Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,
Mungkin banyak orang yang tidak tahu. Di abad ke-19 KNIL merekrut sekitar 3000 laki-laki Afrika untuk menjadi tentara yang ditugaskan di Indonesia yang ketika itu bernama Hindia-Belanda.

Sejumlah besar dari mereka yang dikenal dengan nama 'Belanda Hitam' ini kembali ke Belanda atau beremigrasi ke Amerika dan Kanada setelah perang usai. Tetapi sekitar 500 orang menetap di Indonesia, menikah dengan perempuan Indonesia dan punya keturunan. Griselda Molemans, yang juga generasi kelima Belanda Hitam di Belanda, mencari dan menemukan sejumlah keluarga keturunan Afrika yang masih di Indonesia, Ghana dan Amerika Serikat.

Pengalamannya dituangkan ke dalam buku berjudul 'Zwarte Huid, Oranje Hart' atau Kulit Hitam, Hati Oranje. Buku ini dilengkapi dengan seratus foto keturunan Belanda Hitam, yang dibidik fotografer muda keturunan Indonesia, Armando Ello. Keduanya menceritakan pengalaman mereka kepada Radio Nederland.

Griselda Molemans menemui 12 kelurga berdarah Afrika, yang dikenal dengan nama Belanda Hitam, yang masih hidup di Indonesia. Semuanya tinggal di Pulau Jawa. Tapi ia tidak menutup kemungkinan bahwa masih ada ratusan keturunan Belanda-Afrika yang tinggal di pulau-pulau lain di luar Jawa.

Para mantan tentara KNIL itu dulunya hidup berkecukupan, karena setelah perang mereka menerima pensiun setiap tahunnya sekitar 150 gulden. Saat itu jumlah yang cukup banyak. Selain itu mereka juga punya pekerjaan tambahan lain. Karenanya mereka bisa hidup sesuai dengan standar orang-orang Belanda yang tinggal di Indonesia dulu. Dengan sejumlah babu atau pembantu dan juga jongos.

Nasib anak cucu keturunan tentara Afrika yang kembali ke Belanda, boleh dibilang baik. Mereka berhasil membuka jalan bagi para keturunan agar dapat menikmati hidup cukup di Belanda. Sementara mereka yang memutuskan untuk pindah ke Amerika Serikat, juga punya nasib yang baik, sebagian bahkan kaya raya.

Tetapi keturunan Belanda Hitam yang tinggal di Indonesia, punya cerita yang menyedihkan. Sebagian dari mereka tinggal di Indonesia karena tidak punya pilihan ketika perang berakhir. Yang lainnya tidak tahu bahwa mereka membutuhkan ijin keluar dari pemerintah Indonesia jika ingin kembali ke Belanda. Kebanyakan dari mereka akhirnya hidup di lapisan bawah masyarakat atau dengan kata lain, dalam keadaan miskin.

Untuk menemukan para keturunan Belanda Hitam di Indonesia, tidaklah mudah. Kebanyakan dari mereka mengganti nama Belandanya dengan nama dan warga negara Indonesia. Sesuai dengan tuntutan Presiden Soekarno ketika itu. Misalnya nama Steenbergen diubah menjadi Chairul Abdul. Atas bantuan Yayasan Halin, yang mendukung keturunan Hindia-Belanda dengan uang tunjangan, Molemans menemukan dua keluarga keturunan Afrika.

Foto-foto yang ditampilkan di dalam buku tersebut, sengaja dibuat sedemikian rupa, menampilkan wajah-wajah yang jelas keturunan Belanda atau Afrika. Foto-foto yang diambil di lingkungan rumah ini, dibuat sedemikian rupa tanpa menunjukkan tingkat sosial mereka. Pada mulanya mereka menolak untuk menceritakan pengalaman hidup di Indonesia.

Ini jelas faktor yang sangat peka. Misalnya salah satu keluarga yang tinggal di Bandung, menolak di wawancara di rumah, dan memilih tempat di pinggiran kota. Keluarga ini juga sangat ragu ketika akan diambil fotonya, tetapi diyakinkan bahwa foto-foto tersebut akan dilihat keluarga mereka di Belanda, dan Amerika.

Orang-orang keturunan Belanda Hitam ini tidak malu bahwa mereka punya darah Afrika. Mereka merasa sungkan karena situasi ekonomi mereka yang cukup menyedihkan. Semuanya berpendapat apabila mereka punya kesempatan untuk pergi ke Belanda, maka mereka punya kehidupan yang jauh lebih baik. Sebagian dari mereka punya kelurga yang tinggal di Belanda, Amerika atau Kanada, di mana tingkat kehidupan jauh lebih baik dan makmur.

Situasi sekarang ini sebagian disebabkan karena mereka tidak bisa berterus-terang bahwa mereka punya darah Afrika atau Belanda. Warna kulit mereka juga membawa persoalan, misalnya sewaktu mencari pekerjaan. Menurut Griselda Molemans, dari pembicaraan jelas bahwa ini adalah soal yang sangat peka.

Keterangan buku:

'Zwarte huid, Oranje Hart'
Griselda Molemans dan Armando Ello
Disertai 150 ilustrasi foto
NUR: 688
ISBN: 978-90-89101-62-4
Terbit: Mei 2010
Penerbit: d Jonge Hond

Sumber: http://www.rnw.nl
Share to Lintas BeritaShare to infoGueKaskus

1 Response to Kulit Hitam, Hati Oranje: Kisah Belanda Hitam di Indonesia

Anonim
7 Desember 2015 15.37

kakek sy prnah di internir (ditahan) oleh jepang krn face nya mirip org belanda,,adiku yg laki jg lahir dg rambut n mata agak coklat ,,kulit lbh putih,,,,mirip org bule,,,,sayangnya sy sndiri tdk mewarisi genetik tsb alias spt org indonesia kebanyakan,,hehehehe,,tks infox,,,ckp berguna ,,

Poskan Komentar

  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments