Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Seperti kartu domino. Satu-satu jatuh. Berurutan. Semuanya pasti akan jatuh. Mungkin hanya tinggal menunggu waktu. Kapan mendapat gilirannya? Betapapun mereka berusaha mempertahankannya. Tak ada kekuatan yang dapat menahannya. Kemudian segalanya berakhir dengan sangat tragis.

Pertama kali yang pergi meninggalkan kekuasaannya Presiden Tunisia Zainal Abidin bin Ali, yang berkuasa hampir tiga dekade (tiga puluh tahun). Merebut kekuasaan dari penguasa sebelumnya, Habib Bourguiba, yang berhasil digulingkannya. Bourguiba yang sudah sakit-sakitan itu, harus merelakan kekuasaannya diserahkan kepada Zainal Abidin bin Ali.

Penguasa Tunisia beserta keluarganya masih beruntung. Karena Raja Arab Saudi Abdullah masih melindunginya. Mendapatkan suaka bersama keluarganya. Sekarang menikmati hari tuanya di pengasingan di Arab Saudi. Sekalipun menghadapi tuntutan rakyatnya. Tetapi rakyat Tunisia seperti sudah mulai melupakannya. Rakyat Tunisia mulai kehidpan baru, dan menata kehidupan mereka.

Pengaruh gerakan revolusi rakyat yang berlangsung di Tunisia itu, berimbas terhadap Mesir, dan Presiden Hosni Mubarak, yang sudah berkuasa tiga dekade itu, tak pula mampu bertahan. Mubarak berhasil digulingkan rakyatnya.

Mubarak nasibnya tidak sebaik Zainal al Abidin, karena Mubarak dan anak-anaknya serta isterinya, harus menghadapi tuntutan di pengadilan. Dalam kondisi yang sudah sakit-sakitan sekarang menghadapi tuntutan pengadilan.

Tidak ada yang membelanya. Orang-orang dekatnya meninggalkan. Sekutunya ikut menjatuhkannya saat Mubarak, menginginkan pertolongan. Sekarang Mubarak sendirian dengan anak-anaknya serta isterinya, menghadapi tuntutan atas kekuasaannya yang dia pegang selama hampir tiga dekade.

Pengadilan yang sekarang bukan lagi bisa melindunginya, justru mendakwanya melakukan pembunuhan terhadap aktivis yang berjuang menggulingkannya.

Tentu, yang paling tragis, penguasa Libya Muammar Gaddafi, yang berusaha mempertahankan kekuasaannya, dan menggunakan kekuatan militer yang dimilikinya, selama delapan bulan, berakhir dengan tragis. Kematian. Gaddafi mati di tangan rakyatnya sendiri. Nasib begitu hina.

Delapan bulan perang di Libya antara kekuatan yang ingin menumbangkan kekuasaannya dengan kekuatan-kekuatan yang mendukungnya. Gaddafi dengan segala kekuatan militer yang dimilikinya berusaha mempertahankan kekuasaan. Begitu banyak korban yang tewas. Ribuan. Puluhan ribuan terluka. Akibat perang saudara itu.

Semuanya, karena Gaddafi terlalu mencintai kekuasaan, dibandingkan mencintai rakyatnya. Tidak mau menyerahkan kekuasaan yang sudah digenggamnya selama empat dekade.

Para penguasa Arab dan Afrika Utara itu, sekarang berguguran, seperti kartu domino, menghadapi rakyatnya, yang memang sudah terlalu lama menghadapi para penguasa, yang sangat lalim.

Karakter para penguasa Arab, umumnya mereka mendapatkan kekuasaan dengan jalan kekerasan, kudeta, dan berakhir dengan kudeta, dan sekarang menghadapi revolusi rakyatnya. Mereka menggunakan kekuasaannya dengan kejam, dan penuh kekerasan yang sangat. Kekuasaan bukan digunakan melindungi rakyatnya. Para penguasa Arab benar-benar seorang despotis.

Kekuasaan menjadi sebuah "perusahaan keluarga". Di mana pemerintahan dan kekuasaannya sangat elitis. Dikelola dan dikendalikan bersama dengan keluarganya.

Anak-anaknya, saudara-saudaranya, kerabatnya, isterinya, serta kawan-kawannya. Segelintir kecil orang yang sangat berkuasa.

Mereka menguasai pemerintahan, birokrasi, militer, aparat intelijen, ekonomi, dan seluruh sarana yang menjadi hajat hidup rakyat, berada di tangan segilintir orang, yaitu keluarganya. Keluarga terdekat. Itulah sistem pemerintahan diseluruh dunia Arab dan Afrika Utara.

Tidak ada pembagian kekuasaan yang transparan dan terbuka. Semua pengelolaan negara seperti mengelola perusahaan pribadi. Sangat tertutup.

Di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, Saudi Arabia, Yordania, Maroko, Aljazair, semuanya pengelolaan negara sangat ekslusif. Sangat terbatas. Orang-orang luar diluar keluarga dan kerabatnya sangat dibatasi kewenangannya. Tidak ada sirkulasi (pergantian) kekuasaan regular (terutar). Kekuasaan turun-temurun. Orang-orang diluar garis keturunannya, tidak bakal dapat berkuasa.

Mereka ingin mempertahankan kekuasaannya dengan cara-cara yang sangat naif. Dengan kekerasan dan menggunakan kekuatan militer. Menindas rakyat. Rakyat dihancurkan. Setiap gerakan yang menginginkan perubahan ditindas dan dihancurkan. Itulah tradisi kekuasaan di dunia Arab.

Sementara itu, para penguasa dan keluarganya, mereka hidup seperti dalam dongeng-dongeng. Anak dan menantu Presiden Tunisia Zainal al Abidin, yang tinggal di Paris, mempunyai seekor harimau, yang makannya lebih mahal, dibandingkan makan yang digunakan seribu orang rakyatnya.

Militer dan intelijen dikendalikan keluarganya, atau kelompok-kelompok yang satu suku atau aliran. Seperti yang terjadi di Syria. Di mana militer dan intelijen negeri itu, dipegang oleh keluarga Bashar al-Assad dan kelompok Alawiyyin (Shiah).

Berapa lama mereka dapat mempertahankan kekuasaan dengan cara seperti itu? Mereka rezim yang tamak dan rakus, serta menindas rakyatnya, dan menjadi alat kepentingan Amerika dan Zionis-Israel. Sekarang mereka satu-satu berguguran.

Tragisnya. Dalam kondisi yang sekarat mereka tidak mendapatkan pertolongan dan dukungan. Justru Amerika dan Eropa mengirimkan pesawat tempur dan bom menghancurkan mereka.

Kematian Kolonel Muammar Gaddafi itu, tak lama sesudah kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hallary Clinton, yang bertemu pejabat Pemerintahan Transisi Libya (NTC) Mustafa Abdul Jalil, di mana Hallary Clinton, menyerukan agar menangkap Gaddafi hidup atau mati.

Itulah nasib para pemimpin Arab dan Afrika Utara, yang lalim dan tamak,serta menjadi alat Barat, sekarantg mereka harus menghadapi nasibnya yang sangat tragis. Mereka bukan hanya menghancurkan masa depan rakyatnya, tetapi juga menghancurkan Islam dan umatnya.

Kekuaaan yang digenggamnya itu, tak dapat dipertahankan, dan meninggalkannya dan pergi, saat-saat mereka membutuhkannya. Wallahu'alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com
Share to Lintas BeritaShare to infoGueKaskus

No Response to "Belajar Dari Kehidupan Gaddafi"

Poskan Komentar

  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments