Previous Next
  • Perang Teluk

    Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki. Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990...

  • 5 Negara yang Terpecah Akibat Perang Dunia II

    Negara yang terpecah adalah sebagai akibat Perang Dunia II yang lalu di mana suatu negara diduduki oleh negara-negara besar yang menang perang. Perang Dingin sebagai akibat pertentangan ideologi dan politik antara politik barat dan timur telah meyebabkan negara yang diduduki pecah menjadi dua yang mempunyai ideologi dan sistem pemerintahan yang saling berbeda dan yang menjurus pada sikap saling curiga-mencurigai dan bermusuhan. Setelah perang dunia kedua, terdapat empat negara yang terpecah-pecah, antara lain:

  • Serangan Sultan Agung 1628 - 1629

    Silsilah Keluarga Nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Dilahirkan tahun 1593, merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Ayahnya adalah raja kedua Mataram, sedangkan ibunya adalah putri Pangeran Benawa raja Pajang. Versi lain mengatakan, Sultan Agung adalah putra Pangeran Purbaya (kakak Prabu Hanyokrowati). Konon waktu itu, Pangeran Purbaya menukar bayi yang dilahirkan istrinya dengan bayi yang dilahirkan Dyah Banowati. Versi ini adalah pendapat minoritas sebagian masyarakat Jawa yang kebenarannya perlu untuk dibuktikan. Sebagaimana umumnya raja-raja Mataram, Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri. Yang menjadi Ratu Kulon adalah putri sultan Cirebon, melahirkan Raden Mas Syahwawrat. Yang menjadi Ratu Wetan adalah putri dari Batang keturunan Ki Juru Martani, melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi Amangkurat I)...

  • Perang Dingin

    Perang Dingin adalah sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947—1991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang: koalisi militer; ideologi, psikologi, dan tilik sandi; militer, industri, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir dan persenjataan; dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini akan berakhir dengan perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi. Istilah "Perang Dingin" sendiri diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut...

  • Perang Kamboja-Vietnam

    Pada tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan saigon tahun 1975, negara-negara anggota ASEAN mencemaskan kemungkinan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari Asia Tenggara. Ketegangan terus memuncak mengingat ASEAN adalah negara-negara Non-Komunis sedangkan negara-negara Indochina adalah negara komunis. Kemenangan Vietnam pada Perang Vietnam sudah tentu mengkhawatirkan ASEAN ditengah rencana Amerika Serikat untuk mengurangi kehadiran pasukannya yang selama ini secara tak langsung melindungi ASEAN dari invasi komunis ke kawasan tersebut...

Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , ,

Indonesia tidak akan menoleransi tindakan negara lain yang mengancam kedaulatan, termasuk menggeser tapal batas. ”Tidak ada kompromi soal kedaulatan,” kata Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, Selasa (11/10/2011).

Hubungan Indonesia kembali memanas. Setelah kian kali, dua Negara serumpun-seakidah ini kembali diributkan persoalan nasionalisme yang sama sekali tidak diajarkan ulama-ulama Melayu tempo dulu.

Kasusnya sederhana, namun luar biasa bagi kaum nasionalis, yakni permasalahan tapal batas Camar Bulan di Sambas yang diduga telah dicaplok Malaysia.


Kita harus membuka mata bahwa konflik antara Malaysia dan Indonesia ini tidak terjadi dengan sendirinya. Ada unsur-unsur pemicu layaknya api yang menimbulkan asap besar. Pertanyaannya siapakah pemantik api itu? Umat Muslim? Bukan, karena kita hanya korban.

Pakar Melayu Prof. Dr. Dato’ Nik Anuar Nik Mahmud dari Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) mengamini bahwa ada intervensi pihak luar di balik perseteruan kedua Negara serumpun muslim ini.

Dalam memoar buku Thomas Raffles disebutkan, Barat harus memastikan bahwa alam Melayu ini lemah. Untuk melemahkan, Raffles mengusulkan dua buah strategi.

Pertama, imigran-imigran asing masuk ke Melayu supaya kawasan ini tidak menjadi kawasan Melayu, melainkan majemuk (dibawa orang-orang China dan India).

Kedua, pastikan bahwa raja-raja Melayu yakni Semenanjung, Sumatera, Jawa dan sebagainya, tidak mengambil para ulama Arab menjadi penasehat mereka. Jadi, tujuan mereka memang untuk memisahkan Arab dengan Melayu.

Bersatunya antara Malaysia dan Indonesia membentuk Imperium Islam Melayu inilah yang sangat ditakuti oleh Zionisme.

Mereka sadar Melayu adalah potensi kuat dalam membangkitkan Islam dari tenggara Asia, maka itu jalur ini harus dihabisi, apapun caranya.

Dan pengalaman bangsa Indonesia yang kerap mudah diadu domba adalah kunci yang selalu mereka pegang saat zaman devide et impera.

Yang juga kita harus faham adalah Thomas Stamford Raffles sendiri seorang Freemason. Menurut Th Stevens dalam bukunya Tarekat Mason Bebas, Raffles pada tahun 1813 dilantik sebagai mason bebas di bantara “Virtutis et Artis Amici”. “Virtus” merupakan suatu bantara sementara di perkebunan Pondok Gede di Bogor.

Perkebunan itu dimiliki Wakil Suhu Agung Nicolaas Engelhard. Di situ Raffles dinaikkan pangkat menjadi ahli (gezel), dan hanya sebulan kemudian dinaikkan menjadi meester (suhu) di loge “De Vriendschap” di Surabaya.

Raffles pula yang mendirikan Singapura modern yang kini menjadi basis Israel di Asia Tenggara. Agen-agen zionis melalui Singapura adalah penghasut sebenarnya dalam mengeruhkan hubungan sesama muslim Melayu.

Kebanyakan koruptor Indonesia pun bermukim di Singapura setelah merampok uang hasil keringat anak-anak Indonesia dan rakyat jelata.

Singapura adalah sekutu zionis. Mereka tidak mau menandatangani perjanjian extradisi dengan Indonesia semata-mata melindungi koruptor ini karena mereka bawa banyak uang ke Singapura.

Untuk mengalihkan isu ini dari masyarakat Indonesia, mereka akan coba cari isu supaya masyarakat Indonesia lebih fokus pada isu yang mereka cipta.

Maka diwujudkanlah isu sekarang, konfrontasi Malaysia-Indonesia. Melalui media sekular di Negara ini, mereka terus berupaya agar rumpun Melayu bangga akan identitas negara-nya masing-masing.

Adanya inflitrasi Zionis di Malaysia juga bukan barang baru. Tahun lalu mantan wakil perdana menteri Malaysia yang juga tokoh oposisi, Anwar Ibrahim, pernah membeberkan fakta adanya keberadaan intelijen Zionis di markas kepolisian federal Malaysia.

Kala itu bersama dengan Kelompok Muslim, mereka menyatakan memiliki dokumen yang memperlihatkan kemungkinan adanya intelijen Zionis kedalam strategi informasi negara lewat perusahaan kontraktor bernama "Osiassov", yang melaksanakan proyek pengembangan sistem komunikasi dan teknologi di markas besar polisi federal Malaysia.

Anwar Ibrahim menjelaskan bahwa perusahaan "Osiassov" terdaftar di Singapura namun berkantor pusat di negara penjajah Zionis Tel Aviv.

Menurut Anwar, kehadiran dua mantan perwira tentara Zionis di perusahaan yang bersangkutan, adalah sepengetahuan petugas polisi senior Malaysia dan Menteri Dalam Negeri Malaysia sejak jaman Syed Ahmad Albar.

Yakinlah, jika umat muslim Melayu tidak kembali ke ajaran Islam sejati dimana tak ada ruang pada nasionalisme yang memberhalakan bangsa, benih permusuhan itu akan selalu muncul, walau kedua Negara itu makmur dan sama-sama beragama muslim.

Maka itu, bersatulah bangsa Melayu. Bersatulah diatas Panji Islam yang akan membuka jalan tegaknya dienullah ini di tanah perjuangan kita, tanah Melayu Darussalam. (pz)

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,


Tiga minggu setelah ditunjuk oleh Presiden Obama pada Januari 2009 sebagai Direktur Central Intelligence Agency (CIA) yang ke 19, dan hari pertamanya sebagai Direktur CIA, Leon Panetta, menyusun laporan yang tidak disukai oleh rezim Zionins-Israel, dan lobbi Yahudi di Amerika Serikat, AIPAC.

Laporan CIA meramalkan kehancuran Israel dalam 20 tahun mendatang, jika kecenderungan politik sekarang di wilayah itu terus berlanjut. Para analis intelijen CIA menyimpulkan bahwa tidak mungkin para pemimpin Israel memberikan konsesi minimal dalam rangka mencapai penyelesaian dengan tetangga mereka, yang semakin kecewa melihat kondisi mereka. Rakyat Arab dan Palestina sudah tidak lagi sabar. Mereka ingin segera mendapatkan keadilan. Mereka ingin mendapatkan negara yang berdaulat, dan menjadikan Yerusalem sebagai ibukotanya.

Menurut laporan CIA yang mencatat bahwa para pejabat Israel merasa berani merampas (menganeksasi) tanah Palestina, karena adanya dukungan terhadap Israel oleh pemimpin Mesir, Tunisia, Arab Saudi, Bahrain, Yordania dan tiga pemimpin Arab lainnya.

Israel juga mendapatkan dukungan dua kekuatan di Amerika Serikat yaitu Kongres dan AIPAC. Dua kekuatan ini yang selalu merahasiakan laporan CIA tahun 2009, dan laporan yang sangat rahasia dan terbatass itu, hanya dibuat tujuh eksemplar, yang akhirnya diakui, di mana satu "copy" diberikan kepada AIPAC dan yang lainnya kepada staf pendukung Israel di Komite Kongres.

Selama pertemuan pekan lalu dengan para pejabat Israel, kedua belah pihak tahu bahwa hasil studi CIA di tahun 2009, dan bahkan hasil penelitian CIA akan tetap menjadi pegangan dan rujukan Panetta, yang sekarang menjadi menteri pertahanan Amerika Serikat.

Presiden Obama mengirim Leon Panetta melaukan diskusi dengan Benyamin Netanyahu, dan menyampaikan kekecewaan Gedung Putih terhadap penghinaan Netanyahu yang berulang-ulang terhadap Presiden Obama, selama 18 bulan terakhir.

Bahkan kalangan Yahudi dan Lobbi Yahudi di Amerika mengancam menghentikan bantuan kampanyenya bagi Presiden Obama yang akan mengikuti pemelihihan tahunuk 2012. Kaum pendukung Lobbi Yahudi di Amerika telah mengancam Obama, agar tidak dipilh kembali.

Saat berlangsung konferensi pers, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta dengan Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak, beberapa pandangannya secara umum, bahwa "Saat ini telah berlangsung perubahan yang dramatis di Timur Tengah, dan begitu banyak perubahan, dan tu bukan situasi yang baik bagi Israel untuk menjadi semakin terisolasi. Dan kondisi seperti itu sekarang ini terjadi," tata Panetta.

"Ada banyak pertanyaan dalam pikiran saya bahwa mereka (Israel) berusaha mempertahankan keunggulan militer. Tetapi anda harus bertanya, apakah itu cukup dengan mempertahankan keunggulan militer semata. Jika ada mengisolasi diri dalam arena diplomatik? Pada waktu yang dramatis di Timur Tengah, seperti sekarang ini, dan ketika begitu banyak perubahan, itu bukan situasi yang baik bagi Israel untuk menjadi semakin terisolasi, "katanya.

Leon Panetta dilaporkan memberikan gambaran yang sangat jelas kepada para pemimpin Israel, di mana negara-negara Timur Tengah, yang mengalami revolusi i Arab dan Kebangkitan Islam, memastikan Israel dengan cepat kehabisan peluang menciptakan kondisi yang kondusif bagi masa depannya. Satunya pilihan adalah membuat perdamaian dengan Palestina dan tetangganya atau Israel menjadi binasa", tegas Panetta.

Panetta mengatakan kepada Israel bahwa waktu hampir habis bagi solusi dua negara, yang berarti negara Zionis Israel akan mirip dengan rezim apartheid di Afrika Selatan, setelah Presiden Ronald Reagan, dan di masa depan Amerika akan mengakhairi dukungan terhadap Israel. Tidak mungkin selama-lamanya Amerika Serikat mendukung rezim Zionis-Israel, yang mirip seperti rezim Apartheid di Afrika Selatan, dan akan menghadapi tantangan masyarakat internsional.

Ameika Serikat tidak mungkin melanjutkan bantaunnya kepada Israel yang setiap tahunnya mencapai i $ 6 miliar dollar. Dukunga finansiil Amerika Serikat itu, yang jumlahnya $ 6 miliar dollar, setiap tahunnya, pasti akan dipertanyakan oleh publik Amerika, ujar Panetta.

Diskusi antara Leon Panetta dengan Ehud Barak, mengingatkan selama diskusi panas antara dua menteri pertahanan, dan pernyataan seorang jenderal Mesir di 1973, seperti yang dilaporkan oleh Presiden Nixon.

Nixon, mengatakan bahwa seorang pejabat Israel meminta seorang jenderal Mesir, yang masih berada di rumah sakit, "Kami telah mengalahkan bangsaArab tiga kali dalam perang (1948, 1967 & 1973). Mengapa anda terus menolak kita? Jenderal Mesir itu menjawab, " Anda mungkin telah mengalahkan kami tiga kali?, dan Anda mungkin mengalahkan kita 11 kali. Tapi, perang yang ke 12 kali, kita akan menang dan Palestina akan dibebaskan. "

Tanda-tanda semakin nampak. Kelompok Hamas yang dinajiskan oleh pemerintahan Netanyahu, terpaksa sekarang harus berunding, dan Israel bersedia membebaskan 1027 tahanan Palestina, dan ini merupakan awal kemenangan. Israel tidak banyak lagi pilihan yang dimilikinya. (mash)

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Arsip-arsip amat rahasia Nazi mengungkapkan bahwa fantasi Adolf Hitler yang ingin menciptakan armada UFO Nazi yang bisa menghancurkan London dan New York memang kenyataan.

Perintah itu disampaikan saat pasukan Hitler di berbagai lokasi mundur.

Lokasi yang diduga sebagai tempat produksi UFO Nazi tersebut adalah serangkaian terowongan terowongan yang terkubur di bawah Lembah Jonas di Thuringia, pusat Jerman.


Di bawah komando Jenderal SS (polisi khusus Nazi) Hans Kammler, sejumlah kelompok pekerja budak bekerja keras untuk merealisasikan mimpi Hitler.

Majalah sains Jerman, PM, mengungkapkan betapa canggihnya program tersebut saat para ilmuwan bekerja keras di sejumlah pabrik rahasia untuk memproduksi UFO untuk memenangkan perang.

Majalah itu mengutip keterangan sejumlah saksi mata yang mengaku melihat sebuah piring terbang dengan tanda salib besi Jerman yang terbang rendah di atas Sungai Thames, Inggris, pada 1944 silam.

"Amerika juga menganggap serius keberadaan senjata tersebut. Agaknya, meskin tersebut mampu menempuh jarak 2.000 kilometer pada penerbangan perdananya," demikian dilansir The Sun.

AS yakin bahwa Jerman bisa menggunakan piring terbang untuk menjatuhkan senjata ke New York, sebuah target yang ingin diserang Hitler saat perang berlanjut.

Kala itu, New York Times melaporkan terlihatnya "piring terbang misterius" dengan foto-foto benda tersebut yang terbang dengan kecepatan amat tinggi di atas gedung-gedung di kota itu yang menjulang tinggi.

"Jerman telah menghancurkan sebagian besar berkas yang berisi aktivitas mereka, tapi ada sejumlah petunjuk yang membuktikan bahwa (armada UFO Nazi) memang ada," tambah harian tersebut.

Proyek UFO Nazi dipimpin oleh dua orang insinyur, Rudolf Schriever dan Otto Habermohl, dan berbasis di Praha, Ceko, antara tahun 1941 hingga 1943.

Proyek yang berawal dari sebuah proyek Luftwaffe tersebut akhirnya berada di bawah kendali menteri persenjataan Albert Speer sebelum kembali diambil alih oleh Kammler pada 1944.

Para saksi mata yang ditangkap pasukan sekutu setelah perang mengklaim pernah melihat piring terbang dalam beberapa kejadian.

Joseph Andreas Epp, seorang teknisi yang menjadi konsultan untuk proyek Schriever-Habermohl, mengklaim ada 15 prototipe UFO yang sudah dibuat.

Ia menjelaskan tentang bentuk pesawat berupa kokpit setral yang dikelilngi sayap dan baling-baling yang berputar dan membentuk sebuah lingkaran.

Baling-baling tersebut direkatkan dengan sebuah pita di sisi luarnya dan dibuat berputar dengan roket-roket kecil yang dipasang di sekitar lingkaran.

Ketika kecepatan rotasinya cukup dan piring terbang mengangkasa, kemudian dinyalakan jet atau roket horizontal untuk menggerakkannya.

Dalam bukunya terbitan tahun 2000, Prawda O Wunderwaffe, Igor Witkowski, seorang sejarawan dan jurnalis Polandia yang mendalami bidang militer dan teknologi luar angkasa, mengklaim bahwa Hitler ingin para ilmuwannya tetap ada untuk membuat pesawat berbentuk bel.

Sedemikian mengesankannya teknologi Nazi yang ditemukan di akhir perang, para ilmuwan roket V-2 sampai diburu oleh AS dan Uni Soviet untuk dipekerjakan dalam program peluru kendali dan luar angkasa masing-masing.

Lebih dari 120 ilmuwan roket, termasuk Wernher von Braun, yang menjadi tokoh sentral di NASA, menemui teknisi Jerman Georg Klein dan mengklaim bahwa ada dua jenis piring terbang yang diciptakan Nazi.

Klein, yang setelah perang berkarier sebagai insinyur aeronautika, mengatakan, "Saya tidak gila, eksentrik, atau berfantasi. Ini yang saya lihat dengan mata kepala sendiri, sebuah UFO Nazi!"

Sejumlah kru pesawat pengebom Amerika dan Inggris juga melaporkan penampakan aneh di atas wilayah musuh. (dn/nk/ts)

Sumber: http://www.suaramedia.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Belanda yang memang tidak pernah suka Islam, dengan politik pendidikannya saat itu senantiasa memanggil anak-anak muda Indonesia yang cerdas ke sana. Dididiknya di sana dan dikembalikan ke Indonesia untuk menduduki jabatan-jabatan politik yang penting. Atau mereka mendidik tokoh-tokoh bangsa di sini, untuk dijadikan 'pion' pemikiran-pemikiran mereka. Soekarno Hatta WR Soepratman dll terjebak dalam politik pendidikan Belanda ini.


Soekarno telah diincar oleh intelektual Belanda sejak umur belasan tahun ketika belajar di Surabaya. Sayang Soekarno akhirnya lebih memilih bacaan-bacaan komunis yang disediakan Belanda daripada buku-buku Islam yang dikirim oleh ulama besar yang mendidik Mohammad Natsir, Ahmad Hasan,

Soekarno memang termasuk jenius dalam politik. Tapi ia salah menempatkan kejeniusannya. Bacaan-bacaan Karl Marx, Hegel, Sejarah Turki (Attaturk) dan bacaan-bacaan lain yang terus menerus disodorkan intelektual-intelektual Belanda menjadi santapannya. Hingga pemikiran Marxisme akhirnya menjadi landasan berfikirnya. Dan itulah yang menjadikan dia tidak setuju dengan penerapan syariat Islam di Indonesia. Maka tidak heran bila pagi-pagi buta itu ia mengajak Hatta untuk menemui perwira Jepang, Laksamana Mayda.

Ingat jauh sebelum merdeka, Soekarno telah berdebat dengan Natsir dan gurunya A Hasan tentang konsep negara. Soekarno menulis dengan terang-terangan bahwa ia bangga dan kagum dengan Attaturk dan negara sekuler. Sedangkan Natsir dan A Hasan teguh pendirian menyatakan bahwa negara bila tidak diatur oleh Islam dan pemimpin-pemimpin yang sepenuhnya berpegang teguh pada Islam, maka negara itu akan rusak (sebagaimana kita saksikan pada negara kita yang sudah 66 tahun merdeka).

Maka begitu ada kesempatan untuk menjadi merdeka Soekarno bersekongkol dengan Jepang (mungkin juga intelijen Belanda ikut bermain. Wallaahu a'lam) untuk menghapus Piagam Jakarta. Sejarah ini pahit, tapi begitulah kenyataannya dan tentu keluarga Soekarno harus menerima ini dengan terbuka, karena sejarah tidak boleh ditutup-tutupi. Apalagi ini menyangkut sejarah bangsa yang sangat penting. Ingat kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan mayoritas ulama-ulama Islam dan santrinya. Dan hanya dengan teriakan Allahu Akbar Indonesia bisa menang melawan Belanda, Jepang atau tentara sekutu. Bukan dengan teriakan Pancasila. Bukankah Soekarno sendiri menyatakan : Jas Merah. jangan Sekali-kali Tinggalkan Sejarah?

Maka perlu diungkap dengan gemblang apa yang dilakukan kelompok sekuler di negeri ini ketika tiga hari menjelang kemerdekaan menculik Soekarno Hatta. Dalam strategi politik tentu itu dibaca untuk melambungkan dua tokoh itu agar nanti ketika memproklamirkan kemerdekaan diterima bangsa ini. Sebagaimana Kemal Attaturk yang direkayasa Inggris cs menang perang melawan 'penjajah' di Turki hingga kemudian melambung namanya pada rakyat Turki.

Belanda, Jepang, tentara-tentara Sekutu (Inggris, AS cs) memang tidak mau negara Indonesia tercinta ini dipimpin oleh tokoh-tokoh Islam yang dididik oleh para ulama. Mereka maunya yang tampil memimpin negeri ini adalah tokoh-tokoh sekuler hasil didikan mereka. Karena dengan mereka diidik, mereka menjadi tahu karakter dan kepribadian tokoh itu sehingga kemudian mereka dengan mudah menyetirnya. Baik secara langsung maupun tidak langsuing.

Penjajah-penjajah kafir dalam sejarah imperialismenya tidak pernah puas sebelum menguras kekayaan alam di negara itu atau menempatkan orang-orangnya untuk dijadikan boneka pionnya. Bila boneka ini mencoba-coba melawannya, maka dengan cepat akan digulingkannya. Dan itulah yang terjadi pada Soeharto, presiden setelah Soekarno. Wallaahu a'lam bish shawab. (Nuim Hidayat)

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:


Apa yang terjadi di Wall Street, Manhattan, New York mirip dengan yang terjadi Rothschild Boulevard, Tel Aviv, Israel. Mereka berkemah di pusat jantung ekonomi di kedua negara. Gerakan mereka mengambil tema yang sama, tentang keserakahan orang-orang kaya, yang mengakibatkan kehancuran ekonomi global dan ketidak adilan serta kesengsaraan.

Mulal-mula gerakan anti-kapitalis tidak memiliki pemimpin dan tujuan yang jelas? Di Rothschild Boulevard dan Wall Street, mula gerakan berlangsung tidak ada seorangpun agitator, setidaknya di hari-hari awal mereka, sampai mereka bersatu dan memiliki pandangan yang sama, yaitu menjadi gerakan anti kapitalis atau orang kaya yang serakah.

Tetapi, baik di Rothschild Boulevar dan Wall Street, muncul tokoh George Soros. George Soros disebut-sebut mendanai gerakan yang ada di Rothscild Boulevard, Tel Aviv dan Wall Street di Manhattan, New York. Soros bersama dengan miliarder Slim-Fast dan aktivis perdamaian Danny Abraham, sekarang membuat para pemimpin ekonomi dunia, terutama dari kalangan orang kaya Yahudi, bagi mereka sangat menakutkan.

George Soros, seorang philantropis dunia, melalui lembaga yang sangat terkenal "The Open Society Institute", berkerja di seantero jagad. Di Amerika Serikat, Amerika Latin, Eropa, dan Rusia, Asia, dan Timur Tengah, perubahan di seluruh kawasan itu, tidak terlepas dari tangan George Soros.

George Soros, berada di balik krisis ekonomi Asia, di tahun l998, yang mengakibatkan terjadinya perubahan politik regional, dan bergugurannya rezim-rezim di kawasan itu. Kemudian, muncul gerakan pro-demokrasi, yang menumbangkan sejumlah rezim otoritarian di Asia. Tetapi, Soros bukan hanya menukangi perubahan politik di Asia, tetapi terlibat dalam perubahan politik di Eropa Timur dan Rusia.

Semuanya, di kawasan itu di dorong lahirnya kekuatan baru, rezim-rezim baru yang bercorak demokratik. Lahir partai-partai politik, pemilihan, parlemen, dan pemerintahan campuran (kuasi) sipil dan militer, yang lebih terbuka. Inilah langkah awal dari gerakan yang di lakukan "The Open Society Institute" dari George Soros.

George Soros dianggap menjadi arsitek gerakan demonstrasi di Rotschild Boulevard, yang dilakukan para aktivis kiri Israel, yang sangat keras menentang ekonomi model kapitalis, yang dijalankan pemerintahan Netanyahu, yang sangat konservatif. Mereka mengutuk para bankir, yang sangat memanjakan orang-orang kaya, sementara itu nasib mereka - para Yahudi Eropa yang miskin, tak dapat hidup layak di Tel Aviv.

Tetapi, gerakan yang menduduki jantung ekonomi itu, bukan hanya berlangsung di Tel Aviv, tetapi terus merambah ke seluruh penjuru bumi. Sesudah di Tel Aviv, gerakan itu, kemudian menduduki jantung ekonomi Amerika Serikat, Wall Street, dan sekarang gerakan mereka sudah memasuki hari yang ke 30. Tanpa diketahui kapan akan berakhir gerakan itu. Gerakan menduduki Wall Street itu, menyeruak ke seluruh negara bagian Amerika, dan sekarang masuk ke jantung-jantung kota di Eropa.

London, Berlin, Madrid, Roma, Paris, Athena, Spanyol, Belgi, dan hampir seluruh ibukota Eropa sekarang menghadapi gerakan aksi menentang kapitalisme. Di Roma seorang perempuan membawa poster yang bertuliskan "Kapitalism is the religion", ungkap mereka. Betapa mereka sekarang menentang keserakahan dari kapitalisme.

Para pemimpin "Tea Party" sangat marah dengan gerakan yang sekarang menduduki Wall Street. Demikian juga para pemukim Yahudi, mereka sangat bingung dengan gerakan yang berada di Rotschild Boulevard, yang mereka tuduh sebagai Yahudi sekular, yang terus meneriakkan anti orang kaya di Tel Aviv, sampai Sabtu malam.

Para pakar konservatif menuduh mereka yang menduduki Wall Street, adalah gerakan anti-Semit. Karena gerakan yang mereka lakukan terus-menerus, sekarang mengguncang kepentingan Yahudi secara global. Gerakan di Rotchild Boulevard adalah sayap kiri, atau bahkan lebih buruk, yaitu anti-Zionis. Ini sangat nampak dengan jelas dari bendera, panflet, spanduk, dan artikel mereka yang terbit di media.

Di "media liberal" yang membesar-besarkan gerakan protes, dituduh melemahkan negara dan mengembalikan Sosialisme Trotskis, yang sekarang menjadi trend di seantero dunia. Di Amerika Serikat yang menduduki Wall Street, adalah sayap kiri, yang mempunyai afiliasi politik dengan Partai Demokrat.

Mereka menghantam orang-orang kaya, borjuis Yahudi, yang selama pemerintahan George Walker Bush, selalu dianakemaskan, dan mendapatkan berbagai dukungan, termasuk tidak membayar pajak, dan sekarang mereka mendapatkan dana talangan yang jumlahnya mencapai ratusan miliar dollar.

Sementara kelas menengah Amerika Serikat, mereka harus terlempar dari rumah-rumah mereka, karena tidak mampu lagi membayar kredit mereka kepada bank. Kelas menengah Amerika Serikat semakin banyak yang menganggur, tanpa pekerjaan, tetapi bank-bank mendapatkan kemudahan dan dana talangan yang terus digelontorkan Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Amerika.

Mereka yang mula-mula menduduki Zuccotti Park, Mahattan, atau di Rotschild Boulevard menuntut "keadilan sosial". Gerakan itu menjadi pukulan saraf dan jantung Wall Street, yang menjadi pusat bisnis dan ekonomi kaum kapitalis Yahudi.

Gerakan yang didanai oleh George Soros, nampaknya mendapat dukungan kebanyakan rakyat Amerika. Rakyat Amerika Serikat menganggap gerakan yang sekarang sedang berlangsung di Wall Street itu, mereka nilai sebagi gerakan yang lebih penting.

Di kedua negara Israel dan Amerika Serikat, yang menganut sistem pasar bebas, mereka menjuluki sebagai "kapitalisme jahat" - tampaknya membuat banyak orang marah. Di mana di kedua negara, orang yang kaya menjadi semakin kaya, yang miskin semakin miskin, dan kelas menengah semakin hancur, akibat keserakahan orang-orang kaya Yahudi itu.

Di Israel, empat atau lima konglomerat bersama dengan sepuluh atau dua puluh keluarga kaya menguasai seluruh ekonomi Israel. Sedangkan di Amerika, para demonstran mengutuk orang kaya, yang jumlahnya hanya 1% mendapat dana talangan dari The Fed, yang jumlahnya ratusan miliar, sementara mayoritas 99% rakyat kelas Amerika Serikat tergilas habis.

Di Amerika, situasi politik dan keuangan jauh lebih kompleks. Gerakan yang menduduki Wall Street menjadi "oposisi" terhadap Partai Republik dan pendukungnya yang paling vokal pengecaman keras para demonstran. Anggota Kongres Yahudi, yang terkenal Eric Cantor, gerakan protes di Wall Street itu, sebagai ancaman dari kaum kiri, dan sekarang dimanfaatkan Obama, yang dianggap akan sangat mengerikan bagi orang kaya di Amerika Serikat, di mana Obama akan menaikan pajak.

Di Amerika Serikat dan seantero jagad sedang terjadi perang antar kelas, di antara kelas-kelas orang Yahudi, antara orang Yahudi yang kaya dan serakah menghadapi kelas menengah Yahudi, yang terus tergilas ekonomi kapitalis yang merupakan buah tangan Yahudi.

Anehnya, lagi-lagi George Soros, menjadi faktor pemicu terjadi keributan di seluruh dunia, dan munculnya gerakan protes, yang sekarang menjadi gerakan global. Apa yang ingin dituju George Soros? Wallahu'alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , , ,

Tentara penjaga perbatasan Jerman Timur, Conrad Schumann, melompati kawat berduri pada tanggal 15 Agustus 1961.
Orang Jerman berdiri di atas tembok ini, tahun 1989, tembok ini akan dihancurkan beberapa hari kemudian setelahnya.
Tembok Berlin di Gerbang Brandenburg, 10 November 1989
Orang ber-Juggling di Tembok Berlin tanggal 16 November 1989
"Mauerspecht" (November 1989)
Seorang penjaga Jerman Timur berbicara pada seorang Jerman Barat melalui tembok yang bolong, akhir November 1989.
Penduduk Jerman Barat melihat-lihat di perbatasan dengan Jerman Timur di sebuah tembok yang bolong disertai dengan pengawas dari Jerman Timur.
Terlihat sebuah crane menghancurkan salah satu bagian dari Tembok Berlin di dekat Gerbang Brandenburg tanggal 21 Desember 1989
Hampir semua bagian tembok ini telah diruntuhkan. Foto Desember 1990.
Sedikit sisa Tembok Berlin di Potsdamer Platz, Maret 2009
Sumber: http://id.wikipedia.org
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:


Fluktuasi pemberitaan tentang proposal Palestina ke Perserikatan Bangsa-bangsa untuk diakui sebagai sebuah negara, membuat saya mengingat beberapa hal. Salah satunya tentang media-media besar dunia yang menjadikan Islam dan Palestina sebagai cover story mereka.

Saya pernah cukup terkejut dengan terbitan majalah Time yang membahas masalah konflik Israel dan Palestina, tahun silam. Untuk media seperti Time, rasanya sangat ganjil dan agak di luar kebiasaan jika mereka menurunkan isu dengan cover berjudul Why Israel Can’t Win.

Judul ini bukan hanya pertanyaan, tapi juga sebuah pernyataan dari Time tentang pengakuan kelompok Hamas di Palestina dan pejuang-pejuang kemerdekaan di negeri terjajah itu, termasuk Hizbullah. Bahkan dalam salah satu artikelnya, Time menurunkan sebuah tulisan yang bagi saya cukup menggelisahkan pihak Israel. Can Israel Survive? Mampukah Israel bertahan? Sampai kapan? Dengan apa?

Setelah 60 tahun menguasai Palestina dengan segala peperangan yang mereka sajikan, tak ada tanda-tanda Palestina akan menyerah, apalagi kalah. Bahkan Hamas dan Hizbullah nampak lebih perkasa pasca gagalnya Israel menaklukkan kedua kekuatan ini pada tahun 2006 dan awal tahun 2009. Padahal kedua kekuatan ini telah mengikat sumpah akan melenyapkan Israel dari peta dunia.

Awal Maret 2009 lalu, lagi-lagi saya terkejut dengan fenomena media internasional. Newsweek, salah satu majalah berita yang cukup prestisius di dunia terbit dengan cover berwarna hijau. Judul cover tersebut ditulis dalam bahasa Arab. Al Islam al Radiikally Hakiikatu min Haqaiq al Hayya, Kaifa Nata’aaysy Maa’ah. Radical Islam is a Fact of Life, How to Live With It.


Bagi saya hal ini cukup untuk disebut sebuah kejutan. Bagaimana tidak, Newsweek menulis judul cover-nya dalam bahasa dan huruf Arab. Dengan terjemahan dalam bahasa Inggris dalam tanda kurung yang kecil.

Fareed Zakaria, sang penulis sekaligus editor senior Newsweek membuka tulisannya dengan kisah seorang hakim di Afghanistan bernama Faisal Ahmad Shinwari. Sang hakim telah mengeluarkan amar hukum melarang perempuan menyanyi di televisi dan meminta agar semua televisi kabel di tutup di negeri Mullah ini. Tak hanya itu, Faisal Ahmad Shinwari juga menentang sekolah-sekolah yang mencampurkan anak laki-laki dan perempuan dalam satu kelas.

Kisah-kisah lainnya seolah-olah mengidentifikasi bahwa Faisal Ahmad Shinwari ini adalah seorang hakim yang berhaluan Taliban dengan segala putusan hukum yang dikeluarkan. Tapi sesungguhnya, Faisal Ahmad Shinwari ini adalah hakim terpilih setelah Afghanistan diinvasi oleh militer Amerika. Faisal Ahmad Shinwari menjadi hakim di masa kepemimpinan Hamid Karzai yang disebut-sebut banyak pihak sebagai pimpinan pemerintah boneka Amerika di Afghanistan.

Di satu sisi, kita melihat pertanyaan dan pernyataan tentang pesimisme Barat atas perilaku yang mereka kerjakan sendiri. Time meragukan, setidaknya mempertanyakan sampai kapan Israel mampu bertahan? Jika Israel dipertanyakan, tentu saja pertanyaan serupa bisa diarahkan pada Amerika, sampai kapan membela Israel Raya? Sementara di sisi yang lain, kita melihat peningkatan yang signifikan tentang fenomena-fenomena militansi dalam komunitas-komunitas Muslim di seluruh dunia. Tak hanya di Afghanistan dengan contoh Faisal Ahmad Shinwarinya.

Sesungguhnya, hal ini sudah menggejala lama. Contoh yang masih dengan mudah bisa kita ingat ada di Nigeria. Ketika pemerintahan militer berakhir, pada tahun 1992, 12 dari 36 wilayah di Nigeria memproklamirkan diri mengadopsi sistem Syariah Islam sebagai dasar hukum wilayah. Ada kegairahan beragama yang sangat besar dan mengemuka, mulai dari Afrika sampai Indonesia. Sampai-sampai Newsweek merasa perlu merumuskan statemen, bagaimana caranya hidup berdampingan dengan kaum Islam radikal sebagai sebuah realitas kehidupan internasional.

Sebelumnya, kita hanya menemukan satu rekomendasi dari Barat: Perangi kaum radikal. Tapi hari ini kita menemukan rekomendasi baru yang terus menjadi bahasan.

Secara internal, umat Islam dimanapun harus menjadi seorang Muslim yang militan. Berpegang teguh pada agamanya, tak kenal kompromi jika menyangkut hal-hal yang substansi, memberikan sumbangsih besar pada tugas-tugas peradaban dan lain sebagainya. Tapi kita juga masih menyimpan satu pertanyaan besar, apakah militan selalu identik dengan kekerasan? Lalu kekerasan disebut dengan radikal. Padahal, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu arti kata radikal adalah maju dalam berpikir atau bertindak.

Tampaknya kita sedang berada pada masa peralihan peradaban besar. Catatlah baik-baik, dan cermati dengan seksama. Kita semua sedang menjadi pelaku sejarah. Jangan lengah, jangan lemah. Torehkan kuat-kuat tinta yang indah agar sejarah kehidupan dunia lebih baik untuk anak dan cucu kita.

Oleh: Herry Nurdi*
*Jurnalis Muslim

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , ,

Tembok Berlin adalah sebuah tembok pembatas terbuat dari beton yang dibangun oleh Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur serta daerah Jerman Timur lainnya sehingga membuat Berlin Barat sebuah enklave. Tembok ini mulai dibangun pada tanggal 13 Agustus 1961. Tembok pembatas ini juga dibarengi dengan pendirian menara penjaga yang dibangun sepanjang tembok ini, juga pendirian sebuah daerah terlarang, yang diisi dengan ranjau anti kendaraan. Para pemerintah Jerman Timur menyatakan bahwa tembok ini dibangun untuk melindungi para warganya dari elemen-elemen fasis yang dapat memicu gerakan-gerakan besar, sehingga mereka dapat membentuk pemerintahan komunis di Jerman Timur. Meski begitu, dalam prakteknya, ternyata tembok ini digunakan untuk mencegah larinya penduduk Berlin Timur ke wilayah Berlin Barat, yang berada dalam wilayah Jerman Barat.

Sebelum pembangunan tembok ini, ada sekitar 3,5 juta warga Jerman Timur yang bermigrasi dan membelot ke barat, salah satunya dengan melewati perbatasan Jerman Timur dan Jerman Barat, lalu kemudian mereka pun bisa pergi ke negara Eropa Barat lainnya. Diantara tahun 1961 dan 1969, tembok ini pun mencegah hal itu. Di rentang waktu kira-kira 30 tahun ini, ada sekitar 5.000 orang yang mencoba kabur, dengan estimasi ada 100 sampai 200 orang yang meninggal karena ditembak.

Di tahun 1989, ada perubahan politik radikal di kawasan Blok Timur, yang berhubungan dengan liberalisasi sistem otoritas di Blok Timur dan juga mulai berkurangnya pengaruh Uni Soviet di negara-negara seperti Polandia dan Hungaria. Setelah kerusuhan sipil selama beberapa minggu, pemerintah Jerman Timur mengumumkan tanggal 9 November 1989 bahwa rakyat Jerman Timur boleh pergi ke Jerman Barat dan Berlin Barat. Maka, kerumunan orang Jerman Timur pun menyeberangi dan memanjat tembok itu, diikuti pula dengan warga Jerman Barat di sisi lain untuk merayakan atmosfer kebebasan. Beberapa minggu setelahnya, euforia publik dan pemburu souvenir akhirnya meretakkan bagian-bagian tembok itu. Nantinya, sebagian besar tembok ini dihancurkan oleh pemerintah menggunakan alat berat. Kejatuhan dari Tembok Berlin membuka jalan terbentuknya Reunifikasi Jerman, 3 Oktober 1990.

Latar Belakang

Jerman Pasca-Perang Dunia II
Setelah berakhirnya Perang Dunia II di Eropa, yang tersisa dari bagian barat Perbatasan Oder-Noisse dibagi menjadi 4 wilayah pendudukan (akibat Perjanjian Potsdam), masing-masing wilayah itu dikuasai oleh Amerika Serikat, Britania Raya, Perancis, dan Uni Soviet. Ibukota Berlin, sebagai pusat kontrol, juga dibagi-bagi menjadi 4 wilayah meskipun kota ini sendiri terletak jauh di dalam kekuasaan Soviet.

Selama kurang lebih dua tahun, ada perubahan politik diantara Soviet dan anggota sekutu lainnya. Hal ini terjadi karena Soviet menolak setuju untuk rencana rekonstruksi kembali Jerman pasca-perang. Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan negara-negara Beneluks kemudian bertemu untuk menggabungkan kawasan-kawasan non-Soviet menjadi satu kawasan untuk direkonstruksi dan menyetujui perluasan dari Marshall Plan.

Pembangunan Tembok
Tembok ini didirikan pada tanggal 13 Agustus 1961 oleh pemerintahan komunis Jerman Timur di bawah pimpinan Walter Ulbricht karena Berlin Barat adalah sebuah 'lubang' di negara mereka. Antara tahun 1949 sampai tahun 1961 sudah lebih dari 2 juta penduduk Jerman Timur melarikan diri lewat Berlin. Hal ini membuat ekonomi Jerman Timur menjadi kedodoran, karena kebanyakan orang-orang yang masih muda yang melarikan diri. Maka secara rahasia dan tiba-tiba tembok ini dibangun.

Map yang menunjukkan lokasi Tembok Berlin, sekaligus menunjukkan tempat pos pemeriksaan.

Tembok Berlin dan Perang Dingin

Tembok Berlin yang mengurung Berlin Barat dan memotong kota ini persis di tengahnya, menjadi simbol Perang Dingin yang paling terkenal. Banyak pembesar barat, terutama presiden Amerika Serikat yang mengunjungi tembok ini untuk mengutuknya. Presiden J.F Kennedy pada tahun 1963 datang dan berpidato di sisi tembok ini dengan kalimatnya yang ternama: "Ich bin ein Berliner." Lalu 20 tahun kemudian, pada tahun 1983 presiden Ronald Reagan juga berpidato di sini dan mengutuk Uni Soviet yang disebutnya An Evil Empire, atau sebuah kerajaan kejahatan. Tetapi pada tahun 1989, pada hari peringatan Republik Demokratis Jerman, atau Jerman Timur, pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev juga sempat mengunjungi Tembok Berlin dan berkata pada pemimpin Jerman Timur Erich Honecker bahwa “Barangsiapa terlambat datang, akan dihukum oleh hidup”.

Pelarian Melalui Tembok Berlin

Selama Tembok Berlin berdiri, ada sekitar 5.000 orang yang berhasil melarikan diri. Jumlah orang yang tewas akibat mencoba kabur, sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Menurut Alexandra Hildebrandt, Direktur Museum Pos Pemeriksaan Charlie, diperkirakan jumlah orang yang tewas adalah lebih dari 200 orang. Sebuah kelomok bersejarah di Center for Contemporary Historical Research (ZZF) di Potsdam mengkonfirmasikan bahwa ada 136 jumlah orang tewas. Sebelumnya, yang tercatat resmi adalah 98 orang yang dibunuh.

Runtuhnya Tembok Berlin

Setelah memperbolehkan celah bagi para penduduknya untuk melewati perbatasan di musim panas, Hungaria akhirnya secara efektif menghilangkan pembatas fisik negaranya dengan Austria tanggal 19 Agustus 1989. Di bulan September, lebih dari 13.000 orang Jerman Timur kabur ke Austria melalui Hungaria. Hal ini menyebabkan beberapa rentetan kejadian berikutnya. Orang Hungaria mencegah agar tidak semakin banyak orang Jerman Timur yang menyebrang perbatasan, dan mengembalikan mereka ke Budapest. Orang-orang Jerman Timur ini memenuhi kedutaan Jerman Barat dan menolak untuk kembali ke Jerman Timur. 

Pemerintah Jerman Timur menanggapi hal ini dengan menutup semua perjalanan ke Hungaria, tapi masih memperbolehkan mereka yang mau kembali ke Jerman Timur. Pada kesempatan kali ini, otoritas Jerman Timur memperbolehkan mereka untuk pergi, asalkan saja nanti kereta yang mereka pakai melewati Jerman Timur. Maka muncullah demonstrasi besar-besaran di Jerman Timur sendiri. (Lihat Demonstrasi Senin di Jerman Timur.) Pemimpin Jerman Timur, Erich Honecker, mengundurkan diri tanggal 18 Oktober 1989 dan digantikan oleh Egon Krenz beberapa hari kemudian. Honecker telah memprediksi bahwa tembok itu masih akan bertahan sampai 50 atau 100 tahun lagi, jika kondisi negara itu tidak berubah.

Protes demonstrasi pecah di seluruh Jerman Timur bulan September 1989. Pada awalnya, para pemrotes ingin pergi menuju ke barat, sambil meneriakkan "Wir wollen raus!" ("Kami mau pergi!"). Tapi lalu para pemrotes mulai berteriak "Wir bleiben hier", ("Kami akan tetap di sini!"). Maka, ini adalah awal dari apa yang disebut orang Jerman Timur sebagai "Revolusi Damai" di akhir 1989. Para pemrotes semakin besar di awal November. Para pemrotes mencapai puncaknya pada tanggal 4 November, ketika hampir setengah juta orang berkumpul di Demonstrasi Alexanderplatz. (Henslin, 07)

Sementara itu, para pengungsi yang meninggalkan Jerman Timur ke Jerman Barat semakin meningkat, dan mereka menemukan jalan baru untuk keluar dari Jerman Timur, yaitu dengan cara melalui Hungaria via Cekoslowakia (atau via Kedutaan Jerman Barat di Prague) yang diizinkan oleh pemerintahan Krenz yang baru, dan dengan persetujuan dengan pemerintah komunis Cekoslowakia. Agar keadaan tidak semakin rumit, akhirnya politbiro yang dipimpin oleh Krenz memperbolehkan para pengungsi untuk keluar langsung melalui pintu perbatasan antara Jerman Timur dan Jerman Barat, termasuk Berlin Barat pada tanggal 9 November 1989.

Penghancuran

Tanggal ketika tembok ini mulai dihancurkan adalah 9 November 1989, tapi saat itu tembok ini tidak langsung dTihancurkan saat itu juga. Di sore itu dan beberapa minggu setelahnya, orang-orang datang membawa palu godam dan sejenisnya untuk menghacurkan beberapa bagian tembok dan juga menciptakan beberapa lubang perbatasan yang tak resmi. Orang-orang ini disebut sebagai "Mauerspechte" (pelatuk tembok).

Rezim Jerman Timur kembali mengumumkan bahwa mereka akan membuka 10 pintu perbatasan baru, termasuk di beberapa tempat bersejarah seperti Potsdamer Platz, Glienicker Brücke, dan Bernauer Straße. Massa dari 2 sisi menunggu berjam-jam, bersorak-sorai ketika buldoser menghancurkan tembok ini. Pintu perbatasan baru terus dibuka sepanjang tahun 1990, termasuk di Gerbang Brandenburg tanggal 22 Desember 1989.

Penduduk Jerman Barat dan Berlin Barat diperbolehkan masuk Jerman Timur tanpa visa mulai 23 Desember 1989. Sampai tanggal itu, mereka hanya diperbolehkan masuk dengan berbagai persyaratan dan diharuskan membuat aplikasi untuk pembuatan visa. Selain itu, mereka diharuskan membayar minimal 25 DM per harinya. Maka, sebenarnya pada tanggal 9 November dan 23 Desember ini, penduduk Jerman Timur lebih bebas daripada Jerman Barat. Hampir semua bagian tembok ini telah diruntuhkan. Foto Desember 1990.

Pemberitaan di televisi tentang banyaknya penduduk yang menghancurkan banyak bagian tembok tanggal 9 November membuat banyak orang di luar negeri berpikir bahwa tembok ini akan dihancurkan secepatnya. Sebenarnya, tembok ini tetap dijagai sampai beberapa hari kemudian, meskipun intensitas penjagaan semakin kecil. Di bulan pertama itu, malahan militer Jerman Timur berusaha untuk memperbaiki kembali tembok yang dihancurkan oleh para "pelatuk tembok". Lalu, seiring berjalannya waktu, tindakan ini dihentikan, dan para penjaga semakin toleran dengan aksi penghancuran tembok dan perginya penduduk melalui tembok yang lubang.

Tanggal 13 Januari 1990, tembok ini resmi dihancurkan oleh militer Jerman Timur, dimulai di Bernauer Straße. Penghancuran tembok ini kembali diteruskan setelah Reunifikasi Jerman sampai akhirnya selesai bulan November 1991. Hanya sedikit bagian tembok dan menara tetap dipertahankan, sebagai tempat memorial. Jatuhnya Tembok Berlin merupakan awal dari Reunifikasi Jerman, yang ditandatangani tanggal 3 Oktober 1990.

Sumber: http://id.wikipedia.org
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,


Sebelumnya tidak pernah terbayangkan bahwa Israel mau mengakui Hamas dan melakukan negosiasi. Di mata pemerintahan Partai Likud, yang sangat konservatif, dipimpin Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, gerakan Hamas, seperti sesuatu yang dinajiskan.

Semua partai politik di Israel, baik yang kiri dan kanan serta yang konservatif, persepsi mereka terhadap Hamas, adalah kelompok teroris yang mengancam masa depan Israel, dan haram melakukan komunikasi dan negosiasi. Israel dengan segala kekuatan yang dimilikinya berusaha melikwidir (menghapus) kekuatan Hamas di Gaza.

Usaha-usaha yang dijalankan Israel, memusnahkan dan membunuh semua tokoh-tokoh Hamas, yang menjadi inspirasi dan penggerak gerakan itu. Israel membunuh tokoh dan pendiri Hamas, Sheikh Ahmad Yasin, saat baru meninggalkan masjid, usai shalat Shubuh dengan menggunakan rudal yang ditembakkan dari halikopter.

Sheikh Ahmad Yasin yang sudah lumpuh, dan tidak dapat menggerakkan tubuhnya, kecuali kepalanya, sangat menakutkan bagi Israel. Tokoh dan ulama Palestina ini, sejak mudanya menjadi pendidik, penggerak, dan pemberi inspirasi bagi perjuangan rakyat Palestina. Sheikh Ahmad Yasin sangat kharismatis, dan berpengaruh terhadap rakyat Palestina. Dengan membunuh Sheik Ahmad Yasin, harapan Israel, perjuangan rakyat Palestina kehilangan tokoh, dan akan berhenti perjuangan mereka.

Tetapi, pandangan dan kebijakan para pemimpin Israel, semua tidak terbukti, dan sesudah tewasnya Sheikh Ahmad Yasin, perjuangan melawan rezim Zionis-Israel, tidak berhenti. Hamas tetap hidup. Hamas terus berjuang dengan kekuatan yang dimilikinya menghadapi rezim Zionis-Israel.

Gerakan Hamas, yang mula-mula hanya bergerak dibidang pendidikan dan sosial di tanah Palestina terus berkembang dengan seiring berjalannya waktu. Gerakan itu berhasil membangun basis kekuatan yang sangat kokoh di kalangan rakyat, terutama di Gaza, sampai sekarang.

Gerakan Hamas yang berhasil membangun basis dikalangan rakyat, melalui pendidikan dan kegiatan sosial, kemudian mulai masuk perjuangan sipil, dan munculnya pemberontakan, yang sangat spektakuler berbentuk "Intifadah".

Melawan pasukan Israel dengan batu, secara massif. Ini merupakan bentuk perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel, pertama kali yang menggunakan gerakan sipil. Tetapi, tujuannya hanya membangun kembali mental rakyat Palestina, khususnya menghadapi supremasi Israel, yang didukung oleh negara-negara Barat.

Dampaknya sangat luar biasa dengan gerakan "Intifadah", bangkitnya semangat rakyat Palestina secara kolektif, dan sekaligus membangun kembali semangat dunia Arab yang sudah mati, ketika menghadapi rezim Zionis-Israel.

Langkah berikutnya yang dilakukan Gerakan Hamas, membangun kekuatan militer, secara diam-diam. Hamas memulai gerakan militernya, dan membentuk Brigade Izzuddin al-Qassam, di tahun l990 an.

Izzudin al-Qassam, merupakan tokoh dan pejuang, yang mula-mula menghadapi rezim Zionis-Israel, tak lama sesudah Israel melakukan aneksasi (mencaplok) wilayah-wilayah Palestina di tahun 1948.

Hamas melakukan latihan militer yang sangat keras terhadap anggota-anggota Brigade Izzudin al-Qassam, sebagai unit tempur yang sangat handal, memiliki kemampuan militer yang sangat tinggi, yang bisa disejajarkan dengan militer Amerika Serikat, seperti Unit "Special Force" atau "Navy Seal". Karena latihan-latihan militer mereka di gurun pasir, yang terus-menerus, dan menggunakan berbagai jenis senjata.

Ini terbukti dengan kemenangan Hamas, ketika usai pemilu tahun 2006 di Palestina, kemudian tahun 20007, hanya dalam waktu tiga jam, Hamas dapat mengambil alih seluruh Gaza dari tangan Gerakan al-Fatah, yang dipimpin Mahmud Abbas. Hamas mengambil alih kantor pemerintahan Otoritas Palestina, serta mendapatkan senjata dari gudang-gudang yang merupakan milik gerakan al-Fatah.

Kemudian, kekuatan militer Hamas mampu menghadapi invasi milliter Israel di tahun 2008, saat Israel dipimpin Perdana Ehud Olmert. Hamas mampu bertahan menghadapi invasi Israel, yang berlangsung selama sebulan. Dan hanya kehilangan sedikit pasukannya, dan Hamas berhasil menghancurkan berbagai jenis tank dan pasukan Israel, yang masuk kota Gaza. Sampai, Perdana Menteri Ehud Olmert, secara sepihak mengumumkan gencatan senjata, tengah malam, di bulan Januari 2009.

Gerakan Hamas benar-benar teruji kemampuan, dibidang politik, ekonomi dan militer, menghadapi rezim Zionis-Israel, yang didukung Amerika Serikat.

Sejak kemenangan dalam pemilu tahun 2006, Gaza diblokade oleh Israel, dan Hamas tak pernah menyerah dan mau mengakui Israel. Hamas dan rakyat Palestina di Gaza, tetap bisa survive, di tengah-tengah ancaman dan blokade yang dilakukan Israel.

Sekarang rezim Zionis-Israel yang dipimpin Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, yang sangat konservatif, dan bertindak keras terhadap Hamas, dan selalu mengatakan Hamas sebagai kelompok teroris, dan tidak mau melakukan negosiasai apapun dengan kelompok Hamas, sekarang harus menerima eksistensi Hamas, dan membebaskan 1027 tahanan Palestina, termasuk tokoh-tokoh yang dipenjara oleh Israel, ditukar dengan Kopral Gilad Shalit.

Bagaimana kecanggihan Hamas, sampai Mossad, tidak dapat menemukan tempat persembunyian Kopral Gilad Shalit yang diculik oleh Hamas, meskipun rezim Zionis-Israel sudah menggunakan intelijen Mesir, Arab Saudi, dan Otoritas Palestina, dan melakukan invasi militer ke Gaza, dan menduduki Gaza, tetapi tidak berhasil menemukan Gilad Shalit.

Hamas tetap kokoh menghadapi berbagai tekanan dunia internasional. Tidak pernah menyerah. Sikapnya tetap teguh dan konsisten memperjuangkan keyakinannya, menegakkan negara Palestina, yang berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Seperti yang dikatakan Ismail Haniyah, bahwa akan tegak negara Islam di tanah Palestina, dan membebaskan selulruh tanah Palestina yang diduduki oleh rezim Zionis-Israel.

Para pemimpin Hamas adalah para pejuang Islam yang sejati, tidak pernah meminta pertolongan kepada siapapun, kecuali kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orag mukmin, karena itu mereka mendapatkan kemenangan, dan memiliki izzah yang tinggi didepan para musuhnya.

Kemenangan telah di depan mata bagi Hamas, dan seluruh kekuatan di Palestina, yang berjuang ingin membangun negara yang benar-benar berdaulat, lepas dari cengkeraman rezim Zionis-Israel. Wallau'alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:


“Angka Kelahiran Non Yahudi harus ditekan sekecil mungkin” (Zohar II 4B)

Selain Taurat dan Talmud, kitab lain yang sama pentingnya bagi Yahudi adalah Zohar. Menurut para rabbi Yahudi (ingat menurut versi para rabbi), kitab ini merupakan Mishnah ketika Nabi Musa berada di gunung Sinai. Beliau tidak mendiktekannya kepada Joshua (Jusa’ bin Nuh) atau kepada tetua Bani Israel tetapi kepada Nabi Harun secara langsung. Lalu Nabi Harun mendiktekannya kepada Eliyazar sehingga ajaran-ajaran lisan ini dikitabkan dan dinamakan Zohar yang berarti Cahaya. Kitab ini juga menjelaskan dan komentar terhadap Taurat.

Namun pada gilirannya, kitab Zohar dipenuhi dengan ayat-ayat yang bersifat rahasia dan amsal. Ayat-ayat itu pun hanya dapat dipahami melalui Kitab Yetzerah, semacam kitab terjamah bagi penafsiran Zohar. Beberapa abad sesudah Masehi, di Eropa muncul kitab ajaran Kabbalah baru bernama Sefer Bahir, Kitab Cahaya. Ketiga kitab itu semuanyan diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa. Kitab-kitab itu memuat ajaran sangat suci bagi sekte kultus sesat, penyembahan kepada Iblis, dam menjadi buku pegangan gereja-gereja Iblis di seluruh dunia.

Salah satu manifesto kaum Zionis yang terekam dalam Zohar adalah bagaimana menekan laju populasi bangsa Non Yahudi hingga pada titik terendah. Caranya bisa bermacam-macam, dari mulai dengan cara kasar seperti pembunuhan sampai cara halus layaknya penipuan seperti terekam dalam ayat lainnya.

“Orang-orang Yahudi harus selalu berusaha untuk menipudaya orang-orang non-Yahudi.” (Zohar I, 168a)

Keluarga Berencana selama ini dijadikan market Presiden Kedua Republik Indonesia, Soeharto, demi perataan antara populasi penduduk dengan cadangan keuangan Negara. Rupanya menurut The Smilling General, banyaknya anak adalah keladi bangsa besar ini menjadi miskin. Maka tahun 1970-an ia meneken Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1970 tentang pembentukan badan untuk mengelola program KB yang telah dicanangkan sebagai program nasional.

Sejatinya, Indonesia hanyalah satu dari circle yang digulirkan Zionis untuk menekan laju penduduk bumi. Di China mereka menjalankan Program Kebijakan Satu Anak atau jìhuà shēngyù zhèngcè. Lain lagi dengan negeri samba, disana orang-orang menyebut KB dengan Planejamento Familiar. Di India dijalankan kebijakan National Population Policy. Negeri beruang merah Uni Sovyet ada program perencanaan kependudukan yang mereka namakan Kontrolya V Oblasti Planirovaniya Sem’i Naseleniya.

Lalu siapakah Tokoh Yahudi modern yang ‘berjasa’ atas ini semua? Namanya memang tidak setenar Darwin, tapi gagasan Evolusionis tokoh Atheis itu merujuk padanya. Iya, dia pria itu bernama Thomas Robert Malthus (1766-1834)

Thomas Malthus, sejatinya adalah seorang pakar demografi Inggris sekaligus ekonom politk yang paling terkenal karena pandangannya yang pesimistik namun sangat berpengaruh tentang pertambahan penduduk.


Bagi Malthus, pertumbuhan sumber daya manusia tidak simetris dengan potensi sumber daya alam. Dalam An Essay on the Principle of Population (Sebuah Esai tentang Prinsip mengenai Kependudukan), yang pertama kali diterbitkan pada 1798, Malthus membuat ramalan yang terkenal bahwa jumlah populasi akan mengalahkan pasokan makanan, yang menyebabkan berkurangnya jumlah makanan per orang. Pada titik inilah kekacauan akan terjadi. Dan apa yang diramalkan Darwin dengan nama Survival for the fittest akan menjadi keniscayaan.

Rupanya tesis Malthus juga tidak orisinal. Pandangan-pandangan Malthus umumnya dikembangkan sebagai reaksi terhadap pandangan-pandangan yang optimistik dari ayahnya dan rekan-rekannya, terutama J.J Rousseau. Ya tokoh pendidikan anak, yang justru membuang lima anak haramnya ke rumah sakit pungut itu.

Anehnya solusi yang ditawarkan Malthus untuk meredakan kemelut itu seakan menyelisihi Islam, yakni apa yang ia sebut sebagai preventive checks atau penundaan perkawinan. Ide Malthus itu kini dikampanyekan oleh salah satu lembaga KB di Indonesia dengan pemeran salah seorang artis ternama.

Pada gilirannya, ide Malthus yang masih sederhana dibuat menjadi praktis oleh kalangan Barat. Maka, muncullah kondom dari Maria Stopes (1880-1950). Alih-alih alat ini digunakan sebagai bagian dari kontrasepsi, namun pada gilirannya mereka justru mengkampanyekan seks bebas. Persis seperti penggiat HIV/AIDS era akhir zaman seperti sekarang. Bukan mengatasi akar masalahnya, namun hanya menambah masalah.Bahkan di Inggris pada tahun 2010, Maria Stopes Organization membuat sebuah layanan iklan untuk mengkampanyekan Aborsi.

"Penelitian menunjukan bahwa 42 persen orang usia dewasa masih belum mengetahui kemana mereka harus pergi untuk menyelesaikan masalah 'kehamilan yang tidak diinginkan' ini, meskipun dari hasil penelitian mengungkapkan bahwa satu dari tiga wanita di Inggris telah melakukan aborsi satu kali seumur hidup mereka,'" ungkap Judy Douglas dari Maria Stopes kepada Sky News Online.

Iklan ini jelas memancing perdebatan karena ada sebagian pihak di Ingrris yang tidak menyetujui mengenai penayangan iklan ini salah satunya adalah salah satu LSM anti aborsi seperti Pro Life.

Islam sebagai agama mulia sepanjang zaman telah mengatur persoalan ini. Bahwa banyaknya anak bukanlah petanda kemiskinan seperti yang digembar-gemborkan Malthus dan kronco Yahudinya di PBB.

Oleh karenanya, yang menjadikan sebagian manusia mengalami kemiskinan atau krisis pangan tidak lain adalah tangan-tangan tipu daya yang dimainkan kaum kapitalis, seperti terjadi di Somalia baru-baru ini.

Allah SWT berfirman, “Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah yang memberi rizkinya.” (QS 11 : 6). Maka itu tak heran Aa Gym pernah berkata, “Kenapa kita takut akan rezeki Allah, gajah aja gak sekolah gemuk-gemuk. Plankton yang hidup didasar laut saja diberi rezeki, bagaimana dengan kita sebagai makhluk hidup yang mulia?”

Jadi buat apa wanita muslim takut memiliki banyak anak? Bukankah Rasulullah pernah bersabda, “Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat” [Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik]. Jadi, ayo para ibu muslim, cetak generasi bertauhid sebanyak-banyaknya! Allahua'lam. (pz)
Tamat

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Akhir pekan kemarin, berlangsung aksi demonstrasi di 900 kota di seluruh dunia, yang diikuti puluhan ribu demonstran yang menentang kapitalisme.

Sebuah peristiwa yang sangat menarik dan luar biasa, yang belum terjadi sebelumnya. Situasi ini akan terus berlanjut, dan pasti akan membawa perubahan besar, menjelang akhir abad 21 ini.

Di negara-negara besar, terutama di Barat, situasi politik seperti rumput kering. Mudah terbakar. Semuanya sudah membayangkan malapetaka di hari depan mereka. Perjuangan kekuatan-kekuatan yang ingin mengakhiri kapitalisme, sudah sampai kepada kesimpulan yang tidak lagi dapat ditawar-tawar.

Keserakahan orang-orang kaya, dan korporasi yang dikendalikan para pemilik modal, dan kekuasaan yang terus dikendalikan kaum pemilik modal, menghancurkan mayoritas rakyat di negara-negara Barat. Terutama kelas menengah mereka. Kelas menengah dan kaum buruh dibuat menjadi tidak berdaya menghadapi kondisi yang sangat mencengkeram mereka. Di mana negara pun tidak berpihak kepada mereka, kaum kelas menengah.

Sejumlah besar orang muda menganggur, pemerintah mengeluarkan program penghematan yang mencekik dan tidak populer. Para elit keuangan bertanggung jawab atas krisis ekonomi global. Para ellite global memanjakan para miliarder yang menguasai bank dan industri keuangan, dan mengeluarkan dana talangan, yang mencapai ratusan miliar dan bahkan triliunan dollar. Seperti yang terjadi di Amerika Serikat.

Tetapi, pemerintah membiarkan kelas menengah mereka terlempar dalam kesengsaraan, dan mereka kehilangan rumah, pekerjaan, jaminan sosial, dan pendidikan, serta menjadi orang-orang yang putus asa. Sekarang jutaan orang di seluruh dunia, ingin menghancurkan kapitalisme yang serakah, dan membuat sengsara itu.

Untuk memahami potensi gerakan yang ada sekarang ini, ada baiknya membandingkannya dengan gerakan para aktivis kiri secara global dalam setengah abad terakhir.

Terakhir kali lahir gerakan dalam skala besar berlangsung di tahun 1960-an, ketika protes anti-pemerintah pecah dari Berkeley ke Paris, Meksiko City sampai ke Praha.

Apa yang mendorong mereka melakukan protes adalah perang di Vietnam, ancaman bencana nuklir, di mana cara kedua negara adidaya (Uni Soviet dan Amerika Serikat) yang sangat berbeda-dalam menggunakan perang dingin yang tujuannya masing-masing ingin menegakkan pengaruh mereka secara global.

Protes dari akhir 1960-an membantu mengakhiri Perang Vietnam dan mengantarkan berakhirnya era perang dingin, menyusul kekalahan Uni Soviet di Afghanistan. Inilah yang kemudian melahirkan detente, dan berakhirnya era perang dingin, menjelang akhir abad ke 20.

Tapi, di Amerika Serikat, kaum kiri mereka gagal mendorong politik lebih ke kiri. Tetap saja kekuatan kapitalis menguasi sistem ekonomi dan keuangan yang menjadi urat nadi kehidupan di negeri itu.

Nasib rakyat Amerika Serikat dan dunia ditentukan di distrik Manhattan, New York, di mana disitu terdapat pusat keuangan global, yaitu Wall Street. Perjuangan kaum kiri di Amerika Serikat tidak berhasil menggeser Amerika Serikat ke kiri. Bersamaan dengan berakhirnya perang Vietnam dan Perang Dingin.

Salah satu faktor waktu itu, karena keberadaan musuh, komunis yang menjadi kekuatan global, di bawah komando Uni Soviet. Faktor inilah yang sulit bagi paraa aktivis "Kiri Baru" untuk mengkritik kebijakan luar negeri Amerika dan kapitalisme Amerika. Karena mereka yang mengkritik kapitalisme dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat, pasti akan dicap sebagai komunis.

Alasan kedua adalah protes di akhir tahun 1960 bertepatan dengan gejolak besar, sedang terjadinya revolusi dalam hubungan antara kulit putih dan kulit hitam, pria dan wanita, gay dan anti gay, tua dan muda, dan memburuknya dalam keluarga Amerika Serikat. Karena para aktivis kiri yang melakukan aksi protes di akhir 1960-an menjadi simbol ancaman yang melampaui tuntutan mereka yang sebenarnya yaitu tuntutan politik.

Demonstran yang terkait dengan gerakan menduduki Wall Street di Zuccotti Park 14 Oktober 2011 di Manhattan, New York City, menandai kembali kekuatan kiri, yang sekarang mendapatkan momentumnya dengan krisis keuangan global, akibat utang yang dilakukan para pemilik korporasi keuangna secara global, yang akhirnya menghancurkan negara, dan berdampak terhadap kelas menengah.

Protes akhir 1960-an berulang, dan ini merupakan sejarah gerakan kiri, yang masih memiliki akar sejarah, dan kekuatan mereka kini nampak bangkit lagi, di saat seluruh dunia menghadapi krisis keuangan. Para demonstran sayap kiri itu mengecam kapitalisme Amerika.

Orang-orang Amerika mulai kesal terhadap pajak dan peraturan yang telah berkembang sejak New Deal, di mana orang-orang kaya dibebaskan membayar pajak. Hanya sedikit mereka yang menyadari hal itu, sampai pemilihan Ronald Reagan, hubungan antara ekonomi dan pemerintah di akhir 1960-an dan 1970-an, sebenarnya lebih menguntungkan bagi sayap kanan.

Protes anti-perang dingin tahun 1960-an muncul kembali di awal 1980-an, ketika sayap kiri Eropa memprotes penyebaran rudal Amerika dan sayap kiri Amerika turun ke jalan dalam mendukung pembekuan nuklir.

Tapi gerakan sayap kiri melakukan gerakan protes pertama di pasca era perang dingin adalah gerakan anti-globalisasi, yang pada 1990-an mulai mengepung pertemuan Dana Moneter Internasional, Bank Dunia dan Organisasi Perdagangan Dunia.

Mereka melakukan aksi-aksi protes seperti yang terjadi hari ini. Sebuah gerakan transnasional (non-komunis), dan merupakan pemberontakan terhadap dampak sosial dan lingkungan oleh kapitalisme.

Tapi tahun 1990-an merupakan periode kemakmuran di Barat, yang membantu menjelaskan mengapa banyak kemarahan para demonstran 'difokuskan pada dampak globalisasi di negara berkembang.

Hari ini, sebaliknya, para pemrotes di Amerika dan Eropa terutama difokuskan pada kapitalisme yang tidak dikendalikan oleh negara. Mereka meluapkan kemarahan yang lebih besar dibandingkan pada 15 tahun yang lalu. Disinilah letak potensi gerakan yang lebih besar untuk menciptakan perubahan politik secara global.

Yang paling penting apa yang terjadi saat ini adalah gerakan yang lahir bersamaan dengan terpilihnya Barack Obama tahun 2008. Dimulai dengan kampanye Howard Dean pada tahun 2004, generasi muda yang cerdas melalui web-liberal, dan melaui website itu mengorganisir gerakan seperti DailyKos dan kelompok-kelompok lainnya, seperti MoveOn, mulai menggunakan kemarahan mereka terhadap Perang Irak untuk menciptakan sebuah gerakan aktivis sayap kiri dalam Partai Demokrat.

Apa yang membedakan "netroots" aktivis anti kapitalis ini dengan aktivis anti-globalisasi adalah kesediaan mereka untuk bekerja di dalam sebuah partai politik besar. Bahwa pragmatisme (yang berasal sebagian dari memori tahun 2000 kampanye presiden independen Ralph Nader, yang telah membantu kampanye George W. Bush), adalah sumber kekuatan gerakan itu. Dan dalam kampanye itu bahwa aktivis muda banyak belajar keterampilan organisasi yang membantu kampanye kekuatan Barack Obama pada tahun 2000.

Ketika Obama gagal mengartikulasikan tentang krisis finansial, dan mengapa sistem regulasi Amerika dan negara kesejahteraan yang diperlukan untuk dibangun kembali-yang bisa bersaing dengan narasi Tea Party, kemudian tumbuh begitu besar kepengapan kalangan muda. Kemudian mereka mencari jalan sendiri dengan melakukan gerakan besar, dan berkembang secara global.

Sekarang mereka menghadapi orang-orang kaya di Wall Street, dan ini akan menciptakan energi populis bago Obama, sehingga pemimpin yang berkulit hitam ini tidak lagi merasa tidak sendirian.

Pendudukan Wall Street mewakili kekuatan sayap kiri Partai Demokrat yang mengusung pandangan-pandangan Obama, sesuatu yang akan menjadi gerakan bersifat global, dari sekedar gerakan yang hanya akan memperkuat posisi Obama kaum Republikan yang sangat konservatif, yang banyak disetir oleh kepentingan Yahudi.

Apa yang kita saksikan di Taman Zuccotti sebenarnya merupakan perbaikan atas kampanye Obama, yang akan memasuki pemilihan presiden tahun depan. Obama harus diberikan energi menghadapi Tea Party, yang dikuasi dan menjalankan kepentingan kelompok "Hawk" (elang), dari kalompok kapitalis, Yahudi kaya yang terus menggerogoti kehidupan rakyat Amerika dan menjerumuskan kepada utang dan perang. Itulah yang ingin mereka akhiri.

Gerakan itu dibelakangnya adalah George Soros, seorang philantropis, yang menggunakan "The Open Society Insitute", yang ingin menggusur kaum kapitalis secara global. Mungkin Soros ingin membuat wajah kaum Yahudi, tidak lagi merupakan kelompok yang haus dengan perang, dan menumpahkan darah.

Selama pemerintahan dipegang kaum Republikan, dan menjadikan tulang punggung mereka adalah kelompok "Neo-kon", terus mengobarkan perang, sembari meniadakan pajak bagi kaum kaya, dan meningkatkan utang. Inilah yang sekarang dibenci kelompok kaum kiri diseantero dunia. (mashadi)

Sumber: http://www.eramuslim.com
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments