Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Sepuluh imigran Yahudi menyerang makam Nabi Yusuf di Timur kota Nablus di malam hari pada Rabu di bawah perlindungan dari pasukan pendudukan Israel.
Sebuah sumber keamanan Palestina mengatakan bahwa IOF menginformasikan pihak keamanan Otoritas Palestina (PA) dengan tujuan untuk menerobos masuk kota Nablus tanpa menetapkan sebuah daerah, yang membuat petugas-petugas keamanan Otoritas Palestina menghilang dari jalan-jalan kota seperti yang ditetapkan dalam perjanjian dengan IOF.
Sumber tersebut menambahkan bahwa para imigran memanjatkan ritual-ritual di makam tersebut yang dilaksanakan pada Kamis subuh.
Sementara itu, pasukan IOF pada Kamis subuh masuk ke dalam kota Qabatia di Timur kota Jenin dan menerobos ke dalam rumah dari seorang warga Palestina yang ditangkap dengan menggunakan anjing-anjing.
Saksi mata mengatakan bahwa pasukan tersebut menyita sebuah komputer dari rumah Murad Kamil dan mendatangkan kerusakan di rumahnya. Mereka mencatat bahwa pasukan-pasukan tersebut mengambil foto-foto rumah tersebut dari luar dan menginterogasi anggota keluarganya.
Sementara itu sejumlah sumber local di baldah Kafr Qasim di wilayah Palestina jajahan tahun 1948 menyebutkan bahwa telah berlangsung bentrokan kemarin sore Rabu hingga dini hari Kamis antara warga Palestina dan polisi bersama pasukan Israel setelah terjadi unjuk rasa atas pembongkaran sebuah rumah warga.
Sumber-sumber menambahkan bahwa bentrokan itu menyebabkan lima serdadu Israel luka-luka dan 20 pemuda Palestina ditangkap Israel di baldah tersebut.
Polisi Israel menutup seluruh pintu masuk kota Kafr Qasim. Sejumlah alat-alat militer berat di tempat kejadian untuk membongkar rumah di sana. Pesawat tempur Israel juga menderu-deru di udara tempat kejadian dan memburu warga yang melempar dengan batu dan bom Molotov.
Sumber menambahkan bahwa warga murka karena pasukan Israel membongkar salah satu rumah yang sedang dalam pembangunan. (ppt/pic/ip)
Sumber: http://www.suaramedia.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
Ratusan kontraktor CIA yang terlatih khusus yang bekerjasama erat dengan badan intelijen eksternal India, RAW, dan Mossad Israel di Timur Tengah, Asia, dan Afrika dalam dua dekade terakhir, diam-diam beroperasi di seluruh Pakistan hari-hari belakangan ini, klaim sebuah koran Pakistan.
The Nation mengutip sumber dengan informasi cukup yang mengatakan bahwa di tahun 2010 pemerintahan Obama mengirimkan 400 lebih agen CIA pro-India dan pro-Israel ke Islamabad, Quetta, Peshawar, Lahore, dan Karachi, kota-kota terbesar di Pakistan.
"Sumber-sumber itu meyakini bahwa mata-mata Amerika dengan pola pikir pro-India telah ditugaskan di Quetta untuk mengobarkan militansi di provinsi terbesar namun termiskin Balochistan."
"Sel CIA Foreign Intelligence Estimates (FIE), yang bertanggung jawab untuk melatih, mencuci otak, dan merekrut individu-invidu untuk meluncurkan jaringan intelijen di luar AS, telah memberikan kontrak khusus pada perusahaan-perusahaan keamanan di mana lobi India dan Israel sangat kuat," ujar koran tersebut.
Washington mempekerjakan kontraktor dari perusahaan-perusahaan keamanan swasta seperti LLC, Xe services atau Blackwater, klaim koran itu sembari menambahkan bahwa jutawan terpandang India dan Israel diam-diam mendanai perusahaan-perusahaan semacam itu untuk melakukan operasi rahasia di Timur Tengah, Asia, dan Afrika sesuai kepentingan mereka.
Sumber koran The Nation mengatakan bahwa pemerintah AS telah mengirimkan ratusan agen Cobra ke Pakistan dalam misi mata-mata rahasia setelah lobi India dan Israel di Washington merekomendasikan kepada pemerintahan Obama bahwa "orang-orang ini cukup cocok untuk beroperasi di kawasan Af-Pak."
Koran itu mengklaim lebih jauh bahwa sebagian besar kontraktor CIA adalah agen ganda, di mana satu sisi mereka digunakan jasanya oleh agensi mata-mata Amerika, tapi di sisi lain, mereka adalah personil lobi India dan Israel yang ditugaskan dengan tugas khusus di berbagai kawasan.
Kontrak itu diberikan pada tahun 2008 dan 2009 dan agen mata-mata tiba di Pakistan bulan Juli 2010 setelah perdana menteri memberikan kekuasaan khusus pada Duta Besar Haqqani untuk mengeluarkan semua visa bagi diplomat dan pejabat AS tanpa penyelidikan. Setelah itu, kedutaan Pakistan di Washington mengeluarkan ribuan visa bagi agen-agen AS tanpa persetujuan administratif dari Kementerian Urusan Luar Negeri dan ijin dari badan keamanan.
Pengawasan oleh agen penegak hukum Pakistan terhadap personil-personil AS itu menjadi tugas yang sulit setelah kedatangan mereka di Pakistan, karena tidak ada catatan pasti yang tersedia di Kementerian Urusan Luar Negeri dan Kementerian Dalam Negeri tentang kehadiran personil AS di Pakistan sampai episode Raymond Davis.
"Jelas bahwa mereka (agen CIA) ada di sini untuk melindungi kepentingan majikan mereka. Mereka di sini untuk menjaga kepentingan musuh-musuh Pakistan," ujar koran itu mengutip seorang petinggi intelijen. (rin/nk/df)
Sumber: http://suaramedia.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
,
Perang di Asia
AS pernah dijuluki sebagai setan besar oleh Ayatollah Khomeini. Menilik tren tersebut, tidak terlalu lama lagi AS akan mendapatkan sebutan yang serupa di Pakistan. Sejak AS memutuskan untuk melancarkan serangan mematikan melalui teror pesawat tanpa awak di Pakistan, ada banyak kecaman keras terhadap AS, dan kecaman tersebut semakin meluas.
Letupan amarah terhadap rancangan undang-undang bantuan luar negeri Kerry-Lugar memunculkan masalah tersebut ke permukaan.
Pada saat tancangan undang-undang tersebut dikeluarkan, hal tersebut merupakan penghinaan terhadap kedaulatan nasional, demikian kata seorang komandan korps. Kehormatan nasional Pakistan telah diserang. Tidak peduli apakah yang memberikan adalah satu-satunya negara superpower di dunia. Apapun tujuannya, hal tersebut telah meresahkan masyarakat sipil.
Kekalahan terhadap kekuatan-kekuatan anti-AS menjadi fakta bahwa AS tidak berkewajiban mengucurkan dana $7,5 miliar untuk Pakistan dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Seperti yang dikatakan oleh Senator Kerry, jika Pakistan tidak senang dengan berbagai persyaratan yang menyertai dana bantuan tersebut, mereka tinggal menolak dana tersebut. Ada banyak tempat dimana AS dapat menghabiskan dana tersebut.
Mengenai anti-Amerikanisme, tidak ada keraguan bahwa Al Qaeda dan Taliban berada di garis depan. Namun partai-partai sayap kanan juga tidak terlalu tertinggal di belakang. Dalam sebuah unjuk rasa yang baru-baru ini digelar di Pakistan, pria-pria memegang papan yel-yel yang bertuliskan: "Hancurkan, hancurkan Amerika!".
Sikap anti-AS juga telah mempengaruhi media elektronik. Teori-teori konspirasi yang melibatkan AS banyak dikumandangkan. Bahkan sejumlah tokoh terkemuka turut melakukan hal yang serupa.
Yang terbaru adalah Shamshad Ahmad, seorang mantan menteri luar negeri dan mantan duta besar Pakistan untuk PBB.
Dalam sebuah seminar yang mengangkat tema kedaulatan nasional di Karachi, Ahmad. Dia membahas tiga hal, pertama, AS tidak membantu Pakistan dalam perang dengan India pada tahun 1965. Hal ini mengaburkan fakta bahwa perang tersebut diawali oleh Pakistan dan bahwa persenjataan AS tidak boleh dipergunakan terhadap India.
Yang kedua, hal yang serupa terjadi pada perang Pakistan dengan India pada tahun 1971. Hal ini mengaburkan fakta bahwa peperangan tersebut dipicu oleh ambisi militer untuk menghapuskan hasil pemilihan umum dan meraih kekuasaan absolut.
Yang ketiga, AS mengabaikan Pakistan ketika Uni Soviet mundur dari Afghanistan pada tahun 1989. Hal ini mengaburkan fakta bahwa AS tidak menjamin keamanan Pakistan ketika berhadapan dengan musuh dari seluruh golongan.
Mantan menteri luar negeri Pakistan tersebut berkata: "AS telah memanfaatkan kami sebagai mata-mata di masa lalu demi memenuhi ambisi mereka, saat ini, kami dimanfaatkan sebagai tentara bayaran. Yang memanaskan keadaan di kawasan ini adalah intervensi AS, bukan Rusia."
Sejumlah analis politik mengikuti teori konspirasi mengenai serangan terhadap Pearl Harbour pada tanggal 7 Desember 1941, dan serangan 11 September 2001. Ahmad melakukan hal yang serupa dengan mengatakan bahwa invasi Soviet di Afghanistan pada penghujung tahun 1979 direncanakan oleh AS.
Ahmad mengatakan, "AS memikirkan dan merencanakan hal-hal yang ingin mereka raih dalam waktu 50 atau 60 tahun. Mereka sengaja menciptakan kekosongan di Afghanistan. Jadi, setelah melakukan manuver politik di Afghanistan, AS menciptakan cara untuk menghisap Uni Soviet ke dalam ruang hampa tersebut."
Ia menambahkan, AS membujuk Pakistan untuk berada di pihak mereka dengan mengatakan bahwa Uni Soviet hendak memenuhi ambisi czar untuk mendirikan pelabuhan air hangat. Setelah invasi Soviet, Jenderal Ziaul Haq mengajukan permohonan untuk mendapatkan bantuan Barat, ia mengatakan bahwa ada kekaisaran jahat yang ingin mengambil alih Gwadar. Haq terkenal karena menolak tawaran paket bantuan sebesar $400 juta dari Presiden Jimmy Carter dan menyebutnya sebagai "kacang tanah". Namun ketika Presiden Ronald Reagan menawarkan bantuan sebesar $3,2 miliar, Haq tersenyum lebar.
Ahmad menambahkan bahwa AS memaksa Pakistan untuk memerangi perjuangan di Afghanistan demi memenuhi agenda Perang Dingin AS. "Dan apa yang didapatkan Pakistan? Yang ada hanyalah perkataan bahwa obat terlarang, persenjataan dan amunisi masih mengotori masyarakat kami."
Sebuah teori ultranasionalis yang semakin populer di Pakistan menyebutkan bahwa ada perdamaian di kawasan tersebut hingga AS datang mengacau pada bulan Oktober 2001. Kaum ultranasionalis juga mengemukakan beberapa teori pendorong.
Yang pertama, AS adalah dalang serangan 9/11 yang ditujukan kepada negaranya sendiri, hal itu dilakukan karena AS membutuhkan alasan untuk menyerbu Afghanistan dan mengendalikan akses terhadap gas alam. Yang kedua, bahwa Usama bin Laden tidak berada di balik peristiwa 9/11, ia adalah seorang agen AS yang dilatih dan dipersenjatai oleh CIA dan terbunuh pada bulan Desember 2001. Yang ketiga, kelompok yang bernama Al Qaeda tidak pernah ada. Keempat dan terakhir, Taliban sejatinya merupakan sekelompok orang yang cinta damai dan hanya berusaha membebaskan negara mereka dari belenggu penjajahan asing. (dn/dn)
Sumber: http://suaramedia.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
Rusia mengatakan bahwa pihaknya tidak memiliki rencana untuk membatasi kerjasama militernya dengan Iran, menekankan bahwa Moskow tidak akan membiarkan para pesaingnya untuk mencoba mengambil keuntungan dari situasi saat ini.
Pengumuman tersebut disampaikan satu hari setelah seorang sumber, yang dikutip oleh agen pemberitaan Interfax, mengklaim bahwa pemerintah Rusia masih belum menerima pembayaran karena negara beruang merah tersebut masih belum memberikan persetujuan final mengenai penjualan peluru kendali S-300 kepada Iran.
Akan tetapi, Lembaga Kerjasama Militer dan Pelayanan Federal Rusia, dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa Moskow akan memenuhi komitmennya sejalan dengan kewajiban internasional negara tersebut.
"Rencana Federasi Rusia untuk melanjutkan kerjasama dengan Republik Islam Iran masih sejalan dengan undang-undang yang berlaku serta kewajiban internasionalnya," demikian bunyi pernyataan lembaga tersebut seperti dikutip AFP.
Kepada agen pemberitaan Rusia, sumber tersebut berkata, "Kontrak untuk mengirimkan sistem S-300 ke Iran telah dibekukan untuk jangka waktu yang belum ditentukan karena hal-hal yang terjadi tepat setelah kesepakatan tersebut ditandatangani."
Moskow menandatangani sebuah kontrak dengan Teheran pada tahun 2007 lalu, di dalam kesepakatan tersebut, Rusia akan memasok rudal-rudal S-300 kepada Iran.
Sistem pertahanan darat-ke-udara S-300, yang di dunia barat lebih dikenal dengan sebutan SA-20, mampu melacak target dan menembak sebuah pesawat yang berjarak 120 kilometer (75 mil) jauhnya. Sistem tersebut juga kebal terhadap pengacakan sinyal dan mampu menyerang 100 target secara bersamaan.
Para pejabat Israel dan AS mendesak Rusia agar tidak memberikan pasokan peluru kendali kepada Iran. AS dan Israel mencurigai bahwa Teheran memiliki tujuan militer dalam program pengayaan nuklirnya.
Akan tetapi, Iran mengatakan bahwa satu-satunya tujuan yang ingin diraih dalam program nuklir tersebut adalah penerapan energi sipil. Iran menambahkan bahwa pihaknya tidak berencana untuk menggunakan peluru kendali sebagai senjata karena mengganggapnya telah usang.
Seorang pejabat industri pertahanan Rusia pada hari Rabu mengatakan bahwa Rusia akan menderita kerugian yang signifikan jika sampai memutuskan untuk membatalkan kontrak S-300.
Sebelumnya, analis militer Konstantin Makiyenko mengatakan bahwa jika Rusia membatalkan kontrak S-300, maka Rusia akan menderita kerugian sebanyak $1 miliar, masih ditambah lagi dengan denda yang besarnya bekisar antara $300 hingga $400 juta.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada hari Senin (30/5), Rusia mengatakan bahwa pihaknya tidak ingin dipandang oleh Iran sebagai rekanan yang tidak dapat diandalkan.
"Kami tidak bisa memberikan komentar seputar rencana kongkrit atau kewajiban yang ada kaitannya dengan kontrak yang masih berlaku karena hal itu hanya akan membuat kami menjadi rekanan yang tidak dapat diandalkan (dan) memberikan peluang kepada para pesaing untuk mengambil keuntungan atas keadaan saat ini," pungkas lembaga layanan militer tersebut.
Pernyataan tersebut berpotensi untuk menyulut kegelisahan Barat seputar kerjasama yang dijalin Rusia dengan Iran. Sejauh ini, Rusia selalu menolak untuk membahas penjatuhan sanksi yang lebih keras terhadap Teheran, yang dituding Barat tengah berupaya memperoleh senjata nuklir.
Mengutip pernyataan para pejabat keamanan senior, media Iran melaporkan bahwa Rusia telah memulai proses pengiriman elemen-elemen dari peluru kendali S-300, sesuai dengan kontrak yang disepakati pada tahun 2005 lalu. Namun industri persenjataan Rusia langsung menampik pemberitaan tersebut.
Versi terbaru dari varian S-300 adalah S-300PMU2 Favorit, yang mampu menjangkau jarak sejauh 195 kilometer (sekitar 120 mil) dan mampu menyerang pesawat udara dan peluru kendali balistik pada ketinggian 10 meter hingga 27 kilometer dari atas permukaan tanah.
S-300 dianggap sebagai salah satu sistem pertahanan udara yang paling efektif dan mampu menjangkau berbagai tingkat ketinggian. S-300 jauh lebih superior jika dibandingkan dengan sistem MIM-104 Patriot rancangan AS. (dn/pv/af/ri)
Sumber: http://suaramedia.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
Tidak seperti MI5 di Inggris, dinas intelijen Rusia, KGB, tidak memiliki batasan dalam hal pertumbuhan. Oleh karena itu KGB mencoba mmbanjiri Britania Raya dengan gerombolan mata-mata, demikian disampaikan oleh mantan anggota MI5 sekaligus penulis sejarah bagi organisasi tersebut, Christopher Andrew.
Dalam kurun waktu satu abad terakhir, agen intelijen MI5 dari Inggris telah mengalami dua periode Perang Dunia, Perang Dingin dan peperangan melawan terorisme – semuanya dilakukan dengan serahasia mungkin.
Kini, hanya 3,5% dari sumber daya MI5 yang dikerahkan untuk kegiatan kontra-spionase. Sementara sebagian besar sumber daya lainnya dipergunakan untuk kegiatan kontra-terorisme," demikian kata Christopher Andrew.
"Pada awal terjadinya Perang Dingin, Cambridge menghasilkan agen-agen rahasia terbaik. MI5 tidak mampu melakukan yang terbaik dalam melacak adanya jaringan Cambridge Five (jaringan mata-mata yang bekerja untuk Uni Soviet), sebagian besar karena sang pembelot yang bernama Anatoly Golitsyn, yang membelot pada awal tahun 1960an kepada CIA, memiliki pengetahuan intelijen yang memadai, namun ia terus melakukan pemalsuan (termasuk Cambridge Five)," katanya.
Hingga tahun 1982, MI5 tidak menyadari bahwa John Cairncross adalah anggota kelima dari jaringan mata-mata tersebut.
"KGB (kala itu) benar-benar besar. Sama sekali tidak pernah ada pemaksaan dalam jumlah pertumbuhannya. Dibandingkan dengan KGB, MI5 hanyalah sebuah serpihan kecil. Jadi, metode paling mudah yang dapat dipergunakan KGB untuk mengatasi MI5 adalah dengan cara membanjiri London dengan para anggota dinas intelijen KGB dan intelijen militer (GRU), yang mampu menggerakkan lebih banyak agen jika dibandingkan dengan kemampuan MI5 untuk melacaknya," ungkap Andrew.
"Pada akhirnya, pemerintah Inggris pada tahun 1971 memulangkan 105 orang agen intelijen ke Soviet. Tidak ada negara lain di dunia Barat, termasuk AS, yang mampu mendekati angka tersebut. Namun, Inggris berubah status menjadi target utama bagi intelijen Rusia, hal itu terus berlangsung hingga berakhirnya Perang Dingin."
Christopher Andrew mengakui bahwa pada tahun 1960an, sejumlah anggota parlemen Inggris bekerja untuk KGB atau intelijen Cekoslovakia, yang kala itu masih menjadi bagian dari blok Soviet, meski mereka tidak memiliki peranan yang signifikan dalam kabinet Inggris.
"Jika (sang pembelot Rusia) Oleh Penkovsky tida membocorkan informasi mengenai pembangunan pangkalan misil Soviet kepada Barat, maka AS tidak akan mampu mengetahui mengenai beroperasinya pangkalan-pangkalan dalam krisis misil Kuba," tambahnya.
Christopher Andrew juga menyebutkan bahwa MI5 tidak pernah menyiksa para tersangka teror karena hal itu adalah kesalahan besar, karena seorang yang mengalami penyiksaan bisa mengatakan apapun yang bertentangan dengan dirinya.
Dalam periode tujuh tahun, Christopher Andrew memiliki akses yang fenomenal dan tidak terbatas terhadap 400.000 arsip MI5. Baru-baru ini, dia juga telah menerbitkan sebuah buku untuk menandai peringatan ke 100 dari lembaga yang berdiri pada tahun 1909 (5 tahun sebelum Perang Dunia I) yang membahas mengenai permasalahan keamanan Britania Raya.
Pemimpin serikat dagang Inggris, Jack Jones, sempat dianggap sebagai salah satu agen rahasia KGB, seperti yang disebutkan dalam sejarah resmi MI5.
Dalam buku bertajuk "Defence of the Realm", disebutkan bahwa Jones hanya mengirimkan dokumen-dokumen Partai Buruh, bukan rahasia negara, dan terakhir kali menerima bayaran dari Rusia pada tahun 1984.
Jones, yang meninggal pada awal tahun ini, selalu menyangkal bahwa dirinya bekerja untuk KGB. Buku tersebut juga menyatakan bahwa intelijen Inggris tidak akan mampu mengatasi besarnya jumlah mata-mata Soviet di Inggris pada Perang Dingin.
Jack Jones menjabat sebagai kepala Serikat Umum Pekerja dan Transportasi mulai tahun 1969 hingga 1978. Dia juga merupakan veteran Perang Sipil Spanyol.
Buku tersebut mengungkapkan bahwa pada tahun 1985, kepala MI5 mengatakan kepada sekretaris kabinet bahwa dirinya telah menerima uang dari sang agen penguhubung satu tahun sebelumnya.
Agen penghubung tersebut adalah Oleg Gordievsky, yang bekerja untuk intelijen Inggris. Gordievsky sebelumnya mengklaim bahwa Jones telah menerima uang tersebut,
Buku tersebut ditulis oleh Profesor Christopher Andrew, yang mengatakan bahwa dirinya memiliki akses terhadap arsip MI5.
Namun, meski Profesor Andrew mendapatkan akses terhadap 400.000 berkas MI5 sejak dinas intelijen tersebut didirikan pada tahun 1909, MI5 tetap membatasi apa saja yang boleh diterbitkan.
Profesor Andrew mengatakan bahwa dirinya berterima kasih kepada MI5 karena telah memberikan akses terhadap berkas-berkas yang dipergunakannya dalam menyusun buku sejarah tersebut.
Dia berkata: "Pertama-tama, saya berterima kasih kepada MI5. Lembaga intelijen pertama dalam sejarah yang membiarkan seorang sejarawan dari kalangan luar untuk mengakses arsipnya."
Dalam program Radio 4, dia berkata: "Jika Anda tidak memperkenankan sejarah Anda untuk dituliskan, maka bukan hanya ada kekosongan dalam catatan sejarah, hal itu juga akan mengarah kepada munculnya teori konspirasi." (dn/rt/bc)
Sumber: http://suaramedia.com
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
Sebuah organisasi keamanan milik Rusia, yang banyak dipandang sebagai kekuatan tandingan NATO, telah mengajukan peningkatan kemampuan lembaga tersebut, menyuarakan kekhawatiran mengeenai situasi di Afghanistan.
Nikolay Bordyuzha, Sekretaris Jenderal dari Collective Security Treaty Organization (CSTO), yang terdiri dari Rusia ditambah dengan enam negara bekas pecahan Soviet, mengatakan: Kami telah sejak lama membicarakan mengenai pentingnya menciptakan sebuah kelompok besar di kawasan Asia Tengah.
"Kami memiliki satuan reaksi cepat (KSOR) dan satuan penerjunan cepat (KSBR) di sana, yang ditujukan untuk menangani konflik lokal bersenjata. Namun bagaimana jika seandainya kami harus berhadapan dengan perang akbar?"
"Jika hal itu benar-benar terjadi, maka kami akan membutuhkan pasukan dalam jumlah yang besar," tambahnya.
"Situasi di Afghanistan, yang berbatasan dengan zona kekuasaan CSTO dan para anggota organisasi kami, adalah wilayah yang amat genting dan berbahaya."
Para analis meyakini bahwa badan tersebut pada awalnya dibentuk untuk mengimbangi semakin meningkatnya pengaruh dari aliansi Barat serta kemungkinan (NATO) untuk melakukan ekspansi di perbatasan wilayah Rusia yang menghubungkan Rusia, Armenia, Belaqrusia, Kazakhstan, Kyrgistan, Tajkistan, dan Uzbekistan.
Para kontingen CSTO saat ini terlibat dalam sebuah latihan militer skala besar di sebelah selatan Kazakhstan, dimana mereka melakukan latihan untuk mengatasi "ancaman terorisme" dengan mempergunakan pengeboman udara ditambah dengan batalion tank.
CSTO memulai latihan militer selama dua minggu di lokasi latihan Matybulak, Kazakhstan, pada tanggal 2 Oktober, dengan lebih dari 7.000 orang personil gabungan dari Kazakhstan, Kyrgistan, Rusia, dan Tajkistan yang ambil bagian dalam latihan tersebut.
Kementerian Luar Negeri Kazakhstan sebelumnya mengatakan bahwa presiden Kyrgiztan, Tajkistan dan Armenia telah mengkonfirmasikan kesiapan masing-masing untuk menghadiri fase puncak dari latihan tersebut bersama dengan Presiden Dmitry Medvedev dari Rusia.
Menghadiri latihan militer tersebut, Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, berkata: "Aliansi ini dibentuk dalam waktu yang cukup singkat, dan hal itu harus tetap dijaga di masa mendatang."
Menurut sekretariat CSTO, latihan tersebut ditujukan untuk melatih pengiriman pasukan dalam situasi-situasi krisis di wilayah negara-negara anggotanya.
Perkembangan tersebut dilakukan seiring dengan aktivitas skala besar dari militer NATO di Afghanistan, dimana Barat telah menerjunkan lebih dari 100.000 orang prajurit, namun masih belum mampu mengatasi kekerasan yang terjadi.
Operasi militer tersebut juga terus memakan korban dari kalangan sipil sejak bulan Agustus silam, ketika sebuah laporan PBB menunjukkan angka kematian warga sipil sebanyak 1.500 orang sejak permulaan tahun ini.
Dalam strategi keamanan Rusia yang berlaku hingga tahun 2020, dan baru-baru ini disetujui oleh Medvedev, CSTO dianggap sebagai sebuah mekanisme kunci untuk menangkal segala bentuk tantangan dan ancaman militer regional.
Bulan lalu, Perwakilan Rusia untuk NATO, Dmitry Rogozin, menyerukan kepada NATO untuk mengakui keberadaan CSTO. Menurutnya, adalah sebuah hal yang konyol jika NATO mengabaikan keberadaan CSTO.
"Ini adalah sebuah sikap yang konyol dan tidak serius. NATO menyadari bahwa CSTO mempersiapkan program-program untuk memastikan keamanan di Asia Tengah. Saya berharap bahwa CSTO dan NATO akan segera menandatangani kesepakatan dan kerjasama. Rusia menginginkan tercapainya kesepakatan semacam itu," katanya.
Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen, sebelumnya mengatakan bahwa NATO menjalin hubungan dengan negara-negara anggota CSTO dan para perwakilan CSTO diundangn untuk menghadiri pertemuan Rusia - NATO di Brussels.
"Namun tidak ada konsensus dalam tubuh NATO untuk meresmikan hubungan antara kedua organisasi," katanya. (dn/pv/ri/ea)
Sumber: http://suaramedia.com










