Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
II. Perjalanan Theseus ke Athena
Theseus dibesarkan di Troizenos dengan bimbingan ibunya, Aithra. Sejak dari kecil, keberanian dan kekuatan putra Poseidon itu sudah melebihi anak-anak seusianya. Ayah Aithra, Pittheus juga mengajari Theseus kecil dengan kesusastraan, ilmu alam, seni dan latihan atletik sehingga Theseus tumbuh menjadi anak muda yang kuat dan cerdas.
Peta Yunani Selatan: Lokasi Troezen (Troizenos) dan Athena
Saat Theseus berumur enam belas tahun, Aithra membawanya ke sebuah batu besar, tempat dimana dulu Aegeus mengubur pedang dan sendalnya, yang harus Thesesus bawa ke Athena sebagai bukti ia adalah putra Aegeus. Theseus berhasil menggeser batu besar yang berat itu dengan mudah dan menemukan pedang dan sandal milik Aegeus. Aithra mengusap air matanya yang menetes, inilah saat dimana ia harus melepaskan putra satu-satunya itu.
Di zaman itu, jalan darat anatara Troizenos dan Athena sangat berbahaya karena dihuni banyak perampok yang tak segan-segan menghabisi siapapun yang melewati jalan itu. Pittheus menyarankan agar Theseus pergi ke Athena melalui laut tetapi ditolak oleh Theseus yang bersikeras lewat jalan darat. Setelah berpamitan dengan ibunya dan kakeknya, Theseus berangkat menuju Athena dengan berjalan kaki sambil membawa pedang Aegeus.
Saat Theseus akan memasuki kota Epidaurus, ia bertemu dengan bandit bernama Periphetes. Ia dijuluki Si Penggodam karena ia menggunakan sebuah gada besar yang terbuat dari perunggu untuk menghabisi setiap pejalan kaki yang melintasi tempat tersebut. Tetapi ketika Periphetes menyerang Theseus, pemuda itu menghindar dan dengan cepat merebut gada dari tangan bandit itu. Cukup sekali hantaman yang cukup keras dari Theseus dan Periphetes tergeletak tak bernyawa lagi.
Ketika Theseus sampai di Korinthos, ia melewati jalan melalui hutan pinus dan disana ia bertemu seorang bandit bernama Sinis yang dijuluki Penekuk Pinus. Siapapun yang lewat hutan itu akan ditangkap dan kedua tangan serta kakinya akan diikat ke dua pohon yang berbeda. Ia kemudian menekuk kedua pohon itu dengan kekuatan ototnya dan dengan cepat melepaskannya sehingga tubuh korbannya akan terlontar dan robek menjadi dua. Theseus yang mengetahui cara Sinis membunuh korban-korbannya merebut tali dari pinggang Sinis, memegangnya kuat-kuat sambil menekuk dua pohon dan mengikat tangan dan kaki bandit kejam itu. Dengan cepat, Theseus melepaskan kedua pohon itu bersamaan dan Sinis mati dengan cara yang sama seperti korban-korbannya.
Di sebuah desa bernama Kromium, Theseus mendapat laporan dari penduduk setempat bahwa seekor babi hutan luar telah menghancurkan ladang dan seluruh isinya. Babi hutan ini bukanlah babi hutan biasa, tetapi anak dari Typhon dan Ekhidna yang mengerikan. Thesus berhasil membunuh babi hutan itu dan seluruh penduduk desa berterimakasih kepadanya.
Theseus kembali melanjutkan perjalanan dan ia sampai di sebuah tempat yang disebut Jalur Berbahaya atau Tebing Skiron. Tempat ini di zaman itu sangat berbahaya karena hanya jalan setapak yang dipahat di tebing batu gunung dan dibawahnya jurang terjal yang langsung mengarah ke laut. Di tempat sempit itu berdiam Skiron, bandit yang memaksa siapapun yang lewat untuk duduk dan membasuh kaki bandit itu dengan punggung menghadap ke jurang. Setelah si korban membasuh kaki Skiron, maka penjahat kejam ini akan menendangnya jatuh ke laut dimana seekor kura-kura raksasa telah menunggu untuk menelan mangsanya. Theseus yang berpura-pura akan membasuh kaki Skiron, mencengkeram kaki bandit itu demikian kuat dan melemparkannya ke jurang. Kura-kura raksasa di bawah jurang telah menunggu dan menelan Skiron dengan lahap.
Sebelum memasuki kota Eleusis, Theseus berhadapan dengan pegulat tangguh bernama Kerkion yang tak terkalahkan. Begitu hebatnya Kerkion, sampai-sampai semua lawannya menemui ajal di tangannya. Tetapi kali ini lawannya adalah Theseus, putra Poseidon, yang begitu kuat dan berani. Ia melemparkan tubuh Kerkion ke udara dan membantingnya ke tanah hingga mati.
Setelah melewati Eleusis, Theseus mendaki gunung Aegaleo dan menuju Koridalos, tak jauh dari Athena. Di tempat ini Theseus bertemu bandit terakhir bernama Prokrustes yang memaksa setiap pejalan kaki untuk berbaring sebentar di dua ranjangnya, yang satu besar dan yang lainnya kecil. Untuk orang yang tubuhnya besar, Prokrustes akan membaringkannya di ranjang yang kecil, mengikat badannya dan akan memotong bagian tubuh si korban yang melebihi ranjangnya dengan gergaji. Bila yang datang orang yang bertubuh kecil, Prokrustes akan mengikatnya di ranjang yang besar dan menarik kaki-kaki si korban dengan seluruh tenaga sampai korbannya mati kesakitan. Theseus tidak membuang-buang waktu menghadapi bandit bertubuh tinggi besar ini, ia menaklukkannya, mengikatnya di ranjang yang kecil dan melakukan hal yang sama seperti Prokrustes menghabisi korban-korbannya.
Setelah tindakan Theseus itu, jalan darat antara Troizenos dan Athena bebas dari para perampok sehingga pejalan kaki yang melewati jalan itu tidak khawatir dan bisa bepergian dengan aman. Inilah salah satu jasa sang pahlawan Theseus. Tak lama Theseus berjalan, ia melihat Akropolis dengan kuil Athenanya yang rupawan berdiri dengan megah di puncaknya. Kota Athena sudah dekat dan Theseus mempercepat langkahnya.
Bersambung...
Sumber: http://achilles79.multiply.com/
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
I. Kelahiran Theseus
Aegeus, keturunan raja pertama Athena, sudah bertahun-tahun menikah tetapi masih belum memiliki keturunan. Khawatir takhtanya akan direbut oleh saudara-saudaranya bila tidak ada pewaris, ia kemudian pergi ke Delphi untuk bertanya kepada orakel dan jawaban pendeta Apollo adalah:
“Penguasa manusia, jangan membuka kantung anggurmu sebelum engkau mencapai tempat tinggi di Athena”
Theseus dan Minotauros
Karena tidak mengerti maksud kata-kata orakel, Aegeus memutuskan untuk menemui Medea, tukang sihir yang telah dibawa oleh Iason (Jason) dari Kaukasus beberapa tahun lalu. Karena bersalah melakukan perbuatan keji, Medea diasingkan dan sekarang tinggal di sebuah gubuk reot di luar kota Korinthos.
Walaupun Medea adalah penyihir dan peramal paling hebat di dunia, tetapi ia tidak mampu mencerna makna kata-kata itu, yang ia tahu adalah Aegeus tidak akan bisa melahirkan keturunan. Maka Medea berkata, “Aku dapat memberimu keturunan tetapi melalui sihir. Sebagai imbalannya jadikanlah aku istrimu dan ratu Athena.”
Aegeus menyanggupinya dan Medea berpesan agar Aegeus pulang sendirian dan harus melewati kota Troizenos (Troezen). Medea akan menyusulnya ke Athena setelah ia mengerjakan mantra-mantra sihirnya.
Awalnya Aegeus ragu-ragu akan maksud Medea tetapi ia berpikir seandainya ia memilih pulang lewat Troizenos, ia bisa bertanya maksud orakel pada Pittheus, putra Pelops, manusia paling bijak yang pernah lahir di dunia.
Di Troizenos, Pittheus menyambut Aegeus dengan hangat dan setelah merenungkan kata-kata orakel dengan cermat, ia mendapatkan maknanya: Aegeus akan dikaruniai pewaris takhta yang akan menjadi pahlawan Athena dan namanya akan dikenang sepanjang sejarah.
Tetapi di balik itu Pittheus mempunyai maksud tersembunyi: putri tunggalnya, Aithra, sewaktu kecil pernah dijanjikan akan dinikahkan dengan Bellerophon. Tetapi sebelum pernikahan berlangsung Bellerophon pergi ke Lykia dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Menurut adat Yunani pada zaman itu, seorang gadis yang telah dijanjikan untuk dinikahkan dengan seorang laki-laki tidak boleh menikahi laki-laki lain.
Walaupun Aithra tidak pernah menikah tetapi setidaknya ia bisa memiliki keturunan dan keturunannya adalah pahlawan Yunani seperti yang dikatakan orakel, pikir Pittheus. Ia lalu mengajak Aegeus untuk minum anggur sampai mabuk hingga akhirnya Aegeus melewatkan malam di kamar Aithra.
Keesokan harinya, Aegeus mendapati dirinya berada di kamar Aithra dan karena ia yakin Aithra akan mengandung anaknya, ia lalu menaruh pedang dan sandal miliknya di bawah sebongkah batu besar. Sebelum pulang, ia berpesan pada Aithra bila anaknya sudah cukup dewasa, ia harus mengangkat batu besar itu, mengambil pedang dan sandal didalamnya serta pergi ke Athena untuk menemui Aegeus. Pedang dan sandal itu adalah bukti bahwa orang yang membawanya kelak adalah putra Aegeus.
Benarkah anak yang dikandung Aithra benar-benar darah daging Aegeus? Bukankah Aegeus telah divonis mandul dan tidak mempunyai anak?
Yang tidak diketahui oleh Aegeus, bahwa malam itu juga Athena mendatangi Aithra dalam mimpi dan menyuruhnya pergi ke Sphairia, pulau di lepas pantai Attika. Aithra menuruti kata-kata sang dewi dan disana telah menunggu Poseidon yang kemudian membawanya ke dalam sebuah gua untuk bercinta dengan Aithra. Dan sihir Medea kemudian bekerja: Aegeus memang tidak akan pernah bisa memiliki anak, tetapi penerus takhta Athena telah ditakdirkan akan lahir. Sembilan bulan kemudian di dalam gua itu, Aithra melahirkan seorang anak laki-laki, putra Poseidon, yang diberi nama Theseus.
Bersambung...
Sumber: http://achilles79.multiply.com/
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Perang di Asia
Perang Bar Kokhba (132-135 M) melawan Kekaisaran Romawi, yang juga dikenal sebagai Perang Yahudi-Romawi Kedua atau Pemberontakan Kedua Yahudi (dari tiga Perang Yahudi-Romawi), adalah pemberontakan besar kedua oleh orang-orang Yahudi dari Iudaea. Sumber-sumber lain menyebutnya Revolusi Ketiga, karena dihitung pula kerusuhan-kerusuhan 115-117, Perang Kitos, yang ditindas oleh Jenderal Quintus Lucius Quietus yang memerintah provinsi ini pada waktu itu.
Pengusiran orang-orang Yahudi dari Yerusalem
pada masa pemerintahan Hadrianus. Sebuah
bentuk miniatur dari manuskrip abad ke-15
"Histoire des Empereurs"
Latar Belakang
Setelah penghancuran Yerusalem pada 70 M sebagai akibat dari gagalnya Perang Besar Yahudi, Sanhedrin di Yavne memberikan bimbingan rohani bagi bangsa Yahudi, baik di Yudea maupun di seluruh diaspora. Penguasa Romawi mengambil langkah-langkah untuk mengawasi provinsi yang suka memberontak itu. Bukannya menempatkan seorang prokurator, mereka menempatkan seorang praetor sebagai gubernur serta menempatkan pula satu legiun penuh, X Fretensis.
Pada 130 M, Kaisar Hadrianus mengunjungi reruntuhan Yerusalem. Kaisar yang mulanya bersimpati terhadap orang-orang Yahudi itu, menjanjikan untuk membangun kembali kota itu, namun orang-orang Yahudi merasa dikhianati ketika mereka mengetahui bahwa ia bermaksud membangun kembali kota paling suci orang Yahudi ini sebagai sebuah metropolis kafir, dan sebuah kuil kafir yang baru yang akan dibangun di atas Bait Allah Kedua akan dipersembahkan kepada dewa Yupiter.
Satu legiun tambahan, VI Ferrata, ditempatkan di provinsi itu untuk memelihara ketertiban dan pekerjaan yang dilakukan pada 131 M, setelah gubernur Yudea Tineius Rufus melakukan upacara peletakan batu pertama Aelia Capitolina, nama baru yang direncanakan untuk kota itu. "Menggangsir Bait Allah" adalah sebuah pelanggaran keagamaan yang membuat banyak orang Yahudi melakukan perlawanan terhadap penguasa Romawi. Ketegangan-ketegangan semakin meningkat ketika Hadrianus melarang sunat (brit milah), yang olehnya, seorang Helenis fanatik, dipandang sebagai mutilasi. Sebuah mata uang Romawi yang bertulisan Aelia Capitolina dikeluarkan pada 132 M.
Pemberontakan
Rabi Akiva, seorang guru bijaksana Yahudi meyakinkan pihak Sanhedrin untuk mendukung pemberontakan yang direncanakan, dan menganggap pemimpin yang terpilih Simon Bar Kokhba sebagai Mesias Yahudi, menurut ayat dari Kitab Bilangan 24:17: "bintang terbit dari Yakub". Bar Kokhba (dalam bahasa Aram berarti "Putra Bintang".
Pada saat itu, agama Kristen masih merupakan sebuah sekte kecil dari Yudaisme, dan kebanyakan sejarahwan percaya bahwa klaim mesianik yang diberikan kepada Bar Kokhba inilah yang mengalienasikan banyak orang Kristen (yang percaya bahwa mesias sejati adalah Yesus), dan dengan tajam memperdalam skisma antara Yudaisme dengan orang Kristen-Yahudi. Komunitas Kristen di Yerusalem segera meninggalkan kota itu pada hari menjelang pengepungan Yerusalem pada 70 M.
Para pemimpin mesianik Yahudi dengan cermat merencanakan pemberontakan kedua untuk menghindari berbagaikesalahan yang telah melanda Pemberontakan Besar Yahudi enam puluh tahun sebelumnya. Pada 132 M., pemberontakan Bar Kokhba dengan cepat menyebar dari Modi'in di seberang wilayah itu, dan memotong pasukan-pasukan pengawal Romawi di Yerusalem.
"Era Penebusan Israel"
Sebuah negara Yahudi yang berdaulat dipulihkan selama dua setengah tahun sesudah itu. Administrasi sipil yang fungsional dipimpin oleh Simon Bar Kokhba, yang mengambil gelar Nasi Israel (penguasa atau pangeran Israel). "Era penebusan Israel" diumumkan, kontrak-kontrak ditandatangani dan mata uang dicetak dengan tulisan yang sesuai (sebagian dicetak di atas mata uang perak Romawi).
Tetradrakhma Bar Kokhba. Depan: Bait Allah dengan bintang yang terbit. Belakang: teksnya berbunyi: "Tahun pertama penebusan Israel"
Rabi Akiba memimpin Sanhedrin. Ritual keagamaan dirayakan dan korbanot (penyerahan kurban) dilakukan kembali di altar. Sejumlah upaya dilakukan untuk memulihkan Bait Allah di Yerusalem.
Reaksi Romawi
Pemberontakan ini mengejutkan orang-orang Romawi. Hadrianus memanggil jenderalnya Sextus Julius Severus dari Britania, dan pasukan-pasukan dipanggil bahkan dari tempat-tempat yang jauh seperti Danube. Besarnya pasukan Romawi yang dikerahkan untuk menghadapi kaum pemberontak ini lebih besar daripada yang dipimpin oleh Titus Flavius enam puluh tahun sebelumnya, nanum korban yang jatuh di pihak Romawi begitu hebat sehingga laporan para jenderal kepada Senat Romawi menghilangkan rumusan yang lazim "Aku dan pasukanku sehat wal-afiat."
Perjuangan ini berlangsung selama tiga tahun hingga akhirnya dihancurkan pada musim panas tahun 135. Setelah kehilangan Yerusalem, Bar Kokhba dan sisa-sisa pasukannya mengundurkan diri ke benteng Betar, yang kemudian juga dikepung. Sejumlah pemberontak terbunuh di sana, sementara yang lain-lainnya menghilang di gua-gua yang berhadapan dengan Laut Mati.
Akibat Perang dan Awal Diaspora Yahudi yang Lainnya
Menurut Cassius Dio, 580.000 orang Yahudi terbunuh, 50 kota benteng dan 985 diratakan dengan tanah. Hadrianus berusaha membongkar habis Yudaisme, yang dipandangnya sebagai penyebab pemerontakan yang terus-menerus. Ia melarang hukum Torah, kalender Yahudi dan menghukum mati para ahli Yudaik. Gulungan suci dibakar dalam sebuah upacara di Gunung Bait Allah. Di bekas tempat kudus Bait Allah, ia menempatkan dua buah patung: satu dari Yupiter, dan satu lagi patung dirinya sendiri. Untuk menghapuskan setiap ingatan tentang Yudea, ia menghapus nama itu dari peta dan menggantinya dengan nama Syria Palaestina, sebagai suatu peringatan yang menghina bagi orang-orang Yahudi akan musuhnya di zaman kuno, orang-orang Filistin, yang saat itu sudah lama musnah. Ia membangun kembali Yerusalem sebagai sebuah polis Romawi yang bernama Aelia Capitolina, dan orang-orang Yahudi dilarang memasukinya. Belakangan mereka diizinkan meratapi kekalahan mereka yang memalukan setahun sekali pada Tisha B'Av (lihat Tembok Barat, atau 'Tembok Ratapan'). Orang Yahudi tetap tersebar selama hampir dua ribu tahun. Setelah diusirnya orang-orang Yahudi dari Spanyol pada 1492 sebagai akibat dari Inkuisisi Spanyol (juga pada Tisha B'Av), Kerajaan Ottoman yang sedang bangkit menyambut orang-orang Yahudi, dan bersama penaklukannya ke wilayah-wilayah di sekitar Palestina pada 1517, Kerajaan itu, (di bawah Suleiman) mulai mengizinkan orang Yahudi dalam jumlah yang terus bertambah untuk kembali ke 'Palestina'. Orang-orang Yahudi membangun kembali Negara Israel pada 1948. Betar menjadi lambang perlawanan Yahudi.
Para sejarahwan Yahudi modern kini menganggap Perang Bar Kokhba sebagai peristiwa sejarah yang menentukan. Kehancuran hebat dan kematian yang diakibatkan oleh pemberontakan ini telah membuat banyak ahli menetapkan waktu permulaan diaspora Yahudi pada tanggal ini, ketimbang tanggal tradisioanl yaitu kehancuran Bait Allah pada 70M. Mereka mencatat bahwa, berbeda dengan keadaan setelah revolusi yang dicatat oleh Yosefus, mayoritas penduduk Yahudi di Yudea dibunuh, dibuang, atau dijual dalam perbudakan setelah Perang Bar Kokhba dan pimpinan agama dan politik Yahudi ditindas dengan jauh lebih brutal dan total. Setelah pemberontakan itu, kekuasaan Yahudi beralih kepada komunitas Yahudi Babel dan para sarjananya. Yudea tidak akan lagi menjadi pusat keagamaan, budaya, atau kehidupan politik Yahudi lagi hingga masa modern, meskipun orang Yahudi tetap tinggal di sana, dan perkembangan keagamaan yang penting masih terjadi di sana. Yang terpenting adalah tradisi kabalah dari kota Safed, di Galilea.
Akhir revolusi yang penuh kehancuran ini juga menyebabkn perubahan-perubahan besar dalam pemikiran keagamaan Yahudi. Mesianisme dijadikan abstrak dan dirohanikan, dan pemikiran politik rabinik menjadi sangat berhati-hati dan konservatif. Talmud, misalnya, menyebut Bar Kokhba sebagai "Ben Kusiba", sebuah istilah menghina yang digunakan untuk menunjukkan bahwa ia adalah Mesias yang palsu. Posisi rabinik yang sangat ambivalen mengenai mesianisme, seperti yang diungkapkan paling terkenal dalam tulsan Rambam (juga dikenal sebagai Maimonides) "Surat kepada Yemen" tampaknya asal usulnya dalam usaha untuk menghadapi trauma dari pemberontakan mesianik yang gagal ini.
Namun pada masa pasca-rabinik, Perang Bar Kokhba menjadi lambang perlawanan nasional yang gagah berani. Kelompok pemuda Betar mengambil namanya dari kubu pertahanan terakhir Bar Kokhba, dan David Ben-Gurion, perdana menteri pertama Israel, mengambil nama Ibraninya dari salah seorang jenderal Bar Kokhba.
Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Fakta Perang
Perjanjian Versailles (1919) adalah suatu perjanjian damai yang secara resmi mengakhiri Perang Dunia I antara Sekutu dan Kekaisaran Jerman. Setelah enam bulan negosiasi melalui Konferensi Perdamaian Paris, perjanjian ini akhirnya ditandatangani sebagai tindak lanjut dari perlucutan senjata yang ditandatangani pada bulan November 1918 di Compiègne Forest, yang mengakhiri perseturuan sesungguhnya. Salah satu hal paling penting yang dihasilkan oleh perjanjian ini adalah bahwa Jerman menerima tanggung jawab penuh sebagai penyebab peperangan dan, melalui aturan dari pasal 231-247, harus melakukan perbaikan-perbaikan pada negara-negara tertentu yang tergabung dalam Sekutu.
Woodrow Wilson bersama dengan Komisi Perdamaian Amerika.
Negosiasi di antara negara-negara sekutu dimulai pada 7 Mei 1919, pada peringatan tenggelamnya RMS Lusitania. Aturan yang diterapkan terhadap Jerman pada perjanjian tersebut antara lain adalah penyerahan sebagian wilayah Jerman kepada beberapa negara tetangganya, pelepasan koloni seberang lautan dan Afrika milik Jerman, serta pembatasan pasukan militer Jerman yang diharapkan dapat menghambat Jerman untuk kembali memulai perang. Karena Jerman tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam negosiasi, pemerintah Jerman mengirimkan protes terhadap hal yang dianggap mereka sebagai sesuatu yang tidak adil, dan selanjutnya menarik diri dari perundingan. Belakangan, menteri luar negeri baru Jerman, Hermann Müller, setuju untuk menandatangani perjanjian pada 28 Juni 1919. Perjanjian ini sendiri diratifikasi oleh Liga Bangsa-Bangsa pada tanggal 10 Januari 1920.
Di Jerman, perjanjian ini menimbulkan keterkejutan dan rasa malu yang berperan terhadap runtuhnya Republik Weimar pada 1933, terutama karena banyak orang Jerman tidak percaya bahwa mereka harus menerima tanggung jawab penuh sebagai pemicu perang. "Empat Besar" (Big Four) yang melakukan negosiasi perjanjian ini adalah Perdana Menteri David Lloyd George dari Britania Raya, Perdana Menteri Georges Clemenceau dari Perancis, Vittorio Orlando dari Italia, dan Presiden Woodrow Wilson dari Amerika Serikat. Jerman tidak diundang ke Perancis untuk mendiskusikan perjanjian. Di Versailles saat itu, sulit untuk mencapai kesepakatan bersama karena tujuan mereka saling konflik satu sama lain. Hasil perundingan disebut-sebut sebagai suatu kompromi yang tidak disukai oleh pihak manapun.
Syarat-syarat
Perjanjian ini menciptakan keadaan kondusif didirikannya Liga Bangsa-Bangsa, sebuah tujuan utama Presiden A.S. Woodrow Wilson. Liga Bangsa-Bangsa dimaksudkan untuk menengahi konflik-konflik internasional dan dengan ini mencegah perang di masa depan. Hanya empat dari “Empatbelas butir” (Fourteen Points) Wilson diwujudkan, karena ia harus berkompromi dengan Clemenceau, Lloyd George dan Orlando pada beberapa butir dan sebagai gantinya dapat mempertahankan butirnya yang “keempatbelas” Liga Bangsa-Bangsa.
Pandangan umum ialah bahwa Clemenceau dari Perancis adalah yang paling bersemangat dalam membalas dendam Jerman, Front Barat perang terutama berada di wilayah Perancis. Perjanjian ini dianggap tidak adil kala itu karena merupakan perdamaian yang didikte oleh para pemenang dan secara keseluruhan menyalahkan perang kepada Jerman. Hal ini sungguh menyederhanakan situasi. Beberapa sejarawan modern berpendapat bahwa perjanjian ini cukup adil karena merefleksikan syarat-syarat berat yang didiktekan kepada Rusia oleh Jerman dengan Perjanjian Brest-Litovsk.
Selain kehilangan daerah Kekaisaran Kolonial Jerman, Jerman kehilangan daerah-daerah berikut:
- Alsace-Lorraine, daerah-daerah yang diserahkan kepada Jerman menurut mukadimah perdamaian yang ditandatangani di Versailles pada 26 Februari 1871, dan Perjanjian Frankfurt pada 10 Mei 1871, dikembalikan kepada Perancis tanpa jajak pendapat mulai tanggal gencatan senjata 11 November 1918. (area 14 522 km², penduduk 1.815.000 jiwa (1905)),
- Schleswig Utara termasuk kota-kota yang mayoritas penduduknya adalah Jerman yaitu Tondern (Tønder), Apenrade, Sonderburg, Hadersleben, dan Lügum di Schleswig-Holstein, setelah Jajak Pendapat Schleswig, kepada Denmark (area 3 984 km², penduduk 163.600 jiwa (1920)),
- Provinsi Prusia Posen dan Prusia Barat, yang dicaplok oleh Prusia pada Pembagian Polandia (1772-1795), dikembalikan kepada Polandia yang telah lahir kembali. Wilayah ini telah dibebaskan oleh penduduk Polandia lokal pada Pemberontakan Wielkopolska antara tahun 1918-1919 (area 53 800 km², penduduk 4.224.000 jiwa (1931)).
- Prusia Barat diberikan kepada Polandia supaya Negara ini memiliki akses bebas ke lautan, termasuk minoritas Jerman yang cukup besar dan dengan ini menciptakan Koridor Polandia.
- Wilayah Hlučínsko Hulczyn di Silesia Hulu diberikan kepada Cekoslovakia (area 316 atau 333 km², dengan penduduk 49.000 jiwa),
- Bagian timur Silesia Hulu, kepada Polandia (area 3 214 km², dengan penduduk 965.000 jiwa), meski 60% pada jajak pendapat memilih untuk tetap bergabung dengan Jerman
- Kota-kota Jerman Eupen dan Malmedy kepada Belgia
- Wilayah Soldau di Prusia Timur (stasiun kereta api rute Warsawa-Gdańsk) kepada Polandia (area 492 km²),
- Bagian utara Prusia sebagai Memelland di bawah pengawasan Perancis, kemudian diserahkan kepada Lithuania tanpa jajak pendapat.
- Dari bagian timur Prusia Barat dan bagian selatan Prusia Timur (Warmia dan Masuria), sebuah daerah kecil kepada Polandia,
- Provinsi Saarland diawasi Liga Bangsa-Bangsa selama 15 tahun. Lalu setelah periode ini diadakan jajak pendapat apakah penduduk menginginkan bergabung dengan Perancis atau Jerman. Pada masa ini, produk batubara diberikan kepada Perancis.
- Pelabuhan Danzig (sekarang Gdańsk, Polandia) dengan wilayah muara sungai Wisla pada Laut Baltik dijadikan Freie Stadt Danzig (Kota Bebas Danzig) di bawah pengawasan Liga Bangsa-Bangsa. (wilayah 1 893 km², dengan penduduk 408.000 jiwa (1929).
Pasal 156 perjanjian menyerahkan konsesi-konsesi Jerman di Shandong, Tiongkok kepada Jepang dan tidak menyerahkannya kembali ke Tiongkok. Kemarahan warga Tiongkok mengenai keputusan ini mengakibatkan demonstrasi dan gerakan kebudayaan yang dikenal dengan istilah Gerakan Empat Mei dan mempengaruhi Negara ini untuk tidak menanda tangani perjanjian. Tiongkok menyatakan selesai perang dengan Jerman pada September 1919 dan menanda tangani perjanjian terpisah dengan Jerman pada tahun 1921.
Militer
Angkatan Darat Jerman dibatasi menjadi 100.000 jiwa dan tidak diperbolehkan memiliki tank atau artileri berat dan tidak boleh ada Staf Jenderal Jerman. Angkatan Laut Jerman anggotanya dibatasi menjadi 15.000 dan tidak diperbolehkan memiliki kapal selam, sementara itu armadanya hanya diperbolehkan memiliki enam kapal perang. Jerman juga tidak diperbolehkan memiliki Angkatan Udara (Luftwaffe). Akhirnya, Jerman diwajibkan untuk membatasi masa bakti serdadunya menjadi 12 tahun dan semua opsirnya menjadi 25 tahun, sehingga hanya sejumlah terbatas saja yang menerima latihan militer.
Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Perang di Asia
Pertempuran Tsushima (bahasa Rusia: Цусимское сражение, Tsusimskoye srazheniye) atau Pertempuran Selat Tsushima adalah pertempuran laut terakhir dan paling menentukan sepanjang Perang Jepang-Rusia (1904–1905). Pertempuran terjadi di Selat Tsushima pada 27-28 Mei 1905 (14-15 Mei menurut kalender Julian yang waktu itu digunakan di Rusia) dan merupakan pertempuran laut terbesar di era kapal tempur Pra-Dreadnought. Pertempuran Tsushima dikenal di Jepang sebagai Nihonkai kaisen (日本海海戦, Pertempuran Laut di Laut Jepang). Kapal-kapal uap dari Armada Gabungan Kekaisaran Jepang di bawah komando Laksamana Togo Heihachiro menghancurkan dua pertiga Armada Baltik Kekaisaran Rusia di bawah komando Laksamana Zinovy Rozhestvensky. Sejarawan Edmund Morris dalam buku Theodore Rex menyebut Pertempuran Tsushima sebagai pertempuran terbesar setelah Pertempuran Trafalgar. Kekalahan Rusia membuka jalan bagi Perjanjian Portsmouth yang mengakhiri Perang Rusia-Jepang 1904-1905.
Laksamana Togo berada di geladak Mikasa, Pertempuran Tsushima 1905. Bendera semboyan "Z" dikibarkan sebagai pesan khusus.
Garis Besar
Armada Baltik Rusia yang dikirim dari Eropa bertempur melawan Armada Gabungan Jepang di perairan Selat Tsushima antara Semenanjung Korea dan Jepang. Sebelumnya, 10 Agustus 1904, Armada Pasifik Rusia sudah berantakan dalam Pertempuran Laut Kuning dikalahkan armada Jepang. Armada Baltik berlayar melewati Laut Utara, dan menyebabkan insiden diplomatik di Dogger Bank (lepas pantai Inggris) akibat menyerang armada nelayan Britania. Pelayaran diteruskan melalui Afrika dan berlabuh di Indochina. Perjalanan begitu panjang dan meletihkan, dan akibatnya moral awak kapal mulai anjlok. Armada Baltik mulanya diperintahkan untuk membuka blokade Jepang terhadap Lüshunkou, tapi jauh sebelum Armada Baltik tiba, wilayah tersebut sudah jatuh ke tangan Jepang. Armada Baltik sedang berlayar ke pelabuhan Rusia di Vladivostok melewati wilayah perairan Selat Tsushima ketika ditemukan kapal penjelajah Jepang.
Armada Baltik mempunyai tiga rute yang bisa dilewati untuk sampai di Vladivostok: Selat La Pérouse, Selat Tsugaru, dan Selat Tsushima. Laksamana Rozhestvensky memilih Selat Tsushima yang memisahkan Kyushu dan Semenanjung Korea. Selat Tsushima merupakan rute terdekat menuju Vladivostok. Dua rute lainnya adalah jalan memutar melewati Samudra Pasifik. Laksamana Togo yang berpangkalan di Busan, Semenanjung Korea sudah memperkirakan Selat Tsushima bakal dilewati armada Rusia.
Pertempuran
Dua kapal rumah sakit yang mengikuti armada Rusia terlihat kapal penjelajah Jepang. Armada Rusia berlayar dari selatan-barat daya menuju utara-timur laut; Armada Jepang dari datang dari barat menuju timur laut. Walaupun berisiko kehilangan sebagian dari armadanya, Laksamana Togo memerintahkan kapal-kapal perangnya untuk berbalik arah satu per satu agar bisa berhadapan dengan armada Rusia. Kapal-kapal Jepang berbalik arah dengan selamat, dan kedua armada saling berhadapan terpisah jarak 6.200 meter. Era pertempuran laut modern dimulai ketika kedua belah armada mulai saling melepaskan tembakan meriam.
Sebelum Pertempuran Tsushima, kapal-kapal dalam pertempuran laut melepaskan tembakan meriam pada jarak yang lebih dekat. Laksamana Togo unggul karena armada Rusia tidak bersiap menghadapi serangan. Sejak perang dimulai, awak kapal perang Jepang sudah terus-menerus berlatih menembakkan meriam dengan peluru sub-kaliber. Armada Laksamana Togo memiliki penembak meriam yang lebih unggul dan lebih sering mengenai sasaran. Selain itu, kualitas amunisi Jepang waktu itu lebih baik dibandingkan amunisi Rusia. Tembakan meriam kapal-kapal Jepang juga lebih akurat karena memiliki lebih banyak instrumen pengukur jarak dibandingkan kapal Rusia.
Kapal penjelajah Oleg di Teluk Manila dengan lubang besar pada bagian lambung kapal.
Armada Baltik waktu itu sedang tidak dalam keadaan siap tempur. Selain 4 kapal perang terbaru kelas Borodino, Armada Baltik terdiri dari kapal model lama dan tidak terpelihara dengan baik. Pelayaran panjang menyebabkan bagian bawah lambung kapal kotor karena kurangnya waktu pemeliharaan. Akibatnya, kecepatan kapal Rusia menjadi berkurang. Kapal-kapal Laksamana Togo bisa memiliki kecepatan maksimum 16 knot (30 km/jam), sedangkan kapal-kapal Laksamana Rozhestvensky hanya memiliki kecepatan maksimum 9 knot (17 km/jam). Laksamana Togo memanfaatkan keunggulan manuver kapal-kapalnya, dan sempat melakukan taktik pertempuran laut Crossing the T sebanyak 2 kali.
Laksamana Rozhestvensky tewas seketika akibat pecahan logam di kepala. Dalam sehari pada 27 Mei 1905, armada Rusia kehilangan kapal tempur Knyaz' Suvorov, Oslyabya, Emperor Alexander III, dan Borodino. Kapal-kapal Jepang hanya mengalami kerusakan ringan, terutama Kapal tempur Jepang Mikasa. Menjelang malam, Laksamana Muda Nebogatov mengambil alih komando armada Rusia.
Di malam hari, kapal torpedo dan kapal perusak Jepang mulai memburu kapal-kapal armada Rusia yang berpencar dalam kelompok-kelompok kecil dan berusaha malarikan diri ke utara. Kapal tempur Navarin yang memang sudah tua, tenggelam. Kapal tempur Sisoy Veliki dan dua kapal penjelajah tua rusak berat: Admiral Nakhimov dan Vladimir Monomakh hingga harus ditenggelamkan di pagi harinya.
Kronologi Peristiwa
27 Mei 1905 (JST)
- 04:45 Kapal penjelajah Jepang Shinanomaru yang tergabung dalam Armada Gabungan Jepang sedang dalam misi khusus penyamaran. Awak Shinanomaru melihat Armada Baltik Rusia di perairan sebelah barat Kyushu dan mengirim telegram.
- 05:05 Armada Gabungan Jepang berangkat dari pelabuhan, dan mengirim telegram berisi ke Markas Besar Kekaisaran, "Hari ini cuaca cerah tapi ombak sedang tinggi." Yang mengandung pesan terselubung tentang senjata yang akan dipakai.
- 13:39 Armada Gabungan Jepang melihat Armada Baltik Rusia dengan mata telanjang, dan segera mengibarkan bendera perang.
- 13:55 Jarak: 12.000 meter. Kapal tempur Mikasa mengibarkan bendera semboyan Z.
- 14:05 Jarak: 8.000 meter. Armada Gabungan Jepang memulai manuver untuk berbalik arah
- 14:07 Jarak: 7.000 meter. Kapal tempur Mikasa menyelesaikan manuver balik arah. Armada Baltik Rusia mulai menembak.
- 14:10 Jarak: 6.400 meter. Seluruh kapal-kapal Jepang menyelesaikan manuver balik arah.
- 14:12 Jarak: 5.500 meter. Mikasa terkena tembakan.
- 14:16 Jarak: 4.600 meter. Armada Gabungan Jepang mulai memusatkan tembakan ke arah Knyaz' Suvorov yang menjadi kapal komando Armada Baltik Rusia.
- 14:43 Oslyabya dan Knyaz' Suvorov terbakar hebat.
- 14:50 Emperor Alexander III mulai berbelok ke utara dan berusaha melarikan diri dari pertempuran.
- 15:10 Kapal tempur Rusia Oslyabya tenggelam, sedangkan Knyaz' Suvorov berusaha melarikan diri.
- 18:00 Kedua belah pihak saling mendekat untuk kedua kalinya (jarak: 6.300 m), dan kembali mulai saling melepaskan tembakan.
- 19:03 Emperor Alexander III tenggelam.
- 19:20 Kapal tempur Rusia Knyaz' Suvorov, Borodino, dan Sisoy Veliki tenggelam.
28 Mei 1905 (JST)
- 09:30 Armada Baltik Rusia kembali dalam jarak tembak Armada Gabungan Jepang
- 10:34 Komandan Rusia memberikan semboyan "XGE", berarti "Saya menyerah" dalam istilah Kode Semboyan Internasional yang digunakan waktu itu.
- 10:53 Pihak Jepang menerima penyerahan Rusia.
Pascapertempuran
Keempat kapal perang lain di bawah komando Laksamana Muda Nebogatov dipaksa menyerah pada hari berikutnya. Dari keempat kapal tersebut hanya terdapat satu kapal perang modern, kapal tempur Orel, sedangkan selebihnya merupakan kapal tempur tua Emperor Nikolay I, dan dua kapal perairan Apraxin dan Admiral Senyavin. Keempat kapal tersebut tidak akan mampu bertahan atas serangan armada Jepang. Hingga malam 28 Mei, hanya tinggal satu kapal Rusia yang dikejar armada Jepang. Kapal perairan Admiral Ushakov menolak untuk menyerah dan ditenggelamkan kapal penjelajah Jepang. Walaupun usianya sudah tua, kapal penjelajah Dmitri Donskoy berjuang melawan 6 kapal penjelajah Jepang dan bertahan sampai hari berikutnya, walaupun akhirnya rusak berat dan harus ditenggelamkan. Tiga kapal penjelajah Rusia, Aurora, Zhemtchug, dan Oleg berhasil lolos ke pangkalan AL Amerika Serikat di Manila dan ditahan. Di pihak Rusia, hanya kapal layar cepat Almaz (digolongkan sebagai kapal penjelajah kelas 2) dan 2 kapal perusak yang berhasil sampai di Vladivostok.
Rusia kehilangan hampir seluruh kapal Armada Baltik dalam pertempuran di Selat Tsushima. Pihak Jepang hanya kehilangan 3 kapal torpedo (Nomor 34, 35, dan 69). Peristiwa ini meruntuhkan prestise Rusia di dunia internasional, sekaligus pukulan besar bagi Dinasti Romanov.
Sumber: http://id.wikipedia.org/
Posted by Rifan Syambodo
Categories:
Label:
Perang di Asia
Perang Rusia-Jepang (10 Februari 1904 – 5 September 1905) adalah konflik yang sangat berdarah yang tumbuh dari persaingan antara ambisi imperialis Rusia dan Jepang di Manchuria dan Korea. Peperangan ini utamanya terjadi karena perebutan kota Port Arthur dan Jazirah Liaodong, ditambah dengan jalur rel dari pelabuhan tersebut ke Harbin.
Asal Mula Perang
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, berbagai negara Barat bersaingan memperebutkan pengaruh, perdagangan dan wilayah di Asia Timur sementara Jepang berjuang untuk menjadi sebuah negara modern yang besar. Lokasi Jepang mendorongnya untuk memusatkan perhatian pada Dinasti Choson Korea dan Dinasti Qing di Tiongkok utara, sehingga membuat negara itu bersaingan dengan tetangganya, Rusia. Upaya Jepang untuk menduduki Korea menyebabkan pecahnya Perang Tiongkok-Jepang.
Manchuria Raya, Manchuria Rusia (di bagian luar) adalah wilayah di kanan atas dengan warna merah muda; Jazirah Liaodong adalah bagian yang menjorok ke Laut Kuning
Kekalahan yang dialami Jepang dalam perang itu menyebabkan ditandatanganinya Perjanjian Shimonoseki (17 April 1895). Dengan perjanjian itu Tiongkok melepaskan klaimnya atas Korea, dan menyerahkan Taiwan dan Lüshunkou (sering disebut Port Arthur). Namun, tiga kekuatan Barat (Rusia, Kekaisaran Jerman dan Republik Ketiga Prancis) melalui Intervensi Tiga Negara pada 23 April 1895 menekan Jepang untuk menyerahkan Port Arthur, dan belakangan Rusia (tahun 1898) merundingkan penyewaan pangkalan Angkatan Laut selama 25 tahun dengan Tiongkok. Sementara itu, pasukan-pasukan Rusia menduduki sebagian besar wilayah Manchuria dan Rusia maupun Jepang berusaha mengambil alih Korea.
Setelah gagal mendapatkan perjanjian yang menguntungkannya dengan Rusia, Jepang mengirimkan sebuah ultimatum pada 31 Desember 1903, memutuskan hubungan diplomatik pada 6 Februari, dan mulai menyerang dua hari kemudian. Kedua pihak mengeluarkan pernyataan perang pada 10 Februari. Di bawah hukum internasional, serangan Jepang tidak dapat dianggap sebagai serangan tersembunyi, karena ultimatum telah dikeluarkan. Namun demikian, setelah serangan Pearl Harbor, seringkali dikatakan bahwa ini adalah salah satu contoh betapa Jepang suka melakukan serangan mendadak.
Peperangan
Port Arthur, di Jazirah Liaodong di selatan Manchuria, telah diperkuat Rusia hingga menjadi sebuah pangkalan Angkatan Laut besar. Jepang membutuhkan kekuasaan laut untuk berperang di daratan Asia, karena itu tujuan militer pertama mereka adalah menetralkan armada Rusia di Port Arthur. Pada 8 Februari malam, armada Jepang di bawah pimpinan Admiral Heihachiro Togo memulai peperangan dengan sebuah serangan torpedo mendadak pada kapal-kapal Rusia di Port Arthur, sehingga membuat dua kapal perang Rusia rusak parah. Serangan-serangan itu berkembang menjadi Pertempuran Port Arthur esok paginya. Serangkaian pertempuran laut yang tidak memberikan hasil yang menentukan pun terjadi. Pada kesempatan itu, Jepang tidak berhasil menyerang Rusia dengan menggunakan meriam-meriam darat dari pelabuhan, dan armada Rusia menolak untuk meninggalkan pelabuhan itu dan pergi ke laut terbuka, khususnya setelah kematian Admiral Stepan Osipovich Makarov pada 13 April. Pertempuran-pertempuran ini memberikan perlindungan bagi sebuah pasukan Jepang untuk mendarat dekat Incheon di Korea, dan dari sana mereka menduduki Seoul dan berikutnya seluruh Korea. Pada akhir April, tentara Jepang di bawah Kuroki Itei bersiap-siap menyeberangi sungai Yalu ke Manchuria yang saat itu diduduki Rusia.
Manchuria Raya, Manchuria Rusia (di bagian luar) adalah wilayah di kanan atas dengan warna merah muda; Jazirah Liaodong adalah bagian yang menjorok ke Laut Kuning.
Sebagai jawaban terhadap strategi Jepang yang memberikan kemenangan cepat untuk menguasai Manchuria, Rusia melakukan tindakan-tindakan penghalang untuk memperoleh cukup waktu untuk menunggu tibanya pasukan-pasukan tambahan yang datang melalui jalan kereta api Trans-Siberia yang panjang. Pada 1 Mei, pecahlah Pertempuran Sungai Yalu. Dalam pertempuran ini pasukan-pasukan Jepang menyerang sebuah posisi Rusia setelah mereka menyeberangi sungai itu tanpa menghadapi perlawanan. Ini adalah sebuah pertempuran besar pertama dari perang ini di daratan. Pasukan-pasukan Jepang bergerak maju dan mendarat di beberapa titik di pantai Manchuria, serta melakukan sejumlah pertempuran hingga memukul balik pasukan-pasukan Rusia ke Port Arthur. Pertempuran-pertempuran ini, termasuk Pertempuran Nanshan pada 25 Mei, ditandai oleh kekalahan besar Jepang dalam penyerangan kepada sejumlah posisi kuat Rusia, tetapi tentara Rusia tetap bersikap pasif dan tidak melakukan serangan balasan. Di laut, perang ini sama brutalnya. Setelah penyerangan pada 8 Februari terhadap Port Arthur, pasukan Jepang berusaha mencegah pasukan Rusia menggunakan pelabuhan itu.
Perang ini menandai bangkitnya kekuatan Aisa menandingi kekuatan Barat yang berkuasa di Tiongkok saat itu. Kemenangan ini membuat kekuatan Barat harus memperhitungkan Jepang dalam urusan politik di Asia. Selain itu, kemenangan ini memicu kebangkitan nasional di negara-negara Asia lainnya yang sedang terjajah oleh negara Eropa.
Sumber: http://id.wikipedia.org/










