Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Indonesia
Belanda yang memang tidak pernah suka Islam, dengan politik pendidikannya saat itu senantiasa memanggil anak-anak muda Indonesia yang cerdas ke sana. Dididiknya di sana dan dikembalikan ke Indonesia untuk menduduki jabatan-jabatan politik yang penting. Atau mereka mendidik tokoh-tokoh bangsa di sini, untuk dijadikan 'pion' pemikiran-pemikiran mereka. Soekarno Hatta WR Soepratman dll terjebak dalam politik pendidikan Belanda ini.
Soekarno telah diincar oleh intelektual Belanda sejak umur belasan tahun ketika belajar di Surabaya. Sayang Soekarno akhirnya lebih memilih bacaan-bacaan komunis yang disediakan Belanda daripada buku-buku Islam yang dikirim oleh ulama besar yang mendidik Mohammad Natsir, Ahmad Hasan,
Soekarno memang termasuk jenius dalam politik. Tapi ia salah menempatkan kejeniusannya. Bacaan-bacaan Karl Marx, Hegel, Sejarah Turki (Attaturk) dan bacaan-bacaan lain yang terus menerus disodorkan intelektual-intelektual Belanda menjadi santapannya. Hingga pemikiran Marxisme akhirnya menjadi landasan berfikirnya. Dan itulah yang menjadikan dia tidak setuju dengan penerapan syariat Islam di Indonesia. Maka tidak heran bila pagi-pagi buta itu ia mengajak Hatta untuk menemui perwira Jepang, Laksamana Mayda.
Ingat jauh sebelum merdeka, Soekarno telah berdebat dengan Natsir dan gurunya A Hasan tentang konsep negara. Soekarno menulis dengan terang-terangan bahwa ia bangga dan kagum dengan Attaturk dan negara sekuler. Sedangkan Natsir dan A Hasan teguh pendirian menyatakan bahwa negara bila tidak diatur oleh Islam dan pemimpin-pemimpin yang sepenuhnya berpegang teguh pada Islam, maka negara itu akan rusak (sebagaimana kita saksikan pada negara kita yang sudah 66 tahun merdeka).
Maka begitu ada kesempatan untuk menjadi merdeka Soekarno bersekongkol dengan Jepang (mungkin juga intelijen Belanda ikut bermain. Wallaahu a'lam) untuk menghapus Piagam Jakarta. Sejarah ini pahit, tapi begitulah kenyataannya dan tentu keluarga Soekarno harus menerima ini dengan terbuka, karena sejarah tidak boleh ditutup-tutupi. Apalagi ini menyangkut sejarah bangsa yang sangat penting. Ingat kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan mayoritas ulama-ulama Islam dan santrinya. Dan hanya dengan teriakan Allahu Akbar Indonesia bisa menang melawan Belanda, Jepang atau tentara sekutu. Bukan dengan teriakan Pancasila. Bukankah Soekarno sendiri menyatakan : Jas Merah. jangan Sekali-kali Tinggalkan Sejarah?
Maka perlu diungkap dengan gemblang apa yang dilakukan kelompok sekuler di negeri ini ketika tiga hari menjelang kemerdekaan menculik Soekarno Hatta. Dalam strategi politik tentu itu dibaca untuk melambungkan dua tokoh itu agar nanti ketika memproklamirkan kemerdekaan diterima bangsa ini. Sebagaimana Kemal Attaturk yang direkayasa Inggris cs menang perang melawan 'penjajah' di Turki hingga kemudian melambung namanya pada rakyat Turki.
Belanda, Jepang, tentara-tentara Sekutu (Inggris, AS cs) memang tidak mau negara Indonesia tercinta ini dipimpin oleh tokoh-tokoh Islam yang dididik oleh para ulama. Mereka maunya yang tampil memimpin negeri ini adalah tokoh-tokoh sekuler hasil didikan mereka. Karena dengan mereka diidik, mereka menjadi tahu karakter dan kepribadian tokoh itu sehingga kemudian mereka dengan mudah menyetirnya. Baik secara langsung maupun tidak langsuing.
Penjajah-penjajah kafir dalam sejarah imperialismenya tidak pernah puas sebelum menguras kekayaan alam di negara itu atau menempatkan orang-orangnya untuk dijadikan boneka pionnya. Bila boneka ini mencoba-coba melawannya, maka dengan cepat akan digulingkannya. Dan itulah yang terjadi pada Soeharto, presiden setelah Soekarno. Wallaahu a'lam bish shawab. (Nuim Hidayat)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
Apa yang terjadi di Wall Street, Manhattan, New York mirip dengan yang terjadi Rothschild Boulevard, Tel Aviv, Israel. Mereka berkemah di pusat jantung ekonomi di kedua negara. Gerakan mereka mengambil tema yang sama, tentang keserakahan orang-orang kaya, yang mengakibatkan kehancuran ekonomi global dan ketidak adilan serta kesengsaraan.
Mulal-mula gerakan anti-kapitalis tidak memiliki pemimpin dan tujuan yang jelas? Di Rothschild Boulevard dan Wall Street, mula gerakan berlangsung tidak ada seorangpun agitator, setidaknya di hari-hari awal mereka, sampai mereka bersatu dan memiliki pandangan yang sama, yaitu menjadi gerakan anti kapitalis atau orang kaya yang serakah.
Tetapi, baik di Rothschild Boulevar dan Wall Street, muncul tokoh George Soros. George Soros disebut-sebut mendanai gerakan yang ada di Rothscild Boulevard, Tel Aviv dan Wall Street di Manhattan, New York. Soros bersama dengan miliarder Slim-Fast dan aktivis perdamaian Danny Abraham, sekarang membuat para pemimpin ekonomi dunia, terutama dari kalangan orang kaya Yahudi, bagi mereka sangat menakutkan.
George Soros, seorang philantropis dunia, melalui lembaga yang sangat terkenal "The Open Society Institute", berkerja di seantero jagad. Di Amerika Serikat, Amerika Latin, Eropa, dan Rusia, Asia, dan Timur Tengah, perubahan di seluruh kawasan itu, tidak terlepas dari tangan George Soros.
George Soros, berada di balik krisis ekonomi Asia, di tahun l998, yang mengakibatkan terjadinya perubahan politik regional, dan bergugurannya rezim-rezim di kawasan itu. Kemudian, muncul gerakan pro-demokrasi, yang menumbangkan sejumlah rezim otoritarian di Asia. Tetapi, Soros bukan hanya menukangi perubahan politik di Asia, tetapi terlibat dalam perubahan politik di Eropa Timur dan Rusia.
Semuanya, di kawasan itu di dorong lahirnya kekuatan baru, rezim-rezim baru yang bercorak demokratik. Lahir partai-partai politik, pemilihan, parlemen, dan pemerintahan campuran (kuasi) sipil dan militer, yang lebih terbuka. Inilah langkah awal dari gerakan yang di lakukan "The Open Society Institute" dari George Soros.
George Soros dianggap menjadi arsitek gerakan demonstrasi di Rotschild Boulevard, yang dilakukan para aktivis kiri Israel, yang sangat keras menentang ekonomi model kapitalis, yang dijalankan pemerintahan Netanyahu, yang sangat konservatif. Mereka mengutuk para bankir, yang sangat memanjakan orang-orang kaya, sementara itu nasib mereka - para Yahudi Eropa yang miskin, tak dapat hidup layak di Tel Aviv.
Tetapi, gerakan yang menduduki jantung ekonomi itu, bukan hanya berlangsung di Tel Aviv, tetapi terus merambah ke seluruh penjuru bumi. Sesudah di Tel Aviv, gerakan itu, kemudian menduduki jantung ekonomi Amerika Serikat, Wall Street, dan sekarang gerakan mereka sudah memasuki hari yang ke 30. Tanpa diketahui kapan akan berakhir gerakan itu. Gerakan menduduki Wall Street itu, menyeruak ke seluruh negara bagian Amerika, dan sekarang masuk ke jantung-jantung kota di Eropa.
London, Berlin, Madrid, Roma, Paris, Athena, Spanyol, Belgi, dan hampir seluruh ibukota Eropa sekarang menghadapi gerakan aksi menentang kapitalisme. Di Roma seorang perempuan membawa poster yang bertuliskan "Kapitalism is the religion", ungkap mereka. Betapa mereka sekarang menentang keserakahan dari kapitalisme.
Para pemimpin "Tea Party" sangat marah dengan gerakan yang sekarang menduduki Wall Street. Demikian juga para pemukim Yahudi, mereka sangat bingung dengan gerakan yang berada di Rotschild Boulevard, yang mereka tuduh sebagai Yahudi sekular, yang terus meneriakkan anti orang kaya di Tel Aviv, sampai Sabtu malam.
Para pakar konservatif menuduh mereka yang menduduki Wall Street, adalah gerakan anti-Semit. Karena gerakan yang mereka lakukan terus-menerus, sekarang mengguncang kepentingan Yahudi secara global. Gerakan di Rotchild Boulevard adalah sayap kiri, atau bahkan lebih buruk, yaitu anti-Zionis. Ini sangat nampak dengan jelas dari bendera, panflet, spanduk, dan artikel mereka yang terbit di media.
Di "media liberal" yang membesar-besarkan gerakan protes, dituduh melemahkan negara dan mengembalikan Sosialisme Trotskis, yang sekarang menjadi trend di seantero dunia. Di Amerika Serikat yang menduduki Wall Street, adalah sayap kiri, yang mempunyai afiliasi politik dengan Partai Demokrat.
Mereka menghantam orang-orang kaya, borjuis Yahudi, yang selama pemerintahan George Walker Bush, selalu dianakemaskan, dan mendapatkan berbagai dukungan, termasuk tidak membayar pajak, dan sekarang mereka mendapatkan dana talangan yang jumlahnya mencapai ratusan miliar dollar.
Sementara kelas menengah Amerika Serikat, mereka harus terlempar dari rumah-rumah mereka, karena tidak mampu lagi membayar kredit mereka kepada bank. Kelas menengah Amerika Serikat semakin banyak yang menganggur, tanpa pekerjaan, tetapi bank-bank mendapatkan kemudahan dan dana talangan yang terus digelontorkan Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Amerika.
Mereka yang mula-mula menduduki Zuccotti Park, Mahattan, atau di Rotschild Boulevard menuntut "keadilan sosial". Gerakan itu menjadi pukulan saraf dan jantung Wall Street, yang menjadi pusat bisnis dan ekonomi kaum kapitalis Yahudi.
Gerakan yang didanai oleh George Soros, nampaknya mendapat dukungan kebanyakan rakyat Amerika. Rakyat Amerika Serikat menganggap gerakan yang sekarang sedang berlangsung di Wall Street itu, mereka nilai sebagi gerakan yang lebih penting.
Di kedua negara Israel dan Amerika Serikat, yang menganut sistem pasar bebas, mereka menjuluki sebagai "kapitalisme jahat" - tampaknya membuat banyak orang marah. Di mana di kedua negara, orang yang kaya menjadi semakin kaya, yang miskin semakin miskin, dan kelas menengah semakin hancur, akibat keserakahan orang-orang kaya Yahudi itu.
Di Israel, empat atau lima konglomerat bersama dengan sepuluh atau dua puluh keluarga kaya menguasai seluruh ekonomi Israel. Sedangkan di Amerika, para demonstran mengutuk orang kaya, yang jumlahnya hanya 1% mendapat dana talangan dari The Fed, yang jumlahnya ratusan miliar, sementara mayoritas 99% rakyat kelas Amerika Serikat tergilas habis.
Di Amerika, situasi politik dan keuangan jauh lebih kompleks. Gerakan yang menduduki Wall Street menjadi "oposisi" terhadap Partai Republik dan pendukungnya yang paling vokal pengecaman keras para demonstran. Anggota Kongres Yahudi, yang terkenal Eric Cantor, gerakan protes di Wall Street itu, sebagai ancaman dari kaum kiri, dan sekarang dimanfaatkan Obama, yang dianggap akan sangat mengerikan bagi orang kaya di Amerika Serikat, di mana Obama akan menaikan pajak.
Di Amerika Serikat dan seantero jagad sedang terjadi perang antar kelas, di antara kelas-kelas orang Yahudi, antara orang Yahudi yang kaya dan serakah menghadapi kelas menengah Yahudi, yang terus tergilas ekonomi kapitalis yang merupakan buah tangan Yahudi.
Anehnya, lagi-lagi George Soros, menjadi faktor pemicu terjadi keributan di seluruh dunia, dan munculnya gerakan protes, yang sekarang menjadi gerakan global. Apa yang ingin dituju George Soros? Wallahu'alam.
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Foto Perang
,
Perang di Eropa
,
Perang Saudara
Sumber: http://id.wikipedia.org
![]() |
| Tentara penjaga perbatasan Jerman Timur, Conrad Schumann, melompati kawat berduri pada tanggal 15 Agustus 1961. |
| Orang Jerman berdiri di atas tembok ini, tahun 1989, tembok ini akan dihancurkan beberapa hari kemudian setelahnya. |
![]() |
| Tembok Berlin di Gerbang Brandenburg, 10 November 1989 |
![]() |
| Orang ber-Juggling di Tembok Berlin tanggal 16 November 1989 |
![]() |
| "Mauerspecht" (November 1989) |
![]() |
| Seorang penjaga Jerman Timur berbicara pada seorang Jerman Barat melalui tembok yang bolong, akhir November 1989. |
![]() |
| Penduduk Jerman Barat melihat-lihat di perbatasan dengan Jerman Timur di sebuah tembok yang bolong disertai dengan pengawas dari Jerman Timur. |
![]() |
| Terlihat sebuah crane menghancurkan salah satu bagian dari Tembok Berlin di dekat Gerbang Brandenburg tanggal 21 Desember 1989 |
![]() |
| Hampir semua bagian tembok ini telah diruntuhkan. Foto Desember 1990. |
![]() |
| Sedikit sisa Tembok Berlin di Potsdamer Platz, Maret 2009 |
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
Fluktuasi pemberitaan tentang proposal Palestina ke Perserikatan Bangsa-bangsa untuk diakui sebagai sebuah negara, membuat saya mengingat beberapa hal. Salah satunya tentang media-media besar dunia yang menjadikan Islam dan Palestina sebagai cover story mereka.
Fluktuasi pemberitaan tentang proposal Palestina ke Perserikatan Bangsa-bangsa untuk diakui sebagai sebuah negara, membuat saya mengingat beberapa hal. Salah satunya tentang media-media besar dunia yang menjadikan Islam dan Palestina sebagai cover story mereka.
Saya pernah cukup terkejut dengan terbitan majalah Time yang membahas masalah konflik Israel dan Palestina, tahun silam. Untuk media seperti Time, rasanya sangat ganjil dan agak di luar kebiasaan jika mereka menurunkan isu dengan cover berjudul Why Israel Can’t Win.
Judul ini bukan hanya pertanyaan, tapi juga sebuah pernyataan dari Time tentang pengakuan kelompok Hamas di Palestina dan pejuang-pejuang kemerdekaan di negeri terjajah itu, termasuk Hizbullah. Bahkan dalam salah satu artikelnya, Time menurunkan sebuah tulisan yang bagi saya cukup menggelisahkan pihak Israel. Can Israel Survive? Mampukah Israel bertahan? Sampai kapan? Dengan apa?
Setelah 60 tahun menguasai Palestina dengan segala peperangan yang mereka sajikan, tak ada tanda-tanda Palestina akan menyerah, apalagi kalah. Bahkan Hamas dan Hizbullah nampak lebih perkasa pasca gagalnya Israel menaklukkan kedua kekuatan ini pada tahun 2006 dan awal tahun 2009. Padahal kedua kekuatan ini telah mengikat sumpah akan melenyapkan Israel dari peta dunia.
Awal Maret 2009 lalu, lagi-lagi saya terkejut dengan fenomena media internasional. Newsweek, salah satu majalah berita yang cukup prestisius di dunia terbit dengan cover berwarna hijau. Judul cover tersebut ditulis dalam bahasa Arab. Al Islam al Radiikally Hakiikatu min Haqaiq al Hayya, Kaifa Nata’aaysy Maa’ah. Radical Islam is a Fact of Life, How to Live With It.
Bagi saya hal ini cukup untuk disebut sebuah kejutan. Bagaimana tidak, Newsweek menulis judul cover-nya dalam bahasa dan huruf Arab. Dengan terjemahan dalam bahasa Inggris dalam tanda kurung yang kecil.
Fareed Zakaria, sang penulis sekaligus editor senior Newsweek membuka tulisannya dengan kisah seorang hakim di Afghanistan bernama Faisal Ahmad Shinwari. Sang hakim telah mengeluarkan amar hukum melarang perempuan menyanyi di televisi dan meminta agar semua televisi kabel di tutup di negeri Mullah ini. Tak hanya itu, Faisal Ahmad Shinwari juga menentang sekolah-sekolah yang mencampurkan anak laki-laki dan perempuan dalam satu kelas.
Kisah-kisah lainnya seolah-olah mengidentifikasi bahwa Faisal Ahmad Shinwari ini adalah seorang hakim yang berhaluan Taliban dengan segala putusan hukum yang dikeluarkan. Tapi sesungguhnya, Faisal Ahmad Shinwari ini adalah hakim terpilih setelah Afghanistan diinvasi oleh militer Amerika. Faisal Ahmad Shinwari menjadi hakim di masa kepemimpinan Hamid Karzai yang disebut-sebut banyak pihak sebagai pimpinan pemerintah boneka Amerika di Afghanistan.
Di satu sisi, kita melihat pertanyaan dan pernyataan tentang pesimisme Barat atas perilaku yang mereka kerjakan sendiri. Time meragukan, setidaknya mempertanyakan sampai kapan Israel mampu bertahan? Jika Israel dipertanyakan, tentu saja pertanyaan serupa bisa diarahkan pada Amerika, sampai kapan membela Israel Raya? Sementara di sisi yang lain, kita melihat peningkatan yang signifikan tentang fenomena-fenomena militansi dalam komunitas-komunitas Muslim di seluruh dunia. Tak hanya di Afghanistan dengan contoh Faisal Ahmad Shinwarinya.
Sesungguhnya, hal ini sudah menggejala lama. Contoh yang masih dengan mudah bisa kita ingat ada di Nigeria. Ketika pemerintahan militer berakhir, pada tahun 1992, 12 dari 36 wilayah di Nigeria memproklamirkan diri mengadopsi sistem Syariah Islam sebagai dasar hukum wilayah. Ada kegairahan beragama yang sangat besar dan mengemuka, mulai dari Afrika sampai Indonesia. Sampai-sampai Newsweek merasa perlu merumuskan statemen, bagaimana caranya hidup berdampingan dengan kaum Islam radikal sebagai sebuah realitas kehidupan internasional.
Sebelumnya, kita hanya menemukan satu rekomendasi dari Barat: Perangi kaum radikal. Tapi hari ini kita menemukan rekomendasi baru yang terus menjadi bahasan.
Secara internal, umat Islam dimanapun harus menjadi seorang Muslim yang militan. Berpegang teguh pada agamanya, tak kenal kompromi jika menyangkut hal-hal yang substansi, memberikan sumbangsih besar pada tugas-tugas peradaban dan lain sebagainya. Tapi kita juga masih menyimpan satu pertanyaan besar, apakah militan selalu identik dengan kekerasan? Lalu kekerasan disebut dengan radikal. Padahal, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu arti kata radikal adalah maju dalam berpikir atau bertindak.
Tampaknya kita sedang berada pada masa peralihan peradaban besar. Catatlah baik-baik, dan cermati dengan seksama. Kita semua sedang menjadi pelaku sejarah. Jangan lengah, jangan lemah. Torehkan kuat-kuat tinta yang indah agar sejarah kehidupan dunia lebih baik untuk anak dan cucu kita.
Oleh: Herry Nurdi*
*Jurnalis Muslim
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Eropa
,
Perang Saudara
Di tahun 1989, ada perubahan politik radikal di kawasan Blok Timur, yang berhubungan dengan liberalisasi sistem otoritas di Blok Timur dan juga mulai berkurangnya pengaruh Uni Soviet di negara-negara seperti Polandia dan Hungaria. Setelah kerusuhan sipil selama beberapa minggu, pemerintah Jerman Timur mengumumkan tanggal 9 November 1989 bahwa rakyat Jerman Timur boleh pergi ke Jerman Barat dan Berlin Barat. Maka, kerumunan orang Jerman Timur pun menyeberangi dan memanjat tembok itu, diikuti pula dengan warga Jerman Barat di sisi lain untuk merayakan atmosfer kebebasan. Beberapa minggu setelahnya, euforia publik dan pemburu souvenir akhirnya meretakkan bagian-bagian tembok itu. Nantinya, sebagian besar tembok ini dihancurkan oleh pemerintah menggunakan alat berat. Kejatuhan dari Tembok Berlin membuka jalan terbentuknya Reunifikasi Jerman, 3 Oktober 1990.
Tembok Berlin adalah sebuah tembok pembatas terbuat dari beton yang dibangun oleh Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur serta daerah Jerman Timur lainnya sehingga membuat Berlin Barat sebuah enklave. Tembok ini mulai dibangun pada tanggal 13 Agustus 1961. Tembok pembatas ini juga dibarengi dengan pendirian menara penjaga yang dibangun sepanjang tembok ini, juga pendirian sebuah daerah terlarang, yang diisi dengan ranjau anti kendaraan. Para pemerintah Jerman Timur menyatakan bahwa tembok ini dibangun untuk melindungi para warganya dari elemen-elemen fasis yang dapat memicu gerakan-gerakan besar, sehingga mereka dapat membentuk pemerintahan komunis di Jerman Timur. Meski begitu, dalam prakteknya, ternyata tembok ini digunakan untuk mencegah larinya penduduk Berlin Timur ke wilayah Berlin Barat, yang berada dalam wilayah Jerman Barat.
Sebelum pembangunan tembok ini, ada sekitar 3,5 juta warga Jerman Timur yang bermigrasi dan membelot ke barat, salah satunya dengan melewati perbatasan Jerman Timur dan Jerman Barat, lalu kemudian mereka pun bisa pergi ke negara Eropa Barat lainnya. Diantara tahun 1961 dan 1969, tembok ini pun mencegah hal itu. Di rentang waktu kira-kira 30 tahun ini, ada sekitar 5.000 orang yang mencoba kabur, dengan estimasi ada 100 sampai 200 orang yang meninggal karena ditembak.
Di tahun 1989, ada perubahan politik radikal di kawasan Blok Timur, yang berhubungan dengan liberalisasi sistem otoritas di Blok Timur dan juga mulai berkurangnya pengaruh Uni Soviet di negara-negara seperti Polandia dan Hungaria. Setelah kerusuhan sipil selama beberapa minggu, pemerintah Jerman Timur mengumumkan tanggal 9 November 1989 bahwa rakyat Jerman Timur boleh pergi ke Jerman Barat dan Berlin Barat. Maka, kerumunan orang Jerman Timur pun menyeberangi dan memanjat tembok itu, diikuti pula dengan warga Jerman Barat di sisi lain untuk merayakan atmosfer kebebasan. Beberapa minggu setelahnya, euforia publik dan pemburu souvenir akhirnya meretakkan bagian-bagian tembok itu. Nantinya, sebagian besar tembok ini dihancurkan oleh pemerintah menggunakan alat berat. Kejatuhan dari Tembok Berlin membuka jalan terbentuknya Reunifikasi Jerman, 3 Oktober 1990.
Latar Belakang
Jerman Pasca-Perang Dunia II
Setelah berakhirnya Perang Dunia II di Eropa, yang tersisa dari bagian barat Perbatasan Oder-Noisse dibagi menjadi 4 wilayah pendudukan (akibat Perjanjian Potsdam), masing-masing wilayah itu dikuasai oleh Amerika Serikat, Britania Raya, Perancis, dan Uni Soviet. Ibukota Berlin, sebagai pusat kontrol, juga dibagi-bagi menjadi 4 wilayah meskipun kota ini sendiri terletak jauh di dalam kekuasaan Soviet.
Selama kurang lebih dua tahun, ada perubahan politik diantara Soviet dan anggota sekutu lainnya. Hal ini terjadi karena Soviet menolak setuju untuk rencana rekonstruksi kembali Jerman pasca-perang. Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan negara-negara Beneluks kemudian bertemu untuk menggabungkan kawasan-kawasan non-Soviet menjadi satu kawasan untuk direkonstruksi dan menyetujui perluasan dari Marshall Plan.
Pembangunan Tembok
Tembok ini didirikan pada tanggal 13 Agustus 1961 oleh pemerintahan komunis Jerman Timur di bawah pimpinan Walter Ulbricht karena Berlin Barat adalah sebuah 'lubang' di negara mereka. Antara tahun 1949 sampai tahun 1961 sudah lebih dari 2 juta penduduk Jerman Timur melarikan diri lewat Berlin. Hal ini membuat ekonomi Jerman Timur menjadi kedodoran, karena kebanyakan orang-orang yang masih muda yang melarikan diri. Maka secara rahasia dan tiba-tiba tembok ini dibangun.
![]() |
| Map yang menunjukkan lokasi Tembok Berlin, sekaligus menunjukkan tempat pos pemeriksaan. |
Tembok Berlin dan Perang Dingin
Tembok Berlin yang mengurung Berlin Barat dan memotong kota ini persis di tengahnya, menjadi simbol Perang Dingin yang paling terkenal. Banyak pembesar barat, terutama presiden Amerika Serikat yang mengunjungi tembok ini untuk mengutuknya. Presiden J.F Kennedy pada tahun 1963 datang dan berpidato di sisi tembok ini dengan kalimatnya yang ternama: "Ich bin ein Berliner." Lalu 20 tahun kemudian, pada tahun 1983 presiden Ronald Reagan juga berpidato di sini dan mengutuk Uni Soviet yang disebutnya An Evil Empire, atau sebuah kerajaan kejahatan. Tetapi pada tahun 1989, pada hari peringatan Republik Demokratis Jerman, atau Jerman Timur, pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev juga sempat mengunjungi Tembok Berlin dan berkata pada pemimpin Jerman Timur Erich Honecker bahwa “Barangsiapa terlambat datang, akan dihukum oleh hidup”.
Pelarian Melalui Tembok Berlin
Selama Tembok Berlin berdiri, ada sekitar 5.000 orang yang berhasil melarikan diri. Jumlah orang yang tewas akibat mencoba kabur, sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Menurut Alexandra Hildebrandt, Direktur Museum Pos Pemeriksaan Charlie, diperkirakan jumlah orang yang tewas adalah lebih dari 200 orang. Sebuah kelomok bersejarah di Center for Contemporary Historical Research (ZZF) di Potsdam mengkonfirmasikan bahwa ada 136 jumlah orang tewas. Sebelumnya, yang tercatat resmi adalah 98 orang yang dibunuh.
Runtuhnya Tembok Berlin
Setelah memperbolehkan celah bagi para penduduknya untuk melewati perbatasan di musim panas, Hungaria akhirnya secara efektif menghilangkan pembatas fisik negaranya dengan Austria tanggal 19 Agustus 1989. Di bulan September, lebih dari 13.000 orang Jerman Timur kabur ke Austria melalui Hungaria. Hal ini menyebabkan beberapa rentetan kejadian berikutnya. Orang Hungaria mencegah agar tidak semakin banyak orang Jerman Timur yang menyebrang perbatasan, dan mengembalikan mereka ke Budapest. Orang-orang Jerman Timur ini memenuhi kedutaan Jerman Barat dan menolak untuk kembali ke Jerman Timur.
Pemerintah Jerman Timur menanggapi hal ini dengan menutup semua perjalanan ke Hungaria, tapi masih memperbolehkan mereka yang mau kembali ke Jerman Timur. Pada kesempatan kali ini, otoritas Jerman Timur memperbolehkan mereka untuk pergi, asalkan saja nanti kereta yang mereka pakai melewati Jerman Timur. Maka muncullah demonstrasi besar-besaran di Jerman Timur sendiri. (Lihat Demonstrasi Senin di Jerman Timur.) Pemimpin Jerman Timur, Erich Honecker, mengundurkan diri tanggal 18 Oktober 1989 dan digantikan oleh Egon Krenz beberapa hari kemudian. Honecker telah memprediksi bahwa tembok itu masih akan bertahan sampai 50 atau 100 tahun lagi, jika kondisi negara itu tidak berubah.
Protes demonstrasi pecah di seluruh Jerman Timur bulan September 1989. Pada awalnya, para pemrotes ingin pergi menuju ke barat, sambil meneriakkan "Wir wollen raus!" ("Kami mau pergi!"). Tapi lalu para pemrotes mulai berteriak "Wir bleiben hier", ("Kami akan tetap di sini!"). Maka, ini adalah awal dari apa yang disebut orang Jerman Timur sebagai "Revolusi Damai" di akhir 1989. Para pemrotes semakin besar di awal November. Para pemrotes mencapai puncaknya pada tanggal 4 November, ketika hampir setengah juta orang berkumpul di Demonstrasi Alexanderplatz. (Henslin, 07)
Sementara itu, para pengungsi yang meninggalkan Jerman Timur ke Jerman Barat semakin meningkat, dan mereka menemukan jalan baru untuk keluar dari Jerman Timur, yaitu dengan cara melalui Hungaria via Cekoslowakia (atau via Kedutaan Jerman Barat di Prague) yang diizinkan oleh pemerintahan Krenz yang baru, dan dengan persetujuan dengan pemerintah komunis Cekoslowakia. Agar keadaan tidak semakin rumit, akhirnya politbiro yang dipimpin oleh Krenz memperbolehkan para pengungsi untuk keluar langsung melalui pintu perbatasan antara Jerman Timur dan Jerman Barat, termasuk Berlin Barat pada tanggal 9 November 1989.
Penghancuran
Tanggal ketika tembok ini mulai dihancurkan adalah 9 November 1989, tapi saat itu tembok ini tidak langsung dTihancurkan saat itu juga. Di sore itu dan beberapa minggu setelahnya, orang-orang datang membawa palu godam dan sejenisnya untuk menghacurkan beberapa bagian tembok dan juga menciptakan beberapa lubang perbatasan yang tak resmi. Orang-orang ini disebut sebagai "Mauerspechte" (pelatuk tembok).
Rezim Jerman Timur kembali mengumumkan bahwa mereka akan membuka 10 pintu perbatasan baru, termasuk di beberapa tempat bersejarah seperti Potsdamer Platz, Glienicker Brücke, dan Bernauer Straße. Massa dari 2 sisi menunggu berjam-jam, bersorak-sorai ketika buldoser menghancurkan tembok ini. Pintu perbatasan baru terus dibuka sepanjang tahun 1990, termasuk di Gerbang Brandenburg tanggal 22 Desember 1989.
Penduduk Jerman Barat dan Berlin Barat diperbolehkan masuk Jerman Timur tanpa visa mulai 23 Desember 1989. Sampai tanggal itu, mereka hanya diperbolehkan masuk dengan berbagai persyaratan dan diharuskan membuat aplikasi untuk pembuatan visa. Selain itu, mereka diharuskan membayar minimal 25 DM per harinya. Maka, sebenarnya pada tanggal 9 November dan 23 Desember ini, penduduk Jerman Timur lebih bebas daripada Jerman Barat. Hampir semua bagian tembok ini telah diruntuhkan. Foto Desember 1990.
Pemberitaan di televisi tentang banyaknya penduduk yang menghancurkan banyak bagian tembok tanggal 9 November membuat banyak orang di luar negeri berpikir bahwa tembok ini akan dihancurkan secepatnya. Sebenarnya, tembok ini tetap dijagai sampai beberapa hari kemudian, meskipun intensitas penjagaan semakin kecil. Di bulan pertama itu, malahan militer Jerman Timur berusaha untuk memperbaiki kembali tembok yang dihancurkan oleh para "pelatuk tembok". Lalu, seiring berjalannya waktu, tindakan ini dihentikan, dan para penjaga semakin toleran dengan aksi penghancuran tembok dan perginya penduduk melalui tembok yang lubang.
Tanggal 13 Januari 1990, tembok ini resmi dihancurkan oleh militer Jerman Timur, dimulai di Bernauer Straße. Penghancuran tembok ini kembali diteruskan setelah Reunifikasi Jerman sampai akhirnya selesai bulan November 1991. Hanya sedikit bagian tembok dan menara tetap dipertahankan, sebagai tempat memorial. Jatuhnya Tembok Berlin merupakan awal dari Reunifikasi Jerman, yang ditandatangani tanggal 3 Oktober 1990.
Sumber: http://id.wikipedia.org
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Sebelumnya tidak pernah terbayangkan bahwa Israel mau mengakui Hamas dan melakukan negosiasi. Di mata pemerintahan Partai Likud, yang sangat konservatif, dipimpin Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, gerakan Hamas, seperti sesuatu yang dinajiskan.
Semua partai politik di Israel, baik yang kiri dan kanan serta yang konservatif, persepsi mereka terhadap Hamas, adalah kelompok teroris yang mengancam masa depan Israel, dan haram melakukan komunikasi dan negosiasi. Israel dengan segala kekuatan yang dimilikinya berusaha melikwidir (menghapus) kekuatan Hamas di Gaza.
Usaha-usaha yang dijalankan Israel, memusnahkan dan membunuh semua tokoh-tokoh Hamas, yang menjadi inspirasi dan penggerak gerakan itu. Israel membunuh tokoh dan pendiri Hamas, Sheikh Ahmad Yasin, saat baru meninggalkan masjid, usai shalat Shubuh dengan menggunakan rudal yang ditembakkan dari halikopter.
Sheikh Ahmad Yasin yang sudah lumpuh, dan tidak dapat menggerakkan tubuhnya, kecuali kepalanya, sangat menakutkan bagi Israel. Tokoh dan ulama Palestina ini, sejak mudanya menjadi pendidik, penggerak, dan pemberi inspirasi bagi perjuangan rakyat Palestina. Sheikh Ahmad Yasin sangat kharismatis, dan berpengaruh terhadap rakyat Palestina. Dengan membunuh Sheik Ahmad Yasin, harapan Israel, perjuangan rakyat Palestina kehilangan tokoh, dan akan berhenti perjuangan mereka.
Tetapi, pandangan dan kebijakan para pemimpin Israel, semua tidak terbukti, dan sesudah tewasnya Sheikh Ahmad Yasin, perjuangan melawan rezim Zionis-Israel, tidak berhenti. Hamas tetap hidup. Hamas terus berjuang dengan kekuatan yang dimilikinya menghadapi rezim Zionis-Israel.
Gerakan Hamas, yang mula-mula hanya bergerak dibidang pendidikan dan sosial di tanah Palestina terus berkembang dengan seiring berjalannya waktu. Gerakan itu berhasil membangun basis kekuatan yang sangat kokoh di kalangan rakyat, terutama di Gaza, sampai sekarang.
Gerakan Hamas yang berhasil membangun basis dikalangan rakyat, melalui pendidikan dan kegiatan sosial, kemudian mulai masuk perjuangan sipil, dan munculnya pemberontakan, yang sangat spektakuler berbentuk "Intifadah".
Melawan pasukan Israel dengan batu, secara massif. Ini merupakan bentuk perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel, pertama kali yang menggunakan gerakan sipil. Tetapi, tujuannya hanya membangun kembali mental rakyat Palestina, khususnya menghadapi supremasi Israel, yang didukung oleh negara-negara Barat.
Dampaknya sangat luar biasa dengan gerakan "Intifadah", bangkitnya semangat rakyat Palestina secara kolektif, dan sekaligus membangun kembali semangat dunia Arab yang sudah mati, ketika menghadapi rezim Zionis-Israel.
Langkah berikutnya yang dilakukan Gerakan Hamas, membangun kekuatan militer, secara diam-diam. Hamas memulai gerakan militernya, dan membentuk Brigade Izzuddin al-Qassam, di tahun l990 an.
Izzudin al-Qassam, merupakan tokoh dan pejuang, yang mula-mula menghadapi rezim Zionis-Israel, tak lama sesudah Israel melakukan aneksasi (mencaplok) wilayah-wilayah Palestina di tahun 1948.
Hamas melakukan latihan militer yang sangat keras terhadap anggota-anggota Brigade Izzudin al-Qassam, sebagai unit tempur yang sangat handal, memiliki kemampuan militer yang sangat tinggi, yang bisa disejajarkan dengan militer Amerika Serikat, seperti Unit "Special Force" atau "Navy Seal". Karena latihan-latihan militer mereka di gurun pasir, yang terus-menerus, dan menggunakan berbagai jenis senjata.
Ini terbukti dengan kemenangan Hamas, ketika usai pemilu tahun 2006 di Palestina, kemudian tahun 20007, hanya dalam waktu tiga jam, Hamas dapat mengambil alih seluruh Gaza dari tangan Gerakan al-Fatah, yang dipimpin Mahmud Abbas. Hamas mengambil alih kantor pemerintahan Otoritas Palestina, serta mendapatkan senjata dari gudang-gudang yang merupakan milik gerakan al-Fatah.
Kemudian, kekuatan militer Hamas mampu menghadapi invasi milliter Israel di tahun 2008, saat Israel dipimpin Perdana Ehud Olmert. Hamas mampu bertahan menghadapi invasi Israel, yang berlangsung selama sebulan. Dan hanya kehilangan sedikit pasukannya, dan Hamas berhasil menghancurkan berbagai jenis tank dan pasukan Israel, yang masuk kota Gaza. Sampai, Perdana Menteri Ehud Olmert, secara sepihak mengumumkan gencatan senjata, tengah malam, di bulan Januari 2009.
Gerakan Hamas benar-benar teruji kemampuan, dibidang politik, ekonomi dan militer, menghadapi rezim Zionis-Israel, yang didukung Amerika Serikat.
Sejak kemenangan dalam pemilu tahun 2006, Gaza diblokade oleh Israel, dan Hamas tak pernah menyerah dan mau mengakui Israel. Hamas dan rakyat Palestina di Gaza, tetap bisa survive, di tengah-tengah ancaman dan blokade yang dilakukan Israel.
Sekarang rezim Zionis-Israel yang dipimpin Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, yang sangat konservatif, dan bertindak keras terhadap Hamas, dan selalu mengatakan Hamas sebagai kelompok teroris, dan tidak mau melakukan negosiasai apapun dengan kelompok Hamas, sekarang harus menerima eksistensi Hamas, dan membebaskan 1027 tahanan Palestina, termasuk tokoh-tokoh yang dipenjara oleh Israel, ditukar dengan Kopral Gilad Shalit.
Bagaimana kecanggihan Hamas, sampai Mossad, tidak dapat menemukan tempat persembunyian Kopral Gilad Shalit yang diculik oleh Hamas, meskipun rezim Zionis-Israel sudah menggunakan intelijen Mesir, Arab Saudi, dan Otoritas Palestina, dan melakukan invasi militer ke Gaza, dan menduduki Gaza, tetapi tidak berhasil menemukan Gilad Shalit.
Hamas tetap kokoh menghadapi berbagai tekanan dunia internasional. Tidak pernah menyerah. Sikapnya tetap teguh dan konsisten memperjuangkan keyakinannya, menegakkan negara Palestina, yang berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Seperti yang dikatakan Ismail Haniyah, bahwa akan tegak negara Islam di tanah Palestina, dan membebaskan selulruh tanah Palestina yang diduduki oleh rezim Zionis-Israel.
Para pemimpin Hamas adalah para pejuang Islam yang sejati, tidak pernah meminta pertolongan kepada siapapun, kecuali kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orag mukmin, karena itu mereka mendapatkan kemenangan, dan memiliki izzah yang tinggi didepan para musuhnya.
Kemenangan telah di depan mata bagi Hamas, dan seluruh kekuatan di Palestina, yang berjuang ingin membangun negara yang benar-benar berdaulat, lepas dari cengkeraman rezim Zionis-Israel. Wallau'alam.
Sumber: http://www.eramuslim.com





















