Previous Next
  • Perang Teluk

    Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki. Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990...

  • 5 Negara yang Terpecah Akibat Perang Dunia II

    Negara yang terpecah adalah sebagai akibat Perang Dunia II yang lalu di mana suatu negara diduduki oleh negara-negara besar yang menang perang. Perang Dingin sebagai akibat pertentangan ideologi dan politik antara politik barat dan timur telah meyebabkan negara yang diduduki pecah menjadi dua yang mempunyai ideologi dan sistem pemerintahan yang saling berbeda dan yang menjurus pada sikap saling curiga-mencurigai dan bermusuhan. Setelah perang dunia kedua, terdapat empat negara yang terpecah-pecah, antara lain:

  • Serangan Sultan Agung 1628 - 1629

    Silsilah Keluarga Nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Dilahirkan tahun 1593, merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Ayahnya adalah raja kedua Mataram, sedangkan ibunya adalah putri Pangeran Benawa raja Pajang. Versi lain mengatakan, Sultan Agung adalah putra Pangeran Purbaya (kakak Prabu Hanyokrowati). Konon waktu itu, Pangeran Purbaya menukar bayi yang dilahirkan istrinya dengan bayi yang dilahirkan Dyah Banowati. Versi ini adalah pendapat minoritas sebagian masyarakat Jawa yang kebenarannya perlu untuk dibuktikan. Sebagaimana umumnya raja-raja Mataram, Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri. Yang menjadi Ratu Kulon adalah putri sultan Cirebon, melahirkan Raden Mas Syahwawrat. Yang menjadi Ratu Wetan adalah putri dari Batang keturunan Ki Juru Martani, melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi Amangkurat I)...

  • Perang Dingin

    Perang Dingin adalah sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947—1991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang: koalisi militer; ideologi, psikologi, dan tilik sandi; militer, industri, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir dan persenjataan; dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini akan berakhir dengan perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi. Istilah "Perang Dingin" sendiri diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut...

  • Perang Kamboja-Vietnam

    Pada tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan saigon tahun 1975, negara-negara anggota ASEAN mencemaskan kemungkinan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari Asia Tenggara. Ketegangan terus memuncak mengingat ASEAN adalah negara-negara Non-Komunis sedangkan negara-negara Indochina adalah negara komunis. Kemenangan Vietnam pada Perang Vietnam sudah tentu mengkhawatirkan ASEAN ditengah rencana Amerika Serikat untuk mengurangi kehadiran pasukannya yang selama ini secara tak langsung melindungi ASEAN dari invasi komunis ke kawasan tersebut...

Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Ladang Mouquet adalah bagian dari Pertempuran Somme setelah Pertempuran Pozières yang terjadi mulai tanggal 5 Agustus sampai 27 September 1916. Ladang pertanian tersebut akhirnya dapat direbut pada 27 September.

Mouquet Farm Pozieres.jpg
Ladang Mouquet, Pozières oleh Fred Leist, 1917.

Perebutan Ladang Mouquet sangat mengganggu kestabilan pertahanan Jerman di Thiepval sejauh ini bertahan terhadap semua serangan Inggris.

Selama pertempuran, divisi Australia dari Korps Anzac I maju ke barat laut Pozières sepanjang punggung bukit, ke Ladang Mouquet (pusat kekuatan Jerman), untuk mendukung divisi Inggris di sebelah kiri. Pergerakan ke ladang Mouguet diamati artileri Jerman yang dapat meruntuhkan waduk pada penyerangan dari tiga sisi Salient. Hal ini mengakibatkan banyak korban pada para penyerang sebelum mereka sampai di Ladang Mouguet. Namun, selama Agustus dan awal September, divisi Australia berhasil tiga kali mencapai ladang, meskipun telah dipaksa mundur setiap kali mencapainya. Koorps Anzac I menderita sekitar 6.300 korban.

Saat pertempuran, Korps Kanada mengambil alih pimpinan dari Australia yang ditarik mundur pada tanggal 5 September. Namun, pada saat pertempuran berakhir pada pertengahan September, pasukan Jerman masih bertahan. Ladang Mouguet akhirnya ditaklukkan pada 27 September setelah serangan pada Pertempuran Thiepval Ridge.

Akibat Perang

Korban dari pihak Korps ANZAC sebagai berikut:

* Divisi Australia ke-1 - 2.650 orang
* Divisi Australia ke-2 - (hanya Brigade ke-6) 896 orang
* Divisi Australia ke-4 - 7.158 orang

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Flers-Courcelette adalah serangan berskala besar terakhir Angkatan Darat Inggris dan terjadi pada tanggal 15 September 1916 (selama satu minggu) pada Pertempuran Somme.

New Zealand trench Flers September 1916.jpg
Batalyon ke-2, Resimen Auckland, di Garis 
penghubung setelah pertempuran

Pertempuran pertama yang menggunakan tank membuktikan penggunaan senjata sangat menentukan. Namun, kinerja tank Mark I pada pertempuran tumpang tindih dan komandan Inggris, Jenderal Sir Douglas Haig, dikritik karena terlalu cepat mengunnakan senjata rahasia.

Seperti serangan pada 1 Juli (Pertempuran Albert) dan 14 Juli (Pertempuran Bazentin Ridge) Haig berharap untuk menerobos pertahanan Jerman. Meskipun Pasukan Inggris, Kanada dan Selandia Baru membuat hasil yang signifikan pada hari yang sama, tidak dapat melakukan terobosan.

Di sisi kiri Korps Kanada merebut Courcelette sementara di pusat desa Martinpuich dan Flers dapat direbut tetapi sebagai sasaran pendek dari tujuan asli Gueudecourt dan Lesbœufs. Di sebelah kanan, pasukan Jerman yang dikenal sebagai Quadrilateral menghentikan Inggris di Morval. Untuk mencapai tujuan, Angkatan Darat Keempat Inggris mengadakan Pertempuran Morval pada tanggal 25 September.

Penghargaan

Aksi pasukan Kanada di Pertempuran Somme diperingati pada Memorial Courcelette yang diletakkan di pinggir jalan D929 (Albert-Bapaume), tepat di sebelah selatan Courcelette.

Sumber: http://id.wikipedai.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Yser adalah semua pertempuran yang berlangsung dari 16 - 31 Oktober 1914 dan menahan pasukan Jerman yang ingin menyeberangi sungai ke Dunkerque. Pasukan Perancis dan Belgia ditempatkan di sana.

Yser oct14.jpg
Peta kekuatan menuju laut.

Strategi

Pertempuran ini merupakan bagian dari pelaksanaan Rencana Schlieffen, Belgia telah diserang oleh Jerman. Setelah Pengepungan Antwerpen, sisa pasukan Belgia mendesak kembali ke sisi baratdaya negara, dan memutuskan untuk bertahan 22 mil sepanjang kanal Yser. Jerman mencoba mencapai pelabuhan Perancis di Calais dan Dunkerque. Pertempuran Ypres Pertama terjadi bersamaan dengan pertempuran Yser.

Pertempuran

Seluruh pasukan Belgia dikerahkan untuk bertahan di garis depan. Pasukan itu kelelahan dan amunisi menipis pada dua bulan terakhir. Perancis diperkuat dengan 6.000 marinir dan divisi infanteri Belgia.

Pertempuran pertama pada tanggal 16 Oktober 1914. Kota Diksmuide diserang Jerman dan dapat dihalau oleh marinir Perancis dan artileri Belgia. Hari berikutnya pasukan Jerman (terdiri dari tentara wajib militer yang terlatih dan pasukan cadangan) bergerak ke arah selatan Bruges dan Ostend, ke arah sungai Yser. Angkatan Darat Keempat Jerman mengambil jalur dari Nieuwpoort ke Ypres.

Laksamana Hood dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris memerintahkan tiga kapal pengawas (Severn, Humber dan Mersey) membombardir tentara Jerman di Lombardsijde keesokan harinya.

Pada tanggal 18 Oktober, Jerman menyerbu dengan frontal posisi pertahanan Belgia, tentara Inggris dan Perancis dari Nieuwpoort sampai Arras, Perancis. Tujuannya adalah untuk merebut akses ke pelabuhan-pelabuhan Calais, Boulogne dan Dunkerque.

Butuh empat hari pertempuran bagi pasukan Jerman untuk mengusir sekutu dan mencapai sungai Yser. Pada 21 Oktober, Jerman membangun jembatan kecil di seberang sungai. Jembatan terakhir di sungai Yser diledakkan pada tanggal 23 Oktober. Diksmuide diserang kembali oleh Jerman namun kota belum dapat direbut.

Komando tertinggi Perancis merencanakan untuk menggenangi sebagian besar wilayah mereka dengan air sebagai langkah pertahanan. Ini merupakan pilihan berat bagi pasukan Belgia yaitu terjebak antara banjir dan pasukan Jerman atau meninggalkan pertahanan Belgia. Rencana tersebut ditunda karena tentara Belgia sendiri sedang melakukan persiapan untuk menggenangi wilayah antara sungai Yser dan kanal-kanal.

Pada tanggal 25 Oktober tekanan Jerman terhadap tentara Belgia begitu besar sehingga diambil keputusan untuk menggenangi seluruh garis depan Belgia. Setelah percobaan sebelumnya gagal pada 21 Oktober, Belgia berhasil membuka pintu air di Nieuwpoort pada malam 26 - 29 Oktober sehingga membanjiri sampai satu mil dan melebar sampai selatan Diksmuide. Karel Cogge dan Hendrik Geeraerts menjadi pahlawan nasional Belgia sebagai peran penentu banjir. Pada tanggal 29 Oktober, Diksmuide akhirnya dapat direbut Jerman. Jerman telah merencanakan serangan pada tanggal 30 Oktober. Serangan Jerman melalui wilayah Belgia dapat digagalkan oleh serangan balasan Belgia dan Perancis dari depan dan banjir dari belakang.

 Garis akhir

Manfaat

Pentingnya sejarah Pertempuran Yser :

1. Jerman tidak berhasil mengalahkan tentara Belgia.
2. Kegagalan pendudukan Jerman di Belgia, membantu untuk menyelesaikan pertempuran menuju laut dan memberikan kontribusi kepada pembentukan blok Barat.

Perjuangan tentara Belgia selama perang dan terutama pengalaman prajurit Flemish, mengarah pada peningkatan kesadaran nasional masyarakat Flemish yang didominasi Francophone (masyarakat berbahasa Prancis) Belgia.

Mendali Yser
 
Salib dari Yser (tanda jasa militer Belgia) diberikan kepada mereka yang telah terlibat pada perjuangan ini.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Champagne Pertama 
Medan pertempuran Champagne pertama.jpg
Medan pertempuran Champagne I (1914)

Pertempuran Champagne Pertama adalah pertempuran di kawasan Champagne di Perancis pada Perang Dunia I, terjadi mulai tanggal 20 Desember 1914 sampai 17 Maret 1915. Serangan pertama Sekutu terhadap Jerman sejak pembangunan parit dalam pertempuran menuju laut pada musim gugur 1914. Pertempuran terjadi sepanjang jalur dari Nieuport ke Verdun.

Korban pertempuran champagne Pertama.jpg

Pertempuran itu dimulai di sepanjang tepi selatan Salient Sayon (dekat Perthes), dan menyebar ke Givenchy (Pertempuran Givenchy 18 - 22 Desember), Perthes (20 Desember) dan Noyon (22 Desember).
Pertempuran yang memakan korban di pihak Perancis 90.000 orang, dan jumlah yang sama pada pihak Jerman.

Pertempuran Champagne Kedua

Pertempuran Champagne Kedua adalah pertempuran antara pasukan Perancis dan pasukan Jerman di Champagne, Perancis. Pertempuran ini terjadi pada 25 September - 6 November 1915. Pada tanggal 25 September 1915 setelah tiga hari persiapan artileri Angkatan Darat Kedua dan Keempat yang dipimpin oleh Jenderal de Castelnau mencoba menghancurkan posisi Jerman dari Aubérive sampai Ville-sur-Gambut. Baris pertahanan pertama dapat dihancurkan hingga 3 km dari Aubérive sampai Mesnil-lès-Hurlus, Prancis kemudian berhadapan dengan baris pertahanan kedua Jerman, lereng dengan jaringan kawat berduri dan tidak bisa ditembus karena tersembunyi dan tak dapat dilihat. Dari Mesnil sampai Ville-sur-Gambut, pasukan Inggris hanya bergerak beberapa ratus meter.

Korps Angkatan Darat ke-2 Kolonial, sisi kanan Angkatan Darat Keempat yang dipimpin oleh Jenderal Langle de Carry, mempunyai tugas berat, bergerak dari Souain-Perthes-lès-Hurlus untuk menghancurkan posisi pertama Jerman sepanjang 5 km dan maju sampai lebih dari tiga kilometer. Korps Angkatan Darat ke-2 Kolonial kemudian menyerang posisi kedua musuh di utara Perkebunan Navarino, sedangkan Korps Angkatan Darat ke-6 (Divisi Infanteri ke-127, Divisi Infanteri ke-12, Divisi Infanteri ke-56) menuju Sommepy-Vouziers. Selama menjadi bagian penyerangan, Blaise Cendrars (terlahir dengan nama Frédéric-Louis Sauser), anggota legiun, terluka parah di depan perkebunan Navarino. Ia kehilangan lengan, sebuah episode yang menjadi judul "Tangan Terputus" (fr: La Main coupée)cerita perang sekitar dua puluh tahun kemudian.

Navarin.jpg
Monumen Ossuaire « Perkebunan Navarin » Souain, Marne. 
 
Pada tanggal 29 September serangan dihentikan, dan meninggalkan 138,576 orang di luar pertempuran, sebuah kegagalan. Pada tanggal 6 Oktober pertempuran dimulai kembali selama 10 hari untuk memperbaiki keadaan, terutama di Tahure.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pengepungan Antwerpen adalah pertempuran antara Jerman dan Belgia pada Perang Dunia I. Tentara Jerman menginvasi Belgia pada pagi tanggal 4 Agustus 1914, dua hari setelah keputusan pemerintah Belgia untuk melarang tentara Jerman melewati wilayahnya untuk memasuki Perancis.

Race to the Sea 1914.png
Penarikan mundur pasukan
Karena tentara Belgia perlengkapannya kurang dan kalah jumlah dibandingkan tentara Jerman, maka mereka harus mundur dari benteng Liège (dikuasai Jerman pada tanggal 16 Agustus) dan Namur (Namen), yang jatuh ke tangan Jerman pada tanggal 24 Agustus.

Tidak mampu menahan serangan Jerman, Raja Albert I dari Belgia memerintahkan pasukan untuk mundur ke "Benteng Antwerpen" pada tanggal 20 Agustus. Kumpulan fortifikasi dan posisi defensif yang mengelilingi Antwerpen ini dianggap sebagai "reduit national" dan tidak bisa ditembus. "Benteng Antwerp" terdiri dari benteng-benteng abad ke-19 yang berada di lingkar-dalam dan lingkar-luar kota Antwerpen dengan jarak beberapa kilometer satu sama lain. Sisa-sisa benteng ini masih bisa dilihat saat ini dan sebagian besar menjadi area rekreasi.

Sebagian besar benteng Antwerpen dan posisi defensifnya ternyata sudah usang dan kekurangan daya-tembak. Tentara Jerman, yang senjatanya lebih baik dan lebih canggih, menyerang kota ini pada tanggal 28 September, didahului oleh pemboman besar-besaran. Antwerpen dikepung dan benteng di lingkar luar jatuh satu persatu antara tanggal 1 Oktober dan 4 Oktober. Tentara Belgia menderita akibat kelelahan dan turunnya moral akibat banyaknya korban yang jatuh.

Tanggal 5 Oktober adalah tanggal yang penting saat Pengepungan Antwerp; tentara Jerman menembus pertahanan Belgia di kota Lier, 20 kilometer tenggara Antwerp dan bergerak ke kota Dendermonde (selatan Antwerp) dimana mereka mencoba untuk menyeberangi sungai Scheldt. "Gerakan putar" tentara Jerman ini mengancam rute mundur tentara Belgia ke arah barat keluar dari Antwerpen, rute selatan dan timur telah ditutup oleh tentara Jerman dan rute utara tertutup oleh perbatasan Belgia-Belanda. Belanda tidak menawarkan bantuan apapun karena tidak ingin tertarik ke dalam konflik dan memilih posisi netral.

Tentara Belgia mundur sebelum terjebak dan meninggalkan kota Antwerpen sendirian. Tentara Belgia mundur ke barat menuju pantai pada tanggal 6 Oktober dan akhirnya menghentikan gerak maju Jerman di pinggir sungai Yser. Kota Antwerpen dipertahankan oleh garisun yang tersisa. Sebagian besar pasukan sudah ditinggalkan perwiranya dan banyak prajurit yang desersi dan menghancurkan senjata dan amunisi mereka sendiri.

Walikota Antwerpen, De Vos, menawarkan kapitulasi pada tanggal 10 Oktober dan Pengepungan Antwerpen berakhir. Kota Antwerpen tetap dikuasai oleh tentara Jerman sampai tahun 1918.

Sepertiga dari total tentara Belgia, sekitar 40.000 prajurit, melarikan diri ke Belanda, diikuti oleh satu juta pengungsi pada tahun 1914. Belanda menempatkan pengungsi Belgia sejauh mungkin dari perbatasan Belgia, karena tidak mau terseret ke dalam konflik, banyak di antaranya yang tetap tinggal di Belanda setelah 1918 dan tidak pernah kembali ke Belgia.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Pozières adalah pertempuran selama dua minggu (23 Juli - 7 Agustus 1916) di desa Pozières, Perancis selama Pertempuran Somme di tahun 1916. Meskipun divisi Inggris terlibat dalam sebagian besar pertempuran, terutama Pozières, pertempuran ini dikenang sebagai pertempuran Australia. Pertempuran berakhir dengan pasukan Sekutu menguasai dataran tinggi di utara dan timur desa, dan pada posisi mengancam pertahanan Jerman di Thiepval.

Desa Pozières terletak di atas punggung bukit kira-kira di tengah sektor Inggris dari medan Pertempuran Somme.

Pozieres plateau 28 August 1916.jpg

Pozières adalah sangat penting bagi pertahanan Jerman; desa membentuk pos pertahanan kedua sistem parit. Baris kedua Jerman ini diperpanjang dari luar Ladang Mouguet di utara, ke belakang Pozières, ke arah timur, lalu ke selatan menuju Bazentin ridge dan desa Bazentin le Petit dan Longueval.

Pada 14 Juli, selama Pertempuran Bazentin Ridge, bagian selatan baris kedua Jerman direbut oleh Angkatan Darat Keempat Inggris Letnan Jenderal Sir Henry Rawlinson. Prospek yang menggoda "menggulung" baris kedua Jerman dengan memutar ke arah utara. Namun, Pozières tetap berada di jalur.

Komandan Inggris, Jenderal Sir Douglas Haig, kekurangan amunisi untuk segera menyerang setelah 14 Juli. Percaya bahwa Pozières dan Thiepval tidak dapat dipertahankan Jerman, Inggris melanjutkan momentum ke timur, Haig memerintahkan Rawlinson untuk berkonsentrasi pada pusat antara Hight Wood dan Delville Wood serta desa Guillemont dan Ginchy.

Sementara itu, rencana mempertahankan tekanan dan merebut Pozières oleh seorang "mantap, metodis, selangkah-demi-langkah maju". Antara 13 dan 17 Juli, Angkatan Darat Keempat dibuat empat, serangan skala kecil terhadap Pozières tanpa hasil dan banyak korban. Dalam periode ini desa menjadi sasaran pemboman dan direduksi menjadi puing-puing. Pada dua kesempatan infanteri yang menyerang masuk ke dalam parit di selatan dan tepi barat desa, yang dikenal sebagai "parit Pozières", meskipun telah dua kali diusir. Upaya untuk mendapatkan bagian timur desa juga gagal.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Cambrai adalah kampanye Inggris pada tanggal 20 November - 3 Desember 1917) dalam Perang Dunia I. Tercatat untuk pertama kali menggunakan tank dalam operasi senjata gabungan dan berhasil menghancurkan Garis Hindenburg, sementara serangan balasan Jerman menunjukkan taktik infanteri baru yang menjadi bagian Kaiserschlacht. Liddell Hart menyebut pertempuran "satu pertempuran dalam sejarah perang, mulainya zaman baru."

Cambrai adalah sebuah kota di provinsi Nord Perancis (Nord-Pas-de-Calais). Pada tahun 1917 itu merupakan titik kunci pasokan untuk Stellung Siegfried Jerman (bagian dari Garis Hindenburg), dan di dekatnya, Bourlon Ridge, keuntungan yang sangat baik mengancam garis belakang Jerman di utara.

WWITrenchCambrai.jpg British tank crossing a trench.jpg
Tank Inggris menyeberangi parit.(bawah)
Prajurit Inggris berada di parit dengan latar belakang tank (atas).

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran St Quentin (juga disebut Pertempuran Guise Pertama) terjadi di Guise, Aisne (1914) pada Perang Dunia I. Pada tanggal 26 Agustus 1914, Sekutu mundur dari Le Cateau ke Saint Quentin. Komandan pasukan Perancis, Joseph Joffre, diperlukan Angkatan Darat Kelima di bawah komando Charles Lanrezac untuk menahan serangan balasan Jerman, meskipun empat mil terpisah dari Angkatan Darat Keempat Perancis di sisi kanan pasukan, dan BEF mundur ke sisi kiri.

German advance (1914).jpg
Pasukan Inggris berada dekat St. Quentin.
Pada tanggal 28 Agustus, Gerakan Korps kelima Lanrezac sebagian besar berbalik arah, dari menghadap ke utara menjadi ke barat bertempur di St. Quentin.

Pada tanggal 29 Agustus Angkatan Darat Kelima Perancis menyerang St Quentin dengan kekuatan penuh. Karena perintah merebut wilayah ini dari seorang perwira Prancis, Bülow menyadari serangan balasan, dan punya waktu untuk mempersiapkan diri. Serangan-serangan terhadap Guise oleh Korps XVIII yang menderita banyak korban berat dan sedikit berhasil, tetapi Korps X dan III di sisi kanan yang terhubung dengan komandan Korps I, Louis Franchet d'Esperey. Keberhasilan perlawanan di sisi kanan Guise memaksa Jerman untuk mundur termasuk unit elit Bülow dari Korps Pengawal.

Joffre mengeluarkan perintah kepada Lanrezac untuk mundur dan menghancurkan jembatan ke Oise. Perintah tidak sampai ke Angkatan Darat Kelima sampai pagi tanggal 30 Agustus, dan penarikan mundur pasukan terlambat beberapa jam. Namun, proses ini berjalan tanpa gangguan (tidak diserang atau dikejar) Angkatan Darat Kedua Jerman.

Jerman melihat pertempuran itu, seperti laporan Bülow tentang pertempuran tersebut, sebagai kemenangan, namun pengiriman perwira ke Angkatan Darat Pertama Jerman dan Alexander von Kluck untuk melaporkan bahwa pasukan terlalu lelah untuk mengejar pasukan Perancis.

Monumen dibangun sebagai tanda penghormatan Angkatan Darat kelima Perancis di Guise

Kluck, yang gagal bergabung dengan Moltke, Kepala Staf Jerman, kemudian berinisiatif mendukung Bülow. Pada tanggal 2 September, pasukannya ditempatkan dari Marne di Chateau-Thierry sampai Oise. Berkat pengintaian udara, Kepala Staf Perancis, Jenderal Joseph Joffre, mendapat informasi tentang perubahan arah pasukan Jerman yang sedang menyiapkan serangan besar-besaran melawan pasukan Perancis dan Inggris di sepanjang Marne. Pertempuran ini menyebar dari Audigny sampai Voulpaix.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Albert (1916) adalah Serangan Inggris dan Perancis terhadap Jerman sebagai serangan pembukaan pada Pertempuran Somme. Pertempuran ini terjadi pada tanggal 1 Juli sampai 13 Juli 1916.

Worldwari map13 largerview.jpg
Posisi Britania Raya, Perancis dan Jerman selama Pertempuran Albert

Hasil dari kesalahan perencanaan dan taktik Inggris serta kesiapsiagaan Jerman pada hari pertama serangan mengakibatkan kemenangan besar Jerman di sebagian besar daerah penyerangan Inggris. Angkatan Darat Inggris menderita banyak korban dengan tingkat korban terbanyak dalam satu hari. Ini akibat pertempuran di ekstrim kanan dimana direbut dan ditahan Mametz dan Montauban.

Sebaliknya, serangan Perancis berhasil dan relatif sedikit korban menurut standar hari. Korps XX maju melampaui Curgy utara Somme dan dihentikan hanya karena bergantung pada Inggris untuk melindungi sayap kiri, dan Inggris tidak maju di luar Montauban. Selatan Somme Korps Koloni Perancis I dan Korps XXXV mendekati posisi kedua Jerman dan menangkap 4.000 tahanan.

"Kabut perang" berarti bahwa butuh waktu untuk banyak informasi tentang sejauh mana kegagalan, beberapa keberhasilan dan pelajaran yang bisa dipetik untuk kembali ke komando tinggi Inggris dan perubahan yang akan diterapkan. Oleh karena itu mereka lambat untuk berusaha mengeksploitasi kesuksesan pada 1 Juli, perebutan Mametz dan Montauban di selatan jalan Albert-Bapaume.

Namun, Jenderal Farndale menegaskan bahwa "Sudah jelas bahwa cahaya terakhir pada tanggal 1 Juli, telah digunakan, serangan merayap itu sukses" dan karena ada cukup informasi taktis untuk Inggris dengan beberapa optimisme untuk operasi masa depan.

Selama sisa periode ini sejumlah serangan kecil dilakukan Inggris sementara mereka mencerna hasil serangan besar pertama. Pada tanggal 9 Juli perintah untuk pasukan artileri pada pertempuran berikutnya ditandatangani, dan ini meninggalkan tanggung jawab bagi setiap individu dari Korps BGRAs, dan mengabadikan kelonggaran koordinasi daripada koordinasi ketat dari artileri dan infanteri yang berkontribusi terhadap kegagalan pada 1 Juli.

Serangan Perancis menyeberangi dan selatan Somme jauh lebih berhasil daripada serangan Inggris di utara Somme. Namun, kegagalan Inggris berarti Korps XX Perancis di utara Somme tidak bisa melanjutkan kemajuan seperti yang diperlukan untuk melindungi sayap kiri. Berlawanan dengan sektor Perancis geografi kurang menguntungkan untuk bertahan, parit Jerman dan Dugouts itu tidak sekuat orang-orang di utara, dan lebih mudah melumpuhkan pertahanan unit Jerman. Angkatan darat ke-6 Perancis maju sejauh 10 km pada setiap titik sepanjang 20 km dan menempati seluruh dataran tinggi Flaucourt (yang merupakan pertahanan utama Peronne) 12.000 tawanan, 85 meriam, 26 ranjau, 100 senapan mesin, dan berbagai senjata lainnya, semua dengan kerugian yang relatif minimal.

Pada tanggal 11 Juli Inggris membombardir dan menyerang Trones Wood (antara Montauban dan Guillemont), yang dianggap perlu diadakan sebelum tahap pertempuran berikutnya, serangan pada posisi kedua Jerman terhadap Guillemont dan Longeval, dapat diluncurkan. Trones diduduki Inggris dan sebagian dari Wood pada tanggal 12 Juli, tapi tak berhasil merebut seluruh Wood sampai tanggal 14 Juli.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Bazentin Ridge adalah serangan Angkatan Darat Inggris Keempat pada waktu fajar pada 14 Juli 1916, menandai dimulainya Pertempuran Somme tahap kedua. Dihentikan oleh salah satu komandan Perancis sebagai "serangan amatir yang dilaksanakan oleh amatiran", ternyata cukup sukses bagi Inggris, kontras dengan serangan hari pertama di Somme. Namun, seperti hari pertama, Inggris gagal memanfaatkan keuntungan mereka setelah kemenangan dan perlawanan Jerman menegang, periode pertempuran berdarah dimulai.

Pasukan Inggris terluka dekat Bernafay Wood
Seorang tahanan Jerman membantu pasukan Inggris yang terluka 
dalam perjalanan mereka ke pos pengganti di Bazentin Ridge, 19 Juli

Pertempuran

Setelah 1 Juli, hari pertama pertempuran di Somme, rencana Jenderal Douglas Haig kacau. Utara jalan Albert-Bapaume serangan itu gagal total sementara di selatan jalan, Korps XX Perancis, Montauban dan Mametz telah direbut. Oleh karena itu Haig memutuskan untuk berkonsentrasi pada operasi berikutnya di selatan. Angkatan Darat Keempat, Letnan Jenderal Henry Rawlinson, yang bertanggung jawab untuk seluruh sektor Inggris pada tanggal 1 Juli, menyerahkan sektor utara kepada Angkatan Darat Cadangan, Letnan Jenderal Hubert Gough.

Sementara Inggris telah melalui garis pertama pertahanan Jerman di utara Sungai Somme, mereka kini berhadapan dengan garis pertahanan kedua yang diperluas di sepanjang punggung bukit dekat dataran tinggi Thiepval di utara sampai desa-desa di Guillemont dan Ginchy selatan. Di mana Inggris telah sampai di Mametz dan Montauban, posisi kedua sepanjang Bazentin Ridge yang terletak di desa-desa; Bazentin le Petit, Bazentin le Grand dan Longueval. Berbatasan dengan Longueval adalah Delville Wood. Desa-desa ini menjadi tujuan serangan Inggris.

Awal Operasi

Dua minggu sebelum pertempuran, Angkatan Darat Keempat melakukan serangkaian operasi awal untuk mempersiapkan serangan di Bazentin Ridge. Ini melibatkan serangkaian tujuan pada hari pertama yang tetap menunjukkan ketidakberhasilan dan harga yang harus dibayar untuk kebimbangan dan keragu-raguan dari komandan senior Inggris.

Pada 3 Juli Divisi ke-9 (Skotlandia), cadangan dari Korps XIII pada tanggal 1 Juli, menempati Bernafay Wood sebelah timur Montauban sementara Divisi ke-19 (Barat) merebut La Boisselle pada usaha kedua. Serangan Divisi ke-12 (Timur) di Ovillers, utara jalan Albert-Bapaume , merupakan sebuah kegagalan. Hari berikutnya Divisi ke-9 menduduki Caterpillar Wood di barat Montauban. Keberhasilan Korps XV di Mametz Wood tidak begitu mudah. Jerman telah meninggalkan wood pada hari pertama tetapi kembali pada tanggal 4 Juli ketika Inggris melakukan upaya pertama mereka untuk merebutnya.

Pada 7 Juli satu rangkaian serangan dilakukan terhadap Ovillers, Contalmaison dan Mametz Wood. Divisi ke-12 dan ke-25 membuat keberhasilan kecil di Ovillers tetapi serangan Divisi ke-17 (Utara) di Contalmaison dan Divisi ke-38 (Welsh) menemukan kegagalan. Welsh mencoba lagi pada 10 Juli dan merebut Mametz Wood pada upaya kedua, sementara Divisi ke-23 merebut Contalmaison.

Dari 3 - 13 Juli, Angkatan Darat Keempat dilakukan 46 "tindakan" dalam persiapan untuk mendorong aksi berikutnya, mengakibatkan 25.000 korban. Rawlinson dan Haig telah dikecam karena pendekatan satu demi satu pertempuran, sering menyebabkan korban Inggris lebih parah dari Jerman. Namun, dengan merebut Contalmaison dan Mametz Wood, Angkatan Darat Keempat sekarang dalam posisi untuk menyerang Bazentin Ridge.

Rencana Operasi

Rencana untuk 14 Juli dari Jenderal Rawlinson dan Komandan Korps XIII, Letnan Jenderal Walter Congreve, tidak mirip dengan rencana yang gagal pada 1 Juli. Serangan akan dilakukan oleh dua korps; Korps XV akan menyerang di kiri, bertempur di Bazentin le Petit dan Bazentin le Grand sementara Korps XIII akan menyerang di sebelah kanan, bertempur di Longueval. Setiap korps akan menyerang pada waktu fajar, pukul 03.25, dengan dua divisi masing-masing. Batalyon yang menyerang akan bermalam terlebih dahulu kemudian pindah ke daerah tak bertuan, yang terdiri atas 1.200 yard (1.100 m) lebar, dan berada dekat dengan kawat berduri Jerman, siap untuk menyerang parit Jerman ketika pertempuran dimulai.

Serangan akan didahului oleh pemboman artileri merupakan badai berlangsung hanya 5 menit. Persiapan artileri sebenarnya dimulai tiga hari sebelumnya, pada tanggal 11 Juli, tapi tidak seperti pada 1 Juli dan tidak ada sinyal jelas akan niat Inggris untuk menyerang. Penekanannya adalah pada baterai anti-api untuk menghilangkan senjata Jerman. Kritis, Rawlinson memiliki 950 senjata dan Howitzer, dua pertiga kekuatan artileri yang tersedia pada tanggal 1 Juli, tapi menyerang dengan sekitar seperempat dari 1 Juli di bagian depan, hanya 6.000 yard (5.5 km) dibandingkan dengan 22.000 yard (20 km). Juga kedalaman rencana penyerangan kurang sehingga perebutan posisi kedua Jerman mengalami sebuah kejenuhan; 660 beban untuk setiap jengkal (330 kg/m) parit Jerman.

Jenderal Haig menyatakan keraguan atas rencana ini, percaya hal itu terjadi terlalu rumit dan bahwa perjalanan malam pasukan Angkatan Darat yang baru tidak berpengalaman dan akan mengakibatkan kebingungan dan kekacauan sebelum serangan dimulai. Haig mengusulkan sebuah rencana alternatif, menyerang dari Mametz Wood merupakan garis yang paling dekat, dan kemudian "menggulung" sayap Jerman di Longueval. Namun, rencana Rawlinson berlaku meskipun Haig memerlukan divisi cadangan Korps XIII , Divisi 18 (Timur) , akan membebaskan Trônes Wood di sayap ekstrem kanan.

Serangan Fajar

Peta posisi kedua Jerman menghadapi Divisi 21 Inggris 
dekat Bazentin le Petit, 14 Juli 1916. garis awal Divisi 
berwarna merah. Daerah yang direbut pukul 09.00 
ditunjukkan oleh garis merah putus-putus.

Bagian posisi kedua Jerman dari Bazentin le Petit sampai Longueval dijaga oleh Divisi Pengawal 3 Jerman. Pada pukul 03.20 artileri Inggris membuka serangan dengan pemboman di garis depan parit Jerman. Pukul 03.25, ketika pemboman ke lini kedua parit cadangan, infanteri bergegas menyerbu masuk parit. Pemboman jatuh di parit cadangan selama dua menit sebelum pemboman kembali. Gelombang pertama infanteri Inggris, terdiri dari serangkaian pemboman untuk mendorong pasukan langsung ke parit cadangan, meninggalkan gelombang berikutnya untuk menyapu garis depan. Kejutan tidak lengkap dan pasukan bertahanan Jerman bertemu dengan infanteri Inggris dengan senapan dan senapan mesin, tetapi di tempat lain garnisun tertangkap di tepat peristirahatan mereka. Seperti pada tanggal 1 Juli, kualitas pemotongan kawat bervariabel; kadang-kadang tidak menimbulkan hambatan, di tempat lain gelombang penyerang dapat mengangkat dan memotong perbagian.

Di sebelah kiri, Divisi 21 diserang dari Mametz Wood, persimpangan tak bertuan ke Bazentin Wood le Petit. Di sebelah kanan mereka adalah Divisi ke-7 yang telah dihadapkan dengan lebih dari 1.000 yard (900 m) tak bertuan untuk menyeberang, yang merayap menyerang batalyon dalam radius 100 yard (90 m) dari kawat Jerman ketika pemboman terjadi. Divisi ke-7 dihadapkan dengan kompleks di parit Jerman - parit Flatiron, parit Marlboro dan Snout - yang terletak di luar Bazentin Wood le Grand, tetapi mereka mencapai semua tujuan. Pada pagi kedua divisi Korps XV telah merebut desa Bazentin le Petit.

Di sebelah kanan, menyerang antara Bazentin le Grand dan Longueval adalah dua divisi Korps XIII, dari kiri ke kanan, Divisi ke-3 dan Divisi ke-9 (Skotlandia). Divisi ke-9, yang juga berisi Brigade Infanteri Afrika Selatan (di dekat cadangan Carnoy), mengambil Longueval dan sampai di pinggiran Delville Wood yang mengapit desa tetapi tidak dapat merebut benteng Jerman di Ladang Waterlot .

Di pusat, hal-hal yang tidak berjalan dengan baik untuk menyerang Divisi ke-3 dari Montauban menuju Bazentin le Grand. Kawat Jerman dipotong dan pasukan bertahan waspada. Pertahanan Jerman yang ditetapkan tak bertuan ketinggalan menyerang batalyon tetapi mendukung gelombang serangan. Ciri khas keberuntungan divisi adalah Batalyon ke-7, King's Shropshire Light Infanteri (Brigade ke-8) yang kehilangan delapan perwira dan 200 prajurit lainya tewas. Sementara itu Divisi 18 (Timur), menyerang dari Bernafay Wood, timur Montauban, telah berhasil merebut Trônes Wood.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Le Cateau terjadi pada tanggal 26 Agustus 1914, setelah Inggris, Perancis dan Belgia mundur dari Pertempuran Mons dan bertahan melawan serangan Jerman di Le Cateau-Cambrésis.

British casualties at Le Cateaua.jpg
Pasukan Inggris gugur dalam Pertempuran Le Cateau.

Jerman menyerang pasukan Inggris yang dipimpin oleh Jenderal Sir Horace Smith-Dorrien. Tidak seperti pada Pertempuran Mons, sebagian besar korban akibat tembakan senapan api Inggris. Le Cateau merupakan pertempuran pasukan artileri. Sisi kiri pasukan Inggris, mulai pecah di bawah tekanan Jerman. Kedatangan kavaleri Perancis, Sordet untuk melindungi sayap kiri Inggris, walaupun Jerman berupaya untuk menyusup dan mengepung pasukan Inggris yang mundur.

Sekutu mundur ke St Quentin. Pada pertempuran di Le Cateau, korban pasukan sekutu sebanyak 7.812 terluka, dibunuh, atau ditawan dari 40.000 orang. Beberapa resimen Inggris bahkan telah menghilang. 38 senjata artileri ditinggalkan.

British Expeditionary Force (BEF) mundur selama lima hari tanpa ada gangguan dari Jerman, meskipun kemudian dikritik karena keputusan Jenderal Sir Horace Smith-Dorrien untuk bangkit dan melawan kembali.

Konsensus diantara sejarawan militer bahwa pertempuan Le Cateau merupakan tindakan yang paling sukses dalam sejarah militer Inggris, seperti Pertempuran Sungai Imjin selama Perang Korea dari segi strategi.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Angkatan Darat Cadangan pimpinan Letnan Jenderal Hubert Gough berhasil keluar dari posisi yang dikuasainya pada pertempuran Somme (1 Juli) dan Gough bermaksud untuk mempertahankan tekanan pasukan Jerman di dataran tinggi di atas Sungai Ancre. Namun, dalam tiga minggu bertempur, pasukan hanya mampu mendesak musuh sejauh 910 m (1000 yard).

Korps Kanada, dipimpin oleh Letnan Jenderal Sir Julian Byng, terlibat dalam pertempuran Ancre Heights. Divisi 4 Kanada juga terlibat, terikat pada Korps II Inggris.

Pergeseran pasukan.jpg
Pergeseran Pasukan
Pada tanggal 1 Oktober, pasukan Kanada sekali lagi mencoba untuk merebut Parit Regina yang membentang selama lebih dari satu kilometer. Artileri membombardir Parit Regina, tetapi Canadian Mounted Rifles ke-4 dan ke-5 menemukan bahwa pertahanan kawat berduri belum dipotong dan senapan mesin Jerman selamat tanpa cedera serta mampu untuk melindungi dengan tembakan. Banyak korban ditemukan. Batalyon Infanteri ke-22, ke-24 dan ke-25 juga menghadapi kawat berduri dan hujan tembakan senapan mesin tapi berhasil merebut sebagian Parit Kenora.

Tahap kedua berlangsung pada tanggal 8 Oktober. Batalyon ke-8 Kanada memperbaharui serangan terhadap Parit Regina. Artileri sekali lagi gagal menghancurkan posisi Jerman dan Kanada menemui perlawanan sengit. Pada akhir tahap ini, beberapa sasaran tercapai dengan kerugian di pihak Kanada sebanyak 1.364 korban. Korps Kanada lalu mengundurkan diri, sementara Divisi ke-4 Kanada ditempatkan di Somme untuk pertama kalinya.

Tahap akhir pertempuran dimulai pada 21 Oktober, meskipun medan basah kuyup. Batalyon 87 dan 102 menyerang kembali Parit Regina. Kali ini artileri telah menghancurkan kawat berduri Jerman dan pasukan Kanada merebut posisi Jerman dalam waktu sekitar 15 menit. Pada 24 Oktober Batalyon 44 mulai menyerang kembali Parit Regina. Namun, serangan gagal. Pasukan Inggris dan Kanada kemudian disatukan kembali. Pada 10 - 11 November, mereka mulai menyerang bagian yang tersisa di Parit Regina. Penyerang mencapai sasaran dalam beberapa jam dan Pertempuran Ancre Heights berakhir. Mereka menghabiskan sisa hari untuk berkonsolidasi menghadapi serangan balasan musuh. Dua hari kemudian, artileri Kanada mendukung pasukan Inggris saat mereka menyerbu Ancre.

James Richardson dari Batalyon-16 mendapat Victoria Cross, berdiri di batas tembakan dan memainkan bagpipe (alat musik Irlandia) ketika serangan batalyon telah terhenti dan orang-orang berlindung. Permainannya mengilhami orang-orang untuk menekan musuh. Richardson selamat dari pertempuran ini, tapi VC anumerta dianugerahi ketika ia terbunuh di kemudian hari.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pengepungan Maubeuge terjadi pada 24 Agustus sampai 7 September 1914 ketika garnisun Perancis di Benteng Maubeuge menyerah kepada Jerman pada awal Perang Dunia I di Blok Barat.

Bundesarchiv Bild 146-1970-009-17, Maubeuge, Festung, zerstörte Kasematten.jpg
Bagian benteng Maubeuge yang hancur oleh Jerman

Kronologi

* 7 Agustus: Jenderal Fournier, Komandan Benteng Maubeuge, memperingatkan bahwa serangan Jerman terhadap Sungai Meuse. Jenderal Joseph Joffre segera memecatnya karena kalah.

* 12 Agustus: Pada Konsul Perang Inggris, Lord Kitchener memprediksi Jerman akan melewati Belgia, namun dipaksa untuk mengirim British Expeditionary Force (BEF) ke Maubeuge seperti yang direncanakan, bukan kembali ke Amiens. Kitchener memerintahkan Jenderal John French untuk tidak berada di bawah komando Angkatan Darat Perancis.

* 20 Agustus: BEF sepenuhnya berada di sekitar Maubeuge.

* 21 Agustus: Jenderal Karl von Bülow memerintahkan Alexander von Kluck's Angkatan Darat Pertama dari barat bergerak ke selatan menuju Maubeuge. Kluck keberatan karena hal ini mencegah Angkatan Darat Pertama Jerman menghadang Sekutu. BEF mulai berjalan ke arah utara dari Maubeuge menuju Mons, pengintai melaporkan bahwa pasukan Jerman yang kuat langsung menuju ke sana, tetapi laporan tidak dihiraukan Sir Henry Wilson.

* 24 Agustus: John French mengancam akan mundur dari Angkatan Darat Kelima Charles Lanrezac menuju Amiens, sampai dibujuk oleh Joffre, John French juga dianggap berhasil menggabungkan pasukan BEF ke benteng Maubeuge. kemudian pada hari yang sama Angkatan Darat Kedua Jerman menyerang benteng Maubeuge Perancis.

* 25 Agustus: Angkatan Darat Kedua Jerman bertahan untuk melindungi korps dari serangan benteng Maubeuge Perancis, Komandan benteng diperintahkan untuk bertahan.

* 26 Agustus: pasukan Jerman telah menyelidiki kekuatan benteng Perancis.

* 29 Agustus - 5 September: Perancis yang dikelilingi benteng menjadi sasaran pemboman artileri berat Jerman.

* 5 September - 6 September: Setelah pemboman, pasukan Jerman menyerbu empat daerah pertahanan yang dilaluinya.

Pasukan Jerman di Benteng Maubeuge

* 7 September: Sepanjang malam, jauh di belakang garis depan pertempuran, Pertahanan di Maubeuge ditaklukan Jerman, dengan 40.000 tentara Perancis ditawan.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Arras berlangsung di Arras, Perancis dari tanggal 9 April sampai tanggal 16 Mei 1917. Pasukan Inggris (Angkatan Darat Pertama British dipimpin Allenby, Angkatan Darat Ketiga Inggris dipimpin Henry Horne , dan Angkatan Darat Kelima Inggris dipimpin Hubert Gough) dengan komando tertinggi Marsekal Haig, berhadapan dengan Angkatan Darat kedua dan keenam Jerman.


Sudut kota, Arras, Perancis. Februari, 1919.

Awal Pertempuran

Setelah pengeboman artileri besar-besaran (sepanjang di 7 kilometer dalam perang parit), Inggris berhasil melewati garis pertahanan Jerman. Kesuksesan yang utama dan penting adalah merebut Hill 145 (dikenal sebagai Vimy Ridge) oleh Korps Kanada karena memberikan keuntungan signifikan. Secara total, dari 200 tank Mark IV yang dijanjikan siap sebelum penyerangan ternyata tak satupun diproduksi, dan sekitar 45 tank Mark II yang digunakan sebagai pengganti, serta baju pelindung mereka dibuat dari bangkai tank Mark I.

Pada intinya, tujuan Sekutu sejak 1915 untuk menerobos pertahanan Jerman dan melibatkan pasukan Jerman dalam perang gerak. Penyerangan di Arras sebagai bagian dari rencana ini. Secara bersamaan serangan besar-besaran (Serangan Nivelle) sekitar 80 kilometer ke arah selatan, tujuan operasi gabungan ini adalah untuk mengakhiri empat puluh delapan jam perang. Kerajaan Inggris bertujuan lebih sederhana:

1. untuk menarik tentara Jerman bergerak ke wilayah yang dipilih agar mudah diserang Perancis, dan
2. untuk mengambil dataran tinggi dan mendominasi dataran Douai dari Jerman.

Pertempuran

Tujuan Inggris melakukan pertempuran di Arras untuk memaksa Jerman agar menarik pasukan mereka dari Aisne. Pasukan Perancis di bawah Jenderal Robert Nivelle, bersiap-siap untuk menyerang. Tiga pasukan Inggris terlibat dalam operasi ini. Di tengah disiapkan Angkatan Darat Ketiga Jenderal Sir Edmund Allenby, sebagai pemimpin serangan. Di Utara, Angkatan Darat pertama Inggris Jenderal Sir Henry Horne, termasuk Korps Kanada Jenderal Sir Julian Byng, menyerang Vimy Ridge. di Selatan, Angkatan Darat Kelima Jenderal Sir Hugh Gough untuk menyerang garis Hindenburg di sekitar Bullecourt. Mereka berhadapan dengan para prajurit dari Angkatan Darat Keenam Jerman Jenderal Ludwig von Falkenhausen.

Komandan Inggris, Marsekal Sir Douglas Haig memutuskan untuk melanjutkan penyerangan di Arras sampai pertengahan Mei, dan pertempuran terkonsentrasi di Bellecourt. Keputusan Haig didorong oleh keinginan untuk mengusir Jerman dari wilayah barat.

Ketika pertempuran resmi berakhir pada tanggal 16 Mei, pasukan Kerajaan Inggris telah membuat kemajuan yang signifikan, namun tak mampu mencapai terobosan besar. Percobaan taktik, misalnya, merayap di bendungan telah diuji khususnya persiapan, dan telah menunjukkan bahwa pengaturan serangan terhadap posisi yang dijaga ketat bisa berhasil. Namun strategi ini menemui kebuntuan.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Setelah penyerahan benteng Liège oleh Angkatan Darat Belgia pada tanggal 16 Agustus 1914, Jerman maju terus menuju Paris sesuai dengan Rencana Schlieffen. Sisa dari tentara Belgia mulai mundur ke arah BEF (British Expeditionary Force), yang maju untuk menyerang pasukan Jerman. Sementara itu Perancis sedang terdesak ke ujung selatan dan tidak dapat membantu Belgia. Tentara Jerman gagal terhadap aksi kecil Inggris. Para BEF telah maju ke Belgia di sebelah kiri dari Tentara Kelima Perancis dan mengambil posisi di 20 mil (32 km) sepanjang Kanal Mons-Condé pada tanggal 22 Agustus 1914. Ketika Angkatan Darat Kelima dikalahkan dalam Pertempuran Charleroi, para komandan BEF, Marsekal Sir John French, sepakat untuk menyiapkan posisinya selama 24 jam.

Battles of Charleroi and Mons map.png
Peta Pertempuran Charleroi dan Mons

Kontak Pertama

Pada 6, pada tanggal 23 Agustus 1914, barisan depan Jenderal Alexander von Kluck's Jerman Pertama Angkatan Darat, tiba di Casteau, sebuah desa kecil di sepanjang Chausée de Bruxelles di pinggir Mons. Mayor Thomas Jembatan berada di perintah C Skuadron, 4th Dragoon Pengawal Kerajaan Irlandia dan ia memberi perintah untuk membuka api di kavaleri Jerman, setelah pengejaran singkat, menyebabkan mereka jatuh kembali. Drummer Edward Thomas melepaskan tembakan pertama senapan Inggris saat perang, sementara Kapten Hornby, yang memimpin charge, membunuh Jerman pertama dengan pedang. Thomas, yang selamat dari perang, kemudian dipindahkan ke Korps Senjata mesin dan dianugerahi Medali Militer.

BEF terdiri atas empat divisi tentara reguler disusun seperti Korps Pertama(Douglas Haig) dan Korps Kedua (Horace Smith-Dorrien). Tentara Inggris yang berpengalaman dan prajurit profesional, mampu menembak cepat dan akurat dengan senapan Lee-Enfield, rata-rata prajurit infanteri yang mampu memukul sasaran seukuran manusia pada jarak 300 meter dengan kecepatan minimal 15 tembakan permenit; banyak yang bisa menembak lebih. Oleh karena itu, laporan setelah pertempuran mengulangi keyakinan Jerman bahwa prajurit mereka menjadi sasaran tembakan senapan mesin. Ini adalah senjata api kecil yang wajib bagi militer, tentara Jerman tidak bisa berharap pada mereka untuk mencapai keterampilan dan peralatan sesuai yang diberikan. Mereka bersiap-siap dengan posisi bertahan.

Pertempuran

Pagi
Pukul 9 pagi, delapan batalyon Jerman, dibantu oleh tembakan artileri, maju melawan dua batalyon dari Divisi Infanteri ke-3 di "lapangan parade pembentukan" dan menderita kerugian besar. Begitu kuat dan terus menerus adalah penembakan bahwa Jerman percaya bahwa mereka menghadapi senapan mesin baterai tapi pada saat Inggris hanya memiliki dua senapan mesin per batalion-hampir semua Para korban yang ditimbulkan oleh bersenjata senapan.

Segera setelah itu, sisa dari Angkatan Darat Pertama Jerman tiba. Tembakan artileri memaksa Inggris dari posisi mereka, namun mereka masih menaruh memberikan perlawanan yang kuat. Pihak Inggris menderita 1.600 korban tapi semangat tetap tinggi dan pasukan percaya bahwa mereka dapat terus menahan serangan Jerman.

Pasukan penembak ke-4 Inggris membela dari utara Mons. Batalion membuat jembatan gantung yang terletak pada titik ini dan jembatan kereta api lebih ke barat. Jembatan ini dibuka, memotong jalan Mons-Brussels. Pada jembatan gantung Inggris memegang Jerman. Seorang tentara Jerman, August Neiemeier, berenang melintasi kanal dibawah senapan Inggris dan mengoperasikan mesin-mesin untuk menutup jembatan. Sementara ia meninggal setelah menutup jembatan, usahanya memungkinkan Jerman untuk melintasi jembatan.

Beberapa ratus meter ke barat, batalyon regu senapan mesin memberikan dukungan. Regu mengalami kerugian berat dari senapan Jerman. Lt Dease (satu-satunya anggota Regu yang terluka) mulai menembak salah satu senapan mesin. Ia terluka lima kali dan dievakuasi ke markas bantuan batalion, dimana ia meninggal. Prajurit Sidney Godley, terluka, mengoperasikan senjata lain, saat penarikan batalion. Sebelum ia kewalahan dan ditawan, Prajurit Godley membongkar bagian senapan sebelum melempar potongan-potongan ke dalam kanal. Untuk tindakan mereka, Lt Dease dan Prajurit. Godley diberikan Victoria Cross,[5][6] penghargaan tertinggi untuk keberanian dalam Angkatan Darat Inggris dan yang pertama diberikan selama perang.

Kompi "D" Middlesex Resimen ke-4 datang di bawah tembakan Jerman di Obourg. Penyerang mereka, Resimen Infanteri ke-31, menderita kerugian besar, tetapi segera diperkuat oleh Infanteri ke-85 dan ke-86 Resimen Penembak. Ketiga resimen Jerman terdiri dari 18 Divisi, sebuah unit yang terdiri dari divisi dari utara Jerman. 18 Divisi terlibat berhadapan Inggris sewaktu menggunakan kanal tanpa penjagaan, terletak sekitar 1 km timur dari Gare, untuk mendapatkan kavaleri menyeberang. Pada tengah hari, Inggris mulai melakukan penarikan. Untuk membantu mereka, mereka meminta penguatan dari Batalion ke-2 Kerajaan Irlandia. Bala bantuan tiba di bawah tembakan. Pada waktu itu Divisi 17 Jerman telah menyeberangi kanal dengan kekuatan di Havre dan bergerak di sepanjang jalan Havre-Mons untuk menumpas sayap kanan Inggris. Pada Obourg Gare, seorang prajurit tak dikenal mengorbankan dirinya untuk menutup gerakan mundur dari unitnya. Tersisa di stasiun pembakaran gedung, prajurit terlibat maju tentara Jerman dengan senapan. Diperbolehkan pembelaannya sisa Kompi "D" dan "B" Middlesex ke-4 untuk mundur ke Pemakaman St Symphorien di pinggiran Mons.

Sore
Pada pukul 14.00, Inggris mulai melihat mereka sedang kewalahan. Setelah mendengar dari tentara Prancis mundur ke selatan dan melihat tentara Belgia juga telah mundur, mereka menyadari sayap kanan mereka terbuka. BEF diikuti para sekutu-sekutunya mundur dari Mons; Batalion ke-2 dari Royal Munster Fusiliers dalam aksi garis belakang klasik yang diselenggarakan sembilan batalyon Jerman menderita parah dan kewalahan pada 27 Agustus di Etreux, hanya 240 orang selamat. Mereka mengamankan penarikan tanpa gangguan divisi mereka, Korps Kedua gagal kembali ke Le Cateau dan Korps Pertama untuk Landrecies. Penarikan pasukan berlangsung selama 14 hari, BEF merebut pinggiran Paris.

Koran memberitakan pertempuran dan penarikan pasukan mengakibatkan peningkatan yang cepat dalam perekrutan tentara di Britania. Pada April 1915, rumor yang beredar menyatakan bahwa sebuah "keajaiban" atau intervensi dari "Angels of Mons" telah dibantu tentara Inggris.

Novelis Jerman dan Kapten Walter Bloem menulis dalam buku hariannya setelah pertempuran:

«... Laki-laki semua kedinginan sampai ke tulang, hampir terlalu lelah untuk bergerak dan dengan kesadaran menyedihkan kekalahan menimbang berat kepada mereka. Sebuah kekalahan yang buruk, tidak boleh ada gainsaying itu ... kami sudah dipukuli habis-habisan, dan oleh Inggris - oleh Inggris kami jadi tertawa pada beberapa jam sebelumnya.»

Prajurit BEF yang berperang di Mons kemudian mendapat medali, Bintang Mons. Pada tanggal 19 Agustus 1914, Kaisar Wilhelm diduga mengeluarkan Perintah Harian yang dibaca : «saya pertama tentara untuk membasmi pengkhianatan Inggris; berjalan Marsekal perancis's hina kecil Angkatan Darat.» Hal ini menyebabkan Inggris "Tommies" dari label sendiri dengan bangga BEF The Old Contemptibles. Namun, tidak ada bukti Perintah Harian yang terkenal pernah ditemukan dalam arsip Jerman setelah perang, dan mantan Kaisar membantah telah memberikannya. Sebuah penyelidikan yang dilakukan oleh Jenderal Frederick Maurice menelusuri asal-usul Perintah ke GHQ Inggris, tempat itu telah mengarang dengan maksud propaganda.

Peninggalan Perang

Jerman membuat pemakaman militer St Symphorien setelah Pertempuran Mons. Tempat pemakaman tersebut merupakan tempat yang sudah ada tetapi mereka menciptakan sebuah gundukan buatan di pusat pemakaman secara melingkar. Pada titik tertinggi gundukan, mereka mendirikan sebuah tugu batu granit abu-abu, tinggi 23 meter, dengan prasasti Jerman "Dalam memori dari tentara Jerman dan Inggris yang jatuh dalam pertempuran di dekat Mons pada tanggal 23 dan 24 Agustus 1914". Mereka awalnya dimakamkan 245 Jerman dan 188 tentara Inggris di sana. 27 makam Inggris lainnya dibawa setelah gencatan senjata. Kemudian kuburan tambahan Inggris, Kanada dan Jerman itu pindah ke sini dari kuburan lain. Sekarang ada lebih dari 200, korban perang 1914-1918 diperingati di pemakaman ini. Dari jumlah tersebut, lebih dari 60 yang teridentifikasi dan peringatan khusus yang didirikan untuk lima prajurit dari Resimen Kerajaan Irlandia, diyakini dimakamkan di kuburan tanpa nama. Catatan khusus peringatan lainnya nama empat tentara Inggris, terkubur oleh musuh dalam Obourg Churchyard, yang tidak dapat ditemukan. Ini berisi kuburan pemakaman dua tentara dianggap menjadi yang pertama (Prajurit J. Parr, Batalyon ke-4, Resimen Middlesex., 21 Agustus 1914) dan yang terakhir (Prajurit GL Harga, Infanteri Kanada, 11 November 1918) prajurit negara persemakmuran dibunuh selama Perang 1914-18. Sebuah meja kecil di pemakaman merupakan pemberian dari Jean Houzeau de Lehaie. Masyarakat Mons telah menciptakan wisata medan perang. Peta dan buku panduan dapat diperoleh di Tourist Office di Grand Place.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Charleroi, atau Pertempuran Sambre (1914) pada Perang Dunia I, terjadi pada 21-23 Agustus 1914 antara Perancis yang dipimpin oleh Jenderal Lanrezac dan Jerman dipimpin oleh Jenderal von Bülow, merupakan bagian dari Pertempuran Perbatasan. Orang Perancis merencanakan serangan melintasi Sungai Sambre, ketika Jerman melancarkan serangan mereka sendiri. Sebuah kemenangan bagi Jerman.

Strategi

Hal ini jelas di atas segalanya, kontak antara Angkatan Darat Kelima Perancis, diperintahkan oleh Jenderal Lanrezac yang berada pada posisi bertahan di sepanjang lembah dan Sungai Sambre, dan Angkatan Darat Kedua Jerman, diperintahkan oleh jenderal von Bülow yang berada di seberang Belgia dengan berbagai gerakan berputar dengan berpusat di Ardennes. Di barat terdapat Angkatan Darat Kelima, British Expeditionary Force (BEF) yang membuat kontak dengan Angkatan Darat Jenderal Von Kluck pada waktu hampir bersamaan (Pertempuran Mons). Di selatan-barat terletak Angkatan Darat Keempat Jenderal Cary Langle.


Battles of Charleroi and Mons map.png
Peta pertempuran Charleroi

Pertempuran

Pada 20 Agustus, Angkatan Darat Kelima Lanrezac mulai berkonsentrasi pada 40 km sepanjang Sungai Sambre, berpusat di Charleroi dan memperluas ke timur benteng Belgia, Namur. Di sebelah kirinya, Angkatan Darat Kelima Korps Kavaleri Jenderal Sordet menghubungkan dengan British Expeditionary Force (BEF) di Mons. pasukan Lanrezac terdiri dari 15 divisi, melemah dengan melalukan perpindahan pasukan ke Lorraine, dihadapkan oleh 38 divisi Jerman dari Angkatan Darat Kedua (Jenderal Karl von Bülow) dan Angkatan Darat Ketiga bergerak ke selatan-barat.

Meskipun mundur Lanrezac tahu perlu dilakukan dari awal perang dan memperingatkan atasannya , Jenderal Joseph Joffre, terhadap bahaya Jerman menyapu Belgia. Dipercaya bahwa Perancis harus mengikuti Rencana penyerangan XVII, terlepas dari apa yang terjadi di Belgia. Lanrezac peringatan dan memerintahkan untuk menyerang di Sambre. Sebelum Lanrezac dapat bertindak pada pagi hari 21 Agustus, Angkatan Darat Kedua Jerman meluncurkan Pertempuran Charleroi dengan serangan di Sambre. Bülow menyerang lagi pada tanggal 22 Agustus dengan tiga korps terhadap Angkatan Darat Kelima. Pertempuran sengit pun berlangsung pada tanggal 23 Agustus ketika Perancis berada di sekitar Charleroi dan mulai mundur.

Sementara itu, Angkatan Darat Ketiga Jerman telah menyeberangi Meuse dan melancarkan serangan frontal terhadap Perancis, sebuah korps diperintahkan oleh Jenderal Louis Franchet d'Esperey. Serangan Angkatan Darat Ketiga mengancam akan memotong garis mundur Lanrezac tapi aksi Esperey d'Franchet menghentikan Jerman dan melaksanakan serangan balasan yang sukses. Namun, dengan evakuasi Namur dan berita penarikan dari Angkatan Darat Keempat Perancis mundur dari Ardennes, Lanrezac memerintahkan supaya ia dapat mengelilingi dan menghentikan dari sisa tentara Perancis.

Lanrezac mundur setelah Pertempuran Charleroi, menyelamatkan tentara Perancis dari kekalahan yang menentukan dari Rencana Schlieffen. Setelah berjuang dengan tindakan bertahan lainnya dalam Pertempuran St Quentin, orang Perancis didorong menjauhi Paris, Lanrezac mengorbankan karier.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Ancre merupakan pertempuran terakhir dari Pertempuran Somme, terjadi pada tanggal 13 - 18 November 1916 di Ancre, Perancis. Pada tanggal 15 November Komandan Angkatan Darat Kelima Inggris (sebelumnya Angkatan Darat Cadangan) Letnan Jenderal Hubert Gough bertemu dengan komandan Sekutu di Chantilly untuk melaporkan keberhasilan pertempuran kepada Perancis.

Korbanpertempuranancre.jpg
Korban pertempuran Ancre

Gough merencanakan serangan di kedua sisi Sungai Ancre, anak sungai kecil dari Sungai Somme yang melalui sisi utara medan pertempuran. Di selatan Ancre adalah Thiepval, yang baru saja direbut oleh Inggris pada Pertempuran Thiepval Ridge, dan St Pierre Divion, yang masih diduduki Jerman. Di utara Ancre adalah Beaumont-Hamel dan Beaucourt-sur-l'Ancre; sisi ini belum terlihat ada operasi besar sejak pembukaan serangan Somme pada 1 Juli.

Pada bulan November, Inggris telah belajar banyak tentang perencanaan, persiapan dan pelaksanaan sebuah serangan dalam perang parit. Didukung oleh artileri, senapan mesin dan tank, Divisi 51 (Highland) menyerbu melintasi jurang Y dan merebut Beaumont Hamel[1], sedangkan di sebelah kiri mereka Divisi ke-2 maju bersama Redan Ridge. Di sebelah kanan, Divisi ke-63 (Royal Naval) menyerang daerah antara Beaumont Hamel dan sungai. Selama pertempuran, Letnan Kolonel Bernard Freyberg, yang kemudian menjadi Gubernur-Jenderal Selandia Baru, memenangkan Victoria Cross meskipun tiga kali terluka. Di utara, Divisi ke-3 dan Divisi 31 diharapkan untuk membentuk pertahanan dan merebut Serre tetapi serangan mereka gagal. Untuk itu Divisi 31 mencoba maju seperti pada hari pertama di Somme, dengan hasil sama. Di Selatan Ancre, Korps II mendapat perlawanan relatif mudah.

Pertempuran Ancre dapat dianggap sukses bagi Inggris, dan Sir Douglas Haig merasa puas dengan hasilnya. Namun, komandan Angkatan Darat V Gough, seperti biasa, ingin untuk melanjutkan pertempuran. Pada tanggal 18 November, Korps II diperintahkan untuk ke arah utara menuju Grandcourt dan sungai. Di utara sungai, Korps V mengamankan Redan Ridge. Serangan itu tidak berhasil.

Di sebelah barat serangan 18 November, Divisi ke-4 Kanada ditugasi merebut parit Desire dan parit Desire Support yang kurang lebih sejajar dengan sungai, di selatan Grandcourt. Serangan pertama terhadap parit Desire Support dilakukan oleh kompi dari Batalyon ke-46 (Saskatchewan) dan dua lagi dari Batalyon 50 (Calgary) yang berhadapan dengan senapan mesin berat dan hanya merebut bagian kecil Desire Support. Serangan kedua dari brigade ke-11 dengan dua kompi masing-masing dari Batalyon ke-38 (Ottawa), ke-54 (Kootenay), ke-75 (Mississauga), dan ke-87 (Pengawal Grenadier Kanada) menyerang, merebut, menduduki, mengonsolidasi bagian dari Desire dan mengirim patroli maju menuju parit Grandcourt.

Ketika Gough menelepon dari Pertempuran Ancre, Pertempuran Somme secara efektif telah berhenti. Di sisi selatan, operasi Angkatan Darat Keempat Inggris selesai pada tanggal 16 November dan di Perancis serangan terakhir berlangsung pada 14 - 15 November di St Pierre Vaast Wood. Kedua belah pihak bertahan di Somme selama musim dingin.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Ardennes adalah salah satu pertempuran pembuka Perang Dunia I, berlangsung dari 21-23 Agustus 1914, bagian dari Pertempuran Perbatasan. Komandan Perancis Joseph Joffre memerintahkan serangan melalui hutan Ardennes untuk mendukung invasi dari Lorraine, Perancis. Menurut dokumen pra-perang strategi perang Prancis, Rencana XVII, pasukan Jerman berada di wilayah ini diharapkan menjadi ringan, dengan Perancis, tembakan cepat artileri membuktikan menguntungkan di daerah berhutan seperti yang ditemukan di Ardennes.


Namun pada 20 Agustus, menjadi jelas untuk Jenderal Charles Lanrezac Angkatan Darat Kelima Perancis, dan kemudian Joseph Joffre - bahwa kehadiran besar-besaran pasukan Jerman berkumpul di daerah tersebut. Pada hari yang sama Jerman melancarkan serangan balasan terhadap Perancis masuk ke Lorraine. Meskipun demikian, Joffre memerintahkan invasi Ardennes pada 20 Agustus untuk hari berikutnya.

Jenderal Peter Ruffey, Angkatan Darat Ketiga dan Jenderal Ferdinand Langle Cary, Angkatan Darat Keempat Perancis melawan Angkatan Darat Keempat dan Kelima Jerman dipimpin oleh Duke Albrecht, yang terakhir oleh Putra Mahkota Wilhelm. Kedua tentara Jerman bersama-sama membentuk Pusat Rencana Schlieffen agar Jerman maju ke Perancis.

Sementara itu, Angkatan Darat Kelima Perancis bergabung untuk Charleroi di balik berita dari Jerman membangun kekuatan di Belgia. Jerman mulai maju melalui hutan pada 19 Agustus, posisi pertahanan gedung ketika mereka pergi. Putra Mahkota Wilhelm sedang berada Briey dengan Duke Albrecht menuju Neufchateau. Tujuan dari pasukan Perancis itu jelas: untuk menyerang sisi tengah Jerman, ketika melintasi hutan Ardennes.

Dengan kabut tebal, kekuatan-kekuatan yang bertentangan secara harfiah terhuyung-huyung ke satu sama lain di hutan pada 21 Agustus. Pada tahap awal ini Perancis menganggap kehadiran pasukan Jerman berjumlah sedikit, pada kenyataannya orang Perancis sangat kalah jumlah. Hari pertama pertempuran, 21 Agustus, ditandai oleh pertempuran tersebar, sebagian pertempuran besar. Pertempuran meluas mulai hari berikutnya.

Posisi taktis lanjutan Jerman lebih dari sekali mengimbangi keberhasilan Perancis, Meskipun banyak korban di kedua belah pihak. Pasukan Perancis, berpakaian terang, sangat mencolok di hutan, tidak ada konsesi untuk kamuflase yang dipertimbangkan. Perancis, bertindak dengan 'semangat menyerang', menekan posisi Jerman di hutan, hanya untuk dirobohkan oleh senapan mesin yang efisien, didukung oleh artileri berat.

Berbeda dengan Jerman yang bersedia untuk menetap dan menggali parit membuat pasukan Perancis mundur. Pada sore hari, 23 Agustus, Angkatan Darat Ketiga Perancis mundur ke Verdun dikejar oleh Angkatan Darat Kelima Jerman (di mana Ruffey dipukul mundur oleh Joffre) dan Angkatan Darat Keempat mundur dekat Sedan dan Stenay. Terakhir pengejaran Jerman pada 26-28 Agustus, sementara Jerman menghentikanya.

Sebagai konsekuensi, Jerman mampu merebut sumber-sumber besi yang signifikan dan mampu melanjutkan invasi ke Perancis. Skala kekalahan Perancis dicatat sebagai kejelasan bagi Joffre setelah periode waktu berlalu. Bahkan kemudian ia cenderung untuk menyalahkan kinerja kekuatan yang buruk daripada menghubungkan dengan strategi dan keadaan. Namun, tidak mencegah dia dari perencanaan serangan lebih lanjut pada pertempuran masa depan.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Aisne terjadi pada 13 - 24 September 1914 di lembah Aisne. Pertempuran ini merupakan bagian dari Perang Dunia I setelah Pertempuran Marne Pertama. Pertempuran Aisne Pertama adalah lanjutan serangan Sekutu terhadap sisi kanan Angkatan Darat Pertama Jerman (yang dipimpin oleh Alexander von Kluck) & Angkatan Darat Kedua (dipimpin oleh Karl von Bülow) mundur setelah Pertempuran Marne Pertama pada bulan September 1914. Serangan dimulai pada malam 13 September, setelah mengejar Jerman.

Race to the Sea 1914.png
Peta posisi pasukan pada tanggal 21 September 1914

Setelah kekalahan Jerman di Marne, Divisi Jerman mundur ke utara, Aisne, antara 10 dan 14 September. Joffre ingin menjadi pemenang dan pada 13 September, memerintahkan pasukan Perancis dan Inggris untuk menyerang tentara musuh. Dia menganjurkan taktik mengepung sisi kanan Jerman. Di Chemin des Dames, Angkatan Darat Keenam Perancis gagal untuk mengalahkan musuh yang dilengkapi dengan artileri berat.

Pada tanggal 17 September, manuver Joffre tidak berhasil karena pasukan Jerman mendapat bantuan von Heeringen (Angkatan Darat Ketujuh). Namun ia memutuskan untuk menyelesaikan dengan mengepung bagian barat laut. Ia memanggil beberapa pasukan Castelnau yang diberada di Lorraine. Pada tanggal 18 September, pertempuran di sekitar Aisne, tentara Inggris menderita kerugian besar.

Pada tanggal 20 September, serangan Prancis dilakukan di wilayah antara Noyon dan Peronne. Sia-sia karena kurang peralatan untuk sebuah serangan yang efektif (amunisi, makanan, artileri berat). Komandan Jerman, von Bülow, menemukan tempat yang efektif dan pasukan mulai berputar sebagai kontra manuver yang memaksa pasukan Perancis untuk bergerak ke utara. Dan menyebar di Dunkerque sebagai awal pertempuran untuk mencapai laut dan perang posisi.

Pada tanggal 21 September, Jenderal Castelnau tiba di Noyon. Pada tanggal 22 September, ia mengusir musuh dari posisi mereka: Brigade keempat Maroko (Aljazair dan Senegal bersenjatakan senapan) dimulai dengan masuk hutan dan memenangkan pertempuran. Serangan berikutnya gagal.

Chemin des Dames

Chemin des Dames adalah medan pertempuran pada tahun 1914. Pada tanggal 31 Agustus 1914, pasukan Perancis terpaksa meninggalkan posisi mereka di Chemin des Dames dihadapan Jerman. Tetapi pada Pertempuran Marne Pertama, pasukan Sekutu kembali mencapai Lembah Aisne (13 September) sebelum mereka mendesak pasukan Jerman. Jerman berkumpul di semenanjung untuk melakukan serangan balasan. Antara tanggal 13 dan 15 September, Inggris dan tentara Perancis mencoba merebut dataran tinggi. Ribuan tentara tewas dalam serangan yang tidak berguna.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Mulhouse (atau Mülhausen), yang dimulai pada 9 Agustus 1914, adalah serangan pembuka Perang Dunia I oleh tentara Perancis melawan Jerman. Pertempuran adalah bagian dari upaya Prancis untuk memulihkan provinsi Alsace, yang telah diserahkan Perancis ke Kekaisaran Jerman setelah kekalahan mereka di Perang Perancis-Prusia.


Kekuatan Perancis di bawah Jenderal Bonneau, terlepas dari Angkatan Darat I di Lorraine, terdiri dari Korps VII Angkatan Darat (Divisi 14 dan 41 infanteri yang diperkuat oleh salah satu Brigade cadangan 57 dari Divisi Belfort) dan Divisi ke-8 kavaleri. Itu adalah bagian dari serangan yang lebih besar ke Perancis Alsace-Lorraine sesuai dengan Rencana operasi XVII. Di sisi Jerman, Korps VII Angkatan darat Jerman (XIV dan XV) di bawah pimpinan Jenderal Josias von Heeringen menentang desakan Perancis.

Pertempuran Mulhouse, salah satu Pertempuran Perbatasan di bulan Agustus, merupakan serangan Perancis sebagai pembukaan perang dan dimulai pada pukul 05:00 tanggal 7 Agustus 1914. Membentuk komponen fundamental dari strategi perang Perancis, Rencana XVII, Pertempuran Mulhouse itu dimaksudkan untuk mengamankan dan merebut kembali Alsace (dengan Lorraine mengikuti secara terpisah), wilayah yang diduduki Jerman sebagai akibat kekalahan pada perang Franco-Prusia 1870-71 .

Terlepas dari kebanggaan nasional yang melekat dalam perebutan Alsace, pasukan Perancis akan ditempatkan untuk menjaga dari invasi Perancis utara. Dalam komando operasi untuk merebut Mulhouse dipimpin oleh Jenderal Bonneau, dan ia diberi sebuah detasemen Angkatan Darat Pertama, ditambah satu kavaleri dan dua divisi infanteri. Berhadapan dengan Angkatan Darat Jerman Ketujuh di bawah Jenderal von Heeringen.

Setelah menyeberangi perbatasan pada pagi hari tanggal 7 Agustus, dengan cepat Perancis merebut perbatasan kota dengan bayonet Altkirch. Namun Bonneau, yang curiga terhadap kondisi pertahanan Jerman, mewaspadai untuk maju lebih jauh karena takut melangkah, dengan hati-hati, ke dalam jebakan Jerman lainnya. Namun, di bawah perintah untuk pindah ke Rhine pada hari berikutnya, Bonneau melanjutkan mengambil Mulhouse dari Jerman setelah meninggalkan kota.

Pengambilan Mulhouse, meskipun tanpa perlawanan, memicu perayaan liar di Perancis. Namun, dengan kedatangan tentara cadangan Jerman dari Strasbourg, Jerman melancarkan serangan balasan pada pagi hari tanggal 9 Agustus di dekat Cernay. Dalam ketiadaan tentara cadangan, dan tidak mampu untuk melakukan pertahanan, Bonneau mulai melakukan penarikan pasukan secara perlahan pada hari yang sama.

Joseph Joffre, Kepala Komando Perancis, buru-buru mengirimkan Divisi cadangan untuk membantu pertahanan, tetapi mereka datang terlambat untuk menyelamatkan kota. Bonneau mundur ke arah Belfort pada tanggal 10 Agustus untuk menghindari pengepungan Jerman. Tindakan Joffre sangat cepat. Penggantian Bonneau tanpa keberatan, ia dibebaskan tugas dari komando. Mengetahui banyak kehilangan, Joffre menambah empat divisi yang disebut 'Tentara Elsas' ditempatkan di bawah komando Jenderal Pau, yang gagal memasuki Lorraine.

Karena kegagalan serangan, Jenderal Joffre digantikan Jenderal Bonneau dalam komando Korps dengan mengaktifkan kembali Korps VII yang dipimpin Jenderal Paulus Marie Pau.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Lorraine itu terjadi pada bulan Agustus 1914, antara Perancis dan Jerman. Ini mengikuti Rencana XVII, yang mengusulkan sebuah serangan Perancis melalui Lorraine dan Alsace, dan sampai ke Jerman.

French heavy cavalry Paris August 1914.jpg
Pasukan Kavaleri Perancis menuju medan tempur, Paris, Agustus

Serangan Perancis

Serangan utama Perancis di barat, yang dikenal sebagai Pertempuran Lorraine, dilaksanakan pada 14 Agustus. Tentara Pertama Jenderal Auguste Dubail maju ke Sarrebourg, sementara Angkatan Darat Kedua Jenderal de Castelnau menuju ke arah Morhange. Pada tanggal 17, para Korp ke-20 (Jenderal Foch) ditangkap di Château Salins dekat Morhange, sementara Sarrebourg diduduki pada tanggal 18. Namun, setelah empat hari mundur untuk memancing pasukan Perancis memasuki wilayah Jerman, Angkatan Darat Jerman Ke-6 dan Ke-7 di bawah komando gabungan Crown Prince Rupprecht meluncurkan serangan balasan; Rupprecht bertugas dari pasukan Jerman yang ditugaskan untuk bertemu dan mendesak serangan Perancis di pusat sampai mereka bisa dikepung oleh barisan sayap kanan Jerman. Barisan belakang Jerman, dilengkapi dengan senapan mesin, menimbulkan banyak korban di Perancis, masih mengenakan seragam pada awal abad ke-19, jas biru dan celana merah.

Serangan Balasan Jerman

Crown Prince Rupprecht, tidak puas bertahan dengan peran yang diberikan kepadanya, kemudian mengajukan permohonan kepada atasannya untuk membiarkan dia yang melakukan serangan balasan. Pada 20 Agustus yang Serangan dimulai dan Auguste Dubail memerintahkan pasukannya untuk menarik diri dari Morhange (Pertempuran Morhange). Melihat ini, pasukan Noel de Castelnau keluar dari Sarrebourg (Pertempuran Sarrebourg). Jerman tidak berhenti di perbatasan dan sebaliknya berbaris untuk mencoba untuk mengambil Nancy. Korp ke-20 Ferdinand Foch berhasil mempertahankan Nancy, menghentikan serangan Jerman. Ke utara, Mulhouse direbut kembali, tapi itu ditinggalkan sebagai tanda Perancis menyerah pada Rencana XVII.

Pertempuran terjerumus ke dalam jalan buntu sampai 24 Agustus ketika serangan terbatas Jerman yang diluncurkan (Pertempuran Mortagne). Apakah Perancis diberitahu sebelumnya oleh panduan pesawat dan keuntungan Jerman terbatas pada hal-hal yang kecil. Keesokan harinya, bahkan mereka yang hilang ketika Prancis melakukan serangan balasan, berjuang terus sampai akhir bulan, pada saat parit-parit dibangun dan terjadi jalan buntu yang permanen .

Sumber: http://id.wikipedia.org/
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments