan barat laut Siberia pantai utara)
Rudolf Hess dan kawan-kawan di Heinrich Himmler
"Pembangunan dan Perencanaan di Timur"
Eksebisi Maret 1941
Di musim panas 1941, Jerman Nazi-ideologis Alfred Rosenberg menyarankan bahwa menaklukkan wilayah Uni Soviet harus diberikan berikut kantor pemerintahannya:
  1. Pemerintahan Ostland (negara-negara Baltik dan Belarusia)
  2. Pemerintahan Ukraina (Ukraina dan wilayah sekitarnya)
  3. Pemerintahan Kaukasus (Rusia Selatan dan Kaukasus)
  4. Pemerintahan Moskow (Moskow metropolitan dan sisanya dari Eropa Rusia)
  5. Turkistan (wilayah Asia Tengah)
Kebijakan Nazi bertujuan untuk menghancurkan Uni Soviet sebagai entitas politik sesuai dengan geopolitik untuk kepentingan masa depan generasi " Arya ".

Operasi Barbarossa adalah untuk menggabungkan serangan ke arah utara Leningrad, sebuah simbolis merebut Moskow, dan strategi ekonomi merebut ladang minyak di selatan di luar Ukraina. Hitler dan para jendralnya yang tidak setuju pada aspek-aspek ini harus memperoleh prioritas dan Jerman harus memfokuskan energi; menentukan prioritas diperlukan kompromi. Hitler menganggap dirinya politikus dan militer jenius. Ketika merencanakan Barbarossa selama tahun 1940 dan 1941, dalam banyak diskusi dengan para jenderalnya, Hitler mengulangi perintah: "Leningrad pertama, kedua Basin Donetsk, Moskow ketiga." Hitler tidak sabar untuk melanjutkan invasi ke timur. Ia yakin Inggris akan menuntut perdamaian, setelah Jerman menang di Uni Soviet. Jenderal Franz Halder mencatat dalam buku hariannya itu, bahwa dengan menghancurkan Uni Soviet, Jerman akan menghancurkan harapan kemenangan Inggris.

Hitler terlalu percaya diri dari keberhasilan yang pesat di Eropa Barat dan kebodohan Tentara Merah dalam Perang Musim Dingin melawan Finlandia pada 1939-40. Dia mengharapkan kemenangan dalam waktu beberapa bulan, namun tidak mempersiapkan diri untuk sebuah perang yang berlangsung dalam musim dingin.

Sumber: http://id.wikipedia.org
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Front Timur pada Perang Dunia II adalah medan perang yang mencakup konflik di Eropa Tengah dan Eropa Timur. Beberapa sumber menyertakan pula Perang Jerman-Polandia pada tahun 1939 dalam medan Perang Dunia II ini, namun artikel ini memusatkan perhatian pada konflik jauh lebih besar yang berlangsung antara Juni 1941 hingga Mei 1945 dan melibatkan Jerman Nazi dan Uni Soviet. Konflik ini menyebabkan bangkitnya Uni Soviet sebagai negara adidaya militer dan industri, pendudukan Eropa Timur oleh Soviet, serta pembagian Jerman.

Dalam catatan sejarah Rusia dan Uni Soviet, konflik ini disebut sebagai Perang Patriotik Besar (Великая Отечественная война, Velikaya Otechestvennaya voyna). Nama yang mengacu pada Perang Patriotik Kekaisaran Rusia–Napoleon di tanah Rusia pada tahun 1812. Istilah Perang Patriotik Besar muncul di harian Soviet, Pravda, sehari setelah Hitler menginvasi Uni Soviet, dalam sebuah artikel berjudul "Perang Patriotik Besar Rakyat Soviet" (bahasa Rusia: Великая Отечественная война cоветского народа). Istilah "perang melawan agresi" digunakan Uni Soviet sebelum Amerika Serikat dan Jepang terlibat.

Perang Rusia-Finlandia Perang Kelanjutan dapat dianggap sebagai gugus utara dari Front Timur. Beberapa pakar konflik ini menggunakan istilah Perang Rusia-Jerman, sementara yang lain menggunakan istilah Perang Soviet-Jerman atau Perang Jerman-Soviet.

Tinjauan Umum

Perang Patriotik Besar dimulai pada 22 Juni 1941, ketika Jerman menyerang wilayah Polandia yang diduduki Soviet, dan berakhir pada 8 Mei 1945, ketika angkatan bersenjata Jerman menyerah tanpa syarat setelah Pertempuran Berlin. Jerman mampu meminta bantuan tenaga dari beberapa Negara Poros, Rumania, Hungaria, Bulgaria, Slovakia, dan Italia untuk menolong mereka di front dan wilayah-wilayah yang mereka duduki. Mereka mendapatkan bantuan dari sejumlah partisan anti-komunis di Ukraina dan Estonia. Finlandia yang anti-Soviet — saat itu baru saja berperang dengan Uni Soviet — juga berada di pihak Jerman. Selain itu, terdapat divisi Spanyol yang dikirim diktator Spanyol, Franco, agar hubungannya dengan negara-negara Poros tetap utuh. Uni Soviet mendapatkan bantuan dari kaum partisan di banyak negara di Eropa Timur, khususnya yang berada di Polandia dan Yugoslavia. Selain itu, Tentara Polandia Pertama dan Tentara Polandia Kedua, yang dipersenjatai dan dilatih Uni Soviet, berjuang bersama dengan Tentara Merah di front.

Ideologi

Hitler dalam bukunya, "Mein Kampf" (Perjuanganku), menekankan pentingnya lebensraum, yakni mendapatkan wilayah baru untuk rakyat Jerman di Eropa Timur. Dia membayangkan menempatkan rakyat Jerman sebagai ras utama di Rusia barat. Sebaliknya, sebagian besar rakyat Rusia dipindahkan ke Siberia dan sisanya dijadikan budak. Setelah pembersihan (purge?) besar-besaran pada tahun 1930-an, Hitler menganggap Soviet secara militer lemah dan mudah diduduki. Ia menyatakan, "Kami hanya harus menendang pintu dan seluruh struktur yang rapuh akan runtuh." Akibat Pertempuran Kursk dan kondisi militer Jerman yang melemah, Hitler dan propaganda Nazi menyatakan perang tersebut sebagai pertahanan peradaban oleh Jerman dari penghancuran oleh "gerombolan kaum Bolshevik" yang menyebar ke Eropa.

Kebijakan-kebijakan dan sikap ideologi Stalin pun sama agresifnya. Saat perhatian dunia teralih ke Front Barat, ia menduduki tiga negara Baltik pada tahun 1940. Partisipasi aktif Stalin dalam pembagian Polandia pada tahun 1939 pun tidak dapat diremehkan.

Latar Belakang

Dibandingkan dengan medan perang lainnya dalam Perang Dunia II, Front Timur jauh lebih besar dan berdarah serta mengakibatkan 25 juta-30 juta orang tewas. Di Front Timur terjadi lebih banyak pertempuran darat daripada semua front pada Perang Dunia II. Karena premis ideologi dalam perang, pertempuran di Front Timur mengakibatkan kehancuran besar. Bagi anggota Nazi garis keras di Berlin, perang melawan Uni Soviet merupakan perjuangan melawan komunisme dan ras Arya melawan ras Slavia yang lebih rendah. Dari awal konflik, Hitler menganggapnya sebagai "perang pembinasaan". Di samping konflik ideologi, pola pikir Hitler dan Stalin mengakibatkan peningkatan teror dan pembunuhan. Hitler bertujuan memperbudak ras Slavia dan membinasakan populasi Yahudi di Eropa Timur. Stalin pun setali tiga uang dengan Hitler dalam hal memandang rendah nyawa manusia untuk meraih kemenangan. Ini termasuk meneror rakyat mereka sendiri dan juga deportasi massal seluruh penduduk. Faktor-faktor ini mengakibatkan kebrutalan kepada tentara dan rakyat sipil, yang tidak dapat disamakan dengan Front Barat.

Perang ini mengakibatkan kerugian besar dan penderitaan di antara warga sipil dari negara-negara yang terlibat. Di belakang garis depan, kekejaman terhadap warga sipil di wilayah-wilayah yang diduduki Jerman sudah biasa terjadi, termasuk Holocaust orang-orang Yahudi. Dua puluh juta warga sipil terbunuh atau meninggal karena penyakit, kelaparan dan siksaan. Setelah perang, penduduk Jerman di Prusia Timur dan Silesia dipindahkan ke sebelah barat dari Garis Oder-Neisse.

Pakta Molotov-Ribbentrop pada Agustus 1939 membentuk perjanjian non-agresi antara Jerman Nazi dan Uni Soviet, dan sebuah protokol rahasia menggambarkan bagaimana Finlandia, Estonia, Latvia, Lithuania, Polandia dan Rumania akan dibagi-bagi di antara mereka. Dalam Perang September di Polandia pada 1939 kedua negara itu menyerang dan membagi Polandia, dan pada Juni 1940 Uni Soviet, yang mengancam untuk menggunakan kekerasan apabila tuntutan-tuntutannya tidak dipenuhi, memenangkan perang diplomatik melawan Rumania dan tiga negara Baltik yang de jure mengizinkannya untuk secara damai menduduki Estonia, Latvia dan Lithuania de facto, dan mengembalikan wilayah-wilayah Ukraina, Belorusia, dan Moldovia di wilayah Utara dan Timur Laut dari Rumania ( Bucovina Utara dan Basarabia).

Pembagian Polandia untuk pertama kalinya memberikan Jerman dan Uni Soviet sebuah perbatasan bersama. Selama hampir dua tahun perbatasan ini tenang sementara Jerman menaklukkan Denmark, Norwegia, Prancis, dan daerah-daerah Balkan.

Adolf Hitler telah lama ingin melanggar pakta dengan Uni Soviet itu dan melakukan invasi. Dalam Mein Kampf ia mengajukan argumennya tentang perlunya mendapatkan wilayah baru untuk pemukiman Jerman di Eropa Timur. Ia membayangkan penempatan orang-orang Jerman sebagai ras yang unggul di Rusia barat, sementara mengusir sebagian besar orang Rusia ke Siberia dan menggunakan sisanya sebagai tenaga budak. Setelah pembersihan pada tahun 1930-an ia melihat Uni Soviet lemah secara militer dan sudah matang untuk diserang: "Kita hanya perlu menendang pintu dan seluruh struktur yang busuk itu akan runtuh.”

Joseph Stalin kuatir akan perang dengan Jerman, dan karenanya enggan melakukan apapun yang dapat memprovokasi Hitler. Meskipun Jerman telah mengerahkan sejumlah besar pasukan di Polandia timur dan membuat penerbangan-penerbangan pengintai gelap di perbatasan, Stalin mengabaikan peringatan-peringatan dari intelijennya sendiri maupun dari pihak asing. Selain itu, pada malam penyerbuan itu sendiri, pasukan-pasukan Soviet mendapatkan pengarahan yang ditandatangani oleh Marsekal Semyon Timoshenko dan Jenderal Georgy Zhukov yang memerintahkan (sesuai dengan perintah Stalin): "jangan membalas provokasi apapun" dan "jangan mengambil tindakan apapun tanpa perintah yang spesifik ". Karena itu, invasi Jerman pada umumnya mengejutkan militer dan pimpinan Soviet.

Operasi

Operasi Barbarossa: Penyerangan Jerman Atas
Uni Soviet, 21 Juni 1941 hingga 5 Desember 1941
Penyerangan: Musim Panas 1941
Pada pk. 04:45 22 Juni 1941, empat juta pasukan Jerman, Italia, Rumania dan Poros lainnya menyerbu ke perbatasan dan masuk ke Uni Soviet. Selama sebulan peneyrangan tiga arah ini sama sekali tidak dapat dihentikan sementara tentara-tentara Panzer mengepung ratusan ribu pasukan Soviet dalam kantung-kantung besar yang kemudian dikurangi sementara divisi-divisi infantri yang lebih lambat bergerak menggantikan sementara pasukan-pasukan panzer terus maju menyerang.

Tujuan Gugus Pasukan Utara adalah Leningrad melalui Negara-negara Baltik. Gugus yang terdiri atas Pasukan ke-16 dan ke-18 serta Kelompok Panzer ke-4 formasi ini menerobos masuk ke Lithuania, Latvia, Estonia dan kota-kota milik Rusia: Pskov dan Novgorod.

Gugus Pasukan Tengah terdiri atas dua kelompok Panzer (ke-2 dan ke3), yang bergulir ke timur dari kedua sisi dari Brest-Litovsk dan bertemu di depan Minsk, diikuti oleh Pasukan ke-2, ke-4 dan ke-9. Gabungan kekuatan Panzer mencapai Sungai Berezina dalam enam hari saja, 650 km dari garis awal mereka. Tujuan berikutnya adalah menyeberangi Sungai Dnieper, yang dicapai pada 11 Juli. Setelah itu, target berikut mereka adalah Smolensk, yang jatuh pada 16 Juli, tetapi pertempuran di wilayah Smolensk menghalangi kemajuan Jerman hingga pertengahan September, dan secara efektif mengganggu blitzkrieg.

Gugus Pasukan Selatan, dengan Kelompok Panzer ke-1, ke-6, dan ke-11, serta Tentara ke-17, ditugasi maju melalui Galicia dan masuk ke Ukraina. Namun kemajuan mereka agak lambat, karena hanya astu koridor menuju Kiev yang berhasil diamankan pada pertengahan Juli. Tentara ke-11, dibantu dengan dua satuan tentara Rumania, berperang masuk melalui Bessarabia menuju Odessa. Kelompok Panzer ke-1 berbalik dari Kiev untuk sementara waktu, maju masuk ke lengkungan Dnieper. Ketika bergabung dengan unsur-unsur selatan dari Gugus Pasukan Selatan di Uman, kelompok itu menangkap 100,000 tawanan perang Soviet di sebuah kantong yang besar.

Sementara Tentara Merah mengundurkan diri ke belakang Sungai Dnieper dan Dvina, hierarkhi Soviet mengalihkan perhatiannya pada upaya memindahkan sebanyak mungkin industri berat wilayah itu, membongkar dan mengepaknya ke dalam kereta-kereta barang, jauh dari garis front, membangunnya kembali di daerah-daerah yang jauh di pedalaman di belakang Ural dan di Asia Tengah. Kebanyakan warga sipil tidak dapat dievakuasi bersama-sama dengan perlengkapan itu dan ditinggalkan dalam belas-kasihan pasukan-pasukan yang menyerbu.

Dengan direbutnya Smolensk dan majunya Gugus Pasukan Tengah dan Utara ke Sungai Luga, kedua gugus pasukan itu telah mencapai tujuan besar pertama mereka: menyeberang dan mempertahankan "jembatan darat" antara Dvina dan Dnieper. Jalur Ke Moskwa, yang kini hanya 400 km jauhnya, kini terbuka lebar.

Jenderal-jenderal Jerman generals berdebat tentang gerakan maju segera menuju Moskwa, namun Hitler membantahnya, sambil menyebutkan pentingnya gandum Ukraina dan industri berat bila berada di tangan Jerman, belum lagi berkumpulnya pasukan-pasukan cadangan Soviet di wilayah Gomel antara barisan selatan Gugus Pasukan Tengah dan Gugus Pasukan Selatan yang terjebak di selatan. Perintah dikeluarkan kepada Kelompok Panzer ke-2 untuk berbelok ke selatan dan maju menuju Kiev. Hal ini berlangsung sepanjang bulan Agustus dan masuk ke bulan September, namun ketika Kelompok Panzer ke-2 bergabung dengan Kelompok Panzer Pertama di Lokhvitsa pada 5 September, 665.000 tawanan Soviet ditangkap dan Kiev jatuh pada 19 September.

Moskwa dan Rostov: Musim Gugur 1941
Kini Hitler memutuskan untuk melanjutkan penyerbuan ke Moskwa, mengganti nama Kelompok Panzer menjadi Pasukan Panzer dalam penyerbuan ini. Untuk Operasi Taifun, yang direncanakan akan dimulai pada 30 September, Tentara Panzer ke-2 segera dikirim melintasi jalan-jalan beraspal dari Orel (direbut 7 Oktober) ke Sungai Oka di Plavskoye, sementara Tentara Panzer ke-4 (yang dipindahkan dari Gugus Pasukan Utara ke Tengah) dan Pasukan Panzer ke-3 mengepung pasukan-pasukan Soviet dalam dua kantong yang besar di Vyazma dan Bryansk. Gugus Pasukan Utara memposisikan dirinya di front Leningrad dan berusaha memotong jalur kereta api di Tikhvin ke sebelah timur. Dengan demikian dimulailah Pengepungan Leningrad selama 900 hari. Di sebelah utara lingkaran Arktik, suatu pasukan Jerman-Finlandia diberangkatkan menuju Murmansk namun tidak dapat maju lebih jauh daripada Sungai Litsa, dan di sana mereka tinggal.

Gugus Pasukan Selatan mendorong ke bawah dari Sungai Dnieper ke pantai Laut Azov, juga bergerak maju melalui Kharkov, Kursk dan Stalino. Tentara ke-11 bergerak masuk ke Krimea dan menguasai seluruh jazirah itu pada musim gugur (kecuali Sevastopol, yang bertahan hingga 3 Juli 1942). Pada 21 November tentara-tentara Jerman merebut Rostov, pintu gerbang masuk ke Kaukasus. Namun, garis depan Jerman terlalu jauh masuk dan pasukan-pasukan pertahanan Soviet menyerang balik ujung tombak Tentara Panzer ke-1 dari utara, memaksa mereka menarik mundur dari kota dan dari belakang Sungai Mius; penarikan mundur pertama Jerman signifikan dalam perang ini.

Persis ketika Operasi Taifun berlangsung, cuaca Rusia menyerang. Selama paruhan kedua Oktober hujan turun dengan deras, mengubah jalan-jalan yang hanya sedikit di sana menjadi lumpur yang tidak habis-habisnya yang memerangkap kendaraan-kendaraan Jerman, kuda-kuda dan manusianya juga. Dengan jarak 160 km lagi yang masih harus ditempuh ke Moskwa, keadaan yang lebih buruk masih akan terjadi ketika temperatur anjlok dan salju mulai turun. Kendaraan-kendaraan dapat bergerak lagi, tetapi manusianya tidak, karena membeku tanpa pakaian musim dingin. Para pemimpin Jerman yang mengharapkan perang akan selesai dalam beberapa bulan saja, tidak melengkapi tentara mereka untuk pertempuran di musim dingin.

Pada sebuah serangan terakhir pada 15 November pasukan-pasukan Jerman mencoba mengepung Moskwa. Pada 27 November Pasukan Panzer ke-4 telah tiba dalam jarak 30 km ke Kremlin ketika pasukan itu mencapai pemberhentian trem terakhir dari jalur Moskwa di Khimki, sementara Pasukan Panzer ke-2, meskipun berusaha keras, tidak dapat merebut Tula, kota teakhir Rusia yang berdiri di jalan menuju ibu kota. Pertentangan hebat menandai perbedaan pendapat antara Hitler, yang memaksa bahwa penyerbuan ke Moskwa tidak dapat dihentikan, dan jenderal-jenderalnya, yang pasukanp-pasukannya sudah sama sekali kepayahan di dalam cuaca dingin yang mematikan. Sementara Hitler mulai memecati komandan-komandan yang menentangnya, pada saat itulah pasukan-pasukan Soviet untuk pertama kalinya memukul balik.

Serangan balik Soviet di musim dingin,
5 Desember 1941 hingga 7 Mei 1942
Serangan Balik Soviet: Musim Dingin 1941
Pada musim gugur, Zhukov memindahkan pasukan-pasukan Soviet yang masih segar dan berperlengkapan cukup dari Siberia dan timur jauh ke Moskwa (pasukan-pasukan ini telah ditempatkan di sana untuk menantikan serangan Jepang, tetapi intelijen menunjukkan bahwa pasukan-pasukan Jepang telah memutuskan untuk sebaliknya menyerang Asia Tenggara dan Pasifik). Pada 5 Desember 1941, pasukan-pasukan tambahan ini menyerang garis-garis Jerman di sekitar Moskwa, yang didukung oleh tank-tank T-34 yang baru dan peluncur roket Katyusha. Pasukan-pasukan Soviet yang baru telah siap untuk perang musim dingin, dan mereka termasuk juga sejumlah batalyon ski. Pasukan-pasukan Jerman yang kepayahan dan kedinginan dikalahkan dan dipukul mundur hingga 100 dan 250 km pada 7 Januari 1942.

Serangan lebih lanjut Soviet dilancarkan pada akhir Januari, dengan memusatkan perhatian pada persimpangan antara Gugus Pasukan Utara dan Tengah antara Danau Seliger dan Rzhev, dan menciptakan sebuah celah antara dua kelompok pasukan Jerman. Bersamaan dengan gerakan maju dari Kaluga ke barat daya Moskwa, hal ini dimaksudkan bahwa kedua serangan itu bertemu di Smolensk, tetapi pasukan-pasukan Jerman berkumpul dan berhasil memisahkan keduanya, dan mempertahankan suatu keunggulan di Rzhev. Suatu penerjunan pasukan payung Soviet di Dorogobuzh yang dikuasai oleh Jerman khususnya gagal total, dan para pasukan paying yang berhasil bertahan harus melarikan diri ke daerah-daerah yang dikuasai oleh para partisan yang mulai membengkak di belakang garis Jerman. Di utara, pasukan-pasukan Soviet mengepung sebuah pos pasukan Jerman di Demyansk, yang bertahan dengan pasokan udara selama empat bulan, dan menempatkan diri di depan Kholm, Velizh dan Velikie Luki.

Di selatan Tentara Merah menyerang ke seberang Sungai Donets di Izyum dan mendorong masuk 100-km. Tujuannya adalah menjepit Gugus Pasukan Selatan ke Laut Azov, tetapi ketika musim dingin mulai menyurut, pasukan-pasukan Jerman sanggup melakukan serangan balasan dan memotong pasukan-pasukan Soviet yang terlalu menyebar di Pertempuran Kharkov Kedua.

Sumber: http://id.wikipedia.org
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Diriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa dia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam dalam perang Khaibar.

Ketika kami berjalan di suatu malam ada seorang laki-laki dari suatu kabilah berkata kepada Amir, ‘Wahai Amir, mengapa engkau tidak membacakan syair-syairmu kepada kami dalam waktu yang singkat ini.’ Amir adalah penyair ulung. Kemudian Amir mendekat untuk membacakan syair,

Tak pernah ada kesedihan.
Kalau bukan karena Engkau, kami tidak memperoleh hidayah
Kami tidak mengenal zakat dan tidak pernah mengerjakan shalat
Kami mohon ampunan sepanjang hidup kami
Dan berikan ketenangan kepada kami
Teguhkanlah pendirian kami saat menghadapi musuh
Kami dihina, kami tidak memperdulikannya
Dan dengan suara lantang, kami akan menantang
Hingga musuh lari tunggang langgang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, ‘Siapakah yang membaca syair tadi?’

Para sahabat menjawab, ‘Amir bin al-Akwa’.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ketahuilah, semua itu hanya karena rahmat Allah!’

Seorang lelaki dari suatu kabilah berkata, ‘Sudah tentu ya Nabiyullah, andai engkau tidak menghibur kami dengannya!’

Kemudian kami sampai di Khaibar, kami berperang melawan musuh. Sampai suatu waktu kami ditimpa kelaparan yang sangat. Lalu Allah memberi kemenangan atas musuh. Ketika sore menjelang yakni pada hari kemenangan tersebut, orang-orang membuat perapian. Rasulullah bertanya, ‘Api ini untuk apa? dinyalakan untuk maksud apa?’

Mereka menjawab, ‘Untuk membakar daging.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, ‘Daging Apa?’ Mereka menjawab, ‘Daging keledai jinak.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

‘Sembelihlah lalu potong-potong.’ Ada seorang laki-laki yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, atau kami sembelih kemudian kami cuci?’ Nabi menjawab, ‘Demikian juga boleh.’

Ketika orang-orang tengah berbaris, pedang Amir yang pendek berhasil direbut seorang Yahudi yang kemudian digunakan untuk memukulnya. Mata pedangnya beralih tangan dan melukai lutut Amir yang menyebabkan kematiannya.

Tatkala orang-orang menguburkan jenazah Amir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperhatikanku sambil menggandeng tanganku, beliau bertanya, ‘Mengapa kamu sedih?’ Aku menjawab, ‘Tebusanku ayah dan ibuku, mereka mengatakan bahwa Amir telah melakukan perbuatan yang dapat menghapus amal baiknya.’

Nabi menjawab, ‘Telah berdusta orang yang berkata demikian, sesungguhnya baginya dua pahala, -Rasulullah sambil merapatkan dua jarinya-. Sesungguhnya Amir adalah orang yang sungguh-sungguh sedang berjihad, sedikit sekali orang Arab yang dapat menandingi keberaniannya’.”. (ar/kisahmuslim)

Sumber: http://suaramedia.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Tatkala Sa’ad telah memutuskan niatnya untuk menyeberangi sungai dengan menaiki kuda dan mengerahkan seluruh kekuatannya dalam menaklukkan wilayah Madain, ia pun sadar bahwa dia harus mempunyai persiapan kekuatan energi yang super demi menguasai jembatan yang terletak di seberang sungai tersebut.

Dengan demikian sebagian besar pasukan muslimin yang menyeberang akan terlindungi (selamat).

Sa’ad berkata, “Siapakah yang akan memulai dan menjamin keselamatan kami semua dari serangan yang dilancarkan dari al- Furadh –nama tempat di arah seberang sungai– sehingga kita bertemu dengan musuh, agar mereka tidak mencegahnya keluar?”

Dengan suka rela Ashim mengajukan diri dan diikuti oleh 600 orang pasukan. Kemudian Sa’ad menjadikan Ashim sebagai pemimpin mereka. Pasukan tersebut mulai bergerak, sehingga tiba di tepi sungai Dajlah (Tigris).

Ashim berkata kepada pasukannya, “Siapa yang merasa tertantang bersamaku untuk menjadi orang pertama yang menaklukkan laut ini, sehingga kita mampu menyelamatkan al-Furadh dari seberang sana?”

Kemudian 60 pasukan berkuda itu bangkit, mereka inilah yang diberi nama Pasukan Berani Mati.

Ashim membagi pasukan berkuda menjadi dua bagian, pasukan berkuda betina dan pasukan berkuda jantan.

Ashim menuju pinggir sungai, kemudian menyeru kepada mereka yang masih ragu menyeberang, “Apakah kalian merasa takut menyeberangi air yang setetes ini?”

Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala,

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ كِتَابًا مُؤَجَّلاً ….

‘Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.’ (Al-Imran : 145).

Ashim memacu kudanya dan menerobos sungai, disertai pasukannya. Tatkala ia melihat pasukan berkuda musuh juga menerobos ke dalam sungai, maka mereka bertanding ditengah sungai. Lalu Ashim menyeru,

“Pasukan tombak, majulah, bidiklah mata.” Mereka bertempur dan saling menikam. Pasukan berkuda menguasai wilayah Persi, lalu kaum muslimin mengikuti mereka dan berhasil membunuh sebagian besar pasukan musuh. Sementara jika di antara musuh ada yang selamat maka mata mereka buta karena terkena tikaman. (ar/kisahmuslim)

Sumber: http://suaramedia.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Sementara perang Libya mencapai jalan buntu, ada seruan yang semakin keras untuk solusi damai terhadap krisis saat ini melalui dialog dalam masyarakat internasional. Negara-negara seperti Turki, Afrika Selatan dan Rusia, serta negara-negara Eropa, seperti Jerman, Finlandia, Swedia, Denmark dan Norwegia, semua menyerukan resolusi krisis saat ini melalui dialog damai.

Perang telah membawa ketidakpastian tentang banyak hal. Seperti banyak "konsekuensi tak terduga" yang muncul dalam setelah serangan militer AS terhadap Irak, serangan militer terhadap Libya diluncurkan oleh Inggris, Perancis dan Amerika Serikat juga telah menghadapi beberapa "kondisi tak terduga".

Yang pertama dari kejutan ini adalah ketahanan rezim Muammar Gaddafi. Kedua adalah lemahnya oposisi Libya. Masih terlalu dini bagi Barat untuk menempatkan taruhan pada pemberontak. Khususnya, Perancis yang secara prematur mengakhiri hubungan diplomatik dengan pemerintahan Khadafi, tanpa meninggalkan ruang untuk rekonsiliasi antara kedua belah pihak.

Setelah itu, Barat telah berharap oposisi untuk menang dan menggulingkan rezim Gaddafi, sehingga mereka bisa mendapatkan bayaran dengan kemungkinan 2-1 untuk memenangkan taruhan politik mereka.

Di luar dugaan, pasukan militer oposisi terpecah-pecah, kekurangan perintah dengan satu suara, pelatihan yang diperlukan dan akses terhadap senjata berat.

Oleh karena itu, mereka sering dikalahkan oleh pasukan pemerintah dan hanya bisa datang ke sebuah jalan buntu dengan pemerintah di bawah dukungan kekuatan udara Barat.

Saat ini, perang Libya telah menjadi "kentang panas" bagi Barat.

Pertama, Barat tidak mampu menjalani perang ini secara ekonomi dan strategis. Peperangan teknologi tinggi sama seperti "membakar uang." Perang tersebut sudah terlalu berat untuk negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, yang belum sepenuhnya muncul keluar dari krisis ekonomi. Dengan tambahan perang lagi maka akan lebih banyak negara di Barat yang menemukan diri mereka pada posisi yang kurang menguntungkan.

Selain itu, perang juga telah mendorong harga minyak internasional, membuat negara-negara Eropa dan Amerika Serikat sebagai negara pengkonsumsi minyak tertekan. Amerika Serikat telah mengalihkan komando militer kepada NATO, sementara Inggris dan Perancis sudah tidak seoptimis lagi seperti sebelumnya.

Kedua, Barat akan menghadapi masalah militer dan hukum lebih banyak. Alih-alih "pemerintahan menindas warga sipil" yang dipercayai oleh Barat pada mulanya, situasi di Libya telah berubah menjadi perang saudara dengan senjata nyata. Jika Barat terus terlibat, mereka akan dianggap sebagai berpihak pada satu sisi dan intervensi terbuka mereka ke dalam perang saudara Libya akan menyebabkan lebih banyak korban sipil.

Ini benar-benar menunjukkan niat Barat tentang "melindungi warga sipil."

Sehubungan dengan tindakan militer, negara-negara Barat akan harus mengirimkan pasukan darat untuk menggulingkan Gaddafi dikarenakan kurangnya kapasitas bertempur pemberontak. Ini benar-benar di luar lingkup kewenangan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan kemungkinan untuk mengulang kesalahan Perang Irak.

Dalam hal prinsip hukum, negara-negara Barat dicurigai mengambil keuntungan dari celah dalam resolusi PBB dan mengejar kepentingan diri mereka sendiri ketika mereka melancarkan serangan udara. Wajah asli dari Inggris dan Perancis akan terekspos lebih signifikan sementara perang terus berlanjut.

Presiden Venezuela Hugo Chavez dan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad sebelumnya menuduh Barat berjuang untuk minyak. Negara-negara Barat telah mengabaikan perang sipil yang sedang berlangsung sengit di Cote d'Ivoire, yang telah kembali membuktikan tuduhan melawan Barat.

Dengan kata lain, solusi militer untuk masalah di Libya telah berakhir dan solusi politik telah dimasukkan dalam agenda. Namun, cara militer dan politik adalah dua sisi mata uang dan banyak masalah tak terduga yang masih menunggu solusi. (iw/pdo)

Sumber: http://suaramedia.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Adakah kejatuhan Presiden Tunisia, El Abidine Ben Ali, yang sudah berkuasa lebih dari 23 tahun itu, berdampak terhadap rejim-rejim diktator di Timur Tengah? El Abidine sekarang di bawah perlindungan pemerintah Kerajaan Arab Saudi, dan berada di Jeddah.

El Abidin harus meninggalkan Tunisia di malam hari, dan pergi meninggalkan Tunisia menuju Arab Saudi. Meminta suaka politik. Sebelumnya El Abidin berusaha meminta suaka kepada pemerintah Perancis, yang pernah menjajah negeri di Afrika Utara, tetapi penguasa Perancis membeirkan perlindungan, lalu menuju Arab Saudi.

Rata-rata penguasa yang diktator yang korup dan despotis hanyalah mengandalkan kekuatan militer, polisi dan aparat intelijen, yang menjaga dan melindunginya. Ini sudah menjadi sebuah aksiomatik, yang bersifat mutlak, di manapun rejim yang diktator, otokratis, dan despotik, hanya mengandalkan dukungan aparat militer, polisi dan intelijen. Karena hanya dengan cara kekerasan yang menggunakan bedil, penguasa itu dapat bertahan hidup di singgasana kekuasaannya.

El Abidin mulai berkuasa Nopember 1987, sesudah berhasil menggulingkan penguasa sekuler sebelumnya, Habib Bourguiba, yang berkuasa sejak Tunisia mendapatkan kemerdekaan dari Perancis. Penggulingan terhadap Bourgouiba itu tanpa darah. Bourguiba digulingkan oleh El Abidin yang pernah menjadi Dubes Tunisia di Rusia itu, November 7, 1987. Maka, sejak El Abidin berkuasa dan mengambil alih kekuasaan, mulai mengubah kebijakannya, yang lebih pro Barat, dan mendapatkan dukungan IMF.

Umumnya, para diktator yang berkuasa, selalu menciptakan sistem oligarki, yang terdiri sejumlah elite sipil dan militer yang berkuasa, dan menjadi pilar kekuaasaannya. Maka pemerintahan El Abidin ini, hanya dikendalikan sejumlah elite politik yang berada di sekeliling kekuasaan El-Abidin. Selanjutnya, El-Abidin membentuk kroni-kroni yang menguasai ekonomi dan industri Tunisia, yang terdiri dari sanak familinya, yang menguasai asset dan sumber alam Tunisia. Mereka terus membangun 'kerajaan' di Tunisia, dan menjadi orang-orang yang sangat kaya, di tengah-tengah kemelaratan rakyatnya yang massif.

Menghadapi kekecewaannya rakyatnya dengan cara yang sangat keras, menggunakan senjata, dan menghancurkan kekuatan oposisi dengan menghancurkan mereka, menangkap, menahan, dan bahkan tidak sedikit mereka yang dibunuh. Para penentang El Abidin, tak lain, para aktivis Islam, yang sangat menentang rejim diktator, yang otokratis, serta despotis, yang menyengsarakan rakyat. Perlawanan itu berlanjut, dari waktu ke waktu.

El Abidin sangat repressif dengan menggunakan aparat intelijen yang terus mematai-matai kehidupan rakyatnya dengan menyebar ketakutan yang luar biasa. Maka, hakekatanya El Abidin menjadi penjaga kepentingan Barat yang sekuler untuk menghadapi kelompok Islamis yang dipandang sangat berbaahaya bagi kepentingan Barat, di kawasan itu.

Tetapi, kehidupan rakyat semakin memburuk, kemiskinan semakin luas, harga-harga kebutuhan pokok semakin meningkat, pengangguran bertambah banyak, khususnya kaum muda, sementara itu asset negara terus menumpuk disekitar kroni-kroni El Abidin, yang tak lagi menyisakan bagi kepentingan rakyat. Rakyat benar-benar terkecik dengan segala kebijakan dan penguasaan yang dilakukan oleh rejim El Abidin.

El Abidin yang terpilih tahun 2009, sebagai Presiden Tunisia, untuk masa lima tahun mendatang, sekarang dia harus menyingkir ke Arab untuk mendapatkan suaka politik. Negeri yang pernah menjadi 'tuannya', dan menjajah puluhan tahun, seperti Perancis, tak memberikan jaminan suaka bagi diktator itu.

Tunisia sekarang penuh dengan kekacauan dan kegalauan, seluruh asset yang menjadi El Abidin di jarah, dirampok, dan dibakar oleh rakyatnya. Orang-orang dekatnya ikut melarikan diri meninggalkan Tunisia, mencari perlindngan politik.

Kelompok-kelompok pendukungnya militer, polisi, aparat intelijen mencari patron baru, siapa yang berkuasa di Tunisia? Tetapi, mereka sudah tidak lagi memiliki kemampuan menghadapi amarah rakyat, yang sudah dendam, akibat perlakuan El Abidin selama dia berkuasa.

Rakyat di Timur Tengah yang dikuasai para rejim diktator bersuka-ria dengan jatuhnya El Abidin dari Tunisia. Mereka menginginkan rejim-rejim diktator di Timur Tengah akan mengalami nasib seperti El Abidin. Karena mereka adalah para penguasa yang sangat jahat dan tamak, yang tidak segan-segan menghancurkan rakyatnya sendiri dengan berbagai kekerasan yang sifatnya biadab.

Penangkapan, penahanan, dan pembunuhan sudah lazim berlangsung di Tunisia, khususnya terhadap para aktivis Islam, yang dianggap mengancam kedudukannya. Tak sedikit para aktivis Islam, yang meminta suaka diluar negeri. Karena kekejaman yang dilkakukan oleh El Abidin.

Sekarang penjahat yang sudah melakukan kejahatan terhadap rakyatnya itu harus hidup di pengasingan Arab Saudi. Inilah akhir yang dihadapi para penguasa yang sangat dzalim dan jahat. Wallahu'alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Ketegangan antara Islamabad dan Washington telah mencapai puncaknya dalam beberapa bulan terakhir. Sementara Presiden Obama merencanakan kunjungan untuk akhir tahun ini ke negara berpenduduk muslim terbesar kedua di dunia, Gedung Putih ingin melawan Al Qaeda dan berperang di Afghanistan lebih dari apapun. Islamabad memiliki sesuatu yang lain dalam pikirannya.

Pada bulan Januari, strategi perang yang lebih dari dua tahun lalu diumumkan oleh Obama tiba-tiba menjadi dingin. Setelah kontraktor Amerika Raymond Davis menewaskan dua warga Pakistan di jalan di Lahore dan kemudian dibebaskan pada bulan Maret setelah $ 2,3 juta uang kompensasi (yang disebut uang darah) telah dibayarkan kepada keluarga korban, masyarakat Pakistan lebih bergolak daripada sebelumnya.

Sentimen mayoritas adalah bahwa kedaulatan nasional Pakistan diserang setiap hari dari pesawat AS dan kontraktor swasta berjalan dengan bebas di negara mereka untuk membunuh warga sipil. Media Pakistan memanas-manasi kemarahan, mengerahkan berbagai teori konspirasi yang rumit tentang mata-mata Amerika menyelinap di seluruh negara untuk mempersiapkan rencana Amerika-India-Israel untuk mencuri senjata nuklir Pakistan.

Sementara itu, Tentara Pakistan-yang tidak diragukan lagi tetap menjadi kekuatan di balik tahta, telah berkembang semakin gelisah dan marah dengan pekerjaan intelijen Amerika selama dua tahun terakhir. Untuk Angkatan Darat, kesalahan seperti kasus Davis atau operasi seperti serangan drone menjadi pengingat bahwa kontrol penuh dari wilayah negara itu tetap di luar genggaman mereka.

Kepemimpinan Pakistan, termasuk Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Ashfaq Parvez Kayani dan Direktur Jenderal Inter-Services Intelligence Directorate (ISI) Letjen Ahmed Shuja Pasha, ingin kembali ke apa yang mereka ingat sebagai "aturan Reagan."

Aturan-aturan ini dimulai pada hubungan CIA-ISI tahun 1980-an, ketika badan tersebut dan Saudi memberikan ISI dana dan senjata untuk menanggung pertempuran mujahidin melawan Soviet di Afghanistan. Mereka sekutu, memang, pada saat itu, Washington tetap sebagian besar tidak campur tangan. Amerika hanya memiliki sejumlah kecil agen CIA yang menjalankan seluruh program rahasia di Washington, Islamabad, dan Riyadh. Pada gilirannya, jarang ada perasaan bahwa kedaulatan Pakistan atau martabatnya sedang ditantang, apalagi dilanggar.

Aturan Reagan juga termasuk perjanjian diam-diam bahwa AS akan mengabaikan program nuklir Pakistan. Setiap tahun Presiden meyakinkan Kongres bahwa upaya nuklir Pakistan adalah "tidak lengkap," memungkinkan bantuan AS terus mengalir ke kediktatoran Jenderal Zia ul-Haq. Hanya setelah Soviet mundur dari Afghanistan pada tahun 1989 barulah AS memberi sanksi pada Pakistan untuk program nuklir mereka. Pada tahun 1990 Washington tiba-tiba memutuskan pasokan senjata F-16 dan lainnya yang sudah dibayar Pakistan. Tentara Pakistan tidak pernah melupakan pengkhianatan tersebut.

Masalah hari ini adalah bahwa kita tidak dapat kembali ke dunia Perang Dingin ini. Tentara Pakistan dan ISI tidak dapat diandalkan untuk melawan semua perlawanan yang sebelumnya telah mereka bantu ciptakan selama tiga dekade terakhir. Bahkan presiden Pakistan sendiri, Asif Ali Zardari, menuduh tentara bermain di kedua sisi dari perang melawan teror.

Kompleksitas dan kontradiksi dari perilaku Pakistan yang sebagian besar didorong oleh obsesi Angkatan Darat dengan India, sebenarnya terletak di jantung sengketa antara Islamabad dan Washington. Tidak ada solusi sederhana.

Seandainya semuanya berkembang lebih jauh ke selatan, hanya ada satu pemenang yang nyata: Al Qaeda. Jika operasi drone lambat dan kedua instansi intel bungkam, tujuan Obama untuk "mengganggu, membongkar, dan mengalahkan Al Qaeda" akan menjadi sebuah kemungkinan yang lebih jauh.

Sejak Pakistan saat ini memiliki senjata nuklir yang paling cepat berkembang di dunia dan segera menjadi terbesar kelima, di belakang AS, Rusia, China, dan Perancis-Islamabad tumbuh lebih tahan terhadap tekanan luar dan intimidasi. Tidak seperti Afghanistan, Irak, atau Libya, AS bahkan tidak bisa mempertimbangkan penggunaan kekuatan untuk menekan Pakistan, sebuah fakta yang Kayani sangat sadari. Belum lagi, Pakistan mengontrol jalur suplai utama bagi pasukan NATO dari Karachi ke Kabul di Afghanistan. Setiap kali Pasukan Khusus AS di Afghanistan telah melintasi perbatasan untuk mengejar teroris, Pakistan mengganggu rantai pasokan.

Washington tahu mereka membutuhkan Pakistan, tidak peduli bagaimana frustasi dan mengganggunya hubungan mereka. Sementara itu, India, target sebagian besar teror Pakistan dan target untuk senjata nuklirnya, menemukan dirinya dalam banyak dilema yang sama. Mereka menuntut menghancurkan Lashkar-e-Taiba dan kelompok militan lain, tetapi tidak berarti untuk memaksa Islamabad untuk melakukannya.

India tidak ingin ada negara gagal di perbatasan yang bersenjata dengan puluhan nuklir, sehingga tidak dapat merusak demokrasi Pakistan yang rapuh dengan operasi-operasi rahasia yang hanya akan memperkuat para ekstremis. India tidak bisa mengintimidasi saingan nuklirnya. Jadi India bulan lalu kembali melibatkan diri dan berdialog dengan Pakistan, yang telah dihentikan setelah serangan Mumbai.

Perdana Menteri Manmohan Singh mengakui bahwa bahkan dialog yang penuh rasa frustasi dan tipuan lebih baik daripada tidak sama sekali. Jadi ia mengajak rekannya untuk menonton semifinal Piala Dunia Cricket.

Caranya, bagi setiap orang yang terlibat, adalah untuk membantu memperkuat kekuatan-kekuatan di Pakistan yang ingin keluar dari persaingan tak berujung dengan India. Untuk semua kesalahannya, Zardari adalah salah satu dari mereka yang menginginkan pendekatan yang berbeda. Begitu juga dengan Benazir.

Baik Singh dan Obama memahami hal ini, juga. Sayangnya warga sipil dan modernis yang berada di Islamabad hari ini defensif. Dalam jangka pendek bantuan terbaik dari orang luar adalah untuk menjaga keterlibatan yang seringan mungkin. Dalam jangka panjang, bagaimanapun, adalah ketegangan India-Pakistan yang mendorong kecenderungan paling berbahaya. Pertempuran untuk antara ekstrimis dan moderat akan buruk di dalam negara ini. Kami akan kalah.

Opini ini ditulis oleh Bruce Riedel, seorang mantan perwira CIA. Ia adalah seorang rekan senior di Saban Center di Brookings Institution dan penulis Deadly Embrace: Pakistan, America, and the Future of the Global Jihad. (iw/nw)

Sumber: http://suaramedia.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Nilai Nasionalisme dan sekelurisme yang ditanamkan terhadap rakyat Arab, tak juga menjadikan mereka hidup dengan lebih baik. Justru proses internalisasi nilai-nilai nasionalisme dan sekulerisme membawa kehancuran. Mereka tak mengalami kehidupan yang lebih baik. Dari waktu ke waktu. Justru kekuatan Dunia Arab semakin menyusut. Arabisme dan Sekulerisme menggiring mereka ke belantara kehancuran, dan berlangsung secara sistematis.

Nasionalisme yang diberi bumbu Arabisme itu, bukan hanya mengkotak-kotakkan bangsa Arab, tetapi juga menciptakan ‘chauvinisme’ secara sempit, yang akhirnya disudahi dengan peperangan yang sangat merusak. Berkali-kali terjadi perang besar di kalangan negara-negara Arab. Pasca Perang Dunia II, dan sesudah negara-negara Arab merdeka, konflik sesama negara Arab semakin kuat. Tak dapat disatukan lagi. Karena itu, seluruh potensi Dunia Arab, habis oleh konflik.

Perang Irak-Iran yang berlangsung lebih dari 10 tahun telah menguras habis sumber daya yang ada. Bukan hanya kematian dari kedua belah pihak, tetapi berapa banyak potensi yang harus dikorbankan untuk perang. Irak-Iran keduanya rugi. Tetapi, semuanya itu tak pernah menjadi pelajaran. Perang berabad yang lalu, yang pernah terjadi berulang dan berulang lagi, dan semuanya itu menguras potensi dan sumber daya yang ada. Sampai akhirnya Dunia Arab terpuruk. Kekayaan minyak yang mereka miliki hanya menyebabkan malapetaka. Masing-masing negara menumpuk senjata. Kemudian mereka berperang satu sama lainnya.

Tentu, yang paling fatal lagi, ketika berlangsung Perang Dingin antara Timur dengan Barat, memaksa Dunia Arab, terpolarisasi menjadi dua kutub. Menjadi pengikut Blok Timur atau menjadi pengikut Blok Barat. Polarisasi Dunia Arab ini diikuti dengan tindakan. Di mana Timur dan Barat yang berebut pengaruh itu menggunakan s ekutunya, kemudian satu negara dengan negara lainnya, saling berhadap-hadapan ‘vis a vis’, yang akhirnya diujungnya adalah perang. Sementara itu, Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet dan Blok Barat yang dipimpin Amerika, di tengah-tengah perang yang ada, kedua negera itu yang memetik keuntungan. Karena industri militer kedua negara itu mendapatkan keuntungan dari perang yang desktruktif.

Era Perang Dingin ini berlangsung sampai hampir lima dekade, dan bukan hanya itu, tetapi Duni Arab juga terpolarisasi dalam ruang ideologi. Mereka bukan hanya menjadi pengikut Soviet, tetapi mereka juga menikmati ideologi komunisme. Negara-negara Arab seperti Suriah, Irak, Aljazair, Tunisia, Yaman, dan Mesir, berada dalam satu blok, di bawah Uni Soviet. Sementara itu, Arab Saudi, Yordania, Maroko dan Negara-Negara Teluk, mereka berada dalam satu blok di bawah Amerika.

Tranformasi ideologi terjadi dengan intens. Soviet bukan hanya menjual senjata dan menjadi payung politik sekutunya, tetapi Soviet juga menanamkan ideologi komunisme dan sosialisme kepada setiap rezim yang menjadi sekutunya. Di Lebanon seorang ideolog yang bernama Michael Aflaq, seorang Maronit, yang sekolah di Sorbone, Perancis, dan kemudian bertemu dengan seorang mentor atau ideolog komunisme, dan selanjutnya mendirikan Partai Baath, yang esensinya penggabungan antara komunisem dan Arabisme. Ideologi berkembang di Lebanon, Syria dan Iraq, dan ideologi dianut rakyat dan para pemimpinnya, seperti Hafez al Assad dan Saddam Husien. Sementara itu, yang pro Barat, membawa paham sekulerisme, yang terus dicekokkan kepada para pemimpin Arab, dan rakyatnya.

Pasca erang Perang Dingin, dan runtuhnya Soviet, sekarang muncul masalah baru, apa yang disebut yaitu, ‘The World Order’, atau ‘Tatanan Dunia Baru’, yang intinya Barat melalui Amerika ingin menegakkan nilai-nilai atau peradaban Barat ke Dunia Arab. Yaitu sekulerisme. Ini semuanya telah mereduksi Islam dari akar kehidupan rakyat dan umat. Mereka kehilangan nilai-nilai Islam yang sudah mengakar dalam kehidupan mereka selama berabad-abad, dan harus menerima nilai-niali baru.

Para penguasa di Dunia Arab, selamanya hanyalah ‘makhluk’ yang mengabdi kepada para penjajah Barat, yang menghancurkan, bukan hanya mereka merampas kekayaan dan sumber daya alam mereka semata, tetapi para penjajah itu merampas keyakinan mereka (Islam), dan digantikan dengan nilai-nilai sekuler. Para penguasa di Dunia Arab begitu kejam terhadap rakyatnya, sesuatu yang logis, karena hakekatnya mereka itu penjajah, dan bagian dari para penjajah, yang ingin menghancurkan kehidupan rakyatnya, dan keyakinan yang mereka miliki yaitu Islam.

Para penguasa Arab bukan hanya memiskinkan rakyatnya dari materi, tetapi yang lebih kejam lagi, mereka memiskinkan nilai-nilai yang sangat berharga bagi kehidupan mereka, yang dapat memberikan ketenteraman, kebahagiaan, dan masa depan mereka, yaitu Islam. Inilah seb uah kejahatan yang tiada taranya.

Seperti y ang dilakukan oleh Amerika yang melakukan intervensi langsung kepada para pemerintahan di Dunia Arab, khususnya yang terkait dengan pendidikan, yang mereka meminta agar ajaran agama (Islam) dihapuskan dari sekolah-sekolah. Arab Saudi sudahmelakukan itu. Seperti yang dilakukan Gubernur Makah dan Jeddah, Khalid Al-Faisal, yang menutup ribuan sekolah penghafal al-Qur’an di Jeddah dan Makkah.
Amerika yang ingin seluruh bangsa Muslim di Dunia Arab menjadi sekuler, sekarang dengan menggunakan isu terorisme, dan menelanjangi kaum Muslimin di dunia Arab dari keyakinan agama mereka (Islam). Dengan hilangnya keyakinan agama mereka (Islam) itu, penjajahan akan menjadi permanen. Itulah tujuan Barat.

Sekarang di mulai dari Tunisia, yang akan merembet ke suluruh Dunia Arab, nampaknya telah terjadi tranformasi politik, dan hakikatnya ini, merupakan perang ideologi (agama), bukan hanya perang melawan kepentingan Amerika, tetapi perang melawan kepentingan para penjajah Barat dengan menggunakan para penguasa lokal, yang dibelakangnya tak lain, adalah Yahudi dan Nasrani, yang ingin menghinakan kaum Muslimin dan memperbudaknya. Selayaknya kaum Muslimin saling bahu membahu. Saling tolong menolong. Mengakhiri segala bentuk kezaliman. Membebaskan negeri-negeri Muslim dari penjajahan Yahudi dan Nasrani. Wallahu’alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Kebijaksanaan konvensional menyatakan hal seperti ini: Semakin banyak lagi dan lagi orang Yaman yang mengambil alih jalanan, semakin berkembang kerusuhan akan memaksa negara yang memang sudah hancur tersebut menuju kekacauan, memberikan sebuah tempat perlindungan untuk Al-Qaeda, yang akan menggunakan negara tersebut sebagai sebuah tempat peluncuran serangan menentang Barat.

Namun, ketika para pendemo berpawai, dan banyak protes yang menyebar ke bagian lain negara tersebut, sesuatu yang sangat berbeda nampaknya akan terjadi. Kelompok Yaman yang berlainan – suku pesaing, pemberontak Houthi di bagian utara dan gerakan separatis di selatan – malahan mengesampingkan keluhan-keluhan lama dan bergabung dalam hal seputar sebuah masalah tunggal: Presiden terguling Yaman, Ali Abdullah Saleh.

Tidak pernah di dalam sejarah baru-baru ini tentang negara yang sangat hancur tersebut, pada faktanya, telah nampak begitu bersatu. Dan, banyak para analis mengatakan, sebuah negara yang bersatu, disandingkan dengan sebuah pemerintahan sah, kemungkinan besar akan menjadi akhir kehancuran Al-Qaeda di sini.

Itu bukanlah pandangan dari pemerintahan AS dan Inggris, yang keduanya telah memperingatkan sebuah perlawanan Al-Qaeda jika kerusuhan di Yaman masih terus berlanjut.

"Jika pemerintah jatuh, atau digantikan oleh salah satu yang secara dramatis lebih lemah, maka saya pikir kami akan menghadapi beberapa tantangan tambahan di luar Yaman, tidak ada keraguan tentang hal tersebut. Ini adalah sebuah masalah yang nyata," ujar menteri Pertahanan AS, Robert Gates, merujuk pada Al-Qaeda, selama sebuah konferensi pers bulan lalu.

Yaman menjadi sebuah negara tunggal di tahun 1991 ketika mantan Republik Arab Yaman dan Republik Demokrat Yaman bergabung. Namun, keduanya tidak pernah menjadi sebuah keseluruhan yang sesungguhnya dan sering berselisih satu sama lain untuk kekuasaan. Sejak saat itu, perang sipil pecah di tahun 1994, pemerintah Yaman telah berjuang untuk bertahan di selatan yang suka memberontak.

Namun, sekarang dengan protes menentang Saleh menyapu keseluruhan negeri tersebut, banyak para anggota yang disebut Pergerakan Selatan meninggalkan organsiasi tersebut untuk menambahkan suara mereka kepada mereka yang ada di utara yang menuntut perubahan rejim, menghadapi apa yang mereka telah jadikan kenyataan populer gas air mata dan kerusuhan kepolisian.

"Kami tidak harus memisahkan diri dari utara ketika Saleh sudah tidak ada. Masalah kami di selatan berasal dari sebuah pemerintahan korup," kata Nuha Jamal, 25 thaun, seorang aktivis muda di Aden, mantan ibukota Yaman Selatan. "Orang-orang meninggalkan Gerakan Selatan. Kami semua satu dalam menuntut bahwa Saleh meninggalkan kekuasaannya. Semua Yaman dipersatukan dalam masalah ini."

Sebuah konflik selatan-utara, bagaimanapun juga, hanya salah satu dari banyak pembagi-bagian wajah Yaman.

Saleh juga telah terkurung di dalam serangkaian konflik dengan pemberontak Houthi, yang berbasis di Saada, provinsi bagian utara yang berbatasan dengan Arab Saudi.

Dari tahun 2004 sampai tahun 2009, militer Yaman bertarung dalam enam perang melawan orang-orang Houthi. Pemerintah mengklaim bahwa pemberontak Houthi ingin mengembangkan kembali aturan keagamaan di Yaman Utara, sementara orang-orang Houthi mengatakan bahwa mereka secara politik tersingkirkan dan menentang kerjasama erat Saleh dengan AS.

Perang Houthi merusak sebuah porsi yang cukup besar bagian utara negara tersebut, menciptakan salah satu dari populasi pengungsi terbesar di dunia. Ketika perang berlanjut, infrastruktur perawatan kesehatan yang memang sudah sangat kurang dihancurkan, memperburuk krisis kemanusiaan.

Bagaimanapun juga, banyak para pemberontak Houthi, yang sekarang telah memanfaatkan dendam mereka untuk pemerintah, meletakkan senjata mereka dan bergabung dengan ribuan pemrotes yang berkemah di luar Lapangan Perubahan di Sanaa, ibukota Yaman. Seorang pemimpin Houthi, Ali Al-Emad, sekarang tinggal di bawah perlindungan Divisi Senjata Pertama, tentara yang sama yang mengepung Saada selama lebih dari lima tahun namun membelot kepada oposisi bulan lalu.

"Visi kami jelas dan kami berbagi visi ini dengan semua Yaman. Kami menyerukan sebuah negara sipil dan kewarganegaraan yang setara untuk semua orang Yaman. Kami menuntut demokrasi yang sesungguhnya," ia mengatakan.

Orang-orang Houthi di Lapangan Perubahan mengatakan bahwa mereka merasa bahwa ketika mereka dimasukkan di dalam proses politik, tidak akan dibutuhkan adanya perang.

"Kami berusaha untuk menciptakan kedaulatan negara kita sendiri di Saada," Al-Emad mengatakan. "Namun, kami sekarang menyerukan untuk persatuan dan kesetaraan hak bagi semua orang Yaman."

Al-Emad mengatakan bahwa ia menyambut pembelotan komando papan atas militer Yaman, Ali Muhsin Al-Ahmar, disamping adanya fakta bahwa ia adalah komando pasukan militer pemerintah yang lama bertarung melawan para pemberontak Houthi.

"Saya bertemu dengan Ali Muhsin dan saya menyambutnya. Kami merasa berterima kasih untuk perlindungannya," Al-Emad mengatakan.

Perselisihan sipil Yaman dalam beberapa tahun ini dirancang menentang sebuah latar belakang pedalaman yang mendominasi sebagian besar negara tersebut, di mana pemerintah mengendalikan dalam sebuah porsi yang besar daerah pedalaman Yaman, banyak dari para suku pesaing sering berselisih atas klaim kawasan atau menjadi terkunci di dalam pertempuran balas dendam yang panjang.

Namun sekarang, bahkan suku pesaing berbagi tenda di Lapangan Perubahan. Dua suku semacam itu dari kawasan bermasalah Abeeda dan Morad di provinsi Marib telah mengesampingkan permusuhan lama mereka dan bergabung satu sama lain, dan pergerakan protes, di ibukota.

"Ketika banyak suku bertempur atas lahan atau membalas dendam untuk terbunuhnya kerabat, Saleh tersenyum. Perselisihan ini semata-mata memungkinkan korupsi beralnjut," kata Nasser Al-Qadhi dari suku Morad di Marib.

"Kami telah belajar untuk memaafkan satu sama lain sehingga kami dapat bergabung bersama untuk mengendalikan setan ini dan mengambil negara ini kembali dari tangan korupsi. Ketika Yaman baru dimulai, kami akan menyerahkan senjata kami kepada sebuah pemerintahan yang kami percaya melindungi kami," Sheikh tersebut mengatakan.

Perselisihan periodik antara para pemberontak, separatis dan para suku pesaing – dan kurangnya kendali pemerintah di kawasan pedalaman – adalah apa yang banyak orang pikirkan memungkinkan Al-Qaeda di Semenanjung Arab beroperasi begitu bebasnya di dalam provinsi Shabwa, Abyan, Lahj dan Marib.

Bagaimanapun juga, orang-orang Yaman mengatakan bahwa mereka merasa Al-Qaeda adalah sebuah produk hasil dari korupsi pemerintah. Ahmed Al-Zurqa, seorang analis politik dan pakar tentang Al-Qaeda, setuju.

"Al-Qaeda tidak akan mengancam Yaman lagi," ia mengatakan. "Para suku sekarang telah bergabung dalam pergerakan pro-demokrasi, meninggalkan Al-Qaeda tanpa perlindungan atau seorang pengungsi. Ketika rejim tersebut jatuh, Al-Qaeda akan menghilang." (ppt/gp)

Sumber: http://suaramedia.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Mari kita bayangkan Meretz Shulamit Aloni sebagai perdana menteri Israel. Sebuah fantasi bagi sebagian dari kita. Dalam hal ini, apakah itu akan masuk akal untuk membayangkan Shas meluncurkan kampanye di bawah slogan "Hanya yang berani yang akan menang," menyerukan Aloni untuk mengumpulkan keberanian dan mentransformasi Israel menjadi teokrasi di bawah hukum rabbi? Tidak juga.

Dan apakah mungkin bahwa dalam "inisiatif Zurich" mereka para pemimpin pemukim akan menyampaikan kepada Aloni rencana praktis dan rinci untuk membangun 500.000 apartemen di koloni Israel di wilayah itu, dengan tujuan untuk mempertahankannya? Hal ini juga tidak mungkin. Dan tidak hanya di Israel. Apakah mungkin untuk membayangkan sayap kanan Amerika dalam kampanye menyarankan Presiden Barack Obama untuk mengumpulkan keberanian dan mencabut undang-undang asuransi kesehatan atau mengajukan rencana rinci untuk meminta larangan aborsi di Amerika Serikat? Apakah sayap kiri di AS pernah menyarankan kepada Presiden George W. Bush rencana untuk membuat negara kesejahteraan dan repot-repot untuk mendesak Nixon untuk merangkul organisasi perdamaian selama Perang Vietnam?

Bahkan seretoris apapun pertanyaan itu, hal ini terlihat imajiner. Dan ini anehnya adalah tepat bagaimana non-sayap kanan Israel telah beroperasi selama bertahun-tahun sekarang. Dalam demokrasi yang sudah mapan ada kesadaran bahwa peran alternatifnya adalah untuk menjadi alternatif. Ini untuk menantang rezim dan nilai-nilainya. Tidak memberikan nasihat kepada penguasa tetapi menunjukan tekad untuk menggantikannya. Peran alternatif adalah untuk mendelegitimasi rezim, cara hidupnya dan nilai-nilainya, dan mencoba untuk mendapatkan mayoritas untuk mengenali satu rangkaian nilai yang berbeda.

Hanya di negara-negara non-demokratislah di mana kepala negara mendapatkan kekuasaannya karena dianggap sebagai tidak mungkin untuk diganti dan tampaknya hanya mungkin untuk dinasihati. Ini adalah bagaimana segala hal dilihat di negara-negara Arab sampai saat ini. Hal-hal sederhana yang jelas bagi semua orang dalam sistem demokrasi. Untuk semua orang, kecuali non-sayap kanan di Israel. Hanya orang-orang dari apa yang mereka anggap sebagai niat baik dan "tanggung jawab" - terlihat seperti kasim yang bergegas dalam upaya untuk memberikan nasihat "dari dalam" untuk sebuah rezim yang telah memilih jalur yang berlawanan.

Tidak mungkin untuk memahami gerakan rasis, mesianik dan anti-demokratis sayap kanan dari pinggiran ke dominasi dalam pemerintahan tanpa mempertimbangkan keadaan normal dari non-sayap kanan di Israel dan pilihan perilaku politiknya, yang tidak sejajar. Sikap aneh tersebut telah membangun kekuatan yang tepat dalam banyak dimensi. Pertama-tama, ini menggambarkan Israel sebagai "rezim", yang tidak ada penggantinya. Kedua, ini memungkinkan penguasa sayap kanan ekstrim untuk bergerak menuju "pusat" persepsi publik. Ini adalah bagaimana keberhasilan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu muncul.

Dia adalah pemimpin dari pandangan kanan radikal dan multi-faset, dari demonstrasi penghasutan sebelum pembunuhan Yitzhak Rabin hingga kerusakan yang sengaja ditimbulkan pada perjanjian Oslo dan demokrasi - sebuah pandangan yang harusnya menempatkan dia di tempat yang mirip dengan yang seorang politisi sayap kanan Amerika, melebihi Sarah Palin. Bagaimanapun, citranya telah menjadi seseorang yang dekat dengan politik tengah. Seseorang yang segera akan memutuskan antara nasihat dari Anggota Knesset dari National Union Michael Ben Ari dan saran dari 'Inisiatif Perdamaian Jenewa'.

Tidak ada yang menjauhkan publik dari alternatif daripada kesombongan. Jalur politik yang salah juga memancarkan kesombongan yang luar biasa. Seolah-olah ada sebuah jalan "objektif" yang benar, yang oleh para sayap kanan dan pemilihnya dalam kebodohan mereka tidak mampu untuk pahami. Kalau saja kita menjelaskan dengan baik - kepada orang yang tepat - dan memasarkan rencana yang tepat yang bermanfaat untuk semua orang, maka mereka yang mengalami kesulitan akan mengerti.

Tetapi membuat Israel kembali ke Deklarasi Kemerdekaan dan mendirikan "negara" demokratis dan egaliter dalam perbatasan tahun 1967 tidak baik bagi semua orang. Dunia rasis dan Mesias tidak akan menikmati perubahan ini. Nilai-nilai mereka adalah sebaliknya.

Menghindari pertempuran atas nilai pada saat ini sama artinya dengan sebuah skandal eksistensial. Orang-orang Palestina semakin dekat dengan deklarasi kemerdekaan. Israel, dengan Deklarasi Kemerdekaannya, harusnya menjadi yang pertama untuk mendukung ini.

Hal ini bukannya tidak disengaja bahwa Netanyahu memimpin rezim ini ke arah di mana Afrika Selatan dulu pernah alami. Untuk nilai rasis yang sama tepatnya, Deklarasi Kemerdekaan sedang diinjak-injak di Knesset. Ini bukan nasihat yang dibisikkan di telinga perdana menteri yang dibutuhkan oleh Israel melainkan sebuah alternatif yang jelas yang akan menggantikan dia untuk kepentingan Israel yang demokratis.

Opini ini ditulis oleh Sefi Rachlevsky. Ia adalah penulis buku terlaris "The Messiah's Donkey”, yang oleh beberapa orang religius Israel dianggap sebagai anti-religius (iw/hz)

Sumber: http://suaramedia.com
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments