Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Peristiwa tersebut tentu menjadi aib tersendiri bagi militer AS yang pernah berkibar di palagan Eropa semasa Perang Dunia I. Namun, kerunyaman di Pasifik selanjutnya dimanfaatkan oleh Korps Marinir AS untuk membuktikan keandalan serangan amfibi yang gagal total di Galipoli. Bagi mereka wilayah Pasifik yang didominasi pulau-pulau dan perairan sangat tepat untuk dijadikan ajang pembuktian kedua menyangkut kompetensi khas dari kesatuan Marinir tersebut. Untuk itu mereka memilih Guadalcanal sebagai tempat pertama untuk debut pendaratan amfibi.


Perang Pasifik menjadi ajang “pertempuran tersendiri” bagi Korps Marinir AS. Setelah bertahun-tahun diremehkan pasca kegagalan di Galipoli, mereka memperoleh kesempatan menunjukkan kemampuannya hingga sejajar dengan Korps Angkatan Darat.
Prinsip intelijen yang dikemukakan Marsda TNI (Pur) Teddy Rusdi, mantan Direktur E, Badan Intelijen Strategis, Indonesia, dalam biografinya, Think Ahead (2009) itulah yang dianut perwira operasi AS dari Komite Perencana Gabungan AB AS pada dasawarsa 1920-30-an. Mereka curiga terhadap Jepang, lalu berusaha memetakan apa yang mungkin mereka lakukan untuk mengganjal kepentingan AS di wilayah Pasifik. Ancaman terdekat adalah menguasai atau menduduki pangkalan AS di Guam, Midway dan Wake.
Dengan angkatan laut yang dikenal kuat, menurut para perwira itu, Jepang tak mungkin adem ayem setelah dipasrahi gugus Kepulauan Mikronesia di Pasifik Tengah. Di pengujung tahun 1940-an, tanda-tanda ke arah upaya serangan ke Pasifik Ician menguat. Hal ini terdeteksi dari perintah-perintah rahasia dari Tokyo yang berhasil dicegat intelijen AS serta kesan ketidaksukaan mereka atas embargo bahan bakar pesawat terbang dan metal untuk industri senjata yang dilancarkan Washington.
Gugus Kepulauan Mikronesia diserahkan Sekutu lewat Perjanjian Washington pada 1922. Posisi kepulauan yang ditinggalkan Jerman setelah kalah dalam Perang Dunia I itu amat strategis. Gugus kepulauan yang mencakup Kepulauan Marshall, Mariana dan Carolina itu memotong jalur yang menghubungkan AS dengan Filipina dan China. Berdasarkan perjanjian, baik AS, Inggris maupun Jepang sebenarnya tidak diperbolehkan membangun pangkalan atau kekuatan militer di Pasifik. Tetapi siapa bisa menjamin Jepang akan memegang teguh perjanjian itu?
Kecurigaan tersebut meletup setelah militer Jepang menguasai hampir seluruh lini dalam struktur kepemerintahan negeri ini. Menguatnya posisi Jerman dan Italia di wilayah Eropa dan berpalingnya muka militer Jepang dari Sekutu ke Pakta Axis juga menjadi faktor penentu keberanian mereka untuk mengambil inisiatif perang. Wake sendiri akhirnya benar-benar diserang dan dikuasai, hanya beberapa jam setelah ratusan pesawat torpedo menghajar pangkalan AS di Pearl Harbor pada 7 Desember 1941.
Untuk mengantisipasi kemungkinan militer Jepang “bermain api” di wilayah Pasifik itulah, Komite Perencana Gabungan (kini Joint Chief of Staff/Kastaf Gabungan) AS pun menyusun contingency plan untuk menangkal atau memukul balik serangan yang amat dikhawatirkan itu. Di antara yang direncanakan, AS akan mengaktifkan kekuatan militer di Filipina dan Armada Pasifik yang bermarkas di California. Dua kekuatan itu akan disiagakan di Filipina dan Guam.
Rencana Tinggal Rencana
Di atas kertas, contingency plan yang dikenal dengan Rencana Perang Oranye ini seolah sempurna, telah memperhatikan banyak hal, merujuk data intelijen, dan bisa digelar kapan saja. Sejumlah kalangan pun mengamininya karena rencana perang ini merujuk pada Teori Mahan, sebuah teori perang peninggalan Laksamana Alfred Thayer Mahan yang merinci kekuatan laut untuk tujuan memenangkan perang.
Namun apa yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan. Rencana perang tinggal rencana perang. Serangan Jepang ternyata jauh lebih terencana dan lebih mematikan dari yang dibayangkan sebelumnya. Mereka bisa mengerahkan lebih dan 300 pesawat terbang untuk menyerang secepat kilat kapal-kapal perang utama AS yang sedang berlabuh di Pearl Harbor. Dari situ, secepat kilat pula mereka berbelok dan menguasai Wake.
Serangan ke Pearl Harbor bak blitzkrieg ala Jerman. Jangankan mengaktifkan kekuatan militer di Filipina, AS bahkan tak mampu segera memukul balik serangan ini. Akibatnya, dalam waktu singkat militer Jepang mampu merangsek hingga ke dalam Filipina yang kemudian berbuntut terusirnya Panglima Sekutu wilayah Timur Jauh, Jenderal Douglas MacArthur, ke Australia.
![]() |
Meski berdarah-darah, toh seperti moto USMC Semper Fidelis, mereka mampu melewati pulau demi pulau dengan pijakan awal di Guadalcanal. |
Taktik pendaratan yang dilakukan pada Agustus 1942 itu pun terbilang menarik dan tak henti dibahas hingga kini. Pasalnya, 16.000 pasukan Sekutu (sebagian besar dari Korps Marinir) yang didaratkan di pulau tersebut, harus langsung bertempur melawan tentara Jepang yang telah bercokol di tempat yang sama. Pertempuran di tempat ini memancarkan heroisme tersendiri sementara kapal-kapal perang kedua belah pihak saling kontak senjata di perairan Coral Sea dan Midway yang letaknya amat berjauhan.
Guadalcanal berhasil diambil alih pada Februari 1943. Pertempuran ini memang berlumur darah, melelahkan dan makan waktu lama. Namun, setiap langkah maju yang dicapai Marinir lumayan menguras ketahanan militer Jepang. Kekalahan selanjutnya yang menjadi pukulan telak dalam pertempuran darat adalah ketika Marinir berhasil merebut Rabaul, pangkalan utama Jepang di Pasifik Selatan. Jatuhnya Rabaul langsung dimanfaatkan Panglima Angkatan Laut AS Laksamana Chester W. Nimitz untuk melancarkan serangan yang lebih hebat ke arah daratan Jepang.
Menyerahnya Jepang tanpa syarat kepada Sekutu memang bukan semata-mata akibat pukulan Marinir. Namun, perjuangan dan taktik yang dilancarkan Marinir meninggalkan catatan khusus bahwa serangan amfibi bisa digunakan untuk membongkar pertahanan lawan. Kesuksesan taktik tersebut bahkan masih terus dibicarakan oleh para pengamat militer dan para marinir sedunia hingga kini, terlebih setelah mereka berhasil merebut Iwo Jima — jalan masuk ke daratan Jepang.
Dalam Edisi Koleksi ini kami tuntun Anda untuk mencermati langkah demi langkah, taktik demi taktik, dan strategi demi strategi, yang mereka buat dan lancarkan. Masing-masing rupanya tak muncul begitu saja. Untuk mencapai hasil yang terbaik, militer AS ternyata masih harus belajar banyak dan melewati berbagai rintangan. Dan, rintangan itu tidak hanya berupa kurangnya peralatan dan persenjataan, tetapi juga beda pola pikir dari para panglimanya. Hal ini bisa disimak dari pertentangan yang cukup mendasar soal efektivitas taktik dan strategi angkatan darat dan marinir di antara Kastaf AD Jenderal Georg C. Marshall dan Panglima Operasi AL Laksamana Ernest J. King.
Persinggungan juga terjadi di antara Jenderal (Mar) Holland Smith dan Jenderal (AD) Ralph Smith, ketika kesatuan mereka sama-sama bertempur di Pulau Makin, Kepulauan Gilbert. Persinggungan ini sampai menyeret Presiden AS Franklin D. Roosevelt untuk menengahi.
Apa pun itu, akhirnya kita bisa sama-sama melihat bahwa masing-masing ternyata memiliki kekhasannya sendiri-sendiri, yang mana sesungguhnya akan semakin hebat jika dipadukan. Di waktu mendatang debut Marinir AS di Pasifik membuka mata pimpinan yang baru dan berpikiran lebih modern, sehingga korps ini memperoleh kesempatan untuk bisa bertempur di mana saja. Untuk menunjang tugas-tugasnya, mereka bahkan diberikan pesawat tempur sendiri, seperti F/A-18 Hornet, AV-8B Harrier II, dan yang terbaru: F-35 Ligthning – tambahan alutsista yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Artikel Lainnya:
Perang di Asia
- Barbarosa Pahlawan Islam yang Menjadi Propaganda Jahat Barat
- Partai-partai Politik Pakistan Tolak Rute Pasokan Nato Dibuka Kembali
- Kofi Annan Serukan Akhiri Kekerasan di Suriah Tanpa Prasyarat
- Mahasiswa Pakistan Kecam AS yang Janjikan Hadiah Untuk Penangkapan Hafiz Said
- Sy'iah, Holocaust dan Clash of Civilization
- AS Mengetahui Adanya Penyiksaan di Penjara-penjara Afghanistan
No Response to "Debut Pertempuran Marinir AS, Pasca Gagal di Galipoli"
Posting Komentar