Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,
“lni hampir menyerupai sebuah mesin yang bergerak terus-menerus. Kita semua mengakui bahwa perlombaan senjata merupakan sebuah bencana, dan kita pun semua mengakui bahwa akhirnya akan timbul suatu konflik yang kurang lebih akan menghancurkan dunia beradab seperti yang kita kenal ini. Ada pun problem lama adalah, siapakah yang akan mengambil langkah pertama untuk sungguh-sungguh mundur?” (Sammuel Cummings, April 1967, mengutip Anthony Sampson dalam The Arms Bazzar, 1977)

Konvoi Tank Saat Perang Enam Hari

Pernyataan itu disampaikan Samuel Cummings, mantan agen CIA yang kemudian menjadi broker senjata, dalam sebuah sidang di Komisi Hubungan Luar Negeri Senat (Subkomite Timur Tengah dan Asia Selatan) AS, pads 13 April 1967. Disimak dari tanggal pernyataan ini diungkapkan, diketahui bahwa Cummings menyampai¬kannya sekitar dua bulan sebelum Perang Enam Hari meletus. Cummings diminta menjadi saksi dalam sebuah kasus penjualan senjata buatan AS di Timur Tengah berkaitan dengan Perang Enam Hari. Cummings sendiri adalah salah seorang dari sekian broker senjata yang banyak terlibat dalam penjualan senjata ringan di Afrika, Amerika Latin, dan Timur Jauh.
Seperti apa persisnya kasus tersebut tak penting dibicarakan di sini. Tetapi hal apa yang bisa kita tangkap dari sekutip pernyataan itu, agaknya menarik untuk disimak. Dari pernyataan tersebut, pertama, yang menarik perhatian tentunya adalah adanya keterlibatan orang pemerintahan dari sejumlah negara berpengaruh dalam perang yang berlangsung pada 5-10 Juni 1967 itu. Kedua, adalah tentang adanya upaya kuat dari sejumlah pabrik senjata berikut broker-brokernya untuk mencari dollar di tengah pertikaian yang akan berlangsung. Dan, ketiga adalah tentang adanya kemungkinan konflik kepentingan dalam diri para pemimpin negara-negara yang terlibat dalam peperangan.

Pesawat Pembom Pada Saat Perang Enam Hari

Para politisi boleh saja mengatakan bahwa perang adalah kelanjutan dari diplomasi yang terputus. Tetapi bagi mereka pemerintah dari negara pemasok senjata, para pemilik industri persenjataan, broker senjata, dan para pejabat (di negeri yang bertikai) yang “bermuka dua” perang justru ibarat meja taruhan tempat me¬ngeruk untung dan tempat untuk menggelembungkan pundit-pundi pribadi. Mereka akan menangguk untung besar manakala negara yang dipasoknya meraih kemenangan. Ketika label battle proven terpatri pada persenjataan yang mereka pasok atau gunakan, persenjataan ini pun akan menjadi incaran banyak pembeli dan menjadi amat laku.

Meski kehancuran yang terjadi amat memprihatinkan, Timur Tengah toh telah menjadi pasar senjata yang amat menggiurkan. Tahu berapa uang yang mengalir bersamaan dengan gemeretak gigi yang mewarnai peperangan di sang? Sekadar info saja, pada tahun-tahun berikutnya setelah Perang Enam Hari selesai telah terjadi transaksi senjata hingga 200 juta dollar AS per tahun. Bandingkan dengan awal-awal tahun 1950-an yang hanya mencapai 50 juta dollar setahun. Kalau pun persenjataan itu terbukti tak handal, para pemasok tak kuatir menanggung rugi. Maklum, menang-kalah, mereka akan tetap dibayar dengan jaminan minyak yang terkadung dalam jumlah amat besar di bawah tanah Timur Tengah.

Pesawat tempur Siap Membom

Di Timur Tengah setidaknya telah bermain industri dan broker senjata dari enam negara kuat: Uni Soviet (yang memasok persenjataan untuk Mesir, Suriah, Yordania, dan Irak), Inggris dan Perancis (untuk Israel), AS (untuk Israel, selanjutnya setelah perang: Mesir, Yordania, Maroko, Arab Saudi, Mesir, dan sejumlah negara teluk lainnya), Spanyol (ke Mesir), serta Belgia (ke dua belah pihak yang bertikai). Mereka memasok mulai dari senapan ringan, artileri berat, tank, sampai pesawat tempur. Mulai dari senjata yang sudah rongsokan sampai senjata yang belum teruji dalam pertempuran.

Sam Cummings tahu benar betapa culas dan seramnya pets perdagangan senjata di Timur Tengah, baik menjelang maupun sesudah Perang Enam Hari. la telah “mendedikasikan” hidupnya sebagai broker senjata di wilayah “terpanas” di dunia ini sejak usia 26 tahun atau antara 1953 hingga meninggal pada April 1998. Perusahaannya bernama International Armament Corporation atau biasa di¬singkat Interarms. Semangatnya untuk menjadi penjual senjata “professional” bangkit setelah ia berhasil menjuarsurplus senjata yang tertinggal dalam Perang Dunia II di Eropa kepada negara-negara di Afrika Amerika Latin, dan Timur Jauh yang sedang berupaya untuk merdeka. Dari penjualan ini ia kagum bisa mendapatkan dengan amat mudah kountungan sebesar satu juta dollar!

Antara 1953 sampai 1968, ia pun mem¬borong habis 4,5 juta unit senapan/pistol dan 500 juta amunisi dari stok Eropa. Dari situ uang sebesar 80 juta dollar mengalir deras ke pundi-pundinya tiap tahun. Jika semasa berkantor di CIA ia biasa berteman dengan para pejabat berjas rapi, selanjutnya di negara-negara dunia ketiga itu ia kian bergaul eras dengan para diktator bermuka garang.

Baginya, inilah sisi lain dari kehidupan. Dunia tak selamanya putih dan dunia pun tak akan selamanya diliputi perdamaian. Orang-orang seperti Cummings selalu diuntungkan dengan kata-kata kiasan: “Untuk damai siap-siaplah berperang!”. Dan, para broker senjata tabu benar bagaimana menjalankan profesi hitamnya di negara-negara yang biasa berperang. Betapa pun out of law, mereka selalu yakin aman menjolankan bisnis karena undang¬undang di negara-negara seperti itu hanya dipahami oleh sejumlah orang yang bisa dibayar.

Suka tak suka, negara-negara inilah yang sesungguhnya menghidupkan perputaran roda industri senjata dunia. Negara-negara ini pulalah yang sesungguhnya membuat Uni Soviet, AS, Inggris, Perancis bisa semakin maju dan kaya. Sementara senjata dirancang kian canggih, negara-negara inilah yang telah menjadi laboratorium maut yang memuaskan obsesi para perancang dan pabrik pembuatnya. Dalam edisi koleksi kali ini, misalnya, bisa kita simak bersama betapa Dassault-Perancis tersenyum bahagia mendapati jet tempur Mirage III buatannya kian sempuma setelah menjalani uji coba sungguhan bertempur melawan MiG-21 di langit Timur Tengah.

Di negara-negara seperti itu malah tak hanya tentara yang menguji coba senjata. setelah Perang Enam Hari usai dan perang-perang berikutnya berletupan, maka penduduk sipil akan menjadi tenaga laboran yang alamiah. Pengakuan Anthony Sampson yang pernah mengunjungi di Beirut, Lebanon, pada 1970-an bolehlah menjadi gambaran. Di sana, kata kolumnis ini, ribuan penduduk sipil biasa menenteng¬nenteng dan memberondongkan M-16, senapan mesin lain, bazoka, dan mortar dengan bebasnya. Dalam berbagai ukuran dan jenis, senjata rupanya merupakan komoditi paling laris. Benar-benar tak bisa dibedakan lagi, mana tentara, mana milisi, dan mana penduduk biasa.

Rentetan perang rupanya lambat laun akan mengubah format penduduk di sebuah negara dari yang semula antipati menjadi simpati terhadap bends-bends maut itu. Di Beirut dan kota-kota di Timur Tengah lainnya, suara desingan peluru selanjutnya tidak lagi bikin ciut. suara desingan peluru dan ban mesin telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sekah saja keduanya tak muncul, boleh jadi kehidupan di hari itu menjadi terasa sepi dan hening. Apa yang harus kita katakan tentang kota-kota atau negara-negara yang telah berubah menjadi laboratorium maut seperti ini? Bencana, hancurnya sebuah peradaban, atau realita yang lumrah saja?

Sumber: http://sejarahperang.wordpress.com/  Share to Lintas BeritaShare to infoGueKaskus

No Response to "Laboratorium Maut"

Poskan Komentar

  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments