Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Fluktuasi pemberitaan tentang proposal Palestina ke Perserikatan Bangsa-bangsa untuk diakui sebagai sebuah negara, membuat saya mengingat beberapa hal. Salah satunya tentang media-media besar dunia yang menjadikan Islam dan Palestina sebagai cover story mereka.

Saya pernah cukup terkejut dengan terbitan majalah Time yang membahas masalah konflik Israel dan Palestina, tahun silam. Untuk media seperti Time, rasanya sangat ganjil dan agak di luar kebiasaan jika mereka menurunkan isu dengan cover berjudul Why Israel Can’t Win.

Judul ini bukan hanya pertanyaan, tapi juga sebuah pernyataan dari Time tentang pengakuan kelompok Hamas di Palestina dan pejuang-pejuang kemerdekaan di negeri terjajah itu, termasuk Hizbullah. Bahkan dalam salah satu artikelnya, Time menurunkan sebuah tulisan yang bagi saya cukup menggelisahkan pihak Israel. Can Israel Survive? Mampukah Israel bertahan? Sampai kapan? Dengan apa?

Setelah 60 tahun menguasai Palestina dengan segala peperangan yang mereka sajikan, tak ada tanda-tanda Palestina akan menyerah, apalagi kalah. Bahkan Hamas dan Hizbullah nampak lebih perkasa pasca gagalnya Israel menaklukkan kedua kekuatan ini pada tahun 2006 dan awal tahun 2009. Padahal kedua kekuatan ini telah mengikat sumpah akan melenyapkan Israel dari peta dunia.

Awal Maret 2009 lalu, lagi-lagi saya terkejut dengan fenomena media internasional. Newsweek, salah satu majalah berita yang cukup prestisius di dunia terbit dengan cover berwarna hijau. Judul cover tersebut ditulis dalam bahasa Arab. Al Islam al Radiikally Hakiikatu min Haqaiq al Hayya, Kaifa Nata’aaysy Maa’ah. Radical Islam is a Fact of Life, How to Live With It.


Bagi saya hal ini cukup untuk disebut sebuah kejutan. Bagaimana tidak, Newsweek menulis judul cover-nya dalam bahasa dan huruf Arab. Dengan terjemahan dalam bahasa Inggris dalam tanda kurung yang kecil.

Fareed Zakaria, sang penulis sekaligus editor senior Newsweek membuka tulisannya dengan kisah seorang hakim di Afghanistan bernama Faisal Ahmad Shinwari. Sang hakim telah mengeluarkan amar hukum melarang perempuan menyanyi di televisi dan meminta agar semua televisi kabel di tutup di negeri Mullah ini. Tak hanya itu, Faisal Ahmad Shinwari juga menentang sekolah-sekolah yang mencampurkan anak laki-laki dan perempuan dalam satu kelas.

Kisah-kisah lainnya seolah-olah mengidentifikasi bahwa Faisal Ahmad Shinwari ini adalah seorang hakim yang berhaluan Taliban dengan segala putusan hukum yang dikeluarkan. Tapi sesungguhnya, Faisal Ahmad Shinwari ini adalah hakim terpilih setelah Afghanistan diinvasi oleh militer Amerika. Faisal Ahmad Shinwari menjadi hakim di masa kepemimpinan Hamid Karzai yang disebut-sebut banyak pihak sebagai pimpinan pemerintah boneka Amerika di Afghanistan.

Di satu sisi, kita melihat pertanyaan dan pernyataan tentang pesimisme Barat atas perilaku yang mereka kerjakan sendiri. Time meragukan, setidaknya mempertanyakan sampai kapan Israel mampu bertahan? Jika Israel dipertanyakan, tentu saja pertanyaan serupa bisa diarahkan pada Amerika, sampai kapan membela Israel Raya? Sementara di sisi yang lain, kita melihat peningkatan yang signifikan tentang fenomena-fenomena militansi dalam komunitas-komunitas Muslim di seluruh dunia. Tak hanya di Afghanistan dengan contoh Faisal Ahmad Shinwarinya.

Sesungguhnya, hal ini sudah menggejala lama. Contoh yang masih dengan mudah bisa kita ingat ada di Nigeria. Ketika pemerintahan militer berakhir, pada tahun 1992, 12 dari 36 wilayah di Nigeria memproklamirkan diri mengadopsi sistem Syariah Islam sebagai dasar hukum wilayah. Ada kegairahan beragama yang sangat besar dan mengemuka, mulai dari Afrika sampai Indonesia. Sampai-sampai Newsweek merasa perlu merumuskan statemen, bagaimana caranya hidup berdampingan dengan kaum Islam radikal sebagai sebuah realitas kehidupan internasional.

Sebelumnya, kita hanya menemukan satu rekomendasi dari Barat: Perangi kaum radikal. Tapi hari ini kita menemukan rekomendasi baru yang terus menjadi bahasan.

Secara internal, umat Islam dimanapun harus menjadi seorang Muslim yang militan. Berpegang teguh pada agamanya, tak kenal kompromi jika menyangkut hal-hal yang substansi, memberikan sumbangsih besar pada tugas-tugas peradaban dan lain sebagainya. Tapi kita juga masih menyimpan satu pertanyaan besar, apakah militan selalu identik dengan kekerasan? Lalu kekerasan disebut dengan radikal. Padahal, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu arti kata radikal adalah maju dalam berpikir atau bertindak.

Tampaknya kita sedang berada pada masa peralihan peradaban besar. Catatlah baik-baik, dan cermati dengan seksama. Kita semua sedang menjadi pelaku sejarah. Jangan lengah, jangan lemah. Torehkan kuat-kuat tinta yang indah agar sejarah kehidupan dunia lebih baik untuk anak dan cucu kita.

Oleh: Herry Nurdi*
*Jurnalis Muslim

Sumber: http://www.eramuslim.com
Share to Lintas BeritaShare to infoGueKaskus

No Response to "Kaum Militan"

Posting Komentar

  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments