Previous Next
  • Perang Teluk

    Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki. Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990...

  • 5 Negara yang Terpecah Akibat Perang Dunia II

    Negara yang terpecah adalah sebagai akibat Perang Dunia II yang lalu di mana suatu negara diduduki oleh negara-negara besar yang menang perang. Perang Dingin sebagai akibat pertentangan ideologi dan politik antara politik barat dan timur telah meyebabkan negara yang diduduki pecah menjadi dua yang mempunyai ideologi dan sistem pemerintahan yang saling berbeda dan yang menjurus pada sikap saling curiga-mencurigai dan bermusuhan. Setelah perang dunia kedua, terdapat empat negara yang terpecah-pecah, antara lain:

  • Serangan Sultan Agung 1628 - 1629

    Silsilah Keluarga Nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Dilahirkan tahun 1593, merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Ayahnya adalah raja kedua Mataram, sedangkan ibunya adalah putri Pangeran Benawa raja Pajang. Versi lain mengatakan, Sultan Agung adalah putra Pangeran Purbaya (kakak Prabu Hanyokrowati). Konon waktu itu, Pangeran Purbaya menukar bayi yang dilahirkan istrinya dengan bayi yang dilahirkan Dyah Banowati. Versi ini adalah pendapat minoritas sebagian masyarakat Jawa yang kebenarannya perlu untuk dibuktikan. Sebagaimana umumnya raja-raja Mataram, Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri. Yang menjadi Ratu Kulon adalah putri sultan Cirebon, melahirkan Raden Mas Syahwawrat. Yang menjadi Ratu Wetan adalah putri dari Batang keturunan Ki Juru Martani, melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi Amangkurat I)...

  • Perang Dingin

    Perang Dingin adalah sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947—1991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang: koalisi militer; ideologi, psikologi, dan tilik sandi; militer, industri, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir dan persenjataan; dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini akan berakhir dengan perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi. Istilah "Perang Dingin" sendiri diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut...

  • Perang Kamboja-Vietnam

    Pada tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan saigon tahun 1975, negara-negara anggota ASEAN mencemaskan kemungkinan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari Asia Tenggara. Ketegangan terus memuncak mengingat ASEAN adalah negara-negara Non-Komunis sedangkan negara-negara Indochina adalah negara komunis. Kemenangan Vietnam pada Perang Vietnam sudah tentu mengkhawatirkan ASEAN ditengah rencana Amerika Serikat untuk mengurangi kehadiran pasukannya yang selama ini secara tak langsung melindungi ASEAN dari invasi komunis ke kawasan tersebut...

Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Persiapan

Dalam usaha melindungi bongkar muat pasukan dan peralatan di Guadalkanal, armada Jepang sekali lagi berusaha membungkam Lanud Henderson. Kapal-kapal perang Laksamana Kondo dikirim lewat Selat Indispensable untuk melakukan bombardemen ke Guadalkanal pada malam 14-15 November. Armada Kondo terdiri dari Kirishima, kapal penjelajah berat Atago, Takao, kapal penjelajah ringan Nagara, dan Sendai beserta sembilan kapal perusak yang beberapa di antaranya (bersama Kirishima dan Nagara) selamat dari pertempuran dua hari sebelumnya. Kondo berada di kapal penjelajah Atago yang dijadikannya pusat komando. Mereka mendekati Guadalkanal sekitar tengah malam, dan Bulan berada dalam fase seperempat memungkinkan visibilitas sedang hingga sekitar 7 kilometere (3,8 nmi).

Laksamana William Halsey, Jr. hanya memiliki sedikit kapal yang tidak rusak. Ia memerintahkan kapal tempur baru Washington dan South Dakota dari unit pendukung Enterprise untuk bergabung dengan empat kapal perusak membentuk Gugus Tugas 64 di bawah komando Laksamana Willis A. Lee. Misi yang diberikan, membela Guadalcanal dan Lanud Henderson. Gugus Tugas 64 dibentuk secara asal-asalan, kedua kapal tempur baru saja ditugaskan bersama-sama selama beberapa hari, dan kapal perusak yang mengawal keduanya berasal dari 4 divisi yang berbeda. Keempat kapal perusak diikutsertakan karena memiliki bahan bakar yang paling banyak dibandingkan kapal-kapal perusak yang ada. Kapal-kapal Amerika Serikat tiba di Selat Ironbottom pada malam 14 November dan mulai berpatroli di sekitar Kepulauan Savo. Kapal-kapal perang Amerika Serikat berada dalam formasi lajur. Empat kapal perusak mengawal di depan, diikuti Washington, sementara South Dakota menjaga bagian belakang konvoi. Pukul 22.55 tanggal 14 November, radar di atas kapal South Dakota dan Washington mulai mendeteksi kedatangan armada Kondo yang berjarak sekitar 18,000 m (59.000 kaki) dari Kepulauan Savo.

Pertempuran

Kondo memecah kapal-kapal dalam armadanya menjadi beberapa kelompok. Salah satu kelompok yang terdiri dari Sendai, kapal perusak Shikinami, dan Uranami (ditandai huruf "C" pada peta) berada di bawah komando Shintaro Hashimoto, menyapu kawasan di sisi timur Kepulauan Savo. Sementara itu, kapal perusak Ayanami ("B" pada peta) menyapu sekitar sisi barat daya Kepulauan Savo, berlawanan dengan arah jarum jam untuk memeriksa kehadiran kapal-kapal Sekutu. Kapal-kapal Jepang menemukan armada Lee sekitar pukul 23.00 walaupun Kondo salah mengenali kapal tempur yang dikiranya kapal penjelajah. Kondo memerintahkan kelompok kapal-kapal yang dipimpin Sendai, dibantu Nagara dan empat kapal perusak ("D" pada peta) untuk mulai menembak dan menghancurkan kekuatan laut Amerika Serikat sebelum armada bombardemen Jepang yang terdiri dari Kirishima dan kapal-kapal penjelajah berat ("E" pada peta) memasuki Selat Ironbottom. Kapal-kapal perang Amerika Serikat ("A" pada peta) mendeteksi kehadiran kapal-kapal di bawah pimpinan Sendai, namun tidak mendeteksi adanya kelompok-kelompok kapal perang Jepang yang lain. Dengan bantuan radar pencari sasaran, dua kapal tempur Amerika Serikat pada pukul 23.17 mulai menembak ke arah kelompok kapal-kapal yang dipimpin oleh Sendai. Namun sekitar 5 menit kemudian, Laksamana Lee memerintahkan tembakan untuk dihentikan. Kapal-kapal perang Jepang yang tergabung dalam kelompok utara sudah menghilang dari jangkauan radar. Sendai, Uranami, dan Shikinami sama sekali tidak mengalami kerusakan dan memutar untuk keluar dari kawasan berbahaya.

Washington menembaki Kirishima selama pertempuran 15 November. 
Posisi moncong meriam yang rendah merupakan bukti pertempuran 
dilakukan dalam jarak relatif dekat.


Sementara itu, empat kapal perusak Amerika Serikat yang berada paling depan, bentrok dengan kelompok kapal-kapal yang berintikan Ayanami dan Nagara pada pukul 23.22. Nagara dan kapal perusak yang mengawalnya secara efektif membalas serangan dengan tembakan meriam dan torpedo yang akurat. Kapal perusak Walke dan Preston terkena dan tenggelam hanya dalam 10 menit membawa awak kapal yang tewas dalam jumlah besar. Sebagian dari lunas kapal perusak Benham hancur lebur dihantam torpedo dan harus mundur (karam pada hari berikutnya). Kapal perusak Gwin dihantam torpedo di kamar mesin hingga tidak mungkin ikut bertempur lagi. Namun demikian, kapal-kapal perusak Amerika Serikat sukses menjalankan misinya sebagai pengalih perhatian dari kapal-kapal tempur Amerika Serikat yang merupakan ancaman sebenarnya. Kekuatan armada Jepang dapat dilunakkan walaupun Amerika Serikat harus menderita kerugian besar. Lee memerintahkan penarikan mundur Benham dan Gwin pada pukul 23.48.


Sambil berlayar melewati kawasan yang dipenuhi kapal-kapal perusak Amerika Serikat yang sedang tenggelam atau rusak, Washington menembakkan meriam sekunder ke arah Ayanami dan tepat mengenai sasaran. Ayanami terbakar. South Dakota yang berlayar di belakang Washington tiba-tiba mengalami serangkaian kegagalan sistem listrik. Menurut laporan, kepala teknisi South Dakota mematikan pemutus kalang ketika sedang memperbaiki sistem listrik. Tindakan tersebut melanggar prosedur keselamatan karena rangkaian listrik di South Dakota berulang-ulang mengalami hubungan seri. Sistem radar, radio, dan sebagian besar meriam di South Dakota menjadi tidak dapat dioperasikan. Walaupun demikian, South Dakota terus membuntuti Washington menuju sisi barat Kepulauan Savo hingga pukul 23.35 ketika Washington berbelok ke arah kiri berlayar ke arah selatan di balik kapal-kapal perusak yang sedang terbakar. South Dakota mencoba mengikuti tetapi harus belok kanan untuk menghindari kapal perusak Benham yang sedang terbakar. Nyala api menerangi sosok South Dakota hingga dijadikan sasaran empuk kapal-kapal Jepang.

Dua kapal angkut Jepang mendarat di Guadalcanal dan terbakar pada 15 November 1942.

Setelah menerima laporan dari Ayanami dan kapal-kapal Jepang lainnya tentang hancurnya kapal-kapal perusak Amerika Serikat, Kondo memerintahkan armada bombardemen yang dipimpinnya untuk segera mendekati Guadalcanal. Kondo yakin kapal-kapal perang Amerika Serikat sudah dilumpuhkan. Dirinya tidak menyadari bahwa armadanya sedang berlayar untuk berhadapan dengan dua kapal tempur Amerika Serikat.

Bagaikan buta akibat radar yang tidak berfungsi dan sistem persenjataan primer dan sekunder yang mati, South Dakota diterangi lampu-lampu sorot Jepang. South Dakota dijadikan sasaran tembakan meriam dan torpedo dari sebagian kapal-kapal armada Jepang, termasuk dari Kirishima mulai pukul 00.00 tanggal 15 November. Walaupun sempat beberapa kali mengenai Kirishima, South Dakota dihantam 25 amunisi ukuran sedang dan satu amunisi ukuran besar. Walaupun beberapa di antaranya tidak meledak, serangan mengakibatkan lumpuhnya sistem komunikasi dan sistem kendali persenjataan yang tersisa. Sebagian dari dek atas South Dakota terbakar, dan para awak membawanya keluar dari arena pertempuran. Semua tembakan torpedo Jepang luput. Di kemudian hari Laksamana Lee menggambarkan dampak kumulatif kerusakan akibat tembakan yang mengenai South Dakota sebagai "membuat satu dari kapal tempur kita yang baru menjadi tuli, bodoh, buta, dan impoten." Korban di South Dakota, 39 awak tewas dan 59 terluka. South Dakota meninggalkan arena pertempuran pada pukul 00:17 tanpa meninggalkan pesan untuk Laksamana Lee, sambil diamati oleh Kondo dari kejauhan.

Kapal-kapal perang Jepang terus berkonsentrasi menembaki South Dakota dan tidak mendeteksi kedatangan Washington yang sedang mendekat dalam jarak 9,000 yard (8,2 km). Washington sudah sejak lama menemukan sasaran berukuran besar (Kirishima), tapi menahan diri untuk tidak mulai menembak karena ada kemungkinan kapal berukuran besar yang terlihat di radar adalah South Dakota. Manuver South Dakota tidak dapat dilacak oleh Washington karena kapal ini berada di daerah titik buta radar. Lee juga tidak berhasil melakukan kontak radio untuk mengetahui posisi South Dakota. Ketika kapal-kapal Jepang secara visual terlihat sedang menembaki South Dakota, maka jelas sudah pihak lawan dan kawan. Dari jarak dekat, Washington menembaki Kirishima dan segera mengenai sasaran. Setidaknya 9 tembakan meriam utama dan hampir 40 tembakan meriam sekunder menghantam Kirishima hingga rusak berat dan kebakaran terjadi di mana-mana. Bagian kapal yang berada di bawah air juga terkena hingga mengakibatkan bagian kemudi macet, dan Kirishima berputar-putar tanpa kendali ke arah lambung kiri.

Pada pukul 00.25, Kondo memerintahkan semua kapal-kapalnya untuk berkumpul dan menghancurkan kapal-kapal Amerika Serikat yang tersisa. Namun kapal-kapal Jepang masih tidak tahu lokasi Washington. Sementara itu, kapal-kapal Amerika Serikat lainnya sudah meninggalkan arena pertempuran. Washington dilayarkan dari arah barat laut menuju Kepulauan Russel untuk memancing kapal-kapal Jepang agar keluar dari Guadalkanal sehingga South Dakota yang rusak bisa diselamatkan. Washington akhirnya dipergoki kapal-kapal Jepang, namun berkat manuver yang lincah dari kapten Washington, semua serangan torpedo Jepang luput. Washington juga selamat dari kandas di laut dangkal. Pihak Jepang akhirnya yakin keadaan sudah aman bagi konvoi kapal angkut untuk melanjutkan pelayaran ke Guadalkanal (walaupun sepertinya mengabaikan ancaman serangan udara di pagi hari). Kondo memerintahkan kapal-kapalnya yang tersisa untuk memutuskan kontak dan mundur dari arena pertempuran sekitar pukul 01.04. Perintah ini dipatuhi sebagian besar kapal-kapal Jepang pada pukul 01.30.

Pascapertempuran

Kirishima dan Ayanami rusak parah hingga harus ditenggelamkan. Keduanya tenggelam pada pukul 03.25 tanggal 15 November. Uranami menolong awak yang selamat dari Ayanami. Kapal perusak Asagumo, Teruzuki, dan Samidare menolong sisa awak Kirishima. Dalam pertempuran ini, 242 pelaut Amerika dan 249 pelaut Jepang tewas. Pertempuran ini adalah salah satu dari hanya dua kali duel kapal tempur melawan kapal tempur dalam sejarah Perang Pasifik. Duel yang kedua terjadi di Selat Surigao selama Pertempuran Teluk Leyte.

Empat kapal angkut Jepang mendarat di pantai Tassafaronga, Guadalkanal pada pukul 04.00 tanggal 15 November. Tanaka dan kapal-kapal perusak yang mengawal segera berangkat, berlayar dengan kecepatan penuh di The Slot menuju perairan aman. Kapal-kapal angkut diserang mulai pukul 05.55 oleh pesawat-pesawat Amerika Serikat yang berpangkalan di Lanud Henderson dan dari tempat lainnya, dibantu tembakan artileri dari pasukan darat Amerika Serikat di Guadalkanal. Tidak lama kemudian, kapal perusak Meade tiba dan menembaki kapal-kapal angkut yang sedang mendarat di pantai serta kawasan sekitarnya. Serangan yang dilepaskan Meade mengakibatkan terbakarnya kapal-kapal angkut berikut peralatan yang belum sempat dibongkar. Hanya 2.000 hingga 3.000 prajurit Jepang yang diberangkatkan selamat tiba di Guadalkanal. Sebagian besar amunisi dan persediaan makanan mereka hancur.

Kegagalan Kondo menyelesaikan tugas menetralisasi Lanud Henderson serta mengamankan daerah pendaratan pasukan dan peralatan diterima Yamamoto dengan reaksi yang lebih lunak dibandingkan keputusan mundur dari arena pertempuran yang diambil oleh Abe. Hal ini mungkin disebabkan budaya kerja atau permainan politik di Angkatan Laut Kekaisaran. Kondo juga menjabat wakil komandan Armada Gabungan, anggota staf perwira berpangkat tinggi, sekaligus anggota faksi perwira elit kapal tempur Jepang. Sebaliknya, Abe hanyalah seorang perwira yang kariernya terus menanjak dari seorang spesialis kapal perusak. Laksamana Kondo tidak mendapat peringatan atau dialihkan tugasnya, melainkan diberi tugas sebagai komandan salah satu armada berukuran besar yang berpangkalan di Truk.

Arti Penting

Kegagalan pendaratan sebagian besar pasukan dan perlengkapan di Guadalkanal menghalangi kemampuan Jepang melakukan ofensif berikutnya untuk merebut Lanud Henderson. Angkatan Laut Jepang selanjutnya juga hanya bisa memasok kebutuhan pokok dan segelintir pasukan pengganti bagi tentara Jepang yang berada di Guadalkanal. Akibat ancaman terus menerus dari pesawat Sekutu yang berpangkalan di Lanud Henderson, dan kapal induk Amerika Serikat yang berdekatan, pihak Jepang hanya mengandalkan jalur transportasi Tokyo Ekspres untuk mengantarkan prajurit dan perbekalan bagi pasukan mereka di Guadalkanal. Pasokan perbekalan dan pasukan pengganti ternyata tidak cukup membantu pasukan Jepang yang sudah berada di Guadalkanal. Hingga 7 Desember 1942, pasukan Jepang di Guadalkanal kehilangan sekitar 50 prajurit per hari yang tewas akibat malnutrisi, penyakit, dan serangan udara dan darat Sekutu. Pada 12 Desember 1942, Angkatan Laut Jepang mengusulkan agar Guadalkanal ditinggalkan saja. Usulan ini awalnya mendapat tantangan dari pemimpin Angkatan Darat Jepang yang masih berharap Guadalkanal dapat direbut dari pihak Sekutu. Namun setelah mendapat persetujuan Kaisar Jepang, 31 Desember 1942, Markas Besar Umum Kekaisaran Jepang setuju untuk mengevakuasi semua tentara Jepang dari Guadalkanal, dan membentuk garis pertahanan baru untuk Kepulauan Solomon di New Georgia.

Salah satu rongsokan dari 4 kapal 
angkut Jepang yang mendarat dan 
hancur di Guadalkanal, 15 November
1942. Foto diambil setahun sesudah 
kejadian.
 
Pertempuran Laut Guadalkanal merupakan usaha terbesar sekaligus terakhir dari Jepang untuk merebut Guadalkanal atau menguasai laut sekitarnya. Sebaliknya, Angkatan Laut Amerika Serikat dapat mengirimkan pasokan bagi militer Amerika Serikat yang berada di Guadalkanal, kapan saja bila diperlukan, termasuk pendaratan dua divisi yang masih segar pada akhir Desember 1942. Ketidakmampuan Jepang untuk menetralisasi Lanud Henderson berakibat fatal bagi tentara Jepang yang berusaha memerangi usaha penaklukan Guadalkanal oleh pihak Amerika Serikat. Perlawanan terakhir Jepang di Guadalkanal berakhir pada 9 Februari 1943 dengan Operasi Ke yang sukses mengevakuasi sebagian besar pasukan Jepang yang masih selamat. Dimulai dari kemenangan Amerika Serikat di Guadalkanal dan tempat-tempat lainnya, pihak Sekutu terus berusaha memerangi Jepang yang berpuncak pada kekalahan Jepang dan berakhirnya Perang Dunia II. Presiden Amerika Serikat Franklin Roosevelt setelah mengetahui hasil pertempuran berkomentar, "Kelihatannya titik balik dalam perang ini telah tercapai."

Sejarawan Eric Hammel merangkum arti penting Pertempuran Laut Guadalkanal:

Pada 12 November 1942, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang memiliki kapal-kapal yang lebih baik dan strategi yang lebih bagus. Setelah 15 November 1942, para pemimpinnya kehilangan nyali dan kedalaman strategi untuk menghadapi Angkatan Laut Amerika Serikat yang makin kuat serta strategi dan senjata yang makin bagus. Setelah November 1942, pihak Jepang tidak pernah menjadi lebih baik sementara Angkatan Laut Amerika Serikat tidak pernah berhenti menjadi lebih baik.

Jenderal Alexander Vandegrift yang bertugas sebagai komandan pasukan di Guadalkanal mengenang para pelaut yang gugur:

Kami percaya pihak musuh secara tidak diragukan lagi telah kalah total. Kami berterima kasih kepada Laksamana Kinkaid untuk intervensinya kemarin. Kami berterima kasih kepada Lee atas usaha gigihnya tadi malam. Pesawat-pesawat yang kita miliki telah berjaya dalam usaha yang tidak kenal letih menyerang para musuh. Kami berterima kasih kepada para rekan-rekan atas usahanya, namun penghormatan yang terbesar kami berikan kepada Callaghan, Scott, dan anak buahnya yang dengan keberanian luar biasa menghalau serangan pertama musuh yang sepertinya tidak mungkin ditangkal, dan membuka jalan untuk kesuksesan berikutnya. Untuk mereka, kami awak Angkatan Udara Kaktus mengangkat helm kami yang compang-camping dengan rasa hormat yang paling dalam.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Pertempuran Laut Guadalkanal kadang-kadang disebut Pertempuran Kepulauan Savo Ketiga dan Keempat, Pertempuran Solomon, atau menurut sumber Jepang sebagai Pertempuran Laut Solomon Ketiga (第三次ソロモン海戦, Dai Sanji Solomon Kaisen?) 12 November-15 November 1942 adalah pertempuran menentukan dalam serangkaian pertempuran laut antara Sekutu (terutama Amerika Serikat) dan Angkatan Bersenjata Kekaisaran Jepang dalam kampanye militer Guadalkanal yang berlangsung berbulan-bulan di Kepulauan Solomon. Pertempuran laut ini melibatkan kapal-kapal dan pesawat tempur selama lebih dari empat hari, sebagian besar terjadi di dekat Guadalkanal. Penyebab pertempuran adalah usaha Jepang mengirimkan bala bantuan bagi pasukan darat yang berusaha merebut kembali Guadalkanal.

Asap mengepul dari dua pesawat tempur Jepang yang ditembak jatuh di Guadalkanal, 12 November 1942. Difoto dari USS President Adams. Kapal di sebelah kanan adalah USS Betelgeuse.

Pasukan Sekutu yang sebagian besar adalah pasukan Amerika Serikat, telah mendarat di Guadalkanal pada 7 Agustus 1942, dan berhasil merebut sebuah lapangan udara yang kemudian disebut Lapangan Udara Henderson. Ketika direbut pihak Sekutu, lapangan udara ini sedang dibangun oleh tentara Jepang. Beberapa kali usaha Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang untuk merebut kembali Lapangan Udara Henderson gagal walaupun sudah dibantu pasukan tambahan yang didatangkan ke Guadalkanal lewat laut. Dalam usaha berikutnya untuk merebut lapangan udara, Jepang pada awal November 1942 mengirimkan konvoi kapal angkut yang membawa 7.000 prajurit infanteri dan peralatannya ke Guadalkanal. Beberapa kapal perang Jepang ditugaskan untuk melakukan bombardemen terhadap Lapangan Udara Henderson dengan tujuan menghancurkan pesawat tempur Sekutu yang mengancam konvoi kapal Jepang. Setelah rencana Jepang diketahui Sekutu, kapal-kapal perang dan pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat mulai melancarkan serangan terhadap konvoi kapal Jepang.

Pertempuran berakhir dengan kerugian besar bagi kedua belah pihak. Sejumlah kapal perang tenggelam dalam dua kali pertempuran laut di malam hari. Amerika Serikat menderita kerugian dan kerusakan lebih parah daripada Jepang. Namun Amerika Serikat berhasil menghalau bombardemen kapal-kapal perang Jepang terhadap Lapangan Udara Henderson. Serangan udara pesawat tempur Sekutu juga menenggelamkan sebagian besar dari kapal angkut pasukan dan menghalangi usaha Jepang mendaratkan sebagian besar pasukan dan peralatan di Guadalkanal. Pertempuran ini mengandaskan usaha terakhir Jepang mengusir tentara Sekutu dari Guadalkanal dan Pulau Tulagi yang berdekatan, dan berakibat pada kemenangan strategis bagi militer Amerika Serikat dan sekutunya, serta menentukan hasil akhir kampanye militer Guadalkanal sebagai kemenangan Sekutu.

Latar Belakang

Kampanye militer Guadalkanal yang berlangsung enam bulan, dimulai 7 Agustus 1942 ketika tentara Sekutu (sebagian besar tentara Amerika Serikat) mendarat di Guadalkanal, Tulagi, dan Kepulauan Florida di Kepulauan Solomon yang waktu itu merupakan koloni Kerajaan Bersatu. Pendaratan Sekutu dimaksudkan untuk menghalangi Jepang menggunakan pulau-pulau tersebut sebagai pangkalan untuk mengancam rute pengiriman perlengkapan militer antara Amerika Serikat dan Australia, serta mengamankan pulau-pulau tersebut sebagai titik awal operasi militer untuk membungkam pangkalan militer utama Kekaisaran Jepang di Rabaul dan mendukung kampanye militer Nugini. Jepang telah menduduki Tulagi pada Mei 1942 dan mulai membangun sebuah lapangan udara di Guadalkanal pada Juni 1942.

Pemandangan Lanud Henderson dari udara, akhir Agustus 1942. Di timur laut terlihat Sungai Lunga dan Tanjung Lunga.

Pada 8 Agustus 1942, ketika malam tiba, 11.000 prajurit Sekutu berhasil merebut Tulagi, pulau-pulau kecil yang berdekatan dan sebuah lapangan udara yang sedang dalam penyelesaian di Tanjung Lunga, Guadalkanal (nantinya disebut Lapangan Udara Henderson). Pesawat terbang Sekutu yang beroperasi dari Henderson disebut "Angkatan Udara Kaktus" (Cactus Air Force, disingkat CAF) yang diambil dari kode Sekutu untuk Guadalkanal. Sebagai perlindungan dari serangan Jepang, Marinir Amerika Serikat membangun pertahanan batas luar di sekeliling Tanjung Lunga. Tambahan pasukan yang datang dua bulan berikutnya meningkatkan kekuatan militer Amerika Serikat di Tanjung Lunga menjadi lebih dari 20.000 prajurit. Sebagai balasan, Markas Besar Kekaisaran Jepang menugaskan Korps XVII Angkatan Darat Kekaisaran di Rabaul di bawah komando Letnan Jenderal Harukichi Hyakutake untuk merebut kembali Guadalkanal. Unit-unit dari Korps XVII mulai tiba di Guadalkanal pada 19 Agustus 1942 untuk mengusir Sekutu.

Ancaman dari pesawat-pesawat Angkatan Udara Kaktus yang berpangkalan di Lanud Henderson membuat kapal angkut pasukan yang besar namun lambat tidak dapat digunakan Jepang untuk mengirimkan pasukan bala bantuan ke Guadalkanal. Sebagai gantinya, Jepang menggunakan kapal-kapal perang yang berpangkalan di Rabaul dan Kepulauan Shortland. Kapal-kapal perang Jepang sebagian besar terdiri dari kapal penjelajah ringan atau kapal perusak dari Armada VIII di bawah komando Laksamana Madya Gunichi Mikawa. Kapal-kapal perang Armada VIII biasanya dapat melakukan perjalanan bolak-balik antara "The Slot" dan Guadalkanal hanya dalam semalam (mulai dari terbenam hingga terbitnya matahari), sehingga memperkecil kemungkinan serangan udara dari CAF. Transportasi pasukan secara tergesa-gesa ini tidak memungkinkan diangkutnya peralatan berat dan logistik seperti artileri berat, kendaraan, dan sebagian besar makanan dan amunisi ke Guadalkanal. Pengangkutan pasukan Jepang dengan kapal-kapal perang berkecepatan tinggi yang bolak-balik di Selat New Georgia selama perang berlangsung nantinya disebut pihak Sekutu sebagai "Tokyo Ekspres", namun disebut Jepang sebagai "Angkutan Tikus".

Usaha pertama Jepang merebut Lanud Henderson gagal. Pasukan Jepang yang terdiri 917 prajurit kalah dalam Pertempuran Tenaru 21 Agustus 1942. Usaha berikutnya pada 12-14 September 1942 juga berakhir dengan kekalahan 6.000 prajurit di bawah komando Mayor Jenderal Kiyotake Kawaguchi di Pertempuran Edson Ridge. Pada Oktober 1942, Jepang sekali lagi berusaha merebut Lanud Henderson dengan mengirim 15.000 prajurit angkatan darat yang sebagian besar berasal dari Divisi II Infanteri ke Guadalkanal. Selain mengangkut pasukan dan peralatan lewat jalur Tokyo Ekspres, Jepang juga berhasil mengirimkan sebuah konvoi besar yang terdiri dari kapal-kapal angkut ukuran besar yang lebih lambat. Terbukanya kemungkinan mengirimkan konvoi kapal besar terjadi setelah Lanud Henderson rusak akibat bombardemen dua kapal tempur Jepang pada malam 14 Oktober 1942. Landas pacu rusak berat, setengah dari pesawat CAF hancur, dan sebagian besar persediaan avtur terbakar. Walaupun rusak berat, dua landas pacu Lanud Henderson segera bisa kembali difungsikan oleh personel Lanud Henderson. Pesawat pengganti dan bahan bakar juga didatangkan kembali sehingga kekuatan Angkatan Udara Kaktus (CAF) pulih secara bertahap dalam beberapa minggu.

Usaha berikutnya dari Jepang untuk mengambil alih Guadalcanal dilakukan pasukan yang tiba antara 20 Oktober dan 26 Oktober 1942. Mereka akhirnya kalah dengan kerugian besar dalam Pertempuran Lapangan Udara Henderson. Pada saat yang bersamaan, Laksamana Isoroku Yamamoto (komandan Armada Gabungan Jepang) mengalahkan kekuatan laut Amerika Serikat dalam Pertempuran Kepulauan Santa Cruz dan Amerika Serikat terusir dari kawasan tersebut. Namun demikian, kapal-kapal induk Jepang terpaksa mundur karena karamnya kapal induk pengangkut pesawat dan para awak pesawat. Kapal-kapal armada Yamamoto kembali ke Rabaul dan pangkalan utama di Truk, Mikronesia yang sekaligus markas besar Isoroku Yamamoto. Tiga kapal induk kembali ke Jepang untuk perbaikan dan pengisian perlengkapan.

Angkatan Darat Jepang berencana melakukan serangan sekali lagi ke Guadalkanal pada November 1942, namun butuh bala bantuan lebih banyak lagi sebelum operasi bisa dimulai. Angkatan Darat Jepang meminta bantuan Yamamoto untuk mengangkut pasukan bantuan ke Guadalkanal dan mendukung ofensif ke kubu-kubu Sekutu yang menjaga Lanud Henderson. Yamamoto bersedia dan menyediakan 11 kapal angkut ukuran besar untuk membawa 7.000 prajurit angkatan darat dari Divisi Infanteri XXXVIII, amunisi, makanan, dan peralatan berat dari Rabaul ke Guadalkanal. Ia juga mengirimkan dukungan kapal perang yang terdiri dari dua kapal tempur dari Truk, 9 November 1942. Dua kapal tempur tersebut, Hiei dan Kirishima dilengkapi dengan selongsong yang dapat terfragmentasi ketika mengenai sasaran. Menurut rencana, Hiei dan Kirishima pada 12-13 November akan melakukan bombardemen terhadap Lanud Henderson hingga binasa, termasuk semua pesawat yang ada. Setelah Lanud Henderson hancur, kapal angkut berat yang berkecepatan rendah bisa tiba di Guadalkanal dan membongkar muatan pada keesokan harinya. Armada kapal angkut tersebut dikomandani dari atas Hiei oleh Laksamana Madya Hiroaki Abe yang baru saja menerima kenaikan pangkat.

Akibat ancaman terus-menerus dari skuadron pesawat dan armada Jepang, pihak Sekutu tidak dapat mengirimkan perbekalan untuk pasukan mereka di Guadalkanal yang sering diserang Jepang dari darat dan laut. Pada awal November 1942, rencana Jepang untuk mengambil alih Lanud Henderson bocor ke intelijen Sekutu. Amerika Serikat mengirimkan Gugus Tugas 67 ke Guadalkanal dalam bentuk konvoi bala bantuan dan logistik yang dibagi menjadi dua gugus di bawah komando Laksamana Muda Richmond K. Turner pada 11 November 1942. Kapal logistik dilindungi dua gugus tugas di bawah komando Laksamana Muda Daniel J. Callaghan dan Laksamana Muda Norman Scott, serta pesawat-pesawat tempur dari Lanud Henderson di Guadalkanal. Kapal-kapal angkut ini berkali-kali dijadikan sasaran oleh pesawat Jepang dari pangkalan udara di Buin, Bougainville, Kepulauan Solomon pada 11 November-12 November ketika berada di dekat Guadalkanal. Walaupun demikian, kapal-kapal Amerika Serikat sebagian besar dapat membongkar muatannya tanpa kerusakan serius. Dua belas pesawat Jepang ditembak jatuh oleh senjata antipesawat yang ditembakkan dari kapal-kapal Amerika Serikat atau oleh pesawat tempur yang berbasis di Lanud Henderson.

Pertempuran Laut Guadalkanal I, 13 November

Persiapan
Kapal-kapal perang dari armada Abe berkumpul 70 mil (110 km) sebelah utara Selat Indispensable, dan melaju menuju Guadalkanal, tanggal 12 November 1942, dengan perkiraan waktu kedatangan pada pagi hari 13 November. Konvoi kapal-kapal angkut berkecepatan rendah ini dikawal 12 kapal perusak di bawah komando Raizo Tanaka mulai melintasi "The Slot" (Selat New Georgia) dari Shortlands dengan perkiraan waktu kedatangan di Guadalkanal kira-kira malam 13 November. Selain dua kapal tempur, armada Abe mengajak kapal penjelajah ringan Nagara dan 11 kapal perusak: Samidare, Murasame, Asagumo, Teruzuki, Amatsukaze, Yukikaze, Ikazuchi, Inazuma, Akatsuki, Harusame, dan Yudachi. Tiga kapal perusak lainnya (Shigure, Shiratsuyu, dan Yugure) disiapkan di Kepulauan Russell untuk memberi perlindungan dari belakang ketika Abe dan armadanya menyerang masuk ke "Selat Ironbottom" di pesisir utara Guadalkanal. Pesawat pengintai Amerika Serikat menemukan armada Jepang sedang mendekat dan memperingatkan markas komando Sekutu. Turner bereaksi dengan mengirimkan semua kapal perang yang dapat dipakai untuk menjaga daerah lepas pantai dari serangan laut dan pendaratan pasukan Jepang. Kapal berisi perbekalan dimintanya meninggalkan Guadalkanal, senja hari 12 November. Callaghan ditunjuk sebagai komandan gabungan karena lebih senior beberapa hari dibandingkan Scott yang lebih berpengalaman. Callaghan menyiapkan kapal-kapalnya untuk berperng melawan kapal-kapal Jepang pada malam itu di selat. Armada Callaghan terdiri dari dua kapal penjelajah berat (San Francisco dan Portland), tiga kapal penjelajah ringan (Helena, Juneau, dan Atlanta), serta delapan kapal perusak: Cushing, Laffey, Sterett, O'Bannon, Aaron Ward, Barton, Monssen, dan Fletcher. Pusat komando Laksamana Callaghan berada di atas kapal penjelajah San Francisco.

Mendekati Guadalkanal, armada Jepang diterpa hujan badai mendadak yang lebat dan kencang. Kerumitan formasi yang melibatkan kapal dalam jumlah banyak, berikut perintah membingungkan dari Abe menyebabkan armada terpecah menjadi beberapa kelompok. Armada Amerika Serikat melaju dalam satu lajur di Selat Ironbottom. Kapal perusak mengawal di depan dan belakang; kapal penjelajah berada di tengah-tengah konvoi. Lima kapal dilengkapi radar SG yang jauh lebih unggul. Di bagian depan konvoi, Callaghan tidak menempatkan kapal-kapal yang dilengkapi radar SG, dan tidak pula menunjuk salah satu kapal sebagai kapal pemimpin. Ia tidak juga mengeluarkan strategi tempur kepada para komandan masing-masing kapal.

Bentrokan
Pada 13 November sekitar pukul 01.25 di tengah malam yang gelap dan kelam karena cuaca buruk dan Bulan gelap, kapal-kapal armada Jepang memasuki selat antara Kepulauan Savo dan Guadalkanal, siap memulai bombardemen ke Lanud Henderson. Radar di beberapa kapal Amerika Serikat mendeteksi kedatangan kapal Jepang sejak pukul 01.24, namun menemui kesulitan mengontak Callaghan karena perangkat radio kapal yang bermasalah dan kurangnya disiplin dalam prosedur komunikasi. Beberapa menit kemudian, kedua belah pihak, hampir pada saat yang bersamaan dapat saling melihat secara visual. Namun Abe dan Callaghan keduanya ragu memerintahkan kapal-kapal mereka untuk membuka tembakan. Abe kemungkinan terkejut setelah melihat kapal-kapal Amerika Serikat sudah demikian dekatnya, dan tidak dapat memutuskan apakah dirinya harus terus melaju atau memberi perintah kepada para petugas meriam untuk mengganti amunisi bombardemen darat dengan amunisi antikapal. Ia memutuskan untuk terus melaju. Callaghan kelihatannya berusaha mengadangi kapal-kapal Jepang dengan taktik pertempuran laut Crossing the T seperti dilakukan Scott di Pertempuran Tanjung Esperance. Namun bingung dengan informasi tidak lengkap yang diterimanya, ditambah situasi kapal-kapal Jepang yang terpencar dalam beberapa kelompok, Callaghan mulai memberi perintah-perintah manuver yang membingungkan. Formasi kapal-kapal Amerika Serikat menjadi berantakan. Perintah Callaghan untuk mulai menembak menjadi tertunda, karena pertama-tama ia harus tahu persis lokasi kapal-kapal dalam armadanya. Sementara itu, formasi kapal-kapal kedua belah pihak mulai saling bercampur. Komandan kedua belah pihak di atas masing-masing kapal dengan cemas menanti perintah untuk memulai tembakan.

Pukul 01.48, Akatsuki dan Hiei menyalakan lampu sorotnya yang besar dan ternyata menerangi Atlanta yang terpisah hanya 3,000 yard (2,7 km). Bila ditembak dengan artileri laut hampir pasti tepat mengenai sasaran. Beberapa kapal dari kedua belah pihak secara spontan saling menembak. Sadar kapal-kapalnya hampir dikelilingi kapal-kapal Jepang, Callaghan mengeluarkan perintah, "Kapal-kapal bernomor ganjil menembak ke lambung kanan kapal, kapal-kapal bernomor genap menembak ke lambung kiri kapal." Sebagian besar kapal-kapal Amerika Serikat lainnya ikut membuka tembakan, walaupun beberapa di antaranya harus dengan segera mengganti sasaran sesuai perintah Callaghan. Setelah posisi kapal-kapal kedua belah pihak saling bercampur, mereka saling menembaki dari jarak dekat, dalam kebingungan dan kekacauan. Seorang perwira di atas kapal Monssen mengibaratkan pertempuran seperti "gontok-gontokan di bar gelap sesudah lampu mati karena ditembak".

Paling sedikit enam kapal-kapal Amerika, termasuk Laffey, O'Bannon, Atlanta, San Francisco, Portland, dan Helena menembaki Akatsuki yang tidak sengaja menarik perhatian dengan lampu sorot yang menerangi kapal sendiri. Akatsuki berulang-ulang terkena tembakan, meledak dan tenggelam dalam beberapa menit. Kapal penjelajah Atlanta yang berada paling depan dalam formasi kapal-kapal Amerika Serikat dijadikan sasaran tembakan dan torpedo dari sejumlah kapal-kapal Jepang, termasuk mungkin dari Nagara, Inazuma, Ikazuchi, dan juga Akatsuki. Tembakan meriam menyebabkan kerusakan besar di Atlanta, dan sebuah torpedo tipe 93 menghantam kamar mesin hingga mesin dan listrik mati. Atlanta terseret arus hingga terbawa ke daerah sasaran tembakan San Francisco, dan tidak sengaja tertembak hingga makin rusak, serta menewaskan Laksamana Scott bersama sebagian besar awak di anjungan. Akibat mesin dan listrik yang mati, Atlanta tidak dapat balas menembak, hanyut tidak terkendali hingga keluar dari arena pertempuran, dan dilewati oleh kapal-kapal Jepang yang lain. Kapal perusak Cushing yang memimpin armada Amerika Serikat juga saling bertukar tembakan dengan beberapa kapal perusak Jepang (kemungkinan dengan Nagara). Akibatnya, Cushing rusak berat dan tidak bergerak lagi.

Sasaran tembakan sejumlah besar kapal-kapal Amerika Serikat adalah Hiei karena diterangi sembilan lampu sorot yang dibawanya, ukuran yang sangat besar, dan arah manuver yang membawanya ke formasi armada musuh. Laffey melaju begitu dekatnya dengan Hiei. Keduanya hanya terpisah 20 kaki (6,1 m) dan hampir bertabrakan. Moncong meriam primer dan meriam sekunder di atas Hiei tidak dapat diturunkan cukup rendah untuk bisa menembak ke arah Laffey. Sebaliknya, Laffey bisa mengenai bangunan atas kapal Hiei dengan selongsong 5-inci (130 mm) dan tembakan senapan mesin. Anjungan dan bangunan atas kapal Hiei rusak berat dan melukai Laksamana Abe, dan menewaskan kepala stafnya. Luka-luka yang diderita Abe mengurangi kemampuan dirinya untuk memberi komando kapal-kapal dalam armadanya. Dari jarak dekat, dua kapal perusak, Sterett dan O'Bannon menembakkan beberapa kali salvo ke bangunan atas kapal Hiei. Sebelum melarikan diri ke dalam kegelapan, keduanya mungkin sempat menyarangkan satu atau dua buah torpedo ke bagian lambung kapal Hiei hingga makin memperparah kerusakan.

Setelah tidak dapat menembakkan meriam primer dan sekunder ke tiga kapal perusak, Hiei mengincar San Francisco yang berjarak hanya sekitar 2,500 yard (2,3 km). Hiei bersama tiga kapal lainnya, Kirishima, Inazuma, dan Ikazuchi berulang-ulang menghantam San Francisco hingga melumpuhkan sistem kendali dan menewaskan Laksamana Callaghan, Kapten Cassin Young, dan sebagian besar awak anjungan. Beberapa tembakan salvo yang pertama dari Hiei dan Kirishima memakai selongsong bombardemen yang bisa pecah berkeping-keping hingga mengurangi kerusakan bagian dalam di San Francisco, dan menyebabkannya tidak langsung tenggelam. Awak dua kapal tempur Jepang tidak menyangka akan terjadi pertempuran antarkapal, dan mereka perlu waktu beberapa menit untuk mengganti dengan amunisi penembus lapis baja. Walaupun demikian, San Francisco yang hampir-hampir tidak dapat membela diri lagi, dapat langsung berlayar keluar dari maut. Sebelumnya, sewaktu saling bertukar tembakan, San Francisco sempat mendaratkan satu selongsong di ruang kendali Hiei hingga banjir kemasukan air laut. Generator power steering mengalami korsleting hingga sistem kendali Hiei rusak berat. Helena membuntuti San Francisco, dan berusaha melindungi San Francisco dari kerusakan lebih lanjut.

Dua kapal perusak Amerika Serikat (Cushing dan Laffey) tamat riwayatnya dengan segera. Cushing yang sedang terombang-ambing dijadikan sasaran tembakan dari Nagara atau kapal perusak Teruzuki dan Yukikaze. Akibatnya semua sistem di atas Cushing lumpuh. Awak Cushing akhirnya meninggalkan kapal karena sudah tidak lagi mampu membalas. Beberapa jam kemudian, Cushing karam. Setelah bertempur melawan Hiei, Laffey melarikan diri namun bertemu dengan Asagumo, Murasame, Samidare, dan mungkin Teruzuki. Secara berulang-ulang, kapal-kapal perusak Jepang menghantam Laffey dengan tembakan dan menyarangkan sebuah torpedo yang mematahkan bagian lunas kapal. Beberapa menit kemudian, kebakaran mencapai ruang amunisi. Laffey meledak dan tenggelam.

Setelah membantu menenggelamkan Akatsuki, Portland dihantam sebuah torpedo dari Inazuma atau Ikazuchi, menyebabkan kerusakan berat pada bagian buritan dan membuatnya berlayar berputar-putar. Setelah menyelesaikan satu kali putaran, Portland melepaskan lima tembakan salvo ke arah Hiei namun tidak mengambil bagian lebih jauh dalam pertempuran. Yudachi dan Amatsukaze secara terpisah menyerang lima kapal paling belakang dalam formasi Amerika Serikat. Dua buah torpedo dari Amatsukaze menghantam Barton dan segera menenggelamkannya dengan kerugian jiwa yang besar. Yudachi menghantam Juneau dengan sebuah torpedo hingga mematikan seluruh sistem di kapal. Juneau berbelok ke arah timur dan perlahan meninggalkan arena pertempuran. Monssen menghindari bangkai Barton dan terus melaju mencari sasaran. Namun dipergoki Asagumo, Murasame, dan Samidare yang baru selesai menghancurkan Laffey. Monssen dihujani tembakan dari Asagumo, Murasame, dan Samidare hingga rusak berat dan ditinggalkan para awak kapal sebelum tenggelam tidak lama kemudian.

Amatsukaze mendekati San Francisco dengan maksud menghabisinya sekaligus. Namun akibat terlalu memusatkan perhatian kepada San Francisco, awak Amatsukaze menjadi lengah. Mereka tidak menyadari kedatangan Helena sebelum dihantam serangkaian tembakan jarak dekat dari sisi kapal Helena hingga Amatsukaze rusak berat dan tidak lagi melakukan perlawanan. Dibantu tebalnya tabir asap, Amatsukaze yang rusak berat melarikan diri, sementara perhatian awak Helena beralih kepada serangan yang datang dari Asagumo, Murasame, dan Samidare. Aaron Ward dan Sterett masing-masing sedang mencari sasaran ketika keduanya menemukan Yudachi yang tidak menyadari dua kapal perusak Amerika Serikat sedang mendekat. Kedua kapal Amerika Serikat secara simultan menghantam Yudachi dengan tembakan meriam dan torpedo. Walaupun ternyata tidak langsung tenggelam, Yudachi sudah rusak berat hingga awaknya terpaksa meninggalkan kapal. Ketika sedang mencari sasaran lain, Sterett tiba-tiba diserang dari belakang oleh Teruzuki hingga rusak berat dan terpaksa berlayar keluar dari arena pertempuran ke arah utara. Aaron Ward terlibat duel satu lawan satu dengan Kirishima hingga rusak berat dan akhirnya mencoba melarikan diri ke timur. Namun ternyata kapal tidak lagi dapat dilayarkan karena mesin kapal rusak. Robert Leckie, Prajurit II Marinir di Guadalkanal menulis tentang situasi pertempuran yang dialaminya,

Peluru suar beterbangan, menakutkan dan merah. Peluru pengarah membentuk lengkungan berwarna oranye, berkilat-kilat di tengah malam. ... laut bagaikan sehelai obsidian yang dipoles, kapal-kapal perang bagaikan dijatuhkan di atasnya dan tidak bisa bergerak, dikelilingi lingkaran-lingkaran konsentris bagaikan gelombang kejut yang terbentuk sekeliling sebuah batu yang dijatuhkan di lumpur.

Setelah hampir 40 menit berlangsung pertempuran brutal dalam jarak dekat, kedua belah pihak menghentikan pertempuran pada pukul 02.26 setelah Abe dan Kapten Gilbert Hoover (kapten Helena dan perwira senior Amerika Serikat yang waktu itu masih hidup) memerintahkan anak buahnya berhenti menembak. Laksamana Abe menderita kerugian satu kapal tempur (Kirishima), satu kapal penjelajah ringan (Nagara) dan empat kapal perusak (Asagumo, Teruzuki, Yukikaze, dan Harusame) yang rusak ringan, serta empat kapal perusak (Inazuma, Ikazuchi, Murasame, dan Samidare) yang rusak sedang. Kapal dari pihak Amerika Serikat yang masih dapat memberikan perlawanan hanyalah kapal penjelajah ringan (Helena) dan satu kapal perusak (Fletcher). Laksamana Abe mungkin tidak tahu bahwa dirinya sudah dalam keadaan bebas untuk memulai bombardemen ke Lanud Henderson, menghabisi semua kekuatan laut Amerika Serikat, dan membuka jalan bagi pendaratan pasukan Jepang beserta peralatannya untuk mendarat dengan selamat di Guadalkanal.

Walaupun demikian, pada saat yang kritis, Laksamana Abe justru memutuskan untuk membatalkan misi dan meninggalkan arena pertempuran. Menurut perkiraan, keputusan Abe didasarkan pada beberapa alasan. Sebagian besar dari amunisi khusus yang dibawa untuk bombardemen ke Lanud Henderson sudah habis dipakai dalam pertempuran. Kematian beberapa orang staf dan luka-luka yang dideritanya diperkirakan mempengaruhi kemampuan Laksamana Abe dalam mengambil keputusan. Kemungkinan, ia juga tidak tahu pasti jumlah kapal-kapal miliknya yang tersisa dan jumlah kapal-kapal Amerika Serikat yang masih dapat bertempur. Hal ini disebabkan Hiei mengalami kerusakan sistem komunikasi. Selain itu, kapal-kapal dalam armadanya juga berada dalam posisi terpencar. Abe butuh waktu untuk mengatur posisi kapal-kapalnya sebelum secara terkoordinasi dapat meneruskan misi bombardemen Lanud Henderson dan menyerang kapal-kapal Amerika Serikat yang tersisa. Apa pun alasannya, Abe memerintahkan kapal-kapalnya untuk berhenti menembak dan mundur, sementara Yukikaze dan Teruzuki tetap berada di belakang untuk membantu Hiei. Awak Yudachi yang selamat dipunguti Samidare dari tengah laut pada pukul 03.00 sebelum terus berlayar ke arah utara bersama kapal-kapal Jepang lainnya.

Pascapertempuran
Pukul 03.00, tanggal 13 November 1942, Laksamana Yamamoto menunda rencana pendaratan kapal angkut. Kapal-kapan angkut dipulangkan ke Kepulauan Shortlands untuk menunggu perintah selanjutnya. Saat terang tanah, tiga kapal Jepang yang rusak (Hiei, Yudachi, dan Amatsukaze) dan tiga kapal Amerika Serikat yang rusak (Portland, Atlanta, dan Aaron Ward) terlihat secara visual di dekat Kepulauan Savo. Ketika sedang mengundurkan diri berlayar menuju Truk, Amatsukaze diserang pesawat pengebom tukik Amerika Serikat. Namun Amatsukaze lolos tanpa kerusakan lebih lanjut, dan bisa kembali bertugas beberapa bulan kemudian. Yudachi yang sudah ditinggalkan para awaknya akhirnya ditenggelamkan oleh Portland yang persenjataannya masih berfungsi walaupun bagian kapal yang lain mengalami kerusakan. Kapal tunda Bobolink berkeliling sekitar Selat Ironbottom sepanjang hari 13 November membantu kapal-kapal Amerika Serikat yang rusak, memunguti awak kapal Amerika Serikat yang selamat dari laut, dan menurut laporan, menembaki awak kapal Jepang yang selamat di laut.

Portland sedang diperbaiki di dok kering di Sydney, Australia, sebulan setelah pertempuran.

Hiei dijadikan bulan-bulanan oleh pesawat angkut torpedo TBF Avenger Marinir Amerika Serikat yang berpangkalan di Lanud Henderson, pesawat TBF Avenger dan pesawat pengebom tukik SBD Dauntless dari Enterprise yang berangkat dari Nouméa pada 11 November, dan pesawat-pesawat pengebom B-17 Flying Fortress dari Unit Bombardemen Berat XI Korps Penerbangan Angkatan Darat Amerika Serikat yang berpangkalan di Espiritu Santo. Abe dan para staf diungsikan ke Yukikaze pada pukul 08.15. Kirishima diperintahkan Abe untuk menarik Hiei sambil mendapat perlindungan dari Nagara dan beberapa kapal perusak, namun usaha tersebut dibatalkan mengingat kemungkinan serangan dari kapal selam. Lagi pula Hiei sudah makin tidak laik laut. Setelah makin rusak parah akibat serangan udara, Hiei karam di barat laut Kepulauan Savo, dan mungkin sengaja ditenggelamkan oleh para awak yang tersisa, di akhir senja 13 November.

Portland, San Francisco, Aaron Ward, Sterett, dan O'Bannon akhirnya selamat kembali ke pelabuhan di garis belakang untuk direparasi. Namun Atlanta karam dekat Guadalkanal pada 13 November pukul 20.00. Masih pada hari yang sama, Juneau berangkat dari kawasan Kepulauan Solomon bersama-sama San Francisco, Helena, Sterret, dan O'Bannon, namun Juneau karam terkena torpedo yang ditembakkan kapal selam Jepang I-26. Lebih dari 100 awak kapal Juneau yang selamat (dari 650 total awak kapal) dibiarkan terapung-apung selama 8 hari di laut terbuka hingga datang pesawat penyelamat yang tiba sangat terlambat. Kecuali 10 orang yang selamat, awak kapal Juneau yang menanti datangnya pertolongan sudah lebih dulu tewas akibat luka-luka, ganasnya laut, atau disantap ikan hiu. Di antara korban tewas terdapat 5 kakak beradik Sullivan. Akibat kacaunya jalan pertempuran, pihak Amerika Serikat percaya bahwa mereka telah menenggelamkan 7 kapal Jepang. Selain itu, kapal-kapal Jepang juga mengundurkan diri dari arena sehingga pihak Amerika Serikat percaya mereka telah memenangkan pertempuran dengan kerugian besar di pihak Jepang. Setelah perang berakhir, Amerika Serikat baru mengetahui bahwa pihaknya menderita kekalahan total dalam strategi.

Walaupun demikian, sebagian besar sejarawan sepertinya sepakat bahwa keputusan mundur Laksamana Abe ternyata mengubah kekalahan strategi Amerika Serikat menjadi kemenangan strategis. Lanud Henderson tetap beroperasi. Pesawat-pesawat tempur yang berpangkalan di sana siap sedia menyerang kapal angkut Jepang yang mendekat ke Guadalkanal berikut muatannya yang berharga. Selain itu, Jepang kehilangan kesempatan untuk menghabisi kekuatan laut Amerika Serikat di Guadalkanal yang bila memang dapat dihancurkan oleh Jepang, Amerika Serikat perlu waktu cukup lama untuk pulih. Laksamana Yamamoto dilaporkan sangat marah. Abe dibebastugaskan, dan di kemudian hari dipaksa untuk pensiun dari militer. Sebenarnya Yamamoto lebih marah karena kehilangan kapal tempur (Hiei), bukan karena misi dibatalkan atau kegagalan Abe dalam menghancurkan seluruh kapal-kapal Amerika Serikat di Guadalkanal. Beberapa saat sebelum tengah hari, Yamamoto memerintahkan Laksamana Madya Nobutake Kondo yang memimpin Armada Kedua di Truk untuk membentuk unit bombardemen baru. Dengan Kirishima sebagai inti, unit baru ini diperintahkannya untuk menyerang Lanud Henderson pada malam 14–15 November 1942. Total kerugian pihak Amerika Serikat 1.439 tewas, termasuk korban tenggelamnya Juneau. Pihak Jepang menderita antara 550 hingga 800 tewas. Sejarawan Richard B. Frank yang menganalisis dampak pertempuran berkata,

Pertempuran ini tidak diragukan lagi sebagai pertarungan yang membingungkan dari jarak dekat dan penuh kemarahan. Tapi hasilnya tidak jelas. Pengorbanan Callaghan dan gugus tugasnya tidak sia-sia, berkat mereka Lanud Henderson selamat pada malam itu. Pengorbanan mereka berhasil menunda bila tidak dikatakan menghentikan pendaratan bala bantuan Jepang dalam jumlah besar, dan serangan besar-besaran Armada Gabungan (Jepang) yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bentrokkan di Tempat lain, 13-14 November

Walaupun bala bantuan untuk Guadalkanal menjadi tertunda, Jepang masih ingin mencoba menyelesaikan misi yang direncanakan sebelumnya, walaupun lebih lambat sehari dari rencana. Pada siang 13 November, Tanaka dan 11 kapal angkut melanjutkan perjalanan menuju Guadalkanal. Setelah mulanya ditugaskan melindungi bongkar muat kapal-kapal angkut pada malam 13 November, kapal penjelajah dan kapal perusak dari Armada VIII yang berpangkalan di Rabaul menerima misi baru: bombardemen Lanud Henderson, menyelesaikan misi yang sebelumnya gagal dilaksanakan armada Abe. Setelah membatalkan usaha penyelamatan Hiei pada pagi hari 13 November, kapal tempur Kirishima berlayar ke utara antara Santa Isabel dan Kepulauan Malaita bersama kapal-kapal perang Jepang lainnya untuk bertemu dengan Armada Kedua di bawah komando Kondo yang berangkat dari Truk untuk membentuk unit bombardemen baru.

Kapal penjelajah berat Jepang kelas Aoba, termasuk Kinugasa menurut lukisan Angkatan Laut Amerika Serikat.

Kapal-kapal penjelajah Armada VIII di bawah komando Laksamana Madya Gunichi Mikawa terdiri dari kapal penjelajah berat Chōkai, Kinugasa, Maya, dan Suzuya, kapal penjelajah ringan Isuzu dan Tenryū, serta enam kapal perusak. Armada Mikawa berhasil menyelinap ke kawasan Guadalkanal tanpa perlawanan karena kekuatan laut Amerika Serikat yang hancur telah ditarik. Suzuya dan Maya di bawah komando Shōji Nishimura melakukan bombardemen ke Lanud Henderson sementara armada Mikawa berpatroli sekitar Kepulauan Savo menjaga kemungkinan serangan laut Amerika Serikat (hal tersebut tidak pernah terjadi). Bombardemen selama 35 menit menyebabkan kerusakan sejumlah pesawat dan fasilitas di Lanud Henderson, namun tidak berhasil melumpuhkannya. Kapal-kapal penjelajah mengakhiri bombardemen sekitar pukul 02.30 tanggal 14 November, dan mengamankan kawasan laut sekitarnya, sebelum meneruskan pelayaran menuju Rabaul dengan mengambil rute di selatan kelompok Kepulauan New Georgia.

Armada bombardemen Kondo berlayar menuju Guadalkanal pada 14 November 1942. Dipotret dari kapal penjelajah berat Atago, kapal tempur Kirishima berlayar di tengah, diikuti kapal penjelajah berat Takao.

Ketika hari mulai terang, pesawat-pesawat dari Lanud Henderson, Espiritu Santo, dan Enterprise yang ditempatkan 200 nmi (370 km) selatan Guadalkanal mulai melakukan serangan. Sasaran pertama mereka adalah armada Mikawa yang sedang berlayar meninggalkan Guadalkanal. Sasaran berikutnya adalah armada kapal angkut yang sedang menuju Guadalkanal. Serangan terhadap armada Mikawa menenggelamkan Kinugasa dan menewaskan 511 awaknya, serta menyebabkan kerusakan berat pada Maya hingga memaksanya kembali ke Jepang untuk diperbaiki. Serangan udara berulang-ulang ke armada kapal angkut membuat pesawat-pesawat tempur Jepang yang mengawal menjadi kewalahan, 6 kapal angkut tenggelam, dan memaksa satu di antaranya memutar balik dengan kerusakan berat (setelah itu tenggelam). Prajurit yang selamat dari kapal angkut ditolong oleh kapal perusak pengawal konvoi dan dipulangkan ke Shortlands. Sejumlah 450 prajurit angkatan darat dilaporkan hilang.

Empat kapal angkut dan empat kapal perusak sisanya terus berlayar menuju Guadalkanal setelah malam 14 November tiba, namun sebelum meneruskan pelayaran, berhenti di sebelah barat Guadalkanal untuk menunggu hingga berakhirnya manuver kapal-kapal perang lain. Armada ad hoc di bawah pimpinan Kondo bertemu dengan Ontong Java pada senja 13 November hingga harus berganti arah dan mengisi bahan bakar di luar jangkauan pengebom Lanud Henderson pada pagi 14 November. Kapal selam Amerika Serikat Trout terus membuntuti, namun tidak berhasil menyerang Kirishima yang sedang mengisi bahan bakar. Armada bombardemen Jepang terus melaju ke selatan, dan diserang dari udara pada sore hari 14 November. Pada saat yang bersamaan, Kirishima diadang kapal selam Amerika Serikat Flying Fish. Setelah meluncurkan 5 buah torpedo ke arah Kirishima dan sama sekali tidak mengenai sasaran, Flying Fish melaporkan insiden tersebut melalui radio.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Tarakan adalah panggung pertama dalam kampanye Borneo 1945. Pertempuran ini bermula dengan pendaratan amfibi oleh pasukan Australia pada tanggal 1 Mei, dengan nama sandi Operasi Obo Satu. Walaupun pertempuran ini berakhir dengan kemenangan pasukan Sekutu atas Jepang, kemenangan ini umumnya dianggap tak setimpal dengan harga yang mesti dibayar Sekutu. Tarakan ialah sebuah pulau lepas pantai Borneo. Luas pulau ini 303 kilometer persegi (117 mi²), sebagian besar diliputi oleh rawa atau bukit yang tertutup hutan lebat di masa pertempuran itu. Tarakan adalah salah satu bagian Hindia Belanda dan penting sebagai pusat produksi minyak, karena 2 ladang minyak di pulau ini memproduksi 80.000 barel minyak tiap bulan pada tahun 1941.

Latar Belakang

Pendudukan Jepang
Mendapatkan ladang minyak Tarakan adalah satu tujuan awal Jepang selama Perang Pasifik. Jepang menyerang Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942 dan mengalahkan garnisun Belanda yang kecil dalam pertempuran yang berlangsung selama 2 hari di mana separuh pasukan Belanda gugur. Saat ladang minyak Tarakan berhasil disabotase oleh Belanda sebelum penyerahannya, Jepang bisa dengan cepat memperbaikinya agar bisa menghasilkan lagi dan 350.000 barel diproduksi tiap bulan dari awal tahun 1944. Menyusul penyerahan Belanda, 5.000 penduduk Tarakan amat menderita akibat kebijakan pendudukan Jepang. Banyaknya pasukan Jepang yang ditempatkan di pulau ini mengakibatkan penyunatan bahan makanan dan sebagai akibatnya banyak orang Tarakan yang kurang gizi. Selama pendudukan itu, Jepang membawa sekitar 600 buruh ke Tarakan dari Jawa. Jepang juga memaksa sekitar 300 wanita Jawa untuk bekerja sebagai "jugun ianfu" (wanita penghibur) di Tarakan setelah membujuk mereka dengan janji palsu mendapatkan kerja sebagai juru tulis maupun membuat pakaian.


Arti penting Tarakan bagi Jepang makin menguap dengan gerak maju cepat angkatan Sekutu ke daerah itu. Tanker minyak Jepang yang terakhir meninggalkan Tarakan pada bulan Juli 1944, dan serangan udara Sekutu yang hebat di tahun-tahun itu menghancurkan produksi minyak dan fasilitas penyimpanan di pulau itu. Serangan ini juga membunuh beberapa ratus penduduk sipil Indonesia. Sejalan dengan kepentingannya yang makin menurun, garnisun Jepang di Tarakan berkurang pada awal 1945 saat salah satu dari 2 batalion infantri yang ditempatkan di pulau itu (Batalion Infantri Independen ke-454) ditarik ke Balikpapan. Batalion ini dihancurkan oleh Divisi ke-7 Australia pada bulan Juli selama Pertempuran Balikpapan.

Rencana Sekutu
Tujuan utama serangan Sekutu di Tarakan (nama sandi "Obo Satu") adalah mendapatkan dan mengembangkan lapangan udara di pulau itu agar bisa digunakan untuk mempersiapkan perlindungan udara untuk pendaratan berikutnya di Brunei, Labuan, dan Balikpapan. Tujuan sekunder operasi itu adalah merebut ladang minyak Tarakan dan dibawa ke dalam operasi itu sebagai sumber minyak untuk pasukan Sekutu di panggung ini. Di bawah perencanaan pra-serangan, diharapkan bahwa sayap pesawat tempur akan bermarkas di Tarakan 6 hari setelah pendaratan dan angkatan ini akan dikembangkan untuk juga menyerang sayap 9 hari kemudian dan mempersiapkan fasilitas untuk 4 skuadron berikutnya dalam 21 hari pendaratan. Penggagas rencana Sekutu memiliki intelijen di Tarakan dan pembelanya. Intelijen ini telah didapat dari sejumlah sumber seperti intelijen penghubung, penerbang pengintai dan pemotret serta pejabat kolonial Belanda. Tarakan adalah prioritas pertama Services Reconnaissance Department (SRD) Australia dari bulan November 1944. Namun, kesulitan operasi penyusupan ke pulau kecil seperti itu dan perebutan kuasa dalam SRD menyebabkan organisasi hanya bisa memberi bantuan terbatas pada para penerbang.

Pasukan yang Berhadapan

Sekutu
Pasukan Sekutu yang bertanggung jawab untuk pendudukan Tarakan dipusatkan sekitar hampir 12.000 prajurit dari Grup Brigade ke-26 Australia. Brigade ke-26 dibentuk pada tahun 1940 dan menyusun 3 batalion infantri veteran yang telah menyaksikan gerakan di Afrika Utara dan Papua. Grup Brigade juga termasuk resimen artileri, skuadron tank dari Resimen Lapis Baja ke-2/9, skuadron komando, satuan perintis dan zeni. Satuan tempur itu didukung oleh banyaknya satuan logistik dan medis. Sementara Grup Brigade ke-26 amat melebihi kekuatan pembela Jepang di Tarakan yang diketahui, Sekutu menjalankan angkatan yang besar ini karena pengalaman mereka sebelumnya menunjukkan akan sulit mengalahkan angkatan Jepang jika mundur ke pedalaman Tarakan yang keras.

Grup Brigade ke-26 didukung oleh satuan udara dan laut Sekutu. Satuan udara didatangkan dari Australian First Tactical Air Force (1 TAF) dan United States Thirteenth Air Force dan termasuk skuadron tempur dan pengebom. Angkatan Laut didatangkan dari United States Seventh Fleet dan termasuk beberapa kapal perang dan pengangkut Royal Australian Navy. Karena tujuan utama menyerang Tarakan adalah untuk menggunakan lapangan terbang pulau itu, angkatan penyerang itu juga termasuk sejumlah besar satuan darat Royal Australian Air Force, termasuk Sayap Konstrukti Lapangan Udara No. 61. Angkatan yang mendarat di Tarakan termasuk hampir 1000 pasukan AS dan Belanda. Pasukan AS termasuk zeni U.S. Army yang mengawaki kapal pendaratan pasukan penyerang dan LVT serta detasemen Seabee United States Navy di atas Landing Ship Tank. Angkatan Belanda diatur ke dalam 1 kompi dari infantri Ambon yang dikomandoi oleh perwiraBelanda dan satuan urusan sipil.

Jepang
Pada saat pendaratan Sekutu, angkatan Jepang di Tarakan berjumlah 2.200 orang yang didatangkan dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Satuan terbesar adalah Batalion Infantri Independen ke-455 yang berkekuatan 740 orang yang dikomandoi oleh Mayor Tadai Tokoi. 150 pasukan pendukung AD juga ada di Tarakan. Sumbangan AL kepada garnisun Tarakan tersusun atas 980 pelaut yang dikomandoi oleh Komandan Kaoru Kaharu. Satuan laut utama adalah Angkatan Garnisun Laut ke-2 yang berkekuatan 600 orang. Satuan laut ini dilatih bertempur sebagai infantri dan mengoperasikan beberapa senapan pertahanan pesisir. 350 pekerja minyak sipil Jepang juga diharapkan bertempur pada saat serangan Sekutu. Angkatan Jepang termasuk sekitar 50 orang Indonesia yang berdinas di satuan pengawal pusat. Mayor Tokoi mengarahkan keseluruhan pertahanan Tarakan, meskipun hubungan antara AL dan AD buruk. Angkatan Jepang dipusatkan di sekitar Lingkas, pelabuhan utama Tarakan dan tempat satu-satunya pantai yang cocok untuk pendaratan pasukan. Pembela itu telah menghabiskan waktu beberapa bulan sebelum serangan yang menyusun posisi bertahan dan menanam ranjau. Pertahanan yang diatur itu banyak dipakai selama pertempuran, dengan taktik Jepang yang difokuskan pada posisi bertahan pra-persiapan yang kuat. Jepang tak melakukan kontra-serangan besar apapun, dan kebanyakan gerakan menyerang terbatas pada beberapa pihak penyerang yang mencoba menyelusup garis Australia.

Operasi persiapan

Sebelum tibanya angkatan penyerang, garnisun Jepang di Tarakan dipusatkan pada serangan udara dan laut intensif antara tanggal 12-29 April. Pengeboman udara atas Tarakan dipusatkan pada daerah yang berdampingan dengan pantai pendaratan yang direncanakan di Lingkas dan bertujuan menihilkan pertahanan Jepang di daerah itu. Tank penyimpanan minyak di Lingkas adalah sasaran utama karena ditakutkan minyak di tank-tank itu bisa meledak dan digunakan melawan pasukan Sekutu. Pengeboman itu memaksa sebagian besar penduduk sipil Tarakan untuk lari ke pedalaman. Karena perlu membersihkan banyaknya ranjau laut di seputar pulau itu dan rintangan pantai yang meluas di Lingkas, Sekutu tidak mencoba-coba pendaratan mendadak. Unsur pertama dari armada serangan tiba di lepas pantai pada tanggal 27 April, 4 hari sebelum tanggal pendaratan utama yang direncanakan. Operasi pembersihan ranjau diselesaikan pada tanggal 1 Mei yang akibatnya 2 kapal penyapu ranjau kecil rusak.


Pada tanggal 30 April, Skuadron Komando Kavaleri ke-2/4 dan Deretan ke-57 dari Resimen Medan ke-2/7 mendarat di Pulau Sadau yang berdekatan untuk mendukung zeni yang ditugasi membersihkan rintangan lepas pantai basis penyerangan. Dengan cepat angkatan ini mengamankan pulau yang tak dipertahankan itu. Pendaratan di Pulau Sadau adalah pendaratan pertama pasukan Australia di wilayah bukan Australia di Pasifik sejak akhir 1941 (keikutsertaan Australia dalam Kampanye Papua dari tahun 1942 dibatasi oleh porsi Australia di Papua). Satu-satunya kehilangan Sekutu dalam operasi ini adalah USS Jenkins yang rusak saat menabrak ranjau selama membantu pendaratan. Tugas membersihkan rintangan pantai di Lingkas dibebankan kepada Kompi Medan ke-2/13. Pertahanan itu menyusun sederetan kawat berduri, pos kayu dan rel baja sepanjang 125 yar dari pantai. Pada pukul 11:00 pada tanggal 30 April, 8 pihak zeni maju di LVT dan mendaratkan kapal untuk membersihkan rintangan itu. Zeni-zeni itu didukung oleh senapan di Pulau Sadau serta kapal perang dan pesawat Sekutu. Beroperasi di tengah-tengah tembakan Jepang, zeni-zeni itu membersihkan semua rintangan yang menghalangi pendaratan ke pantai. Sementara korban parah telah diperkirakan, Kompi Medan ke-2/13 menyelesaikan tugasnya tanpa kerugian.

Pertempuran

Pendaratan
Angkatan penyerang utama tiba di pesisir lepas Tarakan di pagi hari tanggal 1 Mei. Didukung oleh pengeboman udara dan laut yang deras, Batalion ke-2/23 dan Batalion ke-2/48 melakukan pendaratan amfibi di sekitar pukul 08:00. Tiada perlawanan yang dihadapi di pantai, dan 2 batalion hanya mendapat sedikit korban yang membersihkan pertahanan pesisir. Pada dini hari, pendarat Australia di muka pantai meluas sampai 2.800 yar sepanjang pesisir dan lebih dari 2.000 yar ke pulau. Sebagian satuan tempur Grup Brigade ke-26 yang tersisa, termasuk skuadron tank Matilda II, kemudian mendarat pada tanggal 1 Mei. Korban Sekutu lebih kecil daripada yang diperkirakan, dengan terbunuhnya 11 orang dan terlukanya 35 orang. Perlawanan Jepang yang lemah terjadi karena pengeboman yang deras sebelum pendaratan yang memaksa pembela Tarakan meninggalkan pertahanan kuat di Lingkas.

Sementara infantri itu berhasil mengamankan muka pantai, pendaratan itu terhambat oleh keadaan pantai yang buruk. Banyak kendaraan Australia terjebak di lumpur Pantai Lingkas yang lunak, dan 7 LST kandas setelah komandannya salah menilai penarikan kapal itu ke pantai. Sedikitnya tanah padat di muka pantai menyebabkan kemacetan yang parah dan berakibat tak satupun dari senapan Resimen Medan ke-2/7 yang dipergunakan bertempur hingga siang pendaratan. Kemacetan itu diperparah oleh banyaknya angkatan darat RAAF yang mendarat pada tanggal 1 Mei dengan kapal yang banyak. 7 LST tak diapungkan lagi hingga tanggal 13 Mei.

Setelah mengamankan muka pantai, Grup Brigade ke-26 maju ke timur masuk Kota Tarakan dan ke utara ke arah lapangan udara. Australia menghadapi perlawanan Jepang yang bertambah hebat karena mereka bergerak ke dalam pulau. Tugas menduduki lapangan terbang Tarakan dibebankan kepada Batalion ke-2/24. Serangan awal batalion ke lapangan udara pada malam 2 Mei itu tertunda saat Jepang memasang muatan peledak, dan lapangan itu tak dapat direbut hingga tanggal 5 Mei. Saat pendudukan lapangan udara itu mencapai tugas utama Grup Brigade ke-26, Jepang masih mempertahankan pedalaman Tarakan yang keras. Selama minggu pertama penyerangan, 7.000 pengungsi Indonesia melewati barisan Australia yang sedang maju. Jumlah ini lebih banyak dari yang diperkirakan, dan pengungsi itu, yang kesehatannya banyak memburuk, membanjiti satuan urusan sipil Belanda. Meskipun terjadi kerusakan di mana-mana akibat pengeboman dan serangan Sekutu, sebagian besar penduduk sipil menyambut pasukan Australia sebagai pembebas. Ratusan penduduk sipil Indonesia kemudian bekerja sebagai buruh dan kerani untuk angkatan Sekutu.

Menjamin Keamanan dalam Kota
Untuk mengamankan pulau itu dan melindungi lapangan udara dari serangan, Grup Brigade ke-26 dipaksa membersihkan Jepang dari perbukitan di Tarakan yang diselimuti hutan. Sekitar 1.700 pasukan Jepang menggali parit pertahanan di utara dan tengah pulau. Posisi itu dilindungi oleh ranjau. Saat menyerang posisi yang memina banyak pertempuran infantri, pasukan Australia banyak menggunakan artileri dan pasokan udara mereka untuk meminimalisasi korban. Hal ini sejalan dengan perintah Jenderal Thomas Blamey untuk Grup Brigade ke-26 untuk maju secara hati-hati setelah lapangan udara direbut. Tank-tank Australia hanya bisa menyediakan dukungan terbatas kepada infantri tersebut karena lebatnya hutan, rawa-rawa, dan bukit yang curam di Tarakan sering mengurung gerakan mereka ke jalanan. Sebagai akibatnya, umumnya tank tak dapat digunakan untuk membuka jalan bagi penyerangan, dan peranannya terbatas menyediakan tembakan untuk serangan infantri, dengan artileri yang menjadi sumber pilihan bagi dukungan langsung. Deretan pasukan Jepang di Tanjung Djoeata di pesisir utara Tarakan dikalahkan oleh USS Douglas A. Munro pada tanggal 23 Mei.

Batalion Perintis ke-2/3 dan kompi Hindia-Belanda dibebani tanggung jawab mengamankan bagian tenggara Tarakan. Perintis itu mulai maju ke timur Kota Tarakan pada tanggal 7 Mei namun menghadapi perlawanan kuat Jepang yang tak terduga. Dari tanggal 10 Mei, batalion itu tertahan di 'Helen', yang dipertahankan oleh 200 pasukan Jepang. Pada tanggal 12 Mei, Kopral John Mackey terbunuh setelah menduduki 3 pos senapan mesin Jepang sendirian. Secara anumerta Mackey dianugerahi Victoria Cross untuk tindakan kepahlawanan ini. Selama pertempuran di Helen, pengebom berat B-24 Liberator digunakan untuk pasokan udara dekat untuk pertama kalinya, dengan penempur P-38 Lightning menjatuhkan bensin kental segera setelah pengeboman. Gabungan ini sebagian terbukti efektif dan menjadi bentuk standar pasukan udara yang diminta oleh Australia. Angkatan Jepang menarik diri dari Helen pada tanggal 14 Mei setelah mendapat 100 korban, dan Batalion Perintis ke-2/3 mencapai pesisir timur Tarakan pada tanggal 16 Mei. Batalion itu menderita20 korban terbunuh dan 46 terluka dalam gerak maju ini. Selama masa ini, kompi Hindia-Belanda menjamin Tarakan selatan sisanya, dan menghadapi perlawanan kecil selama gerak majunya. Secara bertahap, garnisun Jepang dihancurkan, dan yang selamat meninggalkan posisi terakhir mereka di bukit dan mundur ke utara pulau pada tanggal 14 Juni. Pada hari tersebut, 112 buruh Tiong Hoa dan Indonesia meninggalkan daerah yang dikuasi Jepang dengan catatan dari perwira senior Jepang yang meminta bahwa mereka akan diperlakukan dengan baik. Saat Radio Tokyo mengumumkan bahwa Tarakan telah jatuh pada tanggal 15 Juni, perlawanan Jepang terorganisir terakhir dihadapi pada tanggal 19 Juni dan Whitehead tak menyatakan pulau itu aman hingga tanggal 21 Juni.

Masalah Pembangunan
Saat infantri Grup Brigade ke-26 memerangi Jepang di perbukitan, zeni RAAF dari Sayap Konstruksi Lapangan Udara No. 61 ikut dalam usaha nekat untuk memasukkan lapangan udara Tarakan ke daftar operasi. Karena lapangan udara itu rusak berat akibat pengeboman sebelum serangan dan letaknya di dataran berawa, terbukti akan lebih sulit memperbaiki daripada yang diharapkan, dan memakan waktu 8 minggu dan bukan 1 minggu untuk memperbaiki lapangan udara itu agar bisa dipakai. Digunakanlah secara meluas bahan dari plat baja bersambungan yang diletakkan seperti tikar. Sisa plat itu masih ada di parkir mobil di Bandara Tarakan. Saat dibuka pada tanggal 28 Juni, lapangan itu terlambat untuk bisa berperan dalam mendukung pendaratan di Brunei atau Labuan (10 Juni), maupun pendaratan di Balikpapan. Namun RAAF Sayap No. 78 bermarkas di Tarakan dari tanggal 28 Juni dan terbang untuk mendukung dalam operasi di Balikpapan hingga akhir perang. Serangan ke Tarakan juga membebaskan penduduk sipil dari pasukan pendudukan Jepang yang kejam.

Pembersihan
Menyusul akhir perlawanan terorganisir, orang Jepang yang tersisa di Tarakan terpecah ke berbagai kelompok kecil yang menuju ke utara dan timur pulau. Satuan tempur Grup Brigade ke-26 dipindahkan ke bagian Tarakan di mana mereka menyapu orang Jepang. Banyak orang Jepang yang mencoba melintasi selat yang memisahkan Tarakan dari Kalimantan namun tertangkap oleh patroli AL Sekutu. Dari minggu pertama bulan Juli, orang Jepang yang selamat kekurangan makanan dan mencoba kembali ke kedudukan lama mereka di tengah pulau dan menyerang posisi Australia untuk mencari makanan. Karena lapar banyak orang Jepang yang menyerah. Satuan Australia melanjutkan patroli untuk mencari orang Jepang hingga akhir perang, dengan beberapa orang Jepang terbunuh ataupun menyerah tiap hari. Patroli itu memakan 36 korban lagi antara tanggal 21 Juni-15 Agustus. 300 orang Jepang lari dari penangkapan dan menyerah setelah akhir perang.

Kejadian Sesudahnya
Grup Brigade ke-26 tetap di Tarakan sebagai tentara pendudukan hingga tanggal 27 Desember 1945, meskipun sebagian besar kesatuannya dibubarkan di bulan Oktober. Markas brigade itu dikembalikan ke Australia di awal tahun 1946 dan secara resmi dibubarkan di Brisbane pada bulan Januari 1946. Ladang minyak Tarakan dengan cepat diperbaiki dan kembali berproduksi. Para insinyur dan teknisi tiba segera setelah pendaratan Sekutu dan pompa minyak pertama diperbaiki pada tanggal 27 Juni. Dari bulan Oktober, ladang minyak pulau itu memproduksi 8.000 barel tiap hari dan menyediakan lapangan kerja bagi banyak penduduk sipil Tarakan. Satuan Sekutu yang ikut bertempur menyelesaikan tugasnya dengan "kecakapan dan profesionalisme". Dalam menyimpulkan operasi itu, Samuel Eliot Morison menulis bahwa "sama sekali hal ini merupakan operasi amfibi yang dilakukan dengan amat baik yang mencapai tujuannya dengan kerugian minimal". Pertempuran Tarakan menekankan pentingnya peperangan pasukan gabungan, dan khususnya keperluan infantri untuk beroperasi dengan dan didukung oleh tank, artileri dan zeni selama peperangan di hutan.


Lepas dari penilaian Morison, korban Grup Brigade ke-26 amat tinggi dibandingkan dengan pendaratan lain dalam kampanye Borneo. Brigade itu menderita korban lebih dari 2 kali dari Divisi ke-9 selama operasinya di Borneo Utara dan lebih dari 23 kematian daripada Divisi ke-7 yang datang di Balikpapan. Korban Grup Brigade ke-26 yang lebih tinggi bisa diakibatkan oleh tidak bisanya garnisun Tarakan mundur seperti garnisun di Borneo Utara dan Balikpapan. Pencapaian angkatan pendaratan itu terhapus oleh fakta bahwa lapangan udara di pulau itu tidak bisa membantu aksi. Penilaian intelijen yang salah yang menyebabkan penerbang RAAF percaya bahwa lapangan udara itu bisa diperbaiki menggambarkan kegagalan utama. Apalagi, prestasi RAAF di Tarakan sering buruk. Prestasi ini mungkin diakibatkan dari moral rendah yang lazim di sejumlah unit dan 'Pemberontakan Morotai' yang mengganggu 1 kepemimpinan TAF. Seperti kampanye Borneo lainnya, operasi Australia di Tarakan masih kontroversial. Debat terus berlanjut atas apakah kampanye itu merupakan "pertunjukan tambahan" yang berarti, atau apakah dibenarkan dalam konteks operasi terencana untuk menyerang Jepang dan membebaskan Hindia-Belanda lainnya, yang dijadwalkan bermula pada tahun 1946. Penilaian sejarawan resmi Australia Gavin Long bahwa "hasil yang dicapai tak membenarkan kerugian operasi Tarakan" sesuai dengan pandangan yang umum dianut atas pertempuran itu.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Bautzen (20-21 Mei 1813) adalah pertempuran antara Perancis dan pasukan gabungan Prusia dan Rusia. Pasukan Prusia dan Rusia dapat dipukul mundur oleh Napoleon I. Setelah pemboman yang intens oleh pasukan artileri Napoleon dan jam pertempuran yang panas, garis pertahanan pertama dikuasai Perancis dan merebut kota Bautzen. Pasukan Prusso-Rusia tampaknya goyah. Ketika malam tiba, Perancis siap untuk memotong garis sekutu agar mereka mundur. Tapi Marsekal Ney menjadi bingung dan salah posisi sehingga pintu kiri terbuka bagi Sekutu untuk melarikan diri.

Battle of Bautzen 1813 by Bellange.jpg
Pertempuran Bautzen

Pertempuran pada hari berikutnya, kembali keras dan setelah beberapa jam, serangan Perancis diperbarui dan mulai mendapatkan momentum. Namun serangan ini hanya dimaksudkan untuk memperbaiki posisi sekutu di tempat sehingga mereka bisa dipotong dan melindungi. Sekali lagi, Marsekal Ney menjadi terganggu dan memutuskan untuk merebut desa Preititz, sehingga kehilangan rencana strategis yang penting yaitu memotong sekutu.

Prusso-Rusia yang sedang mendesak kembali, menyeberangi sungai dan pada pukul 4 sore, ketika Pasukan Pengawal dikirim, mulai mundur. Tanpa pasukan Ney untuk mengunci mereka, namun mereka lolos kembali dari kekalahan total dari rencana Napoleon. Kerugian di kedua belah pihak mencapai sekitar 20.000. Tetapi beberapa sumber lain (sebagian besar sumber-sumber Jerman - sebagai contoh: Schlacht bei Bautzen, Lusatia Verlag, Dr Stubner & Co.KG, 1993) juga mengatakan, bahwa kerugian di sisi Perancis secara signifikan lebih tinggi karena taktik serangan agresif mereka yang gagal untuk memotong garis pertahanan sekutu, dan sekutunya hanya kehilangan 11.000 - 14.000. Kemenangan Perancis di Bautzen (setidaknya di Jerman) sering disebut kemenangan Pyrrhic.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Vimy Ridge adalah pertempuran awal dari Pertempuran Arras di Utara Pas-de-Calais Perancis pada Perang Dunia I, sebagai serangan pengalihan untuk Serangan Nivelle Perancis. Tujuan pertempuran ini adalah untuk mengambil posisi Jerman di tanah tinggi di sepanjang lereng curam di ujung utara Arras. Dengan harapan sisi selatan bisa maju tanpa dihujani peluru Jerman. Hari pertama serangan Korps Kanada berhasil merebut sebagian besar tebing. Kemudian Kota Thélus pada hari kedua setelah serangan Korps Kanada mengalahkan perlawanan Jerman. Tujuan akhir, benteng bukit yang terletak di luar kota Givenchy-en-Gohelle, jatuh ke Korps Kanada pada tanggal 12 April. Pasukan Jerman kemudian mundur ke garis Oppy-Méricourt.

The Battle of Vimy Ridge.jpg
Pertempuran Vimy Ridge lukisan dari Richard Jack. dari Museum Perang Kanada.

Korps Kanada melakukan serangan di Vimy Ridge dengan merayap di belakang bendungan, dan menggunakan senapan mesin (berat 80 kg) untuk setiap brigade, termasuk senapan Lewis di setiap peleton - pasukan bisa maju sejauh sekitar 3.700 meter dari pertahanan Jerman, dan merebut puncak punggung bukit sekitar pukul 13:00. Sejarawan militer yang mengaitkan keberhasilan serangan ini untuk perencanaan Komandan Korps Kanada Julian Byng dan bawahannya Jenderal Arthur Currie, pelatihan yang konstan, dan penugasan dari tujuan spesifik untuk masing-masing pleton. Dengan memberi tujuan tertentu pada setiap unit, pasukan bisa melanjutkan serangan bahkan saat para perwira mereka terbunuh atau komunikasi rusak, sehingga dapat mengatasi dua masalah utama pertempuran di blok Barat.

Pasukan senapan mesin Kanada di Vimy Ridge

Pertempuran ini merupakan kesempatan pertama bagi empat divisi dari Canadian Expeditionary Force berpartisipasi pada pertempuran bersama-sama, dan dengan demikian menjadi simbol nasionalistis Kanada bagi prestasi dan pengorbanan. sekitar 100 ha (sebagian dari medan pertempuran) sekarang berfungsi sebagai taman peringatan dilestarikan dan tempat peringatan Korp Kanada.


Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Pertempuran Bukit 60 adalah serangan besar akhir Pertempuran Gallipoli yang terjadi pada tanggal 21 Agustus 1915 bertepatan dengan serangan pedang Hill oleh British Suvla, Korps IX Jenderal Stopford. Bukit ini merupakan bukit kecil berada di ujung utara Sari Bair tempat pendaratan British Suvla. Merebut bukit ini akan memungkinkan pendaratan Suvla dan Anzac menjadi aman.

William Birdwood near Hill 60.jpg
Marsekal William Birdwood, Baron Pertama 
Birdwood dekat Bukit 60, Oktober 1915. 

Awal Pertempuran

Pertempuran Bukit 60 adalah serangan Inggris untuk merebut kembali Bukit 60 dari Jerman. Pertempuran ini merupakan bagian dari Pertempuran Neuve Chapelle. Bukit 60 adalah bukit di sisi selatan dari Ypres Salient dan diberi nama 60 sebagai tanda batas ketinggian. Bukit direbut Jerman pada 10 Desember 1914 dari pasukan Perancis, setelah pertempuran posisi menuju laut. Sebagian besar pertempuran di sekitar Bukit 60 ini berada di bawah tanah dan Inggris membuat jalur ranjau di bawah bukit. Pada April 1915, 21 ranjau telah dipasang. Pada tanggal 17 April 1915 ranjau itu meledak dan menghancurkan sebagian besar bukit serta membunuh banyak tentara Jerman yang berada di parit. Batalyon Inggris hanya menderita 7 korban dalam merebut bukit.

Sebuah serangan balasan Jerman berhasil merebut kembali bukit dari Inggris pada 18 April. Pertempuran pun berlanjut hingga 22 April. Bukit 60 akhirnya direbut Jerman setelah serangan gas pada 5 Mei 1915. Hanya 2 perwira dan 70 orang dari satu batalyon selamat karena pertahanan kokoh pleton Devon dan Dorset dan Markas Batalyon dari Resimen Duke Wellington dapat mencegah penyerangan tersebut.

Pertempuran

Tujuan asli Pertempuran Sari Bair, pada tanggal 6 Agustus, adalah puncak bukit 971 dan Chunuk Bair. Puncak yang kedua telah direbut oleh infanteri Selandia Baru sebelum serangan balasan di Turki.

Komandan Inggris mengalihkan serangan dari bukit 971, karena di luar jangkauan, menjadi Hill 60. Pasukan penyerang Jenderal John Monash Brigade Infanteri ke-4 Australia, yang telah mencapai Bukit 971 dan telah mengambil posisi di sebuah alur, dikenal sebagai Lembah Australia, yang menuju ke arah Bukit 60. Terlibat juga dalam pertempuran ini Brigade ke-29 India, dua resimen dari Brigade Mounted Rifles Selandia Baru (Canterbury dan Otago) dan tiga batalyon Tentara Inggris.

Pada tanggal 21 Agustus, serangan pertama Batalyon 13 dan 14 Australia tanpa dukungan artileri yang efektif, dihujani tembakan dari Bukit 60 dan Bukit 100. Namun, Brigade India berhasil mencapai kaki bukit. Pada tanggal 22 Agustus, serangan itu diperkuat oleh Batalyon 18 Australia yang merupakan bagian dari Divisi ke-2 Australia menyerang dengan bayonet saja dan menderita 383 korban pada serangan pertama mereka.

Pada tanggal 27 Agustus serangan dilanjutkan dan berhasil menaiki lereng bukit tetapi puncak bukit itu masih diduduki Turki. Brigade berkuda ke-3 Australia, berjuang di Pertempuran Nek dilibatkan ke pertempuran sebagai bala bantuan. Pada malamnya, Resimen berkuda 9 dikirim sebagai serangan terakhir di Bukit 60. Sekitar 80 orang yang dipimpin oleh Komandan baru, Letnan Kolonel Reynell kehilangan arah dan terjebak di tempat terbuka oleh penembak senapan mesin Turki. Hasilnya adalah kematian Reynell dan 27 laki-laki. Daftar lengkap orang-orang ini tersedia di 9 LHR dan Bukit 60.

Pada tanggal 28 Agustus, Australia merebut beberapa parit Turki di puncak bukit tetapi Turki berhadapan dengan pasukan British Suvla di bagian utara. Menyerang dan kontra-menyerang berlanjut sampai tanggal 29 Agustus. Serangan Sekutu akhirnya berhenti.

Setelah Pertempuran

Akhir pertempuran di Bukit 60, Letnan Hugo Throssell Resimen Berkuda 10 Australia memperoleh penghargaan Victoria Cross karena pertempuran bom yang hebat. Sekutu menderita sekitar 2500 korban selama delapan hari pertempuran. Kekuatan Batalyon 18 Australia berkurang menjadi sepertiga kekuatan aslinya setelah dua minggu pertempuran. Sekarang Bukit ini menjadi lokasi pemakaman bukit 60, komisi makam pahlawan perang negara persemakmuran.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments