Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
Jaringan Eropa untuk membela hak-hak tahanan Palestina (UFREE) mengutuk keras serangan teroris kristen di Norwegia dan menuduh Israel berada di balik apa yang terjadi pada Jumat pekan lalu.
"Dunia tahu sekarang bahwa Israel, teman dan pendukungnya adalah ancaman nyata bagi keamanan dan perdamaian dunia dan sumber nyata dari terorisme," kata UFREE dalam sebuah siaran pers.
Jaringan yang berbasis di Oslo itu menggambarkan apa yang terjadi sebagai "kejahatan keji" yang melawan semua agama dan hukum internasional.
Laporan mencatat bahwa menteri luar negeri Norwegia Jonas Gahr Store satu hari sebelum serangan mengunjungi kamp pemuda yang diselenggarakan oleh sayap pemuda partai buruh yang berkuasa dan mendiskusikan dengan peserta penyebab masalah Palestina dan cara untuk mematahkan blokade Israel di Gaza.
Selama pertemuan ini, para pemuda Norwegia mengibarkan bendera Palestina dan spanduk melawan Israel, yang menjadikan hal ini sebagai tanda tanya terhadap pihak yang memiliki motif untuk melakukan serangan tersebut pada Jumat lalu, UFREE menggarisbawahi.(fq/pic)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Pasukan keamanan Irak telah menangkap 16 tersangka anggota Al Qaidah yang dituduh berada di balik lebih dari 100 pembunuhan di ibukota Irak, seorang pejabat keamanan senior mengatakan Minggu kemarin (24/7).
Jenderal Ahmed Abu Ragheef, kepala Departemen Dalam Negeri urusan internal, menuduh orang-orang ini melakukan pembunuhan profil tinggi pada bulan Mei lalu terhadap Ali al-Lami, seorang politisi senior Irak yang membantu pembersihan anggota partai Baath Saddam Hussein dari politik setelah invasi pimpinan AS tahun 2003.
Gerilyawan Irak telah meningkatkan serangan, secara khusus menargetkan polisi dan tentara, untuk mencoba mengguncang pemerintah pada saat pasukan AS bersiap untuk meninggalkan negeri itu pada akhir Desember, lebih dari delapan tahun setelah menggulingkan Saddam Hussein.
"Kami berhasil menangkap kelompok teroris yang bertanggung jawab atas pembunuhan baru-baru ini di Baghdad," kata Ragheef kepada wartawan pada konferensi pers.
Ragheef mengatakan seluruh operasi untuk menangkap 16 pria, termasuk pemimpin sel, telah dilakukan pasukan keamanan selama 20 hari.
Dia mengatakan pasukan keamanan juga menemukan markas sel utama dan sebuah pabrik senjata di selatan Baghdad di mana senjata dibuat dan bom diproduksi.
Sel juga bertanggung jawab untuk upaya gagal melarikan diri dari penjara pada 8 Mei di sebuah kompleks penjara satuan kontra-terorisme Departemen Dalam Negeri di Baghdad di mana 18 orang, termasuk pemimpin Al Qaidah dan pejabat senior kontra-terorisme Irak, tewas dalam pertempuran antara narapidana dan petugas keamanan.(fq/reu)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Afrika
Kubu revolusioner Libya mengklaim telah mengusir pasukan pro-Gaddafi dengan merebut dusun gurun Gualish, yang merupakan jalan ke Tripoli.
Sumber oposisi mengatakan pertempuran dilaporkan meletus setelah pasukan pro-Gaddafi melancarkan serangan untuk merebut kembali Gualish pada hari Minggu kemarin (24/7) - sebulan setelah mereka kalah dari pasukan revolusioner.
Sementara itu, kubu revolusioner mengklaim bahwa mereka telah menyusup ke pusat kota dan menyerang sebuah pos komando rezim.
Mereka mengklaim salah satu putra Gaddafi menjadi target serangan dan pejabat tinggi pasukan keamanan Gaddafi mengalami uka parah.
Di tempat lain, pasukan revolusioner bergerak di garis depan Misratah, mereka mendorong ke arah kota dekat Zlitan.
Bersamaan dengan itu pesawat-pesawat tempur NATO di Libya menyerang beberapa daerah di dan sekitar ibukota, Tripoli.
Serangan dilaporkan menghantam dekat kediaman penguasa Libya, Muammar Gaddafi, serta Tripoli timur dan pinggiran selatan.
Libya telah menjadi ajang pertempuran sengit antara pasukan pemerintah dan pasukan revolusioner sejak pertengahan Februari. Konflik mematikan telah menyebabkan ribuan orang tewas dan terluka.
Tripoli dan beberapa provinsi bagian barat tetap di bawah kendali Gaddafi sementara kubu revolusioner tmengendalikan Benghazi, sebagian besar kota-kota barat dan timur timur.(fq/prtv)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman mengatakan bahwa Israel tidak memiliki alasan untuk meminta maaf kepada Turki atas serangan armada tahun lalu yang menewaskan sembilan aktivis Turki.
"Israel tidak memiliki alasan untuk meminta maaf kepada Turki. Meningkatkan hubungan dengan Turki dalam kepentingan kedua negara, tapi ini sebaiknya tidak datang hanya pada kepentingan Israel saja, "dikutip Jerusalem Post atas pernyataan Lieberman yang mengatakan pada hari Minggu kemarin (24/7).
Lieberman menambahkan bahwa partainya Beiteinu tidak akan mengundurkan diri dari pemerintah Israel, jika Tel Aviv memutuskan untuk meminta maaf kepada Turki.
Pernyataan Menteri Luar Negeri ini datang pada saat forum delapan menteri Israel digelar pada Minggu kemarin untuk membahas hubungan dengan Turki setelah Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengkritik tindakan "tidak manusiawi" Israel di Konferensi Duta Besar Palestina di Istanbul pada hari Sabtu sebelumnya.
"Sampai Israel secara resmi meminta maaf, membayar kompensasi kepada keluarga orang yang meninggal dan mengangkat embargo di Gaza, normalisasi hubungan antara kedua negara tidak akan terjadi," kata Erdogan.
Perdana Menteri Turki menambahkan selama pertemuan itu bahwa "Jika kalangan internasional, khususnya PBB dan AS, terus memberikan kredit kepada praktek sepihak Israel dan mengabaikan tindakan yang tidak manusiawi Israel, saya secara terbuka mengatakan, mereka tidak akan bisa menghindari bahwa mereka terlihat sebagai pelaku kejahatan ini juga."
Sebuah panel PBB yang dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Selandia Baru Geoffrey Palmer diharapkan merilis sebuah laporan penyelidikan insiden mematikan di armada gaza 2010 dalam seminggu ke depan, laporan mengatakan.(fq/prtv)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
Kementerian pertahanan Perancis telah memutuskan untuk membeli pesawat tempur Heron TP dari Tel Aviv, Israel.
Keputusan itu, ditetapkan minggu lalu, akan mengakhiri larangan 42 tahun penjualan senjata ke Israel yang diputuskan oleh Presiden Prancis Charles de Gaulle, demikian Ha'aretz melaporkan.
De Gaulle menyatakan larangan penjualan senjata ke Israel pada tanggal 2 Juni 1967, hanya tiga hari setelah Perang Enam-Hari yang dilakukan oleh Israel dimulai.
Israel pada saat itu membeli beberapa jet Mirage dan kapal rudal dari Prancis. Namun, karena larangan itu diberlakukan, Israel tidak pernah menerima peralatan militer itu.
De Gaulle dan pemerintah Prancis pada waktu itu telah memperingatkan Israel bahwa adalah sebuah kesalahan bagi Israel untuk menduduki Jalur Gaza dan Tepi Barat. Prancis lebih lanjut menolak untuk mengakui kontrol Israel atas Yerusalem.
Dan sekarang, langkah untuk membeli pesawat siluman dari Israel menandai pergeseran dalam kebijakan Paris terhadap Tel Aviv.
Bahkan hal ini akan menjadi pertama kalinya pesawat tak berawak, yang diproduksi oleh Industri Aerospace Israel, dibeli oleh negara asing.
Industri Aerospace Israel belum menolak untuk mengomentari kesepakatan tersebut. Sementara seorang pejabat keamanan yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa kesepakatan itu sebagai sebuah "lingkaran dan sangat historis"
Heron TP diduga telah digunakan untuk pertama kalinya pada Januari 2009 ketika Israel melancarkan perang di Jalur Gaza.
Serangan itu menewaskan lebih dari 1.400 warga Palestina, kebanyakan warga sipil dan menyebabkan ribuan lainnya terluka. Sekira USD 1,6 miliar kerusakan di bidang perekonomian terjadi di Gaza. (sa/presstv)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Sedikitnya, dua orang pelajar Afghanistan dilaporkan telah tewas dalam sebuah insiden di Provinsi Logar, ketika sebuah pesawat tempur menyerang kawasan itu, demikian laporan dari Press TV. Seorang perempuan dan sejumlah anak-anak juga dilaporkan terluka dalam serangan itu.
Korban tewas diperkirakan akan terus meningkat karena beberapa dari orang yang terluka dikatakan dalam kondisi kritis.
Serangan-serangan yang terus dilakukan selama ini telah mengambil korban puluhan nyawa orang Afghanistan selama beberapa hari terakhir. Ratusan warga sipil telah tewas dalam serangan udara pimpinan AS.
Korban sipil oleh pasukan pimpinan Amerika asing juga telah menjadi sumber utama gesekan antara Kabul dan Washington.
Hamid Karzai, selaku presiden Afghanistan, berulang kali mengutuk serangan itu dan meminta pimpinan pasukan asing untuk menghentikan pembunuhan terhadap warga sipil.
Rakyat Afghanistan terus mengadakan aksi protes terhadap NATO atas jatuhnya korban sipil.
Invasi Afghanistan berlangsung dengan tujuan resmi membatasi kaum militan Islam dan "katanya" membawa perdamaian dan stabilitas ke negara itu.
Namun kenyataannya, lebih dari sembilan tahun, Afghanistan tetap tidak stabil dan warga sipil terus membayar harga. (sa/presstv)
Sumber: http://www.eramuslim.com











