Previous Next
  • Perang Teluk

    Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki. Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990...

  • 5 Negara yang Terpecah Akibat Perang Dunia II

    Negara yang terpecah adalah sebagai akibat Perang Dunia II yang lalu di mana suatu negara diduduki oleh negara-negara besar yang menang perang. Perang Dingin sebagai akibat pertentangan ideologi dan politik antara politik barat dan timur telah meyebabkan negara yang diduduki pecah menjadi dua yang mempunyai ideologi dan sistem pemerintahan yang saling berbeda dan yang menjurus pada sikap saling curiga-mencurigai dan bermusuhan. Setelah perang dunia kedua, terdapat empat negara yang terpecah-pecah, antara lain:

  • Serangan Sultan Agung 1628 - 1629

    Silsilah Keluarga Nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Dilahirkan tahun 1593, merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Ayahnya adalah raja kedua Mataram, sedangkan ibunya adalah putri Pangeran Benawa raja Pajang. Versi lain mengatakan, Sultan Agung adalah putra Pangeran Purbaya (kakak Prabu Hanyokrowati). Konon waktu itu, Pangeran Purbaya menukar bayi yang dilahirkan istrinya dengan bayi yang dilahirkan Dyah Banowati. Versi ini adalah pendapat minoritas sebagian masyarakat Jawa yang kebenarannya perlu untuk dibuktikan. Sebagaimana umumnya raja-raja Mataram, Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri. Yang menjadi Ratu Kulon adalah putri sultan Cirebon, melahirkan Raden Mas Syahwawrat. Yang menjadi Ratu Wetan adalah putri dari Batang keturunan Ki Juru Martani, melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi Amangkurat I)...

  • Perang Dingin

    Perang Dingin adalah sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947—1991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang: koalisi militer; ideologi, psikologi, dan tilik sandi; militer, industri, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir dan persenjataan; dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini akan berakhir dengan perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi. Istilah "Perang Dingin" sendiri diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut...

  • Perang Kamboja-Vietnam

    Pada tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan saigon tahun 1975, negara-negara anggota ASEAN mencemaskan kemungkinan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari Asia Tenggara. Ketegangan terus memuncak mengingat ASEAN adalah negara-negara Non-Komunis sedangkan negara-negara Indochina adalah negara komunis. Kemenangan Vietnam pada Perang Vietnam sudah tentu mengkhawatirkan ASEAN ditengah rencana Amerika Serikat untuk mengurangi kehadiran pasukannya yang selama ini secara tak langsung melindungi ASEAN dari invasi komunis ke kawasan tersebut...

Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Ketika berumur 17 tahun, Sun Jian bersama ayahnya melihat bajak laut yang sedang membagi hasil rampasan mereka di pinggiran sungai Qintang.

"Kita dapat menangkap mereka!" katanya pada ayahnya.

Lalu dia menggenggam pedangnya, dia berlari menuju arah bajak laut itu dan berteriak seolah-olah dia sedang memanggil pasukannya untuk mengepung. Ini membuat para bajak laut itu percaya bahwa mereka sedang diserang, dan mereka melarikan diri, meninggalkan rampasan mereka. Sun Jian berhasil membunuh salah satu bajak laut itu. Peristiwa tersebut membuat Sun Jian menjadi terkenal dan mendapatkan jabatan di pemerintahan daerah.

Lalu dengan kerjasama dengan pihak pemerintah, Sun Jian membangun tentara berkekuatan 1000 orang dan membantu meredakan pemberontakan Xu Chang yang menyebut dirinya Kaisar Matahari dan memiliki 10.000 pasukan. Anak pemberontak, Xu Hao juga ikut terbunuh. Untuk hal ini Sun Jian diangkat menjadi kepala pengadilan Yandu kemudian Xu Yi dan terakhir adalah Xia Pi oleh penguasa daerah Zang Min.

Ketika pemberontakan jubah kuning terjadi, Sun Jian mengumpulkan anak muda di desanya untuk membentuk tentara, akhirnya terbentuk pasukan berjumlah 1500 orang dan ikut menumpas pemberontakan.

Zhu Jun menerima Sun Jian dengan senang hati dan memerintahkannya untuk menyerang dari selatan, sedangkan utara dan barat akan diserang secara bergantian oleh Liu Bei dan Zhu Jun. Sedangkan gerbang timur akan dibiarkan terbuka agar pemberontak dapat lari dari sana. Sun Jian adalah yang pertama yang dapat menaiki tembok kota. Dia membunuh 20 orang pemberontak lebih sendirian. Sun Jian berhasil turun dari tembok, mengambil tombak dan memukul jatuh Zhao Hong dari kudanya. Kemudian Sun Jian menaiki kuda Zhao Hong dan menyabetkan pedangnya sehingga menyebabkan banyak tentara pemberontak tewas.

Pasukan pemberontak berlari ke arah utara dan bertemu dengan pasukan Liu Bei, mereka tidak melawan dan terpencar-pencar menyelamatkan diri. Tapi Liu Bei mengeluarkan anak panahnya dan memanah pimpinan pemberontah Sun Zhong yang langsung jatuh ke tanah. Pasukan Utama Zhu Jun akhirnya tiba dan setelah pembantaian besar-besaran, pasukan pemberontak menyerah. Setelah itu kedamaian tercipta di sepuluh wilayah di daerah Nanyang.

Zhu Jun kembali ke ibukota Luo Yang dan diangkat menjadi Jendral Pasukan Kuda Terbang dan menerima jabatan sebagai gubernur Henan. Dia tidak melupakan jasa orang - orang yang membantunya. Dia melaporkan jasa Liu Bei dan Sun Jian.

Sun Jian yang memiliki pengaruh dan koneksi yang dapat mendukung dia diangkat menjadi komandan pasukan kerajaan di Chang Sa. Tetapi Liu bei walaupun telah dipromosikan oleh Zhu Jun dalam suratnya kepada kerajaan tetap harus menunggu kenaikan jabatannya. Liu Bei dan kedua saudaranya sedih menerima kenyataan ini.

Suatu hari ketika sedang berjalan sendirian di ibu kota, Liu Bei bertemu seorang pejabat istana Zhang Jun yang kepadanya dia menceritakan keluh kesahnya. Zhang Jun sangat terkejut akan hal ini dan dia akhirnya menceritakan pada kaisar mengenai hal ini.

Katanya, "Pemberontakan Jubah Kuning terjadi karena para kasim telah menjual jabatan dan memperdagangkan posisi. Pekerjaan di istana hanya untuk teman - temannya, hukuman hanya untuk musuh-musuhnya. Ini menyebabkan pemberontakan. Oleh sebab itu maka baiklah untuk memenggal ke-10 kasim utama dan mempertontonkan kepala mereka dan memberitahukan kepada rakyat apa yang telah dilakukan mereka. Kemudian berikanlah balasan kepada mereka yang berhak dan dengan itu maka seluruh negara akan berada dalam keadaan aman."

Tetapi para kasim langsung menyanggah hal ini dan berkata bahwa Zhang Jun menghina kaisar. Kaisar memerintahkan Zhang Jun untuk meninggalkan ruangan.

Walaupun begitu para kasim itu berpikir, "Pasti ada seseorang yang terlupakan jasanya walaupun telah berhasil mengalahkan pemberontak yang menyatakan kekesalannya."

Lalu mereka menghimpun daftar orang - orang yang tidak penting yang menunggu penugasan dan salah satu dari daftar itu adalah Liu Bei. Liu Bei akhirnya ditempatkan sebagai Kepala Wilayah desa An Xi, yang langsung diterima oleh Liu Bei dan akhirnya Liu Bei membubarkan pasukannya dan mengirimnya pulang. Dia hanya mempertahankan dua lusin orang saja sebagai tentaranya.

Ketiga bersaudara itu akhirnya sampai di An Xi dan secepatnya mereka membereskan administrasi di daerah itu dan memerintah dengan bijaksana sehingga tidak pernah ada kejahatan selama berbulan-bulan di daerah itu. Ketiga saudara itu hidup dalam harmoni, makan dalam satu meja dan tidur dalam satu ranjang yang sama. Tetapi ketika Liu Bei berada di depan publik, Guan Yu dan Zhang Fei akan selalu berdiri sebagai penjaganya walaupun untuk seharian.

Empat bulan setelah kedatangan mereka, datanglah titah kaisar untuk mengurangi jumlah orang militer yang mengisi pos sipil. Liu Bei mulai takut bahwa dia akan terkena pengurangan itu. Kerajaan mengirimkan inspektur pemeriksa bernama Du Biao. Liu langsung menyambutnya dengan hormat tetapi Du Biao mengacuhkannya. Melihat hal ini GuanYu dan Zhang Fei sangat marah.

Ketika Inspektur itu tiba di penginapan, dia duduk di kursi dan tidak mempersilahkan Liu Bei duduk. Setelah cukup lama baru dia berkata kepada Liu Bei.

"Dari manakah kau berasal ?"

Liu Bei menjawab, "Aku adalah keturunan dari Pangeran Sheng dari Zhongshang. Sejak pertama kali aku melawan pemberontak di Zhou telah 30 pertempuran kujalani, aku mendapatkan banyak kemenangan dan hadiahku adalah jabatan ini."

"Kamu berbohong mengenai asalmu dan pernyataanmu mengenai jasamu adalah bohong!" hardik si inspektur.

"Sekarang kerajaan memerintahkan untuk melakukan pengurangan pejabat dari strata yang rendah dan pejabat yang korup."

Liu Bei terdiam dan akhirnya memohon diri. Dalam perjalan pulangnya Liu Bei meminta nasihat dari para pembantunya.

"Tindakan seperti ini hanya dapat berarti satu, yaitu dia meminta uang sogokan." kata mereka pada Liu Bei.

"Aku tidak pernah mengambil uang rakyat bahkan satu peser pun, dari mana aku memiliki uang untuk membayarnya ?"

Keesokan harinya Inspektur ini memanggil pejabat kecil di desa itu dan memaksa mereka untuk menulis pengakuan bahwa Liu Bei telah menekan rakyat. Liu Bei pada saat itu ingin menyangkal hal ini tetapi penjaga pintu menahan Liu Bei.

Ketika itu Zhang Fei sedang sedih dan sudah mabuk seharian. Dia menunggang kuda dan mengendarainya melewati penginapan inspektur tersebut. Ketika melewati pintunya, dia melihat kumpulan orang - orang tua sedang menangis sedih. Dia bertanya kepada orang-orang tersebut apa yang sedang terjadi.

Kata mereka, "Inspektur itu telah memaksa bawahan – bawahan Liu Bei untuk menulis pernyataan palsu, agar Liu Bei dapat dihukum. Kami datang kesini untuk memohon belas kasihan padanya tetapi tidak diijinkan masuk. Bahkan kami dipukuli oleh penjaga pintunya.”

Hal ini memprovokasi kemarahan Zhang Fei yang dalam keadaan mabuk berat itu. Zhang Fei sangat marah sehingga matanya melotot besar sekali. Dia langsung melabrak masuk ke dalam penginapan itu dan penjaga pintu yang ketakutan melihatnya langsung lari. Lalu dia masuk ke dalam pelataran taman penginapan itu dan di sana dia melihat Inspektur itu sedang duduk di atas kursi tinggi dan pejabat kecil daerah itu sedang diikat dan berlutut dibawahnya.

"Penindas rakyat, pencuri!" teriak Zhang Fei. "Tahukah kau siapa aku ?"

Tetapi sebelum Inspektur itu dapat menjawab, Zhang Fei telah menarik rambutnya dan menariknya ke depan. Zhang Fei mengambil ranting dari pohon willow dan memecut Inspektur itu dengan kerasnya.

Liu Bei saat itu sedang duduk termenung sedih, ketika dia mendengar ada suara ribut – ribut di depan pintu. Dia berkata ada masalah apa.

Mereka memberitahu padanya, "Jendral Zhang Fei mengikat seseorang dan memukulinya!"

Dengan secepatnya Liu Bei bergegas keluar dan Liu Bei melihat siapakah korban Zhang Fei ini. Liu Bei lalu bertanya pada Zhang Fei mengapa memukulnya.
Bersambung...

Sumber:
Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik - Refleksi Bagi Para Pemimpin by Michael C. Tang
http://forum.detik.com/showthread.php?t=23593
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,


Sebuah bom pinggir jalan telah menyerang sebuah mini-van di provinsi selatan Afghanistan Helmad, membunuh delapan belas orang di dalam kendaraan tersebut.

"Laporan yang saya terima dari tempat kejadian menunjukkan bahwa semua penumpang berjumlah 18 orang di dalam kendaraan telah tewas," kata wakil kepala polisi Kamaluddin Shirzai pada hari Jumat ini (29/7).

IED (bom rakitan) meledak pada hari Jumat ini ketika kendaraan berada di rute dari distrik Nahri Sarrag ke ibukota provinsi Lashkar Gah, AFP melaporkan.

IED, biasanya digunakan oleh pejuang Taliban, dan dianggap bertanggung jawab untuk sebagian besar kematian warga sipil dan pasukan keamanan dalam perang yang telah memasuki tahun kesepuluh.

Lebih dari 1.462 warga sipil tewas dari Januari hingga Juni, menunjukkan kenaikan 15 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, kata Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA).

Serangan udara NATO juga telah menjadi penyebab utama jatuhnya korban sipil, menyebabkan lebih dari 79 warga Afghanistan tewas dalam periode yang bersangkutan, laporan tersebut menambahkan.(fq/prtv)

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Menteri Pertahanan Ehud Barak mengatakan Jumat ini (29/7) - menyusul pertemuan dengan para pejabat pemerintahan AS - bahwa Israel harus mencapai kompromi dengan Turki - bahkan jika hal itu berarti negara Yahudi ini harus meminta maaf atas serangan mematikan terhadap armada Gaza tahun lalu.


"Saya tidak berbicara tentang permintaan maaf atas blokade atau meminta maaf atas armada, namun tentang mengatakan bahwa jika ada kesalahan yang dibuat selama operasi - kami menyesal hal itu," jelasnya.

"Saya tidak suka itu," aku menteri pertahanan tersebut dalam sebuah jumpa pers, "tapi itu bukan hal yang buruk untuk memiliki hubungan yang wajar dengan Turki di wilayah yang memiliki ketidakstabilan di Mesir, perampingan di Arab Saudi dan sikap permusuhan Iran."

Menurut Barak, ahli hukum senior di Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan percaya Israel harus mencapai kesepakatan dengan Turki jika ingin mempertahankan tentaranya.

Barak bertemu Kamis kemarin (28/7) dengan Wakil Presiden AS Joe Biden, Hillary Clinton, Menteri Pertahanan Leon Panetta dan Penasihat Keamanan Nasional Tom Donilon.

Rangkaian pertemuan memperkuat pandangan menteri pertahanan tersebut bahwa konflik dengan Ankara harus diselesaikan. Menteri Luar Negeri Avigdor Lieberman, di sisi lain sangat menentang setiap permintaan maaf da Israel.

Pada hari Jumat ini, Barak diperkirakan akan bertemu dengan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon untuk membahas laporan Palmer yang menyelidiki serangan armada.

"Di satu sisi, laporan ini termasuk kesimpulan yang sangat penting bagi Israel, yang menempatkan Turki di satu sisi dalam hal pembenaran untuk blokade, pembenaran untuk menghentikan armada dan pembenaran untuk menggunakan kekuatan," kata Barak.

"Di sisi lain," ia menambahkan, "ada unsur bermasalah yang berurusan dengan apa yang terjadi selama operasi. Kami tidak setuju dengan beberapa hal, tapi kita harus membuat pilihan antara laporan bermasalah dan mencapai pemahaman dengan Turki, sehingga hal-hal yang mengganggu kita dapat dijelaskan dan tidak ada tuntutan hukum di seluruh dunia yang berasal dari Turki dan Turki terhadap Israel serta terhadap para perwira dan komandan militer. "(fq/ynet)

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Dong Zhuo lahir di daerah barat laut Cina, tepatnya di Lintao di daerah lembah barat. Sebagai gubernur He Dong, Dong Zhuo sangat sombong dan berlebihan. Tetapi hari dimana dia memperlakukan Liu Bei dengan kasar dapat saja menjadi hari terakhirnya, jika saja Liu Bei dan Guan Yu tidak menahan Zhang Fei yang sedang marah.

"Ingat, dia adalah pejabat pemerintah yang diangkat Kerajaan,” kata Liu Bei. "Siapakah kita sehingga dapat memutuskan dan menghukum beliau ?"

"Sangat memuakkan untuk menerima perintah dari mem3kakkan seperti dia, aku lebih baik membunuhnya sekarang! Kau boleh tinggal di sini bila kau mau tapi aku lebih baik mencari tempat lain." kata Zhang Fei.

"Kita bertiga adalah satu dalam kematian dan dalam hidup, tidak ada perpisahan diantara kita, kita semua akan selalu bersama." Balas Liu Bei.

Akhirnya ketiga saudara itu berangkat dan pergi menemui Zhu Jun yang menerima mereka dengan baik dan berterima kasih atas bantuan yang mereka telah berikan ketika melawan Zhang Ba. Pada saat ini Cao Cao telah bergabung dengan Huangfu Song, dan mereka sedang berusaha menghancurkan pasukan Zhang Liang dalam pertempuran di Quyang.

Zhang Ba memimpin sekitar 80.000 pasukan. Pemberontak telah memposisikan pasukannya di belakang bukit. Penyerangan terhadap posisi pemberontak kemudian direncanakan dan Liu Bei yang akan memimpin pasukan utama. Salah seorang jenderal pasukan Zhang Ba dari pasukan pemberontak yang bernamaGao Seng menantang duel satu lawan satu. Zhang Fei langsung keluar dari barisan dan maju ke depan menghadapinya. Hanya dalam beberapa jurus saja, Zhang Fei berhasil melukai Gao Seng yang terpental dari kudanya. Melihat ini maka Liu Bei langsung memerintahkan pasukannya untuk menyerbu maju.

Lalu Zhang Ba yang duduk diatas kudanya, melepaskan ikat rambutnya, mengambil pedangnya dan merapalkan semacam doa. Tiba-tiba, angin mulai berhembus dengan kuatnya, petir menghiasi langit dan kilatan-kilatan cahaya dari langit menghantam bumi, bunyi gemuruh yang m3m3kakkan telinga membuat kuda-kuda ketakutan dan dari langit turun awan hitam yang menutupi medan peperangan. Ketakutan melanda pasukan kerajaan, Liu Bei memimpin pasukannya mundur, tetapi mereka dalam keadaan kacau sehingga banyak yang tewas karena terinjak-injak.

Zhu Jun dan Liu Bei pun membahas masalah ini.

"Zhang Ba menggunakan sihir,” kata Zhu Jun. "Esok, aku akan menyiapkan penangkal dengan menggunakan darah b4b1 dan kambing. Darah ini harus dipercikan kepada pasukan mereka dan kita akan dapat mematahkan sihir mereka."

Maka diputuskanlah demikian. Guan Yu dan Zhang Fei masing-masing membawa 1000 pasukan dan bersembunyi di tebing yang tinggi dan mereka membawa banyak darah b4b1 dan kambing. Keesokan harinya ketika pemberontak membunyikan genderang perangnya untuk menantang perang, Liu Bei maju menghadapi mereka. Pada saat yang sama, Zhang Ba kembali menggunakan sihirnya. Pasir beterbangan menutupi pandangan, kerikil berserakan menutupi jalan, awan gelap menutupi langit dan pasukan musuh muncul dari balik pasir itu. Liu Bei mundur seperti sebelumnya, dan pasukan pemberontak terus mengejarnya. Ketika pasukan pemberontak memasuki jalan dengan tebing tinggi, tiba dikejutkan oleh bunyi terompet dan genderang yang keras, dan dari tempat persembunyiannya, pasukan Guan Yu dan Zhang Fei memercikan darah b4b1 dan kambing. Tiba-tiba pasukan pemberontak yang muncul dari balik badai itu berjatuhan dan berubah menjadi lembaran kertas dan badai pun berhenti.

Zhang Ba yang melihat bahwa sihirnya telah dapat dihancurkan lalu memutuskan mundur. Ketika pasukannya sedang mundur, dari arah kiri dan kanannya muncul Guan Yu dan Zhang Fei dan dari belakang ada Liu Bei dan Zhu Jun. Pasukan pemberontak berhasil dihancurkan. Liu Bei dari kejauhan melihat panji-panji perang Zhang Ba sang penguasa bumi. Dengan cepat Liu Bei mengejarnya dan dengan panah berhasil melukai tangan kiri Zhang Ba. Walaupun terluka Zhang Ba masih dapat melarikan diri ke kota Yangcheng. Kota itu akhirnya dikepung oleh Zhu Jun.

Pengintai yang dikirim untuk mendapatkan kabar dari pasukan Huangfu Song melaporkan bahwa Jenderal Huangfu Song melakukan tugasnya dengan baik, Dong Zhuo yang telah sering kalah posisinya telah digantikan oleh Jenderal Huangfu Song. Zhang Jiao telah tewas di tangan pasukan Huangfu Song. Zhang Liang telah mengambil alih pasukan saudaranya itu menjadi satu dengan pasukannya tetapi tidak ada peluang untuk mengalahkan pasukan Huangfu Song yang telah menguasai tempat-tempat strategis dan telah menang dalam tujuh pertempuran berturut-turut. Zhang Liang telah tewas di Quyang. Selain itu peti mati Zhang Jiao telah berhasil direbut. Kepalanya telah dipenggal dan telah dikirim ke ibukota, Luoyang untuk diekspos. Pasukan pemberontak lainnya telah menyerah dan untuk semua hal ini Huangfu song telah diberikan penghargaan dengan jabatan Jenderal Pemimpin Pasukan Kereta Terbang dan Penguasa Daerah Jizhou.

Huangfu Song juga tidak melupakan teman. Titah pertama setelah dia mendapatkan kekuasaanya adalah untuk membersihkan nama Lu Zhi dan mengembalikan jabatannya yang diambil Dong Zhuo dan mengangkat Cao Cao sebagai gubernur Ji Nan.

Mendengar hal ini Zhu Jun menekan lebih keras dengan menyerang hebat kota Yangcheng dan kekalahan tentara pemberontak sudah semakin jelas. Lalu salah seorang bawahan Zhang Ba, Yan Zheng membunuh atasannya itu dan membawa kepalanya untuk diserahkan kepada pasukan kerajaan. Akhirnya seluruh pemberontak telah menyerah dan Zhu Jun melaporkan hal ini pada kerajaan.

Tetapi ada beberapa pemberontak Jubah Kuning yang masih memimpin perlawanan. Tiga pemberontak lain, Zhao Hong, Han Zhong dan Sun Zhong, mengumpulkan 30.000 pasukan dan memulai perampokan dan pembantaian. Mereka menyebut dirinya "Pembalas Dendam Bagi Zhang Jiao".

Kerajaan memerintahkan Zhu Jun untuk membawa pasukan veterannya untuk menghancurkan sisa-sisa perlawanan pemberontak ini. Dia segera langsung berangkat menuju kota Wan Cheng di mana para pemberontak itu bermarkas. Ketika Zhu Jun tiba, Han Zhong langsung maju melawan. Zhu Jun mengirim Liu Bei dan kedua saudaranya untuk menyerang sisi sebelah barat daya dari tembok kota. Han Zhong bertugas untuk mempertahankan kota berusaha mati-matian melawan Liu Bei. Sementara itu Zhu Jun sendiri memimpin 2000 pasukan berkuda untuk menyerang bagian lain dari kota itu. Pemberontak berpikir bahwa mereka tidak akan dapat mempertahankan kota itu mulai kehilangan semangat. Liu Bei terus menekan mereka dan akhirnya kota berhasil dimasuki. Para pemberontak masih dapat bertahan di pertahanan dalam kota. Tetapi keadaan mereka sudah sangat parah, kelaparan terjadi dan wabah penyakit menyebar. Utusan pemberontak datang kepada Zhu Jun untuk menyerah, tetapi Zhu Jun menolaknya.

Kata Liu Bei,"Dengan melihat pendiri dinasti Han Liu Bang, bukankah harusnya kita menerima mereka yang menyerah, kenapa anda menolaknya ?"

"Kondisinya sudah berbeda,” balas Zhu Jun. "Ketika masa itu kekacauan memang sedang terjadi dimana-mana, dan rakyat tidak mempunyai kaisar. Jadi setiap penyerahan diri dapat diterima dan dianjurkan. Sekarang kekaisaran telah ada dan mereka berani memberontak. Kalau kita menerima mereka maka nanti akan ada pemberontakan-pemberontakan lainnya dan ketika mereka kalah mereka hanya tinggal menyerah dan kita pasti akan menerimanya dan hal itu akan berakibat fatal."

Liu Bei berkata, "Jika tidak membiarkan pemberontak menyerah tidak apa, tetapi jika mereka melakukan tindakan nekat, maka kita akan berada dalam kesulitan karena jumlah mereka sangat banyak. Lebih baik kita serang dari satu sisi dan biarkan sisi yang lain terbuka sehingga mereka akan melarikan diri dan tercerai berai, setelah itu kita akan dengan mudah menangkap mereka."

Zhu Jun menilai saran ini sangat bagus dan mengikutinya. Seperti telah diduga, tentara pemberontak ini akhirnya terpencar-pencar. Pimpinan pemberontak, Han Zhong akhirnya terbunuh. Tetapi tiba-tiba pasukan yang dipimpin oleh Zhao Hong dan Sun Zhong mendekat dengan kekuatan besar. Dan karena itu pasukan kerajaan menghentikan pengejaran. Pasukan pemberontak yang baru itu akhirnya merebut kembali kota Wan Cheng.

Zhu Jun berkemah 3 mil dari kota dan bersiap-siap untuk menyerang. Dan pada saat itu tiba pasukan berkuda dari arah timur. Pemimpinnya adalah seorang jendral dengan muka dan badan yang kekar. Namanya adalah Sun Jian. Dia berasal dari Fu Chun di negara bagian Wu. Keturunan dari ahli strategi yang terkenal Sun Tzu.
Bersambung...

Sumber:
Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik - Refleksi Bagi Para Pemimpin by Michael C. Tang
http://forum.detik.com/showthread.php?t=23593
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Pertempuran berlangsung hingga fajar menyingsing, Zhang Ba dan Zhang Lian beserta sekelompok kecil pemberontak berhasil melarikan diri. Tetapi tiba-tiba di hadapan mereka muncul sekelompok tentara dengan bendera berwarna merah. Pemimpin mereka berukuran tubuh sedang, dengan mata yang kecil dan janggut yang panjang. Dia adalah Cao Cao dari Bei Juo, dia berpangkat jendral pasukan berkuda kerajaan. Ayahnya adalah Cao Song, tapi bukanlah benar-benar keturunan keluarga Cao. Cao Song terlahir dgn marga Xiaohou, tetapi dia telah diangkat anak oleh Kasim Cao Teng dan merubah marganya.

Sebagai seorang pemuda Cao Cao menggemari berburu, musik dan tarian. Dia sangat berbakat dan penuh dengan akal. Seorang pamannya sering melihat Cao Cao ini sangat labil, terkadang marah kepadanya dan melaporkan perilaku buruknya kepada orang tuanya. Ayahnya lalu memarahi Cao Cao.

Tetapi Cao Cao membalasnya. Suatu hari ketika Cao Cao melihat pamannya datang, maka dia tiba-tiba pura-pura terjatuh dan kesakitan. Sang Paman lalu lari dan mengatakan pada ayahnya yang akhirnya datang melihat, tetapi ketika ayahnya datang Cao Cao baik-baik saja.

"Tetapi pamanmu berkata bahwa kau terluka, apakah kamu baik-baik saja ?" Kata ayahnya.

"Aku tidak pernah mengalami luka apapun," kata Cao Cao. " Tetapi aku telah kehilangan kepercayaan pamanku dan dia hanya menipumu."

Setelah itu apapun yang pamannya katakan mengenai kesalahan Cao Cao, ayahnya tidak pernah mendengarkannya lagi. Akhirnya Cao Cao tumbuh dewasa dengan seenaknya dan tidak terkontrol.

Seorang pria pada saat itu bernama Qiao Xuan berkata pada Cao Cao, "Pemberontakan sudah di depan mata, dan hanya orang dengan kemampuan terhebat yang dapat membawa perdamaian kembali muncul, dan orang itu adalah kau."

Dan He Yong dari NanYang berkata kepadanya, "Dinasti Han sedang mengalami keruntuhan, orang yang dapat mengembalikan kedamaian adalah dia dan hanya dia."

Cao Cao pergi ke Runan untuk menanyakan mengenai masa depannya pada orang bernama Xu Shao.

"Orang seperti apakah aku ini ?" tanya Cao Cao.

Peramal itu tidak berkata apa, lagi dan lagi Cao Cao menanyakan hal itu.

Lalu Xu Shou menjawab, "Dalam masa damai kamu adalah orang berguna, dalam masa kekacauan kamu adalah pahlawan yang hebat."

Cao Cao sangat senang mendengar jawaban ini.

Cao Cao lulus dari akademi militer pada umur 20 tahun dan mendapatkan reputasi sebagai orang yang berintegritas. Dia memulai karir sebagai kepala komandan di sebuah distrik di ibukota. Di keempat gerbang ibu kota dia menaruh gada dengan berbagai bentuk dan dia akan menghukum orang yang melanggar hukum apapun pangkat orang itu. Seorang paman dari kasim Jian Shuo ditemukan membawa pedang dijalanan pada malam hari dan itu merupakan pelanggaran. Karena itu pula maka ia dihukum dengan dipukul menggunakan gada itu. Setelah itu tidak ada seorangpun yang berani melanggar aturan lagi. Nama Cao Cao akhirnya menjadi terkenal dan dia diangkat menjadi kepala pengadilan di Dun Qiu.

Ketika pemberontakan Jubah Kuning dimulai, Cao Cao berpangkat jendral dan kepadanya diberikan 5000 pasukan berkuda dan infantri untuk bertempur di Yingchuan. Dia kebetulan bertemu dengan sisa-sisa pemberontak. Ribuan tewas dan banyak sekali kuda, drum, senjata, bendera yang berhasil direbut berikut jumlah uang yang sangat besar. Tetapi Zhang Ba dan Zhang Liang berhasil melarikan diri. Dan setelah bertemu dengan Huangfu Song, Cao Cao mengejar sisa pemberontak yang melarikan diri.

Sementara itu Liu Bei dan saudaranya sedang berkuda menuju Yingchuan ketika mereka mendengar bunyi pertempuran dan melihat api diangkasa. Tetapi mereka terlambat datang ke pertempuran. Mereka melihat HuangFu Song dan Zhu Jun dan kepada mereka Liu Bei menjelaskan maksud kedatangannya.

"Kekuatan pemberontak telah hancur disini." kata dua jendral itu, "Tetapi mereka pasti akan pergi ke Guanzhong untuk bergabung dengan Zhang Jue. Kamu tidak dapat melakukan apapun disini, lebih baik kamu cepat kembali ke Guanzhong."

Liu Bei akhirnya memimpin pasukannya kembali ke Guanzhong, Di tengah perjalanan mereka melihat pasukan istana sedang mengawal tawanan dalam kereta. Ketika mereka mendekat, mereka melihat bahwa tahanan tersebut adalah Lu Zhi, jendral yang akan mereka tolong. Dengan cepat Liu Bei turun dari kudanya dan bertanya apa yang terjadi.

Lu Zhi Bercerita, "Aku telah mengepung tentara pemberontak dan dalam posisi siap menghancurkan mereka, ketika Zhang Yue menggunakan ilmu gaibnya dan menggagalkan seranganku. Kerajaan mengirimkan kasim Zhuo Feng untuk menyelidiki kekalahanku, pejabat itu menuntut sogokan. Aku beritahukan padanya berapa keras kita mencoba untuk mengalahkan musuh dan dalam situasi seperti ini bagaimana caranya aku dapat mencarikan upeti untuknya. Dia pergi dengan marah dan melaporkan pada istana bahwa aku menyembunyikan pampasan perang dan tidak membagikannya dan itu membuat pasukanku kehilangan semangat. Jadi aku digantikan oleh Dong Zhuo sementara aku harus pergi ke ibu kota untuk menjawab tuntutan pengadilan."

Cerita itu membuat Zhang Fei marah dan nyaris saja dia membunuh para pengawal-pengawal kerajaan itu. Tapi Liu Bei mencegahnya.

"Pemerintah akan mengurusnya dengan adil." kata Liu Bei, "Kau jangan bertindak gegabah."

Akhirnya tidak ada gunanya mengikuti jalan itu menuju Guanzhong, Guan Yu mengusulkan agar mereka kembali ke Zhuo. Dua hari kemudian gelegar peperangan kembali terdengar dibalik bukit. Dengan cepat mereka menuju atas bukit dan melihat tentara pemerintah mengalami kekalahan. Mereka melihat seluruh dataran telah dipenuhi tentara pemberontak jubah kuning dan di bendera mereka tertulis : ZHANG JUE, PENGUASA LANGIT.

"Kita akan menyerang Zhang Jue!" kata Liu Bei kepada saudaranya, dan mereka memacu kudanya untuk ikut bertempur.

Zhang Jue berhasil mengalahkan pasukan Dong Zhuo dan terus menekan. Dia sedang bersemangat untuk menghancurkan seluruh pasukan pemerintah ketika tentara Liu Bei tiba. Pasukannya kebingungan karena muncul pasukan yang tak dikenal di tengah-tengah mereka. Akhirnya pasukan Zhang Jue kacau dan mundur sejauh 15 km. Liu Bei berhasil menyelamatkan jendral pasukan pemerintah dan kembali ke perkemahan mereka.

"Apakah jabatanmu ?" tanya Dong Zhuo.

"Tidak ada." jawab Lie Bei.

Dong Zhuo memperlakukan mereka dengan tidak hormat. Liu Bei pergi dengan tenang, tetapi Zhang Fei marah besar.

"Kita baru saja menyelamatkan nyawanya dalam pertempuran yang sengit !!" teriak Zhang Fei, "Dan sekarang dia bersikap kasar pada kita! tidak ada apapun juga yang dapat meredam kemarahanku kecuali kematiannya!"

Zhang Fei berjalan menuju tenda Dong Zhuo dan di tangannya dia mengenggam sebilah pedang.
Bersambung...

Sumber:
Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik - Refleksi Bagi Para Pemimpin by Michael C. Tang
http://forum.detik.com/showthread.php?t=23593
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

3 saudara tersebut menyambut sang pedagang kuda tadi. Mereka adalah Zhang Shiping dan Su Shuang dari Zhongshan. Mereka pergi ke daerah utara setiap tahunnya untuk membeli kuda. Mereka sekarang sedang dalam perjalanan pulang karena adanya pemberontakan dimana-mana. 3 saudara itu mengundang mereka pergi ke tanah pertanian Zhang Fei dan menjamu mereka dengan arak. Liu Bei lalu menceritakan rencana mereka untuk berjuang mengembalikan kedamaian bagi rakyat. Kedua pedagang itu sangat bersimpati dan akhirnya memberikan 50 kuda, 500 ons emas dan perak, 1500 pon besi baja untuk dibuat senjata.

3 saudara itu sangat berterima kasih dan kemudian saudagar kaya itu meninggalkan mereka. Kemudian Liu Bei mencari seorang pandai besi untuk membuat senjata, Liu Bei membuat pedang kembar yang disebut "SHUANG JIAN", Guan Yu membuat sebuah tombak besar dengan ujung yang melengkung dan berukiran naga hijau disisinya dengan berat 100 pon yang disebut "QING LONG YAN YUE TAO" dan Zhang Fei membuat sebuah tombak dengan ujung seperti lekukan ular dan panjang 10 kaki disebut "SHE MAO".

Dan mereka pun juga dilengkapi dengan baju besi dan helm.

Ketika senjata sudah siap, pasukan yang kini berjumlah 500 orang bergerak menuju tempat Komandan Zhou Jing yang membawa mereka kepada gubernur Liu Yan. Ketika prosesi upacara selesai, Liu Bei memperkenalkan diri pada Liu Yan dan Liu Yan memperlakukan Liu Bei dengan hormat karena didasarkan pada silsilah Liu Bei.

Tidak lama sebelumnya diberitakan bahwa pasukan pemberontak jubah kuning dibawah pimpinan Cheng Yuan Zi telah menyerang daerah sekitarnya dengan pasukan berkekuatan 15.000 orang. Liu Yan dan Zhou Jing memerintahkan Liu Bei dan saudaranya untuk menghadapi pasukan pemberontak. Liu Bei dengan senang hati menerima perintah itu dan langsung mempersiapkan pasukannya untuk pergi menuju bukit Da Xing. Disana mereka bertemu dengan pasukan pemberontak jubah kuning.

Liu Bei langsung menerjang maju, diikuti dengan Guan Yu di kirinya dan Zhang Fei di kanannya.

Sambil melaju mendekati pasukan musuh Liu Bei berteriak "Hai, pemberontak, mengapa kau tidak turun dari kudamu dan menyerahlah !!!"

Pimpinan pasukan pemeberontak Cheng Yuan Zi mendengar ejekan Liu Bei langsung mengirimkan salah satu jendralnya Deng Mao untuk bertarung. Ketika Deng Mao maju mendekati Liu Bei, Zhang Fei langsung memacu kudanya berada di depan Liu Bei, hanya dengan sekali tusukan tombak, Zhang Fei langsung merobohkan Deng Mao. Cheng Yuan Zi yang melihat hal ini langsung mengambil senjatanya dan memacu kudanya mendekati Zhang Fei. Kali Ini Guan Yu yang menghadang, Guan Yu langsung menebaskan goloknya dan seketika itu juga tubuh Cheng Yuan Zi terbelah menjadi dua.

Karena pemimpinnya telah tewas maka pasukan pemberontak langsung lari kocar-kacir dan meninggalkan persenjataan mereka. Tentara pemerintah langsung mengejar mereka, banyak yang berhasil ditangkap dan akhirnya perang hari itu dimenangkan oleh pasukan kerajaan.

Ketika mereka semua kembali, Liu Yan langsung menyambut mereka dan membagikan hadiah. Tapi keesokan harinya datang surat dari gubernur Gong Jing dari wilayah Jingzhou yang menginformasikan kota mereka sedang dikepung oleh tentara pemberontak dan kota sudah hampir jatuh. Mereka membutuhkan bantuan segera.

Liu Bei begitu mendengar kabar ini langsung memutuskan untuk berangkat membantu.

Liu Bei langsung berangkat keesokan paginya dengan tentaranya dan dibantu dengan lima ribu tentara kerajaan di bawah pimpinan jendral Zhou Jing. Tentara pemberontak yang melihat bala bantuan pasukan kerajaan datang langsung membagi pasukannya, setengah menghadapi pasukan Liu Bei dan Zhou Jing. Pasukan Liu Bei tidak dapat menembus pertahanan pasukan pemberontak akhirnya memutuskan mundur sejauh 10 Km. Liu Bei lalu berkata,"Kita sedikit dan mereka terlalu banyak, mereka hanya dapat kita kalahkan dengan strategi yang jitu."

Akhirnya direncanakanlah serangan mendadak. Di jalan menuju kota, Liu Bei memerintahkan Guan Yu untuk bersembunyi di sebelah kanan dan Zhang Fei di sebelah kiri, sedangkan Liu Bei memimpin pasukan utama. Ketika persiapan telah selesai, Liu Bei maju mendekati pasukan pemberontak dan ketika pasukan pemberontak juga bergerak maju seketika itu juga Liu Bei membunyikan gong tanda mundur. Pasukan pemberontak yang mengira pasukan Liu Bei takut lalu langsung mengejar pasukan Liu Bei hingga masuk ke dalam jalan setapak. Gong lalu dibunyikan tanda pasukan Guan Yu dan Zhang Fei menyerang sekarang. Lalu pasukan pemberontak terjebak dari 3 sisi dan mereka mengalami kerugian jiwa yang banyak. Mendengar kabar bahwa rekan-rekan mereka diserang secara tiba-tiba, pasukan pemberontak yang lain datang membantu dan mengakibatkan pengepungan terhadap kota jadi melemah, melihat hal ini gubernur Gong Jing langsung memimpin pasukan yang tersisa berjumlah 3000 orang langsung menyerbu keluar benteng. Tentara pemberontak yang kebingungan akhirnya dapat dihancurkan dan mereka banyak yang terbunuh.

Setelah perayaan kemenangan, Komandan Zhou Jing memohon diri untuk kembali ke Yizhou. Tapi Liu Bei berkata, "Kami dengar komandan Lu Zhi sedang berjuang melawan kelompok pemberontak yang dipimpin Zhang Yue di Guangzhong. Lu Zhi adalah guruku dan aku ingin membantunya."

Akhirnya Zhou Jing dan Liu Bei berpisah, dan 3 bersaudara itu akhirnya pergi ke Guangzhong dengan tentara mereka. Mereka akhirnya berhasil tibadi perkemahan tentara Lu Zhi dan mereka diterima dengan baik.

Pada saat itu bala tentara Zhang Yue berjumlah 150.000 orang sedangkan tentara Lu Zhi berjumlah 15.000 orang. Setiap hari terjadi pertempuran kecil tetapi tidak ada yang dapat mengalahkan satu sama lain.

Lu Zhi berkata pada Liu Bei, "Aku dapat mengepung pemberontak itu disini, tetapi Zhang Ba dan Zhang Lian menekan Huangfu Song dan Zhu Jun di Yichuan. Aku akan memberimu 1000 tentara untuk melihat keadaan mereka dan setelah itu baru kita pikirkan rencana penyerangan kita."

Akhirnya Liu Bei berangkat secepatnya menuju Yichuan. Pada saat ini tentara kerajaan berhasil memukul mundur pemberontak hingga ke Changse dan mereka berkemah di lapangan rumput.

Melihat hal ini Huangfu Song berkata kepada Zhu Jun, " Tentara pemberontak berkemah di rerumputan, kita dapat menyerang mereka dengan api."

Akhirnya tentara kerajaan diperintahkan untuk mengambil rumput kering, dan rumput-rumput itu dikumpulkan lalu disirami minyak. Rumput-rumput itu diletakkan di sekeliling daerah perkemahan tentara pemberontak. Ketika malam tiba, angin tiba-tiba berhembus menuju arah kamp pemberontak. Ketika melihat hal ini, maka Huangfu Song dan Zhu Jun langsung memerintahkan penyerangan, seketika itu api berkobar menutupi perkemahan tentara pemberontak. Tentara pemberontak kebingungan dan kebanyakan mati mengenaskan karena terbakar. Tidak ada waktu lagi untuk memakai baju zirah dan menaiki kuda, mereka semua berpencaran ke segala arah.
Bersambung...

Sumber:
Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik - Refleksi Bagi Para Pemimpin by Michael C. Tang
http://forum.detik.com/showthread.php?t=23593
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Di Kota Zhuo hiduplah seorang yang sangat bersemangat, dia bukanlah seorang pelajar kutu buku tetapi wawasannya sangat luas dan pikirannya terbuka untuk banyak hal. Bicaranya tidak banyak dan pembawaannya sangat tenang. Tubuhnya tinggi tegap, matanya besar dan kupingnya lebar, tangannya kuat dan bahunya lebar serta memiliki bibir berwarna kemerahan dan muka yang tidak pucat, matanya bersinar penuh dengan semangat yang ada di dalam dirinya.

Dia adalah keturunan dari pangeran Sheng dari ZhongShan yang ayahnya adalah Kaisar Jing (memerintah dari thn 157 SM-141 SM), kaisar ke- 4 dinasti Han. Dia bernama LIU BEI. Lama sebelumnya salah satu kakeknya pernah menjadi gubernur didaerah itu, tetapi kehilangan jabatannya akibat kesalahan yang dilakukannya pada suatu upacara kerajaan. Ayahnya adalah Liu Hong, seorang pelajar dan pejabat yang jujur tetapi seperti semua layaknya pejabat yang jujur waktu itu maka dia mati muda dan meninggalkan keluarganya hidup dalam kemiskinan dan Liu Bei terkenal karena sangat hormat kepada ibunya.

Pada saat itu keluarga Liu Bei sangat miskin dan Liu Bei mendapatkan uang dari hasil menjual sendal dan tikar jerami. Rumahnya berada di sebuah desa tidak jauh dari kota Zhuo. Di dekat rumahnya tumbuh sebuah pohon Mulberry yang kalau dilihat dari jauh tampak seperti kanopi yang menaungi kereta kuda kerajaan. Tidak ada yang istimewa dengan rumah itu sendiri, tetapi pernah suatu ketika lewat seorang peramal yang mengatakan bahwa "SUATU HARI SEORANG YANG HEBAT AKAN MUNCUL DARI RUMAH TERSEBUT".

Ketika kecil Liu Bei sering sekali bermain dengan teman-teman sebayanya dipohon itu. Dan dia suka memanjat pohon itu seraya berteriak,“AKU LIU BEI, ADALAH PUTRA LANGIT DAN INI ADALAH KERETA KUDAKU.” Pamannya Liu Yuan Qi melihat bahwa Liu Bei tidaklah seperti anak-anak pada umumnya dan merasa bahwa kehadirannya di keluarga Liu ini adalah sebuah pertanda.

Ketika Liu Bei berumur 15 tahun, ibunya menasihati Liu agar merantau untuk menimba ilmu. Untuk beberapa saat Liu Bei mengabdi pada Zheng Xuan dan Lu Zhi sebagai seorang murid. Iapun berteman dekat dengan Gongsun Zan.

Liu Bei berumur 28 tahun ketika pemberontakan Jubah Kuning terjadi. Ketika Liu melihat pengumuman mengenai perekrutan pasukan, ia terlihat galau dan menghela napas dalam-dalam.

Tiba-tiba dari belakangnya terdengar suara seseorang yang menegurnya, "Tuan, mengapa anda menarik napas dalam-dalam padahal anda tidak membantu negara?"

Sontak saja Liu Bei menoleh ke belakang melihat orang dengan badan yang tinggi besar, dengan wajah yang bulat seperti kepala macan tutul, mata yang besar, dagu yang lebar dan suara yang besar. Seketika itu Liu Bei sadar bahwa dia tidak berbicara dengan orang biasa-biasa saja dan dia menanyakan siapa namanya.

"Zhang Fei adalah namaku," jawab orang itu. "Sayatinggal dekat sini dan mempunyai pertanian, dan saya juga menjual arak dan daging. Aku juga suka berteman dengan orang-orang dan helaan nafasmu membuat aku tertarik untuk berbicara padamu.”

Liu Bei membalas, "Aku masih keturunan bangsawan, namaku adalah Liu Bei dan harapanku adalah bisa memadamkan pemberontakan jubah kuning tersebut tetapi aku tidak dapat melakukan apa-apa."

Zhang Fei menjawab, "Aku juga bermaksud sama, bagaimana kalau kau dan aku bersama membangun pasukan dan melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk masalah ini ?"

Ini adalah kabar gembira buat Liu Bei dan mereka berdua akhirnya pergi ke sebuah penginapan untuk berbincang-bincang. Ketika mereka sedang minum, tiba-tiba muncul di hadapan mereka seorang berbadan besar, tinggi dan mendorong gerobak besar tiba-tiba masuk ke dalam penginapan tersebut dan memanggil pelayan seraya berkata, "Pelayan bawakan saya arak, dan cepatlah aku akan pergi ke balai kota untuk mendaftarkan diri menjadi tentara.”

Liu Bei memperhatikan si pendatang itu, dan memperhatikan bahwa badannya sangat besar dan berjanggut panjang dan berwajah merah seperti apel. Bermata seperti Phoenix dan beralis seperti segulung sutera. Keseluruhan penampilannya memberikan aura bahwa dia adalah orang yang kuat dan memiliki kebanggaan diri yang tinggi. Lalu Liu Bei mendekatinya dan menanyakan namanya.

"Saya adalah Guan Yu", jawab orang itu. "Saya berasal dari seberang sungai, tapi telah lima tahun ini saya menjadi buron karena saya membunuh seorang pejabat kaya dan berkuasa tapi menyengsarakan rakyat, saya datang ke tempat ini untuk mendaftarkan diri masuk dalam ketentaraan.”

Dan Liu Bei pun akhirnya menceritakan tujuannya juga dan bersama dengan Zhang Fei mereka menuju pertanian Zhang Fei untuk membicarakan rencana besar mereka.

Kata Zhang Fei, "Pohon persik di belakang rumahku sedang bermekaran dan bunganya indah sekali, besok kita akan mempersembahkan kurban untuk bersumpah sebagai saudara di hadapan langit dan bumi dan memohon pertolongan langit agar kita berhasil dalam tugas kita untuk menumpas pemberontak dan mendamaikan Negara.”

Liu Bei dan Guan Yu setuju dengan rencana tersebut.

Zhang Fei mempersiapkan segala kebutuhan untuk acara esok hari.

Keesokan harinya, mereka bertiga telah berkumpul di hadapan pohon persik tersebut. Mereka lalu bersujud kepada langit dan bumi seraya bersumpah :

"Kami bertiga, Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei, walaupun berbeda keluarga tapi memiliki satu hati dan bersumpah untuk saling mengangkat saudara dan membantu sesama sampai akhir. Kami bersumpah untuk saling membantu sesama dimasa susah dan menikmati kesenangan bersama dimasa-masa yang bahagia. Kami bersumpah untuk melayani negara dan rakyat. Kami tidak dilahirkan disaat yang sama, tetapi kami bersedia mati disaat yang sama. Semoga Langit, yang maha kuasa, bumi dan semua hal yang menghasilkan mendengar sumpah kami. Jika kami melupakan sumpah ini dan kebaikan serta kebenaran maka biarlah langit dan bumi menyiksa kami."

Mereka semua bangkit berdiri dan Guan Yu serta Zhang Fei membungkuk hormat pada Liu Bei, Liu Bei sebagai kakak tertua, Guan Yu no 2, dan Zhang Fei sebagai yang bungsu. Mereka menyembelih lembu dan mengadakan pesta syukuran bersama dengan penduduk desa. 300 orang datang dan bergabung dengan mereka dan bersedia bersama-sama dengan mereka untuk memperjuangkan negara demi terciptanya kedamaian kembali.

Perjalanan ketiganya baru akan dimulai, Langit mempertemukan mereka dan mempersatukan mereka dalam ikatan persaudaraan, ikatan yang akan selalu dikenang sepanjang jaman, dimana tidak ada satu apapun dapat memisahkan mereka, tidak juga kematian. Persaudaraan sepanjang jaman demi menciptakan kedamaian di singgasana naga.

Setelah bersumpah menjadi saudara dan berhasil merekrut pasukan pertamanya, keesokan harinya 3 saudara itu mulai mempersiapkan diri mereka semua untuk maju ke medan perang melawan para pemberontak.

Setelah senjata dikumpulkan dan dibagi-bagikan mereka sadar bahwa mereka tidak memiliki kuda seekorpun. Tetapi mereka digembirakan oleh kabar bahwa ada seorang pedagang kuda yang baru memasuki kota.

"Langit telah membantu kita.” seru Liu Bei.
Bersambung...
Sumber:
Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik - Refleksi Bagi Para Pemimpin by Michael C. Tang
http://forum.detik.com/showthread.php?t=23593
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Menjelang akhir dinasti Han, yang merupakan salah satu dinasti terlama di antara dinasti-dinasti lain di China, tiga buah negara yaitu Wei, Wu dan Shu berkompetisi satu dengan yang lain berebut kekuasaan. Cao Cao, yang menjadi penguasa Wei adalah yang paling kuat di antara ketiganya dan mendominasi daerah utara. Dia juga menjadi perdana menteri kekaisaran Han yang sepenuhnya mengontrol raja muda dinasti Han.

Dengan menggunakan nama raja, dia memberi perintah dan menyerang mereka yang tidak mematuhinya. Dia bermaksud unuk menghancurkan negara Shu dan Wu dan memperluas kekuasaannya ke seluruh China. Sebagai orang yang bermuka dua, Cao Cao tidak hanya seorang prajurit profesional yang baik tetapi juga seorang yang berpendidikan. Tetapi dia sangat kejam, tidak setia dan penuh curiga. Motonya yang terkenal adalah: “Lebih baik saya mengkhianati seluruh dunia daripada membiarkan seluruh dunia mengkhianati saya.”

Penguasa Wu adalah Sun Quan, keturunan jenderal Sun Tzu yang terkenal yang menulis buku Seni Perang. Keluarga Sun menguasai muara Sungai Yangtze selama bertahun-tahun. Sun Quan menolak untuk menyerah kepada Cao Cao tanpa perlawanan, tetapi pasukannya tidak sekuat pasukan Cao Cao.

Yang paling lemah di antara ketiganya adalah Shu, penguasanya adalah Liu Bei. Liu adalah keturunan ningrat dinasti Han yang menguasai China antara 206 S.M. sampai 220 M. Liu adalah seorang yang baik, simpatik, dan sederhana, tidak terlalu pandai ataupun berbakat, tetapi dia mendapatkan simpati dari rakyat kebanyakan. Dia dan kedua saudara angkatnya telah mengabdikan diri mereka untuk menciptakan kedamaian dan mengembalikan

kekuasaan dinasti Han di China. Upayanya mendapat dukungan yang luar biasa ketika Zhuge Liang bergabung dengannya beberapa tahun kemudian setelah dia bangkit dan berperang melawan Cao Cao.

Zhuge Liang adalah orang dengan bakat yang sangat unik. Dia sedang menyepi ketika Liu Bei mengunjunginya.

Baru pada kunjungan ketigalah Liu berhasil bertemu dengannya dan membujuknya untuk bekerja untuknya.

Pengetahuan Zhuge Liang tentang politik, strategi militer, ilmu fisika, dan psikologi manusia tak tertandingi pada zamannya. Pada waktu itu, Cao Cao telah memenangkan perang strategi melawan Liu Bei di China tengah.

Analisis Zhuge Liang tentang situasi politik dan militer mencelikkan mata dan pikiran Liu Bei yang selalu meraba dalam gelap sejak kekalahannya. Zhuge menjadi perantara terbentuknya hubungan antara Shu dan Wu.

Periode ini disebut periode Tiga Kerajaan dalam sejarah China, dan menjadi zaman yang paling menarik dalam sejarah China.

Prolog

Kerajaan yang telah lama terpecah, pasti bersatu; yang telah lama bersatu, pasti pecah. Ini adalah hukum alam yang tidak dapat dihindari. Ketika pemerintahan Dinasti Zhou melemah, maka muncullah tujuh kerajaan yang saling bersaing untuk memperebutkan seluruh wilayah China. Perebutan akhirnya dimenangkan oleh kerajaan Qin, tetapi setelah takdir Qin dipenuhi, muncul dua kerajaan, yaitu HAN dan CHU yang memperebutkan kekuasaan. HAN menjadi pemenangnya.

Kebangkitan Han dimulai ketika Liu Bang berhasil membunuh ular putih besar dan menaikkan panji-panji perlawanan yang diakhiri ketika Han berhasil merebut seluruh wilayah China (202 SM). Warisan kekuasaan ini diturunkan turun-temurun dibawah dinasti Han untuk 200 tahun lamanya sampai pemberontakan yang dilakukan Wang Mang menimbulkan kekacauan di kerajaan. Liu Xiu sebagai keturunan ke-21 kaisar Han Gao Zu (Liu Bang) akhirnya berhasil mengambil alih kembali kekuasaan dan akhirnya dinasti Han kembali berkuasa selama 200 tahun sampai masa kekuasaan kaisar Xian Yang dimana pada masa pemerintahannya dinasti Han terpecah menjadi suatu masa yang dikenal sejarah sebagai masa tiga kerajaan.

Tetapi kehancuran Dinasti Han dimulai dari masa kaisar Huang dan Kaisar Ling yang duduk di Tahta Naga pada sekitar abad ke 2. Kaisar Huan tidak mempedulikan orang yang mampu dan lebih mempercayai kasim-kasim istana. Pada saat wafatnya, Kaisar Huang menyerahkan kekuasaan pada kaisar Ling dengan menunjuk walinya Dou Wu dan Chen Fan. Dou Wu dan Chen Fan adalah pejabat jujur yang berusaha untuk menghancurkan kekuasaan para kasim-kasim istana yang telah merusak negara. Tetapi kepala kasim Cao Jie tidak mudah untuk disingkirkan. Akhirnya Dou Wu dan Chen Fan dihukum mati dengan tuduhan memberontak pada kaisar. Hal ini membuat para kasim lebih ditakuti dan makin berkuasa.

Pada Tahun ke 2 bulan ke 4 dan hari ke 15 masa pemerintahan kaisar Ling(tahun 168 M). Ketika Kaisar sedang melewati "RUANG KEBIJAKSANAAN"(tempat Kaisar memutuskan sesuatu). Ketika Kaisar sedang menuju singasananya tiba-tiba bertiuplah angin kencang. Tidak lama kemudian dari atap istana tiba-tiba jatuh seekor ular hitam besar yang jatuh tepat diatas singgasana kerajaan. Kaisar terkejut dan terjatuh tidak sadarkan diri. Orang-orang yang berada di dekatnya langsung mengangkatnya kedalam kamar. Dan ajaibnya ketika para prajurit ingin mencari ular tersebut, ular tersebut telah hilang.

Hari-hari berikutnya banyak kejadian-kejadian aneh, seperti angin topan yang tiba-tiba muncul, petir dilangit yang tidak henti-hentinya hingga tengah malam, hujan besar yang turun semalam suntuk sehingga menimbulkan banjir dahsyat yang merusak banyak tempat. Dua tahun kemudian sebuah gempa besar melanda ibukota Luo Yang, sedangkan dipesisir pantai ombak besar menyapu bersih pemukiman nelayan. Pertanda buruk lainnya tercatat 10 tahun kemudian (+ 178 M) dimana seekor ayam betina berkokok seperti ayam jantan. Pada tanggal 1 bulan ke-6 di tahun yang sama, muncul kabut gelap secara tiba-tiba menutupi "Ruang Kebijaksanaan Kaisar".

Satu bulan kemudian, di dalam “Ruang Naga” terlihat sebuah pelangi. Sementara itu, jauh dari ibukota Luo Yang, sebagian dari wilayah Gunung Yuan longsor mengakibatkan hancurnya wilayah tersebut. Oleh karena banyaknya pertanda buruk tersebut, kaisar Ling akhirnya mengeluarkan titah dan memanggil semua pejabatnya untuk dimintakan pendapat.

Penasehat kerajaan Cai Yong mengeluarkan pendapat bahwa terjadinya bencana dan keanehan-keanehan tersebut disebabkan oleh turut campurnya para kasim dalam memerintah negara. Para kasim hidup dalam tindakan korup dan sewenang-wenang. Cai Yong memohon agar para kasim segera disingkirkan dari istana. Kaisar memikirkan pendapat ini sambil menghela napas dalam-dalam.Kepala para kasim, Cao Jie beserta kelompoknya yang mendengar hal ini sangat geram terhadap Cai Yong.

Selesai sidang, Cao Jie segera mengumpulkan kolega-koleganya untuk melakukan pertemuan. Mereka sepakat untuk menyingkirkan Cai Yong. Pada suatu kesempatan, para kasim berhasil memfitnah Cai Yong. Kaisar yang masih muda hanya bisa menyaksikan bagaimana Cai Yong diusir dari istana dan dihukum menyepi di kampung halamannya.

Dengan tidak adanya orang-orang yang berani lagi mengutarakan pendapat pada kaisar maka kekuasaan para kasim itu didalam pemerintahan makin tidak terbendung lagi. Diantara kasim-kasim tersebut ada 10 yang terkuat pengaruhnya, yaitu : Zhang Rang, Zhao Zhong, Cheng Kuang, Duan Gui, Feng Xu, Guo Sheng, Hou Lan, Jian Shuo, Cao Jie, dan Xia Yun.

Diantara mereka Zhang Rang adalah yang paling berpengaruh dihadapan kaisar. Kaisar mengangkatnya sebagai penasehat kepercayaannya dan bahkan memanggilnya "AYAH ANGKAT". Sistem pemerintahan yang korup membuat negara menjadi bertambah buruk sampai akhirnya timbul pemberontakan dimana-mana.

Pada saat itu disebuah daerah bernama JULU hiduplah sebuah keluarga dengan marga ZHANG. Mereka memiliki anak bernama ZHANG YUE,ZHANG BA dan ZHANG LIANG. Yang tertua adalah Zhang Yue, seorang pemuda yang tidak lulus dalam ujian negara yang mendedikasikan dirinya pada ilmu pengobatan.Pada suatu hari ketika sedang mencari tumbuhan obat Zhang Yue bertemu dengan seorang pertapa tua yang memiliki mata berwarna kehijauan. Pertapa tua itu mengajak Zhang Yue untuk mengikutinya ke gua pertapaanya dan memberinya 3 jilid "BUKU LANGIT".

"BUKU LANGIT" ini, kata pertapa itu "merupakan intisari dari segala kedamaian”. Dengan bantuan 3 buku ini maka kamu akan dapat menyelamatkan umat manusia dan mengubah dunia. Tapi kamu harus memiliki keyakinan yang kuat atau pasti kamu akan mengalami penderitaan yang sangat."

Dengan memberi hormat sampai ketanah, Zhang Jue mengambil ketiga jilid kitab tersebut dan menanyakan nama dari pertapa itu.

'AKU ADALAH PERTAPA SUCI DARI DATARAN SELATAN', setelah selesai mengucapkan kata-kata itu maka hilanglah pertapa itu.

Zhang Jue siang malam mempelajari buku itu dengan sangat serius. Dan tak lama kemudian dia sudah dapat memanggil hujan dan memerintahkan angin.

Pada tahun ke-18 (+ 184 M) masa pemerintahan kaisar Ling terjadi wabah yang menyerang seluruh daerah kerajaan. Zhang Yue membagikan obat-obat gratis kepada rakyat dan obat itu sangat manjur dalam melawan wabah ini. Dan dalam waktu yang singkat banyak orang yg mengenal Zhang Yue sebagai yang "bijaksana dan terberkati". Zhang Yue akhirnya mulai merekrut murid yang diajarinya ilmunya itu dan semakin bertambah banyaklah pengikutnya.

Dengan semakin banyak pengikutnya maka Zhang Yue mengorganisasikan mereka kedalam 36 cabang. Yang terbesar memiliki sekitar sepuluh ribu orang dan lima ribu orang untuk cabang yang terkecil. Setiap cabang dipimpin oleh seorang ketua yang dipanggil dengan titel Jendral seperti layaknya pangkat dalam kemiliteran. Mereka selalu berbicara mengenai "menghapus langit biru menjadi langit emas". Mereka yakin bahwa perputaran nasib akan segera terjadi dan kesejahteraan akan menaungi mereka yang menjadi aanggota persekutuan tersebut.

Setelah semakin banyak pengikutnya, Zhang Jue akhirnya merasa sudah saatnya untuk menggulingkan pemerintahan yang korup dan menyengsarakan rakyat ini tetapi sekarang ia menginginkan kerajaan ini untuk dirinya sendiri. Salah satu pendukungnya, Ma Yuanyi,ditugasi untuk mengirimkan upeti kepada para kasim yang berkuasa di istana. Upeti tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan dukungan dari para kasim sehingga mereka tidak akan menghalang-halangi usaha Zhang Jue.

Zhang Jue dan pasukannya bersiap. Sesuai dengan panji mereka, yaitu untuk "Menghapus Langit Biru dan Membuat Langit Emas" maka mereka mengenakan panji-panji berwarna kuning cerah. Zhang Yue menugasi salah satu orang kepercayaannya, Tan Zhou, untuk menyampaikan pesan kepada Feng Xu, salah satu anggota 10 kasim yang berpengaruh bahwa rencananya telah siap. Sial, ternyata Tan Zhou bawahan yang disuruhnya berkhianat dan memberitahukan ini pada kaisar Ling. Kaisar yang ketakutan segera memanggil Panglima Besarnya He Jin untuk membahas masalah ini. He Jin segera bergerak cepat, Ma Yuanyi ditangkap dan segera dieksekusi mati. Tetapi Feng Xu hanya dipenjarakan.

Karena rencananya telah terbongkar maka Zhang Yue dan adik-adiknya harus mempercepat rencana mereka. Mereka memberi gelar pada diri mereka sendiri, Zhang Yue, Penguasa Langit, Zhang Ba, Penguasa Bumi; Zhang Liang, Penguasa Manusia. Dan mereka memproklamirkan:

"Keberuntungan Dinasti Han telah habis, yang bijaksana dan mampu telah muncul. Dengarlah kehendak langit, oh semua pengikutku, berjalanlah dijalan yang benar dan bersama kita raih kedamaian"

Semua pasukan Zhang Yue dan seluruh pendukungnya telah memiliki semangat yang membara karena mereka telah lama merasa tertindas dan menderita. Mereka semuanya mengangkat panji-panji kuning dan memakai tutup kepala berwarna kuning. Kekuatan utama mereka mencapai sekitar 500.000 orang. Kekuatan ini membuat gentar pasukan pemerintah yang segera melarikan diri.

Panglima besar dan Pelindung Tahta, He Jin mendengar kabar ini segera memerintahkan untuk melakukan persiapan perang. Titah kaisar pun dikeluarkan untuk merekrut pasukan melawan pemberontakan ini yang disebut pemberontakan "jubah kuning". Sementara itutiga orang panglima pasukan kerajaan, Lu Zhi, Huangfu Song dan Zhu Junbergerak ke segala penjuru Cina untuk melawan pemberontakan ini.

Sementara itu Zhang Yue mengarahkan pasukannya menuju propinsi Youzhou. Wilayah ini terletak di daerah timur laut. Penguasa wilayah ini adalah Liu Yuan yang masih merupakan keluarga kaisar. Setelah mengetahui kedatangan pasukan pemberontak ini maka Liu Yan langsung memerintahkan jendral Zhou Jing untuk mengumpulkan pasukan. Maklumat segera dikeluarkan untuk merekrut pasukan.

Liu Yan menyetujui rencana perekrutan ini dan segera memerintahkan para staffnya untuk segera menyebarkan pengumuman ini. Salah satu pengumuman ini dipasang di kota Zhuo, dimana hiduplah seorang yang memiliki semangat tinggi yang di dalam dirinya dipenuhi gelora membara untuk membawa kedamaian, orang yang akhirnya mengubah sejarah Cina.
Bersambung...
Sumber: 
Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik - Refleksi Bagi Para Pemimpin by Michael C. Tang
http://forum.detik.com/showthread.php?t=23593
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Perdana Menteri Norwegia, Jens Stoltenberg, bisa jadi tidak menyangka. Negaranya yang digadang-gadang sebagai Negara dengan demokrasi terbaik di dunia itu tiba-tiba berubah mencekam. Jum’at 22/7, salah seorang warga Norwegia melakukan aksi gila dengan membantai 93 warga Negara Skandinavia itu: 86 diberondong di pulau, sisanya meregang nyawa dalam ledakan bom mobil di luar gedung pemerintah di pusat kota Oslo.

Adalah Anders Behring Breivik, pria pirang berumur 32 tahun yang menaruh rasa benci kepada umat Islam. Ia ditangkap pihak kepolisian Norwegia setelah aksi sadis di Pulau berdarah dan mengaku bahwa dirinya ada dibalik aksi brutal itu. Lantas apa hubungan antara sikap permusuhannya terhadap Islam dengan warga Norwegia yang mayoritas Kristen? Rupanya, ia menilai Eropa telah gagal dan mengkhianati warisan luhur Kristen dengan murtad dari agama Kristus dan memeluk agama baru bernama Multikulturalisme.


Ia juga marah kepada Eropa. Benua ini dinilainya sebagai daratan penampungan para migran Islam dan telah membiarkan terjadinya proses Islamisasi di benua biru itu. Ya sebuah situasi antiklimaks bagi Eropa. Gagasan Barat yang mendorong perdamaian dunia lewat jalan multikulturalisme dan pencampuran agama-agama mendapat tantangan baru terhadap apa yang kita sebut dengan kelompok teroris Kristen. Ya stigma ‘teroris’ yang selama ini selalu disematkan kepada kaum muslimin, tanpa cek apalagi cross check.

Namun pertanyaannya betulkah ini adalah sebuah aksi yang murni dilakukan Anders Breivik seorang? Dan apakah betul Breivik adalah seorang Kristen sejati dengan aksi biadabnya membunuh 93 warga Negara Norwegia yang mayoritas Krsten?

Ada fakta menarik terungkap saat satu demi satu jatidiri Breivik mulai terendus ke muka publik. Selama menjalani interogasi, Breivik mengklaim diri sebagai Ordo Ksatria Kristen tingkat Internasional yang ditugaskan untuk melakukan perlawanan terhadap kaum muslimin. Ia mengaku menjalankan titah Suci sebagai pengikut Kristiani untuk menjaga moralitas Kristen. Jika anda pernah menonton Film Agora, peran Breivik layaknya Parabolani yang menjaga warisan Kristen Alexandria untuk tidak terkontaminasi oleh ajaran lain pada periode abad 4-M, beberapa tahun pasca ditetapkannya Konsili Nicea, pada 325 M.

Namun kasus Breivik sangat berbeda. Ia memang mengaku pengikut ajaran Kristen, tapi tidak menampik keyakinan Freemasons. Bahkan ia gandrung terhadap kelompok konspiratif Yahudi itu. Fotonya yang mengenakan jaket anti air dan menyandang senjata api otomatis, yang muncul dalam video anti-Muslim berdurasi 12 menit dan diberi judul "Knights Templar 2083" menjadi bukti kuat bahwa Ordo yang ia maksud dalam interogosi tersebut adalah Knights Templar, ya sebuah milisi masonik abad lampau yang kini ia munculkan dengan jelmaan baru.

Jika anda masih ingat sejarah pasukan Salib, Ordo ini sangat terkenal dengan sebutan The Knights Templar. Menurut Harun Yahya, dalam bukunya Ancaman Global Freemasonry, Para Templar, atau lengkapnya, Tentara Miskin Pengikut Yesus Kristus dan Kuil Sulaiman, dibentuk pada tahun 1118, dua puluh tahun setelah tentara salib merebut Yerusalem.

Pendiri ordo ini adalah dua ksatria Prancis, Hugh de Payens dan Godfrey de St. Omer. Berawal dari sembilan anggota, ordo ini terus berkembang. Nama kuil Sulaiman dipakai kemudian karena mereka membangun basis di gunung kuil, yakni lokasi reruntuhan kuil tersebut. Di sini pula berdiri Dome of the Rock (Qubah As-Sakhrah) .

Ordo ini kemudian mendapatkan restu dari uskup agung Warmund dari Jerusalem. Sejak tahun 1140 mereka lebih dikenal dengan nama Templar. Sejatinya tujuan mereka membangun kembali Haikal Sulaiman yang dihancurkan oleh raja Chosroe dari Persia pada tahun 610, dan menghidupkan kembali ajaran kepercayaan Kabbala di Palestina. Namun peran lobi Ordo ini ditubuh kerajaan sangat kuat. Salah satu aktor yang memainkan peran itu adalah Reynald de Chatillon. Seorang antek Yahudi yang kerap memprovokasi umat Kristen melawan Islam. Sejatinya, Islam adalah agama yang akan menjadi batu sandungan dalam memuluskan cita-cita mereka membangun Haikal Sulaiman.

Dalam Film Kingdom of Heaven, digambarkan Reynald de Chatillon sebagai orang yang picik lagi sadis. Ia pernah menyerang rombongan umat muslimin, tanpa seizin dan perintah dari Raja Baldwin IV. Secara sadis dan tanpa aba-aba, Reynald de Chatillon kemudian menghabisi Konvoi umat muslim di padang pasir. Mereka diserang, dibunuh, dan mayatnya dibiarkan bergelimpangan.

Sontak Raja Baldwin IV berang mendengar kejadian itu karena mereka memiliki perjanjian damai dengan Shalahuddin Al Ayyubi. Reynald de Chatillon langsung dihukum penjara oleh Raja Baldwin, namun karena memiliki hubungan khusus dengan menantu raja, Guy de Lusignan, Reynald kemudian dilepaskan.

Raja Baldwin IV yang sedikit memiliki toleransi dengan kaum non Kristiani, membuatnya sosok yang tidak disukai oleh Reynald de Chatillon. Maka itu ketika mendengar kabar bahwa Raja Baldwin IV meninggal, Reynald adalah salah satu orang yang menyambut gembira kabar itu sebagai sebuah kabar baik. Lebih-lebih ketika tampuk raja beralih ke Guy de Lusignan. Disinilah nafsu kebencian Reynald kepada kaum muslimin dapat tersalurkan. Guy yang juga dikenal sosok picik, haus darah, dan seorang Kristen pembenci umat Islam menjadi mitra sejati bagi Reynald de Chatillon. Maka kloplah duet duo Kristen-Yahudi ini dalam rangka memusuhi Islam.

Guy, dengan bantuan Reynald, kemudian menyulut peperangan dengan umat Islam dengan membunuh adik perempuan Shalahuddin Al Ayyubi, juga beberapa warga Muslim dan utusan Shalahuddin yang datang kepadanya. Bersama pasukan Ksatria Templar, Guy keluar dari kota Jerusalem ke gurun pasir untuk menyerang Shalahuddin, tanpa memikirkan pentingnya faktor persediaan makan dan minuman. Akibatnya, pasukan Muslim dengan mudah bisa mengalahkan pasukan Salib Templar yang telah lemah dan kelelahan itu, dimana pertempuran itu dikenal sebagai Perang Hattin. Raja Guy dan Raynald ditangkap dan kemudian dihukum penggal oleh Shalahuddin, yang kemudian bergerak bersama pasukannya ke Jerusalem.

Pauperes commilitones Christi Templique Solomonici, Jelmaan Knights Templar Baru?

Sejatinya, Para Templar menyebut dirinya “tentara miskin”, tetapi dalam waktu singkat mereka menjadi sangat makmur. Mereka mengontrol penuh para peziarah Kristen yang berdatangan dari Eropa ke Palestina, dan menjadi sangat kaya dari uang para peziarah tersebut. Mereka pula yang pertama kali menyelenggarakan sistem cek dan kredit, menyerupai yang ada pada sebuah bank saat ini. Menurut penulis Inggris, Michael Baigent dan Richard Leigh, mereka membangun semacam kapitalisme abad pertengahan, dan merintis jalan menuju perbankan modern dengan transaksi mereka yang berbasis bunga.

Namun persoalannya tidak saja pada faktor ekonomis. Para Ksatria Templar sejatinya adalah seorang pengikut paganisme sejati, yang berlawanan pada domain teologi Kristen. Maka daripada itu, pada perkembangannya kedok mereka menyelinap di tubuh Kristen mulai terkuat ke permukaan. Ordo templar sedikit demi sedikit “tertangkap basah” menyeleweng dari iman Kristen. Saat di Yerusalem, mereka telah mengambil sejumlah doktrin mistik yang asing dan menyelenggarakan ritus-ritus aneh untuk memberi bentuk pada doktrin mereka.

Dan kini kita pun bisa menduga, bahwa Breivik adalah aktor yang digerakkan oleh Freemason Norwegia. Atau memang ini adalah Knight Templar jilid baru? Sebab dalam laporan situs berita Norwegia, www.dagbladet.no yang berjudul “Skulle drepe 4848 nordmenn”, ordo tempat Breivik beranung bernama lengkap "Pauperes commilitones Christi Templique Solomonici" atau singkat menjadi PCCTS.
Dalam catatannya, Ordo ini berdiri di London pada bulan April 2002 sebagai sebuah manifestasi ulang dari tatanan Perang Salib abad kedua belas. Organisasi ini didirikan untuk mengambil kontrol politik dan militer dari Eropa Barat, dengan anggotanya yang dikenal sebagai milisi perang Salib. Menurut laporan di dagladet.no, PCCTS didirikan oleh sembilan orang (jumlah yang persis seperti Knight Templars), yakni terdiri dari dua orang Inggris, seorang Prancis, seorang Jerman, seorang Belanda, seorang Yunani, Rusia, seorang Norwegia, dan Serbia. Inisiator utama tampaknya adalah Serbia, dimana Breivik mengaku telah mengunjungi Liberia dan telah menyatakan dirinya pahlawan perang di PCCTS. Sebuah fakta menarik.

Apakah PCCTS betul-betul sebuah milisi Templar jilid II yang menjadikan sikap “lembek” Eropa yang membiarkan imigran muslim menyerbu Eropa sebagai personifikasi Raja Baldwin IV yang baru? Dan apakah Breivik adalah perwujudan dari Reynald de Chatillon yang dipenjara karena aksinya membunuh warga tidak berdosa dan membenci umat Islam? Dan kalaulah memang setting itu berjalan, siapakah Guy de Lusignan yang akan membebaskan Breivik nantinya? Ini hanya pengadilan dagelan saja. Sama seperti kasus Geert Wilders, yang kemudian dibebaskan meski melukai hati umat Muslim Eropa. Ya tokoh Belanda yang juga dikagumi Breivik itu. (pz)
Bersambung...

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Meski Negara Wei dikalahkan Negara Qi dalam perang Gui Ling dan kekuatan negara itu telah mengalami degradasi, namun lantaran kekuatan pada dasarnya kokoh dan kuat, sesudah menghimpun lagi kekuatan selama 10 tahun lebih, sebagian besar kejayaannya telah pulih.

Negara Han yang eksis pada periode bersamaan kala itu dipimpin oleh Han Zhao-wang dan berkat pengarahan Ming Xiangshen dengan kebijaksanaan, ke arah dalam mengonsolidasikan diri dalam bidang pemerintahan dan keagamaan, ke arah luar berselaras dengan para Zhu Hou (war lords), alasan itulah yang membuat Negara Wei yang berada di selatan merasa terancam.

Pada masa pemerintahan Zhou Xuanwang ke-28 (341 SM), jenderal besar Negara Wei yakni Pang Juan memimpin pasukan sekutu dari Wei dan Zhao menyerbu langsung ibu kota Han (kini Kabupaten Xin Zheng - Henan). Han dalam kondisi genting dan segera mengutus dutanya ke Negara Qi untuk meminta bala bantuan.

Qi Weiwang mengumpulkan seluruh menterinya untuk berunding dan Tian Ji meng-usulkan agar cepat memberikan bantuan, Zouji sebaliknya beranggapan sebaiknya tidak menolong. Konslelor militer Sun Bing pada saat itu mengusulkan siasat "Negara Qi seharusnya mempertahankan persahabatan yang baik dengan Negara Han dan memberikan janji untuk menolong Han, tetapi tidak perlu terburu-nafsu mengirim pasukan, biarkan Han dan Wei saling bertempur dahulu, setelah energi Negara Wei terkuras oleh peperangan dengan Han tersebut baru kita kirim pasukan." Qi Weiwang memilih menggunakan siasat Sun Bing tersebut.

Negara Wei dengan niat melenyapkan Han mulai menginvasi Negara Han, meski Han menyambutnya dengan sekuat tenaga masih saja lima kali berperang lima kali kalah. Qi Weiwang melihat kekuatan pasukan Wei sudah terkikis banyak, itulah saatnya peluang sudah matang untuk mengirim pasukan, maka ia mengutus Tian Ji, Tian Ying dan Tian Pan sebagai jenderal serta Sun Bing sebagai konselor militer, mengirim pasukan untuk menyelamatkan Han.

Pasukan Qi kali ini masih menghindari bentrokan frontal dengan pasukan utama Negara Wei tetapi langsung menyerbu ke Da Liang, ibu kota Wei. Berbekal pengalaman kekalahan perang di Gui-Ling maka Wei Weiwang tidak berani memandang enteng. Ia memperkokoh kekuatan pasukannya, dengan Taizi Shen sebagai panglima dan Pang Juan sebagai jenderal yang memimpin 100 ribu pasukan besar menyongsong pasukan Qi.

Tekad pasukan Wei adalah perang penentuan, memang semangat mereka berkobar-kobar. Sun Bing mengusulkan penggunaan strategi "Musuh tampil dengan berani dan pedaya mereka agar hanya bersenjatakan peralatan perang ringan, hindari pasukan Wei yang menggebu-gebu tekad untuk memenangkan, pasukan Qi kita seolah jera dan berbalik mundur untuk memancing musuh maju dengan gegabah."

Untuk memancing pasukan Wei, pasukan Qi menggunakan taktik "cara pengurangan anglo", Panglima Tian Ji memerintahkan pada hari pertama membuat anglo (peralatan masak para prajurit) untuk 100 ribu orang, hari kedua anglo tersebut dikurangi sehingga tinggal 50 ribu buah, hari ketiga tersisa 20 ribu buah saja.

Pang Juan mengejar pasukan Qi selama 3 hari, melihat hal tersebut, ia bersorak: "Saya sudah tahu pasukan Qi ini ketakutan, memasuki wilayah kita baru tiga hari, sudah kehilangan separo pasukannya". Pang Juan tidak menyadari itu adalah jebakan, dikiranya pasukan Qi menjadi keder terbukti sebagian besar pasukannya sudah desersi, maka ia menyetop pasukan infantrinya dan hanya memimpin pasukan kereta ringan dan kavaleri siang malam bergegas memburu pasukan Qi.

Sun Bing memperhitungkan waktu perjalanan, ia mengestimasi pasukan Wei pada saat magrib akan tiba di Ma Ling (kini di sebelah barat daya Kabupaten Fanxian, Provinsi Henan). Jalan di Ma Ling sempit, konturnya berbukit dan banyak jurang, di kedua sisi jalan banyak ditumbuhi pepohonan lebat, betul-betul adalah lokasi yang tepat untuk menyergap.

Sun Bing menyuruh beberapa prajurit mengupas kulit pohon dari sebuah pohon besar yang tumbuh pada tepi jalan, dan menulis enam aksara besar di batang pohon besar tersebut yakni: "Pang Juan Mati di Bawah Pohon Ini", kemudian ia menyeleksi ribuan pemanah mahir untuk menunggunya di atas bukit di kedua sisi jalan tersebut, serta mengeluarkan sebuah perintah militer: Sesudah langit gelap, begitu melihat cahaya api, serentak lepaskan panah.

Ketika matahari hampir tenggelam, benar saja ternyata Pang Juan memimpin pasukannya telah mengejar sampai ke Ma Ling, ia menemukan kulit pohon sebuah pohon besar di pinggir jalan terlihat samar-samar seperti terkelupas dan pada bagian yang terang tersebut tertera tulisan, maka ia memerintahkan para anak buah menyulut api untuk melihat tulisan apakah gerangan, begitu melihat beberapa huruf besar tersebut ia terperanjat setengah mati, masih belum sempat memikirkan mau bereaksi bagaimana, pada saat yang sama para pemanah Qi yang menunggu ada api menyala maka melesatlah puluhan ribu panah-panah dan dibarengi dengan serbuan dadakan pasukan Qi ke arah pasukan Wei. Pasukan Wei menjadi kacau balau dan saling bertabrakan dan saling menginjak.

Pada situasi kalang kabut itu Pang Juan terluka parah terkena panah dan akhirnya ia dengan geram dan penuh sesal melakukan bunuh diri. Pasukan Qi mengejar terus mumpung di atas angin, mereka lagi-lagi telah mengalahkan telak pasukan utama Negara Wei dan berhasil menangkap hidup panglima mereka Taizi Shen serta memusnahkan 100.000 pasukan Wei.

Sesudah perang Ma Ling, kejayaan Negara Wei mulai surut, beberapa negara seperti Qi, Qin dan Zhao bersekutu menyerbu Wei pada tahun kedua setelah perang Ma Ling, dan saling berbagi wilayah Wei yang berhasil dicaplok, sejak saat itu Negara Wei tak lagi dapat bangkit, sedangkan Negara Qi menggetarkan para Zhu Hou (warlords) dari empat penjuru, serta menjadi negara hegemonis perkasa di wilayah timur.

Selain itu dampak yang lebih besar ialah fondasi kenegaraan yang telah dibangun oleh mantan Negara Jin selama jangka waktu lama, melalui perang tersebut nyaris musnah, perlindungan Tiongguan (wilayah sentral kebudayaan dan geografis China) terhadap Negara kuat Qin dari wilayah barat muncul rongga yang menganga. Tiga negara asal Jin tidak memiliki kekuatan penuh untuk membendung ekspansi Negara Qin ke arah timur, keadaan Tionggoan dengan demikian telah berubah, drama panggung besar sejarah berkembang ke arah jalur bagaimana menangkal infiltrasi Qin.

Dengan peristiwa "Mengepung Wei menolong Zhao" dan "Pertempuran Ma Ling" memberi inspirasi "Berawal dengan mencelakakan orang, pasti berakhir dengan celaka", itulah kisah antara Sun Bing dan Pang Juan. (Huang Rong/The Epoch Times/whs)

Sumber: http://www.epochtimes.co.id
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments