Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,
Akhir Dinasti Sui (581-618), Kaisar Yang hidup berfoya-foya dan mengumbar nafsu bejadnya sehingga menyengsarakan rakyat. Keluhan rakyat terdengar di empat penjuru, maka terjadi pemberontakan dimana-mana untuk melawan politik kezaliman tersebut.

Pada tahun 618, Li Yuan mengangkat dirinya sebagai kaisar di Kota Chang An (kini Xi An), mengganti sebutan negara dengan Tang (baca: dang, 618-907) dan mengubah nama tahun menjadi Wu De (moralitas keperkasaan).

Meski Li Yuan mendirikan Dinasti Tang dengan Ibukota Chang An, namun di banyak tempat masih saja tenggelam dalam kekacauan perang dan terjadi kekalutan situasi akibat perpecahan antara faksi-faksi kekuatan militer. Diantaranya Dou Jiande, si Raja Xia, pemimpin tentara pemberontak petani dari Provinsi Hebei, bersama Wang Shichong yang menduduki Kota Luo Yang, merupakan kekuatan faksi utama.

Setelah Li Yuan menobatkan dirinya sebagai kaisar, ia tidak lagi memimpin perang ekspedisi. Agar kelak meratakan jalan untuk mendudukkan Li Jiancheng, si anak sulung, sebagai kaisar, ia menempatkannya di Chang An. Tetapi untuk menundukkan kekuatan para pihak yang menduduki berbagai tempat dan mempersatukan kembali seluruh negeri, maka tugas tersebut berada di pundak putra keduanya yakni Li Shimin.

Li Shimin yang kala itu baru berusia 20-an tahun dengan berani memikul tanggung jawab besar tersebut, dan membutuhkan waktu 10 tahun lebih baru menunaikan tugas perang pemersatuan yang maha sulit itu, diantaranya termasuk mengalahkan Wang Shichong dan Dou Jiande.

Serang Wang Shichong, Li Shimin Kirim Pasukan ke Luo Yang

Bulan ke-5 tahun 618, setelah berita Kaisar Yang (Dinasti Sui) terbunuh tersiar ke Luo Yang, para jenderal mendukung Yang Dong si Raja Yue menjadi kaisar. Pada bulan ke-4 tahun 619, Wang Shichong merebut kekuasaan dan mengganti nama negara menjadi Zheng (鄭).

Pada bulan ke-7 tahun 620, Li Shimin mengirim pasukan menyerang Wang Shichong di Luo Yang, bulan ke-8 ia berhasil mengepung Kota Luo Yang. Di saat krusial dan Wang yang terkepung hampir saja kalah, Dou Jiande mengirim 100.000 tentara secara besar-besaran dari Hebei demi menyelamatkan Wang Shichong.

Waktu itu Dou Jiande menduduki Provinsi Hebei dan Shandong. Pada awalnya ia juga tidak rela saling menolong, bagaimanapun duduk diam sambil menyaksikan naga bertempur melawan macan masih lebih menguntungkan. Kemudian karena ia melihat Wang Shichong sudah hampir kalah, maka ia menuruti usulan Liu Bin salah seorang stafnya untuk mengirim tentara penyelamatan agar tidak terjadi situasi “bila bibir copot gigi akan kedinginan” maka akan sulit lari dari nasib dimusnahkan oleh Tang juga.

Pada musim semi tahun 621, pasukan induk Dou Jiande merembes ke selatan dan memasuki daerah timur Hu Lao.

Dou Jiande Bantu Wang, Pasukan Tang Melaju ke Lintasan Hu Lao

Pada awalnya Dou Jiande menulis surat bernada perdamaian dan persahabatan kepada Li Shimin, namun ditolak mentah-mentah. Ia malah mulai mengatur strategi menghadapi Dou. Lantaran situasi waktu itu Kota Luo Yang meski terkepung lama tapi tak kunjung jatuh, ditambah berita kedatangan pasukan penyelamat dari Dou Jiande, jenderal pasukan Tang yang pesimis mengusulkan mundur agar terhindar dari bentrokan frontal. Misalkan Qu Tutong beranggapan bila mengirim pasukan menyongsong musuh di sekitar lintasan Hu Lao maka akan terbentuk situasi punggung terancam musuh, seharusnya lebih baik mundur dulu dan bertahan di Xin An sambil mencari peluang untuk bertempur.

Namun taktik perang ini ditentang oleh golongan progresif di bawah Jenderal Xie Shou, mereka beranggapan, logistik Wang Shichong sudah hampir terpakai habis, situasi terancam dari luar dan dalam, seharusnya tinggal menunggu memetik hasil.

Mengenai pasukan Dou Jiande, para jenderal mereka dinilai takabur dan sewenang-wenang, para prajurit pun malas, seharusnya berperang saja melawan mereka agar dapat bertahan di lintasan strategis Hu Lao. Jika tidak mengambil strategi perang kilat pada saat ini, dan membiarkan Dou menguasai dahulu Hu Lao, maka sejumlah kota yang baru saja direbut sulit untuk dipertahankan, peluang bagus yang telah ada di gengaman bakal hilang.

Li Shimin akhirnya menyetujui pendapat Xie Shou. Ia memerintahkan Qu Tutong dan Li Yuanji (putera ketiga kaisar) si Raja Qi tetap mengepung Luo Yang, sementara dirinya sendiri memimpin pasukan kavaleri elit sebanyak 3.500 orang dengan gerak kilat menuju lintasan Hu Lao, maka dimulailah Perang Hu Lao yang terkenal di sejarah Tiongkok.

Dou Jiande Mendesak Perang, Li Shimin Adu Siasat

Pada bulan ketiga tahun 620, Li Shimin dengan pasukannya tiba di lintasan Hu Lao, ia seorang diri bergerak ke arah timur sejauh 10 km untuk menyelidiki situasi musuh. Dou Jiande dan pasukannya tak dapat lagi maju, maka mereka mendirikan benteng dan bercokol di sana. Pada bulan keempat, pasukan Dou mengalami kegagalan beberapa kali dalam bertempur, rasa rindu kampung halaman para tentaranya semakin menjadi-jadi, ditambah lagi jalur pasokan bahan pangan lagi-lagi mengalami serangan mendadak dari pasukan Tang hingga seorang jenderal mereka tertawan.

Saat itu, bawahan Dou Jiande mengusulkan untuk menyeberangi sungai menggempur Huai Zhou, kemudian menuju barat menembus Pegunungan Taihang, mumpung kosong bisa menduduki Shang Dang, lalu mengarah ke selatan dan menduduki wilayah luas di He Dong, selain bisa memperluas wilayah dan menambah tenaga pasukan baru juga dapat mengancam Guan Zhong, sehingga akan memaksa Li Shimin menarik pasukannya untuk menyelamatkan diri sendiri, dengan demikian pengepungan Luo Yang tak usah digempur sudah jebol dengan sendirinya.

Akan tetapi Dou Jiande terobsesi hanya ingin mencari Li Shimin untuk perang final, sama sekali tak mau mendengar masukan dari pihak lain, malah mengatakan teori tersebut hanyalah pendapat kaum cendekiawan saja. Rencana Dou Jiande, menyerang lintasan Hu Lao, selagi pasukan Tang kehabisan makanan kuda dan selagi menggembala kuda-kuda mereka di pesisir utara.

Li Shimin dapat membaca arah strategi Dou Jiande, maka ia memutuskan untuk menyerang balik siasat tersebut. Tanggal 1 bulan kelima, Li Shimin menyeberangi sungai dan menggembala kuda-kuda mereka serta meninggalkan ribuan ekor kuda tempur, dengan tujuan agar Lou Jiande menganggap pasokan rumput pasukan Tang telah habis, ia sendiri pada malam harinya kembali ke lintasan Hu Lao.

Dou Jiande ternyata terperangkap, pada pagi hari keesokan harinya, ia mengerahkan semua tentaranya dan berbaris sepanjang 10 km berderap maju diiringi genderang serta hendak menggunakan kewibawaan mereka untuk menggertak pasukan Tang.

Kepung Kota Memecah Bantuan, Sekali Serang 2 Musuh Terkalahkan

Sebelumnya Li Shimin mengatakan kepada anak buahnya: “Dou Jiande melewati lintasan maut dengan genderang dan suara bising sama sekali tidak berdisiplin; mendekati kota, baru memasang formasi ini menandakan mereka memandang enteng pasukan kita. Jika kita tidak tergerak, keberanian mereka niscaya surut secara perlahan, penggelaran formasi dalam waktu lama bisa berakibat lapar dan letih, tak usah diserang sudah berantakan sendiri, pada saat itu kita mengejar sesuai dengan keadaan, pasti akan menang terus.”

Ternyata dugaannya tidak meleset, hingga siang hari, pasukan Dou Jiande lantaran perang belum juga digelar, para prajurit pun haus dan lapar, mereka mulai berebut minum air, banyak yang lesehan di atas tanah, tidak lagi berformasi seperti sedia kala, betul-betul terlihat seperti pecundang.

Begitu pasukan Yuwen Huaji muncul, spirit pasukan Dou mulai goyah, Li Shimin melihat peluang telah terbuka maka begitu diperintahkan serang, ia sendiri memimpin pasukan berkuda keluar lebih dahulu dan ditambah dengan pasukan infantri utama, maka seluruh prajurit dengan hiruk pikuk menerjang ke pihak musuh. Pasukan Dou Jiande melihat gelagatnya berkembang seperti itu, maka ia bergegas memimpin pasukannya untuk mundur, saat itu juga dua jenderal besar Qin Qiong dan Cheng Yaojin menghantam dari belakang, Dou Jiande kalah telak, di bawah kekacauan, ia terluka oleh tombak dan dalam perjalanan mundur ia tertawan oleh pasukan Tang.

Kekalahan Dou Jiande, membuat Wang Shichong yang menduduki Luo Yang ketakutan, maka ia membuka pintu kota dan menyerah.

Perang Hu Lao, Li Shimin dengan sekali hantam dapat mengalahkan 2 kekuatan besar dari Wang Shichong dan Dou Jiande, ia telah membuat landasan kokoh bagi pemersatuan imperium Tang dan menciptakan model siasat perang “mengepung kota menghantam bantuan”. (Huang Rong / The Epoch Times / whs)

Sumber: http://www.epochtimes.co.id
Share to Lintas BeritaShare to infoGueKaskus

1 Response to Perang Lintasan Hu Lao, Perang Pemersatuan Awal Dinasti Tang

27 Mei 2015 13.27

terima kasih infonya.....

Poskan Komentar

  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments