Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Pemerintah pendudukan Israel telah mengungkapkan rencana untuk melakukan Yahudisasi di Yerusalem yang diduduki dan mengubah realitas demografis dengan dalih untuk menopang perekonomian kota.
Kantor Perdana Menteri Israel baru-baru ini telah mengumumkan niat pemerintah untuk menyetujui pengeluaran lebih dari 80 juta dolar untuk melaksanakan apa yang disebut "rencana ekonomi yang komprehensif" selama lima tahun ke depan.
Rencana, yang dianggap oleh pihak Palestina hanya meningkatkan eskalasi yang terlihat dari upaya yahudisasi kota suci, adalah untuk mengimplementasikan sejumlah proyek yang akan mengubah wajah kota dan mendorong segmen masyarakat baru Israel untuk menetap di dalamnya.
Menurut rencana yang diumumkan bahwa sekitar 42 juta dolar AS juta akan dihabiskan untuk membangun infrastruktur dan mengembangkan Tembok Barat (Tembok Buraq seperti yang disebut oleh warga Palestina) untuk mendorong pariwisata.
Departemen Pariwisata zionis Israel juga akan menghabiskan 21,5 juta dolar AS untuk mendorong pembangunan hotel untuk meningkatkan jumlah kamar hotel yang tersedia bagi wisatawan di kota itu.
Rencana tersebut juga mencakup dana sebesar 20,5 juta dolar untuk mendirikan lembaga penelitian dan ilmu pengetahuan yang membutuhkan didirikannya bangunan baru.
20,26 juta dolar lainnya lain akan dipakai untuk akomodasi para pelajar Yahudi dan membangun sebuah kota akademis yang bertujuan untuk menarik orang untuk melakukan pengembangan ekonomi produktif agar mau tinggal di kota tersebut.
The statement from Netanyahu's office also said that the government might add Jerusalem to the areas which get government support where university students who finished their military service will be legible for government grants.
Pernyataan dari kantor Netanyahu juga mengatakan bahwa pemerintah akan menambah Yerusalem area-area yang akan mendapatkan dukungan pemerintah yang akan dijadikan tempat bagi para mahasiswa yang menyelesaikan dinas militer mereka.(fq/pic)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Afrika
Mantan tentara SAS dan perusahaan swasta keamanan swasta membantu mengidentifikasi target NATO di kota pelabuhan Libya Misrata, tempat pertempuran sengit antara pasukan Muammar Gaddafi dan oposisi, ujar sebuah sumber kepada Guardian.
Veteran pasukan khusus memberikan rincian lokasi dan gerakan pasukan Gaddafi ke markas komandan pasukan Nato di Napoli yang dipimpin Letnan Jenderal Charles Bouchard, kata sumber tersebut.
Kemudian, sasaran itu diverifikasi oleh pesawat mata-mata dan pesawat predator AS tanpa awak (drone). "Salah satu dari kecerdasan manusia tidak cukup," kata seorang sumber.
Para mantan pasukan khusus Inggris, Perancis dan negara-negara NATO, mereka telah disediakan dengan peralatan komunikasi. Mereka mungkin menyediakan informasi bagi para pilot helikopter Inggris dan Perancis, yang diharapkan mulai menembaki sasaran di dalam dan sekitar Misrata minggu ini.
Empat helikopter Apache di kapal induk HMS Ocean, yang mendekati perairan Libya. Dua belas helikopter Tiger Prancis berada di atas kapal amfibi Tonnerre, yang sudah dalam perairan dari pantai Libya. Menteri pertahanan Prancis, Gerard Longuet, telah menolak untuk mengatakan kapan tepatnya mereka akan dikerahkan, namun menambahkan: ". "Sangat cepat, menghadapi setiap kasus".
Departemen Pertahanan Inggris bersikeras tidak punya pasukan darat. Kementrian Pertahanan lainnya, mengatakan ada sejumlah personel di Benghazi, tambahnya, Di mana ada sekitar 10 penasihat militer dan pelatih Inggris telah dikirim ke sana. Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague, menggambarkan penasihat yang di Benghazi itu sebagai "perwira yang berpengalaman militer", dan mengatakan mereka akan menjadi penasihat pasukan oposisi dibidang logistik pengumpulan intelijen, dan komunikasi.
Sumber senior pertahanan Inggris mengungkapkan pada bulan April yang lalu, mereka mendesak negara-negara Arab untuk melatih pasukan oposisi. Sumber itu menyebutkan, mereka melihat menyewa perusahaan keamanan swasta, yang banyak mempekerjakan mantan tentara SAS.
Para prajurit swasta dilaporkan dibayar oleh negara-negara Arab, khususnya Qatar. Para pejabat Inggris mengatakan mereka tidak dibayar oleh pemerintah Inggris.
Negara-negara yang mendukung keputusan untuk memberlakukan zona larangan terbang, dan memusuhi Gaddafi, akan sangat menentang setiap hubungan langsung - antara penasihat barat dan komandan NATO. Para penasihat sedang disembunyikan di tempat-tempat rahasia, tetapi peran mereka secara pribadi sangat efektif.
Di Misrata sendiri, pasukan oposisi yang berkuasa mereka bergema Dewan Transisi Nasional dalam menolak tawaran Gaddafi tentang gencatan senjata diikuti oleh negosiasi, yang muncul setelah misi perdamaian ke Tripoli oleh Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma. (mh/gdn)
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
Pada awal abad ke-20, Scofield mulai memberikan catatan kaki pada Injil versi King James, Injil yang dipergunakan oleh negara-negara berbahasa Inggris, termasuk Amerika. Ayat-ayat di dalam Injil tersebut sama sekali tidak diganti, namun di bawahnya diberi banyak sekali catatan-catatan kaki yang seluruhnya berisi dukungan dan pembenaran bagi berdirinya negara Zionis-Israel di tanah Palestina. Catatan kaki itu bahkan lebih banyak daripada ayat Injil itu sendiri.
The Oxford University membayar Scofield yang disebutnya sebagai pastor dan menerbitkan Injil tersebut dengan jumlah yang teramat besar. Di tahun 1908 Scofield merampungkan kerjanya ini dan Injil versi King James yang telah ditulisi ratusan bahkan ribuan catatan kakinya itu disebut sebagai The Scofield Reference Bible, The Holy Bible. Oxford University Press menerbitkan Injil Scofield pada tahun 1909 dan melakukan promosi gila-gilaan sehingga Injil Scofield menjadi Injil paling laris di Amerika Serikat dan bahkan di dunia.
Di dalam Injilnya, Scofield sebenarnya meneruskan pandangan John N. Darby yang secara umum telah diterima oleh evangelikalisme arus utama dan fundamentalisme Protestan Amerika. Scofield Reference Bible kemudian menjadi Alkitab kaum fundamentalis Kristen di AS dan dunia.
Seorang murid Scofield yang paling berpengaruh, Lewis Sperry Chafer, di tahun 1924 mendirikan Dallas Theological Seminary, Sekolah Theologi Amerika yang begitu bersemangat membela pandangan dispensasionalisme pra-millenialis Darby dan Injil Scofield, dan yang jelas juga, mereka membela habis-habisan kepentingan Zionisme.
Para elit Zionis tidak saja memerintahkan Scofield ‘menulis ulang’ Injil, tetapi juga menyiapkan infrastrukturnya. Sesaat setelah terbitnya Injil Scofield, sejumlah gerakan Kristen evangelikal yang sedang tumbuh di Amerika segera menyambutnya dengan penuh semangat. Bahkan beberapa di antaranya tercatat sebagai anggota redaksi penulisan Injil Scofield ini. Injil baru ini pun kemudian menyebar di seantero Amerika dan juga Eropa, dipakai sebagai pegangan utama di gereja-gereja evangelikal, seminari, dan juga kelompok-kelompok studi Alkitab yang bertebaran di seluruh negeri.
Pendeta Billy Graham dan sejumlah pendeta-pendeta radikal yang memang dipersiapkan oleh elit Zionis Yahudi Internasional dengan penuh semangat mengkhotbahkan bahwa Injil Scofield merupakan Injil yang paling baik dari segi penafsiran. Kepada para jemaatnya, mereka menyatakan bahwa antara Kristen dengan kaum Yahudi itu satu kepentingan dan satu missi. Bahkan mereka, dengan mengutip ayat-ayat Injil secara serampangan, menyatakan siapa pun orang Kristen yang tidak mendukung Israel adalah terkutuk dan menentang kehendak Tuhan.
Dengan promosi besar-besaran dan didukung pabrik propaganda Yahudi Internasional, dari harian, majalah, bulletin, hingga radio, televisi, dan internet, serta kelompok-kelompok studi Alkitab yang banyak didirikan, secara perlahan namun pasti opini yang dikehendaki mereka pun terbentuk. Banyak sekali orang Amerika yang sekarang menganggap keberadaan Israel di tanah Palestina adalah sesuatu yang sah, sesuai dengan takdir Tuhan. Mereka kini mendukung Zionis-Israel tidak sekadar pertimbangan politik atau ekonomi, tetapi sudah menjadi bagian dari keyakinan keberagamaan mereka. Konspirasi Yahudi telah sangat berhasil mengubah opini warga Amerika, yang kemudian diikuti oleh gereja-gereja evangelikal di Eropa dan seluruh dunia.
Inilah sebabnya sekarang kita bisa dengan mudah melihat, begitu dekatnya dan setianya umat Kristen mendukung segala kebejatan dan kebiadaban yang dilakukan Israel, bahkan sekali pun pasukan Zionis itu menembaki gereja tempat Yesus dilahirkan. Injil Scofield merupakan Injil pijakan ideologis kelompok Judeo-Christian atau Zionis Kristen di Amerika dan juga dunia.
Sebagai conoh, beberapa catatan kaki buatan Scofield, yang tidak terdapat dalam Injil sebelumnya, adalah:
“Mereka yang menzalimi orang Yahudi niscaya akan bernasib buruk, (dan) mereka yang melindunginya akan bernasib baik. Masa depan akan membuktikan prinsip ini dengan cara yang luar biasa” (Catatan kaki 2, Genesis 12: 1)
“Tuhan telah berjanji pada suatu janji pemberkatan tanpa syarat kepada negara Israel untuk mewarisi suatu wilayah tertentu untuk selama-lamanya” (Catatan kaki 2, Genesis 12:1)
“Bagi suatu bangsa yang melakukan dosa berupa anti-semitisme—kepada mereka—akan menyebabkan penghukuman yang tidak bisa dielakkan” (Catatan kaki 3, Genesis 15: 1-7)
Freemasonry di Belakang Judeo Christianity
Awal mula terbentuknya kelompok Judeo-Christian atau Zionis-Kristen di AS, yang kini mainstream Kristen Amerika, berasal dari jejak Pendeta John N Darby yang berasal dari Gereja Skotlandia, sebuah denominasi dalam Gereja Anglikan dan pendiri Plymouth Brethen. Sejarah mengenal Skotlandia sebagai rumah asal para Freemasonry, setelah Skotlandia di masa kekuasaan Robert de Bruce menjadi tempat pelarian terbesar bagi Ksatria Templar yang dikejar-kejar pasukan gabungan Gereja dan Perancis.
Darby merupakan penggagas pertama doktrin dispensasionalisme pra-millennial. Bersama Pendeta Edward Irving, Darby sangat gencar mempromosikan dispensasionalisme pra-millennial dalam tahun 1824-1833 di Inggris dan Skotlandia. Sejak 1862 John N. Darby banyak berkunjung ke Amerika Utara. Dalam kurun waktu 25 tahun ia telah mengadakan tujuh perjalanan propaganda ke Amerika. Selama berkeliling di Amerika, Darby berupaya menanamkan pengaruhnya atas para pemimpin gereja evangelis Amerika. Yang menjadi pengikut Darby tercatat nama-nama seperti William E. Blackstone, James H. Brookes, Arno Gaebelein, Dwight L. Moody, dan Cyrus I. Scofield.
Selain itu, paham Injili Darby juga telah menyuburkan tumbuhnya sekolah-sekolah Alkitab, konferensi-konferensi tentang penggenapan “nubuat para nabi”, dan kelompok-kelompok kajian Alkitab. Awalnya memang sebatas di dalam gereja evangelis AS namun kemudian dengan cepat menyebar menjadi sesuatu yang sangat akrab di dalam aras fundamentalisme Amerika Serikat, yang marak pada tahun-tahun 1875 hingga 1920.
Darby sendiri sesungguhnya tidak pernah sukses berkarir di tanah kelahirannya. Namun walau demikian ia berhasil melakukan kunjungan sebanyak tujuh kali ke Amerika dengan agenda kegiatan dan wilayah yang dikunjunginya sangat luas. Tentu semuanya itu memerlukan dana yang tidak sedikit. Hal ini menimbulkan kecurigaan di kalangan pengamat bahwa di belakang Darby sesungguhnya ada pemodal Zionis-Yahudi yang mendukung perjalanannya itu. Bukankah perjalanan Darby dalam rangka kepentingan mereka juga?
William E. Blackstone (1841-1935) tercatat sebagai salah seorang Zionis-Kristen pertama di Amerika. Blackstone amat gigih selama puluhan tahun memperjuangkan kepentingan bangsa Yahudi. Dia adalah seorang penginjil dan juga pekerja dari Gereja Episkopal Methodis, juga pendiri American Messianic Fellowship International (1887). Blackstone menulis buku Jesus Is Coming (1887) dan sampai dengan tahun 1927 telah diterjemahkan ke dalam enam puluh bahasa dunia, termasuk Indonesia.
Di bukunya itu, Blackstone berdalih bahwa orang-orang Yahudi memiliki hak-hak alkitabiah atas tanah Palestina dan mereka akan segera menempati kembali tanah itu. Kemunculan gerakan Zionisme merupakan satu isyarat Alkitabiah bahwa Kristus akan segera datang kembali (Blackstone tidak menyebut Yesus Kristus, melainkan hanya Kristus, yang dalam keyakinan Ordo Kabbalah adalah Yohannes Pembaptis).
Lebih dari itu, Blackstone juga menegaskan bahwa orang Kristen harus dan wajib mempersiapkan serta membuka jalan bagi kedatangan kembali Yahudi Diaspora untuk menempati Tanah Palestina.
Buku Blackstone ini telah dicetak ulang berkali-kali dan jadi buku yang paling luas pembacanya di abad ke-20. Kesuksesan Blackstone diikuti oleh terbitnya buku-buku dan novel-novel sejenis. Dua penulis Kristen ultra-fundamentalis Amerika yang terkenal adalah Hal Lindsey (The Late Great Planet Earth, 1970) dan novel teologis Tim LaHaye (Serial Left Behind, 1995). Keduanya mengalami cetak ulang hingga sekarang telah beredar puluhan juta kopi di seluruh negara.
Dalam novel-novel Left Behind, Yesus digambarkan bukan sebagai seorang manusia yang penuh kasih dan mengajarkan damai, tapi digambarkan sebagai seorang super hero, mirip Rambo, yang gemar membunuh orang dengan dalih melakukan kehendak Tuhan. Sebuah wajah Yesus yang haus darah, yang akan segera menghukum tanpa ampun siapa pun yang tidak percaya padanya atau yang menghalangi kehendaknya.
Jika hal ini kita sejajarkan dengan sikap dan citra Presiden George W Bush yang haus perang dan darah, maka kita akan menemukan benang merah yang sangat kuat bahwa Bush sesungguhnya terinspirasi oleh gambaran Yesus “Rambo” yang ditulis oleh penulis-penulis pendukung paham Darby dan Scofield. Bagi siapa saja yang menginginkan paparan lebih rinci dan jelas mengenai Injil Scofield, silakan baca artikel Charles E. Carlson berjudul “The Zionist-created Scofield ‘bible’: The Source of the Problem in the Mid East, Why Judeo-Christians Support War”.[rz]
Bersambung...
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
,
Perang di Eropa
Dalam kasus terorisme, media memang terkenal tidak adil dalam memberitakan Islam. Islam menjadi agama yang paling banyak disudutkan dalam aksi kekerasan. Jika pada kasus pemboman Bali, Gerakan Amrozi Cs dicari sampai ke akar-akarnya, bahkan ditumpas tak bersisa, menjadi lain ceritanya jika Kristen yang melakukan tindakan sama. Seakan media menjadi bungkam seketika.
Dalam kasus kerusuhan Poso misalnya, pengadilan hanya berhenti pada nama tiga orang terdakwa Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu, dan tidak pernah diteruskan kepada siapa dibalik mereka sampai ke anggota-anggotanya. Padahal jelas Tibo cs bertindak atas nama gerakan.
Begitu juga dalam peberitaan internasional. Bush dan serdadunya -yang dikorbankan semangat Fundamentalisme Kristen-yang membunuh jutaan umat muslim di Timur Tengah, seakan-akan lenyap tanpa dosa. Media-media pun tidak ada yang memanggil Bush dengan sapaan teroris. Berbeda jika Usamah Bin Ladin yang diberitakan, baik media cetak maupun televisi ramai-ramai mencapnya teroris tanpa mendudukan kronologis dan pra asumsi yang berkembang.
Kita tentu bertanya-tanya, entah mengapa jika Kristen yang melakukan aksi kekerasan, stigma teroris menjadi kebal bagi mereka. Padahal sejarah mencatat bagaimana kekejaman yang dilakuakn Kristen bukanlah isapan jempol semata, mereka tidak hanya membantai Islam, tapi juga Yahudi, kaum Pagan, pelaku bid’ah secara keji dan tak beradab. Tulisan ini bukan untuk membangkitkan luka, namun bisa jadi pelajaran bagi kita untuk meluruskan isu seputar terorisme atas nama agama.
Pembunuhan Kaum Pagan [1]
Sejak agama Kristen diresmikan pada tahun 315 M, kuil-kuil kaum Pagan makin banyak dihancurkan oleh pengikut Kristen. Pendeta kaum pagan pun banyak dibunuh. Antara tahun 315 dan abad ke-6, ribuan orang penyembah berhala disembelih. Dan itu semua dilakukan atas nama misi Gereja.
Melaksanakan ritual ibadah pagan menjadi sangat berbahaya bagi pelakunya dan terancam hukuman mati, ini sudah terjadi mulai tahun 356 Masehi. Kaisar Kristen Theodosius (408-450M) bahkan membunuh anak-anaknya sendiri karena mereka bermain-main dengan patung-patung pagan. Menurut penulis Christian Chronicles, kaisar yang melakukan hal tersebut didasari akan kepatuhan terhadap seluruh ajaran Kristen.
Akhirnya, pada abad ke 6 seluruh hak hidup para penganut Pagan dinyatakan dicabut. Bahkan sebelumnya pada awal abad ke-4, filosof Sopratos dihukum mati atas perintah penguasa Kristen.
Selanjutnya di tahun 415 M, Hypatia dari Alexandria, seorang filosof wanita yang terkenal, diseret kemudian dipotong-potong tubuhnya oleh orang-orang Kristen Koptik radikal yang dipimpin oleh pendeta Peter. Hypatia sendiri adalah seorang ilmuwan Yunani dari Alexandria Mesir. Hypatia dibunuh karena menjadi penyebab kekacauan dalam agama. Ia dijuluki sebagai "pembela ilmu pengetahuan yang gagah berani melawan agama". Dan beberapa pendapat mengatakan kematiannya menandai akhir dari zaman Hellenistik dan dimulainya zaman kegelapan (The Dark Ages).
Pembunuhan Atas Nama Misi Gereja
Selain membunuh secara kejam dan membabi buta kaum pagan, Kristen juga melakukan terorisme dan kesadisan terhadap mereka-mereka yang tidak mau ikut agamanya. Kaisar Karl (Charlemagne), misalnya, pada tahun 782 M tanpa punya nurani memenggal kepala 4500 orang Saxon, karena mereka tidak mau memeluk agama Kristen.
Kaum tani yang tidak mau membayar sumbangan kepada Gereja pun mengalami hal serupa. Mereka dijatuhi hukuman mati layaknya manusia penuh dosa. Jumlahnya pun tidak main-main, antara 5000 sampai 11.000 pria, wanita dan anak-anak, dibunuh pada tanggal 27 Mei 1234 dekat Altenesch (Jerman).
Lalu pada abad ke 16 dan 17 M, tercatat puluhan ribu warga Irlandia dibunuh. Pasukan Inggris terjun ke wilayah ini semata-mata demi menjinakkan orang-orang Irlandia yang liar. Mereka di anggap tidak lebih dari binatang yang hidup tanpa mengindahkan hukum-hukum Tuhan. Seorang pimpinan tentara Inggris yang terkenal kejam adalah Humphrey Gilbert yang memerintahkan untuk memenggal kepala semua tawanan.
Pembantaian Dalam Perang Salib
Belum lagi fakta, di Semlin dan Wieselburg (Hungaria), pada tanggal 12 sampai 24 Juni 1096 ribuan orang dihilangkan nyawanya secara kejam. Hanya dalam waktu hitungan hari dari tanggal 9 sampai 26 September 1096 sekitar 1000 orang dibunuh di Nikala atau Xerigordon (Turki).
Kita juga tidak lupa pada tanggal 11 Desember 1098, seribu orang Muslim di bantai di Marra. Tentara Salib yang lapar karena kehabisan makanan sampai-sampai mengambil daging mayat musuh yang sudah mulai membusuk dan memakannya (Christian Chronicle, Albert Aquensis).
Penaklukkan kota Jerusalem yang terjadi pada tanggal 15 Juli 1099 pun dihiasi kematian 60.000 warga Muslim, Yahudi, laki-laki dan anak-anak, yang dibunuh secara keji oleh Pasukan Perang Salib. Puluhan ribu kaum muslim yang mencari penyelamatan diatas masjid Al Aqsha pun dikejar sampai dapat dan mereka dibantai dengan sangat sadis.
Kekejaman demi kekejaman pasukan salib memang sulit dinalar oleh akal sehat. Setahun sebelumnya, pada tahun 1098, pasukan tentara bengis itu telah membunuh ratusan ribu kaum muslim di Arra’t-un-Noman, salah satu kota di Syria. [2] Mereka bergerak atas “sabda” Paus Urban yang menyeru “Killing these godless monsters was a holy act: it was a Christian Duty to exterminate thi vile race from our lands” atau “Membunuh para monster tak bertuhan itu adalah tindakan suci: adalah kewajiban umat Kristen untuk memusnahkan angsa jahat itu dari wilayah kita.”
Salah satu saksi mata sampai-sampai menyatakan bahwa ,"Genangan darah manusia di depan Kuil Solomon setinggi pergelangan kaki orang dewasa”. Sedangkan, salah seorang penulis Kristen bernama Eckehad dari Aura mengatakan, “bahkan berlanjut hingga musim panas, udara di seluruh Palestina masih tercemari oleh bau mayat-mayat yang membusuk".
Pembunuhan Terhadap Orang Bid’ah (Inkuisisi)
Sejatinya, Inkuisisi (dengan huruf I besar) adalah istilah yang secara luas digunakan untuk menyebut pengadilan terhadap bidaah oleh Gereja Katolik Roma. Undang-undang ini mengandung peraturan-peraturan yang sangat keras. Sanksi pelaku bid’ah bahkan bisa sangat mengerikan daripada kaum pagan yang jelas-jelas kafir dalam konsep mereka.
Dalam sejarahnya, Gereja Trinitarian yang menjatuhkan keputusan bersalah kepada seorang pelaku bid’ah akan memberikan hukuman tak berperi dari mulai penyiksaan, pembakaran sampai pemenggalan kepala.
Kasus ini sempat menimpa kaum Manichaean. Kaum Manichean adalah salah satu sekte yang dinyatakan bid’ah dalam Kristen karena melakukan praktek pengendalian kelahiran (KB) yang tidak diajarkan oleh Gereja Katholik. Bayangkan karena hal itu, ribuan orang Manichean menjadi korban seiring kampanye besar-besaran ke seluruh kekaisaran Romawi antara tahun 372 M sampai 444 M.
Selain pembasmian yang menimpa kaum Manichean, hal serupa juga menimpa kelompok Cathars. Orang-orang Cathars pada dasarnya menganut Kristen dengan baik, tetapi pada sisi lain mereka menolak segala peraturan Gereja Katholik Roma yang dirasa tidak adil seperti pajak dan larangan pengendalian kelahiran.
Lantas hanya karena hal itu, Paus Innocent III memerintahkan untuk membunuh para pengikut Cathars di tahun 1209. Kota Beziers (Perancis) pada tanggal 22 Juni 1209 pun dihancurkan. Semua makhluk yang hidup di dalamnya pun dibantai tanpa ampun. Jumlah korban menurut catatan sejarah berkisar pada angka 70.000 manusia, angka itu termasuk jumlah pemeluk Katolik yang menolak untuk menyerahkan tetangga dan sahabatnya yang di kategorikan bid’ah oleh Gereja.
Bid'ah lainnya yang juga dilakukan oleh Waldensians, Paulikians, Runcarians, Josephite dan lain-lain juga dienyahkan hingga tak bersisa. Ratusan ribu orang kemudian mati tak bernyawa oleh kekejeman pihak gereja. Bahkan John Huss, yang mengkritisi "Papal Infallibility" (Kemustahilan Paus berbuat salah) dan Surat penebusan dosa, dibakar hidup-hidup di tiang pancang pada tahun 1415.
Pembunuhan Terhadap Yahudi
Yang juga turut mengalami kekejaman selain Islam adalah kaum Yahudi. Max Margolis dan Alexander Marx dalam “A History of Jewish People” menceritakan bahwa pada periode 612-620 M, banyak kasus terjadi dimana Yahudi dibaptis secara paksa. Euric (680-687) membuat keputusan bahwa seluruh orang Yahudi yang dibaptis secara paksa ditempatkan dibawah pengawasan khusus pejabat dan pemuka gereja. Setelah diKristenkan secara paksa, orang-orang Yahudi itu tetap diawasi secara ketat oleh gereja, takut kalau-kalau mereka kembali melakukan ibadah Yahudi.
Bahkan Raja Egica (687-701) membuat keputusan bahwa semua Yahudi di Spanyol dinyatakan sebagai budak. Keputusan sepihak itu tidak saja berlangsung dalam satu sampai dua tahun, namun untuk selamanya. Harta benda kaum Yahudi disita dan mereka diusir dari rumah-rumah sehingga tersebar ke berbagai provinsi. Lebih dari itu anak-anak Yahudi yang berumur tujuh tahun ke atas diambil paksa dari orangtuanya dan diserahkan kepada keluarga Kristen. [3]
Selanjutnya pada tahun 1096, saat Perang Salib pertama, ribuan orang Yahudi dibunuh oleh Salibis Kristen di kota Worm teparnya pada tanggal 18 Mei 1906, di Mainz. Lalu pada tanggal 27 Mei 1096 sekitar 1100 orang Yahudi juga mengalami pembantaian.
Dalam Perang Salib itu, tercatat 12.000 orang Yahudi dibunuh dimana tempatnya membentang dari Worms, Mainz, Cologne, Neuss, Altenahr, Wevelinghoven, Xanten, Moers, Dortmund, Kerpen, Trier, Regensburg, Prag hingga Metz di Perancis.
Sedangkan pada tahun 1348 nasib naas juga dialami Yahudi, dua ribu orang diantara mereka dibunuh di Bassel (Swiss) dan Strassbourg. Sedangkan pada tahun 1349 diKita Praha, data menyatakan bahwa 3000 orang Yahudi telah tewas terbunuh. Sedang pada 42 tahun selanjutnya, takni pada tahun 1391, kaum Yahudi Seville habis oleh Kardinal Martines. Dalam catatan sejarah tercatat sebanyak 4000 orang Yahudi tewas dan 25.000 lainnya dijual sebagai budak.
Ternyata itu pun belum berakhir. Abad 15 adalah abad yang menjadi saksi pembantaian besar-besaran kaum Yahudi dan muslim di Spanyol dan Portugal. Pada tahun 1483 misalnya, 13.ooo orang Yahudi dieksekusi atas perintah komandan inquisisi Spanyol, Faray Thomas de Torquemada.
Jatuhnya Granada ke tangan Spanyol juga berbuah ancaman bagi Yahudi. Hanya dalam beberapa bulan antara akhir April sampai 2 Agustus 1492, sekitar 150.000 kaum Yahudi diusir dari Spanyol. Sebagian besar dari mereka kemudian mengungsi ke wilayah Turki Utsmani yang menyediakan tempat aman bagi Yahudi.
Stand J Shaw dalam “The Jews of the Ottoman Empire and the Turkish Republic” mencatat jumlah Yahudi yang terusir dari Spanyol tahun itu sebanyak 160.000. Dari jumlah itu, 90.000 mengungsi ke Turki. 25.000 ke Belanda, 20.000 ke Maroko, 10.000 ke Prancis, 10.000 ke Italia dan 5.000 ke Amerika. Yang mati dalam perjalanan diperkirakan 20.000 orang. Sedangkan yang dibaptis tetap di Spanyol sebanyak 50.000 orang. [4]
Kekejeman Terhadap Muslim di Guantanamo
Dalam perkembangan modern, terror Kristen pun tidak pernah berhenti. Kebencian mereka terhadap Islam dilakukan dalam jejak-jejak pemerintahan Amerika Serikat. Mereka tidak saja membasmi jutaan umat muslim di Afghanistan, Pakistan, Kaukasus, Somalia, Palestina, Bosnia tapi juga menahan tawanan-tawanan muslim di penjara terkejam di Guantanamo. Umat muslim disiksa, dilecehkan, namun lagi-lagi tidak ada yang menyebut mereka dengan sapaan teroriss, bahkan sampai detik ini.
Lawrence Wilkerson, asisten mantan Menteri Luar Negeri AS Colin Powell, pernah membuat pengakuan dalam suatu pernyataan yang ditandatangani untuk mendukung gugatan yang diajukan oleh seorang tahanan Guantanamo, Adel Hassan Hamad.
Hamad, seorang pria Sudan yang ditahan di Teluk Guantanamo sejak Maret 2003 sampai Desember 2007, mengklaim bahwa dia mengalami penyiksaan oleh agen-agen AS saat berada di dalam tahanan dan mengajukan gugatan terhadap beberapa nama pejabat Amerika.
Menurut Wilkerson, baik Dick Cheney maupun Donald Rumsfeld sebenarnya mengetahui bahwa sebagian besar dari 742 tahanan yang pertama kali dikirim ke Guantanamo pada tahun 2002 adalah mereka yang tidak bersalah, tetapi yakin bahwa ada kemungkinan untuk membiarkan para tahanan itu bebas.
Wilkerson, yang menjabat sebagai kepala staf Powell sebelum ia meninggalkan pemerintahan Bush tahun 2005, mengklaim bahwa sebagian besar tahanan, yang terdiri dari anak-anak berumur 12 hingga kakek-kakek setua 93 tahun, tidak pernah melihat seorang tentara AS sebelumnya, kecuali setelah mereka ditangkap.
Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa Rumsfeld dan Cheney pada khususnya, tidak punya belas kasihan bagi orang yang tak bersalah dan harus mendekam di Guantanamo selama bertahun-tahun, serta harus mengalami penderitaan hanya demi kepentingan AS untuk membenarkan perang melawan terornya.
“Dia (Cheney) sama sekali tidak memiliki kekhawatiran bahwa sebagian besar tahanan Guantanamo itu tidak bersalah … Jika ratusan individu yang tidak bersalah harus menderita,” kata Wilkerson.
Selanjutnya, Mohammad al-Kahtani, tersangka ke-20 peledakan serangan 11 September yang ditahan di Teluk Guantanmo, Kuba dalam sebuah catatan harian penjara mengaku dipaksa telanjang sambil menirukan gonggongan anjing saat menjalani penyidikan.
Saat tengah malam, kepala Kahtani kerap digebyuri air dan telinganya dijejali musik-musik keras karena mendadak harus menjalani pemeriksaan. Permintaannya untuk shalat senantiasa ditolak.
Selain itu, warga Arab Saudi ini juga diinterogasi di sebuah ruangan yang didekorasi dengan gambar-gambar korban 11 September. Sudah tak terhitung berapa kali dia harus kencing di celana karena ketakutan. Harga dirinya juga dicabik-cabik ketika lehernya dikalungi gambar wanita setengah bugil. Sampai pernah suatu saat dia minta diperbolehkan bunuh diri.
Gambar-gambar yang sangat mengagetkan dunia, mengenai bagaimana para tahanan diperlakukan pernah beredar di awal tahun 2002 silam. Kondisi mereka lemah, dalam pakaian oranye yang menyala, mata, mulut, dan telinga disekap, kedua tangan dan kaki dirantai. Sel-selnya seperti kandang ayam. Kawat- kawat berduri melintang ke sana kemari siap merobek kulit dan daging.
Selanjutnya, Mohammed Sagheer, 52 tahun, seorang da’i Pakistan yang telah dikeluarkan dari Guantánamo juga menglima terror mental. Para sipir penjara menurutnya menggunakan obat untuk mengendalikan para tahanan. Sagheer menyatakan bahwa para tentara itu memberi tahanan sebuah tablet yang akan membuat para tahanan tak sadarkan diri.
“Saya sembunyikan tablet-tablet itu di bawah lidah, lalu membuangnya begitu penjaga tidak melihat,” katanya. Sagheer mengaku dua kali dihukum di sel isolasi yang gelap karena meludahi penjaga, yang menurutnya telah memprovokasinya dengan melempar Qur’an dan memukulinya. (pz/bersambung)
Catatan Kaki
[1] Bisa dilihat dalam tulisan Kelsos dengan judul Victims of The Christian Faith di situs www.truthbeknown.com yang kemudian ditulis kembali oleh Hj. Irena Handono dalam buku Fitnah dan Teror, (Bekasi: Gerbang Publishing, 2008)
[2] Adian Husaini, Tinjauan Historis Konflik Yahudi Kristen Islam, (Jakarta: GIP, 2004) h. 141
[3] Ibid, h. 140
[4] Ibid. h. 145
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
Belum cukup dengan Paulus, karena rupanya tidak semua orang Kristen mentaati Paulus ketimbang Yesus, maka Yahudi Talmudian memusnahkan semua Injil yang tidak mendukung kepentingannya. Alatnya adalah Konsili Nicea 325 M yang menghancurkan ratusan Injil yang tidak mengakui konsep ketuhanan Paulus dan hanya mengakui empat Injil yang semuanya mendukung Trinitas.
Dr. Muhammad Ataur Rahim yang meneliti sejarah kekristenan dan Yesus selama 30 tahun menyatakan bahwa pada abad pertama sepeninggal Yesus, murid-murid Yesus masih tetap mempertahankan ketauhidan secara murni. “Hal ini dapat dibuktikan dalam naskah The Shepherd (Gembala) karya Hermas, yang ditulis sekitar tahun 90 Masehi. Menurut Gereja, naskah itu termasuk kitab kanonik (yang dianggap suci). Di antara isi dari naskah tersebut berbunyi, ‘Pertama, percayalah bahwa Allah itu Esa. Dialah yang menciptakan dan mengatur segalanya. Dia menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Dia meliputi segala sesuatu, tetapi dia tidak diliputi oleh apa pun…’” Bahkan menurut Theodore Zahn, sebagaimana dikutip EJ. Goodspeed di dalam Apostolic Fathers, sampai dengan sekitar tahun 250 Masehi, kalimat keimanan umat Kristen masih berbunyi, “Saya percaya kepada Allah yang Maha Kuasa.”
Namun walau demikian, antara tahun 180 sampai dengan 210 Masehi, memang telah ada upaya-upaya untuk menambahkan kata “Bapa” di depan kata “Yang Maha Kuasa”. Uskup Victor dari Zephysius mengutuk penambahan kata tersebut dan menganggapnya sebagai pencemaran kemurnian kitab suci.
Salah satu tokoh penentang Gereja Paulus adalah Uskup Diodorus dari Tarsus. Lucian, seorang pakar Injil merevisi kitab ‘Septuaginta’, sebuah Injil berbahasa Yunani, dan memisahkan segala hal yang diyakininya tidak benar. Setelah bekerja keras, akhirnya Lucian menghasilkan empat buah Injil yang menurutnya adalah Injil yang benar-benar bersih dan bisa dipercaya. Namun dalam Konsili Nicea 325 Masehi, keempat Injilnya itu termasuk ke dalam kelompok Injil yang dimusnahkan.
Walau demikian, Lucian tidak melupakan kaderisasi. Salah satu muridnya bernama Arius, yang akan menjadi tokoh terkemuka dalam mempertahankan kemurnian ajaran Yesus Kristus dari serangan Gereja Paulus. Arius meyakini, umat Kristen seharusnya mengikuti ajaran sebagaimana yang diajarkan Yesus, bukan Paulus. Yesus diutus Tuhan untuk melengkapi dan meluruskan kembali Taurat Musa, hanya itu. Guru Arius, Lucian, dieksekusi mati oleh Gereja Paulus pada tahun 312 Masehi.
Tigabelas tahun kemudian, Konsili Nicea digelar. Kaisar Konstantin akhirnya mengeluarkan empat buah keputusan resmi. Keputusan itu adalah :
Pertama, menetapkan hari kelahiran Dewa Matahari dalam ajaran pagan, tanggal 25 Desember, sebagai hari kelahiran Yesus.
Kedua, hari Matahari Roma menjadi hari Sabbath bagi umat Kristen, dengan nama Sun-Day, Hari Matahari (Sunday).
Ketiga, mengadopsi lambang silang cahaya yang berbentuk salib menjadi lambang kekristenan, dan
Keempat, mengambil semua ritual ajaran paganisme Roma ke dalam ritual atau upacara-upacara kekristenan.
Selepas Konsili Nicea, antara Athanasius (Kubu Trinitas) masih saja berhadapan dengan Arius (Kubu Unitarian). Namun dengan adanya kompromi politik dan juga ancaman dari Konstantin, maka Arius dan pengikutnya pun dikalahkan. Ketika itu ratusan Injil yang tidak sesuai dengan konsep Trinitas dimusnahkan. Bahkan Gereja mengancam, siapa pun yang masih menyimpan Injil yang dilarang maka mereka akan dikenai hukuman mati. Suatu ancaman yang tidak main-main. Konsili Nicea menjadi ‘kemenangan besar’ bagi Gereja Paulus.
Sesungguhnya, Athanasius sendiri sebenarnya juga meragukan konsep Trinitas. Ia pernah menyatakan, “Tiap berusaha memaksakan diri untuk memahami dan merenungkan konsep ketuhanan Yesus, saya merasa keberatan dan sia-sia. Hingga makin banyak menulis untuk mengungkapkan hal itu, ternyata hal ini tidak mampu dilakukan. Saya sampai pada kata akhir, Tuhan itu bukanlah tiga oknum melainkan satu. Kepercayaan kepada doktrin Trinitas itu sebenarnya bukan suatu keyakinan, tetapi hanya disebabkan oleh kepentingan politik dan penyesuaian keadaan di waktu itu.”
Tahun 335 Masehi diadakan lagi Konsili di Tyre (sekarang masuk Lebanon). Di sini terjadi anti-klimaks. Athanasius dikutuk, dan kemudian disingkirkan ke Gaul. Arius bahkan diangkat menjadi Uskup Konstantinopel. Ini kemenangan bagi kaum Unitarian. Dua tahun setelah Konsili Tyre, Konstantin meninggal. Sepeninggal Konstantin, dua konsili lagi diselenggarakan: Konsili Antiokia tahun 351 Masehi dan Konsili Sirmium tahun 359 Masehi. Kedua konsili ini menetapkan bahwa keesaan Tuhan merupakan dasar kekristenan dan tidak mengakui konsep Trinitas.
Namun di luar, Gereja Paulus sudah berkembang dengan cepat di Eropa sehingga rakyatnya tidak menghiraukan hasil dua konsili ini.Tahun 387, Santo Jerome (dalam bahasa latin disebut sebagai Eusebius Hieronymus) menyelesaikan penulisan ulang Bibel Vulgate, Injil berbahasa latin pertama dan terlengkap, yang mencakup Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bibel Vulgate inilah yang kemudian dijadikan dasar bagi penulisan-penulisan Injil lainnya di Barat dan juga Dunia hingga hari ini. Vatikan pun aktif menghancurkan kembali semua Injil yang bukan berasal dari Jerome.
Secara diam-diam, kaum Yahudi Talmudian dan tentu saja Yahudi Khazar mengawal pertumbuhan Gereja, sehingga hanya Gereja Paulus saja yang berkembang. Namun mereka ini juga bermain di sisi yang berlainan. Saat Martin Luther dan gerakan protesnya mencuat, ordo ini menungganginya, juga dengan Calvinisme.
Lahirnya Judeo Christianity
Patut dicatat, kedua gerakan reformasi gereja ini sebenarnya tidak menyentuh akar kekristenan Gereja Paulus dan tetap menerima konsep Trinitas sebagai dasar keimanannya. Kaum Yahudi Talmudian percaya jika penafsiran dan penulisan Injil harus selalu sesuai dengan perkembangan zaman. Sebab itu, ketika wacana negara Israel terangkat ke permukaan seperti yang dicetuskan dalam Kongres Zionis Internasional I di Basel Swiss tahun 1897, hampir secara bersamaan, kaum Yahudi ini pun melakukan penulisan ulang Injil versi King James yang menjadi Injil utama negara-negara berbahasa Inggris di dunia. Konspirasi memerintahkan agennya, Cyrus L. Scofield, melakukan tugas ini.
Cyrus Ingerson Scofield (lahir 19 Agustus 1843) adalah seorang veteran perang saudara Amerika. Dia sama sekali bukan ahli agama, pastor, atau pun sarjana. Scofield tak lebih dari seorang petualang yang pintar berbicara dan mudah meyakinkan orang. Tipikal orang seperti inilah yang kemudian dirasa cocok oleh kaum Zionis Yahudi untuk menjalankan misinya mengubah penafsiran umat Kristen terhadap Alkitab, yang mampu membawa rahasia ini ke dalam liang kuburnya. Latar belakang Scofield sendiri berasal dari keluarga yang berantakan, punya catatan kejahatan, dan sering menipu orang. [rz]
Bersambung...
Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Eropa
Napoleon Bonaparte, saat berperang di Timur Tengah tahun 1799 bermaksud akan melepaskan 1200 tentara Turki yang ditawan Perancis, ketika Perancis berhasil merebut Jaffa. Saat itu Napoleon sedang terserang influenza. Namun, saat menginspeksi pasukan, dia terserang batuk berat, ia pun mengatakan “Ma sacre toux” yang artinya “Batuk sialan”. Perwira pendamping Napoleon merasa sang Jenderal mengatakan “Massacrez Tous” yang artinya “Bunuh semua”. Akibatnya, seluruh 1200 tawanan Turki itu dibunuh hanya karena batuk sang Jenderal. Jadi Siapa yang Harus Bertanggung Jawab Atas Dibunuhnya 1.200 Tentara Turki Tersebut?
Sumber: http://www.kaskus.us



















