Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:
Tentang peperangan yang telah mewarnai sejarah dunia dan peradaban manusia di berbagai negara, termasuk Perang Yom Kippur, Chris Hedges – seorang jurnalis as untuk harian The New York Times, pernah mengungkap sebuah pandangan pribadi yang cukup menarik untuk disimak. Katanya, “It (war) can gives us lurpose, meaning, and reason for living.”

Perang yang untuk kebanyakan orang hanya menciptakan kehancuran dan pembunuhan. Lantas apa maksud dari kata¬kata Hedges itu?

Kata-kata yang dimuat dalam buku karya Hedges yang berjudul War Is a Force That Gives Us Meaning (2002) itu yang pasti tak sembarang dirangkai. Kata-kata itu muncul setelah is melihat dan menyimak kerasnya perjuangan hidup dalam peperangan di Serbia, Bosnia, Teluk, Timur Tengah, Amerika Latin, dan sejumlah negara di Afrika Selatan. Sebuah penjelajahan sekaligus petualangan yang kemudian membuahkan padanya penghargaan Pulitzer Prize for Explanatory Reporting (2002 ) dan Amnensty International Global Award for Human Rights Jurnalism ,2002).

Setelah mengikuti kisah Perang Enam Hari (1967) dan kini Perang Yom Kippur 1973) lewat Edisi Koleksi Angkasa, kite boleh jadi bisa memahami makna dari kata-kata Chris Hedges itu. Bahwa, rakyat Israel, Mesir, Suriah, dan negara-negara Arab lainnya yang telah puluhan tahun terlibat dalam pertikaian tampaknya memang telah beroleh pengertian akan guna, arti, dan alasan hidup mereka. Betapa pun perang hanya menciptakan kerusakan dan pembunuhan.


Perang Yom Kippur sendiri bisa dibilang titik kulminasi dari upaya keras mereka dalam mempertentangkan keyakinan atas jati diridan wilayah yang mereka tempati. Bangsa-bangsa Arab yakin bahwa merekalah pemilik yang sah dari tanah yang kini diduduki Israel. sementara orang¬orang Yahudi di Israel juga yakin bahwa merekalah pewaris yang sebenarnya dari wilayah di sebelah barat Sungai Yordan itu.

Perang Yom Kippur adalah puncak dari serangkaian perang dan pertikaian yang telah dimulai sejak tahun 1920-an. Sebelum itu mereka sudah bertempur dalam Perang Enam Hari pada 1967, War of Attrition pada 1970, Perang di Sinai pada 1956, dan perang di sekitar proklamasi Israel antara 1947 dan 1949. Rangkaian perang inilah yang kemudian lazim disebut Perang Arab-Israel.

Pertikaian berawal dari kebimbangan pemerintah Inggris dalam membagi wilayah Palestine yang dihibahkan Kekaisaran Ottoman, Turki. Alih-alih demi pembagian yang adil, pada 1923 Inggris menyerahkan 75% dari wilayah itu kepada warga Arab Palestina, sementara sisanya untuk bangsa Yahudi yang telah jauh hen melobi perdana menteri Inggris di London. Arab Palestine beroleh wilayah di sebelah timur Sungai Yordan, sementara orang¬orang Yahudi mendapat wilayah yang terhampar di sebelah barat Sungai Yordan. Pembagian seperti ini ternyata tak memuaskan orang-orang Arab. Mereka berpendirian, seluruh wilayah adalah milik mereka dan orang-orang Yahudi tak berhak atau secuilpun wilayah tersebut.

Berdirinya negara Israel yang diproklamasikan pare imigran Yahudi di wilayah sebelah barat Sungai Yordan tak ayal berbuntut pertikaian. Apalagi karena di wilayah yang same juga mukim sekelompok orang-orang Arab Palestine. Permasalahan inilah yang kemudian memicu Perang Arab Israel dan melahirkan Organisasi Pembebasan Palestine (PLO) beserta seluruh organisasi perlawanannya.

Perang menjadi berkepanjangan karena pada kenyataannya mcnghadapi Israel tak semudah membalik telapak tangan. Meski Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, dan Irak secara geografis telah mengepung negeri kecil ini, toh diperlukan kekuatan besar untuk menaklukkannya. Perang demi perang pun ikut memaksa masyarakat yang tinggal di wilayah pertikaian menyusaikan diri serta memahami setiap kegetiran yang mewarnainya.

Meski perang hanya menciptakan kehancuran, tetapi perang telah menyodorkan mereka harapan untuk merengkuh hidup yang lebih baik. Meski perang telah membunuh saudara-saudara mereka, tetapi perang telah mengobarkan semangat untuk beroleh kemenangan yang dahsyat. Meski perang telah mencerai¬beraikan mereka, tetapi perang juga telah mempererat kebersamaan di antara mereka.

Demikianlah di antara desing peluru yang tak berkesudahan, ironisnya perang telah memberikan mereka manfaat, arti, dan alasan untuk hidup itu sendiri. Untuk kite yang hidup di negara-negara yen dari peperangan, perjalanan hidup s ini memang tidak lazim. Tetapi bagi masyarakat di negara-negara yang kerap dilanda peperangan, hanya perjalanan seperti itulah yang diyakini bisa mengantar kearah standar hidup yang lebih baik dan berarti.

“Tragically, war is sometimes the most powerfull way in human society to achieve meaning…,” tulis Chris Hedges miris.

Demikianlah, bisa dimengerti  mengapa hati orang-orang Arab lain remuk-redam tatkala mendapati Anwar Sadat, selaku arsitek Perang Yom Kippur, justru memilih jalan damai dengan Israel. Perang Yom Kippur boleh jadi telah menjadi titik kulminasi dari rangkaian Perang Arab Israel. Tetapi perdamaian Mesir-Israel sepertinya bukanlah akhir atau solusi dari berbagai persoalan yang mendasari rangkaian peperangan yang amat melelahkan itu.

Untuk itu, benar apa yang dikatakan Plato. “Only the dead have seen the end of war.” Hanya orang matilah yang dapat merasakan akhir dari peperangan. Share to Lintas BeritaShare to infoGueKaskus

No Response to "Makna Perang Yom Kippur"

Poskan Komentar

  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments