Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:
Perjuangan kemerdekaan bansga Moro menuntut kemerdekaan sudah berlangsung sejak zaman kerajaan-kerajaan di wilayah Filipina Selatan sekarang, baik ketika melawan penjajahan Spanyol maupun melalui perjuangan gerilya melawan pemerintah pusat Filipina. Baru pada awal tahun 1970, dibentuklah organinsai resmi yang menyatukan semua kelompok di wilayah Muslim dalam organisasi Mindanao Independent Movement / Gerakan Kemerdekaan Mindanao (MIM) yang didirikan dengan tujuan perjuangan menuntut kemerdekaan masyarakat Muslim Mindanao dari neggara Filipina.
Moro National Liberation Front (MNLF)
MIM kemudian aktif dan menjadi Moro National Liberation Front / Front Organisasi Liberal Bangsa Moro (MNLF). MNLF adalah organisasi Bangsa Moro yang dipersenjatai yang berjuang bagi kemerdekaan Bangsa Moro dan tanah air mereka, yakni Mindanao, Sulu, dan Palawan yang dikenal sebagai MinSuPala.

MNLF menyatakan perang dengan pemerintah Filipina sejak tahun 1972-1976 di bawah kepemimpinan Nur Misuari. Perjuangan pasukan kebebasan MNLF memaksa pemerintah Manila saat kepemimpinan presiden Ferdinand E. Marcos untuk menandatangani perjanjian perdamaian dengan bantuan pemerintah Libya yang diwakili oleh Kolonel Muamar Qadafi. Perjanjian perdamaian ini dikenal dengan nama "Perjanjian Tripoli".

Isi Perjanjian Tripoli menurut opini pihak MNLF, tidak dipatuhi oleh pemerintah Filipina. Ketentuan yang dibutuhkan oleh Legislatif Filipina telah sesuai dengan pengesahan beberapa aspek vital pada Perjanjian Tripoli, seperti wewenang kekuasaan, pembagian daerah, dan sistem administratif memberikan alibi sempurna bagi pemerintah Filipina untuk menolaknya. Kongres Filipina yang dikontrol oleh pihak legislatif yang bertentangan dengan semangat perjanjian, terutama dalam memberikan otonomi berarti bagi Bangsa Moro.

Nur Misuari terpaksa memimpin kembali perjuangan MNLF setelah selama 10 tahun bersabar dan melancarkan protes yang tidak ditanggapi oleh pemerintah Filipina. Misuari diasingkan di kerajaan Arab Saudi hingga Marcos dipecat dan pemerintahan Corazon "Cory" Aquino direformasi pada tahun 1986. Pemerintah baru Filipina mengajukan perundingan perdamaian kembali antara pemerintah Republik Filipina (GRP) dengan MNLF. Pemerintah Administratif Fidel V. Ramos diubah menjadi negara otonom Muslim Mindanao (ARMM) yang teratur. ARMM melaksanakan ketentuan perjanjian Tripoli tahun 1976.

Meskipun ARMM dibentuk melalui proses legislatif, pihak MNLF merasa kurang berhasilnya pelaksanaan perjanjian Tripoli atas maksud otonomi yang berarti bagi Bangsa Moro. Nur Misuari menjabat sebagai gubernur ARMM yang digambarkan oleh pemerintah Republik Filipina (GRP) sebagai pemimpin yang tidak layak dan korup. Namun menurut hasil study yang dilakukan oleh beberapa organisasi internasional berhasil mengungkapkan bahwa ARMM yang dibentuk oleh Kongres Filipina sangat tidak layak untuk menyelenggarakan otonomi yang berarti bagi Bangsa Moro yang berada di kota dan provinsi ARMM. Nur Misuari sebagai pemimpin revolusi menjadi sasaran utama bagi pembagian dan strategi penaklukan GRP.

Nur Misuari menyuarakan protes konsisten atas pelaksanaan perjanjian Tripoli yang tidak sesuai, termasuk isi perjanjian terakhir yang ditandatangani oleh Administrasi Ramos. Ketika Gloria Macapagal-Arroyo (GMA) menjadi Presiden, Nur Misuari dipecat oleh konsul 15 MNLF dan memaksanya melepas jabatan ketua MNLF. Ia kemudian ditahan dengan tuduhan memimpin pemberontakan di ARMM bersama dengan anak buahnya di MNLF.

Sangat dipercaya bahwa pemecatan Nur Misuari telah direncanakan oleh pemerintah Filipina melalui konsul 15. Karena dengan pemecatannya, Nur Misuari digantikan oleh staf senior MNLF. Saat ini, Gubernur ARMM tidak menjadi anggota MNLF dan akan menjadi pelanggaran dari perjanjian perdamaian yang disepakati antara pemerintah Filipina dan pihak MNLF pada saat proses Administrasi Ramos.

Tanggal 9 Juli 2007, hakim persidangan, Winlove Dumayas menjatuhkan hukuman penjara bagi pimpinan Muslim Misuari (mewakili MNLF) untuk menghadiri pertemuan tri partai di Arab Saudi yang akan mempengaruhi hasil pelaksanaan perjanjian perdamaian 1996 antara pemerintah Filipina dan pejuang Muslim, MNLF. MNLF menuduh pemerintah sebagai pihak yang menggagalkan pelaksanaan kunci dari ketentuan pakta, terutama yang menyinggung perkembangan daerah konflik di sebelah selatan Mindanao.

Tahun 2001 adalah jatuhnya revolusi yang dipimpin oleh Misuari, dimana lebih dari 100 orang di pulau Jolo mati dibunuh. Ia masuk penjara beberapa bulan kemudian dan menghadapi tuduhan pemberontakan. Misuari dan penasihat spiritualnya, Ustad Abu Haris Usman, dijadwalkan meninggalkan Jeddah pada tanggal 16 Juli. Secretaris Jesus Dureza, penasihat presiden dalam proses perdamaian mengatakan bahwa obyek Malacañang sesuai dengan permintaan Misuari. OIC yang menjadi perantara pembicaraan antara Manila dan MNLF, mendorong pemerintah untuk mempercepat resolusi kasus pemberontakan Misuari.









Moro Islamic Liberation Front (MILF)
Melihat perkembangan perjuangan MNLF yang dirasakan kurang memenuhi aspirasi masyyarakat Muslim Filipina, maka sebagian pejuang Muslim membentuk organisasi terpisah yaitu Front Pembebasan Islam Moro atau dalam bahasa Inggris disebut Moro Islamic Liberation Front (MILF). Kelompok ini adalah kelompok militan Islam yang berpusat di selatan Filipina. Daerah tempat kelompok ini aktif dinamai Bangsamoro oleh MILF dan meliputi bagian selatan Mindanao, kepulauan Sulu, Palawan, Basilan dan beberapa pulau yang bersebelahan.

MILF didirikan oleh Salamat Hashim, yang dipengaruhi oleh Sayyid Qutb. Salamat meninggal pada Juli 2003 dan digantikan oleh Al Haj Murad Ebrahim. Sesuai data tahun 2003, jumlah kekuatan MILF adalah sekitar 12.500 gerilyawan.

Kelompok Abu Sayyaf
Salah satu sempalan kelompok MILF adalah kelompok Abu Sayyaf, juga dikenal sebagai Al Harakat Al Islamiyya, adalah sebuah kelompok separatis yang terdiri dari teroris Muslim beraliran Syiah yang berbasis di sekitar kepulauan selatan Filipina, antara lain Jolo, Basilan, dan Mindanao.

Khadaffi Janjalani memimpin kelompok ini untuk melawan Angkatan Bersenjata Filipina. Wilayah gerakan kelompok ini meliputi Pulau Jolo dan Zamboanga City (atau yang lebih dikenal dengan Teritory IX). Dilaporkan bahwa akhir-akhir ini mereka sedang memperluaskan jaringannya ke Malaysia dan Indonesia. Kelompok ini bertanggung jawab terhadap aksi-aksi pemboman, pembunuhan, penculikan, dan pemerasan dalam upaya mendirikan negara Muslim di sebelah barat Mindanao dan Kepulauan Sulu serta menciptakan suasana yang kondusif bagi terciptanya negara besar yang Pan-Islami di Semenanjung Melayu (Indonesia dan Malaysia) di Asia Tenggara. Nama kelompok ini adalah bahasa Arab untuk Pemegang (Abu) Pedang (Sayyaf).

Abu Sayyaf adalah salah satu kelompok separatis terkecil dan kemungkinan paling berbahaya di Mindanao. Beberapa anggotanya pernah belajar atau bekerja di Arab Saudi dan mengembangkan hubungan dengan mujahidin ketika bertempur dan berlatih di Afganistan dan Pakistan.

Kelompok lainnya
Selain ketiga kelompok diatas, ada juga sebuah kelompok yang bernama Rajah Solaiman Movement. Pergerakan kelompok ini biasanya berkoordinasi dengan kelompok-kelompok pejuang lainnya.

Kerjasama Lintas Negara antara Kelompok Jihad di Asia Tenggara
Selain negara-negara Islam di Timur Tengah dan Afrika, Indonesia dan Malaysia tidak dapat dikesampingkan dalam hal memberikan kontribusi kepada kelompok pejuang Muslim Moro di Mindanao sejak awal konflik dari tahun 1972. Kelompok-kelompok Islam di Indonesia sudah mengirimkan sukarelwaannya dalam membantu saudara-saudara mereka di wilayah selatan Filipina.

kamp militer mujahidin Indonesia terdiri dari:

  • Camp Solo
  • Camp Banten
  • Camp Sulawesi
  • Camp Ash-Syabab yang berada dibawah kendali kelompok Negara Islam Indonesia (NII)
  • Camp Al-Fatih (dibawah kendali kelompok Sulawesi)
  • dan Camp Hudaibiyah yang didirikan oleh Abdullah Sungkar pada tahun 1994
Tugas kamp mujahiddin Indonesia ini adalah mendukung kamp-kamp militer Moro lainnya seperti:
  • Camp Abu Bakar As-Siddique
  • Camp Busrah
  • Camp Bilal
  • Camp Omar
  • Camp Pagalungan
  • Camp Datuk Piang
  • dan Camp Balusi
Alumni Moro di Indonesia sejak tahun 1972 mencapai angka 30.000 orang.
Baca juga “Monografi Alumni Moro” di:
http://www.scribd.com/doc/7904349/Monografi-Alumni-Moro

Daftar pustaka:
  • http://id.wikipedia.org
  • http://www.ghabo.com
  • http://www.scribd.com
Sumber gambar:
  • http://www.crwflags.com
  • http://worldivided.com
Share to Lintas BeritaShare to infoGueKaskus

No Response to "Perjuangan Muslim Moro di Filipina Selatan"

Poskan Komentar

  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments