Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Perang Saudara
10 Oktober 1981: Demonstrasi Menuntut Perdamaian Dunia
Bildunterschrift: Orang sudah jenuh dengan Perang Dingin. Mulai awal hingga pertengahan tahun 1980 warga Eropa melancarkan protes menentang kebijakan ganda Pakta Pertahanan Atlantik Utara NATO yang menyetujui penempatan senjata nuklir. Salah satu demonstrasi terbesar digelar di Bonn. Di Jerman Timur muncul gerakan anti perang serupa dengan mengusung moto: “Tempalah Pedang Menjadi Mata Bajak”.
11 Maret 1985: Gorbachev Naik ke Tampuk Pimpinan
Bildunterschrift: Setelah kematian Konstantin Chernenko, Mikail Gorbachev diangkat menjadi sekretaris jenderal Partai Komunis Uni Soviet. Bagi Blok Barat politisi berusia 54 tahun ini dipandang sebagai pembawa harapan baru. Dengan politiknya Glasnost dan Perestroika (Keterbukaan dan Reformasi) dia berjasa mengakhiri ketegangan dalam Perang Dingin. Tahun 1990 dia dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian.
12 Juni 1987: Pidato Reagen di Berlin
Bildunterschrift: Presiden Amerika Serikat Ronald Reagen datang ke Berlin dan sama seperti Kennedy, dia juga berpidato. Di depan tembok pemisah di Berlin dekat Gerbang Brandenburg, dia berseru: Come here to this gate! Mister Gorbachev, open this gate! Mr. Gorbachev, tear down this wall! Memang Gorbachev tidak jadi datang, namun dua tahun kemudian Tembok Berlin diruntuhkan.
8 Maret 1989: Korban Terakhir Tembok Berlin
Bildunterschrift: Winfried Freudenberg (32 tahun) tewas ketika mencoba melarikan diri melewati Tembok Berlin dengan memakai balon gas. Dia korban terakhir Tembok Berlin. Sebulan sebelumnya Chris Gueffroy ditembak mati di Berlin-Treptow oleh petugas penjaga perbatasan Jerman Timur. Jumlah seluruh korban yang tewas tidak jelas. Namun sejak tahun 1945, diperkirakan hingga 1.000 orang tewas di tembok pemisah kedua negara Jerman ini.
2 Mei 1989: Tirai Besi Runtuh
Bildunterschrift: Tanggal 2 Mei kawat besi sepanjang 600 meter yang membatasi Hungaria dan Austria disingkirkan. Bulan Juni menteri luar negeri kedua negara, Alois Mock (Austria ) dan Gyula Horn (Hungaria), sendiri ikut memotong pembatas ini. Foto mereka beredar ke seluruh dunia. Ribuan warga Jerman Timur yang melarikan diri lewat pagar pembatas yang telah jebol makin melemahkan pemerintahan komunis Eropa Timur yang saat itu sudah goyah.
7 Mei 1989: Pemilu Layaknya Sandiwara
Bildunterschrift: Tahun 1980-an oposisi di Jerman Timur berusaha menguak hasil pemilu yang dimanipulasi secara sistematis. Tidak seperti biasanya, sebelum pemilu lokal tahun 1989, SED dengan gencar mempropagandakan “azas demokratis” pemilu. Hasil perhitungan resmi mencatat 98,85% suara untuk SED. Tapi kali ini, pengamat independen pemilu berhasil menemukan bukti kuat adanya kecurangan. Bagi rejim SED yang tidak lagi dipercayai warga, pemilu ini menjadi malapetaka.
4 September 1989: Awal “Demonstrasi Senin”
Bildunterschrift: Di depan gereja St. Nikolai di Dresden sekitar 1.000 orang berdemonstrasi. Sejak itu setiap hari Senin jumlah yang datang makin bertambah. Tanggal 16 Oktober jumlah demonstran tercatat 120.000 orang. Mereka berteriak “Hentikan kekerasan” dan “Kita semua warga negara!” Aparat keamanan tidak berbuat apa-apa.
30 September 1989: Serbuan Warga Yang Tak Puas
Bildunterschrift: Kerumunan massa di kedutaan Jerman Barat di Praha, Cekoslowakia. 4.000 pelarian dari Jerman Timur bahkan sempat berkemah di sana. Tanggal 30 September Menteri Luar Negeri Jerman Barat Hans-Dietrich Genscher mengumumkan bahwa pejabat Jerman Timur menyetujui untuk memberikan izin keluar negeri bagi warganya. Kedutaan negara lainnya juga diduduki. Situasinya tak lagi terkontrol. Kejatuhan Jerman Timur tinggal tunggu waktu.
7 Oktober 1989: 40 Tahun Jerman Timur– Peringatan Sang Tamu
Bildunterschrift: Walau dihantui gelombang unjuk rasa dan aksi protes, pimpinan SED tetap merayakan peringatan 40 tahun berdirinya dengan dengan parade militer. Beberapa demonstrasi juga digelar, yang ditindak dengan keras oleh aparat keamanan, 1.000 orang ditangkap. Mikail Gorbachev, yang hadir dalam upacara peringatan ini, memberi peringatan kepada pimpinan Jerman Timur: “Siapa yang terlambat, akan menanggung akibatnya.”
18 Oktober 1989: Krenz Gantikan Honecker
Bildunterschrift: Setelah Honecker mengumumkan melepaskan semua jabatannya, krisis tak bisa lagi ditutup-tutupi. Penggantinya untuk posisi kepala negara dan pemimpin partai dipilih Egon Krenz. Mantan kepala Organisasi Pemuda Sosialis (FDJ) itu pun tak mendapat dukungan warga. Malahan setelah Jerman bersatu, Krenz dijebloskan ke penjara karena kasus penembakan di Tembok Berlin.
Sumber: http://www.dw-world.de

Bildunterschrift: Orang sudah jenuh dengan Perang Dingin. Mulai awal hingga pertengahan tahun 1980 warga Eropa melancarkan protes menentang kebijakan ganda Pakta Pertahanan Atlantik Utara NATO yang menyetujui penempatan senjata nuklir. Salah satu demonstrasi terbesar digelar di Bonn. Di Jerman Timur muncul gerakan anti perang serupa dengan mengusung moto: “Tempalah Pedang Menjadi Mata Bajak”.
11 Maret 1985: Gorbachev Naik ke Tampuk Pimpinan
Bildunterschrift: Setelah kematian Konstantin Chernenko, Mikail Gorbachev diangkat menjadi sekretaris jenderal Partai Komunis Uni Soviet. Bagi Blok Barat politisi berusia 54 tahun ini dipandang sebagai pembawa harapan baru. Dengan politiknya Glasnost dan Perestroika (Keterbukaan dan Reformasi) dia berjasa mengakhiri ketegangan dalam Perang Dingin. Tahun 1990 dia dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian.
12 Juni 1987: Pidato Reagen di Berlin
Bildunterschrift: Presiden Amerika Serikat Ronald Reagen datang ke Berlin dan sama seperti Kennedy, dia juga berpidato. Di depan tembok pemisah di Berlin dekat Gerbang Brandenburg, dia berseru: Come here to this gate! Mister Gorbachev, open this gate! Mr. Gorbachev, tear down this wall! Memang Gorbachev tidak jadi datang, namun dua tahun kemudian Tembok Berlin diruntuhkan.
8 Maret 1989: Korban Terakhir Tembok Berlin
2 Mei 1989: Tirai Besi Runtuh
Bildunterschrift: Tanggal 2 Mei kawat besi sepanjang 600 meter yang membatasi Hungaria dan Austria disingkirkan. Bulan Juni menteri luar negeri kedua negara, Alois Mock (Austria ) dan Gyula Horn (Hungaria), sendiri ikut memotong pembatas ini. Foto mereka beredar ke seluruh dunia. Ribuan warga Jerman Timur yang melarikan diri lewat pagar pembatas yang telah jebol makin melemahkan pemerintahan komunis Eropa Timur yang saat itu sudah goyah.
7 Mei 1989: Pemilu Layaknya Sandiwara
Bildunterschrift: Tahun 1980-an oposisi di Jerman Timur berusaha menguak hasil pemilu yang dimanipulasi secara sistematis. Tidak seperti biasanya, sebelum pemilu lokal tahun 1989, SED dengan gencar mempropagandakan “azas demokratis” pemilu. Hasil perhitungan resmi mencatat 98,85% suara untuk SED. Tapi kali ini, pengamat independen pemilu berhasil menemukan bukti kuat adanya kecurangan. Bagi rejim SED yang tidak lagi dipercayai warga, pemilu ini menjadi malapetaka.
4 September 1989: Awal “Demonstrasi Senin”
Bildunterschrift: Di depan gereja St. Nikolai di Dresden sekitar 1.000 orang berdemonstrasi. Sejak itu setiap hari Senin jumlah yang datang makin bertambah. Tanggal 16 Oktober jumlah demonstran tercatat 120.000 orang. Mereka berteriak “Hentikan kekerasan” dan “Kita semua warga negara!” Aparat keamanan tidak berbuat apa-apa.
30 September 1989: Serbuan Warga Yang Tak Puas
Bildunterschrift: Kerumunan massa di kedutaan Jerman Barat di Praha, Cekoslowakia. 4.000 pelarian dari Jerman Timur bahkan sempat berkemah di sana. Tanggal 30 September Menteri Luar Negeri Jerman Barat Hans-Dietrich Genscher mengumumkan bahwa pejabat Jerman Timur menyetujui untuk memberikan izin keluar negeri bagi warganya. Kedutaan negara lainnya juga diduduki. Situasinya tak lagi terkontrol. Kejatuhan Jerman Timur tinggal tunggu waktu.
7 Oktober 1989: 40 Tahun Jerman Timur– Peringatan Sang Tamu
Bildunterschrift: Walau dihantui gelombang unjuk rasa dan aksi protes, pimpinan SED tetap merayakan peringatan 40 tahun berdirinya dengan dengan parade militer. Beberapa demonstrasi juga digelar, yang ditindak dengan keras oleh aparat keamanan, 1.000 orang ditangkap. Mikail Gorbachev, yang hadir dalam upacara peringatan ini, memberi peringatan kepada pimpinan Jerman Timur: “Siapa yang terlambat, akan menanggung akibatnya.”
18 Oktober 1989: Krenz Gantikan Honecker
Bildunterschrift: Setelah Honecker mengumumkan melepaskan semua jabatannya, krisis tak bisa lagi ditutup-tutupi. Penggantinya untuk posisi kepala negara dan pemimpin partai dipilih Egon Krenz. Mantan kepala Organisasi Pemuda Sosialis (FDJ) itu pun tak mendapat dukungan warga. Malahan setelah Jerman bersatu, Krenz dijebloskan ke penjara karena kasus penembakan di Tembok Berlin.
Sumber: http://www.dw-world.de

1 Response to Reunifikasi Jerman 1980-1989
Mari bergabung Bersama Zeusbola dan nikmati berbagai jenis permainan judi online dan raih kemenangan SEBANYAK-BANYAKNYA setiap hari!!!
Bandar Judi Online Deposit Pulsa TELKOMSEL XL AXIS TANPA POTONGAN
* Bonus New Member 15%
* Bonus Every Day 10%
* Bonus Tingkatan Level
Buruan Daftar dan Dapatkan Berbagai Macam Tawaran Menarik dan Bonus nya
INFO SELANJUTNYA SEGERA HUBUNGI KAMI DI :
WHATSAPP :+62 822-7710-4607
Posting Komentar