Previous Next
  • Perang Teluk

    Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki. Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990...

  • 5 Negara yang Terpecah Akibat Perang Dunia II

    Negara yang terpecah adalah sebagai akibat Perang Dunia II yang lalu di mana suatu negara diduduki oleh negara-negara besar yang menang perang. Perang Dingin sebagai akibat pertentangan ideologi dan politik antara politik barat dan timur telah meyebabkan negara yang diduduki pecah menjadi dua yang mempunyai ideologi dan sistem pemerintahan yang saling berbeda dan yang menjurus pada sikap saling curiga-mencurigai dan bermusuhan. Setelah perang dunia kedua, terdapat empat negara yang terpecah-pecah, antara lain:

  • Serangan Sultan Agung 1628 - 1629

    Silsilah Keluarga Nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Dilahirkan tahun 1593, merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Ayahnya adalah raja kedua Mataram, sedangkan ibunya adalah putri Pangeran Benawa raja Pajang. Versi lain mengatakan, Sultan Agung adalah putra Pangeran Purbaya (kakak Prabu Hanyokrowati). Konon waktu itu, Pangeran Purbaya menukar bayi yang dilahirkan istrinya dengan bayi yang dilahirkan Dyah Banowati. Versi ini adalah pendapat minoritas sebagian masyarakat Jawa yang kebenarannya perlu untuk dibuktikan. Sebagaimana umumnya raja-raja Mataram, Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri. Yang menjadi Ratu Kulon adalah putri sultan Cirebon, melahirkan Raden Mas Syahwawrat. Yang menjadi Ratu Wetan adalah putri dari Batang keturunan Ki Juru Martani, melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi Amangkurat I)...

  • Perang Dingin

    Perang Dingin adalah sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947—1991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang: koalisi militer; ideologi, psikologi, dan tilik sandi; militer, industri, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir dan persenjataan; dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini akan berakhir dengan perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi. Istilah "Perang Dingin" sendiri diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut...

  • Perang Kamboja-Vietnam

    Pada tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan saigon tahun 1975, negara-negara anggota ASEAN mencemaskan kemungkinan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari Asia Tenggara. Ketegangan terus memuncak mengingat ASEAN adalah negara-negara Non-Komunis sedangkan negara-negara Indochina adalah negara komunis. Kemenangan Vietnam pada Perang Vietnam sudah tentu mengkhawatirkan ASEAN ditengah rencana Amerika Serikat untuk mengurangi kehadiran pasukannya yang selama ini secara tak langsung melindungi ASEAN dari invasi komunis ke kawasan tersebut...

Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

The Wall Street bank berada di balik kebijakan pemerintah AS, termasuk keputusan untuk melakukan perang, kata seorang jurnalis senior Amerika mengatakan kepada Press TV.

"The Wall Street bank memiliki hak pengendalian. Mereka memutuskan jalannya negara bagaimana akan dijalankan, termasuk melancarkan perang," kata Stephen Lendman, penulis dan penyiar radio dari Chicago mengatakan kepada Press TV dalam sebuah wawancara.


"Salah satu alasan untuk mengobarkan perang adalah perang itu sangat menguntungkan. Bukan hanya kepada kontraktor pertahanan, [tapi juga] untuk bank-bank besar, untuk perusahaan teknologi, semua perusahaan yang memasok barang dan jasa termasuk kontraktor swasta yang setiap saat menginginkan Amerika terlibat dalam perang," tambahnya.

Selama dua pemerintahannya, mantan presiden AS George W. Bush memerintahkan invasi ke Afghanistan dan Irak. Dua perang tersebut mengakibatkan kematian ratusan ribu warga sipil.

Bush dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair membenarkan perang Irak dengan menyatakan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal (WMDs), yang samapai sekarang tidak pernah ditemukan.

Dalam memoarnya yang baru-baru ini dirilis yang berjudul "Decision Points", Bush mengatakan ia terkejut ketika WMD tidak ditemukan di Irak.

"Rencana untuk pergi berperang di Irak sebenarnya sudah disusun lama. Cetak biru perang itu telah ditulis. Dan berada di dalam rak siap untuk diambil," kata Lendman.(fq/prtv)

Sumber: http://www.eramuslim.com/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Aktivis politik Libya Abdulmounem Hersha menyangkal spekulasi bahwa negaranya akan jatuh ke dalam perang saudara setelah revolusi rakyat melawan rezim Muammar Gaddafi.

"Semua orang Libya bersatu, tidak akan ada perang saudara. Hal ini (perang sipil) adalah propaganda Gaddafi untuk tetap berkuasa," kata Hersha dalam sebuah wawancara telepon dengan Press TV.


"Apa yang terjadi di Libya adalah perang yang dilakukan oleh Gaddafi terhadap rakyatnya sendiri," tambahnya.

Gaddafi menggunakan pasukan yang tidak proporsional melawan kekuatan revolusioner untuk tetap mengontrol ibukota, Tripoli, dan sekitarnya sementara demonstran terus mendorong pasukan Gaddafi ke arah barat untuk membebaskan seluruh negeri.

Sementara itu, PBB mengatakan lebih dari satu juta orang, termasuk para pengungsi yang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Koordinator Bantuan PBB, Valerie Amos, mengatakan kebutuhan bantuan yang mendesak terjadi di Misratah di mana penduduk diserang oleh pasukan pemerintah selama akhir pekan.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengatakan lebih dari 200.000 orang telah melarikan diri dari Libya.(fq/prtv)

Sumber: http://www.eramuslim.com/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Enam puluh sembilan persen rakyat Amerika dilaporkan menentang perang di Irak, sementara 62 persen lainnya menentang perang di Afghanistan, menurut jajak pendapat terbaru CNN.

Sejak Mei 2010, kedua perang ini semakin tidak populer di kalangan rakyat Paman Sam. Saat itu, 62 persen menolak keterlibatan Amerika di Irak, dan 56 persen mengatakan hal yang sama tentang Afghanistan.


Walaupun Presiden AS, Barack Obama sudah menyatakan akan segera menarik pasukan Amerika dari medan perang, tapi tampaknya rakyatnya sendiri sudah gregetan. Ini mungkin karena antara Obama dan Jenderal David Petraeus, komandan perang di Afghanistan, tampak tidak sejalan.

"Kami melakukan segala yang kami bisa untuk capai tanpa harus terburu-buru," kata Petraeus kepada The Washington Post. "Kami sepenuhnya menghargai ketidaksabaran (rakyat) di beberapa tempat."

Sementara itu, pejabat lain mencatat bahwa strategi baru sekarang ini diterapkan di Afganistan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mulai bisa berfungsi. (sa/thehill)

Sumber: http://www.eramuslim.com/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Perdana Menteri Turki Recep Tayyep Erdogan menegaskan jika rakyat Turki bungkam atas kezaliman dan kesewenang-wenangan yang ada di dunia, salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh Israel, maka hal tersebut berarti rakyat Turki telah mengkhianati kebesaran bangsa mereka sendiri, dan menjadikan tulang mayat dua sultan legendaris Turki Muhammad al-Fatih dan Selim I remuk.


Pernyataan Erdogan tersebut merupakan tanggapan kepada beberapa pihak di Turki yang mengkritik kebijakannya berkonfrontasi dengan Israel yang dipandang "merugikan kepentingan Turki". Salah satu yang mengkritik sikap tegas Erdogan tersebut adalah beberapa surat kabar Turki berhaluan sekuler-konservatif.

Dikatakan Erdogan, beberapa surat kabar Turki tersebut mencemooh dirinya dan pemerintahannya yang membela Palestina, juga beberapa langkah kebijakannya yang kian lama kian berpaling dari Barat dan beralih haluan menuju Arab.

Mayoritas masyarakat Turki memandang dunia Arab dengan pandangan inferior. Bangsa Arab dipandang sebagai bangsa rendahan, kotor, jorok, kasar, dan terbelakang.

"Banyak yang mengatakan bahwa Turki kini putus dengan Barat, dan berbalik arah menuju Arab. Yang mengatakan demikian adalah koran-koran Israel dan Barat yang mendukung Israel. Namun sayangnya, saya juga menemukan ungkapan serupa keluar dari beberapa surat kabar negara saya sendiri," kata Erdogan.

Ditambahkan Erdogan, "jika ada beberapa surat kabar Barat yang menjadi pelayan Israel, mengapa beberapa surat kabar Turki sendiri juga ikut-ikutan menjadi pelayan negara tersebut, justru ketika negara Turki sendiri sedang bersi tegang mengecam kezaliman Israel dan mayoritas rakyatnya sedang berkabung atas beberapa saudaranya yang ditembak mati Israel?". (ags/db)

Sumber: http://www.eramuslim.com/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Yamato sedang diserang. Kebakaran besar melanda
bagian atas kapal di sebelah belakang, dan mulai
tenggelam setelah dihantam torpedo.
Operasi Ten-Go adalah operasi militer besar yang terakhir dilakukan angkatan laut Jepang dalam Perang Pasifik, Perang Dunia II. Pada April 1945, kapal tempur Jepang Yamato yang merupakan kapal tempur terbesar di dunia berangkat untuk melakukan misi bunuh diri melawan kekuatan Sekutu di Pertempuran Okinawa. Sebelum sampai di Okinawa, armada Jepang diserang hingga tidak melanjutkan pelayaran, dan hampir seluruhnya dihancurkan oleh pesawat-pesawat Amerika Serikat yang berpangkalan di kapal-kapal induk. Yamato dan lima kapal perang Jepang lainnya tenggelam.

Pertempuran ini mempertunjukkan supremasi udara Amerika Serikat dalam tahap terakhir Perang Pasifik, dan betapa mudahnya kapal-kapal dijadikan sasaran serangan udara bila tidak dilindungi pesawat-pesawat tempur. Meskipun harus mengorbankan sejumlah besar nyawa dalam usaha yang sia-sia, pertempuran ini menunjukkan usaha terakhir Jepang dalam memperlambat gerak maju Sekutu menuju kepulauan Jepang.

Latar Belakang

Setelah kalah berturut-turut dalam kampanye militer Kepulauan Solomon, Pertempuran Laut Filipina, dan Pertempuran Teluk Leyte, Armada Gabungan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang sudah dalam keadaan hancur. Pada awal tahun 1945, Jepang hanya memiliki sejumlah kapal perang yang masih operasional ditambah sejumlah kecil pilot dan pesawat terbang. Sebagian besar dari kapal-kapal perang Jepang Armada Gabungan yang tersisa disandarkan di beberapa pelabuhan di Jepang, sementara sebagian besar kapal-kapal besar berpangkalan di Kure, Hiroshima.

Perwira pimpinan Yamato' tanggal 5 April
1945, dua hari sebelum keberangkatan
Operasi Ten-Go
Setelah invasi ke Saipan dan Iwo Jima, tentara Sekutu mulai melancarkan serangan ke pulau-pulau utama Jepang. Sebagai tahap berikut sebelum dilancarkannya invasi ke pulau-pulau utama di Jepang, tentara Sekutu menginvasi Okinawa pada 1 April 1945. Pada bulan Maret, pemimpin militer Jepang menjelaskan dalam briefing di muka Kaisar Hirohito bahwa serangan udara besar-besaran akan dilakukan Jepang, termasuk penggunaan unit serangan khusus tokkōtai bila pihak Sekutu menginvasi Okinawa. Menurut laporan, kaisar kemudian bertanya, "Lalu bagaimana dengan angkatan laut? Apa yang mereka lakukan untuk membantu mempertahankan Okinawa?" Setelah merasa ditekan untuk melakukan serangan, para petinggi angkatan laut merencanakan misi bunuh diri yang melibatkan kapal-kapal perang mereka yang masih operasional, termasuk kapal tempur Yamato.

Menurut rencana yang disusun dibawah arahan Panglima Tertinggi Armada Gabungan, Laksamana Toyoda Soemu, Yamato dan kapal-kapal pengawalnya ditugaskan menyerang armada Amerika Serikat yang mengawal pendaratan pasukan Amerika Serikat di sebelah barat Okinawa. Yamato dan kapal-kapal pengawalnya harus membela diri sendiri dalam perjalanan menuju Okinawa, dan lalu mengandaskan diri antara Higashi dan Yomitan, dan bertarung sebagai meriam artileri hingga dihancurkan musuh. Setelah kapal-kapal mereka hancur, para awak yang selamat diharuskan meninggalkan kapal dan bertarung melawan pasukan Amerika Serikat di darat. Kalau pun ada, pesawat-pesawat tempur yang melindungi Yamato dan kapal-kapal pengawalnya hanya sedikit. Hal ini membuat mereka hampir-hampir tidak berdaya melawan serangan udara Amerika Serikat yang bertubi-tubi. Yamato dan kapal-kapal pengawalnya berangkat dari Kure menuju Tokuyama, Yamaguchi di lepas pantai Mitajiri, Jepang pada 29 Maret 1945. Walaupun Laksamana Seiichi Itō sepertinya mematuhi perintah atasan, sebagai komandan Operasi Ten Go, dirinya masih menolak untuk memberi perintah kepada kapal-kapalnya untuk untuk melaksanakan misi yang diyakininya sebagai sia-sia dan tidak berguna.

Sebagian pimpinan Angkatan Laut tidak menyambut dengan positif rencana misi yang dianggap mereka hanya membuang-buang nyawa dan bahan bakar. Kapten Atsushi Ōi, komandan armada pengawal menentang karena dialihkannya bahan bakar dan sumber daya yang sudah terbatas untuk operasi ini. Ketika kepadanya dikatakan bahwa operasi ini "untuk menjaga tradisi dan kehormatan angkatan laut," ia berseru:

Perang ini adalah perang yang melibatkan negara, lalu mengapa kehormatan dari "armada kapal-kapal" harus lebih dihormati? Siapa yang peduli dengan kehormatan mereka? Bodoh!

("Armada kapal-kapal" mengacu kepada kapal-kapal utama, khususnya kapal-kapal tempur yang "seharusnya memenangkan perang".)

Laksamana Muda Ryūnosuke Kusaka berangkat dengan pesawat terbang dari Tokyo, 5 April 1945 menuju Tokuyama dalam usaha terakhirnya meyakinkan para komandan Armada Gabungan, termasuk Laksamana Itō agar mau menerima rencana operasi. Setelah pertama kali mendengar rincian operasi (sebelumnya masih dirahasiakan, dan sebagian besar komandan Armada Gabungan tidak diberi tahu), para komandan Armada Gabungan dan kapten-kapten kapal secara bulat mendukung Laksamana Itō, dan menolak rencana operasi berdasarkan alasan yang sebelumnya dikemukakan Laksamana Itō. Laksamana Kusaka kemudian menjelaskan bahwa serangan angkatan laut berfungsi sebagai pengalih perhatian pesawat-pesawat Amerika Serikat dari serangan udara yang akan dilancarkan angkatan darat terhadap armada Amerika Serikat di Okinawa. Ia juga menjelaskan bahwa pemimpin nasional Jepang, termasuk kaisar, juga mengharapkan angkatan laut untuk berusaha sebaik-baiknya dalam mempertahankan Okinawa.

Setelah mendengar penjelasan tambahan dari Kusaka, sikap para komandan Armada Gabungan melunak, dan menerima rencana yang diusulkan. Awak kapal diberi briefing mengenai tujuan misi dan diberi kesempatan untuk tidak ikut berangkat bila mau, namun tidak ada yang bersedia ditinggal. Walaupun demikian, awak kapal yang baru, sedang sakit, dan ragu-ragu diperintahkan meninggalkan kapal. Pada awak kapal dilatih untuk terakhir kalinya sebelum misi berlangsung, terutama berlatih prosedur pengendalian kerusakan. Saat tengah malam, kapal-kapal diisi bahan bakar. Menurut laporan, personel Pelabuhan Tokuyama membangkang perintah atasan. Secara diam-diam, Yamato dan kapal-kapal lainnya diisi dengan semua bahan bakar yang tersisa di pelabuhan, walaupun bahan bakar yang diisikan mungkin tidak cukup untuk kembali lagi dari Okinawa.

Pertempuran

Manuver armada Jepang (garis hitam) dan
kapal induk Amerika Serikat (garis merah
terputus-putus)
Pukul 16.00 tanggal 6 April 1945, Yamato dengan komandan Laksamana Itō, dikawal kapal penjelajah ringan Yahagi dan delapan kapal perusak berangkat dari Tokuyama untuk memulai misi. Dua kapal selam, USS Threadfin dan USS Hackleback sudah memergoki Yamato ketika mereka berlayar ke arah selatan melewati Selat Bungo, namun keduanya tidak dapat langsung menyerang. Kedua kapal selam memberitahukan armada Amerika Serikat akan adanya konvoi kapal perang Jepang.

Dini hari 7 April, kapal-kapal perang Jepang melewati Semenanjung Ōsumi menuju laut terbuka dari Kyushu ke arah selatan menuju Okinawa. Mereka berlayar dalam formasi defensif, Yahagi berada di depan diikuti Yamato, delapan kapal perusak membentuk lingkaran di sekeliling dua kapal yang lebih besar. Masing-masing kapal berada dalam jarak 1.500 m satu sama lainnya, dan berlayar dengan kecepatan 20 knot. Salah satu dari kapal perusak Jepang, Asashimo mengalami kerusakan mesin dan kembali pulang. Pesawat pengintai Amerika Serikat mulai membayang-bayangi kapal-kapal perang Jepang. Pada pukul 10.00, kapal-kapal Jepang berbelok ke barat agar terlihat sedang ditarik mundur, namun pada pukul 11.30, setelah dideteksi dua pesawat amfibi PBY Catalina, mereka berbalik arah menuju Okinawa setelah sempat melepaskan tembakan salvo ke arah PBY Catalina dengan meriam 460 mm yang berisi amunisi khusus (san-shiki shōsan dan).

Pesawat-pesawat Amerika Serikat,
seperti Curtiss Helldiver ini memulai
serangan terhadap Yamato (tengah kiri),
Sebuah kapal perusak Jepang berada
di tengah kanan foto.
Sekitar pukul 10.00 tanggal 7 April, Angkatan Laut Amerika Serikat melancarkan serangan udara dalam beberapa gelombang yang melibatkan hampir 400 pesawat dari sebelas kapal induk Gugus Tugas 58 di bawah komando Laksamana Madya Marc A. Mitscher. Kesebelas kapal induk tersebut adalah Hornet, Bennington, Belleau Wood, San Jacinto, Essex, Bunker Hill, Hancock, Bataan, Intrepid, Yorktown, dan Langley) yang ditempatkan di sebelah timur Okinawa. Pesawat yang turut serta terdiri dari pesawat tempur F6F Hellcat, pesawat pengebom tukik SB2C Helldiver, dan pesawat pengebom torpedo TBF Avenger. Selain itu, enam kapal tempur (Massachusetts, Indiana, New Jersey, South Dakota, Wisconsin, dan Missouri) yang dikawal kapal-kapal perusak (termasuk Alaska dan Guam) ikut ditugaskan mengadang armada Jepang bila serangan udara gagal.

Armada Jepang tidak dilindungi oleh kekuatan udara, sehingga pesawat-pesawat Amerika Serikat dengan mudah menyusun serangan tanpa takut adanya perlawanan dari pesawat-pesawat Jepang. Setelah penerbangan dua jam dari Okinawa, pesawat-pesawat Amerika Serikat tiba di atas armada Jepang, dan sempat memutar di atas formasi kapal-kapal Jepang, namun di luar jarak efektif senjata antipesawat. Secara teratur mereka memulai serangan ke kapal-kapal Jepang yang berada di bawahnya.

Serangan gelombang pertama pesawat Amerika Serikat dimulai pada pukul 12.30. Kapal-kapal Jepang menambah kecepatan hingga 25 knot (46 km/j), memulai manuver-manuver pengelakan, dan membalas dengan tembakan senjata antipesawat. Yamato membawa hampir 150 senjata antipesawat, termasuk senapan kaliber besar 460 mm yang dapat menembakan peluru khusus antipesawat "Umum Tipe 3". Pesawat pengebom torpedo sebagian besar hanya menyerang ke arah lambung kiri, maksudnya untuk meningkatkan kemungkinan kapal yang dijadikan sasaran untuk terbalik.

Pada pukul 12.46, sebuah torpedo menghantam Yahagi tepat di kamar mesin, menewaskan seluruh awak kamar mesin, dan mesin kapal terhenti. Delas buah bom tepat mengenai sasaran, dan Yahagi paling sedikit terkena oleh enam buah torpedo lainnya. Kapal perusak Isokaze mencoba membantu Yahagi tapi kena serangan, rusak berat, dan tenggelam tidak lama kemudian. Yahagi terbalik dan karam pada pukul 14.05. Para awak kapal Yahagi yang selamat terapung-apung di laut, dan dapat melihat Yamato di kejauhan. Yamato terlihat masih terus bergerak maju ke selatan, dan melawan serangan-serangan pesawat Amerika Serikat. Namun pada kenyataannya, nasib Yamato hanya tinggal beberapa menit lagi sebelum tenggelam.

Dalam serangan gelombang pertama, Yamato manuver pengelakan yang intensif. Sebagian besar bom-bom yang dijatuhkan ke arahnya tidak mengenai sasaran. Torpedo yang ditembakkan kapal-kapal Amerika Serikat juga luput. Namun, Yamato terkena dua bom penembus perisai dan sebuah torpedo. Gerak laju Yamato tidak terpengaruh, namun salah satu bom menyebabkan kebakaran yang tidak bisa dipadamkan di bagian belakang bangunan atas kapal. Selain itu, serangan gelombang pertama memakan korban kapal perusak Jepang Hamakaze dan Suzutsuki yang rusak berat dan mundur dari pertempuran. Tidak lama kemudian Hamakaze tenggelam.

Antara 13.20 dan 14.15, serangan gelombang kedua dan ketiga menjadikan Yamato sebagai bulan-bulanan. Yamato dihantam oleh paling sedikit delapan torpedo dan 15 bom. Ledakan bom menyebabkan kerusakan menyeluruh pada bagian atas kapal, termasuk mematikan listrik ke sistem pengarah senjata otomatis. Akibatnya, masing-masing senjata antipesawat harus diarahkan dan ditembakkan secara manual hingga mengurangi keefektifan dalam mengenai sasaran. Torpedo berulang kali menghantam lambung kiri Yamato hingga miring, dan sewaktu-waktu bisa terbalik. Pos-pos pengendali banjir telah hancur terkena bom hingga sulit untuk mengatasi banjir di dalam lambung kapal. Pada pukul 13.33, dalam keputusasaan untuk menjaga kapal dari terbalik, tim pengendali kerusakan Yamato membanjiri lambung kanan dan ruang boiler dengan air laut. Bahaya terbalik dapat dikurangi, namun usaha ini sekaligus menenggelamkan beberapa ratus awak Yamato di pos-pos mereka. Mereka sebelumnya tidak diberi peringatan kalau kompartemen mereka akan dibanjiri air laut. Korban nyawa awak kapal memberi tambahan waktu kepada Yamato untuk mengapung 30 menit lebih lama. Kerusakan mesin lambung kanan, ditambah beratnya air, membuat gerak Yamato melambat menjadi sekitar 10 knot.

Setelah Yamato makin pelan dan makin mudah dijadikan sasaran, pesawat torpedo Amerika Serikat mulai berkonsentrasi untuk menghantam bagian buritan dan kendali. Mereka berhasil menyarangkan torpedo, dan Yamato tidak dapat lagi disetir. Pada pukul 14.02, setelah diberi tahu bahwa Yamato sudah tidak bisa dikemudikan dan segera karam, Laksamana Itō memerintahkan misi dibatalkan, awak kapal segera meningalkan kapal, dan kapal-kapal sisanya untuk memunguti awak kapal yang selamat. Yamato berkomunikasi dengan kapal-kapal perang yang selamat dengan menggunakan sinyal bendera karena radio sudah hancur.

Pada pukul 14.05, Yamato tidak bergerak lagi dan mulai terbalik. Laksamana Itō dan para kapten menolak untuk meninggalkan kapal. Pada pukul 14.20, Yamato sudah terbalik dan mulai tenggelam (30°22′N 128°04′E). Pada pukul 14.23, Yamatotiba-tiba meledak dengan dahsyat sehingga menurut laporan suara ledakan bisa didengar dan asapnya bisa dilihat dari Kagoshima yang terpisah 200 km dari pusat ledakan. Asap ledakan berupa awan berbentuk jamur yang membubung setinggi 6 km. Menurut laporan, ledakan ikut menjatuhkan beberapa pesawat Amerika Serikat yang menyaksikan tenggelamnya Yamato. Ledakan diperkirakan terjadi akibat kebakaran yang disebabkan ledakan bom menjalar ke ruang amunisi.

Sewaktu mencoba pulang ke pangkalan, kapal perusak Jepang Asashimo dibom pesawat Amerika Serikat dan tenggelam bersama seluruh awaknya. Kapal perusak Jepang Kasumi juga tenggelam akibat serangan pesawat-pesawat yang berpangkalan di kapal induk. Walaupun seluruh haluan kapal hancur, Suzutsuki pulang dengan selamat ke Sasebo, Nagasaki dengan cara berlayar sambil mundur.

Yamato beberapa saat setelah meledak.
Kapal-kapal perusak Jepang sisanya yang tidak begitu rusak (Fuyuzuki, Yukikaze, dan Hatsushimo) berhasil menyelamatkan 280 awak kapal Yamato yang masih hidup (total awak kapal Yamato berbeda-beda menurut sumbernya, antara 2.750 hingga 3.300), ditambah 555 awak kapal yang selamat dari Yahagi (total awak kapal: 1.000), dan hanya di atas 800 awak kapal yang selamat dari Isokaze, Hamakaze, dan Kasumi. Total 3.700 hingga 4.250 personel Angkatan Laut Kekaisaran Jepang tewas. Pelaut yang selamat diangkut pulang ke Sasebo.

Total 10 pesawat Amerika Serikat ditembak jatuh oleh senjata antipesawat Jepang, beberapa dari awak pesawat diselamatkan oleh pesawat amfibi atau kapal selam. Secara keseluruhan, hanya 12 prajurit Amerika Serikat tewas. Beberapa awak kapal Jepang yang selamat melaporkan bahwa pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat menembaki awak kapal yang terapung-apung di laut dengan senapan mesin. Awak kapal Jepang yang selamat juga melaporkan pesawat-pesawat Amerika Serikat untuk sementara menghentikan serangan ke kapal-kapal perusak Jepang yang sedang sibuk memunguti awak kapal yang selamat.

Selama pertempuran laut terjadi, sesuai rencana, Angkatan Darat Jepang melakukan serangan udara ke armada Angkatan Laut Amerika Serikat di Okinawa. Namun Jepang gagal menenggelamkan sebuah kapal pun. Sekitar 115 pesawat terbang, sebagian di antaranya melakukan serangan kamikaze, menghantam kapal-kapal Amerika Serikat sepanjang hari 7 April. Pesawat-pesawat Jepang menghujamkan diri ke Hancock, kapal tempur Maryland, dan kapal perusak Bennett hingga menyebabkan kerusakan sedang di Hancock dan Maryland, namun Bennett rusak berat. Sekitar 100 pesawat Jepang hancur dalam serangan.

Pascapertempuran

Operasi Ten-Go adalah operasi angkatan laut Jepang yang terbesar dan terakhir. Kapal-kapal perang Jepang yang tersisa hanya sedikit terlibat dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi sesudahnya. Suzutsuki tidak pernah diperbaiki. Fuyuzuki diperbaiki, namun terkena ranjau Amerika Serikat yang dijatuhkan dari udara di Moji, 20 Agustus 1945, dan tidak pernah diperbaiki lagi. Yukikaze selamat dari perang dalam keadaan hampir-hampir tidak ada yang rusak. Hatsushimo terkena ranjau Amerika Serikat dekat Maizuru, dan tercatat sebagai kapal perusak Jepang ke-129 sekaligus kapal perusak Jepang terakhir yang tenggelam dalam perang.

Setelah pertempuran sengit dan memakan korban besar, Okinawa dinyatakan aman oleh pihak Sekutu pada 21 Juni 1945. Jepang menyerah pada bulan Agustus 1945 setelah dijatuhi bom atom. Keinginan keras Jepang untuk mengorbankan begitu banyak nyawa dengan taktik-taktik bunuh diri seperti Operasi Ten-go dan Pertempuran Okinawa mendasari keputusan Sekutu untuk menggunakan bom atom terhadap Jepang.

Kisah seputar Operasi Ten-Go sering diangkat dalam berbagai film dan cerita. Peristiwa ini biasanya digambarkan sebagai simbol keberanian, tak mementingkan diri sendiri, namun juga usaha sia-sia para pelaut Jepang dalam mempertahankan tanah air. Istilah Yamato juga sering dipakai sebagai nama puitis untuk Jepang, dan mungkin merupakan salah satu alasan peristiwa ini sering diangkat dalam budaya populer. Tamatnya riwayat kapal tempur Yamato merupakan metafora berakhirnya Kekaisaran Jepang dalam Perang Dunia II.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

USS Minneapolis korban serangan torpedo Jepang
sedang berada di Tulagi beberapa jam setelah
pertempuran 1 Desember 1942
Pertempuran Tassafaronga, kadang-kadang disebut Pertempuran Pulau Savo Keempat atau menurut sumber Jepang sebagai Pertempuran Malam Laut Lunga adalah pertempuran laut yang berlangsung pada malam hari tanggal 30 November 1942 antara Angkatan Laut Amerika Serikat dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang sehubungan dengan kampanye Guadalkanal. Pertempuran terjadi di Selat Ironbottom dekat kawasan Tanjung Tassafaronga di Guadalkanal. Dalam pertempuran ini, armada kapal perang Amerika Serikat yang berkekuatan lima kapal penjelajah dan empat kapal perusak di bawah komando Laksamana Muda Carleton H. Wright mencoba melakukan serangan dadakan dengan tujuan menghancurkan armada kapal perang Jepang yang berkekuatan delapan kapal perusak di bawah komando Laksamana Muda Raizo Tanaka. Kapal-kapal perang Tanaka sedang mencoba mengirimkan pasukan makanan ke pasukan Jepang yang berada di Guadalkanal.

Dengan menggunakan radar, kapal-kapal perang Amerika Serikat melepaskan tembakan dan menenggelamkan satu kapal perusak Jepang. Namun, Tanaka dan para perwira di kapal Jepang lainnya bereaksi cepat dengan meluncurkan torpedo ke arah kapal-kapal perang Amerika Serikat. Torpedo-torpedo Jepang menghantam dan menenggelamkan satu kapal penjelajah Amerika Serikat dan tiga kapal penjelajah lainnya rusak berat. Armada Tanaka dapat melarikan diri tanpa kerusakan tambahan yang berarti, namun misi mengantarkan pasokan makanan ke Guadalkanal tidak dapat diselesaikan. Meskipun berakhir dengan kekalahan besar secara taktis bagi Amerika Serikat, pertempuran ini hanya memiliki dampak strategis yang kecil. Jepang tetap tidak dapat memanfaatkan kemenangan di Tassafaronga untuk mendukung upaya-upaya mereka dalam mengusir pasukan Sekutu dari Guadalkanal.

Latar Belakang

Pada 7 Agustus 1942, tentara Sekutu (terutama Amerika Serikat) mendarat di Guadalkanal, Tulagi, dan Kepulauan Florida di Kepulauan Solomon. Pendaratan Sekutu di pulau-pulau tersebut dimaksudkan untuk menggagalkan usaha Jepang menggunakannya sebagai pangkalan militer untuk mengancam rute logistik antara Amerika Serikat dan Australia. Bila dapat dikuasai, Sekutu akan menggunakannya sebagai titik tolak untuk melancarkan kampanye militer dengan tujuan akhir menetralisir pangkalan utama Jepang di Rabaul, sekaligus mendukung kampanye Nugini oleh Sekutu. Pendaratan Sekutu di Guadalkanal menandai dimulainya kampanye Guadalkanal yang berlangsung enam bulan.

Tentara Jepang yang berjumlah 2.000 hingga 3.000 di pulau-pulau tersebut dikejutkan oleh pendaratan Sekutu. Pada senja 8 Agustus 1942, 11.000 tentara Sekutu di bawah komando Letnan Jenderal Alexander Vandegrift, berhasil mengamankan Tulagi dan pulau-pulau kecil yang berdekatan, berikut sebuah lapangan terbang yang sedang dibangun Jepang di Tanjung Lunga, Guadalkanal. Sekutu lalu menamakan lapangan terbang itu sebagai Lapangan Terbang Henderson. Pesawat-pesawat Sekutu yang beroperasi dari Henderson disebut "Angkatan Udara Kaktus" (Cactus Air Force) sesuai dengan sandi Sekutu untuk Guadalkanal (Kaktus). Sebagai pelindung Lapangan Terbang Henderson, Marinir Amerika Serikat membuat pertahanan perimeter sekeliling Tanjung Lunga. Bala bantuan tambahan yang didatangkan Amerika Serikat selama dua bulan berikutnya berhasil meningkatkan jumlah pasukan di Tanjung Lunga, Guadalkanal menjadi lebih dari 20.000 orang.

Sebagai reaksi pendaratan Sekutu di Guadalkanal, Markas Umum Kekaisaran Jepang menugaskan Angkatan Darat 17 untuk merebut kembali Guadalkanal. Angkatan Darat 17 adalah kesatuan seukuran korps yang bermarkas di Rabaul di bawah pimpinan Letnan Jenderal Harukichi Hyakutake. Pada 19 Agustus 1942, kesatuan-kesatuan Angkatan Darat 17 mulai berdatangan di Guadalkanal untuk mengusir tentara Sekutu.

Ancaman Angkatan Udara Kaktus yang berpangkalan di Lapangan Terbang Henderson menyebabkan Jepang jarang dapat menggunakan kapal-kapal angkut yang besar dan lambat untuk mengantarkan pasukan dan perbekalan ke Guadalkanal. Sebagai gantinya, Jepang memakai kapal-kapal perang yang berpangkalan di Rabaul dan Kepulauan Shortland untuk mengantarkan pasukan mereka ke Guadalkanal. Kapal-kapal perang Jepang, terutama kapal penjelajah ringan atau kapal perusak dari Armada 8 di bawah komando Laksamana Madya Gunichi Mikawa dapat melakukan pelayaran bolak-balik melewati Selat Georgia Baru hingga sampai ke Guadalkanal, dan kembali dengan selamat ke pangkalan hanya dalam satu malam. Pelayaran pulang pergi ini dilakukan setelah matahari terbenam hingga sebelum matahari terbit, dan dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan diserang pesawat-pesawat Angkatan Udara Kaktus. Penggunaan kapal-kapal perang untuk mengantarkan pasukan tidak memungkinkan dibawanya perbekalan dan peralatan berat yang dibutuhkan prajurit. Artileri berat, kendaraan, berikut sebagian besar amunisi dan makanan, misalnya, tidak dapat diangkut dengan kapal perang. Konvoi kapal-kapal perang berkecepatan tinggi Jepang yang dipakai untuk mengangkuti perbekalan selama Kampanye Guadalkanal disebut Sekutu sebagai "Tokyo Ekspres", sementara pihak Jepang menyebutnya sebagai "Angkutan Tikus".

Antara Agustus dan November 1942, Jepang beberapa kali melakukan upaya yang gagal untuk merebut kembali Lapangan Terbang Henderson dan mengusir tentara Sekutu dari Guadalkanal. Upaya terakhir Jepang mengirimkan pasukan bala bantuan dalam jumlah besar digagalkan Sekutu dalam Pertempuran Laut Guadalkanal 12 November–15 November 1942.

Pada 26 November, Letnan Jenderal Hitoshi Imamura ditugaskan untuk memegang komando Angkatan Darat Daerah 8 yang baru dibentuk di Rabaul. Komando baru tersebut membawahi Angkatan Darat 17 di Kepulauan Solomon yang berada di bawah pimpinan Letjen Harukichi Hyakutake dan Angkatan Darat 18 di Nugini. Salah satu prioritas pertama Imamura setelah memegang komando adalah melanjutkan upaya-upaya Jepang mengambil alih Lapangan Terbang Henderson dan Guadalkanal. Namun akhirnya ofensif Sekutu di Buna, Nugini, mengubah prioritas Imamura. Upaya Sekutu untuk merebut Buna dianggap sebagai ancaman serius bagi Rabaul. Imamura lalu menunda misi mengirimkan bala bantuan skala besar yang berikutnya ke Guadalkanal supaya dapat berkonsentrasi pada situasi di Nugini.

Krisis Perbekalan
Raizo Tanaka
Akibat ancaman dari pesawat-pesawat Angkatan Udara Kaktus, ditambah PT boat Angkatan Laut Amerika Serikat yang berpangkalan di Tulagi, dan siklus bulan terang, Jepang beralih menggunakan kapal selam untuk mengantarkan perbekalan untuk pasukan mereka di Guadalkanal. Mulai 16 November 1942 hingga tiga minggu berikutnya, 16 kapal selam Jepang melakukan operasi malam untuk mengantarkan bahan makanan ke Guadalkanal. Setiap malamnya ada satu kapal selam yang diberangkatkan. Satu kapal selam dapat mengantarkan 20 hingga 30 ton perbekalan yang kira-kira cukup untuk jatah makan satu hari pasukan Angkatan Darat 17. Setelah tiba di Guadakanal, perbekalan harus diangkut hanya dengan mengandalkan tenaga manusia, menembus hutan hingga sampai ke kesatuan-kesatuan garis depan. Pada waktu yang bersamaan, Jepang berusaha menjadikan tiga pangkalan di Kepulauan Solomon tengah sebagai daerah tumpuan untuk perahu-perahu kecil yang mengantarkan perbekalan ke Guadalkanal. Namun, pangkalan-pangkalan tersebut lebih dulu dirusak serangan udara Sekutu dan rencana dibatalkan.

Pada 26 November 1942, Angkatan Darat 17 memberi tahu Imamura bahwa mereka sedang mengalami kekurangan makanan yang kritis. Beberapa kesatuan garis depan sudah tidak dibekalkan kembali selama enam hari. Pasukan di daerah belakang bahkan hanya diberi jatah sepertiga dari ransum harian mereka. Situasi itu kembali memaksa Jepang untuk kembali menggunakan kapal-kapal perusak sebagai pengangkut perbekalan ke Guadalkanal.

Carleton H. Wright
Personel Armada Kedelapan Jepang menyusun rencana untuk membantu mengurangi terlihatnya kapal-kapal perusak Jepang oleh Sekutu sewaktu membongkar muatan di Guadalkanal. Caranya dengan mengisi drum-drum besar dengan obat-obatan dan makanan. Sebelum diisi, drum bekas bahan bakar dan oli dibersihkan. Drum diisi tidak sampai penuh, dan cukup menyisakan ruang udara masih dapat mengapung di laut. Setelah selesai diisi, drum-drum diikat dengan tali. Setelah sampai di Guadalkanal, kapal perusak akan berbelok dan melepaskan ikatan drum-drum. Perenang atau perahu dari pantai akan mengambil ujung dari tali yang diberi pelampung. Drum-drum perbekalan akan ditarik ke pantai untuk dibongkar dan diangkut oleh para prajurit.

Satuan Bala Bantuan Guadalkanal dari Armada 8 berada di bawah komando Laksamana Muda Raizo Tanaka. Satuan yang berpangkalan di Kepulauan Shortland ini ditugaskan oleh Gunichi Mikawa untuk menjalankan misi pertama dari lima misi membawa drum-drum seperti dijadwalkan sebelumnya. Misi pertama diberangkatkan pada malam 30 November 1942. Kesatuan Tanaka berintikan delapan kapal perang dari Skuadron Kapal Perusak 2 (Desron 2). Enam kapal perusak di antaranya, masing-masing diisi dengan 200 hingga 240 drum perbekalan untuk dibawa ke Tassafaronga, Guadalkanal. Tanaka memakai kapal perusak Naganami sebagai kapal komando bersama Takanami sebagai kapal pengawal. Enam kapal perusak pembawa drum adalah Kuroshio, Oyashio, Kagero, Suzukaze, Kawakaze, dan Makinami. Dalam usaha mengurangi berat, kapal perusak pembawa drum menurunkan Torpedo Tipe 93 milik mereka di Kepulauan Shortland. Dengan demikian, setiap kapal hanya memiliki delapan torpedo, dan satu tabung peluncur hanya berisi satu torpedo.

Seusai Pertempuran Laut Guadalkanal, Laksamana Madya (AS) William Halsey, komandan tentara Sekutu di Pasifik Selatan telah selesai menyusun kembali kekuatan Angkatan Laut Amerika Serikat di bawah komandonya, di antaranya membentuk Gugus Tugas 67 (TF 67) pada 24 November 1942 di Espiritu Santo yang terdiri dari kapal penjelajah berat USS Minneapolis, New Orleans, Pensacola, dan Northampton, ditambah kapal penjelajah ringan Honolulu, serta empat kapal perusak (Fletcher, Drayton, Maury, dan Perkins). Laksamana Muda (AS) Carleton H. Wright menggantikan Thomas Kinkaid sebagai komandan TF67 pada 28 November 1942.

Setelah memegang komando, Wright memberi brifing kepada komandan kapal-kapalnya mengenai rencana pertempuran dengan kapal-kapal Jepang, dan kemungkinan terjadinya pertempuran malam di sekitar Guadalkanal. Sesuai rencana yang disusunnya bersama Kinkaid, kapal perusak yang dilengkapi radar akan mengawal di depan kapal-kapal penjelajah. Tugas mereka melancarkan serangan torpedo dadakan setelah terlihatnya kapal-kapal perang Jepang. Kapal-kapal perusak lalu akan menyingkir untuk memberi bidang tembak yang jelas kepada kapal-kapal penjelajah yang akan menembakkan meriam dari jarak 10,000 yard (9.100 m) hingga 12,000 yard (11.000 m). Pesawat terbang laut yang dibawa olah kapal penjelajah bertindak sebagai pemandu dan akan menjatuhkan suar selama pertempuran berlangsung.

Gugsu Tugas 67 dalam pelayaran menuju
Guadalkanal, 30 November 1942. Fletcher
berada di depan diikuti oleh Perkins,
Maury, Drayton, dan kapal-kapal
penjelajah di kejauhan.
Pada 29 November 1942, personel intelijen Sekutu mengintersepsi dan berhasil memecahkan kode Jepang yang dikirim ke markas Angkatan Darat 17 di Guadalkanal. Keberadaan misi pengiriman bala bantuan yang dipimpin oleh Tanaka terbongkar oleh Sekutu. Setelah berita tersebut sampai di tangannya, Halsey memerintahkan Wright memberangkatkan Gugus Tugas 67 dengan tujuan mencegat armada Tanaka di dekat Guadalkanal. Dengan memakai Minneapolis sebagai kapal komando, Gugus Tugas 67 di bawah pimpinan Wright berangkat dari Espiritu Santo menuju Guadalkanal dengan kecepatan 27 knot (31 mph; 50 km/jam), tepat sebelum tengah malam 29 November 1942. Di tengah perjalanan, kapal perusak Lamson dan Lardner yang baru kembali dari tugas mengawal konvoi lainnya ke Guadalkanal, diperintahkan untuk bergabung dengan Gugus Tugas 67. Wright tidak punya waktu cukup untuk memberi brifing mengenai rencana pertempuran kepada para perwira komando dari dua kapal perusak yang baru bergabung. Sebagai akibatnya, kapal-kapal mereka terpaksa diposisikan di belakang kapal-kapal penjelajah. Pada pukul 17.00 tanggal 30 November, kapal-kapal penjelajah Wright masing-masing memberangkatkan satu pesawat terbang laut menuju Tulagi. Pilot-pilot mereka ditugaskan menjatuhkan suar dalam pertempuran yang diperkirakan akan terjadi malam itu. Pada pukul 20.00, Wright memerintahkan pada awak kapal untuk bersiap di pos tempur mereka.

Armada Tanaka berangkat dari Kepulauan Shortland untuk menjalankan misi ke Guadalkanal, tepat selepas tengah malam 30 November. Dalam usahanya menghindari pesawat pengintai Sekutu, Tanaka memerintahkan armadanya untuk berlayar lebih dulu ke arah timur laut melewati Selat Bougainville sebelum nantinya berbelok ke arah tenggara, dan kemudian ke selatan melewati Selat Indispensable. Paul Mason, seorang coastwatcher Australia yang ditempatkan di Bougainville selatan, melapor lewat radio tentang keberangkatan kapal-kapal Tanaka dari Kepulauan Shortland. Pesan tersebut kemudian diteruskan kepada Wright. Pada waktu yang bersamaan, sebuah konvoi kapal-kapal Sekutu terlihat oleh sebuah pesawat pengintai Jepang di dekat Guadalkanal. Berita terlihatnya kapal-kapal Sekutu disampaikan kepada Tanaka, dan lalu diteruskan kepada para komandan kapal-kapal perusak agar siap beraksi malam itu, "Bila terjadi pertempuran, upaya sekuat tenaga akan dilakukan untuk menghancurkan musuh, tidak perlu memikirkan lagi soal misi mengantarkan perbekalan."

Pertempuran

Pendahuluan
Peta Angkatan Laut Amerika Serikat mengenai
Pertempuran Tassafaronga yang dibuat
berdasarkan catatan pihak Jepang dan
Amerika Serikat yang turut serta.
Pada pukul 21.40 tanggal 30 November 1942, kapal-kapal Tanaka yang berada di Selat Indispensable sudah dapat melihat Pulau Savo di kejauhan. Kapal-kapal Jepang berlayar dalam formasi kolom, masing-masing dipisahkan oleh jarak 600 m (660 yd), dengan susunan sebagai berikut: Takanami, Oyashio, Kuroshio, Kagero, Makinami, Naganami, Kawakaze, dan Suzukaze. Pada saat yang bersamaan, Gugus Tugas 67 memasuki Terusan Lengo dalam perjalanan ke Selat Ironbottom. Kapal-kapal Wright berada dalam formasi kolom, dengan susunan sebagai berikut: Fletcher, Perkins, Maury, Drayton, Minneapolis, New Orleans, Pensacola, Honolulu, Northampton, Lamson, dan Lardner. Keempat kapal perusak berada paling depan, dan terpisah dari kapal-kapal penjelajah yang berada di belakangnya dengan jarak 4,000 yard (3.700 m). Kapal-kapal penjelajah berlayar dipisahkan oleh jarak 1,000 yard (910 m) satu sama lainnya.

Pada pukul 22.40, kapal-kapal Tanaka melewati selatan Pulau Savo, kira-kira 3 mil (5 km) lepas pantai Guadalkanal, dan ketika mereka mendekati daerah bongkar muatan, kecepatan dikurangi hingga 12 knot (14 mph; 22 km/jam). Takanami yang berada di posisi kira-kira 1 mil (2 km) ke arah laut bertugas memberi tabir bagi formasi armada Jepang. Pada saat bersamaan, Gugus Tugas 67 keluar dari Terusan Lengo memasuki Selat Ironbottom dengan kecepatan 20 knot (23 mph; 37 km/jam) menuju Pulau Savo. Kapal-kapal perusak Wright berada paling depan, dan bergerak maju ke posisi yang sedikit agak lebih dekat dengan pantai dibandingkan kapal-kapal penjelajah. Langit malam tanpa bulan, dan jarak pandang antara 2 mil (3 km) hingga 7 mil (11 km). Keberangkatan pesawat terbang laut dari kapal-kapal penjelajah Wright yang sudah berada di Pelabuhan Tulagi menjadi tertunda akibat ponton-ponton pesawat terkena efek isap dari permukaan laut yang sangat tenang. Oleh karena itu, mereka tidak ikut dalam pertempuran malam itu.

Pada pukul 23.06, radar kapal-kapal Wright mulai mendeteksi keberadaan armada Tanaka di dekat Tanjung Esperance, Guadalkanal yang jauhnya kira-kira 23,000 yard (21.000 m). Kapal-kapal perusak Wright masuk kembali dalam formasi kolom ketika melanjutkan pelayaran menuju Pulau Savo. Pada saat bersamaan, kapal-kapal Tanaka yang tidak dilengkapi dengan radar, dipecah menjadi dua kelompok, dan mulai bersiap-siap mendorong drum-drum muatan ke laut. Naganami, Kawakaze, dan Suzukaze berlayar menuju titik penurunan barang di dekat Karang Doma, sementara Makinami, Kagero, Oyashio, dan Kurashio bergerak menuju Tassafaronga yang berdekatan. Pada pukul 23.12, Takanami secara visual dapat melihat kapal-kapal Wright, dan segera dikonfirmasi oleh petugas jaga di atas kapal-kapal Jepang lainnya. Pukul 23.16, persiapan bongkar muatan dihentikan. Tanaka mengeluarkan perintah, "Semua kapal serang."

Aksi
Pukul 23.14, operator radar Fletcher mendapat kontak radar yang pasti dengan Takanami berikut empat kapal perusak terdepan pembawa drum-drum perbekalan. Pukul 23.15, ketika sudah berada dalam jarak 7,000 yard (6.400 m), Letkol Laut William M. Cole, komandan gugus kapal perusak sekaligus nakhoda Fletcher, meradio Wright untuk meminta izin menembakkan torpedo. Cole menunggu selama dua menit sebelum Wright menjawab, "Jarak sasaran [kapal-kapal Tanaka pada radar] terlalu jauh saat ini." Cole menambahi bahwa sasaran sudah tampak jelas. Dua menit berlalu sebelum Wright memberi izin untuk mulai menembak. Sementara Cole dan Wright saling meradio, kapal-kapal Jepang yang seharusnya dijadikan sasaran kapal perusak Amerika Serikat telah melarikan diri hingga berada di luar jarak tembak optimal. Torpedo-torpedo Amerika harus mengejar hingga hampir mencapai batas jarak jangkauan mereka. Pada pukul 23.20, Fletcher, Perkins, dan Drayton secara bersama-sama telah menembakkan 20 buah torpedo Mark 15 ke arah kapal-kapal Tanaka. Maury tidak mendapat kontak radar dengan kapal-kapal Jepang karena tidak dipasangi radar SG, dan tidak ikut menembak.

Pada saat yang bersamaan, Wright memerintahkan kapal-kapalnya untuk mulai menembak. Minneapolis mematuhi dengan melepaskan tembakan meriam pertama pada pukul 23.21, dan segera diikuti kapal-kapal penjelajah Amerika lainnya. Sesuai pengarahan yang diterima sebelumnya, empat kapal perusak Cole menembakkan peluru suar untuk menerangi sasaran. Setelah itu, mereka menambah kecepatan untuk meninggalkan tempat dan memberi kesempatan beraksi bagi kapal-kapal penjelajah.

Takanami berada paling dekat dengan formasi kolom kapal-kapal Wright, dan dijadikan sasaran sebagian besar tembakan awal kapal-kapal Amerika Serikat. Takanami balas menembak, dan meluncurkan kedelapan torpedo yang dibawanya hingga habis, tetapi segera menjadi korban tembakan meriam Amerika. Hanya dalam empat menit, Takanami terbakar dan lumpuh. Setelah Takanami hancur, sisa kapal-kapal Tanaka yang hampir-hampir tidak terdeteksi kapal-kapal Amerika Serikat, menambah kecepatan, dan bersiap-siap membalas serangan Amerika. Semua torpedo yang ditembakkan kapal-kapal Amerika ternyata meleset. Sejarawan Russell S. Crenshaw, Jr. mendalilkan bila sejumlah dua puluh empat torpedo ditembakkan oleh kapal-kapal perusak Angkatan Laut Amerika Serikat selama pertempuran tidak cacat secara fatal, hasil pertempuran mungkin akan berbeda.

Kapal komando Tanaka, Naganami mengubah haluan ke arah kanan, melepaskan tembakan, dan mulai membuat tabir asap. Dua kapal yang berada di belakang, Kawakaze and Suzukaze, mengubah haluan ke arah kiri. Pukul 23.23, Suzukaze menembakkan delapan torpedo ke arah kilatan tembakan kapal-kapal penjelajah Wright, diikuti oleh Naganami dan Kawakaze. Masing-masing menembakkan seluruh muatan torpedo mereka yang hanya delapan buah, berturut-turut pada pukul 23.32 dan 23.33.

Sementara itu, empat kapal perusak paling depan dalam formasi kolom armada Jepang mempertahankan arah pelayaran mereka menuju pantai Guadalkanal. Kapal-kapal penjelajah Amerika Serikat dibiarkan melaju terus dari arah yang berlawanan. Setelah izin didapat dari Takanami pada pukul 23.28, Kuroshio menembakkan empat torpedo dan Oyashio menembakkan delapan torpedo ke arah kapal-kapal Wright sebelum berbalik arah, dan menambah kecepatan. Kapal-kapal penjelajah Wright mempertahankan kecepatan pada arah yang sama, disambut oleh 44 buah torpedo Jepang yang terus melaju ke arah mereka.

Pukul 23.27, ketika Minneapolis melepaskan tembakan salvo ke-9 dan Wright sedang bersiap menyampaikan perintah mengubah haluan untuk semua kapal-kapalnya, dua torpedo dari Suzukaze atau Takanami menerjang bagian depan kapal Minneapolis. Satu hulu ledak torpedo meledakkan tangki-tangki penyimpan bahan bakar pesawat di depan kubah meriam satu, dan satu hulu ledak lainnya menghancurkan tiga dari empat kamar perapian. Haluan di depan kubah meriam satu terlipat ke bawah hingga membentuk sudut 70°. Kapal mati mesin dan kehilangan kendali kemudi. Tiga puluh tujuh awak kapal tewas.

New Orleans di dekat Tulagi, pada pagi
keesokan hari setelah pertempuran.
Tampak dalam foto, bagian haluan di
depan kubah meriam dua hancur total.
Kurang dari semenit kemudian, sebuah torpedo menghantam New Orleans di sebelah kubah meriam satu. Gudang senjata depan dan ruang penyimpanan bahan bakar pesawat meledak. Ledakan memotong keseluruhan haluan mulai dari sebelah depan kubah meriam dua. Haluan terputar ke kiri, merusak lambung kapal yang bagaikan direnggut lepas oleh daya gerak kapal, dan langsung tenggelam di dekat lambung kiri buritan. Semua awak di kubah meriam satu dan dua tewas. New Orleans terpaksa berbalik arah ke kanan dalam keadaan kehilangan kemudi serta komunikasi. Total 183 awak kapal tewas. Herbert Brown, pelaut di ruang pengumpulan data kapal, menggambarkan situasi setelah kapalnya terkena torpedo.

Pensacola ikut mundur dari formasi kapal-kapal penjelajah, dan dikemudikan melewati sisi kiri Minneapolis dan New Orleans sambil memeriksa keadaan kedua kapal yang terkena tembakan dan melambat. Setelah melewati keduanya, Pensacola kembali ke arah haluan semula. Pada pukul 23:39, Pensacola dihantam torpedo sejajar dengan tiang agung. Ledakan menyebarkan minyak menyala ke seluruh interior dan sepanjang geladak utama kapal, menewaskan 125 awak kapal. Tembakan torpedo juga merenggut poros penggerak propeler lambung kiri, dan membuat kapal miring 13 derajat serta kehilangan mesin, komunikasi, dan kemudi.

Nakhoda Honolulu yang kapalnya berada di belakang Pensacola, memilih untuk melewati sisi kanan Minneapolis dan New Orleans. Honolulu menambah kecepatan hingga 30 knot (35 mph; 56 km/jam) sambil melakukan manuver secara radikal, dan berhasil keluar dari wilayah pertempuran tanpa kerusakan sedikit pun. Tembakan terus dilepaskan meriam-meriam utama Honolulu ke arah kapal-kapal perusak Jepang yang sedang menghilang dengan cepat.

Kapal penjelajah Northampton yang berada paling belakang dalam formasi armada Amerika Serikat, mengikuti Honolulu melewati sisi lambung kanan kapal-kapal penjelajah Amerika Serikat yang rusak. Lain halnya dengan Honolulu, Northampton tidak menambah kecepatan atau melakukan manuver radikal. Pada pukul 23.48, setelah haluan dikembalikan ke arah semula, Northampton dihantam dua buah torpedo dari Kawakaze. Satu torpedo tembus pada 10 kaki (3 m) di bawah garis air sebelah kamar mesin belakang. Empat menit kemudian, torpedo kedua tepat kena di 40 kaki (12 m) lebih ke buritan. Kamar mesin banjir, dan tiga dari empat poros penggerak berhenti berputar. Kapal miring 10° ke lambung kiri dan terbakar. Lima puluh awak kapal tewas.

Tidak ada satu sasaran pun yang ditemukan oleh Lamson dan Lardner yang berada paling belakang dalam formasi armada Wright. Keduanya meninggalkan daerah pertempuran ke arah timur setelah sempat ditembaki secara tidak tidak sengaja oleh senapan mesin New Orleans. Cole memerintahkan keempat kapal perusaknya untuk melakukan satu putaran penuh mengelilingi Pulau Savo dengan kecepatan maksimum, dan memasuki kembali daerah pertempuran. Namun, pertempuran sudah berakhir.

Di pihak Jepang, Tanaka pada pukul 23:44 sudah memerintahkan kapal-kapalnya untuk berhenti menembak dan meninggalkan daerah pertempuran. Saat mereka bergerak maju ke pantai Guadalkanal, Kuroshio dan Kagero menembakkan delapan buah torpedo lagi ke arah kapal-kapal Amerika, namun semuanya meleset. Ketika panggilan radio tidak dijawab oleh Takanami, Tanaka menugaskan Oyashio dan Kuroshio untuk mencari dan memberi bantuan. Takanami yang sedang terbakar ditemukan oleh Oyashio dan Kuroshio pada pukul 01.00 tanggal 1 Desember 1942, tetapi keduanya membatalkan upaya-upaya penyelamatan setelah mendeteksi adanya kapal-kapal Amerika di daerah itu. Oyashio dan Kuroshio segera meninggalkan Selat Ironbottom untuk bergabung dengan armada Tanaka yang sedang dalam perjalanan pulang ke Kepulauan Shortland, dan tiba 10 jam kemudian. Takanami adalah satu-satunya kapal Jepang yang kena tembakan meriam Amerika, dan rusak berat dalam pertempuran.

Pascapertempuran

Awak kapal Takanami yang selamat meninggalkan kapal pada pukul 01.30. Namun, sebuah ledakan besar menewaskan lebih banyak lagi awak kapal yang sudah berada di air, termasuk komandan divisi kapal perusak, Toshio Shimizu dan nakhoda kapal, Masami Ogura. Dari 244 awak kapal Takanami, hanya 48 orang yang selamat tiba di pantai Guadalkanal. Sembilan belas di antaranya ditangkap oleh tentara Amerika.

Sebuah kapal patroli torpedo membawa awak
kapal Northampton yang selamat dekat
Tulagi pada pagi 1 Desember 1942.
Tampak di latar belakang adalah New Orleans.
Kebakaran di atas Northampton tidak berhasil dikendalikan oleh awak kapal. Kapal mulai miring dan ditinggalkan oleh para awaknya pada pukul 01.30. Northampton tenggelam pada pukul 03.04 di sekitar 4 mil (6 km) dari Doma Cove di Guadalkanal (09°12′S 159°50′E). Fletcher dan Drayton menolong 773 awak kapal yang selamat.

Minneapolis, New Orleans, dan Pensacola masih mampu berlayar 19 mil (31 km), hingga sampai di Tulagi pada pagi 1 Desember 1942. Di sana, Pensacola disandarkan untuk perbaikan darurat. Setelah berlangsung selama 12 jam, kebakaran di Pensacola dapat dipadamkan. Pada 6 Desember 1942, Pensacola berangkat menuju ke pelabuhan daerah belakang untuk perbaikan lebih lanjut. Setelah dipasang haluan sementara dari batang-batang pohon kelapa, Minneapolis dan New Orleans meninggalkan Tulagi menuju Espiritu Santo atau Sydney, Australia pada 12 Desember 1942. Ketiga kapal penjelajah semuanya memerlukan perbaikan panjang dan ekstensif. New Orleans kembali bertugas pada bulan Agustus 1943, Minneapolis pada bulan September, dan Pensacola pada bulan Oktober 1943.

Pertempuran Tassafaronga adalah salah satu dari kekalahan terburuk yang diderita Angkatan Laut Amerika Serikat dalam Perang Dunia II, sekaligus kekalahan terburuk ketiga setelah Pengeboman Pearl Harbor dan Pertempuran Pulau Savo. Akibat kalah dalam pertempuran ini, ditambah kekalahan yang diderita dalam Pertempuran Pulau Savo, Pertempuran Tanjung Esperance, dan Pertempuran Laut Guadalkanal, Amerika Serikat untuk sementara waktu hanya memiliki 4 kapal penjelajah berat dan 9 kapal perusak ringan untuk seluruh kawasan Samudra Pasifik. Meskipun kalah dalam pertempuran, Wright mendapat anugerah Navy Cross untuk keberanian dan jasa-jasanya dalam perang. Navy Cross merupakan salah satu bintang militer tertinggi di Amerika Serikat. Dengan maksud mengurangi kesan gugus tugasnya telah menderita kerugian terlalu besar, Wright dalam laporannya mengklaim armadanya telah berhasil menenggelamkan empat kapal perusak dan merusak dua kapal Jepang yang lainnya. Dalam komentarnya mengenai laporan Wright, Halsey menyalahkan Cole sebagai penyebab kekalahan. Lebih lanjut Halsey menambahkan tentang para komandan skuadron kapal perusak yang menembakkan torpedo dari luar jarak efektif, dan mereka seharusnya "membantu" kapal-kapal penjelajah dan bukan hanya mengelilingi Pulau Savo. Tanaka mengklaim telah menenggelamkan sebuah kapal tempur dan dua kapal penjelajah.

Hasil pertempuran menyebabkan diskusi lebih lanjut di kalangan pimpinan Armada Pasifik Amerika Serikat tentang perubahan doktrin strategi dan perlunya perbaikan teknis, misalnya mesiu yang tidak menyebabkan kilatan sewaktu ditembakkan. Meskipun demikian, pimpinan tinggi angkatan laut baru menyadari adanya masalah serius pada fungsi torpedo delapan bulan kemudian. Militer Amerika Serikat juga masih belum menyadari jarak jelajah dan kekuatan torpedo Jepang yang sebenarnya, serta keefektifan taktik pertempuran malam Jepang. Wright malah menyatakan kapal-kapalnya dipastikan telah menjadi korban torpedo yang ditembakkan dari kapal selam Jepang. Dari posisi kapal-kapal Tanaka yang diketahuinya, "torpedo-torpedo yang memiliki spesifikasi kecepatan serta jarak yang serupa dengan torpedo milik kita" tidak mungkin dapat menyebabkan kerusakan seperti itu. Pernyataan tersebut dikeluarkan Wright bahkan setelah Tanaka mengatakan torpedo-torpedonya ditembakkan dari jarak paling tidak tiga mil (4,8 km). Hingga tahun 1943, Amerika Serikat belum mengetahui kemampuan sebenarnya dari torpedo dan taktik perang malam Jepang. Seusai perang, Tanaka berkata mengenai kemenangan armadanya di Tassafaronga, "Aku telah mendengar para pakar angkatan laut Amerika Serikat memuji kepemimpinanku dalam aksi waktu itu. Aku tidak layak mendapat penghargaan tersebut. Semuanya berkat kemampuan luar biasa dan pengabdian dari orang-orang yang telah melayaniku. Mereka lah yang berjasa atas kemenangan taktis bagi kami."

Pensacola (tengah) dan New Orleans (kanan)
(bersama Salt Lake City) di Pearl Harbor
pada 31 Oktober 1943 setelah selesai diperbaiki.
Meskipun kalah dalam pertempuran, armada Amerika Serikat berhasil menghalangi upaya Tanaka mendaratkan perbekalan makanan yang betul-betul dibutuhkan di Guadalkanal, sekalipun harus dibayar mahal. Upaya kedua Jepang mengantarkan perbekalan dilakukan oleh 10 kapal perusak di bawah komando Tanaka pada 3 Desember 1942, dan berhasil menurunkan 1.500 drum perbekalan di lepas pantai Tassafaronga. Namun, sebagian besar di antaranya ditenggelamkan oleh berondongan pesawat terbang Amerika, dan hanya tersisa 310 drum yang dapat ditarik ke pantai. Pada 7 Desember 1942, upaya ketiga oleh 12 kapal perusak Jepang berhasil dihalau oleh kapal patroli torpedo Amerika Serikat di dekat Tanjung Esperance. Malam berikutnya, dua kapal patroli Amerika Serikat menembakkan torpedo dan berhasil menengelamkan kapal selam Jepang I-3 ketika sedang berusaha mengantarkan perbekalan ke Guadalkanal. Menimbang kesulitan-kesulitan yang dihadapi sewaktu mengantarkan makanan ke Guadalkanal, Angkatan Laut Jepang mengabarkan kepada Letnan Jenderal Imamura pada 8 Desember 1942 bahwa mereka berencana menghentikan semua misi pengangkutan ke pulau itu. Setelah Imamura memprotes, pihak angkatan laut setuju untuk menjalankan satu kali lagi misi ke Guadalkanal.

Pada malam 11 Desember 1942, Tanaka memimpin upaya terakhir Jepang mengirimkan makanan ke Guadalkanal dengan memakai 11 kapal-kapal perusak dengan memakai sebelas kapal perusak. Lima kapal patroli torpedo Amerika Serikat mencegat armada Tanaka di dekat Guadalkanal, dan meluncurkan torpedo ke arah kapal komando Teruzuki. Serangan torpedo mengakibatkan Teruzuki rusak berat dan Tanaka terluka. Setelah Tanaka dipindahkan ke Naganami, Teruzuki ditenggelamkan. Hanya 220 dari 1.200 drum yang diturunkan pada malam itu berhasil ditemukan kembali oleh personel angkatan darat Jepang yang berada di pantai. Tanaka kemudian dibebastugaskan dari tanggung jawabnya sebagai komandan, dan dipulangkan ke Jepang pada 29 December 1942.

Pada 12 Desember 1942, Angkatan Laut Jepang mengusulkan agar Guadalkanal dilepas ke tangan Sekutu. Usulan itu ditolak oleh pimpinan Angkatan Darat Jepang yang masih berharap dapat merebut kembali Guadalkanal dari Sekutu. Setelah mendapat persetujuan dari kaisar, Markas Umum Kekaisaran Jepang pada 31 Desember 1942 sepakat mengevakuasi semua tentara Jepang dari Guadalkanal, dan mendirikan garis pertahanan baru untuk Kepulauan Solomon di Georgia Baru. Jepang mengevakuasi sisa pasukannya dari Guadalkanal dalam Operasi Ke yang berlangsung selama tiga malam antara 2 Februari hingga 7 Februari 1943, dan Guadalkanal diserahkan kepada Sekutu. Bermodalkan keberhasilan di Guadalkanal dan tempat-tempat lain, Sekutu melanjutkan perlawanannya terhadap Jepang yang berpuncak pada kapitulasi Jepang dan berakhirnya Perang Dunia II.

Sumber: http://id.wikipedia.org/
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments