Previous Next
  • Perang Teluk

    Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki. Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990...

  • 5 Negara yang Terpecah Akibat Perang Dunia II

    Negara yang terpecah adalah sebagai akibat Perang Dunia II yang lalu di mana suatu negara diduduki oleh negara-negara besar yang menang perang. Perang Dingin sebagai akibat pertentangan ideologi dan politik antara politik barat dan timur telah meyebabkan negara yang diduduki pecah menjadi dua yang mempunyai ideologi dan sistem pemerintahan yang saling berbeda dan yang menjurus pada sikap saling curiga-mencurigai dan bermusuhan. Setelah perang dunia kedua, terdapat empat negara yang terpecah-pecah, antara lain:

  • Serangan Sultan Agung 1628 - 1629

    Silsilah Keluarga Nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Dilahirkan tahun 1593, merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Ayahnya adalah raja kedua Mataram, sedangkan ibunya adalah putri Pangeran Benawa raja Pajang. Versi lain mengatakan, Sultan Agung adalah putra Pangeran Purbaya (kakak Prabu Hanyokrowati). Konon waktu itu, Pangeran Purbaya menukar bayi yang dilahirkan istrinya dengan bayi yang dilahirkan Dyah Banowati. Versi ini adalah pendapat minoritas sebagian masyarakat Jawa yang kebenarannya perlu untuk dibuktikan. Sebagaimana umumnya raja-raja Mataram, Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri. Yang menjadi Ratu Kulon adalah putri sultan Cirebon, melahirkan Raden Mas Syahwawrat. Yang menjadi Ratu Wetan adalah putri dari Batang keturunan Ki Juru Martani, melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi Amangkurat I)...

  • Perang Dingin

    Perang Dingin adalah sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947—1991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang: koalisi militer; ideologi, psikologi, dan tilik sandi; militer, industri, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir dan persenjataan; dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini akan berakhir dengan perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi. Istilah "Perang Dingin" sendiri diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut...

  • Perang Kamboja-Vietnam

    Pada tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan saigon tahun 1975, negara-negara anggota ASEAN mencemaskan kemungkinan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari Asia Tenggara. Ketegangan terus memuncak mengingat ASEAN adalah negara-negara Non-Komunis sedangkan negara-negara Indochina adalah negara komunis. Kemenangan Vietnam pada Perang Vietnam sudah tentu mengkhawatirkan ASEAN ditengah rencana Amerika Serikat untuk mengurangi kehadiran pasukannya yang selama ini secara tak langsung melindungi ASEAN dari invasi komunis ke kawasan tersebut...

Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Pengadilan Den Haag menyatakan Belanda bertanggung jawab atas pembantaian di desa Rawagede, sekarang bernama Balongsari.

Hakim ketua D.A. Schreuder secara tegas menyebut tindakan Belanda sebagai ilegal (onrechtmatig). Keputusan ini memandang Belanda bersalah karena dianggap membunuh warga sendiri. Pengadilan mendasari putusannya atas pertimbangan bahwa hukum Belanda dianggap berlaku di Hindia Belanda sampai tahun 1949.

Hakim menolak pleidoi advokat negara Belanda, G.J.H. Houtzagers, yang menyebut kejahatan tersebut sudah kadaluwarsa. Hakim memakai asas lex spesialis. Artinya pengadilan Den Haag melihat kasus pembantaian Rawagede sebagai kasus khusus, sehingga preseden kadaluwarsa tidak berlaku.

Advokat negara diberi waktu tiga bulan untuk mengajukan banding. Jika tidak, maka keputusan ini akan memiliki kekuatan hukum tetap.

Anggota parlemen Belanda dari partai sosialis, SP, terkejut atas pertimbangan hakim.

"Biasanya argumen kadaluwarsa selalu sukses, tapi tidak dalam pengadilan perdata ini. Yang penting ternyata kejahatan perang tidak bisa kadaluwarsa. Saya pikir ini berita besar. Pertama-tama buat mereka yang terkait, terlebih ini pengakuan bagi mereka yang sudah tidak ada lagi, karena sudah meninggal atau belum bergabung dengan komite. Ini keputusan bersejarah."

Walau demikian, hakim tidak mengabulkan seluruh gugatan ganti rugi. Pengadilan Den Haag membatasi pemberian kompensasi pada janda, korban langsung atau anaknya. Berarti tidak termasuk cucu korban.

Pengacara korban Rawagede, Liesbeth Zegveld tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Baru setelah 64 tahun berlalu, akhirnya Belanda secara hukum dinyatakan bersalah atas aksinya di Indonesia. Putusan ini menjadi preseden baru dan bisa saja diterapkan dalam kasus Westerling di Sulawesi.

"Selama mereka masih hidup, dan kasusnya jelas seperti kasus ini, setiap pihak mengakui terjadi kesalahan besar, terjadi kejahatan perang, maka akan dilihat apakah ini sama dengan kasus Rawagede," ujar pengacara yang juga membela korban-korban kejahatan kemanusiaan di Bosnia dan Libia.

Eksekusi

Tragedi berdarah di desa Rawagede, Jawa Barat, terjadi pada 9 Desember 1947, pada masa perang kemerdekaan Indonesia. Tentara Belanda yang mencari pejuang kemerdekaan Lukas Kustario memasuki desa Rawagede dan mengeksekusi penduduk laki-laki karena menolak memberi informasi mengenai Kapten Kustario.

Sebagian besar penduduk laki-laki desa Rawagede dieksekusi. Menurut saksi mata, para lelaki tersebut dijejer dan ditembak mati. Pihak Indonesia menyatakan, 431 laki-laki dibunuh, sedangkan pemerintah Belanda pada 1969 bersikeras jumlahnya “hanya” 150. Pada tahun 1947, Belanda memutuskan untuk tidak menyeret pelaku eksekusi massa ke pengadilan.

Pada tahun 2009 keluarga korban menggugat negara Belanda. Para janda menuntut pengakuan dan ganti rugi atas meninggalnya tulang punggung keluarga mereka. Waktu itu, beberapa janda, dan korban selamat terakhir, Saih bin Sakam, khusus datang ke Belanda untuk proses ini. Sayangnya ia wafat 8 Mei 2011 dalam usia 88 tahun. Bagi Saih, pelaku pembunuhan massal tidak perlu lagi diseret ke pengadilan, permintaan maaf dan ganti rugi sudah cukup.

Penjahat

Selama ini Belanda menganggap dirinya korban kejahatan Nazi Jerman, dan kekejaman tentara Jepang di Hindia Belanda saat Perang Dunia Kedua. Keputusan pengadilan Den Haag membuat Belanda punya status baru: pelaku kejahatan perang yang tak kalah kejamnya.

"Sekarang ternyata bukan Jerman saja si penjahat perang. Belanda pun kini dinyatakan sebagai penjahat," tukas seorang wartawan luar negeri yang asyik membuat cerita kasus Rawagede di pengadilan Den Haag.

KBRI Den Haag belum mau menanggapi keputusan ini. Sebelumnya pemerintah Indonesia terkesan menjaga jarak dengan proses gugatan korban rawagede. Perwakilan resmi KBRI tak terlihat hadir dalam sidang keputusan gugatan korban Rawagede.

Sumber: http://www.rnw.nl
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Baru 42 tahun umurnya, ketika ia meninggal, tapi dalam hidup yang relatif singkat itu dia mampu jadi tokoh kontroversial. Inilah Jan Pieterszoon Coen, pemimpin VOC yang hidup dari 1587 – 1629. Ia dijuluki Ijzeren Jan, Jan Besi, karena kebengisannya. Artikel ini disusun bersama Jean van de Kok.

Bahkan beberapa hari sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia masih menyiksa anak asuhnya Sarah, yang ketahuan main serong dengan seorang pelaut. Sang pelaut dihukum mati.

J.P. Coen lahir di Hoorn, kota pelabuhan cantik di Belanda Utara, dijuluki kota VOC dan juga kota musium. Kota ini juga sarat monumen. Salah satu monumen penting di Hoorn adalah patung Jan Pieterzoon Coen yang berdiri megah di alun-alun pusat kota. Dilihat dari segi artistik, patung itu indah, namun bagi sementara kalangan, patung J.P. Coen sangat mengganggu.

Patung itu melambangkan penghormatan terhadap seorang pembantai terbesar dalam sejarah Belanda. Begitu pendapat Eric van de Beek, pemrakasa Burgerinitiatief atau Prakarsa Warga yang ingin patung itu dipindahkan dari alun-alun Hoorn ke musium.

“Bukankah Mahkamah Internasional ada di Den Haag. Jadi Belanda seharusnya menjadi negeri teladan dalam hal ini”, demikian ucap Eric van de Beek. Bukan untuk menulis kembali atau mengingkari sejarah.

Binasakan Penduduk Banda

Di masa itu, jauh sebelum ada istilah genosida J.P. Coen dipandang sebagai tokoh bertangan besi dan tidak ragu mengorbankan nyawa. Inilah yang menjelaskan nama julukannya: Ijzeren Jan, Jan Besi. Kekejamannya yang paling besar adalah membinasakan penduduk Banda, karena mereka melawan monopoli pala VOC. Mereka tidak mau hanya menjual pala pada VOC dengan harga murah.

J.P. Coen si peletak dasar Batavia dijuluki Mur Jangkung, kalau melihat patung yang dibuat menurut ukuran sebenarnya, dia tidak jangkung. Ia coba membuat Batavia seperti Hoorn, kota kelahirannya. “JP Coen dibangga-banggakan oleh pemerintah kolonial. Mulai dari jaman VOC sampai dengan masa kolonial Hindia Belanda. Bahkan gambar J.P. Coen ada di uang gulden ketika itu”, demikian jelas Dr. Liliek Suratminto, pakar VOC pada Radio Nederland.

Dia pernah lihat uang itu di Musium Bank Indonesia. Itu mencerminkan penghormatan pemerintah kolonial terhadap JP Coen. “Patung J.P. Coen di Waterlooplein, sekarang Lapangan Banteng, digusur, ketika Jepang masuk”, lanjut Dr. L. Suratminto.

Protes Patung J.P.Coen

Di Belanda patung J.P. Coen di kota kelahirannya sudah diprotes sejak lama. Protes terhadap monumen atau nama adalah gejala segala zaman, dan terjadi di berbagai tempat. Ambil contoh, tempat yang diberi nama diktator Stallin di bekas Uni Sovyet. Stallinlaan, di Amsterdam diubah menjadi Vrijheidslaan, jalan raya kebebasan.

Contoh kontroversi lain adalah monumen Van Heutsz yang terletak di bilangan perumahan mewah di Amsterdam. Berulang kali diprotes. Gubernur jendral J.B. Van Heutsz ini bertanggungjawab atas kekejaman di Aceh. Di tahun 60-an monumen ini beberapa kali dirusak.

Walaupun sudah lama diprotes baru sekarang Pemda Kotapraja Hoorn bersedia mencari kompromi. Pemda menolak memindahkan patung yang diresmikan pada 1893 itu. Tapi pada Radio Nederland J.P. Westenberg, Pejabat Pemda Bidang Seni Budaya, menjelaskan: “Mempelajari kembali siapa J.P. Coen dan apa saja ulahnya di Nusantara kala itu”.

Patung itu akan dilengkapi dengan naskah yang menjelaskan segi-segi positif dan negatif JP Coen.

Sumber: http://www.rnw.nl
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Pendudukan Jepang di Hindia Belanda masih meninggalkan goresan luka bagi banyak warga Belanda yang dulu tinggal di sana. Sampai sekarang masih banyak yang mengalami trauma.

“Pertama memang para bekas tawanan Jepang ini menderita sekali. Baik fisik maupun psikis. Kedua orang Belanda belum siap untuk kalah, tentara Belanda kalah terhadap tentara Jepang. Orang yang kalah perang akan trauma,” kata Ibrahim Isa dari Kelompok Dialog Belanda-Indonesia-Jepang, perkumpulan orang-orang yang mengalami masa suram di Hindia Belanda karena penjajahan Jepang.

Dialog

Inisiatif dialog ini berawal dari buku harian seorang Belanda yang masuk kamp tahanan Jepang dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Hans Lindijer, putra penulis buku, memprakarsai pendirian Kelompok Dialog Belanda-Indonesia-Jepang.

“Setiap tahun kami menyelenggarakan konferensi, menyorot masa silam dan masa depan mereka yang merasa menjadi korban perang. Masa silam acap kali sudah tidak menjadi ganjalan, dan mereka ingin menjumpai orang Jepang atau Indonesia untuk berbagi pendapat,” jelas Lindijer.

Menurut Lindijer, orang yang mengalami masa perang tidak bisa melupakan pengalaman pahit mereka. “Mereka secara konkrit butuh berdialog tentang perdamaian, dan hal ini bisa mereka lakukan dalam konferensi yang kami selenggarakan.”

Jadi, tujuan dialog bukanlah untuk meratapi masa lalu melainkan untuk melihat ke masa depan guna menciptakan perdamaian antara semua pihak yang terlibat, baik dari Belanda, Jepang maupun Indonesia.

Romusa

Tahun ini topik konferensi adalah romusa yang dipaksa Jepang membangun jalur kereta api di Birma. “Perubahan dalam hidup mereka dan juga pengalaman getir selama jaman Jepang perlu dikumpulkan dan bisa menjadi senjata ampuh untuk mencapai perdamaian,” kata Lindijer.

Menurut Lindijer, cerita para korban kekejaman Jepang bisa digunakan untuk ‘meluruskan’ informasi yang diberikan pada pelajaran sejarah di Jepang. “Sebelumnya pendidikan sejarah di Jepang kaku sekali dalam membahas peran Jepang selama perang dunia kedua,” kata Lindijer.

Sejarah keluarga

Hans Lindijer tidak mengalami pendudukan Jepang di Hindia Belanda. “Saya lahir di Belanda, orang tua saya mengalami jaman Jepang, setelah perang dunia kedua berakhir mereka ke Belanda. Orang tua saya bersama 4 anak mereka, saya adalah anak mereka yang lahir di Belanda.”

Namun demikian , sejarah masa silam keluarganya di Indonesia semasa pendudukan Jepang masih menjadi bagian dari kehidupan Hans Lindijer. “Saya dulu sering makan masakan Indonesia dan juga kata-kata Indonesia sering digunakan oleh orang tua saya,” kenang Lindijer.

Ia juga sadar kakak-kakaknya yang dulu ikut ditahan di kamp tawanan Jepang masih trauma, mereka bisa sangat emosional kalau bertengkar.

Sumber: http://www.rnw.nl/
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , ,

Menurut Rustam Kastor dalam bukunya, Konspirasi Politik RMS dan Kristen Menghancurkan Umat Islam di Ambon-Maluku (Wihdah Press: 2000 M), sejatinya sejarah konflik antara kaum salibis dengan umat Islam adalah sebuah sejarah perlawanan yang cukup panjang. Sejarah ini sudah berjalan ratusan tahun dengan melibatkan banyak energi dan pengkajian. Jauh sebelum Bangsa Eropa tiba di Maluku, para saudagar Nusantara telah berdagang penuh kedamaian dengan masyarakat atau kerajaan-kerajaan Islam di Maluku.

Jemaat Kristen Protestan Kota Ambon usai beribadah minggu di Gereja Protestan pada tahun 1923. Lokasi gerejanya saat itu di kawasan Pecinaan (China Town). Sekarang daerah ini adalah kawasan perdagangan A.Y. Patty. Lokasi gerejanya tepatnya adalah Gedung Puskud Ambon saat ini (depan eks Toko Lily)(foto dok)
Penyebaran agama Islam pun dilakukan dengan penuh perdamaian, sehingga relatif segenap masyarakat Maluku telah memeluk agama Islam. Namun, pada tahun 1512 mulailah bangsa Portugis menemukan Maluku (Banda) dengan maksud mendapatkan rempah-rempah langsung di bumi penghasilnya, hingga kemudian datanglah penjajah Belanda pada tahun 1605.

Perlawanan Fisik Bersenjata

Perdagangan yang semula damai, berkembang menjadi bentrokan fisik karena sikap monopoli yang disertai penyebaran agama Kristen oleh pihak Belanda dengan menggunakan kekuatan bersenjata. Dari situ mulailah terjadi sejumlah peperangaan yang bukan saja semata-mata demi mempertahankan kedaulatan kerajaan-kerajaan Islam di Maluku, tetapi juga berjuang mempertahankan aqidah agama Islam.

Perlawanan dari Kerajaan-kerajaan Islam seperti Perang Hitu (1502-1605), Perang Banda(1609-1621), Perang Hoamual (1625-1656), Perang Wawane (1633-1643), Perang Kapaha (1636-1646), Perang Alaka (1625-1637), Perang Iha (1632-1651), dan sejumlah perang yang dilancarkan oleh beberapa kesultanan di Maluku Utara, dan terakhir Perang Tidore (1780-1805) yang dipimpin oleh Nuku yang sempat menunjukkan kekuatan dan kebesarannya.

Sejumlah pahlawan perang Ummat Islam seperti Pattiwane, Kakiali, Gimelaka Laliato, Gimelaka Lulu, Tulukabessy, Kiayi Lessy, Rijali, Khairubia, Kapitan Ulupaha, Sudardi Monia Latuwirinnyai, Sultan Babullah, Sultan Khairun dan terakhir Sultan Nuku adalah para pemimpin perang yang gagah berani mampu mengalahkan penjajah di banyak medan pertempuran.

Namun pada gilirannya, Kerajaan-kerajaan Islam, secara bertahap dapat dikalahkan oleh VOC yang kemudian menjadi Kompeni menggantikan kedudukan Portugis, dengan memiliki armada dan kekuatan perang yang tangguh. Kala itu pula, kegiatan perdagangan diwarnai dengan missi penginjilan secara paksa yang dimulai dengan perkumpulan dagang VOC. Maka saat itu jua, perlawanan masyarakat dan kerajaan Islam di Maluku berkembang menjadi sebuah medan jihad mempertahankan aqidah.

VOC dan Kompeni Penjajah

VOC sebagai organisasi dagang, selanjutnya digantikan oleh Kompeni dengan kekuatan bersenjata yang cukup besar. Hal ini kemudian menjadikan ekskalasi penindasan terhadap Ummat Islam di Maluku mengalami peningkatan. Kekejaman yang mereka lakukan pun memiliki kekejaman tiada tara. Sampai-sampai umat muslim tidak kuasa lagi untuk menerimanya. Namum meski hidup dalam penindadsan, perlawanan umat muslim terus berlanjut, ya walau mereka tidak mampu lagi untuk mengangkat senjata.

Perlawanan Non Fisik/Tak Bersenjata

Kerajaan-kerajaan Islam di Maluku telah berhasil dihancurkan satu demi satu, tetapi tidak demikian dengan jiwa jihad umat muslim. Semangat kebencian mereka terhadap penjajah yang telah merenggut kemerdekaan sekaligus memaksakan keyakinan yang bertentangan dengan paham ke-Tauhidan Islam terus berjalan seiring waktu.

Selanjutknya, bersamaan dengan kekalahan kerajaan-kerajaan Islam di Maluku, maka terjadilah peperangan oleh kerajaan-kerajaan di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan melawan kolonial Belanda. Kerajaan-kerajaan inipun mengalami nasib yang sama: mereka berhasil dikalahkan dan akhirnya dapat ditaklukkan oleh pihak kafir Belanda.

Para pejuang yang tertangkap pun akhinya dibuang ke berbagai daerah di luar Jawa diantaranya Maluku. Sebagai pejuang, mereka tidak pernah mau berhenti memerangi kaum kafir Belanda. Dengan modal semangat perlawanan (pejuang) dan keahlian ilmu agama Islam (Kiyai), mereka masuk ke dalam Ummat Islam di Maluku dengan alasan kegiatan keagamaan, tetapi sesungguhnya mereka memimpin dan menggerakkan perlawanan terhadap Belanda secara non fisik/tanpa bersenjata.

Terakhir yang bisa kita catat dari fakta ini adalah kedatangan Pangeran Diponegoro dengan rombongan dalam status buangan Belanda. Bersama para pengikutnya, Pangeran Diponegoro pun berdiam di kampung yang sekarang bernama Kampung Diponegoro.

Para pejuang ini pun kemudian memimpin Ummat Islam di Maluku untuk melakukan aksi pembangkangan yang memberikan pukulan berat bagi pihak penjajah. Perlawanan non kooperatif/pembangkangan, adalah sebuah bentuk perlawanan yang dilakukan secara diam-diam, yakni menolak bekerjasama dalam bentuk apa pun dengan penjajah serta merongrong pada aspek-aspek tertentu dengan tujuan melemahkan dan menggerogoti wibawa serta kekuatan pemerintah Belanda.

Perlawanan ini efektif pada 20-30 tahun pertama, saat para pemimpinnya aktif memberikan petunjuk, arahan dan dorongan semangat. Namum perlawanan yang memakan waktu seratus tahun lebih tersebut menjadi kurang efektif, sebab kurang memiliki daya tahan. Pasalnya sederhana, tidak ada sebuah pembentukan kader dan pemimpin lapangan yang akan melanjutkan perlawanan tersebut. Kegagalan membentuk pemimpin pelanjut inilah yang mengakibatkan perlawanan menjadi kurang terarah dan tidak punya tujuan yang jelas. Yang terjadi adalah semangat mereka untuk tidak mau bekerja sama dan membangkang saja, tanpa mekanisme perjuangan yang rapih.

Uniknya umat Islam masih bertahan. Pada waktu itu tidak ada Ummat Islam yang bersedia menjadi serdadu Belanda, maupun menjadi guru dan pekerjaan-pekerjaan yang senantiasa berada di bawah kendali Belanda. Ummat Islam lebih memilih pekerjaan non formal seperti nelayan, pedagang kecil (wiraswasta), tukang dan sejenisnya. Bahkan bersekolahpun ditolak, Ummat Islam lebih memilih pengajian dan Madrasah.

Di luar Maluku, orang lebih mengenal orang Ambon adalah Kristen, hal ini disebabkan oleh serdadu Belanda asal Maluku yang bertugas di luar Maluku (Jawa, dsbnya) relatif tidak ada yang beragama Islam, sehingga terjadi opini bahwa Ambon identik dengan nashrani.

Dalam kisah perlawanan tanpa senjata ini, barangkali perlu kita telusuri adanya beberapa marga (Vam) di kota Ambon yang bukan marga asli dari Maluku seperti Betawi, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Padang, Diponegoro, Aceh dan sebagainya. Yang jelas marga tersebut menunjukkan darimana mereka berasal, sebab waktu itu semua orang harus mempunyai vam, mereka yang tidak mempunyai vam memilih daerah asal mereka sebagai Vam.

Siapakah mereka ini, sekurang-kurangnya sebagiannya adalah para pejuang yang dibuang oleh Belanda dulu. Mereka adalah para pejuang yang memimpin Ummat Islam di Maluku untuk melakukan aksi pembangkangan/non kooperatif. Mengenai fakta ini, Rustam Kastor dalam bukunya Konspirasi Politik RMS dan Kristen Menghancurkan Umat Islam di Ambon-Maluku, menulis.

"Tanyalah para tetua kita, bagaimana orang Waihaong, Talake,Silale, Soabali, Batu Gajah (Diponegoro) Batu Merah, Pardeis dsb belajar silat? Mereka belajar tertutup dalam rumah atau di halaman belakang agar tidak diketahui kaum Nasrani. Bila ada Nasrani yang datang, latihan segera dihentikan agar tidak diketahui jurus-jurusnya. Jadi para tetua itu belajar untuk menghadapi Penjajah Belanda (dibenaknya) dan kaum Nasrani. Persis seperti kisah dalam serial film Si Pitung dari Marunda."

Perlawanan terhadap penjajah Belanda yang berlangsung lebih 100 tahun itu, sebagian besar terjadi tanpa koordinasi, bahkan tanpa pemimpin yang jelas sehingga semangat melawan pemerintah kolonial tanpa disadari, berubah arah dan tujuannya.

Banyak kerugian yang diderita Ummat Islam akibat proses perjuangan panjang tanpa koordinasi dan pimpinan ini. Dan pada akhirnya hal ini menghasilkan kondisi yang amat tidak menguntungkan seperti yang kita alami sekarang.

Ummat Islam di Maluku tertinggal hampir di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara secara fisik, baik tampak maupun yang tidak tampak tetapi terasa sebagai suatu kenyataan. Setelah Indonesia merdeka, Ummat Islam di Maluku mencapai banyak kemajuan disemua sektor, tetapi kita harus mengakui bahwa dibandingkan dengan Ummat Kristen, ummat Islam masih terlalu terlambat, ibarat berlomba dengan kaum yang menggunakan kendaraan, sedang kita berjalan kaki.

Dengan demikian jarak ketertinggalan Ummat muslim dari hari ke hari kian jauh, sehingga barangkali kondisi ini dapat memicu kecemburuan sosial. Di sisi lain kemajuan yang diperoleh Ummat Islam, terutama munculnya generasi muda cendekiawan merupakan saingan bagi pihak Kristen yang walaupun dalam skala rendah, mereka melihatnya sebagai ancaman yang membahayakan. Merasa adanya ancaman (yang sesungguhnya tak seberapa besar), maka kerukunan yang selama ini terjalin mulai goyah. Pihak Kristen melakukan aksi penghambatan dengan menutup peluang bagi yang Islam di berbagai sektor strategis.

Ketidak adilan ini semakin terasa, sementara yang Islam hanya dapat merasakan tetapi tidak ada upaya nyata untuk mengatasi persaingan itu. Lebih diperparah lagi, bahwa barisan Ummat Islam masih tercerai berai dan terjadi pendangkalan akidah yang kuat akibat tipu daya dunia. (pz)

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Sebuah temuan dari penelitian mengenai serial kartun SpongeBob membeberkan fakta yang mengejutkan. Menurut psikolog, menonton kartun yang berjalan cepat seperti SpongeBob SquarePants dapat merusak konsentrasi dan perilaku anak.

Hasil beberapa pengujian menunjukkan bahwa anak-anak usia empat tahun yang menonton beberapa menit acara televisi populer itu kurang mampu memecahkan masalah. Selain itu, dari penelitian itu juga ditemukan bahwa anak-anak yang menonton acara itu kurang bisa memfokuskan perhatian sesudahnya dibandingkan mereka yang melihat program yang kurang ingar-bingar atau hanya duduk menggambar.

Para peneliti mengatakan ini bisa terjadi karena anak-anak meniru perilaku kacau karakter TV favorit mereka itu, atau karena kartun yang bergerak cepat dan tidak logis membuat mereka lebih bersemangat.

Para ahli menyarankan orang tua mempertimbangkan dengan hati-hati program mana yang mereka izinkan untuk ditonton anak serta mendorong mereka menikmati aktivitas yang lebih tenang dan kreatif.

Angeline Lillard dari University of Virginia, yang melakukan percobaan itu, mengatakan, "Orang tua harus tahu bahwa anak-anak yang baru saja menonton SpongeBob SquarePants, atau acara seperti itu, mungkin harus mengorbankan kemampuan mereka untuk belajar dan berperilaku dengan pengendalian diri."

"Anak mulai belajar bagaimana berperilaku serta bagaimana belajar. Di sekolah, mereka harus berperilaku baik, mereka perlu duduk di meja dan makan dengan benar, mereka harus hormat, dan semua itu membutuhkan fungsi eksekutif."

"Jika seorang anak baru saja menonton acara televisi yang memiliki cacat kemampuan ini, kita tidak bisa mengharapkan anak untuk berperilaku pada tingkat normal dalam situasi sehari-hari."

SpongeBob SquarePants, sebuah serial animasi yang telah ditampilkan pada saluran kabel Nickelodeon sejak 1999, menceritakan kisah dari sebuah spon laut yang bekerja pada sebuah restoran makanan cepat bawah air. Meskipun humor surealisnya populer bagi orang dewasa dan anak-anak, acara itu telah dikritik oleh beberapa orang Kristen evangelis karena diduga mempromosikan homoseksualitas.

Dalam laporan yang baru dipublikasikan dalam jurnal akademik Pediatrics, Prof. Lillard dan rekan membandingkan anak-anak yang menyaksikan acara itu selama sembilan menit dengan mereka yang telah menghabiskan waktu yang sama menggambar atau menonton kartun Kanada yang lebih realistis dan lebih lambat, Caillou.

Mereka menemukan perbedaan kecil dalam perilaku dan kinerja antara kelompok menggambar dan kelompok Caillou.

Tapi anak empat tahun yang telah menyaksikan SpongeBob menunjukkan fungsi eksekutif--kemampuan memusatkan perhatian, memecahkan masalah, dan mengatur perilaku mereka--sungguh membahayakan.

Prof. Lillard mengatakan, "Ini mungkin karena karakter terus bergerak dari satu hal ke fantasi ekstrem berikutnya, dan di mana karakter melakukan hal-hal yang tidak masuk akal di dunia nyata. Hal ini dapat mengganggu kemampuan anak untuk berkonsentrasi segera sesudahnya."

"Kemungkinan lain adalah anak-anak mengidentifikasi karakter tanpa fokus dan ingar-bingar itu, kemudian mengadopsi karakteristik mereka." pungkasnya.


Selain itu para netters pun selama ini kerap memberitakan bahwa acara spongebob bagian dri Mind Control terhadap anak-anak. Dalam tayangan ini, tidak sedikit tampilan mata satu mencuat sebagai karakteristik mata Dajjal seperti salah satu tokohnya yang menjadi plankton. Allahua'lam. (pz/dbs)

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , ,

Sejumlah pengamat intelijen di antaranya AC Manullang dengan tegas menyatakan sinyal elemen keterlibatan asing, khususnya Amerika, dalam konflik Ambon. Kepentingan Amerika menurut Manullang untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia memang sarang teroris. Karena serangan kelompok kristen akan dibalas oleh kelompok Islam. Dan saat itulah, kelompok Islam mendapatkan stigma teroris.

Sinyalemen ini memang cukup kuat. Terlebih momen meletusnya konflik yang bertepatan dengan kampanye anti teroris (atau Islam) Amerika pada 11 September. Tapi pertanyaannya, kenapa Ambon? Tidak Bali, Manado, Papua, atau lainnya yang sama-sama memiliki potensi konflik Islam dan non Islam.

Ada sejumlah kondisi sosio-kultural Ambon yang memang mempunyai potensi konflik Islam Kristen yang lebih besar daripada daerah lain di Indonesia.

Pertama adalah jumlah warga muslim dan kristen protestan bisa dibilang fifty-fifty, atau hampir sama. Tempat ibadah di Provinsi Maluku pada tahun 2008 adalah Gereja Protestan 1.188 buah, Mesjid 780 buah, Gereja Katolik 442 buah, Pura 14 buah dan Wihara 8 buah. Dan dari tahun ke tahun, jumlah umat Islam terus bertambah.

Selain itu, persoalan friksi sosial karena agama di Ambon dan Maluku memang bukan hal baru. Jauh sebelum ini, di masa kolonial Belanda yang beragama kristen protestan, kerap memanfaatkan agama untuk ekspansi kolonialisasi ke berbagai daerah di sekitar Maluku. Bahkan, Belanda memanfaatkan kristen protestan Maluku untuk dijadikan tentara resmi kolonial.

Sejarah mencatat, untuk memukul mundur Portugis dari tanah Maluku, Belanda memanfaatkan sentimen konflik Protestan Katolik. Pada tahun 1605, Belanda yang menganut Kristen Protestan merebut benteng Portugis dan mengusirnya. Ketika terjadi perang reformasi di Eropa, orang Belanda yang Protestan memerangi dan membasmi orang-orang Portugis yang Katolik.

Kedua, adanya hubungan dekat antara warga Ambon yang beragama Protestan dengan negara asing, khususnya Belanda. Kedekatan ini bahkan sudah menjadi hubungan darah dengan perkawinan lintas negara yang terjadi sudah sekian lama. Dan kedekatan inilah, sejarah memperlihatkan, bahwa secara emosional, warga Ambon Protestan umumnya lebih dekat dengan Belanda daripada Indonesia.

Hal ini ditandai dengan sambutan proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945. Waktu itu, warga Maluku khususnya Ambon Protestan umumnya tidak menyambut dengan sukacita. Justru, pada tanggal 24 April 1950, Dr. Soumokil memproklamirkan Republik Maluku Selatan (RMS) di wilayah Ambon saat ini.

Boleh jadi, para aktivis RMS belajar dari konflik Timor timur. Dengan terjadinya konflik antar agama yang terus-menerus, mereka bisa mengambil dua keuntungan. Pertama, pengurangan warga muslim yang sudah pasti non RMS dari wilayah mereka, baik status kewargaan dan akses ekonomi. Kedua, menjadi sorotan internasional yang memperlihatkan bahwa orang-orang Protestan yang menjadi warga minoritas, jika dilihat dari cakupan Indonesia, ditekan oleh warga mayoritas Indonesia yang berarti muslim.

Dari sinilah, tuntutan merdeka akan punya nilai jual yang sangat tinggi dari sudut pandang emosi dunia internasional. Dan pada titik ini, posisi tawar pemerintah pusat menjadi begitu lemah jika berhadapan dengan tekanan luar negeri.

Pertanyaannya, seberapa seriuskah pemerintah melakukan pemberantasan terhadap aktivis-aktivis RMS yang terus bergerak di Ambon. Karena RMS-lah yang menjadi pangkal persoalan konflik yang akan terus menjadi bom waktu di negeri kaya rempah-rempah dan objek wisata itu. mnh

Sumber: http://www.eramuslim.com
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments