Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
Putra mahkota Abu Dhabi telah menyewa pendiri perusahaan keamanan swasta Blackwater Worldwide untuk mendirikan sebuah batalion militer yang terdiri 800-anggota pasukan asing untuk Uni Emirat Arab, The New York Times (NYT) melaporkan pada hari Minggu kemarin (15/5).
NYT mengatakan mereka memperoleh dokumen yang menunjukkan unit yang dibentuk oleh perusahaan baru milik Erik Prince, bernama Reflex Response dengan nilai proyek sebesar 529 juta dolar didapat dari UAE yang akan digunakan untuk menggagalkan pemberontakan internal, melakukan operasi khusus dan mempertahankan jaringan pipa minyak dan gedung pencakar langit dari serangan.
Surat kabar itu mengatakan keputusan untuk menyewa kontingen pasukan asing diambil sebelum gelombang kerusuhan rakyat menyebar di seluruh dunia Arab dalam beberapa bulan terakhir, termasuk tetangga UEA Teluk Bahrain, Oman dan Arab Saudi.
Uni Emirat Arab sendiri telah melihat ada keresahan yang serius di mana sebagian besar penduduknya terdiri dari pekerja asing.
Blackwater, yang pernah memiliki kontrak menguntungkan untuk melindungi pejabat AS di Irak, menjadi terkenal di wilayah ini pada tahun 2007 ketika anggota mereka melepaskan tembakan di jalanan kota Baghdad, menewaskan sedikitnya 14 orang dalam apa yang disebut pemerintah Irak sebagai aksi "pembantaian."
Salah satu mantan anggota Blackwater mengaku bersalah atas tuduhan pembunuhan dalam pembunuhan tersebut, dan sebuah pengadilan AS kembali melakukan tuntutan terhadap lima orang lainnya pada bulan April 2011. Erik Prince sejak itu akhirnya menjual perusahaannya, yang berubah nama menjadi Xe.
Surat kabar NYT mengatakan Uni Emirat Arab, sekutu dekat Amerika Serikat, memiliki beberapa dukungan di Washington untuk proyek baru dari Erik Prince, meskipun tidak jelas apakah itu telah mendapar persetujuan resmi AS.
Dua pejabat pemerintah UEA dihubungi oleh Reuters menolak berkomentar mengenai laporan New York Times, dan kedutaan Amerika Serikat di ibukota UEA, Abu Dhabi, juga tidak memberikan pernyataan.
NYT mengutip seorang pejabat AS yang menyadari program itu dengan mengatakan: "Negara-negara Teluk, dan UEA pada khususnya, tidak memiliki banyak pengalaman militer. Akan masuk akal jika mereka melihat di luar perbatasan mereka untuk membantu keamanan negara mereka."
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Mark Toner mengatakan kepada NYT bahwa departemennya sedang menyelidiki melihat apakah proyek tersebut melanggar hukum AS. Undang-undang AS mewajibkan izin bagi warga Amerika untuk melatih pasukan asing.
Toner juga menunjukkan bahwa Blackwater, sekarang dikenal sebagai Xe Services, telah membayar 42 juta dolar denda pada tahun 2010 untuk tindakannya melakukan pelatihan pasukan asing di Yordania tanpa lisensi, kata NYT.
Menurut mantan karyawan dari proyek itu dan pejabat AS dikutip oleh NYT, pasukan dibawa ke sebuah kamp pelatihan di UAE dari Kolombia, Afrika Selatan dan negara-negara lain, yang dimulai pada musim panas 2010.
Pensiunan militer AS, dan mantan anggota militer Jerman dan Inggris dari unit operasi khusus dan Legiun Asing Prancis yang melatih mereka, lapor NYT.
Erik Prince sendiri bersikeras tidak akan mempekerjakan muslim, karena mereka "tidak dapat diandalkan untuk membunuh sesama muslim," kata surat kabar itu.
Mantan karyawan juga mengatakan kepada surat kabar NYT, bahwa langkah Emirates itu bertujuan juga untuk dapat digunakan dalam menghadapi ancaman dari Iran.(fq/aby)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Afrika
Perdana Menteri rezim Muammar Gaddafi pada hari Minggu kemarin (15/5) kembali menawarjkan gencatan senjata kepada utusan khusus PBB yang berkunjung ke Libya, Abdullah al-Khatib, sebagai imbalan bagi gencatan senjata segera NATO, pada saat pemberontakan anti-rezim memasuki bulan keempat.
Perdana Menteri Libya Baghdadi Mahmudi, dikutip oleh kantor berita resmi JANA, mengatakan setelah pertemuan dengan Khatib, Libya sangat ingin dilakukannya gencatan senjata segera bertepatan dengan dihentikannya pemboman NATO dan menerima pengamat internasional masuk ke Libya.
Libya, ia menambahkan, telah berkomitmen untuk kesatuan wilayah dan rakyatnya dan Libya memiliki hak untuk "menentukan urusan internal dan sistem politik mereka sendiri melalui dialog yang demokratis jauh dari ancaman bom."
Mahmudi menuduh NATO, telah melakukan pelanggaran dan pelanggaran itu termasuk "pembunuhan politik, pengepungan maritim yang tidak adil, pemboman bangunan sipil dan perusakan infrastruktur."
Segera setelah utusan PBB Abdullah Khatib tiba di Libya, ledakan keras mengguncang beberapa wilayah di timur Tripoli, warga melaporkan dari Tajura, sebuah daerah pinggiran terpencil dari ibukota.(fq/ap)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Sekitar 100 aktivis kiri Israel melakukan aksi protes dekat Cinematheque Tel Aviv untuk menunjukkan dukungan mereka bagi rakyat Palestina yang memperingati "Nakba Day," , dan menentang pembunuhan warga sipil tak berdosa.
Para demonstran membawa bendera Palestina dan poster yang bertuliskan "Hentikan kematian warga sipil", "Free Palestine", "IDF adalah organisasi teror yang paling tidak bermoral di dunia", dan "Tidak ada kesucian di kota yang diduduki".
Aktivis Kiri radikal Israel ini mengatakan mereka ada di sana untuk memprotes pembunuhan warga sipil tak berdosa serta memprotes pendudukan di perbatasan utara dan di Dataran Tinggi Golan.
Beberapa demonstran perempuan bahkan memakai jilbab hitam untuk mengidentifikasi dengan hari Nakba Palestina. Mereka meneriakkan "Barak Anda pembunuh, Intifada akan menang".
Sekelompok aktivis sayap kanan Israel melakukan aksi kontra, dengan mengibarkan bendera Israel dan meneriakkan "Am Yisrael Chai" (kehidupan bagi bangsa Israel).
Mereka juga mengejek kepada aktivis kiri radikal dengan mengatakan: "Anda adalah kolom kelima, pengkhianat, Anda tidak bertugas di militer."
Polisi tiba di tempat kejadian untuk menjaga keamanan setelah sejumlah bentrokan mulut pecah di antara para demonstran.(fq/ynet)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
Sedikitnya 120 orang cedera ketika pasukan keamanan Mesir menembakkan gas air mata dan peluru karet terhadap para demonstran pro-Palestina yang mencoba ingin memasuki Keduataan Israel di Kairo.
Ribuan pengunjuk rasa berkumpul di luar Kedutaan Israel di ibukota Cairo, hari Minggu, memperingati ulang tahun ke-63 dari "Nakba" atau "Bencana" - di mana Israel menyatakan kemerdekaan, dan ratusan ribu rakyat Palestina melarikan diri atau diusir dari rumah mereka. Rakyat Palestina diusir, dihancurkan tempat tinggal mereka, dibunuh secara massive oleh milisi Zionis-Israel.
Saksi mata mengatakan sekelompok demonstran, kemudian mencoba mendobrak pintu gerbang Kedutaan Israel, yang menyebabkan polisi menembakkan gas air mata. Setidaknya 20 orang ditangkap.
Wartawan Al Jazeera Rob Gilles, yang berada di lokasi kejadian, mengatakan bahwa beberapa demonstran membakar ban di tengah jalan dan melempar batu polisi.
"Aparat keamanan telah membuat pagar betis di luar kedutaan untuk membersihkan jalan di depannya dan sebagian besar pengunjuk rasa dipaksa kembali," katanya.
"Mereka sudah menutup area utama yang menuju kedalam kedutaan, tapi masih ada masih banyak kedatangan para pengunjuk rasa, mereka bertekad untuk tidak meninggalkan lokasi kedutaan Israel. Para pengunjuk rasa termovitasi oleh gambar-gambar aksi protes Nakba dari berbagai kawasan Timur Tengah lainny.
"Kami telah melihat beberapa orang yang tergelak di lantai, akibat menghirup gas air mata yag ditembakkan oleh polisi", ujar Aljazeera.
Aktivis sebelumnya telah menyerukan pawai untuk mulai pada hari Minggu untuk mencapai perbatasan Rafah antara Mesir dan Jalur Gaza.
Insiden bersamaan dengan kunjungan pejabat kementerian pertahanan Israel ke Mesir. Ini merupakan kunjungan pertama pejabat tertinggi Israel ke Cairo, sejak rakyat rakyat menggulingkan mantan presiden Hosni Mubarak pada bulan Februari.
Wakil Menteri Pertahanan Israel, Amos Gilad a mengadakan pembicaraan dengan pejabat Mesir beberapa "untuk membahas perkembangan terakhir di kawasan itu, berkaitan dengan perjanjian rekonsiliasi Palestina", tulis kantor berita Mena.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan pemimpin Hamas Khaled Meshaal mengakhiri perseteruan empat tahun pada upacara rekonsiliasi di ibukota Mesir, Kairo, awal bulan ini. Perdana Menteri Israel Binyamin Netanyahu menyebut kesepakatan itu "pukulan luar biasa bagi perdamaian".
Perjanjian ini Hamas dan Fatah bekerja untuk membuat sebuah pemerintah sementara calon yang tidak terafiliasi dengan golongan baik, yang akan memerintah sampai pemilu presiden dan legislatif dalam setahun. (mh/aljz)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Angkatan laut Israel menembakkan tembakan peringatan terhadap kapal bantuan Malaysia yang menuju ke Jalur Gaza yang menurut Israel telah mendekati pantai.
Penyelenggara kapal bantuan Malaysia mengatakan pasukan Israel membuat mereka terpaksa mundur ke perairan Mesir, AFP melaporkan Senin ini (16/5).
"Kapal Finch MV, yang membawa pipa pembuangan limbah ke Gaza, telah menerima tembakan peringatan oleh pasukan Israel di zona keamanan Palestina pagi ini pada pukul 06:54 waktu Yordania," kata Shamsul Azhar, seorang anggota Perdana Global Peace Foundation.
"Saat ini kapal dipaksa melepaskan jangkar di perairan Mesir, 30 mil laut dari Gaza," ia menjelaskan lebih lanjut.
Seorang wartawan Malaysia yang berada di kapal mengatakan kapal angkatan laut Israel menghentikan kapal mereka dengan berondongan tembakan.
"Kapal angkatan laut Israel melepaskan tembakan peringatan pada kami pada saat kapal kami mendekati perairan dan meminta kami untuk meninggalkan perairan Gaza tetapi kapten kapal menolak dan Israel kemudian menembak lagi, angkatan laut Israel mengepung Finch MV sebelum menembak sebanyak dua kali lagi," kata wartawan Malaysia yang bernama Alang Bendahara.
Bendahara juga menambahkan bahwa di kapal itu ada tujuh warga Malaysia, dua Irlandia, dua orang India serta Kanada, termasuk aktivis anti-perang dan wartawan. (fq/prtv)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Setidaknya empat tentara Kanada terluka setelah helikopter mereka jatuh pada saat mendarat di daerah terpencil di provinsi selatan Afghanistan Kandahar.
Helikopter, membawa lima awak dan sekitar 25 tentara bersama dengan wartawan Kanada, terjatuh ke samping, dan melukai empat tentara di distrik Panjwaii Senin pagi ini (16/5), seorang koresponden Press TV melaporkan.
Helikopter Chinook dua rotor berusaha mendarat di sebuah sungai kering dalam kegelapan, namun menghantam jatuh sebelum akhirnya jatuh ke samping, ternyata setelah pilot salah menilai dalam kondisi kabut dan kegelapan.
"Saya tidak menyalahkan pilot sama sekali," salah satu tentara di dalam helikopter berkata tentang pendaratan yang gagal tersebut.
Asap dan kegelapan dilaporkan sebagai penyebab kecelakaan dan tidak ada aktivitas musuh dilaporkan pada saat kejadian.
Para tentara Kanada berada dalam sebuah misi bersama dengan yang tentara yang ada di helikopter lain saat kejadian berlangsung. Helikopter kedua mendarat dengan selamat, tapi misi akhirnya dibatalkan.(fq/prtv)
Sumber: http://www.eramuslim.com











