Previous Next
  • Perang Teluk

    Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki. Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990...

  • 5 Negara yang Terpecah Akibat Perang Dunia II

    Negara yang terpecah adalah sebagai akibat Perang Dunia II yang lalu di mana suatu negara diduduki oleh negara-negara besar yang menang perang. Perang Dingin sebagai akibat pertentangan ideologi dan politik antara politik barat dan timur telah meyebabkan negara yang diduduki pecah menjadi dua yang mempunyai ideologi dan sistem pemerintahan yang saling berbeda dan yang menjurus pada sikap saling curiga-mencurigai dan bermusuhan. Setelah perang dunia kedua, terdapat empat negara yang terpecah-pecah, antara lain:

  • Serangan Sultan Agung 1628 - 1629

    Silsilah Keluarga Nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Dilahirkan tahun 1593, merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Ayahnya adalah raja kedua Mataram, sedangkan ibunya adalah putri Pangeran Benawa raja Pajang. Versi lain mengatakan, Sultan Agung adalah putra Pangeran Purbaya (kakak Prabu Hanyokrowati). Konon waktu itu, Pangeran Purbaya menukar bayi yang dilahirkan istrinya dengan bayi yang dilahirkan Dyah Banowati. Versi ini adalah pendapat minoritas sebagian masyarakat Jawa yang kebenarannya perlu untuk dibuktikan. Sebagaimana umumnya raja-raja Mataram, Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri. Yang menjadi Ratu Kulon adalah putri sultan Cirebon, melahirkan Raden Mas Syahwawrat. Yang menjadi Ratu Wetan adalah putri dari Batang keturunan Ki Juru Martani, melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi Amangkurat I)...

  • Perang Dingin

    Perang Dingin adalah sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947—1991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang: koalisi militer; ideologi, psikologi, dan tilik sandi; militer, industri, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir dan persenjataan; dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini akan berakhir dengan perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi. Istilah "Perang Dingin" sendiri diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut...

  • Perang Kamboja-Vietnam

    Pada tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan saigon tahun 1975, negara-negara anggota ASEAN mencemaskan kemungkinan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari Asia Tenggara. Ketegangan terus memuncak mengingat ASEAN adalah negara-negara Non-Komunis sedangkan negara-negara Indochina adalah negara komunis. Kemenangan Vietnam pada Perang Vietnam sudah tentu mengkhawatirkan ASEAN ditengah rencana Amerika Serikat untuk mengurangi kehadiran pasukannya yang selama ini secara tak langsung melindungi ASEAN dari invasi komunis ke kawasan tersebut...

Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Count Talleyrand adalah menteri luar negeri Perancis di Jaman Kekaisaran Napoleon. Ia adalah seorang diplomat yang hebat, dan telah mengabdi sebagai diplomat, dari jaman revolusi Perancis (1789), sampai jaman Raja Louis Phillipe (1830). Seorang Diplomat tingkat dunia yang sangat kawakan dalam seni diplomasi, selalu dijuluki 'He/She's Talleyrand'. Ini adalah pujian atas sumbangsih Talleyrand pada seni diplomasi di dunia.

Adapun, disini akan disajikan percakapan antara Talleyrand, dengan Tsar Alexander, Tsar Rusia. Latar belakang percakapan tersebut, adalah kekhawatiran Tsar Alexander terhadap semakin kuatnya Perancis, dan kekhawatiran bahwa akhirnya Perancis akan menguasai Eropa. Tsar memanggil Talleyrand untuk berkonsultasi, tanpa sepengetahuan Napoleon. Talleyrand memang dikenal sebagai agen ganda. Dialog ini disusun dari beberapa referensi.

Tsar Alexander (berekspresi cemas): 'Perancis semakin hari semakin kuat, dan kami dari pihak Rusia, meminta pendapat anda, bagaimana kami harus berurusan dengan Napoleon?'

Count Talleyrand: 'Menurut saya, Napoleon sudah membuat banyak kerusakan di Eropa, dan perang demi perang sudah terjadi karena dia'

Tsar Alexander: 'Namun, bagaimana seharusnya kami berurusan dengan Napoleon? Perancis adalah bangsa yang besar, kelangsungan hidup bangsa kami sangat tergantung dengan hubungan baik dengan Kekaisaran Perancis'

Count Talleyrand: 'Benar yang mulia, itu adalah hubungan baik dengan Perancis, namun bukan dengan Napoleon'

Tsar Alexander (Ekspresi terkejut dan heran): 'Apa?....Kau....Talleyrand....Mengapa kau berkata demikian terhadap atasanmu sendiri?'

Talleyrand: ' Tenang yang mulia, akan saya jelaskan posisi saya. Sebagai orang Perancis, saya adalah orang yang selalu berjuang demi kejayaan tanah air saya, dan merupakan prioritas utama bagi saya, untuk mengabdi demi kepentingan bangsa Perancis. Namun, Napoleon telah merusak segalanya. Berkat dia, Perancis diseret kedalam perang yang berkepanjangan, dan rakyat kami menderita akibat ambisi dia. Adalah penting bagi saya, juga demi kepentingan bangsa kami, juga demi perdamaian eropa, bahwa Napoleon harus segera disingkirkan dari tahtanya!'

Tsar Alexander (Sangat heran): 'Kau.......'

Hasil dari pembicaraan ini sudah jelas. Talleyrand akhirnya membelot ke Rusia, dan membangun lobi untuk menyingkirkan Napoleon. Akhirnya Napoleon tersingkir dari tahtanya, dan sewaktu dia kembali, hanya untuk dikalahkan di pertempuran Waterloo.

Sepak terjang Talleyrand memang sangat kontroversial. Pengikut Napoleon menuduh dia sebagai 'penghianat bangsa', karena penghianatannya terhadap Napoleon. Namun, sebagian sejarawan Perancis memiliki pendapat lain. Setelah Napoleon disingkirkan, kekuatan utama eropa, yang dipimpin oleh Rusia, Inggris, dan Prusia(jerman) mengadakan kongres di kota Vienna, Austria. Berkat lobi intensif dari Talleyrand, akhirnya Perancis tidak diduduki dan dipecah belah oleh Rusia, Inggris, dan Prusia. Keputusan Kongres Vienna masih tetap mempertahankan keutuhan wilayah Perancis. Berkat kepiawaian lobi Talleyrand, martabat bangsa Perancis tetap terjaga. Negara Perancis tetap utuh, dan bahkan setelah kongres, menjadi salah satu negara imperialis eropa yang utama. Sejarah memang selalu banyak cerita dibalik apa yang terlihat.

Seorang Talleyrand adalah ikon bagi seni berdiplomasi. Indonesia pun juga memiliki tokoh seperti dia, misalnya Bung Hatta dan Ali Alatas. Meletusnya kasus Ambalat, maupun masalah diplomatik kita dengan negara tetangga, sudah sebaiknya pendekatan diplomasi selalu dikedepankan. Lolosnya Perancis dari kehancuran pasca perang Napoleon, adalah berkat kelihaian diplomasi Talleyrand. Pengakuan kedaulatan oleh Belanda ke Indonesia pada tahun 1949 adalah berkat jasa Bung Hatta dan tim nya. Sementara, perdamaian di Kamboja, tidak lepas dari tangan dingin Ali Alatas dan tim. Diplomasi memang sungguh suatu seni, yang dapat menyelamatkan martabat suatu bangsa.

Sumber:

Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Penghujung bulan Mei 1945, Presiden Pemerintahan Sementara Nazi Jerman, Laksamana Karl Doenitz, menyatakan kapitulasi Nazi Jerman secara resmi kepada pihak sekutu. Sebagai penerus 'der Fuehrer' Adolf Hitler, yang telah bunuh diri beberapa minggu sebelumnya, Doenitz sadar bahwa Jerman tak mungkin menang perang. 'Wehrmacht' (angkatan bersenjata Jerman) sudah lumpuh total, dan petinggi SS, yaitu Heinrich Himmler, telah berkhianat ke pihak sekutu.

Namun, apakah deklarasi kapitulasi Nazi Jerman kepada pihak sekutu oleh Doenitz secara otomatis mengakhiri eksistensi ideologi Nazi? Ternyata jawabannya adalah tidak. Mengapa demikian? Mari kita diskusikan!

Selayang pandang Fasisme: Mimpi Mussolini membangkitkan kembali imperium Romawi dan Pergerakan di bawah tanah.

Fasisme merupakan sebuah paham politik yang menjunjung kekuasaan absolut tanpa demokrasi. Dalam paham ini, nasionalisme yang sangat fanatik dan juga otoriter sangat kentara. Pada awalnya, Mussolini mengembangkan ideologi ini dalam rangka merestorasi kembali kekaisaran Romawi. Sebenarnya, fasisme sama sekali tidak ada hubungannya dengan anti-semitisme. Hanya saja, Adolf Hitler lah yang memasukkan unsur anti-semit pada fasisme. Kebencian Hitler terhadap Yahudi dan Freemasonry dapat dibaca di buku karangan dia: 'Mein Kampf' (Perang/Perjuangan saya)

Satu hal yang harus dicatat, dalam puncak kejayaan Nazi Jerman, ideologi fasisme memiliki pengikut diseluruh dunia. Selain Jepang dan Italia (Yang adalah sekutu Nazi Jerman), negara-negara Eropa dibawah pendudukan Nazi Jerman pun juga memiliki banyak sekali pengikut. Rezim-rezim boneka Nazi Jerman di Eropa timur, contohnya di Hungaria, yang dipimpin Ferenc Szálasi dari partai salib panah, dan di Rumania, yang dipimpin oleh Ion Antonescu, adalah pengikut fanatik dari ideologi Nazi. Laksamana Petit Petain dari Perancis, yang memimpin Rezim Vichy boneka Nazi, juga adalah kolaborator Nazi Jerman. Jendral Fransisco Franco dari Spanyol pun juga bekerja sama dengan Nazi Jerman. Di saat itu pula, di Amerika Latin (Argentina contohnya), ideologi fasis juga memperoleh tempat berkembang. Setelah keruntuhan Nazi Jerman, maka Nazi menjadi partai terlarang di Jerman. Namun, mereka tetap bergerak dibawah tanah.

Pada tahun 1960-an, secara mengejutkan beberapa mantan anggota Nazi berhasil memperoleh posisi di pemerintahan Jerman (barat). Kanselir Jerman (barat) saat itu, Kurt Georg Kiesinger, adalah mantan anggota Nazi. Partai Nasionalis Demokratis Jerman (NPD), yang merupakan 'inkarnasi' dari Nazi, itupun dibentuk di saat yang sama. Dua hal itu, dan berbagai faktor lain, menyebabkan meletusnya demonstrasi mahasiswa, yang sering dinamakan '68er-Bewegung'(gerakan tahun 1968). Ini adalah bukti bahwa Nazi sama sekali tidak mati, dan masih hidup. Hanya, bagaimana dia hidup, itu yang akan dikaji selanjutnya.

Nazi di Jerman dan Eropa jaman sekarang: Dibonsai di Jerman, namun memperoleh banyak pengikut di luar Jerman.

Adapun, walaupun NPD memperoleh pengikut dalam jumlah signifikan di Jerman, dan bahkan memperoleh kursi di parlemen beberapa negara bagian, tapi NPD tidak pernah menjadi partai besar. Ada semacam konsensus informal diantara partai-partai lain (CDU/CSU, SPD, FDP, Gruene, Linke), bahwa NPD adalah partai yang harus diisolasi dan dibonsai. Konsensus itu adalah, apapun inisiatif yang dibawa NPD ke Parlemen negara bagian (atau di forum politik apapun), inisiatif itu harus diblok oleh partai-partai lain. Demonstrasi xenofobia yang sesekali suka diadakan NPD pun selalu diblok oleh massa yang jauh lebih besar dari partai-partai lain. Kondisi ini menyebabkan ideologi Nazi harus mencari tempat dan kondisi lain untuk berkembang. Adapun, walaupun jaringan kerjanya belum sepenuhnya diketahui, mereka berhasil 'menancapkan' kukunya kembali diluar Jerman.

Akhir-akhir ini (2009 dan 2010), ada tiga event sangat penting bagi indikator kebangkitan kembali ideologi Nazi. Walaupun tiga indikator ini tidak dapat dikatakan sebagai suatu kepastian mutlak bahwa Nazi akan berkuasa kembali, namun mereka patut dicermati. Pertama, Di akhir November 2009, Rakyat Swiss memutuskan dalam referendum, bahwa pembangunan Minaret dilarang. Inisiator referendum ini adalah partai rakyat swiss yang berhalauan fasis. Kedua, adalah diterbitkannya buku Thilo Sarrazin (Gambar 1) , anggota dewan direktur bundesbank (Bank Sentral Jerman), yang mengkritisi kaum muslimin dan yahudi . Ketiga, dan ini yang sangat menghebohkan seluruh dunia, adalah keberhasilan Geert Wilders (Gambar 2) dan partai fasisnya, yaitu PVV ('Partij Voor de Vrijheid'/Partai untuk Kebebasan), dalam memperoleh posisi ketiga dalam pemilu Belanda. Keberhasilan Wilders adalah kejutan, sebab dia terkenal dengan statemen anti-Islam dan anti-imigran timur tengahnya yang penuh kebencian.

Adapun, ketiga event ini disikapi sangat berbeda oleh ketiga negara tersebut. Thilo Sarrazin dicela, dihujat dan dikritisi habis-habisan di Jerman oleh publik ataupun oleh politisi, walaupun bukunya menjadi best seller. Sementara, tanggapan rakyat/pemerintah Swiss dan Belanda terhadap kebangkitan ideologi Nazi tersebut (Yang jelas lebih nyata manifestasinya daripada sekedar buku best seller) cenderung dingin dan membiarkan.

Ironis memang. Di Jerman, yang dulu negerinya Nazi dan Hitler, Thilo Sarrazin akhirnya dicopot dari jabatannya di dewan direktur bundesbank, dan akan di pecat dari partainya (SPD). Itu hanya gara-gara dia menulis buku 'Deutschland schaff sich ab' (Membubarkan Jerman), yang secara sangat halus mengkritisi kaum muslim (juga yahudi). Dalam bukunya, Sarrazin mengeluhkan kegagalan imigran Turki dalam berintegrasi dengan masyarakat Jerman, dan menyajikan teori bahwa 'Orang Yahudi memiliki Gen tertentu'. Selain kecaman dari komunitas Turki dan Arab, Sarrazin pun juga dikecam oleh kongregasi Yahudi Jerman atas pendapat 'nyeleneh'nya itu.

Hal ini berbeda dengan Wilders dan rekan-rekannya dari Negara Eropa lain, yang justru makin populer. Sementara publik Swiss juga terkesan acuh tak acuh dengan soal pelarangan minaret. Adapun, partai 'populis kanan' berhalauan fasis di Swedia, dibawah pimpinan Jimmie Aekesson, dan Perancis dibawah pimpinan Marine Le Pen juga semakin populer. Di negara eropa lain, seperti Italia dan Hungaria, bahkan sekarang ini partai populis kanan sudah bergabung dalam pemerintahan.

Geert Wilders: Retorika Membela Demokrasi, namun mengkhawatirkan 'ancaman Islam'

Di Belanda, 'rekan' Sarrazin, yaitu Wilders, yang lebih blak-blakan daripada Sarrazin, justru makin berkibar. Wilders bahkan sudah secara terbuka menyatakan dalam sebuah wawancara, yang direkam oleh situs web 'Radio Nederland Wereldomroep', bahwa orang Indonesia sebaiknya dilarang tinggal di Belanda, karena Indonesia adalah negara muslim.

Wilders selalu konsisten dalam setiap pidatonya, dengan retorika 'Membela kebebasan' dan 'Hentikan Islam'. Wilders juga selalu menyatakan, bahwa ideologi yang dibawakan partainya sama sekali bukan fasisme, walaupun klaim ini selalu diragukan musuh politiknya di sayap kiri. Wilders selalu menyatakan, bahwa dia selalu membedakan apa yang disebut sebagai 'muslim' dan 'fundamentalisme Islam'. Menurut dia, sasaran 'tembak' partai dia adalah 'fundamentalisme Islam' dan bukan Islam moderat. Namun, retorika pemisahan Islam moderat dan fundamentalis ala Wilders ini juga patut dipertanyakan. Retorika ini tidak jauh berbeda dengan Hitler, yang pada tahun 1939 menandatangani perjanjian 'tidak saling menyerang' dengan Uni Soviet dan bahkan pernah mengunjungi Stalin, namun dua tahun kemudian (1941), Uni Soviet diinvasi dengan kekuatan penuh oleh Nazi Jerman. Hal ini membuktikan bahwa seorang fasis dapat dengan mudah membalik perkataannya sendiri.

Sewaktu Nazi berkuasa, tidak hanya apa yang disebut 'yahudi fundamentalis' saja yang dimasukkan ke kamp konsentrasi, namun juga yahudi-yahudi moderat/sekuler, yang sudah sangat berintegrasi dengan masyarakat Jerman. Menilik kasus pembantaian yahudi moderat/sekuler di jaman Nazi, maka tidak ada jaminan kalau Wilders berkuasa, bahwa muslim moderat akan dia akomodasi juga aspirasinya. 'Final solution' jelas merupakan hal yang terlalu jauh, namun juga tidak ada jaminan jika Wilders berkuasa, maka kaum muslimin tidak akan menjadi warga negara kelas dua di Belanda (ataupun di Eropa, jika kolega populis kanan dia di negara lain berkuasa juga).

Duta Besar Indonesia untuk Belanda, J.E Habibie, dalam wawancara dengan detik.com sangat mengkhawatirkan popularitas Geert Wilders, yang terang-terangan menurut dia sangat mengganggu hubungan antara Indonesia dan Belanda. Wilders sendiri adalah seorang orator ulung, dan seperti layaknya kaum terdidik Belanda, Bahasa Inggris dia sangatlah bagus. Hal itu juga membuat dia menjadi sangat terkenal di luar Belanda. Dalam acara 'BBC Hardtalk', yang merupakan forum debat sangat bergensi, Wilders berhasil menangkis 'serangan-serangan' dari Stephen Sackur, sang Anchor dan mendapat banyak simpati atas kepiawaiannya berdebat. Selain kefasihan Bahasa Inggris, Wilders juga pandai menggunakan retorika yang biasa digunakan kelompok kiri, seperti 'kebebasan beragama', dan 'hak-hak kaum gay', untuk membungkus ideologi fasisnya. Tidak heran banyak pihak yang tidak menyadari agenda tersembunyinya, karena semua terbungkus oleh retorika kiri.

Kabar terakhir, mantan politisi CDU, René Stadtkewitz (Gambar 3), yang mendirikan partai populis kanan baru 'Die Freiheit' (Nama partainya sama dengan PVVnya Wilders), mengundang Geert Wilders ke sebuah pertemuan rahasia di Berlin. Tema pertemuan tersebut adalah 'ancaman Islam'. Manuver Stadtkewitz ini adalah bukti bahwa Nazi memang belum mati di Jerman, walau kerahasiaan pertemuan itu menandakan bahwa mereka bergerak dengan sangat hati-hati di Jerman, untuk hindari ancaman kelompok kiri yang jauh lebih kuat.

Benarkah Jerman lebih toleran daripada negara Eropa lain ?

Menurut der Spiegel, ada dua faktor yang menyebabkan Jerman itu 'tampak' lebih toleran dan menjaga jarak dengan ideologi Nazi.

Pertama , perang dunia II. Karena trauma jaman Nazi, semua anak dari usia sekolah sudah diajarkan bahwa nazi itu buruk. Karena itu, sebenci-bencinya orang Jerman dengan islam dan yahudi/freemasonry, 'melangkah' ke ideologi nazi adalah tabu.

Kedua , Partai yang berkuasa (Kristen Demokrat/CDU) mengakomodasi politisi sayap kanan, dalam rangka ' menjinakkan' mereka. Karena politik domestifikasi itu, para politisi sayap kanan tidak berminat lagi gabung ke NPD/nazi, karena kepentingan mereka sudah diakomodasi. Keputusan pemerintah sekarang yg tetap menolak Turki gabung ke Uni Eropa, disinyalir karena 'ulah' mereka. Namun, penolakan tersebut sama sekali tidak mempengaruhi hubungan baik Jerman-Turki secara umum.

Ada dugaan (walau belum ada bukti), karena Sarrazin dan pengikutnya diblok oleh partai dan sistim yg berkuasa, mereka mengekspor ideologi nazi keluar jerman. Sama seperti partai komunis, yang dulu punya komintern, sebagai wadah unt menyebarkan ideologi komunis ke seluruh dunia, fasisme pun (diduga) juga memiliki wadah yg serupa komintern. Nazi memang tidak pernah mati di Jerman, karena bagaimanapun org Jerman terkenal sangat nasionalis.

Namun, mengapa Jerman terkesan lebih toleran, atau paling tidak membiarkan keberadaan kaum muslimin di negerinya?

Faktor ketiga yang juga berpengaruh, menurut informasi dari Bung Ario Laksamana (Frankfurt), hal itu tidak jauh-jauh dari kerjasama Turki-Jerman, yang sudah berlangsung dari jaman kerajaan Prusia dan Kesultanan Turki Usmani. Sebuah kerja sama yang berlangsung selama ratusan tahun sebagai partner yang setara/sejajar. Turki dan Jerman punya sejarah kerja sama yg panjang. Sewaktu Turki menang dalam pertempuran Gallipoli (PD I) melawan Inggris, instruktur militer Jerman yang banyak membantu Turki. Jerman pula yang membantu membangun jaringan rel kereta api pertama di Turki (membuat hub bagi jalur orient express), dan membantu modernisasi angkatan perang Turki menjadi setara negara-negara eropa lain. Sewaktu Jerman hancur lebur pasca PD II, para pekerja dari Turki yang bekerja keras untuk membantu membangun Jerman kembali. Interaksi setara dengan Turki inilah yang lebih memperkenalkan ke Jerman, Islam itu bagaimana.

Faktor trauma di perang dunia II, domestifikasi ideologi Nazi, dan kerja sama setara dengan negara Islam itulah yang jelas absen pada kasus Swiss, Swedia, Perancis dan Belanda. Namun sukar menjadikan tiga hal ini sebagai parameter untuk kebangkitan ideologi Nazi di luar Jerman, sebab Inggris (dan dominionnya seperti Kanada, Australia, dan Selandia baru) misalnya, yang juga absen dengan tiga faktor itu, ternyata ideologi Nazi tetaplah kurang populer disana. Demikian juga di Amerika Serikat, yang tiga faktor itu sama-sama absen. Mengapa di negara-negara Anglo-Saxon (English-speaking) ideologi Nazi kurang populer, memang harus dikaji lebih lanjut.

Namun, kebangkitan ideologi Nazi di luar Jerman ini bukan berarti bahwa negara-negara tersebut menjadi kurang aman bagi orang Indonesia. Sejauh ini, kondisi pelajar dan pekerja warga kita di Swiss, Belanda, atau negara Eropa lain pada umumnya baik-baik saja. Menurut Bhayu Prasetya Turker (Eindhoven), kondisi mahasiswa kita di Belanda dalam keadaan baik, dan tidak terlalu mengkhawatirkan retorika Wilders, sebab ketergantungan Belanda-Indonesia sudah terlalu kuat dalam segala bidang. Orang Belanda yang simpatisan Indonesia jumlahnya sangat banyak, dan mereka kekuatan politik yang harus diperhitungkan juga.

Menghadang Fasisme Eropa di Masa Depan: Integrasi dan Harapan pada Kelompok Kiri

Ada tiga hal yang perlu dicatat dalam kajian kali ini, untuk refleksi kedepan. 

Pertama, Walaupun Jerman terkesan lebih toleran dan lebih anti fasis dibanding negara-negara eropa (daratan) lain, toleransi itu pun juga memiliki syarat yang (cukup) mutlak. Penguasaan Bahasa (dan juga budaya) Jerman adalah kewajiban mutlak supaya kita bisa adaptif dan eksis dikehidupan sehari-hari. Memahami 'Weltanschaung' (Philosophy of life) Bangsa Jerman adalah kewajiban absolut untuk 'menghirup' toleransi dari mereka. Sangat berbeda dengan Belanda, misalnya, yang justru sangat menghargai pendatang yang bisa berbahasa Inggris dengan baik, dan tidak 'memaksa' orang asing untuk memahami adat istiadat mereka. Jika membaca kisah hidup Muhammad Iqbal, filusuf Pakistan yang pernah studi di Jerman (Di Muenchen dan Heidelberg) dan lama tinggal disana, dia bisa bertahan hidup di negara itu, karena pemahaman dia yang luar biasa atas 'weltanscahung' tersebut. 'Integration' atau integrasi, adalah istilah yang sering digunakan orang Jerman dalam rangka mengintegrasikan pendatang kedalam masyarakatnya. Penolakan untuk berintegrasi, tak sering bisa berakibat fatal bagi karir dan kehidupan seorang 'auslander' (orang asing). Tak terhitung sekian banyak imigran Turki, yang akhirnya kembali lagi ke negaranya, karena masalah 'integration' ini. Bagaimanapun, 'gap' antara kultur Jerman dan asia (Indonesia dalam contoh ini), memang sangatlah lebar pemisahnya.

Kedua, Bagaimanapun, walaupun ideologi Nazi berasal dari Jerman, namun filusuf sosial yang paling terkenal di dunia, yaitu Karl Marx, juga berasal dari Jerman. Sepanjang sejarah, Marxisme selalu memperoleh pengikut di Jerman dan merupakan ideologi yang sangat konsisten dalam melawan fasisme. Walaupun Marxisme jaman sekarang sudah meninggalkan ideologi 'kaku' dan represif ala Soviet-Stalinis, namun partai-partai sayap kiri di Jerman masih memiliki faksi sosialis-komunis. 'Die Linke' adalah partai yang banyak mengakomodasi faksi komunis, dan ini adalah partai besar di Jerman. Jangan lupa juga, bahwa Jerman (Timur) selama 40 tahun berada dalam pendudukan Soviet, dan sedikit banyak hal ini masih berpengaruh pada penduduknya. Dalam wawancara terakhirnya, Angela Merkel (Yang berasal dari Timur) mengakui bahwa pola hidup ala Timur masih mempengaruhi dirinya. Di partai berhalauan kiri yang besar, seperti Gruene dan Linke, banyak imigran Turki atau muslim yang menjadi anggotanya dan bahkan ada yang menjadi anggota parlemen (Bundestag).

Contohnya, Cem Özdemir adalah orang Jerman-Turki pertama yang menjadi ketua umum Partai Hijau, dan pernah menjadi anggota parlemen Jerman (bundestag) dan parlemen Eropa. Bahkan di CDU yang konservatifpun, ada juga imigran Turki yang menjadi politisi disana, yaitu Aygül Özkan yang sekarang menjabat Menteri Sosial negara bagian Niedersachsen (Lower Saxony). Karena kuatnya lobi kelompok kiri, yang didukung oleh imigran Turki/muslim, maka fasisme menjadi dipersulit dalam berkembang di Jerman. Faktor historis, bahwa Karl Marx adalah warisan filsafat Jerman yang menjadi filsafat dunia, memang menjadi salah satu faktor kunci dalam menghadang fasisme. Marxisme adalah antitesis dari fasisme, dan menjadi 'kiri' selalu identik dengan 'gute ausbildung' (terdidik dengan baik). Partai berhalauan kiri pun juga memiliki kekuatan yang harus diperhitungkan di Perancis, Belanda, ataupun negara Eropa lain.

Ketiga, sangat berbeda dengan Marxisme, Islam, dan Kapitalis-Liberalisme, Fasisme sama sekali tidak memiliki landasan teoritis yang kokoh untuk mempertahankan 'episteme'nya. Sepanjang sejarah, Marxisme, Islam, dan Kapitalis-Liberalisme memiliki intelektual dan filosof yang mampu menyajikan ideologi mereka secara rasional dan ilmiah, namun tidak demikian dengan fasisme. Tulisan-tulisan Karl Marx mengenai filsafat sosial, tidak pernah bisa ditandingi oleh seorang pemikir fasis. Demikian juga tulisan-tulisan Muhammand Iqbal mengenai revitalisasi Islam, kedalaman puitisnya pun tidak bisa diikuti oleh penulis fasis. Apalagi jika sudah melangkah lebih jauh kepada 'American Entrepreneurship', yang di industri IT dipioniri oleh Apple ataupun Microsoft, para pengusaha fasis pun tidak punya konsepsi entrepreneurship sama sekali (Itupun kalau pengusaha fasis bener-bener eksis).

Fasisme adalah ideologi tanpa 'episteme', sebab ini adalah murni ideologi yang berdasarkan kebencian. Dahulu, Hitler dengan Nazinya menjadikan Yahudi/Freemasonry sebagai 'kambing hitam' atas segala persoalan yang dihadapi oleh Jerman/Eropa, dan membangun sebuah 'teori konspirasi', dimana kelompok Yahudi ingin menguasai dunia. Wilders dengan PVVnya pun setali tiga uang, namun ia mengganti 'Yahudi/Freemasonry' dengan 'Islam'. Ketakutan Fasisme modern yang dipimpin Wilders dan kawan kawan akan 'ancaman Islam' adalah setali tiga uang dengan ketakutan Hitler dan Nazi dengan 'Konspirasi Yahudi'. Target kebencian bisa berbeda, namun rasa benci yang dipupuk adalah sama. Suatu manifestasi kebencian tidaklah pernah bisa ilmiah. Ketidak ilmiahan sebuah ideologi, jelas membuatnya sangat 'error prone'.

Terima kasih kepada Ario Laksamana (Frankfurt) dan Bhayu Prasetya Turker (Eindhoven) atas korespondensinya.

Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Sama dengan pisau, sains bisa digunakan untuk kebaikan atau kejahatan. Bahkan ilmuwan bisa menciptakan virus berbahaya bagi manusia demi tujuan negatif. Flu burung pun sempat diisukan sebagai penyakit hasil buatan manusia dengan maksud tertentu. Fenomena ini dikenal dengan istilah bioterorisme.

Bioterorisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan penggunaan sabotase atau penyerangan dengan bahan-bahan biologis atau racun biologis dengan tujuan untuk menimbulkan kerusakan pada perorangan atau kelompok perorangan. Aktifitas-aktifitas ini, secara umum, menyebabkan kerusakan, intimidasi, atau kohersi, dan biasanya berhubungan dengan ancaman yang menyebabkan kepanikan publik. Agen biologis yang paling umum digunakan sebagai senjata teror adalah mikroorganisme dan racun-racunya, yang dapat digunakan untuk menimbulkan penyakit atau kematian pada populasi penduduk, binatang, bahkan tanaman. Agen pencemaran dapat dilepaskan di udara, air, atau makanan. Ada banyak definisi mengenai bioterorisme, namun secara substansial akan sama dengan definisi diatas.

Senjata Biologis

Konvensi pertama untuk melarang penggunaan senjata biologis ditandatangani di Jenewa pada tahun 1925. Di tahun 1972, dibawah kepemimpinan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 103 negara menandatangani konvensi mengenai senjata biologis, yang isinya melarang pengembangan, produksi, penumpukan, dan penggunaan senjata biologis. Tujuan dari konvensi ini adalah untuk melenyapkan secara sepenuhnya kemungkinan dari penggunaan agen biologis dan racunya sebagai senjata pemusnah masal.

Pada konferensi mengenai bioterorisme di San Diego, Kalifornia pada awal tahun 2000, para pakar menyimpulkan bahwa Amerika Serikat tidak siap untuk menghadapi serangan senjata biologis dengan patogen seperti cacar, antrax, Ebola, botulinum, dan lainnya. Pada simposium nasional kedua mengenai bioterorisme di Washington DC di tahun 2000, salah satu dari kesimpulan yang diambil ialah bahwa sistem kesehatan masyarakan Amerika Serikat sama sekali tidak siap untuk menghadapi serangan yang menggunakan senjata biologis. Pada hal lain, di Maret 2001, peneliti pada pusat studi bioterorisme di Universitas St. Louis menemukan fakta bahwa 75 persen dari aparat kesehatan masyarakat mencemaskan bahwa beberapa kota di Amerika Serikat akan mendapatkan serangan senjata biologis dalam waktu 5 tahun. Ramalan para ilmuwan ini terbukti benar, sebab pada Oktober 2001, hanya 4 bulan setelah pertemuan itu, Amerika Serikat mendapat serangan Antrax.

Bioterorisme adalah masalah besar sepanjang sejarah manusia. Salah satu laporan awal mengenai bioterorisme di abad ke 6 sebelum masehi, ketika tentara Asiria meracuni sumur air dari musuhnya dengan ergot, suatu fungi yang memproduksi racun yang sering ditemukan pada rogge (sebangsa gandum). Laporan yang lebih moderen menunjukkan, pada sekitar tahun 1520, Francisco Pizarro, seorang Jendral Spanyol yang memimpin penaklukan kerajaan Inca di Peru, memberikan pakaian yang mengandung kuman cacar kepada orang Inca. Laporan yang serupa menuduh Inggris kemungkinan juga menggunakan patogen untuk menghancurkan musuh mereka sewaktu proses penjajahan Amerika Utara. Negara itu kemungkinan mendistribusikan selimut yang mengandung kuman cacar kepada orang Indian. Berikut ini dibawah akan dijabarkan penggunaan senjata biologis di jaman modern ini.

Bioterorisme di Perang Dunia II

Apa yang kurang diketahui adalah senjata biologis yang digunakan di front eropa timur pada perang dunia II. Dalam bukunya, Biohazard, Ken Alibek, yang pernah menjabat sebagai wakil ketua pengembangan senjata biologis Uni Soviet tahun 1988-1991, menjabarkan pengalamannya dan riset yang tertera dalam arsip-arsip Soviet. Menurut hasil penemuannya, Uni Soviet telah menggunakan kuman yang mengakibatkan penyakit tularemia pada unit Wehrmacht (Angkatan Bersenjata Jerman) sewaktu pertempuran Stalingrad tahun 1942. Gejala dari penyakit ini adalah sakit kepala, mual, dan demam tinggi, yang dapat menyebabkan kematian bila tidak dirawat. Walaupun senjata biologis ini menyebabkan Jerman mengalami kerugian sangat banyak, namun penyakit ini juga menular kepada penduduk sipil dan pada tentara soviet sendiri. Kasus ini menjelaskan ternyata senjata biologis menjadi bumerang untuk pihak Soviet.

Di lain pihak, Jerman juga mengembangkan senjata biologis. Namun fungsinya hanya terbatas untuk sabotase ekonomi dan pertanian. Jerman tidak pernah serius mengembangkan patogen yang menyerang manusia, namun mengembangkan patogen untuk menghancurkan pertanian dan peternakan musuh-musuhnya. Berdasarkan informasi dari Gestapo (polisi rahasia jerman), ternyata justru Uni Soviet mengembangkan senjata biologis secara lebih serius. Soviet memiliki 8 fasilitas instalasi senjata biologis di negara mereka untuk menguji kuman antrax dan penyakit kaki-mulut. Gestapo juga melaporkan bahwa Inggris menguji kuman Antrax, disentri, dan glander. Akhirnya Gestapo justru mendapat informasi bahwa Amerika Serikat mengembangkan senjata biologis di Arsenal Edgewood (Maryland) dan Pine Bluff (Arkansas).

Walaupun Nazi Jerman memiliki berbagai laporan intelejen yang komprehensif, Adolf Hitler justru menolak setiap usul dari bawahannya untuk mengembangkan senjata biologis secara serius dan terencana. Justru Hitler mengarahkan riset Jerman kepada usaha defensif untuk menahan serangan senajata biologis dari pihak sekutu. Namun, dalam skala yang terbatas, Nazi melakukan percobaan senjata biologis pada tahanan di kamp konsentrasi mereka di Aushwich, Polandia. Tahanan dipaparkan dengan kuman Rickettsia prowazekii, Rickettsia mooseri, virus hepatitis A, dan Plasmodia spp. Namun berbeda dengan percobaan yang dilakukan Jepang, yang akan dijelaskan dibawah, percobaan pihak Nazi lebih terbatas untuk mengembangkan vaksin saja. Mayoritas tahanan di Aushwich tewas karena senjata kimia (Mereka dipaparkan DDT dan gas CO), bukan karena senjata biologis.

Percobaan Unit 731, Aushwich di Asia

Kasus lain mengenai bioterorisme skala besar, yang jarang sekali diungkap oleh para ilmuwan, adalah kasus bioterorisme oleh unit 731 di Manchuria, China bagian utara. Unit 731 adalah salah satu organ dari tentara kekaisaran Jepang yang dibentuk untuk melapangkan jalan bagi Jepang untuk menjajah China. Unit ini dibentuk sewaktu Jepang menyerbu China pada tahun 1937. Alasan invasi Jepang ke China, menurut versi sejarawan Jepang adalah “Untuk membebaskan rakyat China dari tipu daya Amerika dan Inggris”. Unit 731 dibentuk dengan disamarkan sebagai fasilitas pemurnian air. Ia dibangun di kota Pingfan, dekat Harbin, di China timur laut. Diperkirakan ada sekitar 3000 warga China, Korea, dan sekutu yang meninggal dalam eksperimen unit 731. Direktur unit 731 adalah Shiro Ishi, seorang dokter yang ahli bakteriologi. Ishi dan timnya, tanpa mempertimbangkan masalah etika dan moral, mengembangkan senjata demi kepentingan Jepang. Ishi memberikan para tawanan perang China, Korea, Inggris dan Amerika Serikat dengan kuman patogen seperti antrax, tanpa rasa kasihan sedikitpun.

Secara sistematis, Ishi dan timnya menjadikan para tawanan perang sebagai kelinci percobaan mereka. Para tawanan itu dipasung di atas tiang, lalu dipaparkan dengan kuman patogen. Kemudian Ishi dan teamnya dari tempat yang aman, mencatat seberapa lama lagi mereka akan meninggal. Eksperimen ini menyebakan tingkat kematian tawanan sekitar 70 persen. Bahkan dalam beberapa kasus bisa mencapai 100 persen. Korban pihak China akibat aksi bioterorisme unit 731 sangat sukar untuk diperkirakan.

Unit 731 memaparkan sungai, sumur, dan cadangan air pihak China dengan kuman kolera, disentri, tiphus, dan antrax. Menyerahnya Jepang kepada pihak sekutu pada tahun 1945 mengakhiri aksi bioterorisme unit 731 dan program pengembangan senjata biologis Jepang untuk selama-lamanya. Akibat dari aksi bioterorisme ini sangat mengerikan karena bahkan jauh setelah perang selesai, pihak China masih menderita banyak kerugian akibat serangan senjata biologis ini. Shiro Ishi ingin menggunakan senjata biologis ini pada perang pasifik di tahun 1944.

Namun perencanaan yang buruk dan sabotase sekutu menggagalkan rencana ini. Beberapa waktu sebelum Jepang menyerah kalah, laboratorium Unit 731 dihancurkan oleh Tentara Jepang. Pihak Amerika Serikat memberikan amnesti kepada para ilmuwan yang terlibat di Unit 731, namun mereka harus memberikan semua data eksperimen mereka kepada pihak Amerika. Menurut sumber resmi pemerintah Amerika Serikat, data-data eksperimen ini sangat berharga dan sukar ditakar nilainya, sebab Amerika sendiri saat itu belum pernah melakukan eksperimen serupa pada manusia hidup. Unit 731 ini memiliki proyek spesial yang menggunakan manusia sebagai bahan eksperimen.

Sumber: http://netsains.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

Secara eksistensial, kematian adalah suatu yang menakutkan. Namun tahukah anda, bahwa di negara yang termasuk paling maju di dunia sekalipun, masih merayakan kematian leluhurnya dengan cara mereka sendiri? Apa makna perayaan terhadap kematian? Mari kita simak!

Kematian adalah suatu misteri, karena tidak ada seorangpun yang memiliki pengetahuan definit, mengenai apa yang terjadi setelah itu. Satu-satunya informasi yang tersedia secara lengkap, hanyalah berasal dari agama atau spiritualitas. Sains tidak pernah berkata apa-apa mengenai paska kematian.

Satu hal yang mengejutkan, dan sering lupa disinggung banyak orang, adalah di negara majupun ritual yang berhubungan dengan kematian juga masih ada. Tentu bukan di Eropa atau dunia barat, dimana sains dan rasionalitas sudah menguasai segala aspek kehidupan. Namun di dunia timur. Banyak orang yang lupa, bahwa Jepang sekalipun, yang memiliki teknologi transportasi lebih baik daripada barat, dan juga memiliki pemenang nobel sains, masih percaya dengan penghormatan terhadap leluhur. Sementara itu, agama-agama semit, Yahudi, Kristen, dan Islam, selalu menekankan bahwa setelah kematian, ada kehidupan lagi.

Jepang dan Ritual Penghormatan Shinto

Pada perang dunia II, prajurit Jepang dikirim oleh rezim militer ke seluruh asia pasifik, dalam rangka menghadapi serbuan sekutu. Selama perang pasifik tersebut, ratusan ribu tentara Jepang gugur, dan total 2,1 juta rakyat Jepang, baik sipil atau militer, yang gugur selama perang dunia II berlangsung. Setelah perang selesai, pihak Jepang menuliskan nama keseluruh total rakyat Jepang yang meninggal tersebut di sebuah kuil di kota Tokyo, yaitu kuil Yasukuni (kuil perdamaian). Awalnya, kuil tersebut didirikan kaisar Meiji, untuk keperluan perang Boshin. Namun setelah perang dunia II, kuil tersebut dijadikan tempat persemayaman rakyat Jepang yang gugur selama perang. Pembangunan kuil tersebut, adalah sesuai dengan Shintoisme, dimana agama ini percaya, jika seorang meninggal, maka arwahnya akan menjadi kami (dewa), dan bersemayam di kuil tersebut. Shintoisme memang sangat kuat dipengaruhi oleh budaya dan agama yang berasal dari China, terutama oleh Taoisme.

Kuli Yasukuni ini menjadi sangat kontroversial, sewaktu Perdana Mentri Jepang, Junichiro Koizumi, mengunjunginya. Kunjungan tersebut diprotes keras oleh pihak China dan Korea. Mengapa demikian? Di kuil tersebut, disemayamkan nama-nama Jendral Jepang, seperti Hideki Tojo, yang menurut pihak China dan Korea bertanggung jawab atas imperialisme Jepang selama perang dunia II. Menurut mereka , dengan mengunjungi kuil Yasukuni, maka berarti memberi penghormatan kepada para penjahat perang dan pelopor imperialisme. Namun, Koizumi tidak berpikir demikian. Menurut Koizumi, kunjungan dia ke kuil tersebut tidak ada hubungannya dengan imperialisme. Kunjungan tersebut hanya bermaksud untuk menghormati dan mengenang jasa para patriot Jepang, yang berjuang demi negerinya, selama berlangsungnya perang. Masalah kunjungan tersebut sempat membuat hubungan diplomatik Jepang dan China menjadi memanas. Namun, setelah Koizumi mundur, pemerintahan Jepang yang selanjutnya mengambil langkah bijak. Shinzo Abe, pengganti Koizumi, tidak mengunjungi kuil Yasukuni tersebut, namun hanya mengirim karangan bunga ke sana. Hal tersebut dilakukan demi memperbaiki hubungan kedua negara.

Kemajuan Jaman, dan Mengenang Jasa Para Pendahulu

Apa yang terjadi di Jepang sudah membuktikan, bahwa semaju-majunya suatu bangsa, penghormatan terhadap jasa baik leluhur tetap bisa dilakukan. Bangsa Jepang, seperti juga Bangsa China dan Korea, sembari mengadopsi sains dan teknologi barat, tetap memilih untuk memberikan penghormatan setinggi-tingginya terhadap pendahulu dan/atau leluhur mereka. Penghormatan tersebut, juga bisa berlangsung emosional, ditengah kemajuan teknologi yang sangat rasional. Berbeda dengan barat, penghargaan terhadap leluhur di budaya barat, hanya terbatas pada mengupas ajaran-ajarannya belaka. Aspek emosionalnya sudah dinegasikan oleh instrumentalisme rasional. Akhirnya penghargaan terhadap leluhur di kultur barat menjadi sangat kering. 'Drama diplomatik' karena kunjungan ke Kuil Yasukuni, seperti yang kita saksikan dalam sengketa antara Jepang dan China, akan sukar sekali kita cari ekivalensinya di barat. Dalam tradisi Islam, juga dikenal adanya tradisi tahlilan, terutama oleh Islam tradisional. Baik Kuil Yasukuni atau tahlilan, Penghormatan tersebut akan menjadi katarsis yang baik, untuk mengingat jasa baik pendahulu kita. Dengan demikian, mereka selalu akan hidup didalam hati dan memori kita, untuk memberikan garam dan terang bagi kehidupan ini.

Sumber: http://netsains.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label:

BBM (Bahan Bakar Minyak) merupakan komoditas paling strategis di era modern ini. Padahal ia baru saja dikenal sejak terjadinya revolusi besar-besaran di bidang industri dan pemikiran pada abad 19. Selain berhasil mengubah wajah bumi tradisional menjadi hamparan yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit, revolusi tersebut juga telah mendongkrak posisi BBM menjadi komoditas puncak perekonomian dunia. Bahkan orang-orang sering menyebut BBM dengan sebutan ‘emas hitam’.

Ketergantungan

Dunia modern tak akan pernah bergerak tanpa BBM. Ketergantungan dunia akan BBM membuat negara-negara gersang di Afrika dan Jazirah Arab (sebagai penghasil utama minyak) menjadi amat disegani negara-negara barat.

Pada masa Turki Ottoman, daerah Timur-Tengah belum dikenal sama sekali, kecuali sebagai tempat ziarah umat beberapa agama besar. Bahkan ketika itu banyak orang yang meremehkan tempat turunnya nabi-nabi tersebut. Pada paruh pertama abad 20, banyak ladang minyak ditemukan di kawasan itu. Setelah dua bom atom mengoyak dahsyat kota-kota vitalnya, Jepang bangkit dengan produksi otomotif. Hal ini juga mewajibkan kepentingan BBM, sehingga makin kokohlah kedudukan negeri-negeri padang pasir di percaturan ekonomi dunia. Sedikit saja para tuan minyak itu mengutak-atik harga minyak, hampir seluruh negara di dunia ini terkena imbasnya.

Generasi milenium ketiga ini mewarisi cadangan minyak yang sangat melimpah. Orang-orang belum berpikir untuk membakar minyak dalam tangki-tangki kendaraan mereka. Mobil-mobil, sepeda motor, bus, truk, dan sebagainya berkeliaran dan senantiasa lalu-lalang di jalanan kota, yang berarti setiap detik cadangan minyak dunia berkurang. Begitupun dengan konsumsi minyak dalam industri, pesawat terbang, dan kapal laut, semuanya mengurangi cadangan minyak. Di sisi lain, di balik tembok-tembok kampus dan pusat-pusat penelitian, para peneliti tengah resah memikirkan apa jadinya kalau BBM di perut bumi ini habis, sedangkan peradaban telah benar-benar tergantung pada minyak. Sebagai bahan bakar utama, minyak adalah barang yang tak bisa diperbaharui. Minyak terbentuk dari sisa-sisa makhluk hidup zaman purba selama jutaan tahun, dan mengendap di dasar bumi dan lautan. Sebab itu, cepat atau lambat, dunia harus hidup tanpa BBM.

Krisis

Ada dugaan bahwa dalam beberapa dekade ke depan, cadangan minyak akan habis. Bayangkan kalau keadaan tersebut benar-benar terjadi. Pabrik-pabrik tutup, kendaraan-kendaraan bermesin: mobil, sepeda motor, perahu, helikopter, kapal pesiar, pesawat terbang, dan bahkan pesawat ruang angkasa hanya akan menjadi barang rongsokan yang tidak ada gunanya lagi. Kegiatan ekonomi mandeg, traktor-traktor tidak bisa membajak sawah, pasar tutup, listrik padam, mobilitas masyarakat akan terhenti, para politikus saling tuding, dan akhirnya dunia akan chaos, anarkisme bertebaran di mana-mana. Kekhawatiran menyelimuti orang-orang di seluruh dunia. Saat ini manusia sedang mengembangkan berbagai cara agar gambaran tersebut tidak benar-benar terjadi.

Solusi

Setidaknya ada tiga cara yang sedang dikembangkan berbagai komunitas dalam bidangnya masing-masing, sebagai berikut:

1. Penghematan

Cara ini dikembangkan oleh komunitas ekonomi dan politik. Sayangnya, segelintir elite sering menyalah-gunakannya sebagai ajang KKN dan manipulasi keuangan negara. Mekanisme ini juga sering digunakan sebagai kampanye utama orang-orang politik untuk memperlihatkan rasa pedulinya kepada rakyat.

2. Mencari ladang baru

Pelaksana mekanisme ini adalah para industrialis dan imperalis. Mereka menelusuri setiap jengkal tanah, menyapu luasan samudera, menembus dataran gersang di Timur-Tengah dan Afrika, dan bahkan memasuki daratan Antartika di kutub selatan. Apa yang mereka kerjakan itu hanya untuk satu tujuan, yakni menemukan ladang minyak.

3. Mencari sumber energi alternatif

Hal ini dikerjakan oleh para ilmuwan dan sarjana di balik tembok kampus dan laboratorium mereka. Mereka meneliti berbagai jenis bahan yang kemungkinan bisa dijadikan sumber baru bahan bakar. Diantara mereka ada yang berinovasi menuju bahan bakar biologi, bahan bakar atomik, dan bahkan gas plasma.

Telah banyak upaya diadakan untuk mengusahakan sumber energi alternatif. Sejauh ini, telah banyak pula sumber ditemukan. Namun, diantara sekian banyak itu, belum ada satu pun alternatif yang dianggap sanggup menggantikan BBM. Diantaranya: BBG, hidrogen cair, biofuel, dan fusi nuklir. Di Indonesia dan negara-negara Asia Timur sekarang ini sedang menggalakkan apa yang disebut Program Langit Biru. Program ini mengetengahkan bahwa BBG dijadikan sebagai alternatif utama pengganti BBM. Selain lebih irit dan murah, BBG tidak menimbulkan polusi berat. Akan tetapi, program ini mengalami kendala besar pada sektor infrastruktur. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa BBG kurang aman digunakan, karena sangat mudah bereksplosif. Jadi, meskipun cadangan gas sangat berlimpah, masyarakat konsumsi kurang berminat.

Sumber Lain

Ada lagi suatu jenis sumber energi alternatif yang telah didapatkan, yaitu hidrogen cair. Dalam proses-proses kimiawi, apabila hidrogen direaksikan dengan oksigen, maka akan dihasilkan air dan suatu bentuk energi panas (reaksi eksoterm). Para ilmuwan mencoba memanfaatkan energi panas tersebut agar bisa digunakan untuk memutar piston pada mesin kendaraan dan industri. Sumber alternatif yang satu ini memang sangat baik digunakan: aman, efektif, dan ramah lingkungan. Yang menjadi kendala, siklus produksi bahan bakar ini juga melibatkan BBM. Untuk memisahkan hidrogen dan oksigen pada senyawa air, butuh energi yang besar, sedangkan energi tersebut didapatkan dengan cara membakar BBM. Oleh karena itu, selain untuk bahan bakar roket pendorong pesawat antariksa tradisional, hidrogen tak layak menggantikan BBM untuk konsumsi sehari-hari

Para peneliti dari barat juga telah menemukan suatu sumber energi luar biasa dalam inti atom. Sebelum perang dunia I, tahun 1905, Einstein menemukan suatu formulasi konversi material. Einstein menemukan bahwa kuantitas massa dapat hilang dan berubah menjadi energi, ataupun sebaliknya, dengan nilai yang bersesuaian dengan persamaan E=mc2. Awalnya, orang-orang menganggap konsep tersebut hanyalah pepesan kosong saja. Namun tak dapat dipungkiri, ternyata semakin hari semakin banyak saja bukti didapatkan yang ternyata membenarkannya.

Para fisikawan mendapati bahwa proses-proses yang terjadi dalam inti atom memuat konversi materi menjadi energi seperti dituliskan Einstein. Ada dua cara untuk mendapatkan energi dalam inti atom: dengan pemecahan (fisi) atau dengan penggabungan (fusi). Tahun 1934, Leo Szilard memperkenalkan gagasan tentang fisi nuklir, beberapa dekade kemudian menyusul John A. Wheeler mengajukan gagasan fusi nuklir untuk diterapkan pada proses pembuatan bom hidrogen.

Masyarakat awam antipati terhadap kajian-kajian mengenai energi atom. Citra negatif itu timbul setelah sekutu, Amerika Serikat dan kawan-kawan, pada tahun 1945 meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom, sehingga mengakhiri Perang Dunia II. Saat ini para ilmuwan terus mengembangkan cara bagaimana menggunakan energi atom untuk maksud damai. Hasilnya, tenaga fisi nuklir sekarang telah banyak digunakan untuk pembangkitan tenaga listrik. Dan sebagai kandidat yang sangat diandalkan, fusi hidrogen, saat ini sedang dikembangkan sebagai bahan bakar utama pengganti BBM.

Selain itu, para ilmuwan juga telah mengupayakan apa yang disebut bahan bakar biologi atau biofuel, dan alkohol. Semuanya terlihat menarik, aman, efisien, dan sebagainya, namun tetap saja ada semacam kendala yang menghambatnya. Dan sering kali kendala-kendala tersebut menjadi alasan mengapa mereka menjadi tidak layak menggantikan BBM. Itu menjadi tantangan berat generasi kita sekarang.

Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , ,

"The Knight Templars ('Ksatria Haikal')" yang terkenal di dunia Barat, yang menjadi pelopor dan inti dari tentara Salib, dibangun oleh anggota-anggota Majelis Kuasa Rahasia Qabala di Eropa yang umumnya terdiri dari orang orang Yahudi. Tujuan mereka ialah untuk membangun kembali Haikal Sulaiman dan menghidupkan kembali kcpercayaan Qabala di Palestina. Untuk tujuan itu mereka memprovokasi Paus Urbanus untuk "membebaskan Tanah Suci Jerusalem" dari tangan 'kaum kafir muslim penyembah berhala.

Beribu-ribu kaum Nasrani yang tertipu berangkat ke Jerusalem untuk menjalankan "perang suci" itu, yang lebih dikenal dalam sejarah dengan nama Perang Salib. Karena kaum muslimin mempercayai Tuhan Yang Maha Esa, dan memuliakan juga Nabi Isa a.s., maka mereka menganggap kaum muslimin sebagai penghalang utama ajaran syirik mereka yang menyembah Lucifer.

Para prajurit Salib yang didukung oleh sejumlah raja-raja Eropa berhasil merebut Jerusalem dari tangan kaum muslimin pada tahun 1099. Tatkala Jerusalem jatuh terjadilah pembantaian dan perkosaan, bukan saja terhadap kaum muslimin, tetapi juga terhadap ummat Kristen Timur. Menurut catatan Encyclopaedia Britanica selama pembantaian itu, masjid Umar digenangi oleh darah kaum muslimin setinggi mata-kaki. Pemimpin pertama 'Knight Templars' bemama Codei Froi de Bouillar, yang menjadi raja Kristen Qabalis yang pertama di Jerusalem pada tahun 1099. Dua dasawarsa kemudian 'ksatria haikal' Qabalis menjadi kekuatan yang paling ditakuti dan disegani di Eropa dengan harta kekayaan yang mereka rampok dari Palestina. Selama abad ke-l2 dan ke-13, 'ksatria haikal' menyebarkan kepercayaan Qabala mereka ke seluruh Eropa melalui jalan infiltrasi politik, sosial dan kelompok-kelompok gereja.

Barulah pada awal abad ke-13 bangsa-bangsa Eropa menyadari kejahatan para 'ksatria haikal' Yahudi tersebut, dan akhirnya memutuskan untuk menyapu bersih mereka. Pada 1307 Kaisar Perancis Phillipe IV dengan dukungan Paus Clementus V, menangkap dan memenjarakan Jacques de Molay, pemimpin tertinggi 'ksatria haikal' dan sebagian besar anggotanya. Paus Clementus V mengeluarkan sebuah dekrit yang menyatakan 'ksatria haikal' sebagai kelompok Anti-Kristus. Atas dasar dekrit tersebut Molay dan para pengikutnya dijatuhi hukuman dibakar di kayu sula pada 1307.

Beberapa tokoh 'ksatria haikal' yang berhasil lolos bersumpah untuk menghancurkan gereja, para raja, dan rahib. Beberapa orang di antara mereka berhasil menyelamatkan diri ke Skotlandia dan disana mendirikan 'the Scottish Rites" (Freemasons sekte Skot), dan beberapa lagi ke kerajaan-kerajaan Jerman, dan bergabung ke dalam organisasi 'Illuminati' Bavaria yang dipimpin oleh Adam Weishaupt, suatu cabang Qabala di Eropa. Setelah 'Illuminati' dinyatakan terlarang di Bavaria, mereka menyusup dan berhasil menguasai organisasi rahasia kaum Protestan 'Freemasonry' yang dipimpin Friederich yang Agung, raja Prussia1.

Perang Salib

Betapapun banyaknya yang bersikeras bahwa Perang Salib adalah ekspedisi militer yang dilakukan atas nama iman Kristiani, pada dasarnya keuntungan materilah yang menjadi tujuannya. Pada periode Eropa dilanda kemiskinan dan kesengsaraan yang berat, kemakmuran dan kekayaan bangsa Timur, terutama bangsa Muslim di Timur Tengah, menarik perhatian bangsa Eropa. Walaupun menggunakan wajah agama, dan dihiasi dengan simbol-simbol Kristiani, gagasan Perang Salib sebenarnya lahir dari hasrat akan keuntungan duniawi. Inilah yang menyebabkan perubahan tiba-tiba dari kebijakan cinta damai sebelumnya di kalangan Kristen Eropa pada periode awal sejarah mereka, kepada agresi militer.

Pengagas Perang Salib adalah Paus Urban II. Pada tahun 1095, ia menyelenggarakan Konsili Clermont, di mana doktrin Kristen sebelumnya yang cinta damai ditinggalkan. Perang suci diserukan, dengan tujuan untuk merebut tanah suci dari tangan bangsa Muslim. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan konsili, dibentuklah pasukan Pejuang Salib yang amat besar, terdiri dari para tentara, dan puluhan ribu rakyat biasa.

Para ahli sejarah percaya bahwa upaya Urban II didorong oleh keinginannya untuk merintangi pencalonan seorang pesaingnya dalam kepausan. Sedangkan di balik sambutan penuh semangat dari para raja, pangeran, dan bangsawan Eropa atas seruan Paus, tujuan mereka pada dasarnya bersifat keduniaan. Sebagaimana diungkapkan oleh Donald Queller dari Universitas Illinois, “Ksatria-ksatria Prancis menginginkan lebih banyak tanah. Pedagang-pedagang Italia berharap untuk mengembangkan perdagangan di pelabuhan-pelabuhan Timur Tengah.... Sejumlah besar orang miskin bergabung dengan ekspedisi sekadar untuk melarikan diri dari kerasnya kehidupan sehari-hari mereka.” Sepanjang jalan, massa yang serakah ini membantai banyak orang Muslim, dan bahkan Yahudi, dengan harapan untuk menemukan emas dan permata. Pejuang-pejuang salib bahkan membelah perut korban-korban mereka untuk menemukan emas dan batu-batu berharga yang mungkin telah mereka telan sebelum mati. Begitu besarnya keserakahan para pejuang salib akan harta, sehingga tanpa sesal mereka merampok kota Kristen Konstantinopel (Istanbul) pada Perang Salib IV, dan melucuti daun-daun emas dari lukisan-lukisan dinding Kristiani di Hagia Sophia.

Setelah perjalanan yang panjang dan sulit, serta begitu banyak perampasan dan pembantaian orang-orang Muslim, gerombolan campur aduk yang disebut Pejuang Salib ini mencapai Yerusalem di tahun 1099. Ketika akhirnya kota itu jatuh, setelah pengepungan selama hampir lima minggu, para Pejuang Salib masuk. Mereka melakukan kebuasan hingga tingkatan yang jarang disaksikan dunia. Semua orang Muslim dan Yahudi di kota itu mati di ujung pedang. Dalam narasi seorang ahli sejarah, “Mereka membunuh semua orang Saraken dan Turki yang mereka temukan… baik lelaki maupun wanita.” Salah seorang Pejuang Salib, Raymond of Aguiles, menyombongkan kekejaman ini:

Tampaklah pemandangan yang menakjubkan. Sebagian orang-orang kami (dan ini lebih murah hati) memenggal kepala-kepala musuh; yang lainnya memanah mereka, sehingga berjatuhan dari menara-menara; yang lain lagi menyiksa lebih lama dengan melemparkan mereka ke dalam api. Gundukan kepala, tangan, dan kaki tampak di jalan-jalan kota. Orang harus mencari jalan di antara mayat-mayat manusia dan kuda. Tetapi ini belum apa-apa dibandingkan dengan apa yang terjadi di Kuil Sulaiman, tempat kebaktian keagamaan biasanya dinyanyikan… di dalam Kuil dan serambi Sulaiman, orang-orang berkuda berkubang darah hingga ke lutut dan tali kekang mereka.

Selama dua hari, pasukan Pejuang Salib membunuh sekitar 40.000 Muslim dengan cara yang sangat biadab. Pejuang salib kemudian menjadikan Yerusalem ibukota mereka, dan membangun Kerajaan Latin yang membentang dari perbatasan Palestina hingga ke Antioch (Antakia).

Selanjutnya, para pejuang salib mulai berupaya untuk memperjuangkan posisinya di Timur Tengah. Untuk mempertahankan apa yang telah mereka bangun, mereka perlu mengorganisirnya. Untuk itu mereka membentuk ordo-ordo militer, dalam bentuk yang belum pernah ada sebelumnya. Anggota ordo-ordo ini datang dari Eropa ke Palestina, dan tinggal di semacam biara, di mana mereka menerima latihan militer untuk memerangi orang Muslim.

Secara khusus, salah satu dari ordo-ordo ini berbeda dengan yang lainnya. Ia mengalami transformasi yang akan memengaruhi jalannya sejarah. Namanya: Ordo Templar.

Ordo Templar

Para Templar, atau lengkapnya, Tentara Miskin Pengikut Yesus Kristus dan Kuil Sulaiman, dibentuk pada tahun 1118, dua puluh tahun setelah tentara salib merebut Yerusalem. Pendiri ordo ini adalah dua ksatria Prancis, Hugh de Payens dan Godfrey de St. Omer. Berawal dari sembilan anggota, ordo ini terus berkembang. Nama kuil Sulaiman dipakai karena mereka membangun basis di gunung kuil, yakni lokasi reruntuhan kuil tersebut. Di sini pula berdiri Dome of the Rock (Qubah As-Sakhrah) .

Para Templar menyebut dirinya “tentara miskin”, tetapi dalam waktu singkat mereka menjadi sangat makmur. Mereka mengontrol penuh para peziarah Kristen yang berdatangan dari Eropa ke Palestina, dan menjadi sangat kaya dari uang para peziarah tersebut. Mereka pula yang pertama kali menyelenggarakan sistem cek dan kredit, menyerupai yang ada pada sebuah bank. Menurut penulis Inggris, Michael Baigent dan Richard Leigh, mereka membangun semacam kapitalisme abad pertengahan, dan merintis jalan menuju perbankan modern dengan transaksi mereka yang berbasis bunga.

Para Templar inilah yang paling bertanggung jawab atas serangan-serangan pejuang salib dan pembantaian bangsa Muslim. Karena itulah, komandan besar Islam Saladin (Shalahuddin Al Ayyubi), yang mengalahkan pasukan salib pada tahun 1187 pada Pertempuran Hattin, dan kemudian membebaskan Yerusalem, menghukum mati para Templar karena pembunuhan yang mereka lakukan, walaupun sebenarnya ia mengampuni banyak sekali orang Kristen. Namun, sekalipun kehilangan Yerusalem dan mengalami kekalahan besar, para Templar terus bertahan. Dan walaupun bangsa Kristen terus menyusut di Palestina, mereka meningkatkan kekuatan di Eropa dan, pertama di Prancis, kemudian di negara-negara lain, menjadi negara dalam negara.

Tidak diragukan lagi bahwa kekuatan politik mereka menyusahkan raja-raja Eropa. Tetapi ada segi lain dari para Templar yang segera mengganggu kalangan kependetaan: ordo tersebut sedikit demi sedikit telah menyeleweng dari iman Kristen, dan sewaktu di Yerusalem telah mengambil sejumlah doktrin mistik yang asing. Berkembang juga desas-desus bahwa mereka menyelenggarakan ritus-ritus aneh untuk memberi bentuk pada doktrin mereka.

Akhirnya, pada tahun 1307, Raja Prancis Philip le Bel memutuskan untuk menangkap anggota-anggota ordo ini. Sebagiannya berhasil melarikan diri tetapi kebanyakan mereka tertangkap. Paus Clement V juga bergabung dalam pembersihan ini. Setelah periode panjang interogasi dan pengadilan, banyak anggota Templar mengakui keyakinan 'bidah' mereka, bahwa mereka menolak iman Kristiani dan menghina Yesus dalam misa mereka. Akhirnya, para pemimpin Templar, yang dinamai “Imam Besar (Grand Master)”, mulai dari yang terpenting dari mereka, Jacques de Molay, dihukum mati pada tahun 1314 atas perintah Gereja dan Raja. Kebanyakan mereka dijebloskan ke dalam penjara, dan ordo tersebut tumpas dan secara resmi menghilang.

Segolongan ahli sejarah cenderung melukiskan sidang pengadilan para Templar sebagai konspirasi dari Raja Prancis, dan menggambarkan para ksatria itu tak bersalah atas segala dakwaan. Tetapi, cara interpretasi ini keliru dalam beberapa segi. Nesta H. Webster, ahli sejarah Inggris terkenal dengan begitu banyak mengetahui sejarah okultisme, menganalisis berbagai aspek ini dalam bukunya, Secret Societies And Subversive Movements. Menurut Webster, kecenderungan untuk melepaskan para Templar dari bidah yang mereka akui dalam masa pengadilan tidak tepat. Pertama, selama interogasi, walau secara umum terjadi, tidak semua Templar disiksa:

Lagipula, apakah pengakuan mereka tampak seperti hasil imajinasi murni orang-orang yang disiksa? Tentunya sukar dipercaya bahwa cerita tentang upacara pembaiatan — yang disampaikan dengan rinci oleh orang-orang di berbagai negara, dituturkan dalam kalimat yang berbeda, namun semuanya saling menyerupai — merupakan karangan semata-mata. Jika para korban dipaksa untuk mengarang-ngarang, cerita mereka tentu akan saling bertentangan; segala macam ritus liar dan fantastis diteriakkan dengan penuh kesakitan untuk memenuhi tuntutan interogator mereka. Tetapi sebaliknya, masing-masing tampak seperti mendeskripsikan upacara yang sama, baik lengkap maupun tidak, dengan sentuhan personal si pembicara, dan pada dasarnya semua cerita tersebut cocok.

Bagaimanapun juga, sidang pengadilan para Templar berakhir dengan tumpasnya ordo tersebut. Tetapi, walaupun sudah dibubarkan “secara resmi”, ia tidak benar-benar musnah. Selama penangkapan tiba-tiba pada tahun 1307, beberapa Templar lolos, dan berhasil menutupi jejak mereka. Menurut tesis yang berdasarkan pada berbagai dokumen sejarah, sejumlah besar mereka berlindung di satu-satunya kerajaan di Eropa yang tidak mengakui kekuasaan Gereja Katolik di abad keempat belas, yaitu Skotlandia. Di sana, mereka menyusun kekuatan kembali di bawah perlindungan Raja Skotlandia, Robert the Bruce. Tak lama kemudian, mereka menemukan penyamaran yang tepat untuk melanjutkan gerakan rahasia mereka: mereka menyusup ke dalam gilda (serikat sekerja) terpenting di Kepulauan Inggris abad pertengahan — loge (pemondokan) para tukang batu, dan segera, mereka menguasai loge-loge ini sepenuhnya.

Loge para tukang batu berganti nama pada awal era modern, dengan “Loge masonik”. Ritus Skot merupakan cabang Masonry tertua, dan berasal mula di awal abad keempat belas, dari para Templar yang berlindung di Skotlandia. Dan, nama-nama yang diberikan kepada tingkat tertinggi dalam Ritus Skot adalah gelar-gelar yang diberikan kepada para ksatria dalam ordo Templar berabad-abad sebelumnya.

Pendeknya, para Templar tidak tertumpas, sebaliknya filsafat serta berbagai kepercayaan dan upacara mereka tetap berlangsung di balik samaran Freemasonry. Tesis ini didukung oleh banyak bukti sejarah, dan diterima saat ini oleh banyak ahli sejarah Barat, baik mereka anggota Freemasonry ataupun tidak. Dalam buku kami, Ordo Masonik Baru, bukti ini dikaji secara terperinci.

Tesis yang mengusut akar Masonry ke Ordo Templar seringkali dirujuk di dalam majalah-majalah yang diterbitkan oleh para Mason untuk kalangannya sendiri. Para Mason sangat menerima pendapat ini. Salah satu majalah ini bernama Mimar Sinan (terbitan Freemason Turki), yang menggambarkan hubungan antara Ordo Templar dengan Freemasonry dalam kata-kata berikut ini:

Di tahun 1312, ketika Raja Prancis, di bawah tekanan Gereja, membubarkan Ordo Templar dan memberikan hak-hak mereka kepada para Ksatria St. John di Yerusalem, aktivitas para Templar tidak berhenti. Sebagian besar Templar berlindung di berbagai loge Freemason yang beroperasi di Eropa pada saat itu. Pemimpin para Templar, Mabeignac, bersama beberapa anggota lainnya, mendapatkan perlindungan di Skotlandia dengan menyamar sebagai seorang tukang batu bernama Mac Benach. Raja Skot, Robert the Bruce, menyambut mereka dan mengizinkan mereka mengembangkan pengaruh besar terhadap loge-loge Mason di Skotlandia. Sebagai hasilnya, loge-loge Skot meraih peran penting dari sisi keahlian dan ide-ide mereka.

Freemason masa kini menggunakan nama Mac Benach dengan penuh hormat. Para Mason Skot, yang mewarisi pusaka para Templar, mengembalikannya ke Prancis bertahun-tahun kemudian dan membangun dasar bagi ritus yang dikenal sebagai Ritus Skot di sana.

Sekali lagi, Mimar Sinan memberikan banyak informasi tentang hubungan antara Templar dan Freemasonry. Di dalam sebuah artikel berjudul “Templar dan Freemason” dinyatakan bahwa “ritual-ritual upacara pembaiatan Ordo Templar menyerupai Freemasonry masa kini.” Menurut artikel yang sama, sebagaimana di dalam Masonry, para anggota Ordo Templar saling memanggil “saudara”. Pada bagian akhir artikel tersebut, tercantum:

Ordo Templar dan organisasi Mason saling memengaruhi dengan sangat mencolok. Bahkan ritual-ritual dari berbagai lembaga begitu mirip sehingga bagaikan disalin dari para Templar. Dalam hal ini, para Mason telah mengidentifikasi diri mereka kepada para Templar begitu jauh dan dapat dikatakan bahwa apa yang dipandang sebagai esoterisme (kerahasiaan) asli Masonik sampai tingkatan yang penting merupakan warisan dari para Templar. Ringkasnya, sebagaimana kami sebutkan pada judul esei ini, kita dapat katakan bahwa titik berangkat dari seni megah Freemansory dan garis esoteris—awalnya milik para Templar dan ujung panahnya milik para Freemason.

Akhirnya, kami katakan, jelas bahwa Freemasonry mengakar hingga ke Ordo Templar, dan bahwa para Mason telah mengadopsi filsafat ordo ini. Para Mason sendiri menerimanya. Tetapi sudah tentu, hal penting bagi pembahasan kita adalah sifat dasar dari filsafat ini. Apa yang membawa mereka ke situ? Mengapa mereka mengalami perubahan seperti itu di Yerusalem? Apa dampak dari filsafat yang diadopsi para Templar ini, melalui perantaraan Masonry, kepada dunia?

Para Templar dan Kabbalah

Sebuah buku yang ditulis oleh dua orang Mason, Christopher Knight dan Robert Lomas, yang berjudul the Hiram Key mengungkapkan beberapa fakta penting tentang akar Freemasonry. Menurut para penulis ini, jelas sekali bahwa Masonry adalah kesinambungan dari para Templar. Namun, selain itu para penulis juga mengkaji asal usul para Templar.

Menurut tesis mereka, para Templar mengalami perubahan besar ketika mereka berada di Yerusalem. Di tempat asal agama Kristen ini, mereka justru mengadopsi doktrin-doktrin lain. Pada akarnya terdapat sebuah rahasia yang mereka temukan di dalam kuil Sulaiman di Yerusalem, yang reruntuhannya mereka selidiki. Para penulis menjelaskan bahwa para Templar berdalih dengan peranan mereka yang diakui sebagai pelindung peziarah Kristen yang mengunjungi Palestina, tetapi tujuan mereka yang sebenarnya sangat berbeda:

Tidak ada bukti bahwa para Templar pendiri ini pernah memberi perlindungan kepada peziarah, tetapi sementara itu kita segera menemukan bahwa terdapat bukti yang meyakinkan bahwa mereka memang melakukan penggalian yang intensif di bawah reruntuhan Kuil Herod….

Para penulis Kunci Hiram bukanlah satu-satunya yang menemukan bukti tentang ini. Sejarawan Prancis, Gaetan Delaforge membuat pernyataan yang sama:

Tugas sebenarnya dari sembilan ksatria itu adalah melakukan penyelidikan di daerah tersebut untuk mendapatkan berbagai barang peninggalan dan naskah yang berisi intisari dari tradisi-tradisi rahasia Yahudi dan Mesir kuno.

Pada akhir abad kesembilan belas, Charles Wilson dari Royal Engineers mulai melakukan riset arkeologis di Yerusalem. Dia sampai kepada pendapat bahwa para Templar telah mendatangi Yerusalem untuk mempelajari reruntuhan kuil tersebut. Wilson menemukan jejak-jejak penggalian dan ekskavasi di bawah pondasi kuil tersebut, dan menyimpulkan bahwa hal ini dilakukan dengan peralatan milik para Templar. Barang-barang ini masih ada di dalam koleksi Robert Brydon, yang memunyai arsip yang sangat luas tentang informasi mengenai para Templar.

Para penulis The Hiram Key berpendapat bahwa penggalian-penggalian para Templar ini bukannya tanpa hasil; karena di Yerusalem ordo tersebut menemukan berbagai peninggalan tertentu yang mengubah cara mereka memandang dunia. Selain itu, banyak peneliti berpendapat serupa. Mestilah ada sesuatu yang menuntun para Templar, walau pada faktanya mereka sebelumnya adalah pengikut Kristen dan datang dari bagian dunia Kristen, untuk mengadopsi suatu sistem keimanan dan filsafat yang sepenuhnya berbeda dari agama Kristen, merayakan misa-misa bidah, dan melakukan berbagai upacara sihir.

Menurut pandangan umum dari banyak peneliti, “sesuatu” itu adalah Kabbalah (Qabbala).

Arti kata Kaballah adalah “tradisi lisan”. Berbagai ensiklopedia dan kamus mendefinisikannya sebagai suatu cabang mistik agama Yahudi dan hanya dipahami sedikit orang. Menurut definisi ini, Kabbalah mempelajari arti tersembunyi dari Taurat dan naskah agama Yahudi. Tetapi, ketika kita mengkaji masalah ini lebih dekat, kita menemukan berbagai faktanya adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Fakta-fakta ini membawa kita kepada kesimpulan bahwa Kabbalah adalah suatu sistem yang berakar kepada penyembahan dan pemujaan berhala; bahwa ia ada sebelum Taurat, dan menjadi tersebar luas bersama agama Yahudi setelah Taurat diturunkan.

Fakta yang menarik tentang Kabbalah ini dijelaskan oleh sumber yang sama menariknya. Murat Ozgen, seorang Freemason Turki, menulis sebagai berikut ini di dalam bukunya, Masonluk Nedir ver Nasildir? (Apa dan Seperti Apa Freemasonry Itu?):

Kita tidak mengetahui dengan jelas dari mana Kabbalah datang atau bagaimana ia berkembang. Ia adalah nama umum untuk sebuah filsafat yang unik, berbentuk metafisik, esoterik, dan mistik, yang terutama berhubungan dengan agama Yahudi. Ia diterima sebagai ilmu kebatinan Yahudi, tetapi sebagian elemen yang dikandungnya menunjukkan bahwa ia terbentuk jauh lebih dahulu dari Taurat.

Ahli sejarah Prancis, Gougenot des Mousseaux, menjelaskan bahwa Kabbalah memang jauh lebih tua daripada agama Yahudi.

Ahli sejarah Yahudi, Theodore Reinach, mengatakan bahwa Kabbalah merupakan “suatu racun teramat halus yang menyusupi dan memenuhi nadi agama Yahudi.” Solomon Reinach mendefinisikan Kabbalah sebagai “salah satu penyimpangan pikiran manusia yang terburuk”.

Alasan Reinach menyatakan Kabbalah sebagai “salah satu penyimpangan pikiran manusia yang terburuk” adalah karena doktrinnya sebagian besar berhubungan dengan ilmu sihir. Selama ribuan tahun, Kabbalah telah menjadi salah satu batu pondasi bagi setiap jenis upacara sihir. Para rabbi yang mempelajari Kabbalah dipercaya memiliki kekuatan gaib yang besar. Juga, banyak non-Yahudi yang telah terpengaruh dengan Kabbalah, dan mencoba memraktikkan ilmu sihir dengan menggunakan doktrin-doktrinnya. Kecenderungan esoterik yang terjadi di Eropa selama akhir Abad Pertengahan, khususnya sebagaimana yang dipraktikkan oleh para ahli alkimia, sangat banyak yang berakar dari Kabbalah.

Hal ini sungguh aneh, jika kita memandang Yahudi sebagai sebuah agama Monoteistik, yang diawali dengan turunnya Taurat kepada Musa a.s. Kenyataannya, di dalam agama ini ada sebentuk sistem yang disebut Kabbalah, yang mengadopsi praktik-praktik dasar sihir yang dilarang oleh agama. Hal ini memperkuat apa yang telah disebutkan sebelumnya, dan menunjukkan bahwa Kabbalah sebenarnya merupakan elemen yang menyusup ke dalam agama Yahudi dari luar.

Tetapi, apa sumber dari elemen ini? Ahli sejarah Yahudi Fabre d'Olivet menyebutkan bahwa Kabbalah berasal dari Mesir Kuno. Menurut penulis ini, Kabbalah mengakar hingga ke Mesir Kuno. Kabbalah merupakan suatu tradisi yang dipelajari oleh sebagian pemimpin Bani Israil di Mesir Kuno, dan diteruskan sebagai tradisi dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.

  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments