Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Eropa
Perang dunia pertama melahirkan beberapa nama pilot terkenal, baik dari pihak Jerman maupun sekutu. Pilot Jerman Manfred von Richthofen, yang di juluki “Red Baron” atau "satria merah" tercatat memiliki jumlah kemenangan tertinggi dengan menjatuhkan 80 pesawat musuh sebelum akhirnya tertembak.
Kemudian ada Rene Fonck, pilot Perancis dengan 75 kemenangan dan selamat sampai akhir perang. Pilot hebat lainnya adalah Mayor Edward “Mick” Mannock (Inggris, 73 kemenangan); Mayor William “Billy” Bishop (Kanada, 72 kemenangan); Kapten Ernst Udet (Jerman, 62 kemenangan); dan Kapten Edward V. Rickenbacker (Amerika, 25 kemenangan). Berikut beberapa biografi singkat mereka.
Manfred Freiherr von Richthofen
Manfred Freiherr von Richthofen (1892-1918), pilot Jerman, lahir di Breslau. Richthofen adalah anggota kavaleri dan infantri sebelum bergabung dengan angkatan udara Jerman selama PD I. Dia memimpin sebuah group pilot yang kemudian di kenal sebagai sirkus Richthofen.
Richthofen mengecat pesawatnya dengan warna merah untuk memamerkan keberaniannya di udara sehingga akhirnya dia di juluki sebagai red baron (ksatria merah) atau Red Knight of Germany (ksatria merah dari Jerman).
Dia tercatat menjatuhkan 80 pesawat sekaligus membunuh 123 pilot sekutu sebelum jatuh tertembak.
Manfred Freiherr von Richthofen belum genap 26 tahun ketika tertembak jatuh pada tanggal 21 April 1918. Beberapa pihak meyakini bahwa dia di tembak oleh seorang pilot Inggris, Roy Brown yang menggunakan pesawat Sopwith Camel. Beberapa sumber yang lain menyebutkan bahwa dia tertembak dari darat oleh seorang prajurit Australia, Sersan Cedric Bassett Popkin.
William Avery Bishop
William Avery Bishop (1894-1956), pilot Kanada, lahir di Owen Sound, Ontario, Kanada. Bishop mendapatkan pendidikan di Royal Military College di Kingston. Dia memasuki PD I sebagai anggota kavaleri tahun 1914, lalu menjadi seorang ahli observasi udara tahun 1915 dan menyelesaikan training sebagai pilot tahun 1917. Dia tercatat telah menjatuhkan 72 pesawat Jerman dan memperoleh beberapa medali diantaranya Victoria Cross, Distinguished Service Order, dan Military Cross pada hari yang sama.
Bishop memasuki bisnis pertambangan minyak dan emas di Kanada setelah perang berakhir. Tetapi terbang lagi tahun 1934 dan memegang beberapa jabatan yang berhubungan dengan kedirgantaraan. Terakhir menjadi direktur pada Royal Canadian Air Force dari tahun 1939 sampai 1945. Dia menulis dua buku, Winged Warfare (1918) dan Winged Peace (1944).
Eddie Rickenbacker
Eddie Rickenbacker (1890-1973), seorang pilot Amerika sekaligus seorang bisnisman dan pembalap, memimpin pilot tempur Amerika selama PD I. Dia lahir di Edward Vernon Rickenbacker, Columbus, Ohio. Sebelum bergabung dengan Angkatan darat Amerika tahun 1917, dia adalah seorang pembalap dunia yang terkenal dengan memenangkan beberapa kejuaraan dan mencatatkan dirinya sebagai pemegang rekor kecepatan di darat.
Selama PD I, Rickenbacker bertugas pada Angkatan udara Amerika di di Perancis sebagai perwira pada Aero Pursuit Skuadron ke 94. Dia menjatuhkan 22 pesawat musuh dan empat balon udara mata-mata. Dia menerima beberapa medali di antaranya adalah Distinguished Service Cross, French Croix de Guerre, Congressional Medal of Honor, dan beberapa medali lainnya.
Setelah karir militernya selesai, Rickenbacker bergabung dengan beberapa perusahaan otomotif dan penerbangan. Dia menjadi presiden pada Eastern Air Lines pada 1938 dan menjadi chairman dari tahun 1954 sampai 1963. Suatu saat, Rickenbacker mendapatkan tugas untuk memeriksa pangkalan udara Amerika di lautan Pasifik selama PD II (1939-1945).
Pada misi ini, pesawat Rickenbacker hilang, kehabisan bahan bakar lalu jatuh ke lautan. Dia dan beberapa orang yang masih hidup menghabiskan 3 minggu di rakit penyelamat sebelum di temukan. Dia menuliskan pengalamannya ini dalam buku Seven Came Through (1943). Rickenbacker juga menulis beberapa buku di antaranya adalah Fighting the Flying Circus (1919) dan Rickenbacker: An Autobiography (1967).
Sumber: http://www.forumkami.net
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Indonesia
Proklamasi Gorontalo 23 Januari 1942
Kekalahan Belanda oleh Jepang, pada Perang di Laut Jawa, membuatnya menjadi gelap mata. Gorontalo dibumi hanguskan yang dimulai pada tanggal 28 Desember 1941. Adalah seorang pemuda bernama Nani Wartabone (saat itu berumur 35 tahun) memimpin perjuangan rakyat Gorontalo dengan menangkapi para pejabat Belanda yang masih ada di Gorontalo.
Bergerak dari kampung-kampung di pinggiran kota Gorontalo seperti Suwawa, Kabila dan Tamalate, mereka bergerak mengepung kota Gorontalo. Hingga akhirnya Komandan Detasemen Veld Politie WC Romer dan beberapa kepala jawatan yang ada di Gorontalo menyerah takluk pada pukul 5 subuh.
Dengan sebuah keyakinan yang tinggi, pada pukul 10 pagi Nani Wartabone memimpin langsung upacara pengibaran bendera Merah Putih di halaman Kantor Pos Gorontalo. Dan dihadapan massa yang berkumpul, ia berkata :
“Pada hari ini, tanggal 23 Januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka bebas, lepas dan penjajahan bangsa mana pun juga. Bendera kita yaitu Merah Putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Pemerintahan Belanda sudah diambil oleh Pemerintah Nasional. Agar tetap menjaga keamanan dan ketertiban.”
Selanjutnya Nani Wartabone mengumpulkan rakyat dalam sebuah rapat akbar (layaknya peristiwa lapangan Ikada) di Tanah Lapang Besar Gorontalo untuk menegaskan kembali kemerdekaan yang sudah diproklamasikan.
Namun sayangnya ketika Jepang mendarat di Gorontalo, 26 Februari 1942, Jepang melarang pengibaran bendera Merah Putih dan memaksa rakyat Gorontalo untuk takluk tanpas syarat kepada Jepang.
Kisah Nani Wartabone terlalu panjang untuk diungkapan, walau ia di masa Jepang mengalami patah semangat ketika Jepang tak mau diajak berkompromi hingga akhirnya ia kembali ke kampung halamannya di Suwawa dan hidup sebagai petani.
Saat kekalahan Jepang oleh Sekutu, Jepang bersikap lain. Sang Saka Merah Putih diijinkan berkibar di Gorontalo dan Jepang menyerahkan pemerintahan Gorontalo kepada Nani Wartabone pada tanggal 16 Agustus 1945. Sementara rakyat Gorontalo baru mengetahui telah terjadi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 28 Agustus 1945.
Nani Wartabone memimpin Gorontalo untuk masa-masa kelam berikutnya, menghadapi pasukan Belanda yang membonceng Sekutu. Dalam sebuah perundingan di sebuah kapal perang sekutu pada tanggal 30 November 1945, Belanda menangkap dan menawannya. Ia dibawa ke Manado dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara atas tuduhan makar pada tanggal 23 Januari 1942 yaitu Proklamasi yang dibacakannya.
Namun di waktu yang berjalan, kekalahan sekutu mengubah nasibnya kelak. Ia kembali ke Gorontalo pada tanggal 2 Februari 1950. Nani Wartabone pada tanggal 6 April 1950 menolak RIS dan memilih bergabung dengan NKRI. Untuk beberapa waktu ia dipercaya sebagai kepala pemerintahan di Gorontalo, hingga Penjabat Kepala Daerah Sulawesi Utara, dan anggota DPRD Sulawesi Utara. Selanjutnya ia memilih untuk kembali tinggal dan bertani di desanya di Suwawa.
Tapi itu juga tak berlangsung lama. Letkol Ventje Sumual dan kawan-kawannya memproklamasikan pemerintahan PRRI/PERMESTA di Manado pada bulan Maret 1957. Ia terpanggil kembali untuk melawan. Namun perlawanan tak seimbang, karena pasukan Nani Wartabone kekurangan persenjataan, hingga mereka memilih untuk bergerilya di dalam hutan, sekedar menghindar dari sergapan tentara PRRI/PERMESTA.
Pada bulan Ramadhan 1958 datanglah bantuan pasukan tentara dari Batalyon 512 Brawijaya yang dipimpin oleh Kapten Acub Zaenal dan pasukan dari Detasemen 1 Batalyon 715 Hasanuddin yang dipimpin oleh Kapten Piola Isa. Bersama pasukan-pasukan dari pusat inilah mereka berhasil merebut kembali pemerintahan di Gorontalo dari tangan PRRI/PERMESTA pada pertengahan Juni 1958.
Proklamasi Cirebon 16 Agustus 1945
Kekalahan Jepang tinggal menghitung hari saja, setelah dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Namun karena Jakarta tidak termasuk jalur perang Jepang dengan Sekutu, maka yang terlihat kekuatan bala tentara Jepang masih utuh.
Suasana Jakarta tetap mencekam bagi para kelompok pergerakan. Ada 4 kelompok illegal menurut Maroeto Nitimihardjo yang tampak saat itu, yaitu kelompok Soekarni, Kelompok Sjahrir, Kelompok Mahasiswa dan Kelompk Kaigun.
Kelompok-kelompok itu mendengar Sjahrir meminta Soekarno dan Hatta untuk mempercepat pernyataan Proklamasi sekembalinya Soekarno dan Hatta dari perundingan di Dalat, Saigon dengan Marsekal Terauchi, wakil kaisar Jepang. Namun Soekarno masih menunggu kepastian dari Laksmana Maeda tentang hal kekalahan Jepang tersebut
Hal ini membuat kelompok-kelompok illegal itu marah dikarenakan mereka melihat keraguan Sjahrir selama ini untuk menjalankan kesepakatan bahwa Sjahrirlah yang harus siap memimpin kemerdekaan dikarenakan ia bersih dari pengaruh Jepang. Hingga membuat kelompok-kelompok illegal ini, tidak termasuk Sjahrir bergerak cepat.
Terjadi beberapa pertemuan antara lain di Jalan Cikini Raya 71, di Lembaga Ecykman dan di Laboratorium Mikrobiologi (di samping pasar Cikini). Wikana dan dr. Darwis ditugaskan untuk mendesak langsung Soekarno-Hatta (tanpa perantara Sjahrir) untuk memproklamirkan kemerdekaan yang berujung dengan “penculikan” atau membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Gerak cepat yang tak ragu-ragu ini akhirnya melahirkan sebuah peristiwa di pagi hari di tanggal 17 Agutus 1945 sebagai hari kemerdekaan.
Di waktu yang berjalan cepat dalam ketidak pastian peristiwa, seorang bernama dr.Soedarsono (ayah dari Juwono Soedarsono) datang bertemu Maroeto Nitimihardjo (seperti pengakuannnya di buku berjudul “Ayahku Maroeto Nitimihardjo Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan” karangan Hadidjojo, anak Maroeto) di sebuah ‘pengungsian’ bagi istri dan anaknya yaitu di desa Perapatan, sebelah barat Palimanan, 30 km jauhnya dari Cirebon tempat dr.Soedarsono berasal. Dr.Soedarsono meminta teks Proklamasi yang dibuat Sjahrir yang katanya dititipkan pada Maroeto. Namun Maroeto menyatakan tidak ada.
Hingga dr.Soedarsono menjadi berang dan berkata, “Saya sudah bersepeda 60 kilometer hanya untuk mendengar, Sjahrir tidak berbuat apa-apa. Katakan kepada Sjahrir, saya akan membuat proklamasi di Cirebon.”
Dan akhirnya terkabarlah bahwa Proklamasi itu dibuat dan dibacakan oleh dr.Soedarsono pada pagi hari tanggal 16 Agustus 1945 di alun-alun Cirebon yang dihadiri sekitar 150 orang. Sehari sebelum Soekarno membacakan Proklamasi di penggangsaan Timur 56 Jakarta.
Namun kisah yang dipaparkan Maroeto berbeda dengan kisah yang diungkap oleh Des Alwi, anak angkat Sjahrir. Menurutnya, teks proklamasi yang dibacakan Soedarsono adalah hasil karya Sjahrir dan aktivis gerakan bawah tanah lainnya yang melibatkan Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis. Penyusunan teks dilakukan di Asrama Prapatan Nomor 10, Jakarta, pada 13 Agustus 1945.
Ada sebaris teks proklamasi yang diingat oleh Des Alwi yaitu : “Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tak mau dijajah dengan siapa pun juga.
Proklamasi 17 Agustus 1945
Pagi itu di jalan Pegangsaan Timur, Jakarta, sudah dipenuhi dengan orang-orang yang berharap peristiwa besar akan terjadi. Jumat, 17 Agustus 1945, halaman rumah di jalan Pegangsaan Timur no.56 menjadi tempat berkumpulnya para pemuda. Sebuah tiang menjadi tatapan dan mereka berharap mimpinya akan berkibar di ujung tiang itu.
Seseorang memasuki halaman, lalu menuju ke dalam rumah. Sejenak ia mendapatkan keheningan, waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Lalu ia memasuki sebuah kamar dan mendapatinya sedang tertidur pulas. Pelan-pelan ia mengusap kaki seseorang yang terlihat lelah. Lelaki itu baru pulang pagi tadi dari Rengasdengklok.
Lelaki itu terbangun dan memandangnya. Senyumnya begitu lemah, terucap kata, “pating greges.” Tamu yang disapanya memberikan obat, setelah memeriksa ada panas di tubuh lelaki yang dibangunkannya.
Dialah seorang dokter bernama dr. R. Soeharto, dan lelaki yang mengatakan dirinya tak enak badan itu adalah Soekarno. Lalu atas persetujuan Soekarno, sang dokter memberinya sebuah suntikan chinine-urethan intramusculair. Lalu Soekarno melanjutkan tidurnya sejenak.
Pukul 9.30 pagi, Soekarno terbangun, tubuhnya terlihat lebih sehat. Ketika berjumpa dengan sang dokter, ia meminta agar Hatta segera dipanggil untuk datang.
Dengan berpakaian rapi, mengenakan pakaian serba putih (celana lena putih dan kemeja putih) dengan potongan yang saat itu popular disebut sebagai “kemeja pimpinan” dengan bersaku empat, Soekarno menyambut Hatta dan segera menuju halaman depan rumahnya. Sebuah teks Proklamasi dibacakan.
Inilah sebuah pernyataan kemerdekaan yang sebelumnya di dalam pidatonya Soekarno ada mengatakan “…sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan tanah air di tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib di tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya…”
Puncak perjuangan yang pada akhirnya harus keluar dari mulut Soekarno, sebuah bukti sejarah bahwa ia memang layak mengambil posisi untuk menyatakan itu. Karena sebelum Proklamasi ini terjadi, sebelumnya juga sudah dibacakan dua proklamasi yaitu Proklamasi Gorontalo 23 Januari 1942 dan Proklamasi Cirebon 15 Agustus 1945. Namun kedua Proklamasi ini tidak diakui sebagai buah pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia dalam arti sebagai hari peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Sumber: http://www.forumkami.net
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Indonesia
Kekuatan militer Indonesia adalah salah satu yang terbesar dan terkuat di dunia. Saat itu, bahkan kekuatan Belanda sudah tidak sebanding dengan Indonesia, dan Amerika sangat khawatir dengan perkembangan kekuatan militer kita yang didukung besar-besaran oleh teknologi terbaru Uni Sovyet.
1960, Belanda masih bercokol di Papua. Melihat kekuatan Republik Indonesia yang makin hebat, Belanda yang didukung Barat merancang muslihat untuk membentuk negara boneka yang seakan-akan merdeka, tapi masih dibawah kendali Belanda. Presiden Sukarno segera mengambil tindakan ekstrim, tujuannya, merebut kembali Papua. Sukarno segera mengeluarkan maklumat “Trikora” di Yogyakarta, dan isinya adalah:
1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda.
2. Kibarkan Sang Saka Merah Putih di seluruh Irian Barat.
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.
Berkat kedekatan Indonesia dengan Sovyet, maka Indonesia mendapatkan bantuan besar-besaran kekuatan armada laut dan udara militer termaju di dunia dengan nilai raksasa, US$ 2.5 milyar. Saat itu, kekuatan militer Indonesia menjadi yang terkuat di seluruh belahan bumi selatan. Kekuatan utama Indonesia di saat Trikora itu adalah salah satu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi. Ini adalah KRI Irian, dengan bobot raksasa 16.640 ton dengan awak sebanyak 1270 orang termasuk 60 perwira. Sovyet, tidak pernah sekalipun memberikan kapal sekuat ini pada bangsa lain manapun, kecuali Indonesia. (kapal-kapal terbaru Indonesia sekarang dari kelas Sigma hanya berbobot 1600 ton).
Angkatan udara Indonesia juga menjadi salah satu armada udara paling mematikan di dunia, yang terdiri dari lebih dari 100 pesawat tercanggih saat itu. Armada ini terdiri dari :
1. 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed.
2. 30 pesawat MiG-15.
3. 49 pesawat tempur high-subsonic MiG-17.
4. 10 pesawat supersonic MiG-19.
Pesawat MiG-21 Fishbed adalah salah satu pesawat supersonic tercanggih di dunia, yang telah mampu terbang dengan kecepatan mencapai Mach 2. Pesawat ini bahkan lebih hebat dari pesawat tercanggih Amerika saat itu, pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger. Sementara Belanda masih mengandalkan pesawat-pesawat peninggalan Perang Dunia II seperti P-51 Mustang. Sebagai catatan, kedahsyatan pesawat-pesawat MiG-21 dan MiG-17 di Perang Vietnam sampai mendorong Amerika mendirikan United States Navy Strike Fighter Tactics Instructor, pusat latihan pilot-pilot terbaik yang dikenal dengan nama TOP GUN.
Indonesia juga memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev (Badger A dan B). Ini membuat Indonesia menjadi salah satu dari hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pembom strategis, yaitu Amerika, Rusia, dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi, Surabaya. Bahkan China dan Australia pun belum memiliki pesawat pembom strategis seperti itu. Pembom ini juga dilengkapi berbagai peralatan elektronik canggih dan rudal khusus anti kapal perang AS-1 Kennel, yang daya ledaknya bisa dengan mudah menenggelamkan kapal-kapal tempur Barat.
Indonesia juga memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan kapal tempur kelas Corvette, 9 helikopter terbesar di dunia MI-6, 41 helikopter MI-4, berbagai pesawat pengangkut termasuk pesawat pengangkut berat Antonov An-12B. Total, Indonesia mempunyai 104 unit kapal tempur. Belum lagi ribuan senapan serbu terbaik saat itu dan masih menjadi legendaris sampai saat ini, AK-47.
Ini semua membuat Indonesia menjadi salasahtu kekuatan militer laut dan udara terkuat di dunia. Begitu hebat efeknya, sehingga Amerika di bawah pimpinan John F. Kennedy memaksa Belanda untuk segera keluar dari Papua, dan menyatakan dalam forum PBB bahwa peralihan kekuasaan di Papua, dari Belanda ke Indonesia adalah sesuatu yang bisa diterima.
Sumber: http://www.forumkami.net
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Eropa
Saat tentaranya mulai remuk di dua front terpisah, Stalingrad dan Afrika Utara, Hitler yang frustasi mulai mengalihkan "kegilaannya" dengan memerintahkan para ilmuwan menciptakan senjata perang super. Di antaranya, roket V2 dan jet tempur pertama yang sayangnya terlambat untuk menghentikan datangnya kekalahan.
Yang lainnya, sangat ambisius. Misalnya, ide membuat pesawat mirip piring terbang atau UFO untuk misi mengebom London, Inggris dan New York, Amerika Serikat. Piring terbang tersebut diduga tak hanya sekedar gambar, melainkan sudah berbentuk prototipe dan sudah uji terbang. Insinyur proyek ini, Joseph Andreas Epp, mengatakan, sudah 15 prototipe dibangun. Digambarkan dia, pesawat itu terdiri dari kokpit yang berada di tengah dan dikelilingi sayap berputar mirip baling-baling yang berbentuk lingkaran. Sayap ini memberikan daya angkat bagi pesawat itu.
Setelah lepas landas, baru roket dinyalakan. Program di bawah komando perwira SS, Hans Kammler pada 1944 dikatakan telah membuat terobosan signifikan dalam percobaan anti-gravitasi. Demikian diungkap dalam majalah sains Jerman, PM. Proyek ini awalnya disebut skema Schriever-Habermohl. Rudolf Schriever adalah seorang insinyur dan pilot penguji. Sementara Otto Habermohl adalah insinyur. Proyek ini berbasis di Praha antara 1941 dan 1943.
Majalah tersebut mengutip pengakuan orang-orang yang yakin menjadi saksi mata piring terbang ditandai dengan salib besi khas tentara Jerman terbang rendah di atas Thames pada 1944. Juga kesaksian beberapa tawanan sekutu yang melihat piring terbang keperakan terbang rendah di beberapa kesempatan.
"Ancaman serius juga mengarah ke Amerika," demikian ditulis dalam majalah PM, seperti dimuat Daily Mail. Di masa itu, media New York Times menulis berita tentang 'piring terbang misterius' dan mempublikasikan foto benda aneh yang melintas cepat di atas gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Majalah PM juga mengatakan, Jerman telah menghancurkan dokumen aktivitas mereka. Namun pada 1960 di Kanada, ahli UFO berhasil menciptakan model tiruannya. Dan terbukti, benda itu bisa terbang.
Hal yang sama juga pernah diungkap Igor Witkowski, mantan jurnalis dan sejarawan teknologi militer dan kedirgantaraan Polandia.
Dalam bukunya, 'Prawda O Wunderwaffe' pada tahun 2000, ia mengklaim bahwa Nazi telah menciptakan pesawat berbentuk lonceng. Setelah perang, ilmuwan Jerman banyak membantu program luar angkasa Amerika.
Sumber: http://www.forumkami.net
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Indonesia
Perang ada dan akhirnya dicatat sebagai sebuah peristiwa bersejarah oleh masyarakat. Dengan mata yang tidak berfungsi dengan normal dan jalan yang tertatih-tatih Pak Mahadi masih terkenang dengan kuat masa-masa ketika pertempuran seribu terjadi. Pak Mahadi, kelahiran 20 Februari 1917 yang sehari-hari akrab dipanggil Pak Oyot, mulai menuturkan kisahnya saat ia berusia sekitar 30 th. Saat itu, ia menjadi “komicho” yang dulunya merupakan sistem aparat desa bentukan Jepang atau setingkat RT saat ini.
Pak Mahadi atau biasa disapa Pak Oyot (90), seorang pelaku sejarah pertempuran Pahlawan Seribu di Serpong.
Para laskar rakyat yang datang menyerbu merupakan para laskar yang berasal dari Banten ketika itu. Mereka yang datang dari dari daerah Maja mencapai ribuan orang yang dipimpin oleh seorang Kyai. Ketika itu rakyat yang berjumlah ribuan berhadapan secara langsung dengan para tentara Belanda.
Menurut Pak Oyot, saat itu pihak Belanda mengajak berdamai dengan rakyat yang menyerbu markas karena rakyat yang bersenjata golok dan bambu dipandang sebelah mata oleh pasukan belanda yang bersenjata canggih kala itu. Namun, saat sedang berlangsung pembicaraan ada tentara Belanda yang dibacok. Hingga akhirnya, pertempuran pun meletus. Dengan bermodal keberanian dan senjata genggam rakyat mulai menyerang. Sambil meneriakkan “Allahu Akbar” mereka menghunus golok dan bambu runcing.
Pertempuran yang terjadi pada tanggal 26 Mei 1946 berlangsung selama 12 jam. Korban yang jatuh ketika itu, menurut penuturan Pak Oyot yang juga merupakan salah seorang yang ikut memakamkan mereka ke dalam tiga lobang berjumlah 147. Ia mengatakan dua lubang makam masing-masing diisi 50 jenazah dan yang satunya berjumlah 47 orang. Namun, di tempat berbeda ditemukan 3 jenazah lagi yang kemudian dimakamkan secara terpisah. Bersama dengan rekannya seorang amil desa Cilenggang yang sudah wafat, ia memandikan dan mengubur jenazah-jenazah tersebut ke liang lahat.
Mungkin kini hanya tinggal Pak Oyot yang menjadi saksi hidup peristiwa tersebut. Ketika itu Pak Oyot secara langsung menyaksikan dan memakamkan para jenazah pertempuran tersebut. Selain itu kisah pertempuran dengan tentara Belanda tersebut, ia juga menuturkan pertempuran yang terjadi dengan Jepang di daerah Lengkong. Menurut Pak Oyot, di daerah Lengkong merupakan gudang senjata tentara Jepang. Namun, para taruna yang ketika itu dipimpin oleh Mayor Daan Mogot, mencoba merebut gudang senjata tersebut. Hingga akhirnya meletuslah peristiwa Lengkong. Pada awalnya pasukan Jepang ketika itu tidak mau menyerahkan gudang senjata tersebut. Namun semangat pemuda yang sangat berani akhirnya menguasai gudang senjata tersebut hingga meletuslah peristiwa Lengkong.
Sebelumnya ketika masa pemerintahan Jepang, Pak Oyot mengaku sempat menjadi pekerja paksa di Lengkong sebagai tukang besi di gudang senjata.
Berikut ini adalah kutipan wawancara yang dilakukan oleh reporter SerpongKita.com dengan Pak Mahadi bin Bantoet alias Pak Oyot:
Kapan Anda mengalami masa perjuangan Serpong?
Ketika terjadi peristiwa pertempuran tersebut sekitar bulan mei 1946, saya berusia sekitar 30 thn. Masa pemerintahan ketika itu masih kawedanan dan saat itu merupakan masa transisi kekuasaan Nasional yang diproklamirkan oleh Bung Karno ketika itu.
Saya menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri ribuan orang mendatangi Vedbak (Pos-pos MP) yang ada di PTPN dulu.
Apa yang Anda ketahui tentang peristiwa Pertempuran Seribu yang terjadi ?
Saya menyaksikan dari rumah, ribuan orang berduyun-duyun dengan berjalan kaki menghampiri Vedbak-Vedbak yang ada di kawasan PTPN hingga Stasiun. Dan ada seorang Kyai yang bersorban memimpin pasukan tersebut. Awalnya tidak terjadi keributan karena sebelumnya ada perundingan. Meski, mereka saling berhadapan namun tidak langsung terjadi bentrok. Pihak Belanda meminta para laskar tersebut untuk bubar. Mereka tidak melihat rakyat sebagai seatu ancaman yang berbahaya . Para rakyat yang bersenjata golok, tetap berada di posisinya untuk menyerang. Sementara pasukan Belanda sudah bersiap untuk menembak mereka dari balik pohon bambu yang berada di dataran yang lebih tinggi.
Bagaimana kondisi masyarakat Serpong, ketika itu?
Ketika itu memang masyarakat di daerah Serpong sudah merasa tertekan. Namun sebagian besar dari laskar rakyat yang turun ketika itu merupakan Laskar yang datang dari Banten. Ada beberapa penduduk Desa Kranggan dan Desa Setu yang juga ikut bertempur ketika itu. Dengan modal keberanian dan senjata yang ada, berbagai golongan kelompok dan suku yang ada ketika itu, bersatu menyerang Pos tentara Belanda yang ada di sini.
Siapa saja yang terlibat ketika masa perjuangan Serpong tersebut?
Untuk peristiwa Pahlawan Seribu, titik pertempuran terjadi tepat di kawasan pertigaan Cisauk. TKR belum ada jadi perlawanan yang dilakukan bersifat semangat kedaerahan dan lokal. Pada umumnya laskar atau kelompok perlawanan rakyat yang datang menyerbu Belanda di daerah ini datang dari Banten yang berasal dari daerah Madja, Tejo dan sekitar Rangkas Bitung . Tetapi untuk peristiwa Lengkong yang merupakan perebutan gudang senjata tentara Jepang oleh para taruna Akedemi Militer Tangerang yang dipimpin oleh Mayor Daan Mogot.
Setelah terjadi peristiwa pertempuran Pahlawan Seribu, apa yang Anda terjadi ?
Malamnya, setelah pertempuran yang berlangsung selama satu hari dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam itu, Serpong benar-benar sepi dan sunyi. Warga banyak yang pergi karena ketakutan. Namun, saya dan almarhum Jaro Arsyad mulai mengumpulkan dan mengubur jenazah. Jenazah berjumlah 147. Dan dimakamkan ke dalam tiga liang lahat. Kemudian 3 jenazah dimakamkan terpisah oleh warga.
Setelah keadaan kembali normal, para warga membuat sebuah tugu peringatan yang dibangun secara swadaya. Namun, saya prihatin. Tugu tersebut saat ini kian tertutup diantara para pedagang yang berjajar di pertigaan Cisauk.
Sumber: http://www.forumkami.net
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Indonesia
Dukungan negara-negara Islam di Timur Tengah terhadap kemerdekaan Indonesia tidak saja dilakukan dalam tingkat akar rumput, namun juga dalam dunia diplomasi. Dalam berbagai sidang di Perserikatan Bangsa-Bangsa, terlihat dengan jelas adanya perbedaan sikap antara negeri-negeri Muslim yang mendukung Indonesia dengan negeri-negeri salib yang memandang Indonesia masih bagian dari Belanda.
Wakil-wakil dari Indonesia di sidang PBB, diperbolehkan ikut sidang setelah negeri-negeri Arab mengakui kedaulatan Indonesia, dalam menghadapi serangan pihak Sekutu sering menanggapinya dengan cara diplomatis dan terkesan lunak. Hal ini dikecam keras Muhammad Ali Taher dari Palestina.
“Mengapa kamu masih saja bersikap diplomatis terhadap seseorang yang ingin menghancurkan negeri kamu!” sergahnya mengingatkan wakil dari Indonesia agar tidak takut melawan kezaliman. Di Mesir, sejak diketahui sebuah negeri Muslim bernama Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya dari penjajah kafir, Ikhwanul Muslimin tanpa kenal lelah terus menerus memperlihatkan dukungannya.
Selain menggalang opini umum lewat pemberitaan media, yang memberikan kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia untuk menulis tentang kemerdekaan Indonesia di koran-koran lokal miliknya, berbagai acara tabligh akbar dan demonstrasi pun digelar.
Para pemuda dan pelajar Mesir, juga kepanduan Ikhwan, dengan caranya sendiri berkali-kali mendemo Kedutaan Belanda di Kairo. Tidak hanya dengan slogan dan spanduk, aksi pembakaran, pelemparan batu, dan teriakan-teriakan permusuhan terhadap Belanda kerap dilakukan mereka. Kondisi ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo ketakutan. Mereka dengan tergesa mencopot lambang negaranya dari dinding Kedutaan.
Mereka juga menurunkan bendera merah-putih-biru yang biasa berkibar di puncak gedung, agar tidak mudah dikenali pada demonstran. Kuatnya dukungan rakyat Mesir atas kemerdekaan RI, juga atas desakan dan lobi yang dilakukan para pemimpin Ikhwanul Muslimin, membuat pemerintah Mesir mengakui kedaulatan pemerintah RI atas Indonesia pada 22 Maret 1946.
Inilah pertama kalinya suatu negara asing mengakui kedaulatan RI secara resmi. Dalam kacamata hukum internasional, lengkaplah sudah syarat Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat. Bukan itu saja, secara resmi pemerintah Mesir juga memberikan bantuan lunak kepada pemerintah RI. Sikap Mesir ini memicu tindakan serupa dari negara-negara Timur Tengah. Untuk menghaturkan rasa terima kasih, pemerintah Soekarno mengirim delegasi resmi ke Mesir pada tanggal 7 April 1946. Ini adalah delegasi pemerintah RI pertama yang ke luar negeri. Mesir adalah negara pertama yang disinggahi delegasi tersebut.
Tanggal 26 April 1946 delegasi pemerintah RI kembali tiba di Kairo. Beda dengan kedatangan pertama yang berjalan singkat, yang kedua ini lebih intens. Di Hotel Heliopolis Palace, Kairo, sejumlah pejabat tinggi Mesir dan Dunia Arab mendatangi delegasi RI untuk menyampaikan rasa simpati. Selain pejabat negara, sejumlah pemimpin partai dan organisasi juga hadir.
Termasuk pemimpin Ikhwanul Muslimin Hasan al Banna dan sejumlah tokoh Ikhwan dengan diiringi puluhan pengikutnya. Setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia, diikuti serius oleh setiap Muslim baik di Mesir maupun di Timur Tengah pada umumnya. Para mahasiswa Indonesia yang saat itu tengah berjuang di Mesir dengan jalan diplomasi revolusi, senantiasa menjaga kontak dengan Ikhwan.
Ketika Belanda melancarkan agresi Militer I (21 Juli 1947) atas Indonesia, para mahasiswa Indonesia di Mesir dan aktivis Ikhwan menggalang aksi pemboikotan terhadap kapal-kapal Belanda yang memasuki selat Suez. Walau Mesir terikat perjanjian 1888 yang memberi kebebasan bagi siapa saja untuk bisa lewat terusan Suez, namun keberanian para buruh Ikhwan yang menguasai Suez dan Port Said berhasil memboikot kapal-kapal Belanda.
Pada tanggal 9 Agustus 1947, rombongan kapal Belanda yang dipimpin kapal kapal Volendam tiba di Port Said. Ribuan aktivis Ikhwan yang kebanyakan terdiri dari para buruh pelabuhan, telah berkumpul di pelabuhan utara kota Ismailiyah itu. Puluhan motor boat dan motor kecil sengaja berkeliaran di permukaan air guna menghalangi motor-boat motor-boat kepunyaan perusahaan-perusahaan asing yang ingin menyuplai air minum dan makanan kepada kapal Belanda itu. Motor-boat para ikhwan tersebut sengaja dipasangi bendera merah putih.
Dukungan Ikhwan terhadap kemerdekaan Indonesia bukan sebatas dukungan formalitas, tapi dukungan yang didasari kesamaan iman dan Islam. Walau pemimpin Ikhwan Hasan Al Banna menemui syahid ditembak mati oleh begundal rezim Mesir di siang hari bolong, 12 Februari 1949, dukungan ikhwan terhadap muslim Indonesia tidaklah berakhir. Dakwah tiada kenal kata akhir, hingga Islam membebaskan semua manusia.
Sumber: http://www.forumkami.net













